BoBoiBoy © Animonsta Studios
Warn! Teen!Boboiboy Elemental, Fang, Yaya, Ying, and Gopal. Semi romance. Typo. [BoldItalic] for message. [Italic] for electronic voice. AU. No power.
Memijak umur dua belas tahun, Taufan sudah akan dilantik sebagai penerus perusahaan. Taufan diasuh oleh orangtua kaya raya yang cukup terkenal dari negaranya.
Taufan menyanggupi takdirnya. Dari umur itu juga Taufan sudah harus mempelajari apa itu saham, tata buku, desain produk menurut keperluan dan selera masyarakat, rapat, dan serba-serbi kebutuhan perusahaan lainnya. Taufan merasa itulah tanggung jawabnya, membalas perbuatan baik mereka—orangtua angkatnya.
Kasihan di umurnya yang masih muda, Taufan sudah harus menjadi tumpuan keluarga angkatnya.
Umurnya masih terbilang harus diisi dengan kesenangan dan bermain. Tapi tidak, Taufan tidak diperbolehkan bergaul dengan orang sembarangan. Alasannya adalah takutnya ada perubahan akhlak.
Taufan kesepian.
Tapi Taufan sudah terbiasa untuk selalu menjadi kakak yang baik bagi adik-adiknya. Menuruti kemauan orang adalah prioritas alasannya hidup. Makanya dia tidak berani menuntut.
Ya. Tentu saja.
Sampai Taufan menoleh pada kehidupan anak-anak seperantaraan umur lainnya, secara tidak sengaja.
Keegoisan mulai muncul. Sisi gelap hati saudara kedua naik, menyeruak. Memenuhi lubuk hatinya. Dan tidak ada orang sekitar yang menyadarinya selama ini.
Hatinya selalu bertanya-tanya mengapa ia tidak bisa bermain. Terus berpikir dan kenihilan menemukan jawaban, membuat ia mulai berpikir berlebihan.
Ia merasa semua orang membencinya. Merasa ia pantas untuk disiksa. Dianggap idiot dan pantas ditertawakan. Masa lalunya pernah dituduh pengasuhnya orang yang jahat, adalah bukti pertama yang menguatkan opininya.
Bukan. Bukan bagian saat Taufan difitnah.
Tapi bagian mengapa Gempa menyuruhnya tidak boleh membalas dendam.
=oOo=
"Kau keluar rumah untuk apa, Api? Tunggu sampai kudapati dirimu."
Seorang pemuda dengan memakai kaos abu-abu polos kini berjalan menyusuri trotoar jalan. Tangannya terlihat memegang sebuah ponsel layar datar. Helaian rambut hitamnya tersisir angin sepoi seiring ia berjalan.
Kedua iris biru kelamnya menangkap dua sosok laki-laki yang berpapasan jauh dari sudutnya. Pemuda tersebut segera mendekatkan dirinya pada tiang listrik terdekat, bersembunyi di baliknya.
Koordinat aplikasi map daerahnya dari ponsel menunjukkan bahwa sang target adalah orang yang tadi ia lihat. Tapi adanya satu orang lain di dekatnya. Pemuda itu memilih terus bersembunyi.
"Kak Halilintar! Kak Halilintar!"
Api dengan masih berpakaian piyama tampak kelelahan. Bulir-bulir peluh mulai muncul dari pelipis. Kedua kakinya berhenti berlari setelah ia dekat dengan sang target yang ia incar.
Sementara Halilintar yang masih kelelahan, menolehkan kepalanya menatap Api. Halilintar tidak kalah berkeringat seperti Api, tentunya.
"Kenapa kau ikut? Mana Air?"
"Air akan kuhubungi begitu kita menemukan Taufan. Aku meminta bantuan Air, siapa tahu dia bisa membujuknya. Hahh, gila kau. Larinya kencang banget."
"Begini-begini aku tidak lemah fisik," Halilintar menyeka keningnya yang penuh peluh.
"Aku kaget loh, rupanya kau tahu dimana Taufan biasanya mangkal."
"…," Halilintar memperhatikan Api yang berusaha mengstabilkan respirasinya. Bibirnya bergerak, namun tidak ada suara yang keluar bebas darinya.
Jelas saja Halilintar tahu Taufan ada disini. Halilintar sudah menganggap Taufan spesial di matanya. Semua hal tentang Taufan ia paling paham lain dari saudaranya.
