True Love chapter 13 (Sekuel If a Little bit Sooner)
Disclaimer: Masashi Kishimoto
SasufemNaru dengan orang ke tiganya Sai.
Sasuke, Naruto, Sai, Naruko, Sakura (33 tahun)
Itachi (35 tahun)
Kurama (34 tahun)
Kitsune, Sasori (15 tahun)
Gelang perak beli di Kenya
Belinya lewat di pedagang mahir
Senpai makasih atas reviewnya
Semoga tetap review sampai akhir
Selamat membaca senpai:D
Chaby332 : Terimakasih senpai sudah mau review :D, terbongkar di sini senpai :D
ayanara47Terimakasih senpai sudah mau review :D, sakura ditendang hahahaa
Aiko ValleryTerimakasih senpai sudah mau review :D,
Dewi15 Terimakasih senpai sudah mau review :D
SapphireOnyx Namiuchimaki Terimakasih senpai sudah mau review :D, terjawab di sini senpai :D
aruna faylen Terimakasih senpai sudah mau review :D, bantai sakura hahahaa
Lusy922 Terimakasih senpai sudah mau review :D, di sini kebongkar senpai :D
Classical Violin Terimakasih senpai sudah mau review :D,
AkarisaRuru Terimakasih senpai sudah mau review :D
Uzumaki Prince Dobe-Nii Terimakasih senpai sudah mau review :D
Jasmine DaisynoYuki Terimakasih senpai sudah mau review :D
Namikaze Otorie Terimakasih senpai sudah mau review :D
Kaname Terimakasih senpai sudah mau review :D
Aiyuni Utami Terimakasih senpai sudah mau review :D
Uhara Uchime Terimakasih senpai sudah mau review :D
Sondankh641 Terimakasih senpai sudah mau review :D
Banyak Typo!
WARNING: implisit Yaoi? Shonen-ai? ItachixKurama!
Terdapat bahasa kasar tanpa sensor
Dua tahun sebelumnya...
Naruto berjalan pelan sambil melamun di jalan. Arah pandangannya terus ke aspal sampai orang yang menabraknyapun tidak dihiraukan. Lagi-lagi tubuh Naruto bergerak tanpa seizinnya. Naruto tidak mengerti kenapa dia harus mempunyai perasaan seperti ini pada Sasuke. Semakin Naruto memikirkan Sasuke semakin dia merindukannya untuk berada di sisinya. Naruto mengakui Sasuke adalah orang yang sangat menyebalkan baginya dan suka membuatnya darah tinggi, tapi Naruto menyukainya.
Naruto menyukai Sasuke
Tapi Naruto tidak mau menjadi sahabat yang jahat. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, mengusir pikirannya tentang Sasuke sekaligus mencoba membuka hatinya kembali untuk Sai. Naruto menyakini dirinya sendiri bahwa Sai adalah orang yang seharusnya dia sayangi bukan Sasuke. Jalannya berhenti sejenak untuk menarik nafas dalam-dalam supaya dia bisa membuka lembaran baru esok hari.
Sampai di apartemen, Naruto terheran ada seorang kakek berambut panjang hitam memakai jas berwarna biru langit duduk di sofa bersama Naruko di depannya. Kakek itu tersenyum senang sekali melihat Naruto. "Naruto kemarilah" kata Naruko tersenyum, tangannya menepuk-nepuk sofa pertanda Naruto duduk di sebelah Naruko. Setelah Naruto duduk, Naruko mengatakan identitas kakek misterius ini. "Naruto, apa kau ingat bagaimana wajah kakek kandungmu?" Tanya Naruko
"Tidak" kata Naruto menggeleng. "Kenapa?" Tanya Naruto kemudian
"Yaampun, kau sudah sangat dewasa ya Naruto. Kau bahkan sama cantiknya dengan ibumu" kata Hashirama. Naruto terheran tapi dia tetap memberikan ucapan terimakasih sambil menganggukan kepalanya atas pujian Hashirama. "Kau pasti tidak mengingatku karena saat itu kau masih bayi" kata Hashirama lagi. Naruto sedikit memiringkan kepalanya.
"Dia kakek kita Naruto. Dialah orang yang membawamu ke Jepang" kata Naruko. Mata Naruto melebar mendengar bahwa kakek misterius ini adalah kakeknya.
Kemudian Hashirama menceritakan bagaimana Naruto berakhir tumbuh di tangan Orochimaru. Mendengar cerita Hashirama Naruto diam dan merenung. Naruto tidak bisa percaya dia dibesarkan oleh orang yang telah membuat sebuah kesalahpahaman antaa klan Uchiha dan Namikaze. Bahkan sampai kakeknya ini harus mengalami kecelakaan karrena Hashirama sudah tau ini semua adalah ulahnya Orochimaru. Hashirama berarti sudah hilang selama puluhan tahun dan kembali saat ini dalam keadaan sehat.
Dimana Hashirama dirawat dan oleh siapa adalah pertanayan di kepala Narutp. Tapi Naruto tidak menanyakan hal itu karena dirinya terlalu senang sekaligus lega bahwa kakeknya kembali. Naruto tersenyum haru sampai air matanya menetes ke pipi. "Yaampun, kenapa kau menangis Naruto? Astaga" kata Naruko buru-buru mengambil tisu untuk mengelap air mata Naruto. Naruto tertawa haru sekaligus menangis haru.
"Aku senang. Sangat senang sekali kek" kata Naruto di sela tangisan harunya. Keningnya berkerut untuk menahan air mata untuk tidak mengalir lebih deras lagi.
"Maaf Naruto. Kakek gagal menjagamu" kata Hashirama
"Tidak. Justru aku berterimakasih pada kakek sudah kembali dengan sehat seperti ini" kata Naruto.
"Aku dengar juga kau sudah mempunyai anak. Bagaimana keadaannya?" Tanya Hashirama. Naruto dan Naruko menegang mendengarnya. Hashirama tersenyum mengerti kenapa kedua anak ini menegang ketika menanyakan anaknya Naruto. "Aku tau semuanya. Jangan khawatir, tidak ada yang patut disalahkan. Justru aku seperti kembali ke masa lalu. Dulu ibumu juga hamil di usia 18 tahun loh! Haha. Tidak kau tidak ibumu, kalian benar-benar" kata Hashirama malah tertawa. Naruto dan Naruko masih saja canggung dan tegang tapi mereka berusaha untuk santai karena Hashirama tidak mempermasalahkan hal ini walaupun mereka heran bagaimana Hashirama tau. "Naruto, apa kau suka tinggal di sini?" Tanya Hashirama kemudian
"Iya kek. Aku sangat senang tinggal di sini. Selain itu juga aku mempunyai seorang kakek angkat yang membesarkanku" kata Naruto
"Jiraya kan?"
"Bagaimana kakek tau?" Tanya Naruto tidak menyangka Hashirama tau lagi tentang Naruto
"Haha. Dia adalah temanku. Dulu kami satu bangku SMA dan satu kampus tapi berbeda jurusan. Dia itu sangat mesum dan genit, aku benar kan?" kata Hashirama
"Iya! Itu sangat benar kek! Astaga! Aku saja tidak mengerti kenapa dia sangat mesum seperti itu" kata Naruto menyetujui perkataan kakek kandungnya
"Yah...aku juga. Bagaimana kabarnya?" Tanya Hashirama. Ekspresi Naruto bersedih seketika
"Dia sudah meninggal...karena sakit.." kata Naruto
"Be-Benarkah? Ka-Kapan?" Tanya Hashirama terkejut
"Saat aku berulang tahun ke 10 tahun..." kata Naruto tersenyum sedih. Hashirama down seketika dan berkabung. Sahabatnya ini sudah meninggal...cepat sekali baginya.
"Jiraya...cepat sekali dia pergi..." kata Hashirama bersedih. Naruto tetap tersenyum sedih. "Besok, ayo kita ke makamnya" kata Hashirama.
"Iya kek" kata Naruto
"Naruto, sebagai kakekmu...aku mempunyai tanggung jawab juga. Aku mohon padamu kembalilah ke Jepang. Kemarin aku menelpon kakakmu, dia bilang bahwa kau tidak mau kembali ke sana. Tidak bisakah kau mengubah keputusanmu demi diriku?" kata Hashirama. Naruto terdiam. Dia bukan tidak mau melainkan dia tidak ingin berpisah dengan Sasuke dan Itachi di sini.
"Kakek" kata Naruto. "Jika aku tinggal di sana, apakah aku boleh meminta satu hal?" kata Naruto.
"Tentu. Katakan saja" kata Hashirama
"Aku akan menikah dengan Sai dan Naruko bilang...kakak akan menyuruhku pindah ke sana setelah menikah. Suatu hari nanti...bolehkah aku berkunjung ke sini lagi? Ada seorang teman yang tidak bisa kutinggali, aku ingin sekali berjumpa dengannya meskipun kami berbeda Negara. Dan juga...aku ingin merasakan bagaimana kuliah supaya aku bisa setara dengan yang lainnya. Jujur saja..semenjak aku mempunyai Kitsune, aku tidak melanjutkan pendidikanku. Bolehkah..aku melakukan hal itu?" Tanya Naruto. Setidaknya dia bisa bertemu dengan Itachi dan bermain bersamanya meskipun tidak ada Sasuke nanti. Satu orang bagi Naruto sudah lebih dari cukup. Dia tidak mau menjadi seseorang yang serakah. Sasuke biarkan menjadi milik Sakura dan itu memang seharusnya.
"Kau seolah berbicara pada orang asing. Hey nak aku kakekmu. Eish benar-benar" kata Hashirama sedikit jengkel. "Lakukan saja apapun yang kau inginkan. Asalkan kau ttinggal di sana dan tidak melakukan jual beli narkoba. Kau akan dapat masalah besar nanti" kata Hashirama malah bercanda
"Haha. Yah..padahal baru saja aku berniat untuk bisnis ganja" kata Naruto balik bercanda
"Astaga. Ganja kau bawa-bawa, benar-benar anak nakal kau ya. Naruko,saudaramu ini sunggu nakal, harus kita beri hukuman nanti" Kata Hashirama. Mereka bertiga berakhir dengan canda dan tawa.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Kemudian tiba bagi Naruto untuk pergi meninggalkan Jepang. Naruto dan Kitsune sangat gugup karena untuk pertamakalinya mereka naik pesawat pribadi. Naruto meskipun sudah berumur 30 tahunan masih saja bersikap anak TK saat pesawat mulai meninggalkan bandara. Naruto adalah orang yang paling senang di dalam pesawat. Di dalam daftar menu Naruto tidak menemukan ramen, untung saja Naruto membawa cadangan ramen instan di dalam jadi dia bisa memakan ramen kesukaannya. Kesenangan Naruto makin meninggi saat melihat bagunan tinggi menjulang berrgaya eropa.
"I-Ini rumahku?" Tanya Naruto saat turun dari mobil, dia melihat rumahnya jauh lebih besar ketimbang dia melihatnya dari dalam mobil. Di teras depan sudah ada para penjaga dan pembantu yang menyambut kedatangan mereka semua.
"Iya Naruto. Ayo" kata Hashirama. Koper mereka semua dibawakan oleh penjaga, Naruto dan Kitsuen saling memeluk lengan satu sama lain sambil memutar kepala mereka melihat sekeliling ruangan dengan mulut berkata 'wah'. Dan saat mereka berjalan masuk pun para penjaga menunduk hormat.
