.
.
-(Sasuke pov)-
.
.
Saat masuk ke kamar, aku langsung meraih ponsel. Menghubungi Shikamaru. Sebelumnya selain menyelidiki Sakura, aku juga memintanya menyelidiki latar belakang ke tiga adikku sebelum para ibu mereka menikah dengan ayah Kizashi. Sebenarnya ini merepotkan dan tidak baik, hanya saja aku begitu gelisah memikirkan tujuan setiap kelakuan Sakura.
'Oke. Kau beruntung aku menganggapmu teman dekatku. Kau tahu, kau membuatku mengurusi hal merepotkan. Aku akan menjelaskan secara singkat. Nenek Sakura adalah adik kesayangan dari Hashirama Senju, pemimpin tertinggi klan Senju. Janda nenek Sakura -kau bisa memanggilnya nona Tsunade- yang sudah memiliki Mebuki menikah dengan duda Akasuna yang juga membawa dua orang anak. Dari sini kau pasti tahu selanjutnya. Poin utamanya adalah sebagai cucu kandung Tsunade otomatis membuat Sakura menjadi kesayangan klan Senju. Meski sepupu tirinya juga di akui sebagai keluarga oleh klan Senju, tapi tentu perlakuan mereka berbeda. Dan klan Senju hanya memiliki satu pewaris sejak terjadi bentrokan dengan Gamabunta lima belas tahun silam. Dia Senju Mei, atau lebih di kenal sebagai Terumi Mei karna sering memakai marga ibunya di kesehariannya. Seperti kakeknya yang menyayangi Tsunade, gadis itu juga lumayan over protektif pada Sakura. Saranku, sebaiknya hindari berkonflik dengan mereka. Kita hanya anak-anak.'
Aku meringis mendengar cerocosan panjang lebar pria yang biasanya sangat pemalas ini. Dia terdengar serius memperingatiku. Tapi seharusnya dia tak terlalu khawatirkan?
"Tenanglah Shika, kau tahukan sekarang aku dan Sakura adalah keluarga. Aku sama sekali tak berniat memicu masalah dalam keluargaku. Bagaimana dengan tiga adikku?"
'Apa yang harus aku katakan? Ku rasa kau sudah banyak tahu tentang mereka. Sasori kehilangan kakaknya karna di jual ayah mereka empat tahun yang lalu. Dia mulai bekerja sebagai model sekitar tiga tahun lalu. Dan sekarang kakaknya menjadi budak kesayangan pemimpin tertinggi Naga putih..." Aku cukup terkejut mendengar tentang kakaknya. Aku tidak tahu apa itu naga putih, sejenis mafia atau bagaimana. Tapi jika bisa memelihara budak, naga putih itu bukanlah kelompok remeh.
"...naga putih itu mafia selevel Senju, kalau kau ingin tahu." Ha ha aku ingin tertawa. Shikamaru selalu tahu jika aku tak mengerti sesuatu. Dia terlalu mengenalku meski dua tahun berlalu tanpa bertemu.
"Oke... Lalu bagaimana dengan Naruto dan Neji?" Tanyaku.
"Ayah Naruto -Minato- adalah sekretaris tuan Haruno. Tak ada hal aneh di latar belakang keluarga Kushina. Yang aneh justru latar belakang Minato yang gelap. Maksudku tak ada yang bisa di ketahui. Karna penasaran, aku menyelidiki orang-orang di sekitar adik pirangmu itu. Kau tahu apa yang ku temukan? Shimura Sai, putra dari tangan kanan pimpinan tertinggi Gamabunta terlihat selalu di sisi Naruto. Dan sebelum kau bertanya, Gamabunta itu organisasi penguasa pasar gelap. Mereka adalah organisasi paling sadis yang pernah ada, juga organisasi yang terlibat bentrok dengan klan Senju..." Aku memijit pelipisku yang mulai berdenyut. Kenapa sekarang semuanya serba organisasi berbahaya? Apa tak ada hal normal yang terlibat?
"Itu terdengar berbahaya. Apa Sakura tahu tentang ini?" Lirihku.
