Prison
-Part 14-
Disclamair : Masashi Kishimoto
By : Karayukii
Pair: NaruSasu
Rat: M
WARNING: OOC TINGKAT DEWA, BL (YAOI)
.
.
.
Naruto akan membunuhnya. Jari jemari pemuda itu berlabuh di lehernya, mata safirnya menggelap dan suaranya penuh kemarahan "Jangan main-main denganku, Sasuke!"
Mata Naruto terbakar oleh kemarahan, dan setelah sekian lama Sasuke bisa melihatnya lagi, monster yang tertidur di dalam diri Naruto.
Naruto murka, tapi alih-alih ketakutan, Sasuke malah merasakan sesuatu menusuk dadanya, rasa perih. Sasuke sudah memikirkannya semalam. Ia bahkan sudah memprediksikan reaksi Naruto yang seperti ini. Ia akan marah sesuai dengan wataknya. Dan Sasuke tidak akan memohon padanya untuk dimaafkan seperti yang sudah-sudah. Ia telah memutuskan untuk melepaskan dirinya dari pemuda itu. Dan meskipun ia harus mati di tangan Naruto sekalipun, Sasuke tidak akan merubah keputusannya.
Ketegasan Sasuke terpancar jelas di mata onyx pemuda itu. Matanya bersinar tajam dan dingin. Bahkan saat jari-jari Naruto berada di lehernya dan siap meremukkannya, ekspresi pemuda itu sama sekali tidak berubah.
Gigi Naruto bergemeletuk, kemarahan semakin menguasainya. Ia mencengkram leher Sasuke semakin kuat, kali ini benar-benar mencekiknya. Ia ingin Sasuke merubah ekspresinya. Ia ingin mengembalikan pemuda ravennya yang lugu –yang selalu memandang sekelilingnya dengan ketakutan, ia ingin melihat Sasukenya, yang seolah-olah tidak bisa hidup tanpa dirinya. Sasukenya yang tidak berdaya, yang lemah, dan hanya bisa bertopang dan mengandalkannya.
Tapi ekspresi Sasuke tidak berubah, bahkan setelah Naruto telah menahan jalur udara di lehernya. Ia yakin pemuda raven itu sudah tidak bisa bernapas, ia bahkan seharusnya sekarang tengah mengerang kesakitan. Namun cara Sasuke memandangnya masih tidak tergoyahkan, bahkan ketika wajahnya mulai memerah karena kekurangan pasokan oksigen.
Naruto akhirnya melepaskan cengkramannya. Menyakiti Sasuke ternyata tidak memberikan pengaruh apapun kepada pemuda raven itu. Lagipula jika ia tidak melepaskannya sekarang, Naruto akan berakhir membunuh pemuda raven itu sebelum ia sendiri menyadarinya.
Walau begitu suara Naruto meninggi, kemarahannya berubah menjadi ketidak mengertian. "Beraninya kau!" Pemuda Uchiha ini berusaha untuk melawannya dan Naruto sungguh tidak bisa mempercayainya.
"Aku… ingin… kembali" seru Sasuke disela-sela mengambil napas. "Aku ingin pulang."
Mungkin Sasuke tidak bisa melihatnya, tapi kata-katanya telah menusuk dada Naruto bagaikan hujaman pedang. Rasanya menyakitkan, bagaimana pemuda raven ini tidak manganggapnya sebagai bagian yang berarti dari hidupnya. Walaupun ia telah berusaha untuk membuat pemuda raven ini merasa betah di sisinya , memberikan perlindungan, dan membuatnya yakin bahwa rumahnya adalah di kastilnya, kastil Uzumaki. Tapi Sasuke tetap menganggap kastil Uchiha sebagai rumahnya, kastil yang tengah memenjarakannya selama sekian tahun. Naruto tidak mengerti, sungguh tidak mengerti.
"Kau…" kata-kata Naruto berhenti di tengah jalan. Emosinya mengambil alih, menutup pergerakan otaknya. Ia ingin meneriakkan kemarahannya sambil mengguncang-guncang tubuh pemuda raven itu, membuatnya sadar bahwa dia adalah miliknya. Dan rumahnya adalah di tempat ini bersama dirinya.
Tapi Naruto tidak melakukannya, karena ia yakin ia akan berakhir melukai pemuda raven itu, membuatnya semakin berpikiran buruk tentang dirinya. Dan itu hanya menyebabkan keadaan semakin bertambah parah.
"Kau dihukum." Naruto akhirnya berkata. "Kau akan dikurung di ruangan ini, tanpa makanan ataupun minuman sampai kau menyadari kesalahanmu dan meminta maaf untuk apa yang telah kau lakukan kepadaku."
Naruto terdiam sejenak, safirnya memandang lurus ke arah Sasuke. Ia menunggunya, mengharapkan ketakutan atas hukumannya. Ia bahkan berharap Sasuke akan menangis dihadapannya dan segera memohon untuk dimaafkan detik ini juga. Tapi Sasuke tidak bergerak dari tempatnya. Ia hanya memegangi lehernya yang habis dicekik Naruto, dengan dada yang naik turun mengambil oksigen.
