You're Not Alone presented by © BooBearYJ
Pairing: The REAL couple in the world, YunJae! Slight Yuntoria (-_-'')
Other cast: Park Yoochun, Mrs Jung, and Mrs Song
Genre: Drama, Hurt, Little bit Angstand many more
Rated: T+
Part: 13 of 14+Epilogue
Disclaimer: Jaejoong belongs to Yunho and Yunho belongs to Jaejoong!
Warning: It's YAOI, Gay, MalexMale, BoyxBoy, Shoneun-ai story. So, if you don't like YAOI story, just go back and don't read this story. Arraseo?!
.
.
You're Not Alone Presented by © BooBearYJ
.
.
Previous part:
CKLEK
Yunho menolehkan kepalanya saat mendengar bunyi knop pintu kamarnya terbuka.
Dia melihat Jaejoong yang tampak pucat berjalan menuju ranjang mereka. Tatapan Jaejoong tak seperti biasanya yang penuh bias keceriaan. Tatapan matanya kini tampak kosong dan dingin. Perasaan bersalah Yunho kembali menjalar. Dialah yang membuat keceriaan Jaejoong menghilang.
''Jae, kau sudah pulang?'' Tanya Yunho.
Yunho hanya dapat tersenyum kecut saat Jaejoong sama sekali tak menjawab sapaannya. Mungkin Jaejoong terlalu sakit hati atas tindakannya yang dengan teganya sudah mengkhianatinya.
Jaejoong membaringkan tubuhnya di atas ranjang membelakangi Yunho yang sedang kesusahan mengganti popok Sulli. Bayi itu tampak rewel saat Yunho akan memakaikan popoknya.
''Jae.. Bisakah kau membantuku mengganti popok Sulli?'' Cicit Yunho. Mata musangnya nampak meredup.
''Tidak. Dia bayimu. Kau saja yang memakaikan popok untuknya.'' Ujar Jaejoong terkesan dingin.
''Ta-tapi Jae…''
''Tidak. Sekali ku katakan tidak tetap tidak. Salahkan saja dirimu yang sudah punya anak namun kau belum siap menjadi seorang Ayah,'' Yunho harus menelan rasa kecewa sekaligus sakit mendengar ucapan dingin Jaejoong, ''Dan jauhkan bayi itu dari kamar ini. Aku tak sudi jika harus tidur satu ruang bersama bayimu dan juga kau.''
''Tapi dia juga bayimu Jae..''
''Tidak. Dia hanya bayimu, bukan bayiku,'' Ujar Jaejoong dengan posisi tidur masih membelakangi Yunho, ''Ku harap kau dan bayi sialan mu segera pergi dari sini. Aku mau tidur.'' Lanjut Jaejoong ketus dan menyelimuti semua tubuhnya sampai tak terlihat. Yunho hanya menghela napasnya dan memandang kasihan pada bayi cantik kemudian membawa perlengkapan Sulli dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
''Selamat tidur Jae. Dan maaf untuk semua yang telah kulakukan padamu hingga membuatmu membenciku.'' Lirih Yunho kemudian menutup pintu kamar itu.
Tanpa Yunho tahu, Jaejoong meneteskan air matanya. Menangis tanpa suara dibalik selimut. Memejamkan matanya berusaha untuk tidur namun pastinya gagal. Dan semalaman itu pula dia menangis dalam diam sampai akhirnya tertidur pukul empat dini hari.
PART 13
Pagi hari tampak suram bagi Jaejoong. Namja itu melenguh keras dan bangun dari tidurnya saat mendengar suara berisik yang amat sangat mengganggunya.
Kim Jaejoong meregangkan kedua tangannya dan bangkit dari ranjangnya. Dia kemudian berjalan menatap cermin dan melihat bayangannya disana. Bayangan di dalam cermin itu menampakkan sesosok namja cantik dengan kulit seputih susu, rambut acak-acakkan, bibir semerah cherry juga mata doe besar yang tampak sembab dan bengkak. Menyedihkan, batin Jaejoong.
Namja rupawan itu kemudian melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi. Menggosok gigi di wastafel juga mencuci muka yang tampak berantakan pagi itu. Setelah itu Jaejoong menyiapkan air hangat di bath up, menyesuaikan suhunya dan menuangkan sabun cair beraroma therapy. Lalu dia melepaskan sweater yang semalam belum sempat ia lepaskan juga kaus putih bergambar beruang. Tampak childish, ania?
