"T-Tunggu dulu Yunho! Kenapa kita malah berjalan kembali ke parkiran? Lima menit lagi upacara penerimaan siswa baru akan dimulai!" protes Changmin saat dirinya ditarik oleh Yunho kembali ke arah tempat parkir mobil.
"Sudah, ikut aku saja. Aku akan memberikan hadiahmu sekarang." ucap Yunho sambil mendorong Changmin untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Y-Yah! Kau mau membawaku kemana, ahjussi!"
.
.
Sebut aku pedophilia kalau kalian semua mau.
Aku mengakuinya karena aku mencintai—amat mencintai namja yang berusia separuh hidupku
.
Ya, aku, Jung Yunho, tak peduli menjadi Pedophilia jika itu berhubungan denganmu, Shim Changmin.
.
.
.
Ela-ShimSparCloud a.k.a Ela Ela Changminnie presents
An Alternate Universe fanfiction
"Pedophilia" ch 14
Pairing : HoMin (Jung Yunho X Shim Changmin)
Slight YooSu
Rate : T
Length : 14 of ?
Desclaimer : They're belongs to GOD, themselves and DBSK
Warn : TYPO's, story yang amburadul, ALUR LAMBAT dan tidak jelas, Mpreg for Junsu, Old!Yun, Young and Innocent!Min
.
.oOHoMinOo.
.
Changmin mempoutkan bibir plumpnya sambil menggerutu dengan suara-suara pelan. Sepasang tangannya kini bersedekap membentuk pose defensif ketika Yunho diam saja dan tak menjawab pertanyaannya sedari tadi.
"Yah! Ahjussi! Kau mau membawaku kemana sih?" kesal Changmin yang entah sudah keberapa kalinya, menanyakan pertanyaan ini pada Yunho.
"..."
Changmin kembali menggerutu kesal karena Yunho masih saja diam dan tak menjawab pertanyaannya. Sudah lima belas menit berlalu, namun sedari tadi Yunho tak mengucapkan sepatah katapun kepadanya.
Dan Changmin merasa dirinya sangat bodoh karena saat ini ia merasa dadanya terasa sesak karena Yunho tak mempedulikannya. Ia tak tahu apa yang salah pada dirinya, tapi sekarang ini yang ia tahu hanya Yunho lah satu-satunya penopangnya untuk tetap kuat dan tegar menjalani hidupnya. Ia, secara psikis, bisa dibilang bergantung sepenuhnya pada Yunho... dan kenyataan kalau kini Yunho—satu-satunya oarang yang penting dalam hidupnya— tak mengindahkan dirinya... membuatnya jadi merasa...
"...hiks..."
CKIIIIIIIIIIT!
Yunho secara refleks langsung menekan pedal remnya saat mendengar sebuah isakan dari arah sebelahnya. Dan kedua mata musang Yunho membulat lebar saat ia mendapati kalau kini pipi kanan Changmin basah karena air mata yang mulai mengalir.
Yunho langsung melepas seatbeltnya dan meraih tubuh Changmin ke dalam pelukan hangatnya."Sshhh... It's ok, Changminnie. It's ok. Aku ada di sini, Minnie." bisik Yunho sambil mengelus-elus punggung Changmin yang kini bergetar.
Yunho merasa bersalah. Sungguh, bukan maksudnya sama sekali untuk membuat kekasihnya itu menangis. Awalnya ia hanya ingin membuat Changmin penasaran setengah mati dengan mendiamkannya, namun ia sungguh tak menyangka kalau reaksi Changmin akan seekstreem ini.
"..aku lagi.."
"Hmm? Kau bilang apa tadi, Changminnie? Aku tak bisa mendengarmu dengan jelas." tanya Yunho saat ia hanya bisa mendengar gumaman terakhir Changmin.
Changmin menghapus air matanya dengan kasar, dan mendorong tubuh Yunho agarmereka bisa berhadapan secara langsung. "Aku bilang... jangan berani-berani kau mendiamkan aku lagi!"
Yunho hampir saja tak bisa menahan tawanya saat mendengar kalimat yang di lontarkan Changmin. Namja itu memerintahnya dengan wajah yang masih basah karena air mata? Aigoo~ kekasihnya itu memang sangat menggemaskan~!