Taufan selalu bicara dengan apa yang ada dalam pikirannya. Taufan adalah pribadi yang diidam-idamkan Halilintar sendiri, tahu lah Halilintar terkenal sebagai sosok yang tidak berani bicara blak-blakkan secara asal-asalan karena tuturan katanya yang kasar juga ia sedikit paham perasaan orang.
"Kayaknya kak Hali dekat banget sama kak Taufan."
"Ya, aku selalu paham kebiasaannya."
'—karena aku senang bagaimanapun dia apa adanya.'
Bibirnya ingin meneruskan apa yang ia ucap dalam hati, sebenarnya. Namun yang ia lakukan, Halilintar memilih berbicara apa adanya.
Mendengar Taufan menjadi seorang pria yang menjatuhkan oran lemah? Itu bukan style Taufan yang ia kagumi sepanjang ia mengenal kakak keduanya. Tapi kenyataan yang dibicarakan Api membuat hatinya sedikit sakit menerima Taufan demikian.
Taufan selalu ramah karena ia tidak pernah terbebani. Semua apa yang ia kesalkan; benci; apapun hawa negatif yang serumpun, Taufan selalu memilih untuk mengutarakannya. Pada orangnya langsung atau pada oranglain yang dia percayai takkan membongkar keluhannya.
Suasana terasa canggung. Api merasakan tubuhnya sedikit nyaman dari letih. Ia pun merogoh kantong baju piyama yang ia kenakan, mengeluarkan ponsel berlayar datar berukuran mini. Api membuka kunci ponselnya menekan aplikasi map.
"Aku akan hubungi Air. Setidaknya, kita bertiga akan mencari Tau—uhh?"
Halilintar langsung menatap Api intens. Api tampak berkeringat dingin, gugup.
"Ada apa, Api?"
"Aku pernah bilang kalau dalam aplikasi pencarian ini, aku masih ada… koneksi dengan Taufan?"
Langsung Halilintar merebut ponsel yang dipegang Api. irisnya memandang fokus layar navigator yang ditampakkan oleh aplikasi yang dimaksud Api.
Tertulis nama Taufan ada pada koordinat wilayah dekat kedua pemuda itu berdiri.
=oOo=
Sang maskot Paman Baik hadir pada sebuah rumah biasa yang jauh dari keramaian kota. Terasnya cukup luas, halaman rumahnya yang sedikit ditumbuhi tanaman dan pohon yang tidak terlalu rimbun—tapi cukup naung dan sejuk seandainya dilalui. Matahari terik dari samping kiri koordinat rumah tersebut.
Terlihat ada seorang anak kecil terduduk pada bawah pohon. Tatapannya kosong, mendongak langit-langit. Sebuah sapu halaman hanya diletakkan miring di samping pohon besar tersebut.
Gempa tersenyum. Firasatnya mengatakan bahwa ia beruntung sekali andai orang tersebut adalah target si penulis surat. Clue seperti dia habis melaksanakan pekerjaan rumah, ditambah postur tubuh anak tersebut yang tergolong masih kecil
Ia mengangkat penutup jaketnya untuk menutupi kepala. Langkahnya ia buat pelan agar terkesan santai saat mendatanngi anak tersebut. Sesampainya di dekat sang anak, Gempa menyamakan tinggi dengan duduknya anak tersebut dengan berjongkok.
"Ehmm, ada yang namanya Sarmila?"
Anak tersebut menoleh pada lelaki tersebut, "S—saya."
"Akhirnya aku ketemu, hahaha."
Gempa membuka penutup jaketnya sambil tertawa kikuk. Entah kenapa, kesan tersebut membuat si anak merasanyaman karena tidak ada hawa penjahat.
"Aku Gempa, salah satu redaksi dari rublik majalah anak-anak. Kamu pernah mengirim surat ke rublik Kepada: Paman Baik bukan?"
"E—eh, iya…," anak bernama Sarmila menyahut gugup. Dimana-mana jua kalau kepergok lagi curhat lalu didatangi sama yang dicurhati pasti gugup.
"Kudengar Ibumu TKI. Orang Indonesia tidak jarang sering bekerja di negara kami."
Sarmila memilih diam enggan menyahut.
"Apa kau begitu syok, kau mulai merasa harus dewasa sampai stress?"
Anak itu menaikkan kepalanya, tertarik.
"Sendiri dan menanggung beban, saat butuh seseorang untuk memberi saran malah mereka mengacuhkan. Padahal kita sudah berusaha berbuat baik supaya kita dikenang…"
"Kakak bicara apa?"