"NARUTOOOOOOOOO KAKEEEEEEEK!" Suara melengking datang dari timur. Naruto melihat seorang wanita rambut merah datang dengan girang memeluk Naruto erat-erat. "Akhirnya kau kembaliiii! Aku saaaaangat merindukanmu bonekakuuuuu!" kata Karin dengan suara melengkingnya.
"Pe-Permisi..." Naruto hampir tidak bisa napas akibat pelukannya Karin.
"Karin nanti dia mati, yaampun berhenti memeluknya" kata Hashirama menarik tubuh Karin untuk menjauh dari Naruto. Karin malah menrengek manja karena Hashirama menarik tubuhnya. "Naruto, dia ini adalah sepupumu. Karin" kata Hashirama memperkenalkan Karin. Naruto membungkuk hormat sambil mengatakan kata halo. Karin semakin girang dan langsung menariknya masuk ke kamar Karin. "Haadeeeh. Anak itu" kata Hashirama menghela nafas lelah melihat energy Karin yang kelebihan ini
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Kurama mengkerutkan matanya saat melihat cahaya masuk masuk ke dalam matanya setelah dibangunkan oleh pembantunya. Dalam selimut Kurama seharusnya bangun dan pergi menggosok gigi, tapi dia malah kembali menarik selimut sampai kepalanya. "Tuan, Nona Naruto, Nona Naruko dan Tuan besar Hashirama sudah sampai. Sarapan sudah siap juga Tuan" kata pembantunya Kurama. Kurama diam saja di bawah selimut. "Tuan?" kata pembantunya
"Pergi" usir Kurama dalam nada datar dan pelan. Pembantunya mencoba untuk membujuk tapi Kurama bersikeras untuk tidak mau turun lagi. Sudah selama empat hari ini Kurama bersikap tenang dan selalu mengurung diri Kamar. Ketika dia mendengar suara pintu tertutup, Kurama mendorong selimutnya sampai ke setengah tubuhnya. Tidak ekspresi di wajahnya. Lalu dia menurunkan kakinya untuk pergi ke kamar mandi.
Setelah mandi gosok gigi, dia berpakaian seperti biasanya. Kurama berdiri diam memegangi dasinya. Kedua tangannya yang memegang dasi siap untuk memasang malah tidak bergerak. Pada akhirnya dia memutuskan untuk menarik kembali dasinya sebelum ditaruh asal ke atas ranjang. Ketika keluar kamar, dia ditegur oleh Mito karena berpapasan mau turun tangga. "Kau mau kemana? Ini kan hari minggu" kata Mito terheran Kurama berpakaian jas rapi tanpa dasi.
"Keluar sebentar" kata Kurama setelah itu dia membungkuk hormat.
Di depan teras sudah ada Juugo yang sudah siap mengantar Kurama. Dia berbungkuk badan sambil menyapa Kurama sebelum membukakakn pintu mobil untuk Kurama. Dia mengantar Kurama ke sebuah makam Kushina dan Minato. Tidak biasanya memang Kurama berkunjung di pagi hari begini, tapi dia tidak akan bertanya karena Kurama tidak akan mau memberitahu alasannya datang ke makam pagi-pagi.
Di makam, Kurama berdiri setelah menaruh bunga mawar putih tanpa duri di atas makam kedua orangtuanya. Tatapannya sangat sedih, dirinya sangat merindukan kedua orangtuanya. Bahkan Kurama bertanya kenapa dia harus mempunyai waktu yang sangat sebentar bersama kedua oranngtuanya. Saat ini pun Kurama mulai tidak bisa lagi melihat kenangannya ketika kedua orangtuanya masih hidup. "Pagi yah. Pagi bu" kata Kurama menyapa. "Apa kabar kalian? Kalian pasti baik-baik saja kan? Aku di sini baik-baik saja. Kami semua baik" kata Kurama menyambung ucapannya. "Seperti janjiku dulu, aku akan menemukan Naruto. Sekarang aku sudah menemukannya. Dan tebak apalagi kejutanku? Kakek kembali dengan sehat. Kalian pasti bertanya bagaimana bisa. Iya kan?" kata Kurama sedikit tersenyum meskipun dia tau tidak akan ada orang yang akan menjawab pertanyaannya. "Yah...bagaimanapun itu yang pasti mereka berdua telah kembali. Ayah pernah bilang, apapun itu tidak masalah asalkan di akhir semuanya baik-baik saja" kata Kurama. "Ayah. Ibu. Banyak sekali yang terjadi, aku akan membiarkan ayah dan ibu tau dari Naruto langsung. Hal yang ingin aku sampaikan yang terakhir adalah..." Kurama terdiam. Matanya semakin sedih melihat makam Minato dan Kushina. Kurama tidak yakin bahwa dia mau memberitahu atau tidak. "Tidak ada" Kurama diahir tidak mau memberitahu apa yang ingin dia sampaikan. "Aku pergi yah, bu. Sampai jumpa lagi" Kurama lalu membungkuk hormat beberapa detik sebelum pergi meninggalkan kedua orangtuanya
"Uh...permisi Tuan?" Juugo tiba-tiba merasa heran karena baru saja menyadari sesuatu dan itu membuat Kurama yang baru saja datang diam ditempat
"Apa?"
"Uhmmm...Kenapa tuan memakai sandal rumah?" Tanya Juugo heran. Kurama melihat ke bawah...Kurama diam tanpa ekspresi melihat dia memakai sandal rumah.
"Kenapa? Tidak boleh? Apa ada aturan sandal rumah tidak boleh dipakai di luar? Hah?" kata Kurama bernada judes.
Juugo langsung kicep tapi tetap saja heran karena tidak biasanya majikannya ini memakai sandal rumah kemana-mana. "Tidak, tidak kok" kata Juugo. Dia kemudiam membukakan pintu mobil untuk Kurama dimana dia yakin Kurama mendengus kesal terhadapnya.
Kruyuuuukkkk
Dalam perjalanan perutnya Juugo berbunyi menyebabkan Juugo diam blushing. Di lihat dari kaca depan majikannya menatap Juugo sedikit terkejut. "Kau belum sarapan?" Tanya Kurama
"A-Ahaha. Iya. Saya tadi kesiangan hehe" kata Juugo tertawa garing. Malu sekali perutnya berdendang di depan majikannya seperti ini.
"Aku juga belum. Ayo kita sarapan bersama. Kau saja yang tentukan tempatnya" kata Kurama bersikap tidak peduli dimana dia akan makan. Juugo menganguka kepala sambil mengatakan iya dan melihat wajah Kurama melalui kaca depan.
xxxxxxxxxxxxxxxxxx
Di Swedia, Sasuke sudah tinggal di sebuah rumah lamanya selama kurang lebih enam hari. Pekerjaan Sasuke bukan lagi seorang produser tapi dia bekerja sebagai arsitek yang sudah dikontrak oleh perusahaan di Swedia. Setiap hari kehidupan Sasuke terasa hampa dan sepi. Biasanya jika dia pulang Sasuke pasti akan bertengkar dengan Naruto hanya karena masalah sepele. Ditambah Sasuke sangat senang menggodai Naruto yang mudah sekali panas sekalgus mudah sekali blushing. Tapia pa ada Sasuke harus tetap memilih Sakura yang mengandung anaknya. Mengingat dia sudah kehilangan anak di Naruto, Sasuke tidak mau kehilangan lagi di Sakura. Meninggalkan ruangan kerjanya yang penuh dengan kertas dan alat tulis di meja besar, Sasuke turun kebawah untuk menemui Sakura. Dia pasti ada di ruang tengah atau tidak di graffindor sedang bersantai.
"Sakura" Sasuke memanggil nama calon istrinya ini yang ternyata benar sedang bersantai di ruangan graffindor bermain dengan gadgetnya. Melihat Sasuke datang wanita ini menaruh gadget di meja sebelum membuat dirinya berdiri.
"Ada apa?" Tanya Sakura
"Ayo berpakaian. Hari ini kita check perutmu" kata Sasuke
"C-Check?" Sakura menegang seketika mendengar kata check up kandungan.
"Kau tau apa yang terjadi pada Naruto. Aku minta maaf apa yang telah terjadi, tolong jangan mengulangi kesalahan yang sama seperti Naruto. Jika kau memang masih marah padaku kau boleh memperlakukanku bagaimanapun. Jangan kepada anak kita" kata Sasuke. Sakura mematung melihat sisi lembutnya Sasuke. DIa semakin tegang dan perasaan bersalah semakin tinggi karena Sakura masih berbohong atas kehamilannya.
"B-Bagaimana jika besok? Bayinya baik-baik saja dan lagipula kau kan sibuk. Aku bisa sendiri kok jangan khawatir" kata Sakura memegang lengan Sasuke, dia tetap tidak mau Sasuke tau atas kebohongannya
"Besok aku harus mencari bahan bangunan untuk proyek. Tidak apa-apa, sebentar lagi selesai jadi aku bisa mengantarmu sendiri dan juga aku tidak mau kau sendiri check up" kata Sasuke.
"Sa-Sasuke aku-"
"Kumohon" kata Sasuke memotong ucapan Sakura, di sisi Sakura dia melihat Sasuke bersikap lembut dan pengertian. Sakura benar-benar dalam posisi merah saat ini.
Dia tidak bisa tenang dan semakin panik ketika sudah sampai di rumah sakit. Saat Sasuke melakukan registrasi sbeelum menunggu gilirannya dipanggil oleh dokter, Sakura tidak bisa berhenti saling meremat jemari tangannya. Wajahnya tegang serta keringat dingin berkucuran. "Kau sakit?" Tanya Sasuke khawatir karena Sakura terlihat pucat. Melihat kekhawatiran Sasuke membuat lidah Sakura kelu.
"Sa-Sasuke...aku.." Sakura tidak mau berpisah dengan Sasuke. Dia terlalu dalam menyayangi Sasuke sampai dia rela mempertahankan keegoisannya ini. Saat Sasuke mau mengatakan sesuatu nama Sakura sudah dipanggil oleh suster pengabsen. Jantung Sakura semakin cepat berdetak sampai dia bisa mendengar bunyi detak jangtungnya sendiri.
"Ayo" kata Sasuke mencoba untuk menuntun Sakura. Di saat Sasuke menempelkan kelima jarinya di punggung Sakura, dia merasa Sakura terus memandangnya takur dan panik dutambah Sakura tidak terlihat mau masuk ke ruangan dokter. "Ada apa? Kau sakit atau kenapa?" Tanya Sasuke.
"Sasuke...a—aku..." Sakura berdiri diambang keputusannya. Hampir seluruh bagian dirinya untuk mengatakan jujur pada Sasuke. Dia merasa seolah segerombolan orang mendesaknya untuk keluar dari rumah idamannya. "Aku..." Sakura menatap mata Sasuke. Kemudian Sakura terselamatkan oleh gerakan Sasuke yang mengambil ponsel dari dalam saku celana. Dia tidak mengerti apa yang Sasuke bicarakan karena menggunakan bahasa Swedia.
"Maaf Sakura, aku harus menemui seseorang. Aku tidak bisa menemanimu" kata Sasuke.