"Ku pikir seharusnya dia tahu. Meski dia gadis ceroboh, tapi dia bukan orang bodoh. itu pendapat Utakata yang cukup akrab dengan anekimu juga para sepupunya." Utakata itu salah satu dari tiga pemilik Taka. Tak ku sangka dia akrab dengan Sakura juga para sepupunya. Haruskah aku meminta Shikamaru membawaku bertemu Utakata? Kenapa ini semakin terlihat merepotkan?
"Baiklah. Terakhir Neji, hal mengejutkan apa yang di miliki adik bungsuku itu?" Gumamku bersiap dengan hal aneh dan mengejutkan yang di miliki adik bungsuku.
"Yang paling mengejutkan dia normal. Selain ayah dan adiknya yang meninggal karna kecelakaan yang melibatkan Sakura dan para sepupunya, tak ada apapun lagi. Sebenarnya aku harus menyusup ke server paling rahasia milik kepolisian untuk mengetahui hal ini." Normal? Oke. Meski begitu mengetahui adanya insiden yang terjadi antara Neji dan Sakura cukup membuatku terkejut. Sekarang sedikitnya aku mulai mengerti kenapa Neji bersikap bar-bar sejak awal.
"Terima kasih Shika. Ku harap informasi darimu bersifat gratis." Ujarku yang di sahuti dengusan di seberang sana.
"Ku harap suatu saat aku bisa memeras tenagamu hingga mati. Kau mengurangi jam tidurku." Sahutnya sebelum memutuskan sambungan. Aku tertawa kecil.
Sekarang apa? Aku sudah tahu garis besar tindak-tanduk Sakura. Gadis itu mampu menyulut semangat Sasori dalam duel dulu dengan iming-iming Sara. Bisa di mengerti. Lalu apa hubungan Naruto dan putra tangan kanan Gamabunta? Kenapa pria itu berada di sekitar Naruto? Apa tujuan mereka? Apa membalas dendam pada Naruto karna si pirang itu adalah adik dari gadis kesayangan klan Senju? Ku rasa bukan. Meski Sakura berharga untuk klan senju, Naruto bukanlah siapa-siapa.
Aku menghela nafas bingung. Bagian Naruto masih belum bisa ku pahami, sekarang bertambah dengan bagian Neji yang sama membingungkannya. Apa alasan ayah Kizashi sampai menikahi ibu Neji dan memaksa remaja kelebihan hormon itu tinggal di sini? Ku rasa itu tak ada untungnya untuk ayah Kizashi. Atau ada...
Benar. Bersamaan dengan Neji masuk ke rumah ini, Sakura juga kembali ke rumah ini setelah dua tahun tak muncul. Apakah ini artinya...
Apapun yang berkelebat di kepalaku terhenti karna dering teleponku. Aku mengernyit melihat nomer ponsel Naruto terpampang. Apa-apaan dia menelepon dari kamar sebelah? Sedang berniat bercanda? Meski begitu aku tetap meladeninya dengan mengangkat panggilannya. Jika dia mencoba membuat lelucon tak lucu, maka aku dengan senang hati akan menendang bokongnya.
Aku menempelkan ponsel di telinga, terdengar suara berisik dari seberang sana. Karna curiga, aku bergegas ke kamar si pirang itu.
"Apa-apaan ini Naruto?!" Dengusku tak sabar. Juga tak suka karna suara percakapan di seberang sana berbaur dengan suara seperti baku hantam.
"Naruto!" Panggilku gusar. Apa maksudnya keributan di seberang sana.
Pintu kamar Naruto terkunci. Sepi. Ini menjelaskan jika Naruto tak ada di kamarnya. Tapi demi memastikan, aku menendang kuat pintu kamar Naruto hingga menjeblak terbuka.
"Naruto!" Panggilku semakin gusar. Masih tak ada jawaban baik dari seberang telepon maupun dari kamar kosong ini. Keributan di seberang telepon membuatku makin tak tenang. Apa sebenarnya yang terjadi pada adikku itu?
"Sasuke-nii, ada apa?" Rupanya aksiku memancing Sasori keluar dari kamarnya. Adik imutku itu mengintip dari pintu kamar Naruto yang rusak. Sementara di belakangnya ada Neji yang bersidekap malas.
"Sesuatu terjadi pada Naruto." Gumamku masih mendengarkan keributan di seberang telepon tanpa berusaha memanggil Naruto lagi.