"Ne, ne. Arrasseo. Tapi kau jangan menangis lagi, Ok? Kau membuatku jadi semakin ingin 'memakanmu' saja kalau kau terlihat helpless begitu."
Changmin langsung mendorong Yunho kuat-kuat begitu kalimat itu selesai terucap. "Yah! Ahjussi mesum!" seru Changmin dengan wajah memerah.
"Hanya padamu~" sahut Yunho dengan santai. Ia akhirnya kembali memasang seatbeltnya, dan menjalankan mobilnya lagi. Konsentrasinya kembali terfokus pada kegiatan mengemudi karena jalanan sudah mulai ramai kembali.
"Yah! Jangan mendiamkanku lagi!"
.
..
..tidak bisa..
Kali ini Jung Yunho tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia tertawa dengan sangat keras melihat wajah Changmin yang merajuk seperti itu hanya karena ia tak berbicara sebentar.
"Aigooo~ Changminnie, kau ini memang benar-benar minta kumakan ternyata."
.
.oOHoMinOo.
.
"Kenapa kita pulang?" tanya Changmin langsung begitu mereka tiba di gedung apartement mereka.
"Ya, tentu saja karena hadiahmu itu aku siapkan di rumah. Katanya kau itu jenius, tapi kenapa hal semudah ini saja kau tak tahu jawabannya?" ucap Yunho sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sok prihatin.
"Yah! Berhenti menggodaku terus-menerus!" seru Changmin sambil berjalan cepat meninggalkan Yunho. "JungYunhomenyebalkan! JungYunhomenyebalkan! JungYunhomenyebalkan!" gerutunya sambil melangkah ke arah lift.
Yunho hanya tertawa kecil mendengarkan gerutuan manis dari kekasihnya itu. Yah, selama namanya di dendangkan oleh suara indah Changmin, Yunho tak masalah tuh.
"Yah! JungYunhomenyebalkan! Ayo cepat masuk ke lift!"
Bahkan meskipun Changmin meneriakinya, asalkan namanya terus meluncur dari sepasang bibir itu, Yunho akan terus merasa senang~
.
.oOHoMinOo.
.
"Bukan disitu, Minnie. Tapi hadiahmu ada di sebelah." ucap Yunho tiba-tiba—membuat tangan Changmin yang sudah akan menekan kombinasi angka jadi terhenti di udara.
"Di... sebelah..?" tanya Changmin sambil menatap Yunho dengan bingung.
Dan demi apapun juga, Yunho harus menahan dirinya untuk tidak memakan kekasih manisnya itu saat ia tengah memasang wajah bingungnya yang amat-sangat-manis-sekali-dan-menggoda-iman itu!
Namun pikiran itu langsung menghilang dengan sendirinya saat sepasang iris bening itu membiaskan rasa sedih saat melihat ke arah pintu apartement yang dulunya adalah rumahnya. Sebelum... sebelum saat itu...
"Gwaenchana, Minnie. Hadiahmu memang kusimpan disana. Nomor kombinasinya 60020101."
Changmin terdiam sebentar, sebelum akhirnya menatap Yunho dengan keraguan yang besar. Namun melihat Yunho yang mengangguk dengan tatapan yang menyemangati, Changmin akhirnya menekan nomor kombinasi itu.
"...Yunho..." bisik Changmin dengan suara yang cukup bergetar. Ia... ia sudah melewati masa-masa itu. Sekarang ini, mungkin ia sudah tak begitu sering menangisi kepergian kedua orangtuanya. Namun... namun kalau sekali lagi ia membuka pintu itu...
Bahkan sekarang ini saja, tangannya yang memegang handle pintu sudah mulai bergetar tanpa bisa ia tahan.
"Sshh.. tenang saja Minnie. Aku percaya kalau kau sudah bisa melalui ini semua. Aku tak ingin kau terus-menerus terbayang dengan semua kenangan menyedihkan itu." bisik Yunho yang kini sudah berada tepat di belakang Changmin, dan membantu namja itu memegang kenop pintu.
Changmin memejamkan matanya rapat-rapat saat ia merasakan tangan Yunho mendorong pintu itu terbuka.