Tangan Naruto mengepal membentuk tinju ketika apa yang diharapkannya tidak kunjung terjadi. Pemuda keras kepala itu terus saja menguji emosinya, membakarnya semakin dalam oleh kemarahan-kemarahan yang tidak bisa dipercayainya.
"Aku akan memberimu waktu untuk berpikir. Gunakanlah sebaik-baiknya." Naruto berkata lagi, berharap Sasuke benar-benar memahami perkatannya.
Sasuke mengangkat kepalanya, menatap langsung ke mata safir Naruto. "Aku tidak berniat untuk merubah pendirianku. Ini adalah jalan hidupku." Ia berkata tanpa gentar.
Rahang Naruto menegang, pandangannya berubah dingin. "Kalau begitu kau akan dikurung seumur hidupmu." balasnya seraya membalikkan badan, meninggalkan pemuda raven itu sendirian.
.
.
.
Keheningan itu terasa menyesakkan, baru beberapa menit Naruto meninggalkannya, tetapi Sasuke sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang terus menusuk dadanya. Bagaikan sebilah pedang yang tertancap dalam ke jantungnya, membuatnya sulit untuk bernapas.
Ia tahu alasan rasa sakit ini muncul. Sasuke telah membohongi dirinya sendiri. Bersikap tegar seakan tidak peduli pada apapun, tidak, Sasuke tidak seperti itu. Sasuke sebenarnya ketakutan, ia takut berpisah dari Naruto. Ia takut tidak akan bisa melihat kastil ini lagi. Kembali ke kastil Uchiha dan mengingat semua peristiwa mengerikan yang terjadi pada masa kecilnya, ia tidak bisa membayangkannya. Yukigakure bukan rumahnya, bukan tempat yang bisa memberinya kenyamanan.
Tangan Sasuke mengepal, tubuhnya disandarkan ke sisi tembok. Kepalanya sedikit miring, dan pandangannya terlihat buram ketika memandangi kamar Naruto. Tempat ini juga penuh dengan kenangan. Ia masih ingat saat pertama kali ia berjalan dari pintu utamanya, sama sekali tidak punya gambaran mengenai masa depannya di tempat ini.
Ia tidak ingin pergi, benar-benar tidak ingin pergi. Ia ingin tetap tinggal, hidup di kastil Uzumaki bersama dengan Naruto. Tetapi mengingat sosok lain yang bukan dirinya akan mengisi kamar ini menggantikan dirinya, Sasuke yakin dia tidak akan sanggup. Dia tidak punya kekuatan untuk mempertahankan Naruto, dan kenyataan itu terus saja menampar wajahnya.
Sasuke memeluk lututnya, untuk sekian kalinya ia merasa benar-benar kecil. Ia tidak ingin pergi, tapi ia harus. Tinggal di tempat ini tidak akan memberikan apapun padanya. Dia tahu dia tidak akan bahagia. Dia tahu dia tidak akan memiliki masa depan yang cerah. Dia harus meninggalkan tempat ini sebelum Naruto mengikatnya semakin erat.
Mungkin rasa sakitnya akan tidak tertahankan, tapi ia yakin, ini hanya akan menyakitinya untuk sementara waktu. Satu-satunya yang harus ia lakukan sekarang adalah berusaha untuk melepaskan Naruto.
Sasuke sebenarnya sudah begitu teguh dengan keputusannya, tapi tetap saja air mata yang sedari tadi dibendungnya menetes tak tertahankan. Hatinya sama sekali tidak bisa membohonginya.
.
.
Puluhan pengawal Uzumaki berbaris di pinggir halaman kastil utama. Kuda-kuda yang telah dipasangi pelana dibawa keluar dari istal, sementara kereta-kereta diisi dengan barang-barang. Orang-orang berteriak, memberi perintah kepada para pelayan dan tukang kuda. Karin berdiri ditempat teduh, memngamati kekacauan dihalaman istana. Ia mendengus, menyesali cuaca yang terlihat benar-benar cerah, seakan para dewa memberi dukungan kepada mereka untuk memulai perjalanan berburu yang membosankan selama seharian.
Karin melirik ke sudut petak kastil, menatap Kankuro yang sedang sibuk menggoda para gadis-gadis. Senyuman pria itu cerah bagai mentari, begitu bersemangat menceritakan tentang kastilnya yang megah kepada para dayang-dayang muda. Pria brengsek, rutuk Karin dalam hati. Bagaimana bisa pria mata keranjang sepertinya akan menjadi calon suaminya. Dia yang suka bermain-main dengan para wanita.
Tetapi Karin tetap membiarkannya, bersikap tidak peduli walau amarah terus berkobar di dalam dadanya. Ia merasa dipermalukan dan diinjak-injak oleh pria itu, tapi dipihak lain ia akan terlihat tidak beradab jika menghambur di tengah-tengah mereka, hanya untuk memberikan tamparan kecil di wajah Kankuro yang menyebalkan.
