Chapter empat belas update~! Sisa dua chapter lagi maka akan tamat. Disini akan ada yang mati, seperti judulnya, 'Sayonara, Neji-nii'.
Itu artinya, yang akan mati nanti adalah Neji. Mudah-mudahan kalian suka~
::
::
Masashi Kishimoto-sensei
::
::
Hikaru-Ryuu Hitachiin
::
::
~ Happy Reading ~
::
::
::
"Aku datang kesini untuk menawarkanmu sesuatu" akhirnya, sampai juga aku di tempat ini.
Aku akan memulainya, akan kutawarkan Dream Crystal padanya. Maafkan aku Hinata, kali ini aku tidak berpihak padamu.
"Kutolak" apa? Apa yang barusan kudengar?
"Apa tadi kamu bilang?" nggak mungkin kan ditolak? Sesi penjelasan aja belum dimulai, ini baru pengawalan! Sudah ditolak mentah-mentah?!
"Sudah kubilang, kutolak" tunggu! Tunggu! Tidak ada yang aneh sama telingaku ini, kan?
"Tapi kamu belum tahu apa yang akan kutawarkan ini. Mungkin saja, kamu tertarik" kucoba untuk merayunya, agar dia mau menerima tawaranku ini.
Tapi, apa ada sesuatu yang terjadi ya? Sehingga langsung ditolak? Apakah Hinata-chan memberitahunya sesuatu? Apa dia memberitahukan semuanya? Tapi, kalau di kasih tahu, pasti segelku sudah terbuka kembali.
"Aku menolaknya, jadi lebih baik kamu pergi" memang berbeda ya, kakak dan adik yang benar-benar berbeda.
Tapi, mereka memang bukan saudara kandung. Pantaslah berbeda~
"Aku tidak akan pergi. Aku akan menceritakan dulu apa yang akan kutawarkan padamu" sepertinya dia tidak peduli sama sekali ya? Malah asyik baca buku seperti itu.
"Aku tidak peduli kamu dengar atau tidak. Aku menawarkan Dream Crystal padamu, dengan itu mimpimu akan terkabul. Entah mimpi jenis mana, yang pasti dapat mengabulkan permohonanmu" kuberhentikan penjelasanku, masih saja dia asyik membaca bukunya.
Entah dia dengar atau tidak~
"Tapi kalau Dream Crystal sudah terpakai, saat kamu meninggal nanti tidak akan ada yang mengingatmu. Dilupakan, dianggap tidak pernah ada" walau pun aku bicara seperti itu, tetap saja dia tidak peduli.
Benar-benar tidak mendengarkannya ya?
"Oke, segitu saja. Apakah tertarik?" dia menghentikan acara baca bukunya, dia melihat aku.
"Tidak" jawabnya. Berarti, saat seperti ini saja dia baru mendengarku? Sabar Naruto~ Kamu tidak boleh marah pada calon klien.
"Baiklah~ Kalau pikiranmu berubah, panggil saja aku" mau apa lagi? Sepertinya Hinata benar-benar sudah membuat Neji seperti itu. Neji itu, benar-benar kakak yang sayang adiknya ya?
"Panggil NU" lanjutku. Kalau dia memanggilku, itu tandanya dia akan menerimanya. Okelah~
Aku pun pergi, keluar lewat jendela lagi.
"Aku tidak akan pernah memanggilmu" Wah~ Tidak akan memanggilku ya? Kita lihat saja, pasti sebentar lagi kamu akan memanggilku.
::
::
::
Tenten terbangun jam dua pagi, melihat Hinata yang tidur disebelahnya.
'Benar juga, aku kan sedang menginap' berbicara dalam hati, ia takut membangunkan Hinata dengan suaranya.
Dilihatnya jam, jam dua lewat lima menit. "Subuh ya?" padahal baru tidur lima jam, tapi sudah merasa sesegar itu.
'Tidak bisa tidur lagi nih' ia keluar dari kamar Hinata, turun ke lantai bawah.
