Kuroko no Gakuen
Kuroko no Basuke merupakan milik Tadatoshi Fujimaki Sensei.
Author hanya menggunakan karakter yang dibuatnya sebagai bahan berimajinasi.
Pairing AkaKuro, Shonen Ai (jangan dibaca kalau tidak terbiasa), multichapter, cerita sedikit bertele-tele jadinya panjang, OOC
/Ini Fanfiction pertama newbie author jadi mohon bantuannya./
'…..' (Pikiran karakter)
"….." (Pembicaraan karakter)
Pertama – tama mau minta maaf dulu karena udah lama banget ngak update dan pasti para pembaca udah lupa lagi ceritanya kayak apa. Sebenarnya chapter yang ini udah lama selesai tapi baru mau di-publish setelah dua chapter selanjutnya selesai.
Terima kasih banyak buat yang udah baca, nge-follow, dan nge-favorite cerita sebelumnya.
Dan makasih juga buat yang udah nge-review chapter sebelumnya: dwinur.halifah.9, AulChan12, yuki kun, momonpoi, siucchi, dan fuyu cassiopeia
Chapter 14: Sedikit Jawaban Dariku
Setelah liburan musim panas berakhir, pelajar akan kembali ke dalam rutinitas akademiknya masing – masing. Masuk ke kelas, mendengarkan penjelasan guru, mengerjakan tugas, mengerjakan kuis dadakan, melaksanakan piket kelas, dan melakukan kegiatan club. Tidak lupa juga dengan bersosialisasi dengan teman sekelas. Kegiatan yang ada tidak jauh berbeda dengan sebelum liburan, hanya saja terjadi pergantian musim di dalamnya. Walaupun begitu, Kuroko Tetsuya tidak merasakan hal yang sama.
Setelah Akashi Seijuurou menyatakan perasaannya di malam pesta kembang api, Kuroko merasa sedikit canggung jika harus berhadapan langsung dengan Akashi. Tetapi karena Kuroko tahu kalau itu tidak baik untuk berlanjut, Kuroko berusaha untuk terus menjaga ketenangannya. Akashi menanggapi Kuroko seperti biasanya, oleh karena itu Kuroko juga merasa tidak enak kalau Ia harus menjauhkan dirinya karena merasa canggung. Akashi tetap suka mengikuti Kuroko secara tiba – tiba. Terkadang makan siang bersama saat istirahat, pulang bersama kalau sempat, juga bertemu di perpustakaan. Kuroko merasa kalau Ia harus berbicara dengan Akashi mengenai hal di malam itu. Tetapi karena Kuroko merasa kalau Akashi tidak menekannya, Ia memutuskan untuk berpikir secara perlahan – lahan dan melihat perkembangan perasaannya.
Tiga minggu setelah kegiatan sekolah kembali berlangsung, Kuroko memutuskan untuk meminta pendapat kepada seseorang mengenai hal tentang dirinya dan Akashi. Seseorang yang dia pilih adalah kakak sepupunya yang saat ini sedang bersekolah di Kyoto. Kuroko memilih kakak sepupunya karena saudaranya tersebut mempuyai suatu rumor mengenai dirinya sendiri.
Empat tahun yang lalu tersebar suatu rumor di salah satu SMP Swasta di Kyoto. Rumor itu adalah mengenai seseorang yang bisa memberikan solusi atas segala masalah yang kau ajukan dengan tepat. Entah bagaimana rumor itu bisa mulai, tetapi memang terdapat orang – orang yang pernah mempunyai pengalaman tersebut. Meskipun begitu, orang – orang yang pernah mengalaminya tidak tahu mengenai identitas dari orang yang memberikan solusi tersebut.
Cara untuk menghubungi orang tersebut hanya bisa dilakukan melalui bertukar surat elektronik. Alamatnya pun didapat melalui kabar yang tersebar dari mulut ke mulut. Semenjak itu banyak pelajar yang mengirimkan surat elektronik pada alamat tersebut dengan berbagai masalah yang ada, tetapi tidak semua orang ditanggapi. Hanya segelintir orang yang berhasil berkomunikasi dan mendapatkan saran – saran untuk solusi dari masalahnya. Oleh karena itu, hal ini tetap menjadi rumor. Ada yang mengatakan bahwa ini adalah salah satu cara yang dibuat suatu kelompok untuk mengumpulkan informasi di kalangan pelajar. Ada juga yang mengatakan kalau suatu kelompok sedang mengumpulkan banyak pengikut untuk melakukan suatu gerakan masal di masa depan.