Segala yang ingin dilakukannya, hanya akan membuat posisinya jelek di mata semua orang. Karin memutuskan menegakkan kepala, menatap lurus-lurus ke depan dan berpura-pura tidak menyadari keberadaan Kankuro dan gadis-gadisnya. Di seberang halaman, Karin melihat Hinata tengah berdiri bersama pelayan pribadinya. Tiba-tiba seringai muncul di sudut bibirnya.
Hyuuga Hinata, Karin gatal untuk melangkahkan kakinya menuju ke gadis itu, tapi ia berusaha menahan diri. Amarahnya masih bergejolak dan tidak adil rasanya untuk melampiaskan kemarahan kepada Hinata, hanya karena ia calon istri Naruto. Ya, Naruto, kakaknya yang merupakan biang kerok dari segalanya.
Lagipula Hinata sebenarnya juga seorang korban. Karin bahkan merasa ia lebih malang dari dirinya. Naruto tidak pernah melihatnya, tidak pernah mengunjunginya, dan mungkin tidak sadar dengan keberadaannya. Fungsi Hinata tidak lebih dari pedang yang disimpan Naruto di dalam perkakasnya. Hanya digunakan saat ia memerlukannya.
Memang Naruto adalah pria paling brengsek yang pernah ada. Di saat pernikahannya tinggal menghitung hari, dia malah sibuk mengurusi kekasih laki-lakinya. Cih, si brengsek itu, dia bahkan tidak membiarkan Karin menikah dengan Sasuke, karena dia ingin memilikinya sendiri.
"Karin…?"
Karin ditarik dari lamunannya dan menemukan Hinata yang ternyata telah berdiri disisinya, memandanginya dengan ekspresi khawatir.
"Yang mulai terlambat." Gadis itu memberi tahu.
Karin hanya memutar bola matanya dengan tidak peduli. "Dia akan datang." Ia menjawab.
"Mungkin sebaiknya kita menyuruh seseorang untuk menyusulnya. Mungkin terjadi sesuatu…" Gadis itu berkata lagi.
Karin mendesah. "Naruto baik-baik saja, dia bahkan tidak pernah jatuh sakit seumur hidupnya." Katanya jujur, tubuh Naruto sekuat besi, ia kebal dari segala penyakit. Tetapi kemudian Karin mengamati Hinata, gadis itu terlihat memilin-milin selendangnya, nampak cemas. "Ada sesuatu yang mengganggumu?"
Hinata mengangkat kepalanya menatap Karin. Mata violetnya yang besar terlihat bergetar. "Apa kau pikir tuan Sasuke juga akan ikut bersama kita?"
Pertanyaan Hinata membuat Karin terdiam selama beberapa saat. Tentu saja, bagaimana mungkin Karin tidak menyadarinya. Hinata tidak mengkhawatirkan keadaan Naruto, ia mengkhawatirkan apa yang sedang dilakukan Naruto. Tetapi pertanyaan Hinata membuat Karin ikut bertanya-tanya. Ia menoleh ke belakang ke arah pintu aula, membayangkan sosok Naruto keluar bersama Sasuke. Yah, itu adalah pandangan yang sering dilihatnya di kastil ini.
"Seharusnya begitu." Karin menjawab apa adanya.
Senyuman Hinata mendadak menjadi kaku.
"Kenapa? Apa kau tidak suka kepada Sasuke?" Karin mengangkat satu alisnya.
Hinata tidak langsung menjawab, ia menundukkan kepalanya selama beberapa saat, seperti sedang berusaha untuk menyembunyikan emosinya. Tapi saat ia mengangkat kembali kepalanya, ia menggeleng pelan, sangat pelan.
"Aku merasa bahwa Uchiha itu berusaha merebut semua perhatian Yang mulia dariku." Untuk pertama kalinya Hinata berani mengatakan isi hatinya. Kekesalan yang terus menggumpal setiap kali ia melihat Naruto bersama dengan Sasuke, rasanya amat menjengkelkan. Setiap hari ia selalu sendirian di kamarnya, menunggu kunjungan Naruto yang tidak pernah datang. Dan kemudian ia mendengar desas-desus bahwa Yang mulia mengunjungi kastil tempat tinggal sang Uchiha setiap malam. Hinata sungguh tidak bisa menerima hal itu. Dialah yang akan menjadi Ratu bukan Uchiha Sasuke. "Seharusnya dia tahu diri, kenapa dia tidak pergi saja. Maksudku disini bukanlah tempatnya. Akan lebih baik jika dia pulang ke Yukigakure dan mengurusi kastilnya."
Karin memahami rasa tidak suka yang muncul di dalam hati Hinata kepada Sasuke. Gadis itu pasti sangat terganggu dengan keberadaan sang Uchiha yang terus menempeli calon suaminya. Gosip-gosip tidak mengenakan yang terus terdengar sejak ia tiba di kastil Uzumaki, tentang dirinya yang hanya berperan sebagai pemberi keturunan semata.
Seperti yang dipikirkannya sebelumnya, Hinata jauh lebih malang dari dirinya, siapa yang suka disamakan dengan hewan ternak?