Jalannya terhenti di tangga karena melihat Neji yang membuka pintu.
"Ohayou~" sapanya, ia kembali melanjutkan menuruni tangga. Tidak enak rasanya kalau berbicara dengan jarak yang seperti itu.
"Kebangun?" Neji melihat Tenten yang memakai piyama milik Hinata, 'Muat rupanya'.
"Iya, kamu juga?" menjawab pertanyaan Neji, lalu bertanya balik. Sama-sama nanya, itulah yang dipikirkan Tenten.
"Tidak~ Aku belum tidur" mendengar jawaban Neji, Tenten jadi bagaimana gitu. Masa dari tadi belum tidur? Matanya juga terlihat segar-segar saja? Sebenarnya Neji itu orangnya sekuat apa sih? Sampai tahan tidak tidur seperti itu.
"Belum? Sekarang sudah jam dua lewat loh. Memangnya ada sesuatu?" tanya Tenten. Berbicara sambil berdiri itu kurang enak ya?
Jadinya Neji duduk di bangku yang ada di depan kamarnya. Sedangkan Tenten duduk di salah satu anak tangga urutan yang ketiga.
"Ada sesuatu yang terjadi" jawab Neji. Ia memang memberitahunya, tapi mana mungkin dikasih tahu yang lebih dari itu.
"Apa?" penasaran Tenten muncul. Apa sih yang membuat Neji jadi tidak tidur seperti itu? Apa alasannya?
"Tidak ada hubungannya sama sekali denganmu" jawaban yang tidak ingin didengar Tenten.
Tidak ada hubungannya? Memang tidak ada hubungannya sih. Jadi, untuk apa mengetahuinya lebih?
"Oh~ Begitu ya?" suaranya bergetar, Neji yang tadi tidak melihat Tenten sekarang melihatnya.
Menundukkan kepalanya~
"Aku mau tanya sesuatu" menampakkan wajah cuek, merasa tidak mendengar suara yang bergetar barusan.
"Apa?" sebenarnya, Neji mau tanya kenapa tiba-tiba suara Tenten bergetar seperti itu? Apa dia mau menangis? Apa kata-katanya yang barusan menyakiti hatinya?
Sebenarnya, itulah yang ada dalam pikiran Neji.
"Apa kamu mengingat sesuatu?" bertanya, itulah yang dilakukannya. Setelah Neji bilang sesutatu yang menyakitinya, ia jadi mau tahu, apa benar-benar Neji tidak mengingat apa-apa?
"Mengingat sesuatu?" bertanya kembali, sempat itu membuat Tenten jadi lebih tersakiti. Bertanya balik, artinya tidak mengingatnya, kan?
"Iya, waktu terakhir kali aku menginap disini" ternyata itu yang mau dibilang oleh Tenten. Apakah mengingat waktu terakhir kali Tenten menginap disana?
"Oh~ Waktu usia tujuh tahun" hanya itukah yang diingat oleh Neji? Hanya usia-nya saja yang diingat? Bagaimana dengan kenangannya?
"Iya, apa kau mengingatnya?" Tenten yakin, Neji tidak mengingatnya. Tapi, apakah boleh berharap sedikit saja kalau Neji masih mengingatnya? Walau sedikit saja.
"Ingat apa? Tidak ada yang kuingat sama sekali" cukup sudah, cukup kau buat hati Tenten terluka lagi. Sudah cukup~
"Oh~ Ternyata memang lupa ya" Neji benar-benar tidak mengerti. Sebenarnya, apa yang dimaksud Tenten dari tadi?
"Lupa apa?" Neji bingung harus berbuat apa. Keadaan disana, semakin memburuk.
Tenten menganggat kepalanya, matanya terlihat mulai sendu. "Janjimu sendiri, tidak ingat ya?".