Jaejoong kemudian melepaskan celananya dan celana dalamnya (O.O), setelah polos dia masuk ke dalam bath up dan berendam.
Semuanya telah berubah sekarang. Tak ada ciuman hangat penuh cinta di pagi hari, tak ada suaranya yang menggema saat membangunkan beruang malasnya, tak ada bau harum masakan saat ia memasak di dapur. Semuanya telah berubah. Hampir satu tahun belakangan ini.
Jaejoong memejamkan matanya. Kenapa pengkhianatan begitu menyakitkan? Kenapa ini semua harus terjadi padanya?
Sesak. Dadanya terasa sesak saat mengingat Yunho yang dengan teganya mengkhianati cinta tulusnya hanya demi seorang anak. Bukankah dulu sebelum menikah mereka pernah berkomitmen bahwa tak apa-apa tak mempunyai anak mengingat mereka sama-sama lelaki. Namun entah mengapa Tuhan mempunyai cara lain, dia hamil walaupun dia laki-laki. Male pregnancy. Ya, dia seorang male pregnancy dan dia sangat mensyukuri itu. Sebelum peristiwa di mana Victoria yang menabraknya hingga menyebabkannya keguguran dan tak memungkinkan dirinya untuk mempunyai anak lagi.
Dia tak menangis saat tahu bahwa dirinya tak dapat mengandung lagi. Bukannya karena dia tak sedih. Karena matinya perasaan. Dia tak tahu saat itu rasanya sakit seperti apa. Dia hanya mampu terdiam. Sejak itu dia tak ubahnya bak mayat hidup. Tak pernah tersenyum, menangis, tertawa. Dia hanya berekspresi datar walaupun dia masih mengerjakan semua tugasnya sebagai istri yang baik untuk Yunho. Yunho menghiburnya kala itu, namja itu sering mengajaknya ke tempat-tempat kenangan mereka saat masih SMA dulu, mengajaknya ke taman hiburan saat pertama kali Yunho menyatakan cintanya. Suaminya tak beranjak sedikit pun dari sisinya waktu itu. Dia selalu siap siaga selama dua puluh empat jam di sisinya. Bahkan namja itu pun mengerjakan semua perkerjaan kantor di rumahnya sembari mengawasinya yang hanya terduduk diranjang dengan tatapan mata kosong
Dia sangat merindukan itu semua yang bahkan sekarang tak akan mungkin dia dapatkan lagi. Tak akan pernah sama seperti dulu walaupun keadaan membaik seperti apapun itu.
Jaejoong merasakan asin di bibirnya. Jaejoong tersenyum kecut. Sudah berapa kali ia menangis sejak kemarin. Mungkin sekarang hari-harinya akan ia lewati dengan menangis.
Jika saja dia sanggup meninggalkan Yunho, dia akan menggugat cerai dari namja itu. Tapi sayang, rasa sayangnya terlalu besar untuk namja yang sudah menemani hidupnya selama ini. Dia tak bohong jika dia masih mencintai Yunho walaupun namja itu sudah berulang kali menyakitinya. Salahkan saja hatinya yang mati rasa dan tak bisa merasakan cinta dari orang lain selain Yunho. Ingin rasanya dia berpaling pada Yoochun mengingat namja itu sudah lama menyukainya, namun dia tak bisa. Mungkin saja bisa tetapi dia tak mau mencobanya.
Yoochun sudah berulang kali menawarkan cinta untuknya sejak kuliah dulu, namun dia selalu menolaknya. Dia hanya menganggap Yoochun tak lebih dari sekadar sahabat. Apalagi saat resepsi pernikahannya dengan Yunho dulu, Yoochun pun tampak begitu terluka melihatnya bersanding bersama Yunho. Laki-laki itu pergi ke Amerika, tepatnya Virginia setelah selesai upacara pernikahannya. Tanpa pamit apalagi salam padanya. Apakah yang dulu Yoochun rasakan sesakit ini?
Jaejoong membuka matanya dan pandangannya buram terhalang oleh air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
Jaejoong mengusap air matanya dan kemudian segera menyelesaikan mandinya.
Jaejoong berjalan membuka pintu kamar mandi dan melangkahkan kakinya menuju lemari besar di sudut kamar itu. Memilih kaos berwarna baby blue polos dan celana training panjang sampai di bawah mata kaki.
Jaejoong mengeringkan rambutnya dengan handuk dulu. Saat dia memegang hair-dryer, suara berisik itu kembali terdengar. Jaejoong mendengus kesal saat suara tangisan bayi itu semakin keras terdengar.