Cklek.
"Minnie, ayo cepat masuk, Umma sudah menyiapkan makanan kesukaanmu."
Air mata kedua Changmin untuk hari itu langsung menetes begitu saja dari matanya yang masih terpejam erat.
Tidak bisa... bahkan hanya dengan membuka pintu ini saja, kenangan akan kedua orang tuanya langsung menyeruak masuk memenuhi kepalanya. Kenangan akan Ummanya yang akan selalu menyambutnya begitu ia masuk ke dalam rumah...
"...Umma..hiks..." gumam Changmin dalam isakannya.
Tidak bisa... ia tidak bisa kalau ia harus melalui ini sekarang.
Ia... belum siap. Ia masih merasa hatinya belum sekuat itu untuk kembali memasuki rumah yang penuh dengan kenangan akan kedua orang tuanya.. ia... masih belum sanggup... dan mungkin... tak akan sanggup...
Changmin sudah akan berbalik, namun tak bisa, karena tangan kanan Yunho masih memegang kuat tangannya, dan tubuh Yunho di belakangnya menahan Changmin agar tidak beranjak dari tempatnya.
"...Yunho... kumohon Yunho... aku tak bisa... aku... hiks... aku masih belum sanggup..." lirih Changmin yang merasakan air mata semakin mengalir deras dari kedua matanya yang terpejam erat.
Degg!
Namun tiba-tiba saja tubuh Changmin membeku. Sebuah sentuhan hangat ia rasakan pada pipinya. Sentuhan yang begitu halus, dan begitu lembut mengusap air matanya yang terus mengalir.
"..Minnie.."
Seolah ada aliran listrik yang menjalari tubuhnya, seketika itu juga kelopak mata Changmin yang sedari tadi terpejam itu terbuka dan—
"U-Umma..?"
—dan air mata mengalir semakin deras dari sepasang iris bening itu. Tatapan Changmin terus terpaku pada seraut wajah yang ada di depannya.
Wajah itu...
Suara tadi...
Kehangatan sentuhan ini...
Seolah mengerti kemauan Changmin, genggaman tangan Yunho terlepas begitu saja. Tangan kanan Changmin yang sudah bebas itu terangkat maju ke depan.
Ia... ia ingin menyentuh wajah itu... ia... ingin merasakan lagi lembut kulit yang sering ia kecup setiap pagi sebagai salam...
Namun tangan yang gemetar itu terhenti tepat sebelum ia menyentuhkannya.
"..Yunho... benarkah ini? Benarkah ini bukan hanya ilusiku saja?" tanya Changmin dengan suara yang sangat memelas.
Sudah berkali-kali Changmin memimpikan hal ini... berkali-kali kejadian seperti ini hadir di dalam mimpinya... namun mimpi tetaplah mimpi. Setiap kali Changmin hendak meraih Umma atau Appanya, ia akan langsung terbangun, dan yang bisa ia lakukan hanya menangis dan menangis lebih keras lagi.
Ia... ia tak mau itu kembali terjadi... Itu... itu semua terlalu menyakitkan baginya...
"..Yunho.. Yunho katakan... katakan kalau ini bukan mimpi... Katakan kalau ini memang Ummaku yang berdiri di hadapan kita... kumohon Yunho... kumohon katakan kalau ini—"
"Minnie!" Junsu yang sudah tak bisa lagi menahan dirinya melihat anak semata wayangnya ini menangis mengiba didepannya langsung menerjang dan memeluk putranya dengan erat. "Ini Umma, Minnie. Ini benar-benar Umma..."
Changmin merasakan kalau bendungan air matanya sudah luluh lantak, karena kini air matanya benar-benar mengalir dengan deras dan tak bisa berhenti. Dengan erat ia langsung memeluk tubuh Ummanya, dan tak berniat untuk melepaskannya lagi. "Umma... Umma..." panggil Changmin terus-menerus.
"Umma disini, Minnie. Umma ada disini.." sahut Junsu sambil terus mengelus surai madu putra semata wayangnya yang sudah sangat ia rindukan itu. "Umma ada disini..."