Gempa memang bicara terlalu terburu-buru. Selain karena ia harus cepat kembali dan takut kepergok…
Ia paling paham. Ia ada dalam posisi ini dalam keluarganya.
Biarkan kali ini Gempa bicara tentang kekurangan hatinya.
"Menjadi orang yang selalu diandalkan itu tidak enak… Kadang kita mau melakukan sesuatu yang baik dan menyenangkan, terutama kepada orangtua dan keluarga, malah kita dianggap seenaknya. Akhirnya stress, depresi, pengennya marah-marah.."
"… Gak kak, lebih tepatnya aku saat disuruh itu selalu menolak karena aku tidak tahu dia membodohiku atau memang butuh penolong…"
Sekarang Paman Baik terdiam. Anak itu benar adanya.
Lebih tepatnya, masalahnya mirip dengan… Taufan…
"Makasih kak udah mau ngobrol masalah saya. Saya memang senang marah-marah gak jelas, tapi saya percaya Ibu saya tidak bakal minta bantuan karena mau bodohin saya. Makasih!"
Masalah kali ini dihadapi begitu ringkas. Alhamdulillah Gempa tidak perlu keluar rumah lama-lama.
"Maaf ya. Sarmila."
"Iya?"
Gempa menangkap tubuh anak yang terkulai itu dengan cepat. Tangan besarnya membelai rambut anak itu lembut. Secara hati-hati Gempa mulai merebahkan kepala anak itu di bawah pohon rindang.
"Sekarang dengar, anggap kejadian setengah jam lalu tidak ada. Sekarang anggap kau ketiduran dan akan terbangun begitu Ibumu memanggil namamu. Terima kasih, untuk hari ini."
'Sebenarnya aku sudah tau tentang Taufan sebelum pertemuan kita. Aku akan minta maaf begitu bertemu dengannya.'
Pemuda itu mulai bangkit. Sesaat matanya mengedar sekitar. Ia merasa ada yang mengawasi.
'Paling hanya perasaanku saja.'
"Berhenti, Gempa! Kau sudah kepergok melakukan tindakan kriminal dengan melakukan hipnotis dan penganiayaan terhadap anak di bawah umur!"
Bentuk tatanan bahasa seruan dan suara itu…
=oOo=
"Taufan..."
Kedua iris merah delima menatap lurus sosok yang perlahan mendekat. Angin berhembus, menampar pelan wajah kedua orang yang saling bertatap-seakan menyambut sukacita pertemuan saudara tengah dan kedua. Navigator aplikasi map memang tidak diragukan.
Tidak ada gunanya bersembunyi jika sudah terdeteksi. Itulah gambaran kenapa Taufan mau keluar dari persembunyiannya.
Api berdiam. Berjumpa lagi dengan seseorang yang ia coba jauhi adalah suatu musibah, untuknya. Sebagai bawahan yang kalah kekuatan dibanding orang di depannya, perasaan takut diberi pelajaran membuat tubuhnya kaku untuk melawan. Ya, Taufan memang selalu memberi pelajaran trauma kepada Api.
"Halilintar dan... Api? Haha~ Senang sekali bertemu mantan keluarga."
Senyuman Taufan dan ucapan yang keluar mulus dari bibirnya adalah pelecehan bagi Halilintar dan Api.
"Mana ada mantan keluarga! Gila kau!" bentak Api. Tapi bibirnya kembali mengatup, walau amarahnya masih belum terbendung dan mendorong untuk terus-menerus membentak.
Api mengetahui Taufan menyembunyikan perasaannya, terlihat dari kedua matanya yang redup. Seperti cemas, gelisah, bercampur haru dan senang. Tidak ada sorotnya yang menampakkan ia tengah psikopat atau gila dengan kedua matanya terbelalak.
"Biasanya aku akan membiarkanmu bersungut, dan kali ini kubiarkan kembali kau mencaciku," Halilintar membalas lain. "Tapi mengatai adik-adikku dan kakak sulungku, kau takkan kumaafkan."
Taufan tidak membalas ucapan Halilintar, "Kudengar kau menjadi tukang masak keluarga? Haha, ilmu dari orangtua angkatmu dulu rupanya sedikit berguna bagimu."
"Kuanggap sebagai pujian."
"Gempa pasti membayarmu lebih untuk itu. Berapa banyak uang sogok yang dia beri supaya kau tetap ada di rumah sana—"
"Kak. Pulang, ya?"
