Rinkazura Presents
Disclaimer © Masashi Kishimoto
ORANGE
"Merah Muda"
Genre : Crime, Mystery
Rate : T
A MinaKushi Fanfiction
Warning : typo(s), OOC (maybe), etc.
SUMMARY : Posisi Madara berhasil diketahui! Tim Jiraiya dan Minato mulai bergerak untuk menangkapnya, namun tentu saja sebelum menghadapi boss level, para pengawal akan menghadang. Begitu juga dengan 'pengawal' Madara. Apa ia berhasil ditangkap?
Cerita sebelumnya...
"Lama tidak berjumpa, Minato," sapa gadis bersurai biru dengan jepitan berbentuk bunga mawar di rambutnya.
Minato menghela napas panjang. "Yah..baru beberapa minggu omong-omong," balas Minato.
Gadis itu tersenyum miring dan tiba-tiba saja selembar kartu bridge menancap di dinding lift dan sontak membuat Kushina dan Minato menghindarinya.
"Cih!" umpat Minato yang dengan segera menekan-nekan tombol lift untuk turun dan meninggalkan gadis itu di lantai empat.
"Apa itu tadi?! Yang benar saja kartu bisa setajam itu?!" protes Kushina yang masih kaget. "Dan..siapa dia?" lanjutnya.
"Konan. Dia salah satu dari tiga anak buah Madara yang kubicarakan tadi. Soal kartu itu, itu bukan kartu biasa. Dia membuat senjata semacam lempengan tipis yang dibuat mirip kartu yang tajamnya seperti pisau," jelas Minato.
"Lalu bagaimana sekarang? Kita jadi tidak bisa membantu Mikoto dan yang lain?" tanya Kushina. Minato menggeleng.
"Sekarang kita punya lawan sendiri-sendiri. Bahkan jika Mikoto dan yang lain berhasil mengalahkan Nagato, masih ada Yahiko. Aku yakin dia juga ada di atas," kata Minato. Pemuda bersurai pirang itu menatap Kushina dengan yakin.
"Kita harus melawan Konan. Tidak ada pilihan lain."
Enjoy reading and review, minna :)
.
Kushina dan Minato masih berada di dalam lift dan turun ke lantai tiga ketika Konan menghadang mereka di lantai empat.
Minato menarik napas panjang. "Uzumaki-san, bawa ini," ujar Minato sambil menyerahkan pistolnya pada gadis bermata violet itu.
"Bagaimana denganmu? " tanya Kushina bingung. "Aku membawa kunaiku, kau tahu kan?" jawab Minato sambil menepuk-nepuk saku jasnya.
"Dengarkan aku baik-baik. Kau akan tetap berada di belakangku. Aku akan menyerang Konan dan membuatnya sibuk, sementara kau bidik dia dari belakangku. Aku bisa mengandalkan akurasi tembakanmu, kan?" jelas Minato sambil menatap manik violet Kushina dengan serius.
Kushina menatap mata sebiru laut yang tajam itu. Ia mengangguk.
"Lalu..." ucap Minato. Ia berhenti sejenak seakan ragu-ragu. "Lalu apa?" tanya Kushina penasaran.
"—jangan sampai terluka," lanjut Minato cepat dan membuat Kushina tertegun. "Agen macam apa yang takut terluka? Haha,"candanya. Namun tawa Kushina terhenti ketika ia melihat mata safir Minato yang tajam.
Dia tidak bercanda rupanya.
"Tenang. Aku tidak mudah terluka," kata Kushina dengan nada bangga. Minato melirik angka di dekat pintu lift.
"Kau sudah siap? Berdirilah di belakangku," tukas Minato sebelum pintu lift terbuka.
TING
Minato menyiapkan kunai di tangan kanannya. Ia mengeratkan genggamannya, sementara Kushina bersiap dengan pistolnya.
Glek.
Minato menelan ludah. Ketegangan jelas tergambar di wajahnya.
Pintu lift terbuka perlahan dan sesosok gadis berambut biru mulai terlihat. Ia berdiri di ambang pintu lift.
Tepat ketika pintu terbuka separuh, Minato melemparkan kunainya ke arah gadis itu dan membuatnya kaget.