"Oh..tidak apa-apa. Aku bisa sendiri kok" kata Sakura berusaha tersenyum meskipun terasa kaku di bibirnya. Sasuke memberikan senyuman sebelum memberikan tepukan pundak di bahu Sakura dan pergi meninggalkannya. Nama Sakura terpanggil lagi, tapi dia tidak menggerakan kakinya untuk masuk ke ruangan dokter. Dia membiarkan namanya hangus dan berjalan pergi setelah memastikan Sasuke telah pergi
Sasuke sudah menyalakan mobil dan siap untuk menjalankan mobilnya. Namun sialnya, Sasuke kembali mendapat telpon dari orang yang mengontraknya membatalkan untuk bertemu. Kekesalannya tidak bisa Sasuke keluarkan karena Sasuke bekerja sebagai orang yang dikontrak. Dia akan kehilangan banyak uang jika mengacaukan kontraknya ini. Sambil mengendalikan nafas dan emosinya, Sasuke mengatakan tidak apa-apa dan bersikap seperti biasa padahal gondok bukan main.
Sesaat Sasuke kembali mematikan mobil, dia duduk di bangku untuk menunggu Sakura. Dia mengira bahwa calon istrinya ini sedang berada di dalam ruangan dokter. Tidak bisa dipungkiri bahwa jantungnya sedikit berdebar karena mengkhawatirkan kondisi bayinya Sakura. Kemudian keningnya berkerut karena melihat orang yang keluar dari ruangan dokter bukanlah Sakura. Dia bertanya dalam pikirannya apa mungkin Sakura sudah keluar lebih awal?. Saku dirogohnya untuk mengambil sebuah ponsel.
"Ya Sasuke?" kata Sakura yang dirinya entah ada dimana
"Kau ada di mana?" Tanya Sasuke
"Aku ada di ruangan dokter, sedang periksa ini. Kenapa?" Sasuke menaruh rasa ragu dan curiga terhadap Sakura. "Sasuke nanti kita bicara lagi ya"
Tutututu
Komunikasi terputus. Ini membuat Sasuke merasa aneh, jadi dia menanyakan nama Sakura. Suster menjawab bahwa nama nyonya Sakura tidak hadir alias tidak masuk ruangan dokter saat dipannggil. Diri Sasuke memutuskan untuk pergi mencarinya. Dia berkeliling rumah sakit sampai dia menemukan Sakura di halaman belakang rumah sakit sedang duduk bangku yang dibawah pohon rindang. Sasuke melihat wajah Sakura seperti orang kehilangan harapan dan terkesan sedih. Lalu dia melihat Sakura menerima panggilan dilanjut berdiri. Karena rasa curiganya Sasuke dia bersembunyi sehingga saat Sakura kembali masuk gedung supaya tidak melihat Sasuke sedang mengintainya
Ternyata Sakura bertemu dengan kakaknya. Yah memang kakaknya sedang ada di sini karena urusan bisnis tapi kenapa dia harus menemui kakaknya di jam kerja seperti ini? Sayangnya Sasuke tidak bisa lebih jauh lagi untuk membuntuti Sakura karena dia pergi bersama kakaknya dengan mobil
Kecurigaan Sasuke semakin jelas karena Sakura sudah lebih dari 30 menit pergi bersama kakaknya. Di rumah, Sasuke duduk di sofa diam memikirkan Sakura. Lalu tangannya tergerak untuk menelpon Sakura. "Bagaimana hasilnya, bayinya sehat?" Tanya Sasuke
"Iya, semuanya baik-baik saja kok" kata Sakura
"Aku lagi dalam perjalanan menjemputmu, tunggulah di lobi" kata Sasuke mau memancing Sakura
"Lo-Lobi? Maksudmu rumah sakit?" Sasuke mendengar suara Sakura gagap sebentar
"Iya. Kenapa? Kau sudah pulang?" Tanya Sasuke
"Anu..aku tidak sengaja bertemu teman lama...jadi..aku sedang bersamanya jalan" kata Sakura. SUaranya kini terdengar sedikit seperti orang kebingungan di awal.
"Oh begitu. Yasudah. Hati-hati. Jangan sampai kau lelah" kata Sasuke menahan dirinya untuk mencegah Sakura mendengar giginya gemertak kesal karena sudah berbohong. Setelah menutup komunikasi Sasuke menarik napasnya dalam-dalam akibat emosinya. Sakura benar-benar sudah terlihat curiga di mata Sasuke. Namun Sasuke tetap akan menutupi perasaaan yang sebenarnya karena dia memikirkan bayi yang di kandung Sakura. Ibu hamil tidak boleh tertekan atau stress, itulah prinsip Sasuke saat ini. Sampai saat Sakura datang pun Sasuke tetap memberikan senyuman palsunya meskipun dia sudah merasakan hal yang tidak beres dan ada yang sedang disembunyikan oleh Sakura.
Rasa curiga Sasuke berlanjut sampai berhari-haari. Gelagat Sakura semakin jelas bahwa dia sedang menyembunyikan sesuatu. Tidak tahan lagi Sasuke menyuruh seseorang untuk mematai-matai Sakura. Dia duduk di dalam mobil yang terpakir di parkiran mall. Di dalam mobil, Sasuke menancapkan sebuah chip mini yang tersimpan di dalam kacamata. Barang ini dia beli untuk memata-matai Sakura dari orang yang dia suruh. Di tabnya dia melihat Sakura pergi menemui seseorang dan di samping Sakura ada kakaknya. Orang yang bersalaman ini adalah sepupunya Sasuke, Izuna.
Di dalam video yang berhasil di rekam...
Setelah berjabat tangan, Sakura duduk di depan Izuna. Dia tersenyum ramah di hadapan sepupunya Sasuke ini. "Ooh, kau cantik ya. Jauh lebih canntik dari yang aku duga" puji Izuna. Sakura tersipu sambil tersenyum dan mengucapkan terimakasih. "Tapi..apa ini tidak apa-apa? Ini kan melanggar hukum" kata Izuna memasang wajah khawatir di wajahnya.
"Aku mohon" kata Itachi. "Ini semua sudah terjaadi dan lagipula, ada yang lebih besar lagi dari hal ini. Aku tidak bisa lagi untuk menghandle semuanya. AKu mohon Izuna" kata Itachi. Izuna melihat wajah Itachi dan Sakura bergantian berpikir. Dia akan melakukan tindakan melanggar hukum dan hanya ada persetujuan sepihak.
"Uhmm" kata Izuna bergumam berpikir, dia masih tidak bisa melakukannya dengan seratus persen. Lalu Izuna melihat tangannya digenggam oleh Sakura.
"Aku mohon..Aku sangat menyayangi Sasuke...aku tidak mau dia bersedih karena aku tidak mengandung anaknya dan membohonginya sampai sejauh ini...aku mohon Izuna...tolong bantu aku..." kata Sakura memohon.
"Bagaimana jika tidak berhasil? BUkankah nanti akan semakin memburuk? Dan lagipula Sasuke pasti akan mengerti kan" kata Izuna khawatir
"Pasti berhasil. AKu mempunyai teman dokter yang pro. Lagipula aku sudah katakan padamu, kalian tidak akan berhubungan tubuh, hanya spermamu yang akan diambil untuk membuahi Sakura. Aku mohon Izuna, aku sudah cukup dengan hal yang telah terjadi, aku hanya tidak mau membuat adikku semakin terluka" kata Itachi. Dia berpikir bahwa Sasuke sangat mencintai Sakura dan akan kecewa sekaligus bersedih jika Sakura tidak hamil. Padahal sebenarnya Sasuke hanya menyayangi Naruto dan Sasuke sendiri pun tidak tau kenapa.
"Yasudah. Aku mau" kata Izuna pasrah. Yah dia percaya pada kakak sepupunya ini jika semuanya akan baik-baik saja. Baik Itachi dan Sakura tersenyum lega
Sasuke menarik nafasnya. Dia bergemertak. Kedua tangannya yang memegang tablet ini bergetar marah sampai-sampai tidak sadar dia mematahkan tabletnya sendiri. Wajah Sasuke bukan main marahnya. Sasuke adalah orang yang paling anti akan kebohongan. Wajah memerah, mata menyalang murka, Sasuke seolah siap untuk membunuh siapaun yang ada di hadapannya. Mentang-mentang Izuna mirip dengan Sasuke, orang-orang bodoh ini melakukan hal nekat. Dan terburuknya adalah Sakura bohong.
"Kau pulang cepat?" sapa Sakura di dalam kamar. Sasuke tidak peduli sedang apa dia, dia tidak menghiraukan Sakura apalagi meliriknya sedikitpun. Sasuke langsung membuka kopernya untuk mengambil semua pakaiakannya di lemari. "Sasuke...kau mau kemana? Apa ada masalah di kantor?" Tanya Sakura baik-baik. Sasuke tetap tidak merespon sedikitpun. "Sa-Sasuke...ada apa.." kata Sakura melihat Sasuke terlihat sangat marah sampai tidak meresponnya sama sekali. Dia hanya berdiri melihat Sasuke memasukan semua pakaiannya ke dalam koper. "Tu-Tunggu Sasuke!" kata Sakura menahan Sasuke yang memunggunginya. "Kau mau—" Sakura belum sempat menyelesaikan kalimatnya Sasuke malah menepis tangan Sakura secara kasar sambil berjalan buru-buru. "Sasuke!" Sakura memanggil dan mencoba berdiri di hadapan Sasuke untuk menghalanginya tapi Sasuke tetap tidak mau berbicara. Dia hanya memberikan tatapan benci sekaligus hina sudah cukup membuat Sakura membeku dan hanya membiarkan Sasuke pergi membawa koper.
Sasuke sudah cukup.
Mobilpun berjalan dengan decitan kasar dari halaman rumah dan diambang pintu berdiri Sakura yang membeku melihat dirinya diperlakukan seseram ini oleh Sasuke.
Sasuke merasa dirinya bodoh
Sasuke merasa dirinya benar-benar bodoh
Naruto. Dia sudah meninggalkan NAruto hanya demi penipu sialan
Tidak ada kesempatan lagi bagi Sasuke sekarang karena semuanya sudah terlambat
Sasuke pun mulai saat ini memutuskan untuk mengakhiri semuanya
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Malam hari, Naruto duduk di ayunan taman sendirian. Biasanya dia hanya mengenakan jaket lepis biasa, tapi kini dia harus mengenakan coat dengan celana lepis beserta sneaker untuk menghangatkan tubuhnya dari cuaca dingin. Dia memegagi tali ayunan di samping kanan kirinya. Kedua kakinya disatukan untuk menggerakan ayunannya. Hari ini adalah hari pernikahannya Sasuke dan Sakura. Kepala Naruto dari menghadap bawah diubah menjadi menghadap atas. Dia membayangkan bahwa pesta malam ini di Swedia sana pasti sangat meriah. Sasuke pasti sangat tampan dan Sakura pasti sangat cantik. MEreka berdua pasti terlihat bahagia. Membayangkannya saja sudah membuat Naruto sedih apalagi jika dia benar-benar datang ke pesta pernikahan itu. Tapi Naruto juha bersyukur bahwa Sakura akhirnya menikahi Sasuke, anak kedua dari Uchiha karena selama ini Naruto tau bahwa Sakura sangat tertarik dengan anak kedua dari Uchiha sejak dulu. Di saku coatnya dia merasakan sesuatu bergetar.
"Ya kak?" kata Naruto mendapat telpon dari Kurama.