Jaejoong meletakkan hair-dryer itu asal dan membuka pintu. Melangkahkan kakinya menuju kamar yang berada di sebelah kamarnya.
TAP TAP TAP
CKLEK
Jaejoong memutar handle pintu kayu ber-cat cokelat tua dan berjalan memasuki kamar yang sekarang dipakai oleh Yunho.
Laki-laki itu melihat sosok bayi perempuan yang menangis kencang hingga wajahnya terlihat memerah. Jaejoong mendekati bayi bernama Sulli itu dan melihat bayi itu menangis keras tanpa henti.
Ke mana Yunho? Jaejoong baru saja akan mencari Yunho saat retina matanya menangkap pintu kamar mandi tertutup rapat. Pantas saja. Yunho sedang mandi dan laki-laki itu sangat lama jika sedang mandi.
Sedikit rasa iba Jaejoong muncul saat melihat Sulli yang terus menangis. Wajah bayi itu tampak merah sekali, sepertinya kehausan.
Jaejoong mengulurkan tangannya hendak menggendong Sulli. Namun segera diurungkannya niat itu saat melihat wajah bayi itu. Ditepisnya rasa iba yang tadi sempat muncul.
Wajah bayi itu mirip dengan Yunho dan Victoria yang membuat Jaejoong enggan untuk menatap bayi itu.
Jaejoong membalikkan badannya dengan ragu. Namun dia segera berbalik lagi dan berjalan menuju kamar mandi di ruangan itu lalu menggedor-gedor pintu kayu berwarna cokelat muda itu keras.
''Jung Yunho-sshi! Bisakah kau cepat keluar dan tenangkanlah bayi sialan itu! Aku muak mendengar tangisannya!'' Teriak Jaejoong keras. Yunho yang memang sudah selesai mandi pun melilitkan handuknya sebatas pinggang dan membuka pintu.
Yunho dapat melihat Jaejoong yang berdiri di depan pintu. Sedikit rasa canggung menyelinap di hati Yunho, namun segera di tepisnya rasaitu.
Namja tan itu tersenyum lebar pada Jaejoong, membuat Jaejoong yang melihat itu hanya tersenyum meremehkan.
''Jae-''
''Kau jangan salah paham dulu, Yunho-sshi. Aku ke sini hanya karena mendengar suara tangisan bayi alien itu dan aku sangat berharap semoga kau cepat menenangkan bayi haram itu.''
Senyum Yunho memudar kala mendengar perkataan Jaejoong yang pedas menusuk ke hatinya.
Yunho hanya terdiam saat melihat Jaejoong membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya. Jaejoong sudah berubah sekarang. Namja itu sangat dingin, tak sehangat dulu, dan yang merubah Jaejoong adalah dirinya. Dia yang menyebabkan Jaejoong seperti itu.
Seolah tersadar dengan tangisan Sulli yang makin mengeras, Yunho buru-buru menggendong bayi itu dan berusaha menenangkannya.
''Anak Appa kenapa, hum? Kau haus sayang?''
Yunho berceloteh sendiri. Kadang Sulli tertawa mendengar celotehan Yunho, seolah mengerti apa yang dikatakan Yunho.
Tangan Sulli menggapa-gapai ke samping ranjang, seolah ingin mengambil sebuah pigura di atas meja kerja Yunho. Foto Jaejoong yang berdiri menyamping tengah tersenyum hangat dan memejamkan matanya di bawah pohon sakura dengan kelopak bunga sakura yang beterbangan di sekelilingnya. Nampak seperti malaikat. Yunho ingat, saat itu mereka tengah berlibur ke Jepang untuk berbulan madu pasca pernikahan mereka. Yunho yang melihat itu pun tersenyum pahit.
''Kau ingin bersama Jae Eomma, eoh?'' Tanya Yunho, seolah mengerti Sulli tersenyum hangat dan Yunho pun tersenyum miris, ''Maafkan Appa. Tapi sepertinya Eomma-mu tak akan pernah menerima-mu Sulli-ah. Dan ini semua karena kesalahan Appa.'' Tutur Yunho.
Bayi itu kemudian kembali menangis keras. Yunho segera meletakkan Sulli di atas ranjang dan cepat-cepat memakai pakaiannya. Sebuah kemeja putih dipadukan dengan jas hitam dan dasi yang juga berwarna hitam untuk atasannya. Dan bawahannya dia memakai celana hitam. Tampak berwibawa.