"Sial!" umpat Konan yang pipinya tergores kunai Minato. Belum sempat gadis itu membalas serangan Minato, Kushina sudah membidik tepat di kening gadis itu.
"Dimana Madara?" tanya Kushina sambil mendekatkan ujung pistolnya ke kening Konan. Gadis itu terlihat ragu sejenak, kemudian wajahnya berangsur datar.
"Aku terkejut Minato bisa bekerja sama dengan agen S.A.D. Dan kau orang yang berani," ujarnya.
"Katakan saja dimana dia?!" seru Kushina mulai terpancing. Konan hanya tersenyum sinis. Tiba-tiba saja wajahnya berubah kaget.
"Apa yang kau lakukan, pirang?!" tanya Konan. Minato tertawa, "haha. Aku hanya ingin memastikan kau tidak melempar kartu-kartu itu pada kami."
Minato mengikat tangan Konan dengan erat sehingga gadis itu tidak bisa melakukan apapun.
"Kau memang hobi mencari masalah, ya? Dulu mencoba kabur, kemudian berkhianat, dan sekarang kau ingin menangkap Madara-sama," tutur Konan yang kemudian bahunya ditarik ke belakang oleh Minato dan didudukkan bersandar pada dinding.
"Fugaku, kau bisa dengar? Aku menangkap salah satu anak buah Madara di lantai tiga," kata Minato.
Aku akan mengirimkan Arashi dan anak buahnya kesana.
"Oke."
Omong-omong bagaimana Jiraiya-sama dan yang lain?
"Di lantai empat. Anak buah Madara yang lain menghadangnya. Aku masih belum bisa menghubungi mereka," jelas Minato.
. . . . .
BUAGH!
Jiraiya menendang wajah Nagato hingga ia terpental ke samping. Pemuda itu jatuh ke lantai dan memegangi pipi kirinya kemudian menyentuh sudut bibirnya yang berdarah. Tendangan Jiraiya benar-benar keras untuk ukuran pria paruh baya. Kini kedua pistol Nagato sudah berada di tangan Sakumo dan sepertinya ia tak punya senjata lagi.
"Kau kuat juga, ya? Biasanya orang-orang sudah pingsan jika kutendang seperti itu," puji Jiraiya setelah mengetahui Nagato masih 'sehat'.
"Cih..dimana Konan?! Apa dia sudah tertangkap?" batin Nagato smabil mencoba berdiri. Jiraiya tidak diam saja. Ia mencengkeram kerah kemeja Nagato, "kau masih mau melawan?" tanyanya setengah mengancam.
"Oh tidak-tidak. Kami punya kejutan yang lebih baik," jawab Nagato sambil tersenyum lebar.
. . . . .
Mikoto dan Shikaku berdiri di depan sebuah pintu kamar. Pintu itu bernomor 401, nomer yang diberitahukan pada Mikoto. Shikaku dan Mikoto menyiapkan pistolnya. Mikoto membuka kenop pintu sementara Shikaku bersiap di belakangnya.
BRAK
Pintu terbuka dan Shikaku langsung menodongkan pistolnya.
Kosong.
Kamar itu kosong. Mikoto dan Shikaku memasuki kamar itu kalau-kalau Madara masih bersembunyi di dalamnya.
Mikoto mendekati sebuah kotak berwarna merah muda dengan pita merah di atas meja.
"Apa ini?" tanya Mikoto yang kemudian meraih tutup kotak itu secara perlahan.
"Tunggu, Mikoto!" sela Shikaku menghentikan. Mikoto menghentikan tangannya dan menoleh pada pria berambut nanas di sampingnya.
"...bisa saja isinya bom," lanjut Shikaku. Mendengar kata 'bom', Mikoto menelan ludahnya. Gadis Uchiha itu menarik tangannya dan memandangi benda itu.
"Biar aku saja," Shikaku mengulurkan tangannya dari jauh sehingga badannya menjadi condong ke belakang bersiapa kalau-kalau ada sesuatu yang menyembur dari sana.