"Ha? Janji? Janji apa?" Neji berdiri dari tempat duduknya. Benar-benar pusing! Apa yang harus dilakukannya agar gadis yang ada didepannya itu tidak menangis nantinya?
Karena, dilihat dari mana pun, Tenten mau nangis.
"Benda itu, juga sudah tidak ada lagi. janji dan benda itu, benar-benar sudah terlupakan?" bisa saja Neji berbohong, hanya tinggal bilang mengingatnya.
Tapi, mana mungkin Neji berbohong pada Tenten, kan?
Ia melihat Tenten yang berdiri, berjalan menaiki tangga. "Memangnya apa?" Tenten berhenti, melihat Neji sesaat.
"Pikirkan saja sendiri!" Tes~ Setitik air mata jatuh dari matanya. Ia berlari ke atas, meninggalkan Neji.
'Dia menangis, dan aku yang membuatnya menangis' Neji berpikir, dia ini memang bukan laki-laki sejati. Mana mungkin lelaki sejati membuat gadis yang disukainya menangis karenanya.
"Memangnya apa?" otak yang diputarbalik pun, tidak akan bisa mengingat janji dan benda yang sudah dilupakan itu.
Hiashi muncul, "Ribut ya?" sepertinya Hiashi menyaksikan keribuatan mereka berdua dari awal sampai akhir.
"Sepertinya begitu" ia menghadap ke arah Hiashi, lalu berjalan ke arah kamarnya. Tidak mau berlama-lama berbicara dengan Hiashi.
"Tentang benda dan janji itu, benaran lupa ya?" tadi Tenten, sekarang Hiashi yang bertanya. Benar-benar lihat dari awal ya?
"Kamu tahu?"
Protes dengan panggilan Neji, Hiashi tidak mendahulukan jawaban dari pertanyaan Neji. "Panggil aku ayah", katanya.
"Tentu saja~! Bahkan ayah sudah merestuinya. Janji itu~ Sudah ya" bicara dengan nada cepat, Hiashi juga akan masuk ke kamarnya kembali.
"Tunggu dulu! Benda dan janji apa itu?" mungkin saja, Hiashi akan memberitahunya. Janji itu, benda itu, pasti Hiashi mengetahuinya.
"Hmm~ Cobalah untuk mengingat kata-kata yang pernah kamu ucapkan sendiri" setelah mengucapkan itu, Hiashi masuk ke kamarnya dan menguncinya.
'Kenapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali?'
Neji masuk ke dalam kamarnya lagi, menghempaskan tubuhnya di kasur empuknya itu.
"Berusaha mengingatnya pun, tidak ada ingatan yang muncul sama sekali" Neji jadi teringat dengan sosok bernama NU.
Benda yang ditawarkan olehnya, dapat mengabulkan permohonan, kan? Hanya itu penjelasan yang dapat diingat oleh Neji.
Ia tidak mau membuat Tenten terluka, pasti saat ini Tenten sedang menangis.
'Aku akan mengambilnya' tunggu! Jangan! Apa yang kamu pikirkan Neji? Bagaimana dengan larangan adikmu itu? Kau sudah melupakannya?
"NU" terlambat sudah, ia sudah memanggilnya.
"Akhirnya pikiranmu berubah ya? Cepat sekali" NU muncul sudah, ia sudah ada dihadapan Neji. Usaha Hinata, sia-sia sudah.
"Aku tipe yang datang saat malam hari. Tapi, aku sudah bilang. Kamu panggil, aku datang. Aku tidak akan membuatmu menunggu lama. Jadi, bagaimana?" sok bijak, NU tersenyum dengan licik. Ternyata, tanpa bantuan Hinata ia juga dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.
"Sekarang. Akan kuambil sekarang" kembali NU tersenyum, akhirnya tugasnya sebentar lagi akan selesai.
"Bagus~ Jadi, mau dimana?" tidak mengerti apa yang dimaksud oleh NU, dia jadi menjawab dengan asal.