"Kau benar-benar mencintai Naruto ya?" Karin memberikan pandangan kasihan kepada gadis itu. "Tetapi Naruto bukan tipikal pria yang bisa kau kekang, ia sama seperti pria kebanyakan, brengsek dan suka seenaknya," Ia melemparkan delikan kepada Kankuro melalui sudut matanya. "Dan kau tahu jika Naruto mau, ia bisa mengangkat Sasuke sebagai selirnya."
Hinata tertegun selama beberapa saat, tetapi kemudian dia menggeleng. "Sasuke pria, mana bisa seorang pria menjadi selir."
Karin tertawa. "Tapi tidak ada peraturan yang melarang seorang pria menjadi selir… Lagipula Dia Naruto, Hinata. Dan dia seorang Raja. Bahkan jika ia memerintahkan pada kita untuk merangkak memasuki aula, kita harus melakukannya."
Hinata tampak masih ingin protes. Bibirnya terbuka, tetapi segala hal yang dia pikirkan tidak cukup untuk melawan perkataan Karin. Ia berakhir menggigit bibir bawahnya, kini Nampak ketakutan. Bagaimana jika Sasuke benar-benar diangkat menjadi selir kerajaan? Naruto pasti akan terang-terangan menunjukkan perhatiannya kepada Sasuke. Lalu bagaimana dengan dirinya?
Melihat wajah Hinata yang memucat Karin tiba-tiba mendekatkan tubuhnya lalu berbisik. "jika kau tidak suka dengan Uchiha, kau bisa mendorongnya dari atas tebing saat kita sampai di sana nanti. Atau membuatnya tersesat saat yang lainnya sedang sibuk berburu. Singkirkan dia selagi kau masih punya kesempatan." Keheningan yang menegangkan menyapa selama beberapa saat. Kemudian Karin tertawa saat melihat ekspresi Hinata yang terlihat begitu serius mendengarkan semua perkataannya, dengan segera ia menepuk pelan bahu gadis itu. "Aku hanya bercanda." Sahutnya.
Tetapi Hinata tidak tertawa, ia bahkan tidak menganggap perkataan Karin sebagai candaan. Matanya terbuka lebar-lebar dan bahkan tangannya mengepal di balik selendangnya.
Karin menyadarinya, ia baru saja akan membuka mulut, tetapi pintu tiba-tiba terbuka dan Naruto melangkah keluar.
Pria itu akhirnya muncul diapit oleh dua orang pengawalnya, hanya pengawal, dan Karin bisa melihat senyuman penuh kelegaan muncul di wajah Hinata. Uchiha Sasuke tidak bersamanya. Itu berarti seharian ini, Naruto hanya akan memandang ke arah dirinya.
.
.
"Ini sudah tiga hari! Apa kau ingin membunuh tuan Sasuke?!" Suara Ino bergaung di koridor. Gadis itu tengah melotot kepada pengawal yang ditugaskan menjaga kamar utama. Sebuah nampan berisi makanan berada di tangannya. "Dengar, tuan Uchiha akan mati jika kau tidak membukakan pintu! Dia kelaparan!"
Sang pengawal berbaju zirah hanya menunduk memandang Ino dengan satu alis terangkat. "Yang mulia memerintahkanku untuk mengawasi tuan Uchiha."
Ino mendelik padanya dengan berang, sebenarnya ini sudah ketiga kalinya Ino datang kemari, bermaksud untuk mengantarkan makanan kepada Sasuke, tapi si pengawal bernama Shino ini sungguh patuh dengan apa yang diperintahkan sang raja kepadanya.
Ino menarik napas, mata biru pudarnya mengedip beberapa kali, kemudian ia menatap Shino lagi kali ini dengan pandangan yang lebih lunak. "Ayolah Shino, biarkan aku masuk. Hanya lima menit, Yang mulia tidak akan tahu. Aku akan merahasiakannya." Ia mengakhiri kalimatnya dengan memberikan kerlingan manja.
Shino tak berkutik. Pandangannya masih sama kerasnya, begitu pula dengan kalimat yang meluncur keluar dari bibirnya. "Yang mulia memerintahkanku untuk—"
"Aku tahu idiot! Aku sudah mendengarmu ratusan kali!" Potongnya dengan tidak sabaran. Ia lagi-lagi mendelik kepada pria itu. Kali ini tersinggung karena Shino menolaknya tanpa berpikir. "Dengarkan aku," ia memulai lagi. "Di dalam sana, tuan Uchiha sedang kelaparan, bahkan mungkin saja dia sudah… mati." Ino sedikit bergidik saat mengucapkan kata terakhir. "Dan kau pikir Yang mulia akan senang kalau tuan Uchiha sampai mati?"
Bibir Shino sedikit terbuka, ekspresinya tampak berpikir. Kata-kata Ino kali ini berhasil mempengaruhinya.
Seringai kecil muncul di bibir Ino. "Kau tahukan, kaulah satu-satunya orang yang akan disalahkan jika terjadi sesuatu kepada tuan Uchiha?"
Wajah Shino terlihat khawatir. Kedua alisnya bertaut dan kini ia menoleh ke arah pintu yang dijaganya dengan cemas. "Yang mulia sangat menyukai tuan Uchiha kan?" tanyanya.