PIPP PIPP PIPP
Tutup kotak itu telah terbuka sepenuhnya dan berhasil membuat Mikoto dan Shikaku menghentikan kegiatan mereka layaknya sebuah film yang dipause di tengah-tengah adegan. Keduanya saling berpandangan.
"...ini benar-benar bom..." ujar Mikoto yang kemudian memperhatikan jam digital yang tertera di layar kecil itu.
05:00
Detik berikutnya angka sudah berubah menjadi 04:59 dan detiknya terus berubah-ubah tanda mereka tak punya banyak waktu.
"Madara sialan!" umpat Shikaku kemudian menekan alat komunikasi di telinganya dengan kasar.
"Kau bisa dengar aku, Fugaku?!" ujarnya tak sabar.
Oh, Shikaku? Sudah berhasil menemukan Madara? Keadaan di hutan damai-damai saja hingga membuatku bosan!
"Apa anak buahmu, Si Penjinak Bom itu ada di sana?" tanya Shikaku.
Iya. Tunggu! Kau menemukan bom? Dimana?
"Lantai empat. Kamar 401, bekas kamar Madara dan ia sudah kabur entah kemana. Hanya tinggal empat setengah menit. Segeralah kesini atau tempat ini akan meledak," kata Shikaku.
Shin cepat kesana!
Terdengar suara Fugaku memerintah anak buahnya untuk ke tempat Shikaku guna menjinakkan bom waktu itu.
"Shikaku, apa kita tidak mencari Madara lagi? Kupikir ia belum jauh.." usul Mikoto. Shikaku berpikir sejenak, membiarkan roda-roda bergerigi di otaknya berputar dengan keras mencari tahu kira-kira Madara kabur lewat mana.
Atap!
Shikaku tersentak begitu suara Minato melesat ke telinganya. Benar, atap. Tempat dimana ia bisa kabur tanpa ada yang menangkap—mengingat Fugaku hanya menjada daratan.
"Fugaku, aku akan menuju atap bersama Mikoto!" seru Fugaku kemudian berlari keluar kamar meninggalkan bom itu tepat di tempatnya.
Keduanya memacu larinya hingga menaiki tangga menuju atap. Samar-samar mereka mendengar suara dengungan mirip suara baling-baling.
Helikopter.
Mikoto dan Shikaku mempercepat larinya dan tengah berada di depan pintu menuju atap. Shikaku memutar kenop pintu itu namun tak bisa. Pintunya terkunci dan suara dengungan helikopter itu mulai menjauh.
"Shikaku, ada jendela!" seru Mikoto seraya menunjuk jendela kaca yang kelihatannya mudah dipecahkan. Tanpa pikir panjang Shikaku meninju jendela kecil itu dengan keras dan membuat kaca itu pecah berkeping-keping.
Suara baling-baling itu terus menjauh dan Shikaku dapat melihat roda helikopter mulai meninggalkan pijakannya.
"Sial! Fugaku, tembak helikopter itu!" desak Shikaku.
"..."
Tiga detik kemudian Shikaku dan Mikoto mendengar suara tembakan yang membentur badan helikopter dan menimbulkan bunyi nyaring di sana. Fugaku dan anak buahnya mulai menembaki helikopter itu namun tak ada hasil. Helikopter itu terus saja membumbung tinggi dan mulai meninggalkan vila.
Madara berhasil lolos.
Bom sudah dijinakan. Suara Shin terdengar dan membuat mereka bernafas lega.
. . . . .
Pelelangan itu usai pukul dua malam dan anak buah Fugaku telah bersiap menangkap orang-orang yang terlibat dalam pelelangan ilegal dan menyita barang lelang sebagai bukti. Tentu saja Fugaku memanggil bala bantuan mengingat para mafia itu tidak sendirian. Tak banyak yang melawan, namun ada yang sampai susah payah melawan Fugaku dan anak buahnya hingga terpojok di bibir tebing. Pada akhirnya mereka menyerah.
S.A.D berhasil menangkap para pimpinan mafia—beserta anak buahnya, panitia lelang dan beberapa anak buah Madara termasuk Konan dan Nagato. Keduanya berhasil diringkus setelah baku hantam dengan pihak Jiraiya maupun Minato.