Yunho segera menimang Sulli dan berjalan agak tergesa-gesa menuju dapur. Yunho tampak kesulitan membuat susu dengan Sulli yang masih dibawanya. Akhirnya dengan bersusah payah, Yunho berhasil membuat susu untuk Sulli. Bayi perempuan itu tampak lahap meminum susu formula dari botol susu yang disodorkan Yunho. Yunho sesekali mengusap lelehan susu yang mengalir didagu putrinya dengan sayang.
Tak lama, susu itu pun habis. Yunho tersenyum kecil.
''Anak Appa lapar, eoh?'' Kata Yunho lucu. Bayi itu tertawa nyaring dan melambai-lambaikan tanggannya pada wajah Yunho dan sesekali menepuk-nepuk wajah Yunho dengan tangan mungilnya.
Jaejoong yang menyandarkan tubuhnya pada ambang pintu dapur itu hanya dapat menangis melihat kebersamaan Yunho dengan putrinya. Tampaknya laki-laki itu sangat senang karena sudah menjadi seorang ayah.
Jaejoong mengusap airmatanya dan berlalu pergi begitu saja dari dapur. Sepertinya menenangkan diri di kamar tak masalah.
Sulli, bayi itu tampak rewel dan sekali-kali kakinya menendang-nendang ke udara. Yunho pun melihat Sulli dengan tatapan bingung. Ada apa sebenarnya dengan Sulli.
Tangan-tangan mungil Sulli seolah menunjuk-nunjuk sesuatu,Yunho pun mengikuti arahan jari mungil itu. Dan betapa kagetnya Yunho saat ia melihat Jaejoong yang berlalu dari dapur. Walaupun hanya sekilas, tapi dia yakin bahwa itu adalah istrinya.
Yunho dengan cepat mengejar langkah Jaejoong yang cepat. Yunho melihat Jaejoong yang sudah menutup pintu kamarnya.
Yunho hanya dapat diam berdiri di depan pintu kamar milik Jaejoong. Sulli semakin keras menangis. Yunho yang melihat itu hanya menatap Sulli dengan tatapan kasihan. Mungkin Sulli menganggap Jaejoong adalah ibunya.
Yunho memberanikan dirinya untuk mengetuk pintu kamarJaejoong setelah Sulli semakin keras menangis.
TOK TOK TOK
''J-Jae..'' Panggil Yunho gugup.
Yunho menatap was-was pintu kayu itu. Berharap Jaejoong akan membukakan pintu untuknya.
Yunho menelan kekecewaannya saat tak mendapati sedikit pun tanda-tanda Jaejoong akan membukakan pintu untuknya.
Yunho mengetuk kembali pintu itu.
''J-Jae… Ku mohon, buka—''
Yunho tak meneruskan kata-katanya saat melihat Jaejoong yangsudah membuka pintu berdiri di hadapannya.
Yunho tersenyum hangat.
''Ada apa?'' Tanya Jaejoong ketus.
Yunho menggerak-gerakkan bola matanya gelisah.
''Bisakah kau menggendong Sulli sebentar saja?''
''Tidak.''
''Jae.. Ku mohon. Kali ini saja,'' Cicit Yunho memelas.
Jaejoong mengalihkan pandangannya dari Yunho ke Sulli. Bayi itu tampak kesulitan bernapas karena menangis keras. Wajahnya pun kembali memerah. Jaejoong menatap iba pada bayi itu.
Tanpa diduga oleh Yunho, Jaejoong mengulurkan tangannya dan menimang Sulli. Anehnya bayi yang sedari tadi menangis keras itu langsung terdiam saat ditimang oleh Jaejoong. Yunho membulatkan matanya takjub, sedang Jaejoong masih dengan ekspresi datarnya.
Sulli menguap kecil dan tak lama tertidur pulas di belaian hangat milik Jaejoong. Jaejoong menyerahkan Sulli kasar pada Yunho, membuat bayi yang semula tertidur itu terbangun. Wajahnya sudah nampak ingin menangis, dengan sigap Jaejoong mengelus pelan kepala Sulli dan membuat bayi itu tak jadi menangis dan kembali tertidur.
''Wajahnya jelek sekali saat ingin menangis,'' Ujar Jaejoong dengan senyum meremehkan. Yunho tak sakit hati dengan omongan Jaejoong. Bahkan laki-laki itu masih saja tersenyum seperti orang gila seraya menatap Jaejoong yang membuat namja cantik itu menatap iritasi padanya.