"Kau dimana? Astaga malah keluyuran. Besok kau harus bangun pagi Naruto! Kau menikah!" Kurama mengomel
Ah benar...hari pernikahan Naruto sehari setelah hari pernikahan Sasuke
"Cih. AKu tau! Aku ini mau pulang" kata Naruto jengkel
"Cepatlah! Heish!" kata Kakaknya langsung menutup telpon.
"Aah benar-benar. Dasar temperamen" gerutu Naruto melihat layar ponselnya pada komunkasi yang terputus. Dia tidak sadar bahwa dirinya sama saja dengan Kurama yang sama-sama temperamen.
Kemudian hari pernikahan tiba. Naruto memakai gaun putih, rambutnya terkepang mermaid dengan hiasan bunga-bungan putih yang cantik. Di kepala Naruto juga ada mahkota kecil sebagai penghias. Naruto sudah melebihi bidadari di langit. Dia duduk di sebuah ruangan pengantin, banyak teman-temannya yang memberikan selamat. Tidak hanya itu, dia pun menjadi bintang akibat teman-temannya minta foto bersamanya. "Naruto, saat malam pertama nanti, jangan lupa pakai lingerine. Biar semakin romantis!" kata Ino menggoda Naruto
"Heish" kata Naruto jengkel tapi dia tertawa juga karena Naruto tau Ino hanya sedang bercanda
"Akhirnya kau dan Sai menikah. Jangan pikirkan masa lalu, buang saja. Yang penting adalah kau akan resmi dengan Sai" kata Tenten
"Kitsune juga pasti sangat bahagia" tebak Temari
"Terimakasih" kata Naruto tersenyum. Ruangan pengantin Naruto terlihat ceria dan penuh warna. Lalu kemudian datang seorang penjaga jas hitam menghampiri Naruto. Wajah Naruto heran karena dia kedatangan tamu yang ingin bertemu privat dengannya. Naruto pun izin pamit untuk menemui tamunya ini. Dia berjalan harus sambil mengangkat-angkat gaunnya karena sangat panjang, apalagi di bagian bawah belakangnya. Naruto mengikuti kemana arah penjaga pergi. Kemudian di sebuah ruangan kosong dekat berjendela besar, dia melihat seorang pria berpakaian coat hitam.
Sasuke
Naruto berdiri mematung melihat Sasuke di sini. Naruto tidak heran kenapa Sasuke bisa tau Naruto ada di sini karena Itachi tau dimana gedung pernihakannya. Yang membuat Naruto heran adalah kenapa Sasuke datang ke sini? Harusnya dia kan bersama Sakura dan menjaganya. BUlan madu. Dan Sasuke juga tidak diundang oleh Kurama. Akibat Naruto diam saja, maka Sasuke yang maju mendekati Naruto. Dia tidak sadar bahwa di tangan Sasuke ada jinjingan paper back berisi kado. Mereka sempat saling bertatapan mata dalam beberapa menit. "Apa itu gaun yang kau pilih?" Tanya Sasuke melihat sebentar gaun yang Naruto pakai sebelum kembali melihat wajah Naruto langsung
"Ke-Kenapa kau di sini...?" Tanya Naruto gagap sekaligus sangat pelan dia berbicara.
"Hanya lewat berkunjung" kata Sasuke. Naruto masih diam terkejut melihat Sasuke. "Selamat. Hiduplah dengan bahagia" kata Sasuke menyerahkan bingkisannya.
Naruto melihat paper back di tangan Sasuke yang diserahkan kepadanya dengan tatapan sendu. Lalu perlahan tangan Naruto mengambilnya dari tangan Sasuke. Kemudian Naruto kembali melihat wajah Sasuke.
Sasuke menggerakan tangannya untuk memegang wajah Naruto secara perlahan, namun terhenti di tengah jalan. Dia memutuskan untuk tidak bertindak lebih jauh lagi, jadi tangan Sasuke mundur memegang pundak Naruto. "Aku pergi" kata Sasuke. Memandang Naruto beberapa detik kemudian berbalik badan melangkah pergi
Sementara Naruto semakin terluka melihat Sasuke pergi. Dia ingin memanggil namanya dan berlari memeluknya. Namun Naruto tidak bisa melakukannya karena Sasuke sudah milik orang lain dan dirinya sebentar lagi juga akan menjadi milik orang lain. Kaki Naruto yang bergerak sendiri maju sedikit tapi langsung mundur lagi.
Dan lagi, Sai melihat semuanya dalam pandangan sedih, cemburu tapi juga...
Di gereja, Naruto dan Sai sudah berdiri di hadapan pendeta. Di belakang mereka semua juga berdiri para saksi termasuk keluarga mereka berdua. Sai menyimak melihat pendeta sedangkan Naruto malah memandang arah bawah dengan pandangan sedih. Sai tau jika Naruto sedang memandang bawah walaupun Sai tidak melihatnya karena Sai melihat topeng cerianya ketika Naruto memasuki gereja tadi. Ketika pendeta membacakan sebuah janji, Sai diam beberapa detik karena sedang memantapkan semuaanya.
"Aku menolak"
Jawaban Sai membuat semua orang terkejut dan para tamu undangan bergumam heran. Sampai Naruto pun juga terkejut dengan apa yang dikatakan Sai. "Mohon maaf. Pernikahan ini dibatalkan" kata Sai membungkuk dalam di hadapan sang pendeta.
"Sa-Sai" bisik Naruto memanggil Sai bersikap tidak masuk akal ini. Sai menegapkan kembali badannya dan tersenyum ke Naruto sebelum dia menghadap para saksi.
"Mohon Maaf. Saya tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Para tamu undangan, ibuku, dan juga yang terhomat keluarga besar Naruto Uzumaki, saya tidak bisa menikahinya karena alasan saya sendiri dan saya tidak akan memberitahu apa ini. Yang terpenting adalah, saya tidak mau menikahi Nona Naruto Uzumaki. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya" kata Sai membungkuk dalam sekali lagi. Para tamu undangan berbisik-bisik, dan kemarahan menyalang di keluarga masing-masing akibat tindakan Sai adalah tindakan yang memalukan.
Buak!
Pipi Sai digampar oleh Kurama di gedung dalam ruangan yang disewa privat setelah semua undangan pulang. Kurama benar-benar marah dan bahkan kemarahannya ini tidak ada yang menghalangi Kurama. Semuanya mempunyai pikiran yang sama, apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Sai untuk berbuat hal memalukan seperti ini. "Kau sudah gila? Akal sehatmu di dengkul? Apa alasanmu ha? Katakan alasanmu brengsek!" kata Kurama emosi. Tidak ada yang protes jika Kurama berkata kasar pada Sai.
"Maaf" kata Sai. Dia tetap tidak mau mengucapkan apa alasannya. Sai tidak mau membuat Naruto memaksa menikahinya karena Naruto setuju akan pernikahan ini hanya untuk bayi yang saat itu Naruto kandung. Melihat Sasuke menemuinya dan ekspresi mereka berdua membuat Sai menyerah. Sai tau sedalam apa perasaan mereka berdua, jadi seolah Sai sudah bisa melihat masa depan. Telinga Sai mendengar suara desisan geram Kurama sambil merasakan kerahnya ditarik secara kasar. Pipinya akan tertinju jika Hashirama tidak menahan tangannya Kurama yang sudah di atas.
"Sudah cukup Kurama" kata Hashirama. Wajahnya yang kesal dibuat setenang mungkin.
"Apa? Ka—"
"Kurama. Sudah cukup" kata Hashirama memberikan nada penekanan. Kurama semakin emosi, dia pun tanpa mengatakan apapun pergi meninggalkan tempat. Hashirama membungkuk hormat pada Sai dan ibunya sebelum pergi meninggalkan tempat juga seperti Kurama. Lalu disusul oleh yang keluarga Namikaze yang lain. Naruto malah tidak mau meninggalkan tempat, dia masih ingin tau kenapa Sai melakukan hal ini tapi dirinya dituntun oleh Naruko untuk meninggalkan tempat. Kepalanya terus menoleh ke belakang melhat Sai yang malah tersenyum ke arah Naruto
Plak!
Pipi Sai kini ditampar oleh ibu tirinya. Sai hanya diam saja tidak melawan. "Urus dirimu sendiri mulai sekarang" kata Mei sarkastik. Sai tau dia akan menghadapi hal berat tapi selama membuat Naruto senang, Sai rela melakukan hal apapun. Sai berprinsip bahwa mencintai itu tidak harus memiliki.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Sampai di kediaman utama, Kurama langsung berjalan menuju kamar. Dia benar-benar gondok dan tidak percaya akan dipermalukan oleh Sai. Dia tidak ingin melakukan apapun karena dia tidak bisa lagi berbuat sesuka hati akibat kembalinya Hashirama. Dia tidka peduli semua keluarganya melihatnya sedih karena untuk pertamakalinya Kurama tidak mengamuk seperti yang biasa dia lakukan ketika marah. Kurama benci mengakui tapi dia mengakui merasakan sesuatu yang berbeda semenjak bersama Itachi. DIa juga di sisi lain sudah terlalu lelah. Dia ingin masuk ke kamarnya saat ini juga
DIa pun tengkurap di kasur menyuruh tubuhnya tidur supaya merasa lebih baik tanpa ganti baju maupun melepas sepatunya.
"Kak..Kak..kak..!" Mata Kurama baru saja terpejam sudah mendengar namanya dipanggil oleh suara Naruko
"Pergilah..." kata Kurama dalam nadanya yang malas
"Pergi? Ini kamarku kak kenapa kau malah tidur di sini?" Tanya Naruko tidak suka, seenaknya tidur di sini tanpa melepas sepatunya. Kurama mendelik kesal ke arah Naruko
"Ini kamarku. Apa yang kau bicarakan" kata Kurama jengkel sambil mensetting tengkurapannya ke arah yang lebih nyaman lagi
"Ini kamarku kak. Ada apa denganmu" kata Naruko ikutan jengkel
Kurama diam karena dia mengingat apa yang seharusnya dia lakukan jika melakukan hal yang terlihat aneh. Kurama lalu bangkit dengan mengesot-ngesot di kasur supaya kakinya tidak terkena kasur untuk bangkit berdiri sambil berdesis kesal. "Pelit" kata Kurama menggerutu di hadapan wajah Naruko sebelum dia pergi.
Naruko hanya menghela nafasnya. Kakanya ini suka sekali bersikap anak-anak di penampilannya yang suka terlihat bad boy playboy. Naruko sangat anti terhadap debu sedikitpun jadi dia langsung turun ke bawah untuk mencari pelayan rumah menggantikan sprai kasurnya.
Setelah keluar dari kamar Naruko, dia melihat pelayan rumah lewat. "PSST!" kata Kurama sambil menghampiri pelayan itu. "Hey, tunjukan dimana kamarku" kata Kurama berbisik setelah tengok kanan kiri untuk memastikan tidak ada orang yang didekatnya
"Ya?" Tanya pelayan itu heran
"Heish" kata Kurama berdesis kesal. Melihat kejengkelan Kurama pelayannya menyanggupi permintaan Kurama dengan tegang. Dan setelah Kurama sampai di kamarnya, "Hey jangan bilang siapapun. Awas kau" ancam Kurama. Pelayan itu mengiyakan dengan takut dan tergagap sambil sedikit membukukan tubuhnya. Kurama menoleh kanan kiri lagi memastikan tidak ada yang melihatnya sebelum menutup pintu kamarnya.