Orang tersebut adalah kakak sepupu dari Kuroko Tetsuya, yaitu Mayuzumi Chihiro. Mayuzumi bukanlah sukarelawan yang akan membantu seseorang begitu saja, apalagi kalau itu bukanlah orang yang dikenalnya dan Ia tidak mendapat keuntungan apa – apa. Walaupun begitu, Ia tetap melakukan perannya sebagai The Problem Whisperer sampai sekarang. Mayuzumi hanya memilih kira – kira masalah yang menurutnya menarik atau menantang bagi dirinya. Dan jika Ia sedang tidak ingin memikirkan apapun mengenai identitasnya yang lain maka Ia akan mematikan handphone-nya yang lain dan membiarkannya begitu saja. Rekor waktu terlama yang pernah Ia capai adalah tiga bulan sehingga hal mengenai dirinya tersebut semakin dianggap sebagai rumor. Mayuzumi melakukan itu bukan untuk membantu orang – orang di sekitar, tetapi Ia hanya merasa senang jika saran yang diberikannya tepat. Jika seseorang tersebut berhasil menyediakan masalah yang sesuai di saat yang tepat, Mayuzumi akan memberikan saran tersebut.
oOo
Pada hari minggu siang Kuroko memutuskan untuk pergi ke suatu danau kecil yang ada di dekat lingkungan rumahnya. Ia juga mengajak Nigou jalan – jalan bersamanya. Kuroko datang ke tempat tersebut bukan untuk berwisata, melainkan untuk menelpon kakak sepupunya. Ia tidak mau menelpon di rumah karena bisa saja Akashi memasang suatu kamera atau alat penyadap lainnya. Kuroko memeriksa kamarnya secara berkala tetapi mungkin saja kalau Akashi memasang di suatu tempat yang tidak pernah terpikirkan olehnya. Kuroko juga merasa curiga dengan ruangan lain selain kamarnya. Ia belum pernah melakukan pemeriksaan menyeluruh tetapi Ia harus berhati – hati. Kuroko tidak mau kalau pembicaraannya didengar oleh Akashi, apalagi kalau hal ini memang menyangkut dirinya.
Setelah sampai di depan danau, Kuroko lalu duduk di salah satu bangku alami yang terbuat dari batang kayu. Kuroko bersyukur karena hari ini pengunjung yang ada cukup sedikit dan udara sudah mulai terasa lebih sejuk karena musim gugur mulai mendekat. Kuroko lalu membiarkan Nigou untuk bermain di sekitar sana dengan tetap mengawasinya. Ia kemudian mengambil posel dari saku celananya dan mulai mencari suatu nomor tertentu. Setelah itu Kuroko lalu menelpon nomor tersebut.
"Tuut… Tuut… Tuut...–" Kemudian terdengar suatu suara yang terakhir kali didengarnya saat sebelum masuk sekolah di SMA Teikou di sebelah telinganya. "Halo"
"Selamat siang Kak Chihiro."
"Siang Tetsuya. Ada apa kau tiba – tiba menelponku? Tidak seperti biasanya." Tanpa basa – basi, Mayuzumi bertanya kepada Tetsuya.
"Aku ingin meminta pendapatmu mengenai suatu hal. Apa paman dan bibi baik – baik saja? Ibu berpesan kalau Ia akan membawakanmu manisan saat kau berkunjung kemari tiga minggu lagi."
"Mereka baik – baik saja. Ibuku juga akan membawakan Kusaya saat Aku kesana. Memangnya kau mau bertanya tentang hal apa?"
Kuroko lalu mengambil napas dan menghembuskannya secara perlahan. "Ini mengenai hal cinta."
"Tetsuya, Aku tidak akan meladenimu kalau kau hanya mau meminta pendapatku apakah kau harus mengutarakan perasaanmu atau tidak. Aku sudah cukup banyak mendengar itu waktu SMP."
"Bukan Aku yang jatuh cinta tetapi temanku. Awalnya Ia tertarik denganku, setelah itu Ia mulai berusaha mencari segala informasi mengenai diriku. Dan sekitar sebulan yang lalu Ia menyatakan perasaannya padaku."
"…"
Kuroko tiba – tiba merasa sepi. "Kak Chihiro?"
"Apa Ia baru kau kenal saat SMA?"
"Benar. Ia mengenalku lebih dulu lalu Ia menjadi tiba – tiba suka mengikutiku dan mengatakan kalau diriku menarik. Akibatnya, Aku juga menjadi tertarik karena Aku ingin tahu kenapa Ia menganggap diriku menarik."
Mayuzumi lalu mengeluarkan tawa kecil. "Oh, Aku hanya sedikit kaget. Ternyata ada juga perempuan dengan tipe agresif yang tertarik padamu. Lalu apa masalahnya?"