"Kerja bagus!" puji Jiraiya pada anak buahnya termasuk Minato.
Namun tetap saja rasanya misi ini tidak begitu memuaskan. Terlebih untuk Minato Namikaze sendiri. Raut wajah kesal dan tak puas terpatri jelas di wajah tampan itu.
Kushina memerhatikan raut wajah itu. Ia ingin melakukan sesuatu tapi tak tahu harus melakukan apa. Ia samasekali tak tahu menahu tentang pemuda ini, begitu pula dengan perasaannya.
Sekitar pukul lima pagi Jiraiya dan anak buahnya—beserta beberapa mobil tahanan—keluar dari vila itu dan kembali ke markas. Mereka menyerahkan para mafia itu pada kepolisian untuk diproses secara hukum.
Kushina dan Minato berada satu mobil dengan Jiraiya dan Sakumo. Minato berada di balik kemudi dengan mata fokus penuh pada jalanan.
Matahari mulai menunjukkan tanda-tanda kehadirannya di ufuk timur. Cahaya kuning-oren terpancar cerah dari sana. Kushina tak ingin melewatkan pemandangan indah itu, matahari terbit. Jarang sekali ia melihatnya mengingat ia terlalu sibuk dengan misi sepanjang waktu.
"Yah setidaknya kita masih mendapatkan hasil meskipun Madara berhasil kabur," tutur Jiraiya sambil menyandarkan punggung dan meregangkan tubuhnya. Sakumo mengangguk setuju.
"Tapi tetap saja rasanya jika Madara Uchiha masih melenggang bebas," timpal Sakumo. Kushina menoleh ke belakang—kearah dua benda legendaris—dan menatap dengan tatapan sendu serta penyesalan.
"Tapi benda-benda itu benar-benar mahal! Aku sudah gila dibuatnya hanya dengan mendengar harganya," komentar Kushina yang disambut gelak tawa oleh Jiraiya.
"Sudah kubilang kau tak usah khawatir, Shina! Konoha dan Suna bersedia menyokong separuh dananya hahaha!" katanya dengan tawa yang kelewat lebar.
"Apa kau benar-benar menanggung separuhnya lagi, Namikaze-san?" selidik Sakumo memastikan.
"..."
Pria pirang bermata safir itu tak menjawab dan masih fokus pada jalanan.
Sakumo menatap Jiraiya dan pria paruh baya itu hanya mengedikkan bahu sementara Kushina masih mencuri pandang pada Minato yang terlihat kesal—dan mungkin marah.
Dia akan kembali. Aku yakin dia punya rencana yang lain setelah ini. Harusnya aku membunuhnya dulu!
. . . . .
Matahari tengah berada tepat di tengah. Semilir angin menemani teriknya sang mentari yang berada di posisi terbaiknya. Banyak orang berlalu-lalang—jauh lebih banyak ketimbang tadi pagi—pasalnya sudah waktunya jam makan siang. Tentu saja hampir semua orang tak ingin melewatkannya, kan?
Tapi sepertinya tu tidak berlaku bagi Minato Namikaze sekarang. Pemuda dua puluh tiga tahun itu tengah duduk di kursi santai di beranda rumahnya. Sebenarnya Jiraiya mengajaknya makan siang di kantin markas S.A.D, namun ia menolaknya. Ia merasa canggung dan tidak nyaman dengan tatapan-tatapan para pegawai hingga agen-agen S.A.D padanya. Minato merasa risih dengan tatapan sinis yang dilemparkan padanya karena ia 'mantan' pencuri yang sangat dicari—bahkan sampai masuk daftar pencarian orang. Jauh lebih baik jika ia bersantai di rumahnya apalagi dengan perasaan yang maish kesal karena misi semalam.
Mereka gagal menangkap Madara Uchiha. Ia gagal menangkap Madara Uchiha.
Minato berkali-kali menghela napas panjang dan mengepalkan tangan—sesekali dengan umpatan—namun tak ada yang berhasil membuatnya tenang.
"Kemana dia pergi kali ini? Apa dia ada di markas sebelumnya? Tidak mungkin! Dia selalu berpindah-pindah..arggh!" rutuknya geram. Minato mengacak-acak rambut pirangnya kasar.