Setelah menutup pintu Kurama berdiri diam tanpa ekspresi ke bawah lantai. Lalu Kurama menarik nafasnya untuk bergegas mengambil kopernya dan memasukan sebagian bajunya ke dalam koper.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Sudah dua tahun bagi Itachi kehilangan kontak. Bukan hanya dia, tidak ada yang tau kemana Kurama selama dua tahun ini. Akatsuki banyak yang membutuhkan bantuannya, tidak ada yang tau apa yang sebenarnya terjadi padanya dan apa yang dia pikirkan sebenarnya. Kurama tiba-tiba menghilang semenjak Naruto dan Sai batal menikah. Bahkan Pein pun tidak tau dimana lokasinya. Itachi sangat merindukan Kurama, meskipun hanya melihat wajahnya dan dia baik-baik saja dari kejauhan sudah lebih dari cukup bagi Itachi.
Di hari minggu, seperti biasa Itachi pergi berolahraga. Dia biasanya pergi bersama adiknya. Biasanya dia pergi bersama Kurama. Kemarahan adiknya karena Itachi dan Sakura sama-sama membohongi Sasuke membuat adiknya ini marah besar sehingga dia mau keluar dari hidupnya untuk memula segala sesuatu dari aawal. Itachi tidak tau jika adiknya menyayangi Naruto dan menikahi Sakura hanya demi kandungannya saja. Entah sejak kapan adiknya menaruh perasaan pada Naruto, yang jelas akibat salah dugaan Sasuke sekarang menjadi warga biasa dan menolak bantuan yang diberikan pada Itachi. Bahkan berbulan-bulan adiknya tidak mau sedikitpun berbicara apalagi bertemu.
"Aku duluan, harus mencari sarapan" kata adiknya. Mereka berdua istirahat di bangku panjang melihat orang-orang berolahraga di lapangan sana dan Sasuke malah pergi duluan. Itachi memperhatikan Sasuke, jelas sekali di mata Itachi adiknya ini masih tidak melupakan apa yang telah Itachi perbuat sehingga sikapnya sangat dingin seperti dia memperlakukan orang lain. Tangan Itachi mengambil botol minumnya untuk menghilangkan dahaganya.
"Hus! Hus!"
Itachi terkejut mendengar suara Kurama persis di belakangnya. Apa ini mimpi bagi Itachi akibat terlalu rindu dirinya kepada Kurama?
"Aish benar-benar. Hey hus!"
Itachi pun menoleh.
Kurama berada di sampingnya tapi dia menghadap ke arah berlawanan?!
Itachi tidak bisa berkata maupun bergerak. Orang yang hilang selama dua tahun tiba-tiba ada di sini. Kurama terlihat sedang berolah raga juga, kakinya diayun-ayunkan ke depan untuk mengusir anjing yang duduk di depannya.
"Hey pergi aku bukan majikanmu! Hus hus!" kata Kurama lagi
"Ku-Kurama?" bibir Itachi bergerak sendiri. Orang yang dipanggilpun melihat ke wajah Itachi.
"Siapa?" Tanya Kurama heran.
Itachi tersentak mendengarnya. Suara dan ekspresi Kurama menggambarkan bahwa Kurama tidak tau siapa Itachi. Banyak sekali pemikiran dugaan tentang Kurama. Yang paling dominan adalah Saking bencinya Kurama berpura-pura untuk tidak mengenal Itachi. Tapi jika dipikirkan lagi itu tidak mungkin, Kurama mempunyai musuh bebuyutannya dan sangat membencinya orang itu yang bernama Juubi. Setiap saat mereka bertemu Kurama pasti menyindir dan berujung adu tinju tendang dengan Juubi. Sebenci apapun Kurama, dia tidak akan melupakan hal yang telah dilakukan kepadanya.
"Ha?" Itachi malah menjadi blank akibat terlalu banyak dugaan dan pemikiran
Kurama malah melihat Itachi heran. Lalu Itachi melihat seseorang memanggilnya. Saudaranya Kagami ada di sini juga?. "Oh Itachi" sapa Kagami. Itachi pun berdiri.
"Kau kenal dia?" Tanya Kurama
"Yeah, dia saudaraku kenapa?" Tanya Kagami. Kurama melihat wajah Kurami serius sampai Kagami merasa kikuk sendiri. Beberapa detik kemudian entah apa yang Kurama pikirkan dia malah mengajak Kagami mencari sarapan. Itachi terdiam melihat Kurama pergi bersama Kagami. Dia melihat Kagami terkekeh kecil karena anjingnya selalu mengikuti Kurama dan itu membuat Kurama jengkel. Lalu Kagami berlutut di hadapan anjing itu untuk mengelusnya. Kagami berniat untuk mengadopsinya tapi Kurama protes tidak mau karena tidak suka anjing. Namun Kagami bisa merayu sehingga Kurama pun setuju. Anjing itu pun bergonggong ria.
Merasa diperlakukan seperti orang asing jauh lebih buruk dibanding memandang seperti orang yang dibenci
Apalagi apa-apaan itu Kagami bersikap sangat dekat Kurama. Mereka berdua terlihat seperti orang yang menjalin kasih.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Dua tahun kemudian, setelah banyak hal terjadi, sosok yang paling dihormati berubah menjadi sosok yang biasa. Dia berakhir hidup sendiri tanpa menerima bantuan dari seorang kakak. Marga yang dibilang merupakan marga yang cerdas, berwibawa dan berparas luar biasa berpindah profesi dari tinggi ke biasa. Anak bungsu Uchiha ini sekarang bekerja di restoran Ramen setelah pulang dari Swedia menyadari betapa bodohnya dia. Dia menjadi koki biasa yang hidup di kalangan menengah. Meskipun begitu juga dia tetap diperlakukan oleh para wanita bagaikan dewa akibat kemampuan dan wajahnya.
Merebus Mie memasukan bahan-bahan ramen sebelum menghidangkannya di mangkuk, dia memakai topi koki dan pakaian koki berwarna putih. Sasuke membuang kekayaannya dan kehidupan glamornya. "Hey Uchiha tamu VVIP sudah datang, kau bawakan pesanannya ya" kata kepala koki. Sasuke menganggukan kepala sambil mengatakan iya. Karena restoran Naruto sudah sangat terkenal dan terdesain sejajar dengan restoran mewah lainnya akibat ulahnya Naruko, Sasuke perlu mendorong troli untuk mengantarkan pesanan VVIP
Dia mengetuk pintu. Lalu saat membuka pintu dan masuk, Sasuke membeku di tempat. Begitupun dengan seorang yang berada di ruangan VVIP. Setelah dua tahun...dua tahun dia kehilangannya..dua tahun dia tidak bisa menembus informasi tentangnya...dipertemukan di sini.
Naruto telah berubah menjadi sosok yang sangat berbeda 180 derajat. Rambutnya yan dulu selalu dia kucir malah menjadi pendek seperti potongan pria. Wajahnya yang dulu tanpa make-up, menjadi ada make-up meskipun sedikit dan gayanya yang dulu sederhana sekarang lebih modis lagi. Naruto jauh lebih manis dan menarik dalam potongan rambutnya yang seperti lelaki. Kedua insan ini sama-sama terkejut melihat pertemuan yang tidak disangka. Sasuke segera menarik dirinya lagi untuk memberikan pesanan kepada tamu VVIP ini.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Sungguh tidak bisa dipercaya. Naruto melihat Sasuke yang seharusnya ada di Swedia berada di Jepang dan memakai pakaian koki?. Dia mengintip ke arah dapur dari balik tembok, matanya semakin tidak percaya ketika dia melihat Sasuke disuruh-suruh oleh ketua chef seperti bawahannya. Sasuke seharusnya bekerja di kantor dengan pakaian jas seperti biasa. Naruto tidak sadar di belakangnya ada pelayan yang mencari kemana pandangan arah mata Naruto. "Mencari siapa?" Tanya ramah pelayan muda membuat Naruto meloncatkan kedua bahunya.
"Kau mengagetkanku" kata Naruto memegang dadanya yang berdebar-debar.
"Ma-Maaf! Saya tidak bermaksud..." kata pelayan muda itu
"Tidak tidak. Anu, koki yang di sana itu apa bekerja di sini sungguhan?" Tanya Naruto berbisik sambil menunjuk diam-diam ke arah Sasuke
"Ah Sasuke Uchiha, iya Nyonya. Dia sudah lama bekerja di sini. Mengherankan bukan, anak kedua dari Uchiha bekerja di sini. Aku dengar sih dia meninggalkan semua harta kekayaannya. Tidak ada yang tau apa alasannya tapi dia benar-benar hidup seperti kita semua" kata pelayan muda berbisik mencerocos kemana-mana.
Naruto hanya diam lalu tersenyum kaku. Dia tidak mau ikutan menanggapi pendapat gadis muda ini karena dia tau siapa Sasuke dan bagaimana sifat aslinya.
Di dalam mobil Naruto menunggu Sasuke keluar dari kedainya. Dia mengira Sasuke akan keluar di sore hari ternyata Sasuke keluar di malam hari. Naruto sedikit kebingungan apa yang pertama harus dia pertanyakan karena banyak sekali pertanyaan yang berbondong di otak Naruto. Lalu Kaki Naruto bergerak turun dari mobil. Dia berjalan sedikit sebelum memanggil orang tampan itu. "He-Hey!" kata Naruto tergagap memanggil. Sasuke menoleh ke belakang tidak mengatakan apapun. "A-ayo minum kopi" kata Naruto. Tidak tau apa yang terjadi jantungnya sangat berdebar
Karena Sasuke pulang larut malam jadi tidak ada restoran terdekat yang masih buka. Mereka berdua memilih membeli kopi di mesin dan duduk di bangku taman bermain. Keduanya sama-sama terdiam. Saking bingungnya Naruto waktu yang digunakan menjadi terbuang percuma. "Jika tidak ada yang mau dibicarakan aku pergi. Aku mau istirahat" kata Sasuke berdiri dari duduknya. Melihat Sasuke yang mau melangkah Naruto buru-buru berbicara alasannya
"A-Ada! Ada yang mau aku tanyakan" kata Naruto. Sasuke menoleh ke wajah Naruto sebelum dia duduk kembali. "Hmmm"Naruto menyusun kata dan memilih pertanyaan di otaknya sambil melihat air kopi di dalam gelas plastic. "Bagaimana kabar Sakura? Kau terlihat sehat" kata Naruto malah melenceng dari apa yang mau dia tanyakan.
"Jangan menyebut namanya di hadapanku" kata Sasuke.
Naruto terheran kenapa Sasuke terdengar seperti membenci Sakura. "Apa yang terjadi? Apa kau bertengkar?" Tanya Naruto. Sasuke tidak mau menjawab, terus menghadap depan. "Hey, apa yang terjadi di antara kalian berdua? Huh? Bisakah kau memberitahuku?" Tanya Naruto.
Sasuke melihat wajah Naruto khawatir dan penasara, tapi yang Sasuke pikirkan adalah sebuah rasa heran. Apa dia tidak tau apa yang telah terjadi?."Sakura tidak mengatakan apapun padamu?" Tanya Sasuke.
"Memberitahu apa?" Tanya balik Naruto.
Sasuke menduga bahwa Naruto memang tidak tau apapun, Sakura tidak memberitahu Naruto bahwa mereka berdua tidak menikah. Kediaman Sasuke membuat Naruto bertanya lagi. "Berikan ponselmu" kata Sasuke menengadahkan sebelah tangannya di hadapn Naruto
"Buat apa?" tanya Naruto heran.