"Dimana saja, terserah" seperti itulah,
"Ok" pembuatan lambang kontrak kali ini, berbeda.
NU sudah memikirkannya, lambang kontrak itu akan diletakkan di tempat benda yang terlupakan itu. Mengukir kontrak di langit-langit, lalu secara perlahan lambang itu menghilang.
"Aku meletakkan kontrak itu, di benda yang telah kamu lupakan" ternyata ukiran kontrak itu telah melekat di benda yang telah dilupakan olehnya.
"Lambang kontrak? Benda Yang kulupakan? Apa ada hubungannya dengan itu?" apa yang diketahui oleh makhluk didepannya itu? Kenapa sampai mengetahui hal seperti itu?
'Ternyata tidak mendengarkannya ya' NU sempat berpikir, Neji bertanya tentang lambang kontrak. Memang tidak didengar~
"Mungkin saja" kata NU tidak melupakan pertanyaan lain dari Neji.
"Apa kamu tahu benda apa itu?" Neji juga bertanya pada orang yang tidak dikenalnya. Tapi kalau saja Neji tahu sosok lain dari NU, pasti ia sudah marah-marah karena membuat Hinata jadi aneh.
"Tahu" NU tahu? Sebenarnya dia tahu dari mana ya? Kenapa bisa mengetahui segalanya?
"Apa?"
"Ingatlah sendiri" lagi-lagi tidak dikasih tahu. Sebenarnya, bagaimana caranya? Mencoba mengingat, malah tidak ada yang diingat.
"Kalau janji?" sekarang soal janji yang ditanya,
"Pikirkanlah" pikirkanlah? Bagaimana memikirkannya kalau tidak diingat?
"Baiklah, mana benda yang kau tawarkan itu?" menyodorkan tangannya, ia mau meminta benda yang telah ditawarkan oleh NU.
"Tanpa kamu ketahui, Dream Crystal sudah tertanam ke dalam benda yang kamu lupakan itu" sudah tertanam? Kenapa, ia tidak melihat pergerakannya sama sekali? Benda seperti apa itu sebenarnya?
"Kalau gitu, akan kugunakan besok" bukannya kecepatan kalau digunakannya besok? Tapi lebih cepat lagi kalau digunakan sekarang. Tapi, bukan waktu yang tepat kalau digunakannya sekarang.
"Silakan saja" melihat NU yang tersenyum sinis. Dia, benar-benar terlihat seperti iblis.
"Kamu jahat ya, seperti iblis saja" tidak peduli yang diucapkannya itu menyakiti perasaan orang lain atau tidak. Yang penting jujur, dan tidak bicara di belakang orangnya.
"Hmm~ Begitu ya? Aku memang iblis kok" NU berjalan keluar, ia akan pergi dari rumah itu sekarang juga.
"Maafkan aku, Hinata-chan" menengar apa yang dikatakan NU barusan, Neji langsung menahan sosok itu dengan tangannya.
"Kenapa nyebut nama Hinata? Kau siapa? Kenapa mengenal adikku?" pertanyaan bertubi-tubi meluncur dari mulutnya. Bagaimana dia tahu Hinata? Yang dipikirkannya sekarang adalah adiknya, bukan dirinya sendiri.
"Memangnya aku nyebut nama itu?" NU mencoba membela dirinya, berusaha agar sosok lainnya itu tidak diketahui oleh Neji.
"Aku dengar" Neji mencengkram pakaian NU, sepertinya Neji benar-benar akan marah. Ia takut, Hinata didatangi oleh makhluk seperti itu.
"Salah dengar" NU menghindarkan cengkraman tangan Neji dari pakaiannya,
"Begitu?" dilepaslah cengkraman itu,
"Hahaha~ Pasti!" mencoba menjadi dirinya yang biasanya, menutupi semua yang ada dalam pikirannya.
"Mungkin gara-gara banyak pikiran" Neji langsung beranjak ke kasurnya, tiduran sebenar. Lumayan untuk mengumpulkan sedikit tenaga.