Namun baru sebentar Changmin memeluk Ummanya, namja bertubuh tinggi itu melepaskan pelukannya. "Umma... kalau Umma sudah kembali... Appa..?"
Junsu menghapus air mata yang tanpa ia sadari ikut mengalir melihat putranya itu. Kemudian ia tersenyum maklum dan menoleh ke belakang.
Changmin mengikuti arah pandangan Ummanya, dan menemukan sang Appa yang kini menatapnya dari sofa ruang tengah. "Changmin."
Dan Changmin langsung melesat cepat ke arah Yoochun, dan langsung memeluk Appanya itu dengan erat. "Appa!" serunya sambil menenggelamkan kepalanya pada bahu bidang Appanya.
"Ne, Minnie. Ini Appa. Kami sudah kembali." ucap Yoochun dengan suara huskynya—yang biasanya membuat Changmin tenang, namun kini malah membuat namja bertubuh tinggi itu menangis semakin keras. "Sshhh.. sudah.. sudah..."
.
.oOHoMinOo.
.
Yunho menatap Changmin yang kini tertidur dengan pulas. Tangan Yunho secara refleks menghapuskan titik-titik air mata yang masih saja terkadang mengalir dari sudut mata kekasihnya itu.
"Minnie sudah tidur, Yun?" tanya Junsu yang kini memasuki kamar lama Changmin di rumah mereka.
"Sudah, Su-ie hyung. Baru saja. Tapi lihat saja, meskipun sudah tertidur, tapi ia masih menangis, hyung." ucap Yunho sambil kembali menghapus airmata yang mengalir dari sudut mata kekasihnya itu.
"Sudah, sudah, Yun. Jangan mulai untuk memarahi kami lagi. Sudah cukup sekali saja aku melihatmu mengamuk seperti itu pada kami." ucap Yoochun yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depan pintu kamar lama Changmin yang terbuka. "Masih untung kan, karena kami benar-benar tidak jadi menaiki pesawat itu."
Yunho menghela nafas demi mendengar ucapan Yoochun yang terakhir itu.
"Aku tak tahu harus merasa lega atau marah soal kalian yang tak jadi menaiki pesawat itu dengan alasan sepele." gumam Yunho dengan suara pelan, karena ia tak mau sampai membangunkan kekasihnya yang akhirnya tertidur setelah seharian menangis setiap kali melihat Junsu dan Yoochun. Bahkan tadi namja manis itu ingin tidur di kamar YooSu karena tak mau kalau sampai besok pagi terbangun, ini semua hanyalah mimpi belaka.
"Aku tahu kalau kau merasa lega Yun. Jujur saja."
Suara Yoochun yang penuh tawa itu membuat Yunho mendengus kesal.
"Aku hanya merasa heran saja bagaimana aku bisa sampai mempunyai hyung sepertimu, Yoochun-hyung. Awalnya aku sangat senang saat mendapat kabar dari pegawaiku yang kusuruh melacak keberadaan kalian. Namun kalian tahu, aku merasa sangat konyol saat mendapati kalau kalian malah berlibur di pulau terpencil di lautan Pasifik sana." dengus Yunho dengan kesal.
"Yah, tapi kan aku memang ingin liburan kesana, Yun." tukas Junsu cepat sambil mengerucutkan bibirnya dengan imut.
"Aku tak menyelahkanmu, Su-ie hyung. Aku hanya heran dengan orang yang memiliki ide bertukar tiket pesawat dengan orang lain padahal mereka sudah hampir naik ke dalam pesawat." ucap Yunho dengan nada yang cukup sinis.
Yoochun yang merasa disindir hanya tertawa mendengar kata-kata Yunho. "Itu namanya jenius, Yun. Daripada kami kembali dan membatalkan tiket, cara itu lebih mudah kan? Lagipula orang yang kami tukar tiket itu juga senang karena mereka ingin ke Spanyol." bela Yoochun sambil tertawa.
"Tapi itu bukan berarti kalau kalian bisa menghilang begitu saja tanpa mengabari kami kan? Apa kalian tak tahu betapa menderita dan bersedihnya Changmin saat ia berpikir kalau kalian berdua sudah meninggal?!" kesal Yunho dengan suara yang cukup tinggi.