Lagi-lagi ia menghela napas. Ia memandang lurus ke halaman rumahnya dan pandangannya turun ke pakaian yang ia kenakan.
Ia masih memakai pakaian semalam. Kemeja putih yang bagian bawahnya sudah keluar dari dalam celana dengan dua kancing atas terbuka. Ia benar-benar berantakan. Minato hanya melepas jas, dasi dan sepatunya setelah pulang dari S.A.D dua jam yang lalu. Bahkan sabuknya masih melilit di pinggangnya.
Minato pun berdiri dan melenggang menuju pintu kamar mandi dan menyabet handuknya.
. . . . .
"Kushina!" gadis bersurai merah—si pemilik nama—itu berbalik ke arah suara. Gadis bersurai gelap melambai dan tersenyum padanya.
"Kenapa Miko-chan?" tanyanya. "Mau makan siang bersama? Kebetulan aku, Fugaku dan Arashi akan makan. Bagaimana?" ajak Mikoto antusias.
"Kedai yakiniku* biasanya!" tambah Mikoto. Kushina menaikkan sebelah alisnya. Ia tidak begitu suka makan yakiniku. Apalagi dengan Mikoto yang sudah jelas pacaran dengan Fugaku, bisa-bisa ia dan Arashi jadi obat nyamuk nanti. Dan.. sepertinya ada hal lain yang terlintas di kepala Kushina.
"Kau tidak bermaksud menjadikan ini kencan ganda, kan?" selidik Kushina dengan menyipitkan mata pada sahabatnya itu. Mikoto menelan ludah dan terkekeh.
"Ti—tidak. Hanya saja kau kelihatan lapar jadi mungkin daging bisa membuatmu lebih baik—"
"—sudah-sudah. Kalian makan siang saja. Aku akan makan siang di rumah sepertinya. Atau kalau tidak makan ramen—" ucapan Kushina menggantung seakan pikirannya membuat kata-katanya terpotong.
'haruskah aku mengajaknya makan ramen? Darimana gagasan bodoh itu berasal, astaga!' batin Kushina.
"Kenapa, Shina?" tanya Mikoto bingung dengan Kushina yang masih mangap tak melanjutkan kata-katanya. "Tidak!" sahut Kushina cepat.
"A—aku akan makan ramen. Itu saja," lanjutnya sambil tersenyum. Mikoto pun menepuk pundak Kushina dan tersenyum,
"Baiklah. Sampai jumpa besok!" pamitnya sambil melenggang keluar dan sepertinya Fugaku sudah menunggunya di luar dengan Arashi mungkin.
Kushina menghela napas panjang.
"Apa kuajak saja, ya? Aihh..ada apasih dengan kepalaku!" rutuknya. Detik kemudian Kushina terdiam dan menggigit ujung kuku jempol kanannya dengan gusar. Lalu gadis itu merogoh saku dan mengambil ponsel sambil berlalu.
. . . . .
Minato tengah berada di depan kaca sambil menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk. Kemudian ia mendengar suara ponselnya berdering dan melirik benda itu.
"Telepon? Siapa?" tanyanya bingung. Merasa aneh ada yang menelponnya sementara tak banyak orang yang tahu nomor ponselnya sekarang.
Unknown Number. Itu yang tertulis di layar ponselnya. Kemudian pemuda itu meraih ponsel dan menggeser ikon hijau dengan ragu-ragu.
"Halo?" sapanya.
Halo. Ah, Minato! Sudah makan siang?
Minato terkejut. Jantungnya serasa berhenti berdetak.
Apa kau mau makan ramen? Aku di Ichiraku sekarang.
Detik kemudian ia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk mengembalikannya ke dunia nyata. Seseorang menelponnya. Suara itu sangat ia kenal. Suara yang entah kenapa meringankan sedikit beban pikirannya dan membuatnya tersenyum lembut.
.
.
To be continue
Gimana minna-san? Ada saran atau masukan lain? hahaha silahkan klik review, fav atau follow :) terima kasih untuk kalian yang telah membaca, review, fav atau follow! keep reading yah :D
Arigatou~ jyaa~
-Rinkazura-