NU menghilang sudah, 'Apa dia tahu konsekuensinya ya?'
::
::
::
Paginya, mereka sudah bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Hinata berada ditengah-tengah sebagai penghalang Neji dan Tenten.
"Sepertinya, suasananya seding tidak enak" Hinata merasakannya, suasana yang tidak enak itu. Apa yang sebenarnya terjadi ya? Padahal kemarin malam masih baik-baik saja.
"Apakah terlihat seperti itu?" Tenten berusaha menjadi dirinya sendiri. Ia tidak mau membuat Hinata jadi khawatir karena dirinya dan Neji sedang marahan.
"Aku duluan" harusnya, Tenten yang bersikap seperti itu. Tapi, kenapa malah Neji?
Neji sudah jalan duluan, sudah jauh Neji perginya. Hanya Tenten dan Hinata saja yang berangkat bareng.
"Apa yang terjadi?" Hinata yang melihat Tenten dari tadi bengong saja akhirnya memutuskan untuk bertanya.
Tidak seperti Tenten yang biasanya, kali ini ia tidak ceria.
"Aku marahan dengan Neji" hanya pada Hinata dirinya dapat bercerita. Karena, hanya Hinata yang dapat dipercaya.
"Kenapa bisa?" Hinata benar-benar kaget, pantesan saat pagi tadi suasananya tidak enak. Ternyata itu alasannya~
"Tapi itu bukan masalah yang besar kok, sudah ya" Tenten berpisah arah dengan hinata,
"Mau kemana?" harusnya jalan sekolah ke arah yang akan Hinata lalui, kan? Tapi, kenapa malah Tenten berbelok arah?
"Membeli sesuatu, duluan saja" tentu saja ini sebuah kebohongan, Tenten hanya tidak mau bertemu Neji saat itu.
"Ya sudah" Hinata berjalan, Tenten menatap kepergiannya.
Hinata berjalan sendirian menuju sekolah, sudah mulai ramai. Ia terus berjalan, dan akhirnya sampai juga dirinya di kelas.
Ia duduk di bangkunya, lalu menghela napas. Tiba-tiba dilihatnya seorang didepan matanya.
"Hinata-chan~ Sepertinya ada masalah" selalu saja Sakura datang disaat Hinata terlihat ada masalah. Ia dapat membedakan orang yang tidak ada dan ada masalah.
"Iya~ Neji-nii sama Ten-chan lagi marahan" ceritanya, padahal dirinya tidak suka kalau Neji dan Tenten marahan. Lebih baik kalau berbaikan saja, kan?
"Wah~ Kenapa bisa?" Sakura bertanya hal yang sama seperti dengan Hinata. Tapi percuma saja karena Hinata juga tidak tahu apa penyebab pertengkaran mereka.
"Aku juga tidak tahu" balasnya, disusul dengan helaan napas yang kedua kalinya.
"Lalu, sudah jarang aku melihatnya" beralih ke topik lain, Sakura mencoba untuk membuat Hinata ceria kembali.
"Melihatnya?" tapi sepertinya Hinata belum mengerti seutuhnya apa yang dimaksudkan oleh Sakura.
Akhirnya, Sakura menjelaskannya secara lebih detail. "Iya~ Kemana pemuda yang selalu menjemputmu itu?" berniat membuat Hinata malu seperti biasanya, tapi yang dilihatnya hanyalah wajah kesedihan.
"Menghilang" hei~ Menghilang apanya? Naruto masih ada di dunia manusia, hanya dirimu saja yang belum siap untuk menemuinya.
"Apa? Menghilang?" tidak mengerti maksud dari Hinata. Hilang maksudnya gimana? Hilang ke kota lain? Meninggal? Atau pergi ke dunia lain? Hilang yang mana?
"Iya" malah Hinata hanya balas iya lagi. Sakura jadi berpikir bahwa Naruto menghilang pergi ke dunia lain.