"Berikan saja ponselmu" kata Sasuke memaksa. Naruto berpikir terlebih dahulu, dia sedang bertanya tapi orang ini malah meminta ponselnya. Kemudian Naruto merogoh tas kecil selempangnya untuk mendapatkan ponselnya. Lalu ponselmu itu langsung diambil oleh Sasuke. Naruto bertanya apa yang Sasuke lakukan karena Sasuke malah membuka ponselnya untuk memanggil seseorang. Setelah menyambung Sasuke kemudian menyimpan nomor misterius itu dengan nama Sasuke di kontak Naruto. Naruto tidak bisa mengerti apa yang Sasuke coba lakukan. "Besok datanglah ke rumah kontrakan lamamu" kata Sasuke.
"He?"
"Sudah malam. Aku sangat lelah dan mau istirahat. Jam 7 malam jangan lupa" kata Sasuke lalu pergi. Melihat Sasuke mmelangkah membuat tubuh Naruto berdiri diri. Dia ingin memanggil Sasuke tapi tersendat seolah lidahnya kelu tiba-tiba. Dia melihat ponselnya yang masih terpampang nama Sasuke di konntaknya lalu kembali melihat Sasuke. Dia bertanya-tanya apa yang telah terjadi sebenarnya pada Sasuke dan Sakura. Lalu bagaimana bisa Sasuke beralih menjadi koki dari seorang produser.
xxxxxxxxxxxxxxxxx
Kurama mabuk berat di jalan. Dia meskipun mengidap penyakit masih saja suka minum-minum. Jalannya sempoyongan dan berkata kemana-mana di sepanjang jalan membuat semua orang melihat takut dan waspada terhadap Kurama. Bahkan pemuda yang bisa terkesan bad boy ini main rangkul wanita yang melewatinya. Tubuhnya pun sudah pasti terpental-pental ke aspal karena mengira Kurama pemabuk tidak waras. "Furikiru hodo...aoi aoi ano sora...aoi aoi ano sora...aoi aoi ano sora..." sekarang Kurama malah menyanyi dengan suara cemprengnya. Tidak melihat fokus ke depan Kurama merasakan tubuhnya menabrak seseorang. Dia mendongak ke atas, orang yang lumayan tinggi, berambut hitam terkucir dengan poni panjang terbelah dua memakai coat hitam menatap ke arahnya. "HA! Kau!" kata Kurama melekik tinggi suaranya menunjuk orang itu tepat di depan hidungnya. "Siapa?" kata Kurama malah bingung sendiri
Itachi menarik napasnya. Orang ini masih saja suka minnum dan membuat kekacauan di muka umum. Itachi tadinya duduk tenang di dalam mobil menunggu lampu merah, tapi saat melihat Kurama di sebrang sana mabuk berat di jalan membuat Itachi menyuruh supirnya minggir dan menunggu sebentar. "Dimana rumahmu?" tanya lembut Itachi. Dia masih ada rasa sayang dan tidak akan pernah diam saja melihat Kurama berantakan seperti ini.
"Rumah?" kata Kurama. "Rumah...rumah..." Kurama malah melirik ke atas seolah berpikir dimana rumahnya, "Tidak tau" kata Kurama menggeleng kepalanya. "Aku tidak ingat. Ingatanku itu saaaaaangat buruk" Kurama sangat mendalami perkataannya sampai tubuhnya membunngkuk-bungkuk dan matanya terpejam-pejam. Lalu dia tertawa layaknya orang mabuk. "Sampai jumpa!" kata Kurama hormat bendera lalu tertaawa-tawa tidak jelas lagi. Baru saja satu langkah melewati Itachi, tubuh pemuda berambut merah ini maju untuk mencium tanah. Untung saja kedua tangan Itachi sigap dan tepat waktu menahan tubuh Kurama untuk tidak mencium tanah. "Nggg..." Kurama tertidur.
xxxxxxxxxxxxxxxxxx
Orochimaru adalah orang yang paling pintar untuk bersembunyi. Pein yang terkenal mampu menemukan siapapun dalam waktu singkat pun membutuhkah waktu dua tahun untuk bisa melacak dimana Orochimaru sesungguhnya. Masing di Negara orang, Sasori berada dalam sebuah loteng di suatu gedung memakai pakaian serba hitam dan sarung tangan ketat terbuat dari kulit berwarna hitam juga. Rambutnya yang merah tertutupi oleh sebuah topi hitam. Dia sedikit membungkuk di posisi duduknya memegang senjata api di atas meja yang berjarak beberapa meter dari jendela loteng. Senjata api itu diarahkan ke sebuah gedung lebih tepatnya jendela suatu apartemen. Sebelah mata Sasori merem untuk melihat target. Butuh ketepatan 100 persen karena hanya satu peluru yang disediakan untuk membunuh Orochimaru. Jarak antara apartemen dan gedung pun lumayan jauh.
Menunggu moment yang pas walaupun sebuah titik merah sudah mengarah ke arah kepala Orochimaru.
Ujung telunjuk Sasori sudah siap untuk menarik pelatuk
Lalu dalam hitungan
Tiga...
Dua...
Satu...
DOR!
Dalam sekejap mata Orochimaru tertembak tepat di kepalanya. Sasori pun dalam selang satu detik setelah menembak langsung menurunkan tubuh dan senjatanya. Dia menghembuskan nafasnya karena tidak bisa dipungkiri ketegangan merasuki dirinya tadi. Kemudian dia membuka topinya, lalu membuka jaketnya sehingga ketahuan Sasori hanya memakai kaos oblong biasa, lalu celananya lalu sepatunya. Semua itu dia masukan kembali ke dalam tas ranselnya. Dia kembali memakai kaos biru dengan dobelan sweater putih dan celana jeans biru dongker dan sepatu sneakers serta kacamata fashionnya. Senjata api malah dimasukan ke dalam tempat gitar yang terbuat dari kayu.
Ketika berjalan kembali di jalan, tidak ada yang menyangka bahwa Sasori yang berpenampilan seperti anak kuliah biasa ini baru saja membunuh orang dan membawa senjata api di balik tempat gitar kayu di tangan Sasori.
Dia padahal sedang memikirkan untuk pulang ke Jepang setelah lulus di bulan depan. Otak jenius Sasori membuat pemuda ini hanya menempuh waktu dua tahun untuk mendapat gelar sajarna. Yah memang seharusnya dari dulu dia harus menggelear sarjana tapi karena Pein terus membuat dia stuck di SMA untuk menyamar demi tugasnya, dia harus menundanya. Pemikiran Sasori tiba-tiba hilang entah kemana saat dirinya berpapasan dengan Kitsune saat berbelok ke arah barat. Dia terdiam bukan karena terkejut tapi terpukau melihat Kistuen berbeda dari dua tahun terakhir bertemu dengannya
Rambut Kitsune yang dulu selalu lurus sekarang malah mulai di kriting-kriting meskipun diikat satu, kulit putih pucatnya semakin terlihat halus dan lembut, wajahnya yang polos sekarang memakai make-up natural. Dia terlihat sangat cantik sekaligus manis karena tiga garis di kedua pipinya. Kemudian reflek Sasori tersenyum terhadap wajahnya Kitsune yang masih terkejut melihat Sasori. "Lama tidak berjumpa Kitsune" sapa Sasori
Tidak perlu jauh-jauh ke Jepang, Sasori sudah bertemu dengan Kitsune di sini.
Benar-benar beruntung
Atau memang Sasori sudah dijodohkan dengan Kitsune?
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Sasuke rela bangun pagi-pagi untuk membeli bahan ramen. Semua bahan yang dia gunakan masih sangat segar. Ramen buatan Sasuke ini tidak hanya dari bumbunya saja, tapi bahan mienya pun dibuat berbeda. Dia ingin menciptakan ramennya sendiri supaya Naruto semakin senang. Orang tampan yang seharusnya ada di kalangan elit malah blusukan ke pasar tradisional. Tatapan kekaguman dan genit Sasuke hiraukan seperti biasa karena dia sudah biasa ditatap orang seperti itu dari kecil. Bahkan sampai nenek-nenek penjual sayur pun genit dan gombal terhadap Sasuke. Sayangnya Sasuke bukanlah Itachi yang bisa murah senyum, dia hanya sedikit tersenyum.
Barang-barang belajanja penuh di tangan Sasuke. Dia juga yang biasanya membawa mobil mewah malah memanggil taksi di pinggir jalan. "Mampir sebentar di toko cincin terdekat pak" kata Sasuke. Supir taksi itu menanggukan kepala sambil mengatakan iya.
Flashback 2 minggu yang lalu
Sepulang dari kerja, Sasuke melihat sebuah mobil putih terparkir di hadapan tempat tinggalnya yang sederhana di kalangan biasa. Dia melihat sosok Sai berjaket abu-abu keluar dari mobil. "Aku ingin bicara padamu" kata Sai.
Mereka berdua memutuskan untuk berbicara di dalam mobil. Sasuke tetap merasa down di samping Sai karena dia mengira Sai berhasil mendapatkan Naruto di sisinya. Di balik wajah dingin itu lukanya Sasuke masih belum sembuh. Akibat kebodohannya Sasuke membuat semua hal yang dia inginkan menghilang dan pergi ke tempat orang lain. Sasuke tidak bisa lagi berlagak di depan Sai meskipun Sasuke secara fisik menang dari Sai. Sai mendapatkan apa yang tidak bisa Sasuke dapatkan. Bahkan Sasuke pun tidak bisa pindah kelain hati lagi.
"Aku melihatmu bekerja di restoran, kenapa?" Tanya Sai. Tatapan Sai dan Sasuke sama-sama melihat ke depan.
"Ini hidupku" kata Sasuke. Dia tidak suka namanya curhat.
"Ini diluar dugaan, kau beralih dari produser menjadi seorang koki biasa. Apa kau putus asa?" Tanya Sai lagi
"Aku tidak punya waktu mengobrol. Permisi" kata Sasuke.
"Naruto single" kata Sai menoleh ke Sasuke dimana membuat gerakan Sasuke yang mau membuka pintu terhenti. "Pernikahan kami batal" kata Sai. Sasuke pun ikut-ikutan melihat wajah Sai dengan ekspresi syok. Kemudian Sai memberikan sebuah undangan hubungan sosial. "Dia seorang pianis sekarang, Tanggal 2 april dia akan tiba di Jepang untuk memenuhi acara itu. Temuilah dia" kata Sai. Tangan Sasuke mengambil tiket dari tangan Sai. Undangan itu ditatap Sasuke beberapa detik sebelum dia berlanjut bertanya,
"Apa yang terjadi?"
"Tidak ada yang terjadi. Yah, aku saja tidak bisa percaya kenapa aku batal menikahinya namun aku tidak mau membuatnya menderita. Aku sudah tau dari awal kau dan dia saling menyukai dan juga kau batal menikahi Sakura. Kitsune menyukaimu jadi tidak masalah bagiku. Lagipula aku ini memang sudha tidak bisa lagi menyatukan kembali kaca yang pecah. Meskipun disatukan menggunakan lem sekuat apapun pasti akan ada bekasnya. Aku titip Naruto dan anakku di tanganmu. Aku mohon" kata Sai.
Sasuke kembali melihat undangan itu lagi dan Sasuke sadar, ini adalah kesempatan baginya.