"Kau sendiri tahu jawabannya." Jawab Ino segera. Sang raja Uzumaki yang selalu memfavoritkan Uchiha Sasuke, jelas bukan rahasia lagi dikalangan penduduk kastil. "Jadi sebaiknya kau buka pintunya sekarang dan biarkan aku masuk."
Shino meragu, ia menoleh ke arah pintu lalu kembali kepada Ino. Alisnya masih bertaut pertanda ia sedang berpikir hebat. Setelah beberapa detik terdiam, ia kembali berkata. "Ini baru tiga hari, aku yakin dia belum mati."
Ino melotot seketika. "Kau benar-benar…!" Ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya saking jengkelnya. Jari-jarinya terasa gatal ingin melemparkan isi nampannya ke wajah idiot Shino.
Tetapi Ino tidak melakukannya, itu hanya memperburuk keadaan. Setelah melempar tatapan super tajam akhirnya Ino menyeret kakinya untuk pergi. Ia belum menyerah, ia memutuskan untuk kembali beberapa jam ke depan, dan jika Shino masih tidak mengizinkannya masuk, maka ia akan menggigit kepalanya yang penuh kutu itu.
Ino sebenarnya tidak mengerti apa yang terjadi. Ia hanya memprediksi tuannya mencari masalah lagi hingga dihukum sedemikian rupa. Dan kali ini masalahnya tidak sesimpel dulu, karena tidak pernah sekalipun Yang mulia menghukumnya seperti ini. Mengurungnya di kamarnya tanpa makanan, air, bahkan dirinya. Dulu, Sasuke memang dikurung di tempat yang sama, tapi dengan semua kebutuhannya. Yang mulia bahkan memberikannya baju-baju bagus untuk dikenakan.
Ino menarik napas, menatap nampannya dengan lemas. Sudah tiga hari ini Sasuke dikurung di kamar itu. Dalam sekejap ia menjadi perbincangan paling panas di dalam kastil. Uchiha Sasuke adalah pria penggoda yang ingin membatalkan pernikahan Yang mulia. Ia dicap sebagai pria licik yang ingin merebut semua perhatian Sang Raja Uzumaki. Semua orang membencinya, jauh melebihi sebelumnya.
Mungkin hanya Ino yang mengkhawatirkan keadaanya, karena hanya gadis itu yang benar-benar mengetahui dirinya yang sebenarnya. Uchiha Sasuke sebenarnya hanyalah seorang idiot, yang suka menyiksa dirinya sendiri. Selalu berada di tempat yang salah, dan selalu menginginkan sesuatu yang salah. Ino selalu ingin berada disisinya untuk memastikan pria itu tidak melakukan hal-hal bodoh.
Ino begitu sibuk dengan lamunannya sampai tidak menyadari kehadiran Uchiha Obito, penasehat sang raja yang tengah menghentikan langkahnya di koridor untuk menatapnya.
"Kau membawakan makanan untuk Sasuke?" Suaranya yang dalam sukses membuat Ino tersentak.
Nampan sedikit bergetar di tangannya saat menyadari ia baru saja ketahuan. "Sa-saya…" Ino berusaha memutar otak. Ia pasti akan mendapatkan hukuman jika Obito memberitahu Yang mulia bahwa ia berusaha memberi makanan tahanannya secara sembunyi-sembunyi.
"Tidak apa-apa." Obito berkata dengan nada menenangkan, "aku tidak akan melaporkanmu."
Ino terpaku di tempatnya, saat Obito kembali melangkah dengan sikap berpura-pura tidak melihatnya. Seharusnya ia merasa lega dengan itu. Obito berjanji tidak akan memberi tahu Naruto tentang hal ini. Tapi dibanding itu semua, Ino merasa ada hal yang jauh lebih penting, bahkan dari dirinya sendiri.
"Tuan," Ino setengah berlari mengejar Obito." Tuan!"
Obito berhenti, ia berputar untuk menatapnya.
Ino tampak ragu di awal, ia terlihat tidak yakin. Tetapi kegundahan yang terus menyesakkan dadanya sungguh tidak bisa ditahan. Ia sungguh mengkhawatirkan Sasuke. Ia ingin memastikan keadaannya. Dan ketidakpedulian semua orang yang sepertinya hanya disibukkan oleh persiapan pernikahan membuatnya semakin jengkel. Tidakkah dia sadar ada seseorang di sini yang sedang kelaparan, yang sama sekali tidak bisa merasakan kebahagiaan mereka. Siapa yang akan memerhatikan Sasuke jika bukan dirinya?
"Tuan, bisakah anda membiarkan saya mengunjungi tuan Sasuke? Saya hanya akan memberikan beberapa potong roti. Ini sudah tiga hari, dan saya merasa tuan Sasuke pasti tidak baik-baik saja." Ino nyaris terlihat seperti akan menangis, terutama ketika Obito terlihat nyaris akan menolaknya.
"Aku tidak memiliki kekuasaan untuk melakukan itu." Balas Obito.