Jadi dia membalasnya seperti ini, "Mana mungkin!" dengan suara yang keras.
"Ada masalah ya?" Sakura mengerti sekarang, pasti ada masalah diantara mereka berdua.
"Iya~ Perbedaan pendapat" perbedaan pendapat doang? Menyebabkan hal yang seperti itu?
"Yah~ Kalau gitu jangan dibesar-besarkan. Aku pergi dulu ya, dipanggil Sasuke-kun" Sakura langsung berlalu, Hinata melihat keakraban Sakura dan Sasuke.
'Hubunganku dengannya, tidak akan pernah seperti mereka ya?'
Disekolah berjalan seperti biasanya. Hanya saja, Tenten datang ke sekolah hanya untuk menyerahkan tugasnya. Langsung pada gurunya, setelah itu dirinya langsung pulang.
Tidak mengikuti pelajaran hari itu, meminta izin dengan sebuah kebohongan. Ia tidak mau, bertemu dengan Neji saat itu.
Pulang sekolah, kembali Neji dan Hinata pulang bersama. Ada yang mau diketahui oleh Hinata~
"Bagaimana dengan tawaran yang kubilang? Apakah benar-benar ada yang menawarkan sesuatu?" inilah yang mau diketahui oleh Hinata.
"Ada" jawab Neji. Sebenarnya Neji penasaran kenapa yang dibilang Hinata itu benar-benar ada. Apa Hinata memiliki sebuah kemampuan yang tidak diketahui olehnya?
"Lalu, apakah penawaran itu diambil?" Neji bingung harus menjawab apa. Karena, dia tidak menepati keinginan Hinata untuk menerima tawaran itu. Apa yang harus dikatakannya?
"Kutolak" terpaksa berbohong, tapi itulah jawaban yang diinginkan Hinata.
Tapi Hinata tidak tahu, kalau itu adalah sebuah kebohongan besar.
"Lalu, kenapa Tenten tidak masuk sekolah? Padahal kalian pergi ke sekolah bareng, kan?" tidak ke sekolah? Apa maksudnya? Jadi, saat Tenten bilang itu, itu hanyalah bohong?
"Aku berpisah dengannya ditengah jalan" berhenti di tempat berpisahnya mereka, "Disini, katanya Ten-chan mau membeli sesuatu" jelasnya.
"Pasti bohong" dengan kecewa Neji kembali melangkah. Apa semarahnya dia pada Neji sehingga tidak mau bertemu dengannya?
Malamnya, Neji akan memulainya. Ia, akan menggunakan Dream Crystal itu.
"Hei~ Kamu dimana? Aku mau memakaimu" tiba-tiba ada cahaya yang menerangi tempat itu.
Ia melihat cahaya yang berasal dari belakang lemari, memunculkan sebuah gambar.
Dia telah keluar, "Sesuai perintahmu".
"Ingatkan aku kembali. Janji itu, benda itu" berbicara sambil melihat gambar yang perlahan-lahan mendekatinya.
"Permohonanmu terkabul"
'Gambar yang Ten-chan bikin ini, akan aku pasang terus disini sampai besar nanti' benda itu? Apakah itu? Gambar yang waktu itu? Dimana? Apakah itu janjinya? Banyak yang dipikirkan oleh Neji setelah mengikat kembali kejadian itu.
'Aku akan menikahi Ten-chan, dan gambar ini akan selalu di pajang di kamar kita berdua nanti'
"Aku, pernah mengucapkan itu?" tidak percaya dengan yang diucapkannya, pasti itu bukan janjinya, kan?
'Aku janji'
"Tidak mungkin. Itu, janjinya?" Ia melihat ke gambar yang sekian lama telah terlupakan. Menghilang dalam ingatan~
"Ternyata, ada di belakang lemari selama ini"
Ia sadar, bahwa selama ini dirinya yang salah. Melupakan kenangan yang seperti itu~
Berlari, ia akan pergi menuju Tenten sekarang juga. Tidak lupa untuk membawa gambar itu~
"Berhati-hatilah, Neji" Naruto melihat Neji yang tiba-tiba keluar dari rumah Neji. Sepertinya Neji sedang tergesa-gesa, sehingga Naruto yang melintas disana pun tidak disadari olehnya.