''Jae- Tampaknya Sulli menyukaimu,'' Ucap Yunho setengah takjub.
''Tapi aku tak menyukainya.'' Ujar Jaejoong dingin tanpa ekspresi.
''Jae.. Bolehkah aku menitipkan Sulli padamu? Aku harus ke kantor sekarang. Aku tak mungkin membiarkannya dengan sekretarisku yang tak bisa menjaga bayi.'' Pinta Yunho. Wajah laki-laki itu tampak memelas.
''Tidak dan tak akan pernah. Buang saja bayi itu jika sekretarismu tak bisa merawatnya.'' Dingin Jaejoong, ''Kau bahkan tak punya malu meminta tolong padaku merawat bayi haram itu. Aku tak sudi, aku jijik padanya. Kau dengar itu?!''
BLAM
Jaejoong kemudian membanting pintu itu di depan wajah Yunho. Yunho menghela napas lelah, sepertinya dia akan menitipkan Sulli pada Victoria saja.
.
You're Not Alone
Presented
By
© BooBearYJ
.
Yunho memarkirkan mobilnya di sebuah basement apartment dikawasan Samsung-dong. Yunho membuka seat-belt nya dan menggendong bayi yang tampak tertidur lelap.
Yunho berjalan memencet tombol 12 di mana apartmentt Victoria berada.
Setelah sampai, Yunho pun memencet bel di dinding samping pintu apartement Victoria.
''Siapa?'' Tanya seorang wanita yang masih tampak muda melalui intercom.
''Ini aku Victoria-sshi, Yunho.''
Tak lama setelah menjawab. Pintu apartment itu terbuka.
Victoria berdiri tak jauh dari pintu.
''Yunho-sshi? Untuk apa kau ke sini?'' Tanya wanita itu melirik Yunho dan kemudian pada Sulli, ''Mengapa kau membawa Sulli ke sini?''
''Victoria-sshi, aku titip Sulli padamu, ne? Jaejoong masih belum (tidak) bisa menerima Sulli. Aku mohon,''
Seolah mengerti, Victoria mengambil alih gendongan Sulli dariYunho. Wanita itu menatap sayang pada anaknya.
Jelas dia tahu mengapa Jaejoong tak dapat menerima Sulli. Istri mana yang mau menerima anak pengkhianatan dari suaminya. Ia tahu bagaimana perasaan Jaejoong. Namja itu pasti amat sangat terpukul dengan kejadian ini. Bahkan mungkin namja itu frustasi dengan semua kejadian yang menimpa dirinya.
Jika saja dia bisa meminta maaf secara langsung pada Jaejoong. Namun dia terlalu takut untuk menemui namja itu dan meminta maaf padanya. Dia takut jika Jaejoong tak akan memaafkannya. Karena Jaejoong pasti sudah tahu pengkhianatan suaminya yang dilakukannya bersamanya.
''Aku akan merawatnya dengan baik sampai kau pulang, Yunho-sshi. Kau tenang saja. Kka, pergilah ke kantor sebelum terlambat.''
Yunho tersenyum kecil seraya mengangguk dan mencium kening putrinya. Yunho lalu pergi meninggalkan Victoria yang menatap sedih pada Sulli.
Jika saja dia bisa merawat Sulli, pasti ia akan membesarkannya dengan kasih sayang, mengingat Jaejoong yang pastinya tak akan pernah bisa menerima Sulli. Namun itu semua tak akan mungkin, perjanjian tetaplah perjanjian. Dan dia tidak mau melanggar perjanjian itu.
.
Tendang Bang Chun
.
Gomen ga bisa balas review kalian satu-satu, tapi Ara baca kok dan Ara sangat menghargai review kalian. Arigatou gozaimasu :)
Ada yang review kemarin '' kok jae jadi gitu sig. enah kenap aku gasuka kao jae gitu sifatnya. kasian juga bayi gada salahnya tapi dimaki kan kasian tau''
Saya balas di sini. Jaejoong sebenarnya baik kok, tapi rasa sakit di hatinya yang menyebabkan dia begitu. Coba saja jika Anda yang berada di posisi Jaejoong, apa Anda akan seperti Jaejoong? Atau bahkan lebih dari itu? Menurut saya, sikap Jaejoong wajar saja dan masih bisa dianggap baik, terlalu baik malah. Jaejoong Cuma butuh waktu.
Untuk selesainya, mungkin dua chapter lagi karena saya jamin alurnya akan kecepetan, haha, gomen ne :D
At last, thanks and let's enjoy the story :)