Ino menggigit bibir bawahnya, menatap nampannya yang masih utuh. "Ini sudah tiga hari." Suara Ino nyaris sebesar bisikan. "Dan tuan Sasuke sama sekali tidak memakan apapun, bahkan setetes airpun tidak. Apa Yang mulia ingin membunuhnya secara perlahan seperti itu?"
Ino sendiri akan lebih senang jika Yang mulai langsung memenggal kepala Sasuke daripada membiarkannya mati secara perlahan-lahan seperti itu. Setidaknya ia tidak perlu menderita.
"Yang mulai tidak berniat membunuhnya." Obito menjelaskan dengan tenang. "Tuan Uchiha dihukum untuk sementara waktu sampai dia mengakui kesalahannya. Tuanmu tahu betul akan hal itu. Satu-satunya yang perluk ia lakukan hanyalah mengetuk pintu."
Ino mengerti, sangat mengerti. Dan karena ia tahu betul sifat tuannya yang keras kepala, makanya ia melakukan hal ini. Sasuke tidak akan pernah menyerah, dia yang sangat bebal, tidak akan bergerak dari tempatnya sebelum Yang mulai sendiri yang duluan mengulurkan tangan padanya.
"Aku hanya ingin bilang…" Ino menunduk matanya kini berkaca-kaca. "Jika tuan merasa sedikit kasihan kepada tuan Sasuke, bisakah tuan membujuk Yang mulia untuk membiarkan saya mengecek keadaannya." Ia menegakkan kepalanya, "hanya mengecek."
Obito terdiam selama beberapa saat. Mata gelapnya menatap mata biru pudar Ino, seperti menilai.
Ino sendiri paham, bahwa perminataannya sangatlah lancang. Bagaimana mungkin seorang pelayan rendah sepertinya mengajukan permintaan sebesar itu kepada orang berpangkat tinggi seperti Obito. Ia seharusnya dihukum atas kelancangannya ini. Tapi jari-jari Ino menggenggam nampannya begitu kuat berusaha memberanikan diri untuk menatap langsung ke mata onyx itu. Berharap menemukan nurani di dalam diri Obito.
"Aku mengerti." Obito akhirnya menjawab, dan Ino mendadak memliki harapan lagi.
"Tuan terima kasih." Katanya cepat-cepat saat Obito kembali melangkahkah kakinya. Ia tidak mengangkat kepalanya sampai pria itu menghilang dari pandangan.
.
.
Persiapan pernikahan Sang Raja Uzumaki kelihatannya akan diadakan semewah dan semeriah mungkin. Para tamu perwakilan setiap clan telah dipanggil hadir, istana di cat ulang, dan dihias dengan sedemikian rupa. Di dapur tukang masak istana bekerja ekstra keras, para pembantu juga sibuk melakukan persiapan, dan istal dipenuhi kuda-kuda berkali-kali lipat lebih banyak dari biasanya. Semuanya begitu sibuk demi pelaksanaan pernikahan sang Raja Uzumaki dengan Putri Hyuuga pada malam itu.
Namun Naruto hanya memandang dingin hiasan bunga berwarna-warni yang kini dihias meriah di sekitar halaman istana dari dalam ruang kerjanya. Hatinya kosong, dan sama sekali tidak bisa merasakan kegembiran dari rakyatnya. Kenapa? Ini hanya sebuah pernikahan, tapi kenapa rakyatnya begitu senang? Bahkan lebih senang daripada saat Naruto berhasil mempertahankan kastilnya dari tangan para pemberontak.
"Saya rasa ukurannya sudah pas Yang mulia." Sang penjahit baju yang bertugas membuat busana pernikahan untuk sang raja nampak puas melihat Naruto yang tampak gagah dengan pakaian ciptaannya. Busana pernikahan panjang yang mencapai betis yang disambung dengan celana panjang bersulam emas, dengan lambang keluarga Uzumaki di bagian punggungnya juga pernak pernik yang terbuat dari emas berlian sungguh apik saat membungkus tubuh Naruto.
Sang penjahit tersenyum, namun senyuman itu hanya bertahan selama beberapa detik saat tertangkap olehnya ekspresi bosan Naruto dari pantulan cermin.
"A-apa ada bagian yang tidak Yang mulia sukai?" Tanya sang penjahit dengan takut-takut, melihat Naruto yang sama sekali tidak terkesan dengan hasil ciptaannya bukanlah kabar baik untuk bisnis sekaligus nyawanya.
Tapi Naruto hanya mengedipkan mata, tampak tidak peduli. "Tidak, ini cukup." Jawabnya seraya membuka kembali pakaiannya dan menghempaskannya dengan asal ke pelukan sang penjahit. "Sekarang keluarlah." Perintahnya.
Sang penjahit membungkuk kelewat dalam sebelum menyeret kakinya pergi bersama harga dirinya. Bibirnya mengerucut dengan tidak senang. Mungkin dia memang sedang sial, beberapa hari ini Yang mulia selalu tampak uring-uringan. Memarahi setiap pelayan yang muncul dihadapannya, atau bahkan setitik debu yang menempel di baju zirah pengawalnya.