Ia menuju ke rumah ke Tenten, tapi tidak ditemukannya Tenten disana. Orang tuanya juga khawatir, karena sejak tadi Tenten belum pulang. Dikiranya masih menginap di rumah Neji, ternyata tidak.
Neji terus mencarinya, dan akhirnya Neji melihat Tenten yang mau menyebrang jalan. Masih menggunakan seragam sekolah, jalanan yang terlihat sepi.
"Tenten!" Ia memanggil namanya, tapi orang yang dipanggil jadi kabur karena melihat kehadiran orang yang tidak mau ditemuinya saat ini-Neji Hyuuga.
Tenten langsung kabur, Neji mempertambah kecepatan larinya.
"Aku sudah mengingatnya!" teriaknya, sambil menggoyang-goyangkan gambar yang dimaksudkan.
Tenten terhenti, melihat ke arah Neji. "Mengingatnya?", ia berhenti di tengah-tengah jalan.
"Iya! Aku... Awas!" Tenten terdorong, dan Neji yang kena.
Neji, tertabrak pengendara yang sedang mabuk.
"Neji~!" Tenten langsung berlari, melihatnya yang sudah terkulai dengan lemas.
Darah bercucuran dimana-mana. Waktunya untuk hidup, sudah habis.
'Aku, akan melindungimu'
"Ini, gambar ini" dengan sisa tenaganya, Neji menunjukkan gambar yang pernah dibuat oleh Tenten.
"Aku sudah mengingatnya. Aku juga ingat janji itu. Tapi sayangnya, aku tidak dapat menepatinya ya?" suaranya melemah, tenaganya hanya tersisa kurang dari sepuluh persen.
"Jangan bilang seperti itu" ia tidak mau, melihat Neji yang langsung menyerah seperti itu.
Kalau berusaha untuk bertahan hidup, pasti bisa kan? Bertahanlah, bertahanlah sebentar saja. Kamu, harus hidup.
"Padahal, aku mau menepatinya suatu hari nanti" kali ini, air mata Tenten mengalir lagi. Ia senang karena Neji sudah ingat pada benda dan janjinya itu, tapi kenapa malah terjadi kejadian seperti ini?
"Terima kasih, aku suka sama kamu. Sayonara~" menutup matanya. Kata-kata terakhir, selamat tinggal. Selamat tinggal untuk selamanya~
Lupakanlah~
"Neji~!"
::
::
::
Neji telah mati, dan sekarang sudah dikubur. Setelah ini, ingatan mereka semua akan hilang.
Neji Hyuuga, telah terlupakan~
"Kenapa aku disini?" Tenten penasaran, kenapa dirinya ada di kuburan? Ia pun melihat batu nisan dimana dirinya tidak terlalu jauh berpijak.
"Neji Hyuuga? Siapa?" Siapa Neji Hyuuga? Kenapa dia berada dikuburan dengan nama Neji Hyuuga? Lalu, kenapa dirinya pakai baju seperti itu?
Dilihatnya karangan bunga yang ada di tangannya. "Bunga ini?" Ia menaruh bunga karangan bunga itu diatas makan.
Matanya beralih ke sebuah gambar, "Gambar itu, gambar yang pernah kubuat, kan?" ia mengambil gambar itu, dilihatnya setiap sudut-sudutnya.
"Sejak kapan ada lingkaran berputar itu? Warnanya merah darah lagi" ia melihat sebuah tulisan, tulisan dirinya waktu selesai membuat gambar tersebut.
"Untuk Neji-kun? Siapa sih? Sudahlah~" ia menaruh gambar itu kembali, lalu pergi dari makam itu.