End of flashback
Sasuke memang bukanlah orang yang romantis. Sehabis memberikan Naruto ramen buatannya, dia akan mengajak Naruto bermain di sekitar Tokyo tower dan berakhir duduk-duduk di pinggir danau.
Rencana tersusun secara jadwal di dalam otak Sasuke. Hatinya benar-benar senang jika dia bisa memiliki Naruto. Bahkan waktu dua tahun yang terlewatkan itu tidak terasa apapun bagi Sasuke. Memang bukanlah suatu hal yang mudah untuk bisa memiliki Naruto seutuhnya karena Kurama pasti akan membantah hubungan mereka. Namun Sasuke yakin dia pasti akan meyetujui di akhir karena mengingat betapa sulitnya Kurama dan Itachi meminta restu kepada Sasuke untuk menjalin kekasih. Alias saat itu Sasuke tidak terima kakaknya menjalin kasih dengan seorang pria.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxx
Kurama menggeliat di kasur berseprai warna hitam abu-abu. Badannya dilanjut bergerak ke kiri. Kedua tangannya lurus, saat matanya dibuka dia melihat cahaya matahari yang silau. Keningnya berkerut lalu menenggelamkan wajahnya ke bantal. Kemudian dia bangun sebelum menggaruk-garuk belakang kepala dan menguap lebar-lebar. Keningnya kembali berkerut saat dia melihat dekorasi ruangannya berbeda dari kamarnya. Kepalanya menoleh ke kanan, lalu ke kiri. Pikiran kata 'seperti dekorasi hotel' terlintas. Dia juga baru sadar jaketnya sudah tidak menempel di tubuhnya lagi melainkan terlipat rapi di meja rias. Dia tidak bisa ingat kenapa dirinya bisa berakhir di sini.
Karena terlalu mabuk berat, Kurama buru-buru turun dari kasur untuk muntah di toilet. Perutnya tidak enak, wajahnya juga lumayan pucat. "Aishh.." gumam kesal Kurama merasa tubuhnya ancur. Kemudian dia membersihkan diri sebelum pergi dari kamar hotel.
Setelah membersihkan diri dan berpakaian, tubuhnya masih saja lemas dan kepalanya pusing. Mual di perut juga masih terasa. Saat di lift, Kurama melihat seseorang memegang sebuah ponsel. Di saat itu Kurama sadar dia tidak ingat dimana ponselnya. Kurama berdecak lidah kesal akibat penyakit alzheimernya ini. Sekuat apapun Kurama berusaha mengingat, dia tidak bisa ingat dimana dia meletakan ponsel terakhir kali.
Dia bertambah bingung seperti anak hilang ketika keluar dari hotel. Dia tidak tau harus kemana. Mobil berlalu lalang ditambah banyak pejalan kaki. Saking bingungnya dia menggaruk-garuk belakang kepalanya. "Ah tau ah" kata Kurama, dia asal memilih jalan dan mengandalkan keberuntungan. Di saat Kurama masuk ke dalam kerumunan, datang Kagami dengan wajah panik berlari masuk ke dalam hotel.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Pakai topi hitam, pakai syal tebal, pakai jaket tebal, pakai masker oranye, pakai celana jeans, pakai sneakers, pakai sarung tangan putih, pakai kacamata hitam. Naruto bermaksud untuk menyamar tapi malah terkesan seperti orang mau merampok. Dia penasaran kenapa Sasuke menjadi koki biasa di restorannya. Saat Naruto masuk seluruh mata tertuju pada Naruto, dkira Naruto adalah orang yang mencurigakan. Dia duduk di bangku yang bisa melihat koki-koki memasak. Lalu Naruto mengambil buku menu, dia mengangkat buku menunya sejajar dengan wajahnya setelah sedikit menurunkan kacamatanya. Naruto berusaha keras untuk mengintip ke arah para koki. "Dia belum datang?" gumam pelan Naruto tidak melihat ciri-ciri Sasuke sama sekali
"Sudah menentukan pesanannya?" seorang pelayan membuat bahu Naruto loncat dan menutup tiba-tiba dengan gerakan panik serta membenarkan kembali kacamata hitamnya.
"A-Aku pesan minum saja. Kopi" kata Naruto
"Mohon tunggu sebentar" kata pelayan ramah itu
Naruto menghela nafasnya sambil menunduk memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Jantungnya berdebar-debar.
Tidak terasa Naruto menunggu sudah sampai jam 5 sore. Naruto memang sejak awal sudah mengira Sasuke tidak masuk hari ini tapi dia bersikeras untuk terus menunggu. Kemudian Naruto pun menyimpulkan untuk pergi dari restoran. Dia membuka kacamata dan menurunkan maskernya sampai ke leher. "Tck. Kemana dia" gumam Naruto kesal karena sudah menunggu sia-sia. Naruto pun merogoh saku jaketnya untuk mengambil ponsel yang berdering. "Ya Tenten? Sekarang?" kata Naruto mendengar Tenten memberikan kabar bahwa ada pertemuan dengan klien Naruto. "Aku mengerti, aku ke sana" kata Naruto. .
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
"Auk ah" Kurama pasrah. Dia duduk di depan tembok pagar orang lain. Tubuhnya bersender, kedua kakinya ditekuk dan menompang lipatan kedua tangannya, kepalanya ditaruh di atas lipatan tangannya itu, Kurama putus asa. Dia tidak tau ada di mana, dia tidak ingat apa alamat rumahnya Kagami. Ponselnya juga tidak tau kemana. Yang Kurama ingat hanya Kagami. Penyakit ini membuat Kurama susah.
"Kenapa kau di sini?"
Suara itu membuat Kurama mengangkat kepalanya, dia melihat Itachi. Tapi Kurama tidak mengenal siapa orang ini, "Siapa?" Tanya Kurama.
Ekspresi Itachi diam, menghempaskan perasaan terlukanya. Kedua kakinya berjongkok. "Kau mau kemana? Kau terlihat seperti orang tersesat" kata Itachi
Dilihat dari pakaiannya, Kurama menebak orang asing ini sedang berolah raga pagi. "Apa kau mau membantuku?" Tanya Kurama. Dia sudah tidak peduli lagi, mau berbahaya atau tidak orang ini, Kurama harus meminta bantuan. Karena terlalu gengsi untuk meminta bantua polisi, mengakui dirinya tersesat. Usia Kurama terlalu tua untuk tersesat.
"Apa" kata Itachi, tetap bersikap ramah dan lembut terhadap Kurama. Tadi pagi dia mendapat telpon dari Kagami yang menanyakan jika dia bertemu dengan Kurama atau tidak. Itachi mempunyai firasat buruk terhadap hubungan Kagami dan Kurama, namun dia menarik diri untuk tidak ikut campur lagi. Baginya, terlibat dalam masalah Kurama akan menimbulkan kesialan bagi Kurama nanti.
Kurama merubah kakinya menjadi duduk sila. Kedua tangannya menyatu memegang pergelangan kakinya. "Apa kau tau Kagami?" Tanya Kurama. Di otaknya hanya teringat nama Kagami, dia sudah bertanya pada ribuan orang namun tidak ada yang tau namanya Kagami. Meskipun ada nama yang sama tapi bukan orang yang dimaksud Kurama.
"Marganya?" Tanya Itachi
"Hmmm" Kurama berpikir. Marga? Kurama yakin dia tau marganya Kagami namun karena pagi ini belum meminum obatya jadi dia tidak ingat lagi nama marga Kagami. "Ah aku tidak ingat!" kata Kurama putus asa mengacak-ngacak rambutnya. "Hey, bisakah kau membantuku mencari alamat Kagami? Aku tersesat dan aku tidak ingat apapun" kata Kurama pasrah. Dia sudah masa bodoh dengan rahasianya. Daripada dia hilang di Negara ini mendingan rahasianya diketahui. Toh orang didepannya ini adalah orang asing, jadi tidak akan menjadi masalah. Itachi yang diam saja terlihat sedang berpikir membuat Kurama jengah. "Aku menderita alzheimer, tolong bantu aku. Aku tidak mau tersesat!" kata Kurama
Mendengar kata Alzheimer membuat mata Itachi membulat terkejut.
"Hey, aku tidak tau siapa kau, aku mohon bantu aku. Lakukan apapun untuk menemukan alamat Kagami, aku tidak ingat apapun karena belum meminum obatku dan ponselku hilang entah kemana. Nanti kuberikan apapun yang kau mau jika kau berhasil mengantarku ke Kagami" kata Kurama benar-benar pasrah
Kurama menderita alzheimer?
Itachi tidak habis pikir dia bisa menderita penyakit ini diusianya yang masih muda. Memang dia dulunya sangat bagus ingatannya, jauh lebih bagus daripada ilmuan dan jenius jenius muda. Hanya dalam waktu 3 detik Kurama mampu mengingat semuanya dengan sangat detail tanpa ada yang tertinggal. Tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi, Itachi tidak mempunyai poin untuk memecahkannya.
Bukan waktu yang pas atau bahkan lebih tepatnya bingung mau bagaimana lagi, Itachi memilih untuk memenuhi keinginan Kurama terlebih dahulu. Orang yang dimaksud Kurama adalah Kagami saudaranya karena saat itu Itachi bertemu Kurama bersama Kagami.
Sebelum mengantar, Itachi memberitahu Kagami bahwa dia ingin mengantar Kurama ke rumahnya, suara Kagami terdengar lega sehabis kepanikan menimpa dirinya. Itachi menahan diri untuk tidak bertanya-tanya. Dengan alamat yang diberikan Kagami melalui pesan, Itachi mengantar Kurama menggunakan taksi
Taksi berhenti di rumah Kagami yang minimalis. Tidak bertingkat tapi mempunyai halaman yang luas dan rumah Kagami sendiri terlihat luas di dalam. "Terimakasih. Apa yang kau inginkan?" Tanya Kurama.
"Tidak ada. Aku akan menemanimu di sini sampai Kagami kemari" kata Itachi.
"Daritadi kau terlihat mengenal Kagami, kau temannya?" Tanya Kurama
"BUkan, saudara" kata Itachi
"Oh" kata Kurama singkat. Dia kemudian duduk bersandar di tembok pagar sebelah kanan sementara Itachi duduk bersandar di tembok pagar sebelah kiri. Keduanya terdiam, kalut dalam pikiran masing-masing. Itachi sesekali melihat Kurama yang memandang langit, ingin sekali bertanya apa yang terjadi dan bagaimana bisa dia menderita penyakit alzheimer di usia muda. Mengingat kesalahannya Itachi membiarkan rasa penasarannya untuk terkubur seiring berjalannya waktu.
Ini lebih baik, karena Kurama tidak mengingat hal menyakitkan akibat Itachi
Suara mobil menarik perhatian mereka. Kagami turun dari mobilnya dan berjalan cepat menghampiri Kurama. "Benar-benar kau ya Kurama" kata Kagami, wajahnya kesal karena telah membuatnya khawatir setenah mati. Kurama sudah dilarang mabuk karena setiap kali mabuk pasti ada saja barang yang tertinggal. Terutama ponselnya. Keadaan Kurama yang sudah seperti ini membutuhkan ponselnya seperti sebuah jiwa karena di dalam ponselnya terdapat alamat Kagami dan kontak-kontak yang bisa dia hubungi jika ada sesuatu
"Maaf" kata Kurama cemberut
"Cepat masuk dan minum obat. Urusan kita belum selesai" kata Kagami menaruh kunci di tangan Kurama sekaligus ponselnya
"Cih. " kata Kurama kesal alias tidak mau disalahkan.