Aku berjalan cepat ke kamar satu-satunya orang yang menjadi sumber kekacauan. Mendobrak kamar Sakura dengan tak sabar tanpa mempedulikan jeritan terkejut Sasori. Lihat, monster merah muda itu hanya mengangkat kepalanya malas-malasan seolah tak ada yang terjadi.
"Katakan di mana Naruto?!" Ucapku tanpa basa-basi. Menarik tangan gadis itu memaksanya bangun.
"Apa yang kau lakukan honey?" Gumam Sakura mengucek-ngucek matanya dengan wajah tak berdosa. Membuatku ingin mengamuk saja. Keributan di seberang telepon semakin menjadi. Terlebih beberapa suara seperti letusan senjata api terdengar. Aku benar-benar mengkhawatirkan Naruto.
"Sesuatu terjadi pada Naruto dan kau tak mungkin tak tahu. Kita susul Naruto." Aku menyeret paksa aneki ku keluar kamar.
"Apa yang terjadi Sasuke-nii?" Tanya Sasori cemas melihatku menyeret Sakura.
"Aku tak tahu. Yang jelas sepertinya bukan hal bagus." Gumamku tanpa menghentikan langkahku.
"Honey..." Rengek Sakura yang membuat tanganku gatal ingin menggeplak kepalanya.
"Jangan membuat kesabaranku hilang. Sakura-nee. Bawa saja aku ke tempat Naruto." Desisku mendorong Sakura masuk ke mobilnya.
"Sasori-nii, kau mau kemana?" Itu suara Neji. Aku tak tahu sejak kapan Neji bisa memanggil Sasori dengan imbuhan -nii penuh keikhlasan seperti itu.
"Tentu saja ikut mencari Naruto-nii." Tegas Sasori membuka pintu belakang mobil.
Brak. Aku cukup terkejut melihat Neji menutup pintu yang di buka Sasori. Ada apa dengan mereka?
"Tetap di rumah. Berurusan dengan putri sialan Haruno itu hanya akan membuatmu dalam bahaya." Tandas Neji dengan nada tak mau di bantah. Aku setuju dengannya.
"Kau menyakiti hatiku baby boy." Gerutu Sakura.
"Aku tak mau kehilangan keluargaku lagi. Jika kau ingin tetap di rumah terserah. Tapi aku akan tetap pergi." Sasori mendorong Neji menjauh dan masuk ke dalam mobil.
"Cepat ke tempat Naruto." Perintahku yang membuat Sakura bersungut-sungut menyalakan mesin mobil. Aku masih sempat melihat Naji berdecih dan ikut duduk di samping Sasori.
"Apapun yang terjadi di sana, jangan jauh-jauh dariku." Ucap Neji yang di angguki Sasori. Oke. Aku mulai tak paham apa yang terjadi pada mereka. Apa aku melewatkan sesuatu?
"Tapi aku sungguh tak tahu di mana Naruto honey." Ucap Sakura saat mobil menjauh dari rumah. Aku berdecak lalu melakukan panggilan pada Shikamaru.
"Apa?" Gerutu suara mengantuk di seberang sana.
"Lacak nomer Naruto. Sekarang dia masih terhubung denganku. Tolong tunda protesmu, sepertinya sesuatu yang melibatkan senjata api terjadi padanya." Ucapku cepat. Terdengar erangan dan umpatan di seberang telepon, dan aku tak peduli selagi Shika masih melakukan permintaanku.
Beberapa menit kemudian Shikamaru mengirimkan lokasi Naruto. Saat ku bilang kita tak punya waktu, jantungku nyaris copot bukan saja karna jeritan Sasori. Tetapi juga kecepatan mobil yang di supiri Sakura ini melampaui kecepatan yang bisa ku toleransi. Gadis ini gila. Kenapa hal yang melekat di dirinya selalu membuatku tak bisa memilih kata selain gila.
Tak butuh waktu lama sampai Sakura menginjak rem hingga suara decitan keras ban beradu dengan aspal terdengar. Bahkan gadis gila ini masih sempat-sempatnya pamer dengan melakukan drift hingga membuat lingkaran sempurna membekas di aspal.