Kuroko lalu diam sejenak. "Benar, dia teman SMA-ku yang aneh. Dia bisa sadar kehadiranku, bisa membaca pikiranku, suka memerintahku, dan suka mengambil foto diriku. Tetapi dia itu laki – laki, bukan perempuan. Kemudian masalahnya adalah setelah menyatakan perasaannya, Aku merasa canggung tetapi Ia bersikap seperti dirinya belum menyatakan perasaannya. Aku juga sudah mengatakan padanya kalau Aku tidak mepunyai perasaan yang sama dan hanya menganggapnya teman, tetapi Ia tidak melakukan apa – apa. Ia sering mengatakan kalau dirinya mutlak tetapi Ia tidak menyuruhku untuk membalas perasaannya. Dan seperti yang kau duga, dia itu agresif. Oleh karena itu, Aku bingung kenapa tidak ada reaksi lebih lanjut. Ia mengatakan kalau Aku membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memikirkan hal tersebut tetapi dia tidak pernah lagi mengungkit – ungkit hal tersebut."
"Hm sejujurnya, menurutku kenyataan bahwa dirinya adalah laki – laki juga bermasalah. Apa kau yakin kalau Ia merasakan hal romantis terhadapmu, bukan karena terobsesi dengan keanehanmu?"
Kuroko lalu mengingat kembali malam kembang api yang selalu membuat jantungnya sedikit berdetak lebih cepat. "Dia mengatakan dengan jelas kalau Ia menyukaiku sama seperti laki – laki yang menyukai perempuan. Dan Aku tidak aneh, Kak Chihiro."
Mayuzumi lalu terdiam untuk memikirkan apa yang baru saja dikatakan Kuroko.
"Aku punya dua hal untukmu. Pertama, Ia sudah menyerangmu dengan menyatakan perasaannya. Karena kau menganggap dirinya sebagai teman, tentu kau akan merasa canggung dengan hal tersebut. Kau menjadi semakin peka terhadap kehadiran dan perasaannya. Awalnya, kau hanya menganggapnya sebagai teman yang berbeda, tetapi sekarang kau menganggapnya sebagai teman yang suka kepadamu atau teman yang menganggapmu spesial. Itu sama saja dengan Ia menambah nilai positif terhadap dirinya karena sekarang kau tahu kalau Ia membutuhkanmu. Manusia adalah mahluk sosial, jadi merupakan suatu hal yang wajar kalau kau merasa senang saat ada orang lain yang membutuhkan dirimu."
Mayuzumi lalu membersihkan tenggorokannya. "Kedua, Ia memintamu untuk memikirkan hal tersebut lebih lama lagi. Itu sama saja Ia meminta dirimu untuk lebih sering memikirkan dirinya. Ia seperti membuat dirimu menyiapkan ruang dalam otakmu, khusus untuk dirinya. Apalagi, dirimu juga sudah mempunyai perasaan tertarik padanya."
"Jadi, sekarang Ia sedang menunggumu. Ia sedang melihat dampak dari serangannya. Kemudian Ia akan memikirkan serangan berikutnya berdasarkan reaksi yang kau berikan. Atau mungkin Ia sudah memprediksi reaksimu."
Kuroko lalu termenung sebentar. Ia sekarang sedang membayangkan dirinya sedang berduel dengan Akashi. Kuroko mulai kewalahan dengan serangan Akashi yang dilakukan terus – menerus tetapi Kuroko terus bertahan dengan tameng yang dipegangnya. "Hm, jadi dia sebenarnya belum menyerah. Dan itu artinya dia tidak tersinggung dengan jawabanku, kan? Aku ingin tetap berteman baik dengannya."
"Iya, dia tidak tersinggung. Kurasa Ia sudah menduga jawabanmu itu."
"Kurasa sekarang Aku mulai bisa mengerti apa yang dilakukannya. Kalau begitu, Aku bisa bersikap seperti biasanya tanpa harus merasa tidak enak dengannya."
"Kau tidak perlu memikirkannya terus – menerus dan bersikaplah seperti teman biasa baginya. Ia tidak seharusnya mendapatkan perhatianmu terus. Dan sepertinya Aku ingin bertemu dengannya Tetsuya."
Kuroko lalu merasa heran. "Kenapa Kak Chihiro mau bertemu?"
"Aku penasaran dengan orang yang mendekati Tetsuya. Aku ingin tahu laki – laki seperti apa dia."
"Baiklah, Aku akan mengajaknya belajar bersama saat kau ada di Tokyo." Kuroko lalu berencana ingin mengakhiri pembicaraan tetapi tiba – tiba ada suatu pemikiran yang muncul dalam benak Kuroko. "Oh ya, Kak Chihiro. Kenapa kau bisa dengan mudah menerima permintaanku? Bukankah kau sangat pemilih dalam memilih masalah mana yang mau kau pikirkan."
"Aku memang tertarik dengan situasimu dan Aku juga penasaran dengan orang yang tertarik denganmu dan membuat Tetsuya bingung." Kuroko merasa kalau Mayuzumi menjawabnya dengan sedikit tersenyum.
Kuroko lalu menghembuskan napas kesal. "Kak Chihiro pasti merasa penasaran karena menganggapku aneh. Tolong jangan berpikir seperti itu."