Semua orang tidak perlu menanyakan alasannya. Mereka tentu saja sudah tahu penyebab dari sikap uring-uringan Naruto. Gosip itu beredar begitu cepat bagaikan darah yang mengalir di dalam nadi. Lebih besar dan lebih menarik diperbincangkan daripada pernikahan sang raja yang akan diadakan malam ini. Berita mengenai Uchiha Sasuke yang kini dikurung di kamar utama, dengan tambahan bumbu-bumbu pemanis, demi menciptakan cerita yang menarik.
Obito sendiri mendengar bisikan-bisikan dari gossip itu, dan begitu herannya melihat Naruto yang sama sekali tidak peduli. Naruto bahkan tetap bersikap kekanak-kanakan dengan terus-terusan menggerutu dan menghukum siapapun yang melakukan kesalahan kecil dihadapannya.
"Malam ini adalah pernikahanmu, akan lebih bijak jika kau keluar dan menunjukkan sedikit kebahagiaan kepada rakyatmu." Obito berkata bertepatan ketika ia memasuki ruang kerja Naruto.
"Menunjukkan kebahagiaan?" Dahi Naruto mengernyit dengan jijik, seakan Obito baru saja menyuruhnya bersalto riah di halaman utama yang telah dihias dengan berbagai jenis bunga.
Obito menarik napas, "tingkahmu sungguh tidak mencerminkan seorang raja." Tegurnya.
Naruto memutar bola matanya, "Aku seorang raja." Balasnya dengan nada yang tidak bisa diganggu gugat. Ia berjalan ke kursi yang biasa dia duduki dan mendesah panjang. "Aku tidak mengerti kenapa aku harus terlihat gembira di hari pernikahanku."
Obito mengerutkan alisnya, menatap wajah Naruto dalam-dalam. "karena ini adalah pernikahanmu, kau mendapatkan seorang wanita yang akan menjadi ibu anak-anakmu. Kau akan hidup selamanya dengannya dan—"
"Memenuhi kewajibanku sebagai seorang Raja." Naruto melanjutkan dengan nada menantang, "benarkan?"
Obito terdiam selama beberapa saat, bukan tidak mampu membantah, ia hanya merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan menjalar di hatinya. Uzumaki Naruto adalah pemimpin yang sempurna, dibesarkan dan dilatih bak seorang prajurit handal. Ia menguasai berbagai macam tehnik pedang, cerdik dalam berpolitik, dan memiliki kharisma yang membuat clan-clan dibawahnya berlutut tanpa diminta. Tapi sayangnya, Obito melewatkan satu hal yang penting. Sesuatu hal yang tidak pernah Obito pikirkan. Uzumaki Naruto tidak mengerti tentang kehangatan keluarga. Minato begitu terpuruk dengan meninggalnya Kushina, hingga menyerahkan Naruto sepenuhnya ke tangannya. Ia tidak pernah menunjukkan kasih sayang, mengajarkan kepadanya tentang betapa pentingnya Kushina untuk dirinya.
Maka tidak mengherankan melihat Naruto yang menganggap pernikahan sebagai bagian dari kewajibannya dalam mempimpin. Ia tidak melihat sang ratu sebagai pendampingnya dan pengisi kekosongan dihatinya, ia menganggapnya sebagai alat untuk mendapatkan keturunan. Bagian dari tugasnya.
"Kau harus memperlakukan Putri Hinata dengan baik saat ia sudah menjadi istrimu." Sahut Obito dengan napas berat.
Naruto tertawa kasar, "kau bahkan tidak menikah." Ejeknya seraya berpaling.
"Benar." Obito mengangkat bahu, tidak bisa membantah. Ia tidak bisa mengajarkan sesuatu yang juga tidak terlalu dimengertinya. "Tapi ku harap kau melakukan sesuatu dengan tahananmu, sebelum gossip semakin membesar dan menjadi-jadi."
"Tahananku?"
"Ya, Sasuke. Sampai kapan kau akan mengurungnya?"
Hening selama beberapa saat, Obito memerhatikan gurat wajah Naruto yang tiba-tiba mengeras. Matanya memicing dingin dan seketika ia terlihat sangat kesal.
"Itu urusanku. Jika aku berniat mengurungnya seumur hiduppun, itu adalah urusanku." Sudut bibir Naruto terangkat dengan mengancam, seakan dia tidak ingin Obito mengungkit-ungkit masalah Sasuke.
"Kalau begitu sadar tidak sadar kau akan berakhir dengan mayatnya di tanganmu." Obito menegaskan. "Kau harus melepaskannya, mengurungnya tidak akan menyelesaikan apapun. Kau tahu Uchiha Sasuke adalah orang yang paling nekat yang pernah ada. Api tidak bisa dilawan dengan api. Jika kau menyayanginya, maka sebaiknya kau melakukan sesuatu sebelum membunuhnya."