Halilintar memotong ocehan Taufan.
Kedua tangan naik dalam posisi telentang, lurus. Api yang menjadi figur belakang layar terkejut bukan main.
Halilintar tersenyum. Haru.
"Lima tahun tanpamu, kamarku terasa dingin dan aku capek mengurus kamar sambil masak."
"Mau menyuruhku lagi?"
"Ini bukan perintah. Tapi permintaan tolong."
Dada Taufan terasa sesak. Kedua matanya berkaca-kaca.
Halilintar sepertinya sudah tau, Taufan lemah jika diminta tolong.
"Kau, tidak berubah…Halilintar… kau masih saja manja pada kakak keduamu ini…"
"Aku sudah mandiri dan bisa memasak sendiri."
"Kalau begitu, kenapa menyuruhku pulang?"
"…. Maaf kalau adikmu ini tidak bisa jujur."
Taufan terdiam. Ia tahu Halilintar masih peduli dengannya.
"Aku tahu. Aku tahu kau selalu sendiri di rumah kita—maksudku, rumah kalian—dan kau sepertinya enakan tidur di rumah sendiri terus. Hihi."
Halilintar tersinggung.
"Tapi aku tidak bisa kembali. Aku sudah kehilangan muka di depan kalian semua, bahkan Gempa. Api masih bisa pulang karena Air begitu mengharapkannya."
Taufan sebenarnya bisa kembali memainkan drama sebagai pemain antagonis lalu menghina keluarganya. Bibirnya bergerak sendiri untuk bicara lembut. Sisi baiknya muncul ketika Halilintar di depannya.
"Kalau begitu, berbaikan saja dengan kak Gempa."
Saudara kedua mengerjapkan matanya. "Kau masih belum paham situasiku? Jangan seenaknya menyuruh orang!"
"Aku… juga… butuh…"
Tidak adil saja rasanya kalau hanya Air yang dimanja, sedang Halilintar juga ingin ada di dekat kakak tersayangnya.
"Kak Taufan punya hak untuk bersama adiknya terus."
Sudah berapa kali ucapan Halilintar menyentuh hatinya.
"Heh…haha, kau benar… aku…"
Api sibuk memainkan ponselnya. Ia mengirim sms kepada Air bahwa dia sudah menemukan Taufan dan Halilintar. Memang janjinya misscalling, tapi ia lebih enak menggunakan perantara sms.
Namun Air sempat mengiriminya pesan sebelum itu. Api segera membukanya.
[Kak! Sudah ketemu kak Taufan dan kak Halilintar?]
[Sudah. Ada apa, Air?]
[Cepat kak! Ada masalah penting! Kak Gempa dalam masalah!]
Dua sms langsung datang dari Air.
[Kak Gempa ditangkap!]
Api menarik tangan Halilintar dan Taufan segera. Mereka berdua dibuat keheranan oleh tindakan Api yang tiba-tiba.
"Kenapa, Api?"
"Woi kenapa main tarik tangan orang?"
Api berteriak lantang, "KAK GEMPA MAU DIPENJARA!"
=oOo=
Air masih berlari. Tangannya menekan icon message dengan membuka email sebelumnya. Sebuah notifikasi yang terkirim kurang dari dua menit ada dalam arsip.
[Air! Cepat kesini!]
Notifikasi email dengan isi pesan panik dari orang yang menyebalkan, sepertinya tidak boleh dipandang sebelah mata.
[Maafkan aku, Air. Aku tidak diberi kesepakatan tentang dia akan datang. Maaf, Air. Maafkan aku…]
[Ying, kali ini kau benar-benar gadis licik.]
"Kak... Gempa—ARRGGHH!"
Air semakin memperlaju larinya.
=To be Continued=
A/N: Halo, miss me? /plok
Sebenarnya saya buat ff ini 4 hari setelah chapter 13 apdet. Karena chapter inilah, saya mulai gemas sama Taufan. HE'S NEED HUGSSSSSS!
Ada yang tanya kenapa omongan Air kayak gitu, sebenarnya kalau dibaca lagi…Air itu lebih tepatnya ga tau apa-apa latar konflik Taufan dan Api pergi. Air cuma tahu mereka langsung jadi penjahat, dan itu langsung disimpulkan Air demikian. Saya akan bungkam mengenai prekuel ff ini. Karena identitas tidak boleh sembarang diumbar~ /alay/
See you at final chapter~ yang mungkin bakal kental TauGem dan panjang wwww