Mayuzumi lalu tertawa mendengar perkataan Kuroko. "Oh ya, siapa nama orang itu Tetsuya?"
"Akashi Seijuurou."
oOo
Seminggu kemudian di suatu hari yang terlihat muram karena jatuhnya air hujan ke tanah, Akashi dan Kuroko berdiam diri di suatu teras bangunan untuk berteduh dari hujan. Hari ini Akashi kembali mengantarkan Kuroko ke rumahnya. Jas sekolah mereka basah kuyup akibat hujan yang tiba – tiba semakin besar. Mereka berdua tidak membawa payung karena ramalan cuaca tidak mengatakan adanya hujan. Pantas saja, pada hari ini Midorima mendapat lucky item berupa payung berwarna ungu dengan motif kelopak bunga sakura. Hujan rintik – rintik mulai terjadi saat mereka keluar dari sekolah. Mereka terus maju menghadang hujan dengan berjalan cepat dan menutup kepala dengan tas. Tetapi di tengah jalan hujan membesar menjadi hujan deras. Dengan terpaksa mereka berteduh di suatu tempat sampai hujan mereda.
Akashi dan Kuroko mengeluarkan sapu tangan mereka untuk mengelap wajah dan rambut mereka. Kuroko lalu memandang jas Akashi yang cukup basah. "Akashi-kun seharusnya mendengarkanku dan langsung pulang ke rumah. Dengan begitu kau tidak akan terjebak bersamaku disini. Kalau seperti ini, bajumu bisa basah sampai ke bagian dalam."
Akashi lalu meraba bagian jas Kuroko yang basah. "Kita tidak bisa sering pulang bersama jadi Aku akan tetap melakukannya walaupun di hari hujan. Dan kau juga mengalami hal yang sama Tetsuya. Kau bisa sakit kalau tubuhmu benar – benar basah dan mendingin."
"Jarak rumahku masih cukup jauh dan hujannya jadi semakin lebat, kita tidak bisa langsung lari begitu saja. Akashi-kun sebaiknya berhenti dulu di rumahku untuk mengeringkan pakaianmu."
"Tidak ada salahnya menunggu sampai hujan ini menjadi lebih tenang." Akashi lalu memeriksa bagian dalam tasnya untuk melihat ada bagian yang basah atau tidak.
Setelah selesai dengan kegiatannya masing – masing, Akashi dan Kuroko mulai terdiam sambil menunggu hujan. Tetapi sepertinya hujan masih ingin terus membasahi tanah dengan lebatnya.
Kuroko lalu menoleh ke samping dan memecah keheningan diantara mereka. "Akashi-kun bagaimana kalau kita melakukan sesuatu sambil menunggu hujan ini?"
"Aku tidak masalah dengan itu. Memangnya Tetsuya ingin melakukan apa?" Akashi merasa sedikit penasaran dengan apa yang akan ditawarkan oleh Kuroko.
"Bagaimana kalau salah satu dari kita menceritakan sesuatu? Ceritanya boleh apa saja. Pengalaman sendiri, pengalaman orang lain, cerita buatan sendiri, cerita dari buku, abstrak, atau dongeng yang diberi perubahan juga boleh. Genre-nya juga boleh apa saja, tetapi cerita tersebut harus sesuai dengan umur kita."
"Hm, baiklah. Itu mudah." Akashi mengangguk setuju pada saran Kuroko. "Dan supaya lebih menarik, kita bisa meminta satu hal yang harus ada dalam cerita tersebut. Orang yang bercerita adalah orang yang kalah dalam suit."
Kuroko kemudian memikirkan ide Akashi. "Um, usulan diterima. Kita tetap bisa membuat cerita apa saja dengan hal tersebut."
Mereka berdua lalu mulai melakukan suit dan seperti biasa Akashi menang. Kuroko belum pernah menang dalam beradu suit dengan Akashi.
"Akashi-kun, kurasa Aku akan memikirkan metode lain selain suit yang bisa kita lakukan untuk menentukan giliran. Aku merasa kalau Akashi-kun tidak akan pernah kalah dalam suit."
"Tetsuya boleh berpikir kreatif dalam hal tersebut. Aku memang perlu berbagai cara untuk menunjukan kemutlakanku." Akashi memandang Kuroko sambil tersenyum.
"Baiklah, Akashi-kun minta apa?"
Akashi kemudian menyilangkan tangannya di dada dan mulai berpikir. "Ok, um… hal itu adalah…" Akashi lalu tersenyum lagi. "Kuroko Tetsuya"
"Hah… Akashi-kun memang tidak pernah bosan denganku." Kuroko menatap Akashi dengan wajah datar.
Akashi lalu dengan cepat mencubit pipi Kuroko. "Dan kau sudah tahu alasannya Tetsuya." Akashi segera melepas tangannya sebelum Kuroko menggerutu. Entah kenapa saat ini Akashi sedang gemar mencubit Kuroko.