Aku keluar dari mobil setelah detak jantungku sedikit normal. Ku pikir bukan hanya aku yang shock saat melihat wajah pias Neji. Dan aku sungguh tak menyangka saat Sasori justru berjingkrak heboh memuji anekinya itu keren. Wajah imutnya terlihat berbinar antusias.
Ponselku mati. Sepertinya sambungan dengan Naruto terputus karna sesuatu. Semoga anak itu baik-baik saja. Belum sempat kami memikirkan apapun, suara senjata api terdengar bersahutan di kejauhan sana. Aku semakin was-was.
"Apa yang terjadi di sini." Gumam Sasori terdengar takut. Aku melirik Neji yang menggenggam tangan Sasori menenangkan. Baiklah, sepertinya sekarang Sasori memiliki bodyguard. Dan aku tak perlu terlalu mengkhawatirkannya.
"Entahlah. Kita perlu bertanya pada seseorang." aku menghubungi nomer Naruto. Tidak di angkat.
"Cari secara manual saja." Ucap Sakura sembari melangkah menuju arah keributan. Aku menatap Neji yang mengernyit terlihat tak setuju. Tapi adik bungsuku itu tak bisa mengatakan apapun saat Sasori sudah membuntuti Sakura tanpa ragu.
Kami berempat menajamkan Indera. Semakin dekat dengan pusat keributan, semakin aku merasakan ketegangan. Wajahku pias melihat beberapa orang tergeletak dengan berbagai luka. Apa sebenarnya yang terjadi di sini.
"Sasori, tetaplah di dekatku." Tidak ada lagi nada kalem Neji. Tubuhnya terlihat tegang dan dia tak mengendurkan pengawasannya ke sekeliling sementara tangannya menggenggam erat tangan Sasori. Baguslah. Setidaknya dia bisa di andalkan di saat seperti ini.
"Sakura-nee!" Panggilku saat gadis itu dengan santai berlari-lari kecil menuju gerombolan pria-pria berbaju hitam. Aku tahu tingkahnya sedikit gila. Tapi tetap saja aku mengkhawatirkannya. Dia anekiku.
"Sakura-nee! Apa yang kau lakukan?!" Aku menarik tangannya. Menghentikan perbuatan gila jenis apapun yang ada di kepalanya.
"Uhm bertanya pada mereka?" Ucapnya menggaruk pelipisnya dengan wajah polos. Aku ingin mengerang dan meninju sesuatu. Di situasi seperti ini tidak bisakah dia bertingkah sedikit normal.
"Kau gila. Kita bahkan tidak tahu siapa mereka." Desisku tak sabar. Ku harus cepat menemukan Naruto.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian. Kita harus mencari Naruto dan membawanya pulang." Aku berniat menggeret Sakura menjauhi kawanan baju hitam itu. Setidaknya itu niatku sebelum sebuah suara menghentikan kami.
"Apa sedang ada pesta piyama?" Aku menoleh dan mendapati sosok-sosok berbaju hitam itu menyingkir, membiarkan seorang gadis berambut merah berjalan menuju ke arah kami.
"Hai Nee-san." Ujar Sakura membuatku menatapnya dan gadis berambut merah itu bergantian.
"Kau bisa membeku di udara sedingin ini." Gadis berambut merah itu mengulurkan tangannya dan seorang pria berpakaian hitam menyerahkan jasnya. Dengan telaten gadis itu memakaikan jas tersebut pada Sakura.
Aku mengernyit mencoba memahami situasi. Interaksi mereka terlalu akrab. Atau jangan-jangan gadis ini...
"Sakura, ku pikir kau sudah bercinta dengan kasurmu." Kali ini seorang gadis berambut pink pekat mendekat. "Wah wah kau memiliki adik-adik yang tampan. Seharusnya aku sering-sering main ke rumahmu." Lanjutnya.
"Mau kau kemanakan Utakata." Gerutu Sakura.
"Issh itu ya itu, ini ya ini. Jangan di samakan." Balas gadis berambut pink pekat.
"Kita ke sini untuk mencari Naruto, kalau Sakura-nee lupa." Desisku makin tak sabar.
"Ah benar. Bukankah aku meminta nee-san mengawasi bocah itu?" Tanya Sakura-nee menatap gadis berambut merah.