Naruto tidak menjawab, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal. Ia seperti siap untuk memuntahkan semua kemarahannya. Pria Uchiha itu masih belum menyerah juga setelah ia mengurungnya selama tiga hari. Dan Naruto terus-terusan dalam pergolakan batin yang dahsyat untuk tidak mengamuk masuk kedalam dan memaksanya untuk berlutut dihadapannya. Tidak, dia tidak bisa melakukan itu untuk mendapatkan hati Sasuke. Sasuke tidak sama seperti yang lainnya, ia tidak bisa disogok dengan emas, dan dia tidak takut dengan pedangnya. Dia pria gila yang terus-terusan membuat Naruto berada diantara surga dan neraka.
"Dia… terus-terusan mengujiku." Naruto berkata dengan perlahan, matanya menatap lurus ke dalam udara kosong. Seakan ia sedang memikirkan sesuatu hal dan mengalami pergolakan batin yang dahsyat karenanya.
"Pikirkan apa yang terbaik untuknya." Obito berkata pelan.
Naruto menggosok kepalanya dengan kasar, ekspresinya mengernyit tampak gelisah. Matanya terpejam selama beberapa menit seakan berusaha mencari jalan keluar yang terbaik yang bisa ia temukan. Tapi ia sudah tahu, jika masalahnya adalah Sasuke, maka Naruto akan membutuhkan keajaiban untuk menyelesaikannya.
"Aku hanya ingin dia disisiku. Hanya ingin memeluknya, merasakan kehangatan yang selalu ku dambakan." Ia beranjak dari kursinya berjalan ke kaca jendela besar, memandang langit biru tanpa awan. "Kenapa itu begitu sulit?"
.
.
.
Ino menunggu dengan sabar di depan kamar utama. Shino pun masih diam mematung di depan pintu tetap menjaganya sesuai yang diperintahkan –walau dengan bersikap seakan-akan tidak menyadari tatapan penuh dendam dari Ino.
"Kau tahu, jika tuan Uchiha sampai mati…"
"Dia tidak akan mati." Balas Shino mutlak.
Ino mendelik dan sengaja menginjak kakinya saat ia mondar-mandiri dihadapan Shino. Ia masih menunggu kabar baik dari Obito. Ia percaya Obito bisa meyakinkan Yang mulia untuk membiarkannya masuk dan menolong Sasuke, dia adalah penasehatnya. Dia yang terbaik yang bisa Ino andalkan.
Namun waktu berjalan sangat lambat, Ino bahkan sudah berhenti mondar mandir dan merosot di lantai dengan nampan berisi makanannya. Ia sungguh lelah, lelah fisik dan jiwa. Apa Obito tidak berhasil? bantinnya berkata dengan khawatir, dia satu-satunya yang bisa Ino harapkan. Siapa lagi yang bisa merubah pikiran Yang mulia selain orang kepercayaannya itu?
Ia mulai merasa kesal sendiri, apa sebenarnya yang dikatan Sasuke hingga membuat Yang mulia semarah itu. Terkadang Ino tidak habis pikir, bagaimana mungkin Uchiha Sasuke bisa bersikap seburuk itu setelah kebaikan yang telah Yang mulia lakukan untuknya. Beribu wanita bersedia melakukan apa saja untuk menukar tempatnya dengan Sasuke.
Ino mendesah semakin tidak sabaran. Mungkin sebaiknya ia kembali, beristirahat sebentar dan memikirikan sesuatu yang baru. Ia baru akan berdiri dan menyerah, ketika seorang pelayan istana muncul di balik koridor. Ino menatapnya dengan gugup saat ia mengangguk kepada Shino sebelum manatapnya.
"Yang mulia memberi pesan untuk melepaskan Tuan Uchiha." Sahut pelayan itu.
Ino berdiri begitu cepat dari tempatnya sampai terserempet pakaiannya sendiri. "Benarkah?" Ia tidak bisa menyembunyikan kelegaan pada suaranya. "Jadi aku bisa memberi tuan Uchiha makanan?"
Sang pelayan mengangguk. "Ya." Jawabnya segera. "Yang mulia mengatakan bahwa tuan Uchiha telah dibebaskan, dan diberi Izin untuk kembali ke Yukigakure. Ia akan pergi sebelum matahari terbenam dengan beberapa bekal makanan dan dua orang pengawal."
Ino tertegun seketika, ia menatap bingung sang pelayan seakan-akan ia salah dengar. "Tuan Uchiha diizinkan pergi? Maksudmu Yang mulia akan mengirim tuan Uchiha kembali ke kampung halamannya? Ia akan meninggalkan kastil Uzumaki?"
Ino tidak perlu menunggu lama untuk mendengar jawabannya, pelayan itu mengangguk mengiyakan dengan ekspresi penuh keyakinan. Tanpa sadar, Ino menggenggam nampannya kelewat erat, kelegaan yang sempat mengangkat sebagian beban dipundaknya kini menghilang sepenuhnya. Digantikan perasaan shock dan tidak percaya.
Apa yang terjadi? Apa Yang mulia telah menyerah pada Sasuke? Apa pada akhirnya ia melepaskannya?
.
.
-tbc-
Lama banget, ya ampun baru dilanjut *jedotin jidat*
Ini publishnya buru-buru, soalnya besok pasti sibuk lagi. Kalau ada typo atau kalimat yang aneh jangan segan untuk memberi tahu ya