"Akashi-kun tidak boleh nakal." Kuroko lalu mengelus pipinya yang baru saja dicubit Akashi. "Baiklah, Aku akan diam sebentar untuk memikirkan ceritanya."
Kuroko lalu diam selama lima menit. Setelah itu Ia membersihkan tenggorokannya dan memulai ceritanya.
…..
...
Pada suatu hari hiduplah seorang anak laki – laki di salah satu wilayah yang terkenal di Jepang. Anak tersebut memiliki penampilan yang biasa seperti penduduk Jepang lainnya. Keluarga dari anak tersebut juga biasa – biasa saja dan tinggal di rumah yang sederhana. Oleh karena itu, anak tersebut tidak menarik perhatian banyak orang.
Anak laki – laki tersebut tidak memiliki banyak teman tetapi Ia memiliki teman – teman yang benar – benar peduli dengannya. Anak tersebut lebih sering menghabiskan waktunya sendiri karena Ia memang tidak menarik perhatian orang – orang di sekitarnya.
Suatu hari anak laki – laki tersebut duduk sendirian sambil memandangi ladang bunga di depannya. Anak tersebut sangat menghargai keindahan dari bunga sampai akhirnya Ia menyadari suatu keanehan. Bayangan yang ada dibawahnya mempunyai sikap yang berbeda dengannya. Arah bayangan tersebut juga tidak berlawanan dengan arah sinar matahari.
Anak laki – laki tersebut diam sebentar dan memutuskan untuk bertanya. "Wahai bayangan, kenapa kau bersembunyi di bayanganku?"
Bayangan tersebut tetap terdiam.
Anak itu lalu bertanya lagi. "Wahai bayangan, apa kau tidak bisa berbicara?"
Bayangan itu lalu menggerakan tangannya dan menuliskan sesuatu dengan jari telunjuknya. Setelah itu terlihat kata dalam bentuk banyangan di tanah. Kata itu adalah [Benar].
Anak itu merasa terkejut melihat bayangannya bergerak sendiri. Ia juga terkesan dengan cara bayangan tersebut berkomunikasi. "Setidaknya kau bisa berkomunikasi denganku. Jadi, kenapa kau bersembunyi di bayanganku?"
Bayangan itu lalu menulis. [Aku tidak pernah bersembunyi. Aku selalu berada di dekatmu dan Aku adalah bayanganmu. Kau hanya tidak pernah menyadarinya.]
Anak itu kembali terkejut. Ia tidak pernah menyangka kalau bayangannya memang bisa bergerak sendiri. Ia menjadi teringat dengan salah satu cerita mengenai seorang anak laki – laki yang menjahit banyangannya pada kakinya sendiri agar bayangan tersebut tidak pergi dari dirinya.
"Apa semua bayangan bisa bergerak sendiri? Lalu apa kau bisa berpisah dari tubuhku?"
[Tidak. Aku bisa bergerak karena kau itu spesial. Aku juga bisa berpisah dari tubuhmu tetapi kalau itu terlalu jauh, Aku mungkin bisa tersesat. Oleh karena itu, Aku selalu mengikutimu.]
Anak itu menatap bayangannya dengan heran. "Hm, kurasa Aku menjadi spesial karena bayanganku bisa bergerak sendiri. Baiklah, Aku tidak keberatan. Walaupun kau benar – benar membuatku terkejut tadi."
[Kita berdua memang spesial dan kau tidak terlihat terkejut.]
Semenjak itu anak laki – laki tersebut tidak pernah merasa sendiri. Kemanapun anak itu pergi, Banyangan akan ikut. Kemanapun tempat yang ingin dikunjungi Bayangan, anak itu juga akan menuruti keinginannya. Anak tersebut juga memutuskan untuk memperkenalkan bayangan kepada teman – teman baiknya. Teman – temannya tentu saja merasa kaget melihat Bayangan yang tiba – tiba mendekat dan menyapa mereka. Pada akhirnya mereka semua bisa berteman dengan baik.
…
...
Akashi tiba – tiba memberikan komentar. "Tetsuya, pemerintah Jepang tidak akan tinggal diam kalau ada bayangan yang bisa bergerak sendiri. Bagaimana bisa bayangan itu tetap ada disana?"
"Akashi-kun, karena ini adalah ceritaku maka pemerintah Jepang menuruti kemauanku. Selain itu, bayangan tersebut menjaga sikap dan rahasianya dari lingkungan sekitar." Kuroko lalu melanjutkan lagi ceritanya
…..
...
Setelah beberapa waktu berlalu, anak laki – laki tersebut tidak lagi memandang Bayangan sebagai bayangan miliknya melainkan sebagai salah satu temannya. Pada suatu malam Anak Laki – Laki dan Bayangan duduk di kamar sambil memandangi bulan penuh yang bersinar dengan terang. Sambil memandangi bulan, anak Laki – Laki lalu bertanya.