"..ngghh..."
Emosi Yunho yang tadi meluap-luap langsung menguap entah kemana, dan ia bergumam lembut dengan kata-kata yang menenangkan agar Changmin yang berada di pelukannya itu tidak jadi terbangun.
Pasangan YooSu yang melihat tingkah Yunho itu mengulum senyum senang karena perhatian Yunho kepada anak semata wayang mereka.
Dengan isyarat mata, Yoochun meminta Junsu untuk keluar dari sana bersamanya.
"Kau kan tahu kalau di pulau itu tak ada sinyal dan alat komunikasi internasional." ucap Yoochun tiba-tiba. "Selain itu kami yakin, meskipun ada hal buruk yang membuat Changmin kami menangis, kau pasti akan sanggup membuat Changmin kami bertahan."
Dan dengan kalimat terakhir itu, pasangan YooSu itu keluar, dan meninggalkan mereka.
.
.oOHoMinOo.
.
Tuk..tuk... Tuk..tuk... Tuk..tuk...
Yunho yang sedang berdiam di mobilnya itu mengetuk-ngetuk dashboard mobilnya dengan bosan.
Bosan?
Yah, bukan bosan karena ia menunggu Changmin keluar dari sekolahnya, tapi bosan, karena sudah satu minggu belakangan ini Changmin selalu meminta tidur di kamar lamanya di apartement YooSu.
Yah, sebenarnya tidak salah juga Changmin meminta begitu, Yunho tahu kalau kekasihnya itu masih butuh untuk sering-sering bertemu dengan kedua orang tuanya agar ia yakin bahwa ini semua bukanlah mimpinya atau ilusinya semata.
Tapi bukan berarti Changmin harus setiap hari tidur di kamar lamanya begitu kan?
Kalau Changmin terus meminta tidur disana, bagaimana Yunho bisa melakukan 'eksperimen penjelajahan' pada tubuh kekasihnya itu?
Iiissh, bukan salahnya kalau ia terus-menerus berpikiran hal-hal yang menjurus ke arah sana. Tapi kan, ia sudah pernah menjelajahi tubuh itu sekali, dan bayangan akan hal itu terus berputar-putar di dalam benaknya setiap kali ia menidurkan Changmin dalam pelukannya.
Dan sekali lagi, bukan salahnya juga kan kalau Changmin yang tertidur dalam pelukannya itu terlihat sangat menggoda karena namja itu benar-benar tanpa pertahanan dan pasrah di dalam pelukannya?
Kalau saja mereka berada di dalam apartement miliknya, ia pasti sudah akan melarikan jemarinya ke setiap sudut tubuh Changmin... menyusuri setiap inchi kulit kekasihnya itu dengan bibirnya, dan memberikan kecupan-kecupan kecilnya... dan kalau Changmin terbangun karena aksinya, ia akan bisa melanjutkan dengan melepaskan—
"Yunho-ahjussi! Ayo pulang!" seru Changmin dengan riang—tanpa tahu kalau ia baru saja membuyarkan lamunan mesum kekasihnya itu.
Yunho mengerang dalam hati saat ia merasakan kalau ternyata junior kebanggaannya itu sudah mulai terbangun karena khayalan singkatnya itu.
"Ayo cepat pulang! Aku ingin cepat-cepat melihat Umma di rumah!" ucap Changmin lagi sambil memakai seatbeltnya—membuat Yunho akhirnya mengerang keras karena pemikiran mengenai Changmin yang akan kembali meminta untuk tidur di kamar lamanya itu.
"Uunggg... wae?" tanya Changmin yang cukup bingung mendapati kekasihnya itu memasang wajah kesal. Apa ia baru saja melakukan hal yang salah?
"Aku tak ingin membawamu pulang." ucap Yunho tiba-tiba.
"Eh? Memangnya kenapa?"
"Karena kau pasti akan terus menempel pada Su-ie hyung dan juga Yoochun hyung, dan terakhir, kau pasti akan meminta agar kita tidur lagi di kamarmu yang lama." sahut Yunho dengan lugas.
Changmin terdiam mendengar jawaban Yunho.