"Anoo Sakura-nee, siapa gadis berambut merah itu?" Tanya Sasori ragu-ragu menyembul dari belakangku. Aku melirik adik imutku ini, apa dia mengenal gadis berambut merah? Atau pernah bertemu?
"Dia Terumi Mei, nee-san ku. Yang ini Tayuya." Ucap Sakura menjelaskan. Sasori terlihat berfikir. Lalu menggeleng pelan.
"Aku tak salah ingat. Dia yang menciumku." Gumam Sasori yang di dengar kami semua.
"Apa?" ini suara Neji dan Sakura yang jadi satu. Aku memang terkejut, tapi tidak seberlebihan mereka berdua.
"Apa yang kau kataka Sasori?" Aku nyaris memutar bola mataku mendengar pekikan histeris Neji yang seperti kehilangan anak perawan.
"Panggil aku Sasori-nii, Neji." Kali ini terdengar pekikan tak terima Sasori.
"Nee-san melanggar aturan! Incest! Tak tahu malu!" Ini teriakan Sakura di sela perdebatan Sasori dan Neji. Sementara Sakura terus memaki dengan perbendaharaan kata yang entah bagaimana luar biasa banyak, gadis yang bernama Mei itu terkekeh senang. Kepalaku pusing seketika.
"Kita harus mencari Naruto!" Jeritku menghentikan tingkah sialan mereka semua.
Nafasku sedikit tersengal karna menahan jengkel. Meski begitu aku masih bisa menatap tajam mereka semua. Aku tak tahu situasi jenis apa yang ada di hadapanku sekarang. Sementara suara letusan senjata api dan perkelahian menguar di sekitar, di sini justru seperti menjadi ajang lawak. Menjengkelkan. Mendesis kesal, aku berbalik berniat mencari Naruto dengan atau tanpa mereka. Persetan dengan para mafia yang secara mengejutkan seperti berkumpul di tempat ini.
"Kalian tak perlu mencari bocah pirang itu. Gamabunta tak akan membiarkannya terluka." Ucapan Mei menghentikan langkahku. Aku berbalik dan menatap tajam gadis berambut merah itu.
"Bagaimana kau seyakin itu? Ah tidak, kenapa aku harus mempercayaimu?" Desisku. Aku tahu ucapannya kemungkinan bukan omong kosong belaka. Tapi aku butuh alasan yang bisa membuatku yakin jika adik pirangku itu baik-baik saja.
"Apa Sakura tak memberitahu kalian?" Tanya Mei acuh tak acuh. Aku melirik Sakura yang menggaruk kepalanya salah tingkah.
"Apa yang seharusnya kau beritahu pada kami Sakura-nee?" Desisku mengancam.
"Jaga sikapmu boy. Sakura bukan orang yang bisa kau perlakukan sembarangan." Aku menahan nafas mendengar nada bicara Mei yang berubah. Intonasinya memberat dan penuh ancaman. Sosoknya yang tadinya seperti umumnya gadis biasa kini terlihat mengintimidasi kami. Aku merasakan udara seolah menipis. Kini aku menyaksikan langsung sisi protektif seorang pewaris Senju pada Sakura.
"Kau berlebihan nee-san. Dia adikku. Ingat?" Ucapan Sakura hanya membuahkan pelototan dari Mei yang di balas gadis merah muda itu dengan putaran bola mata.
"Pulanglah. Tak ada yang bisa dilakukan oleh bocah-bocah seperti kalian..." Tandas Mei mengibaskan tangannya. "... Ayah bocah pirang itu adalah putra dari wanita simpanan pimpinan Gamabunta. Dan sekarang para anjing Gamabunta sedang bersamanya, jadi tak ada yang perlu di khawatirkan." Lanjutnya sebelum aku menyela.
Aku menimbang apakah ucapan gadis ini bisa dipercaya atau tidak. Tapi melihat Sakura, ku rasa tak ada alasan untuk tidak percaya. Yang perlu ku lakukan saat ini adalah memaksa aneki ku itu bicara tentang isi kepalanya!
.
.
Tbc...
.
.
Keyikarus
17/8/2017
.
Selamat ulang tahun kemerdekaan Indonesia! Semoga menjadi negara yang adil makmur dan sejahtera. Aku mencintaimu, tanah airku!