"Jika kita berada di tempat yang gelap, apa kau akan menghilang?"
[Tidak. Aku bisa berpisah denganmu jadi Aku akan pergi ke bagian yang terang. Tetapi jika tempat tersebut benar – benar gelap, Aku akan bergabung dengan kegelapan yang ada lalu muncul lagi setelah kau berada di tempat yang terang.]
"Jadi, kau tidak akan bisa menghilang? Maksudku menghilang dari dunia ini."
[Aku bisa menghilang jika kau sudah tidak ada lagi. Tetapi, sebenarnya Aku tetap bisa berkelana di dunia sebagai suatu bayangan tanpa pemilik. Hanya saja kehidupan seperti itu akan terasa sangat sepi.]
"Tetapi kau bisa mencari teman yang baru jika Aku sudah tidak ada."
[Tidak. Mereka akan menganggapku sebagai hantu lalu lari dari diriku. Cuma kau yang bisa menerimaku dengan tenang dan apa adanya karena Aku adalah bayanganmu.]
Anak laki – laki itu lalu terdiam sejenak sambil memandangi bayangannya yang gelap. Setelah itu, anak tersebut menghentikan pembicaraannya dan kembali menikmati pemandangan bulan diatas.
Delapan bulan kemudian datanglah seorang pria di kota tempat Anak Laki – Laki tinggal. Pria itu lalu bekerja di salah satu tempat makan cepat saji di kota tersebut.
Pada musim semi yang cerah Anak Laki – Laki dan Bayangan pergi ke ladang bunga kecil dimana Anak Laki – Laki menyadari keanehan bayangannya. Saat itu tidak ada orang lain yang datang ke tempat tersebut. Tempat tersebut memang terpencil dan tidak banyak orang yang tahu.
Ketika mereka berdua sedang main kejar – kejaran, tiba – tiba terdapat bola api yang ditembakan ke arah Bayangan. Bayangan yang menyadari serangan itu langsung menghindar. Dari arah tembakan terlihat ada seorang pria dan Ia adalah pendatang baru di kota tersebut. Pria tersebut lalu mengeluarkan suatu kertas dan mengarahkannya pada Bayangan. Anak Laki – Laki segera menarik Bayangan ke samping dan lolos dari serangan tersebut.
Pria itu lalu mengatakan bahwa Bayangan adalah siluman yang menyamar menjadi bayangan dan menipu Anak Laki – Laki tersebut. Anak Laki – Laki tidak mempercayai perkataan pria tersebut. Kemudian pria tersebut memberikan cermin ajaib pada Anak Laki – Laki untuk mengungkap identitas sebenarnya dari Bayangan. Sinar matahari yang dipantulkan dari cermin itu bisa digunakan untuk membuka segala penyamaran yang dilakukan siluman. Anak Laki – Laki kemudian meminta pendapat pada teman bayangannya karena Ia merasa bahwa pria tersebut tidak berbohong. Bayangan mengatakan bahwa Ia percaya dengan Anak Laki – Laki dan memintanya untuk mencoba cara yang diutarakan oleh si pria.
Anak Laki – Laki lalu menyinari tubuh Bayangan dan beberapa detik kemudian kegelapan yang dimiliki Bayangan mulai memudar. Anak Laki – Laki itu merasa kaget dengan apa yang dilihatnya. Ia lalu menyinari semua bagian tubuh Bayangan dengan sinar matahari dan beberapa lama kemudian terlihat sesosok anak laki – laki dengan kimono putih yang memiliki corak biru muda di bagian kakinya. Sosok itu juga memakai haori dan obi berwarna hitam. Pada bagian kepala terdapat dua tanduk kecil dan corak merah pada bagian wajahnya.
"Jadi, selama ini kau menipuku, Bayangan?"
Bayangan lalu menjawab, "Benar. Selama ini Aku selalu menyembunyikan jati diriku yang sebenarnya. Tetapi Aku tidak pernah berniat membunuh dan memakanmu."
Anak Laki – Laki lalu meninggikan suaranya. "Kalau begitu, kau tidak perlu berbohong. Aku tetap mau bersamamu meski kau itu siluman."
"Aku tidak bisa terus bersamamu dengan wujud seperti ini. Kalau Aku adalah bayangan, Aku bisa ikut kemana saja kakimu melangkah. Bahkan kau bisa mengenalkanku pada teman – temanmu."
Pria itu lalu maju ke depan dan mengambil kertas mantra. "Kurasa pembicaraan kita sudah selesai. Aku akan segera memurnikan dan memusnahkannya."
Anak Laki – Laki lalu maju ke depan pria itu. "Tunggu sebentar! Kau tidak bisa berbuat begitu. Dia tidak bermaksud jahat."