Kagami menghela nafas lelah melihat ulah Kurama yang sulit diatur layaknya anak kecil. Kemudian dia melihat saudaranya berdiri memperhatikan Kurama sedih. "Terimakasih Itachi. Jika kau tidak ada, aku tidak tau bagaimana nasib Kurama" kata Kagami
"Ya" kata Itachi. Pandangan sedihnya tidak bisa dilepaskan. "Aku pergi" dia memilih untuk lekas pergi daripada kehilangan kendali emosinya.
"Tunggu" kata Kagami. Itachi menoleh. Kagami berpikir-pikir tentang kesepakatannya dengan Kurama, namun melihat wajah saudaranya yang sedih ini Kagami tidak tega juga. Berdasarkan ceritanya Izuna, Kagami tidak sanggup untuk berpura-pura lebih jauh lagi. "Jam makan siang ada waktu?" Tanya Kagami kemudian
"Kenapa?"
"Ada sesuatu yang harus kau ketahui" kata Kagami.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Jam 7. Sasuke menunggu Naruto di sofa. Di depan Sasuke ada meja yang sudah terdapat semangkuk ramen, sumpit dan minum. Tangannya terus memegangi kotak cincin seperti barang berlian yang takut hilang. Wajah dingin itu mampu menarik senyuman kecil karena senang sekali bisa melakukan ini. Dan tidak bosan Sasuke membuka tutup kotak cincin itu. Memang Sasuke tidak yakin akan muat seratus persen tapi setidaknya ukuran cincin ini tidak terlalu longgar di jari Naruto. Dia berterimakasih kepada mbak mbak penjual cincin di toko tadi karena postur tubuhnya hampir mirip dengan Naruto, jadi dia bisa memperkirakan ukuran cincin untuk Naruto
Jarum panjang sudah di angka 3. Naruto terlambat 15 menit.
Kemudian jarum panjang di angka 6, Naruto terlambat 30 menit
Sasuke tidak akan menelpon karena dia yakin Naruto pasti akan datang.
Jarum panjang diangka 9
Jarum panjang di angka 12
.
.
.
Lama-lama 1 jam Naruto tidak datang. Wajah kecewa terpampang, mie yang sudah disiapkan tidak lagi hangat. Semua tekstur mienya sudah hancur juga. Ponsel tidak aktif menambah kekesalan Sasuke daritadi. Semua usaha yang dia lakukan ini sia-sia. Saking kesalnya Sasuke membuang ramen yang tidak tersentuh itu dengan kasar ke tempat sampah. Sesaat selesai mencuci piring, dia mengambil jaket untuk keluar rumah supaya melepaskan perasaan empetnya Sasuke
Xxxxxxxxxxxxxxxx
Tidak bisa disangka kliennya tiba-tiba ingin menemuinya untuk melihat permainan piano Naruto. Akibat dari itu Naruto baru berangkat sekitar jam setengah 7. Di tambah lagi di jalan macet dan ponselnya mati karena lowbat. Jemari Naruto tidak bisa berhenti mengetuk-ngetuk setir mobil, tidak bisa berhenti melihat jam di mobilnya dan terus mendongak-dongak ke arah depan sana seolah bisa melihat penyebab macet meskipun tidak kelihatan. "Aduuuh, cepat cepaaat. Ah benar-benar" gumam Naruto.
Kemacetan terjadi selama 1 jam...
Saat sampai di rumah Sasuke, dia langsung mematikan mesin mobil dan berlari ke arah rumah kontrakannya. Wajah Naruto bisa terbilang panik.
TOK TOK TOK
"Sasuke aku datang!" kata Naruto.
Tidak ada jawaban
TOK TOK TOK
"Sasukeeeeee!" kata Naruto.
Tidak ada jawaban.
"Apa dia pergi?" gumam Naruto lagi. Dia melihat jam tangannya, pukul 20:10. "Aaah benar-benar" gerutu Naruto. Dia mengutuk kliennya karena mengakibatkan dia tidak datang tepat waktu dan sekarang Sasuke tidak ada di rumah. Naruto yakin Sasuke pasti marah terhadapnya karena Naruto hapal sifat Sasuke. Kemudian Naruto mendapat sebuan pesan bahwa kakaknya ingin bertemu dengannya menemaninya minum. Rengekan kesal terlepas dari bibir Naruto sambil kembali ke dalam mobil
Xxxxxxxxxxxxxxxxx
Di kedai pinggir jalan, Sasuke duduk diam memperhatikan kakaknya yang minum sake. Dia bisa menemani kakaknya begini karena saat diperjalanan kakaknya tiba-tiba meminta Sasuke untuk menemani minum, hal yang tidak biasa bagi Itachi. Sejak awal datang Sasuke masih belum menanyakan apa yang telah terjadi sampai kakaknya menghabiskan 2 botol sake, sekarang sudah ke empat. "Berhenti kak, kau sudah menghabiskan 2 botol" kata Sasuke
Itachi malah tetap meneguk sake di gelas kecil dalam sekali tegukan. Lalu dia kembali mengisi gelas kecil itu dengan air sake. "Aneh, sudah botol ke-tiga aku masih belum juga mabuk" kata Itachi. Dia tidak peduli penampilan tidak karuan, maksudnya dasi longgar tanpa memakai jas dan lengan majunya tergulung sampai sikut. Itachi menghela nafas hingga bersuara sebelum meneguk kembali sakenya. "Kurama..." Itachi berniat untuk menceritakan kondisi Kurama, "Tidak" tapi dia malah berakhir tidak mengatakannya
"Sasuke" kata Itachi kemudian.
Sasuke menunggu kakaknya mengatakan kalimat selanjutnya
"Kau...membenciku?" Tanya Itachi memberikan ekspresi putus asanya
"Tidak. Aku tidak membencimu, aku marah pada kakak. Sangat" kata Sasuke
"Begitu. Jadi, apa yang seharusnya dirasakan? Lega? Tidak...aku tidak merasa lega. Menyesal? Sepertinya" kata Itachi. Kemudian dia kembali meminum sakenya
Sasuke tetap diam. Dia sudah tau hal yang bisa membuat kakaknya sampai terpojok dan down begini hanya masalah Kurama. "Berhentilah dan pulang. Besok kau harus bekerja" kata Sasuke melihat hopeless kakaknya sendiri
"Sasuke, kau benar benar tidak mau kembali? Meskipun aku mampu mengendalikan perusahaan, tetap saja perusahaan itu membutuhkanmu. Dan juga aku. Tidak kah kau berpikir kau membuang mimpi ayah dan ibu dengan menjadi koki biasa?" kata Itachi
"Kita sudah sepakat tidak akan membicarakan hal ini lagi" kata Sasuke wajahnya berubah menjadi tidak suka
"Bukan begitu, aku-"
"Kak" Sasuke memotong ucapan kakaknya, "Aku mempunyai mimpi sendiri dan jalan sendiri. Kita berdua memang satu darah namun tidak berarti kita harus menjalani satu jalan yang sama juga. Hidup sendiri dan mandiri aku sudah terbiasa. Lebih dari 5 tahun aku menjalani hidup sendiri ketika kakak sibuk dengan kuliah kakak sendiri dan meneruskan pekerjaan ayah. Burung yang dari masa telur sudah terkandang, bisa terbang bebas kemana saja saat pintu kandang terbuka. Apalagi burung liar yang awalnya bebas tiba-tiba masuk kandang" kata Sasuke
Itachi diam saja. "Yah, aku mengerti. Maaf aku sudah memaksamu" kata Itachi
"Tidak. Tidak apa-apa. Wajar selagi aku membawa darah Uchiha" kata Sasuke sedikit sarkastik
Itachi bisa membaca penuh adiknya sangat kesal atas pembicaraan ini. Pemikirannya tentang ekspresi adiknya buyar ketika ponselnya berbunyi. "Oh Naruto" kata Itachi memanggil nama orang yang memanggilnya
Di tempat Naruto...
"Itachi! Kau..bisa menjemput kakakku~? Dia tidak sadarkan diri, mabuk berat~" kata Naruto bernada seperti orang melantur karena tertular Kurama yang minum sampai mabuk. Kurama menempelkan kepala di atas meja dengan kedua tangan menggantung ke bawah.
Di tempat Itachi..
Itachi menghela nafas berat, lagi-lagi Kurama mabuk padahal baru saja tadi Kagami bilang untuk tidak pergii mabuk lagi, "Dimana kau?" Tanya Itachi
Di tempat Naruto..
"Di kedaiku~ kau bisa menjemputnya kan?~ Kagami tidak bisa dihubungi~" kata Naruto, matanya sudah sayu bahka sampai menutup-nutup
Di tempat Itachi..
"Baiklah. Tunggu sampai aku datang ya" kata Itachi
Di tempat Naruto..
"Hm~. Aku tunggu ya~" kata Naruto. Setelah menutup komunikasi Naruto mengangkat tangannya, "Satu botol bir lagi!~" katanya terus melanjutkan mminum
Di tempat Itachi..
"Kurama dan Naruto mabuk berat di kedainya. Aku akan mengantar mereka berdua pulang. Sampai jumpa lagi Sasuke" kata Itachi sambil berdiri dari duduknya
"Biar aku yang mengantar Naruto pulang. Berikan aku alamat hotelnya" kata Sasuke buru-buru berdiri. Yah memang Sasuke lagi marah dan gondok terhadap Naruto namun rasa sayangnya tidak membiarkan Naruto digendong oleh orang lain begitu saja.
"Dia di apartemen Hokage di kamar 1208" kata Itachi
"Baiklah" kata Sasuke,
"Ayo" kata Itachi
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Sampai di tempat, mereka berdua melihat Kurama sudah teler dan Naruto mengoceh tidak jelas dengan gelas di hadapannya sampai tertawa-tawa tidak jelas. "Oh Sasuke!~" kata Naruto langsung berdiri, kemdian berlari untuk memeluk Sasuke. "Aaaahaahaha! Aku merindukanmuuuu~! Saaaangat merindukanmuuu!~" kata Naruto
Naruto 100% mabuk berat
Akibat dari sikap mabuknya Naruto, Sasuke mematung. Saking terkejutnya dengan sikap mabuknya Naruto.
"Tapi...kenapa kau ada di sini? Bukankah aku harus menemuimu di rumah lamaku?" kata Naruto. Kedua tangannya masih melingkar di leher Sasuke. Meskipun Sasuke bisa mencium roma alcohol menyengat, itu tidak masalah sama sekali bagi Sasuke
"Kau mabuk" kata Sasuke
"Aku? Tidaaak~" kata Naruto. Sasuke memberikan ekspresi hopeless. Melihat ekspresi Sasuke malah membuat Naruto tertawa-tawa. "Sasuke, aku suka kamu. Ayo menikah" kata Naruto memberikan seringaian yang lebar
Sasuke dan Itachi yang telah menggendong belakang Kurama mematung terkejut. Terutama Sasuke, melebarkan matanya yang tajam itu
TBC
Halo senpai :D, maaf lama :(, saya kehabisan ide huhu. Jadi baru update.
Anak rajin beli tupai
Nama Tupainya adalah Tini
wahai para senpai
Bagaimaan cerita ini?:D
Mau review senpai:D
See you next time senpai :D