"A-apa ada yang salah dengan itu?" tanya Changmin dengan hati-hati. Sungguh, baginya, kata-kata Yunho itu tak ada yang terdengar salah di telinganya. Lalu, kenapa Yunho marah karena itu?
Yunho menyilangkan kedua tangannya diatas kemudi mobil, dan meletakan kepalanya di atasnya. "Kau tahu apa yang salah?" Yunho menolehkan kepalanya hingga kini ia menatap Changmin tepat ke matanya."Karena aku ingin bisa menggodamu... memanjakanmu... dan juga menciummu dengan bebas."
Changmin bisa merasakan kalau kini wajahnya terasa panas dan memerah. Mendengarkan Yunho yang mengatakan hal seperti itu dengan suara rendah, namun di warnai dengan keinginan yang mendalam membuat jantungnya benar-benar berdebar keras, seolah-olah ingin keluar dari tubuhnya.
"Tak bisakah kita kembali ke apartementku saja?" Suara Yunho yang rendah itu kembali memenuhi telinga Changmin. Memberikan perasaan aneh yang berkumpul pada perutnya. "Aku ingin bisa memelukmu di setiap sudut rumah. Aku ingin sekali bisa menghujani setiap inchi wajahmu dengan kecupan-kecupan. Dan terakhir.."
Dengan perlaha tangan Yunho bergerak ke wajah Changmin. Dan Changmin harus menahan nafasnya ketika jemari Yunho mendarat di atas bibirnya... mengelusnya dengan sangat perlahan. "Dan terakhir, aku ingin bisa mencium bibir ini, memagutnya dengan lembut, dan mencumbunya selama yang aku inginkan."
Changmin memejamkan kelopak matanya mendengar ucapan seduktif Yunho. Selain itu, usapan lembut di bibirnya itu benar-benar membuat pikirannya berkabut.
"Bisakah, Changminnie? Bisakah kita kembali saja ke apartementku?" bisik Yunho dengan suara rendahnya yang sarat akan nafsu itu.
Dan sebelum Changmin bisa berpikir, kepalanya mengangguk dengan sendirinya, dan bibirnya berucap, "Ya, Yunho... Iya... ke apartementmu..."
Saat akhirnya Changmin bisa kembali pada pemikiran rasionalnya, Yunho sudah menginjak pedal gasnya dalam-dalam—membuat mobil mereka melaju dengan kecepatan yang di atas normal.
"Y-Yah! Yunho! Jangan mengebut seperti ini!" seru Changmin yang berpegangan erat pada seatbeltnya.
"Tentu saja kita harus cepat. Karena kau sudah memberi ijin, aku jadi tak sabar untuk bercinta denganmu."
"M-MWOO?!"
.
.
.
.
.
~TBC~
Annyyeeooonggg~!
Author yang super baik dan manis ini balik bawa apdetan FF yang secepat kilat~!
Biarpun review-an yang masuk nggak terlalu banyak, tapi karena author cinta sama para reader sekalian, jadi author cepet2 apdet nih~!
Dan yang buat pasangan YooSu pengen idup lagi, mana poppo-nya buat authooor? #nagih #plak
Dan next chap... hmm... enaknya langsung Changmin 'dimakan' sama ahjussi itu ato... gagal aja ya? ato semi M kayak kemaren?
readerku disini banyak yang masih 'pure' ato ternyata malah para 'yadongers' semua?
Yah, terserah nanti apa mau reader semua deh~
BIG THANkS TO :
siFujoshi, SparKSomniA0321, LoD Samara, lee minji elf, Melodyatlantick, Ardhy, Daevict024, rararapuspita, CassieCiel, Guest, AIrzanti , Anami, Zira, oryzasativa, Callista Woods, reaRelf , cloud3024, Cha2LoveKorean, puzzpitjewelforever, /youngsu0307, KyuKi Yanagishita, ochaviosa, Historia Aqua , Natsu Kajitani , dinie teukie, ShimChangRin1, MinKi Lie , Choi Kyo Joon
Last, mana bayarannya buat author? #nagih. Nggak perlu pake uang koq, cukup dengan kalian mau ninggalian jejak berupa review-an aja, itu udah merupakan gaji buat author~