"Aku tidak menerima kabar ada kematian yang aneh di kota ini jadi siluman ini pasti belum makan dalam waktu yang lama. Ia terus memperhatikan dirimu dan menunggu saat yang tepat untuk memakanmu. Aku tidak akan membiarkan mahluk kelaparan ini berjalan bebas." Pria itu lalu menyerang Anak Laki – Laki dan membuatnya tidak sadarkan diri.
Beberapa jam kemudian Anak Laki – Laki siuman dan mendapatkan Bayangan duduk disamping dirinya yang sedang berbaring di tempat tidur yang ada di rumah. Setelah itu Anak – Anak Laki tahu kalau pria itu sudah memurnikan Bayangan. Pada saat matahari terbit Bayangan akan kembali ke tempat Ia lahir lalu tidur untuk waktu yang sangat lama sampai Ia bisa bangun lagi. Setelah bangun, Bayangan tidak bisa memakan manusia lagi dan Ia hanya menjadi hantu tanpa kekuatan yang berkelana di dunia manusia sampai ada yang mengirimnya ke tempat penghakiman.
Anak Laki – Laki lalu mulai menangis karena Ia tidak bisa bersama dengan Bayangan lagi. "Jelaskan dirimu! Aku tidak mau kau pergi tanpa menjelaskan apapun."
Bayangan bercerita bahwa Ia sudah hidup selama berabad – abad sebagai siluman bayangan. Bayangan yang ditakuti oleh siluman lainnya merasa sangat kesepian dan bosan karena dirinya selalu dihindari. Setelah itu Ia mulai memilih – milih manusia yang akan jadi makanannya. Seabad kemudian Bayangan melihat anak laki – laki yang berumur lima tahun. Saat itu Ia sudah tidak makan selama dua puluh tahun dan memutuskan untuk menjadikan Anak Laki – Laki sebagai makanannya. Bayangan menunggu Anak Laki – Laki tumbuh besar dan rasa sukanya pada anak tersebut bertambah. Ia tidak lagi ingin memakannya, Ia ingin hidup bersama anak tersebut.
"Semakin lama Aku melihatmu, Aku semakin tahu kalau Aku hanya mau memakanmu. Tetapi Aku juga mau hidup bersamamu. Akhirnya Aku memutuskan untuk tidak memakanmu. Beberapa tahun kemudian, Aku mulai sadar bahwa sebentar lagi kekuatanku akan habis seluruhnya lalu Aku akan menghilang. Maka Aku memutuskan untuk membuatmu sadar dengan keberadaanku. Dan saat itu Aku merasa sangat bersyukur karena telah memilihmu. Kau berhasil menghapus kesepian dan kebosanan yang kurasakan." Bayangan tersenyum ramah pada Anak Laki – Laki.
Anak Laki – Laki lalu menangis. Ia tidak mau Bayangan pergi meninggalkannya. Anak Laki – Laki kemudian segera bergerak menuju meja belajarnya dan membuka lacinya lalu mengambil sebuah buku.
"Ini buku diary yang kutulis setiap hari. Aku memang selalu menyuruhmu keluar saat Aku menulisnya dan melarangmu untuk membacanya. Tetapi, sekarang Aku ingin kau membawanya. Lalu di dalam diary ini Aku tidak memanggilmu dengan sebutan Bayangan dan memberimu sebuah nama."
Bayangan segera membuka buku tersebut dan membaca halaman pertama.
[Ini adalah buku yang bertuliskan kehidupan seorang anak laki – laki bersama bayangannya yang bisa bergerak sendiri. Bayangan itu diberi nama Seijuurou.]
[Penulis, Kuroko Tetsuya]
…
...
Kuroko mengambil botol berisi air dari tasnya lalu meminum isinya. Setelah minum, Kuroko kembali menatap Akashi. "Akashi-kun ceritanya sudah selesai."
Akashi lalu memberikan komentar. "Hm, Aku kurang begitu suka dengan akhirnya karena mereka tidak bisa bersama lebih lama lagi. Dan itu terjadi karena kau menjadikanku sebagai siluman bayangan. Kau bisa menjadikanku sebagai siluman yang lebih kuat dan Aku akan mencari cara agar bisa hidup terus bersamamu."
Kuroko lalu mengeluarkan napas panjang. "Hah… itu tidak penting Akashi-kun. Cerita ini terpikirkan olehku karena setelah kita bertemu untuk pertama kalinya, Aku mengira kalau Akashi-kun itu mirip denganku, bisa muncul dimana saja dan kapan saja karena Aku tidak menyadarinya. Kau seperti bayangan yang selalu menempel."
Akashi lalu tersenyum kepada Kuroko. "Menurut cerita tersebut, Tetsuya tidak ingin berpisah dengan diriku?"