Ia melihat Hinata juga memakai pakaian yang sama dengannya, "Hinata-chan~ Kenapa kita disini ya? Siapa ya Neji Hyuuga itu? Tapi tidak usah dipikirkan, ayo kita pergi" Tenten mengajak Hinata.
Tapi Hinata menyuruh Tenten duluan saja, jadi Tenten jalan duluan.
'Dia, orang kedua yang terakhir melupakan Neji-nii'
Hinata terjatuh, melihat makam kakaknya. "Kenapa, malah jadi seperti ini? Ternyata, Neji-nii berbohong padaku" Hinata menangis, ia gagal untuk melindungi kakaknya.
"Ini semua, gara-gara dia" Hinata bangun, pergi meninggalkan makam itu.
"Sayonara, Neji-nii"
Hinata telah pergi, dan Naruto datang. "Ini memang salahku" ia melihat makam itu, disana tertanam Neji Hyuuga yang telah dilupakan.
"Maafkan aku, ini semua salahku. Maafkan aku, Hinata-chan" ia juga akan meninggalkannya, meninggalkan seseorang yang sudah dilupakan oleh semua orang.
"Sayonara, Neji Hyuuga"
::
::
::
Dengan perasaan yang sedih, Hinata menuju taman itu kembali. Sudah beberapa bulan ia tidak datang kesana lagi. Ia sedih, ia menangis akan kepergian Neji. Semua sudah melupakannya, tapi kenapa dirinya tidak?
Matanya melihat Naruto yang ada didepannya.
"Lama tidak bertemu, kamu, terlihat murung" sama-sama murung, sebenarnya perasaan Naruto juga sama seperti dengan yang Hinata rasakan.
"Ini semua, gara-gara kamu" kemarahannya memuncak, pusat kemarahannya sekarang berada pada Naruto.
Dialah penyebabnya~
"Salahku?" pada dasarnya, setengahnya memang merupakan kesalahan Naruto. Kalau Naruto tidak menawarkannya, pasti semua ini tidak akan terjadi.
"Semuanya, jadi melupakan Neji-nii" Hinata berdiri, ia akan pergi. Tidak tahan, terus berdekatan dengan sosok yang menyebabkan kematian Neji.
"Itu pilihan dia sendiri" kata-kata itu, membuatnya semakin marah. Kemarahan yang membuatnya menjadi kebencian.
"Aku, aku benci Naruto-kun!" Hinata lari, meninggalkan Naruto.
"Itu, menyakitkan loh" ia melihat Hinata yang telah menghilang dari hadapannya.
Duduk di bangku yang barusan digunakan Hinata untuk duduk, "Sebenarnya, aku juga tidak mau melakukannya. Aku ini, memang iblis".
'Daripada disebut iblis, Naruto-kun lebih cocok disebut malaikat' mengingat kembali kata-kata itu, ia jadi tidak setuju dengan kata-katanya.
"Kamu lihat kan Hinata? Aku memang tidak pantas disebut malaikat" ia mengangkat kepala, merasakan rintik-rintik hujan yang mulai membasahi bumi ini.
'Otou-san, Okaa-san. Aku muak, aku benci pekerjaan ini'
::
::
To Be Continue
::
::
Akhirnya, tersisa satu chapter lagi maka akan tamat. Sebenarnya, aku bingung mau bicara apa lagi. Tapi, aku mau berterima kasih pada kalian karena sudah mau membaca fic-ku yang aneh ini.
Balasan review kalian sudah aku balas lewat PM. Yang tidak login aku balas disini~
Nitya-chan: Ini sudah ada~
Thanks To:
- Naru sayang Kaa-chan
- kirei- neko
- Kaoru-Kagami Yoshida
- Akiyama Yuki
- Akira no Rinnegan
- Restyviolet
- Nitya-chan
- IndoSedSarSupMie Ichiraku
Jaa~ Bertemu lagi di chapter terakhir.