"Tentu saja, Aku ingin menjadi teman yang baik untuk Akashi-kun. Walaupun Akashi-kun itu aneh, suka mengajak ribut, dan suka mengganggu privasiku. Aku akan merasa ada yang janggal jika Akashi-kun menjauh lalu menghilang. Akashi-kun sudah membuatku terbiasa dengan kehadiranmu. Mungkin Aku akan merasa aneh kalau kau tiba – tiba tidak masuk sekolah tanpa Aku mengetahui alasannya."
Kuroko lalu melihat sedikit rona merah pada wajah Akashi. Kuroko belum pernah melihat Akashi yang tersipu malu sebelumnya. 'Jangan – jangan Akashi-kun mulai demam akibat hujan.'
"Aku merasa sangat senang mendengar apa yang kau katakan Tetsuya. Tetapi seperti yang kau tahu, Aku sudah menyatakan perasaanku padamu sehingga Aku tidak hanya ingin Tetsuya menjadi teman baik. Aku juga ingin dirimu merasakan ketertarikan yang lebih pada diriku."
"Aku menyukaimu Tetsuya. Sama seperti laki – laki yang menyukai perempuan dan ingin menjadikannya kekasih." Akashi kembali mengulangi perkataannya dengan sikap yang tenang.
"Bum… Piiiii… Duaaar!"
"Walaupun perasaanku mungkin belum sebesar perasaan cinta yang dimiliki orang tuamu tetapi Aku tahu kalau apa yang Aku rasakan ini adalah awal dari perasaan cinta itu." Akashi lalu mengambil telapak tangan kanan Kuroko dan menekankannya di dada kiri Akashi.
"Bum… Piiiii… Duaaar!"
Kuroko bisa merasakan ada denyut dari jantung yang berpacu dengan cepat. Mata kuroko sedikit membesar karena terkejut dengan apa yang dirasakannya. Jantungnya bisa berdetak dengan kencang tetapi, Wajah Akashi terlihat tenang dan napasnya juga terasa tenang.
Perlahan – lahan Kuroko merasakan ada hawa panas yang mulai menjalar ditubuhnya. Jantungnya juga mulai berdetak lebih kencang. Setelah mengalami perubahan pada dirinya. Kuroko segera menarik kembali tangannya lalu menundukan kepala. Ia bisa merasakan rasa panas di telapak tangan kanannya.
Kuroko lalu kembali mengingat apa yang terjadi pada pesta kembang api. Dan sekali lagi Kuroko merasa kalau frekuensi detak jantungnya meningkat. Kuroko segera mengalihkan pandangannya dari mata Akashi. Ia merasa kalau Ia tidak bisa menatapnya lebih lama lagi.
"Tapi saat ini hanya sebesar itu perasaan yang bisa kujanjikan. Aku tidak bisa menjanjikan yang lebih besar dari itu." Sekarang giliran Kuroko yang tersipu malu.
Akashi lalu mengelus kepala Kuroko. "Tenang saja, Aku akan membuatnya jadi lebih besar sampai Tetsuya benar – benar kebingungan dengan ukurannya." Tangan Akashi tetap mengelus – elus kepala Kuroko.
Kuroko lalu mengambil tangan Akashi yang ada di kepalanya kemudian dilepas. "Jangan lakukan itu Akashi-kun. Aku merasa kalau kau menganggapku sebagai anak kecil."
"Perasaanmu kepadaku memang masih dalam tingkat anak kecil, Tetsuya."
Kuroko lalu memberikan sedikit ekspresi kesal. "Huh, Akashi-kun sok dewasa." Kuroko lalu mengarahkan pandangannya ke jalan. "Hm, hujannya ternyata masih cukup deras. Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Tetsuya, bagaimana kalau sekarang Aku yang bercerita? Aku bisa menceritakan apapun yang kau mau. Tetapi, tentu saja dengan gayaku sendiri."
Kuroko lalu kembali teringat dengan reaksi Kise yang benar – benar ketakutan setelah mendengar cerita dari Akashi. Kuroko merasa penasaran dengan cerita tersebut tetapi Kise tidak mau menceritakannya kepada orang lain.
'Hm, kurasa Aku harus memikirkan tawarannya dengan benar.'
.
.
.
Author Message:
Ya ampun, akhirnya bisa dikeluarin juga chapter ini. Maaf ya, karena satu hal dan lain hal, Author jadi mangkir dulu dari dunia fanfic dan cuma mampir sekali – kali. Bagi yang lupa cerita sebelumnya, mungkin bisa dibaca lagi, he he he (Chapter sebelumnya banyak banget! Hina aja Author-nya!). Jadi, sekali lagi, mohon maaf banget!
Dan makasih bagi yang udah mau lanjut baca! Sampai bertemu di chapter selanjutnya!
*Jika ada typo, bisa langsung beritahu.
*Jangan lupa review-nya, saran & kritik pasti diterima
