LeChi's project proudly presents
.
.
.
CAFEIN for CAFEE: Everyday
.
.
.
Kuroko no Basuke (c) Fujimaki Tadatoshi
Kuroko no Basket milik Fujimaki Tadatoshi. Kami tidak mengeruk keuntungan materil atau komersil sama sekali dalam membuat fanfiksi bersama ini.
Thirteenth Ever Drabble
.
.
.
Untitled (c) Witi Wiet
.
.
.
Hari itu Furihata melakukan perbuatan di luar kebiasaannya. Tangannya sedikit gemetar saat novel yaoirate 18 berada digenggamannya. Jangan salahkan rasa penasaran yang membuatnya mencoba seberani ini.
Dengan manik pucuk pinus yang bergerak mengikuti bait-bait tulisan, Furihata mulai menggigit bibir bawahnya. Bayangan konyol tentang kekasihnya, Akashi, yang bertingkah seperti salah satu sub cerita yang dibacanya membuatnya ingin memukul kepalanya sendiri.
Tapi ... apa jadinya kalau Akashi yang dingin dan tak banyak bicara hal yang tak penting, bertingkah seperti itu, ya?
Chap 1. Ketika Akashi menjadi GENIT dan MESUM melebihi Aomine.
Karena novel itu, terbentuk bayangan liar Furihata tentang alur salah satu sub cerita. Dan beginilah ceritanya :
Furihat si pelajar SMA tampak melangkah sendirian di lorong gang yang cukup gelap. Badannya menggigil ketakutan, ia tak terbiasa melewati gang sepi ini sendirian. Salahkan kedua temannya yang dengan seenaknya pergi pulang karena tak remedial ulangan Matematika. Sepertinya Furihata memang sedang sangat sial.
Ia terus melangkah takut-takut, ekor matanya yang tak bisa fokus membuatnya tak memerhatikan jalan. Salahkan perasaan paranoidnya yang membuatnya serasa diikuti. Dan sial bagi Furihata, tak memerhatikan jalan membuatnya terpeleset lantai bumi yang basah karena kubangan.
Dengan tidak elit, Furihata jatuh terduduk—bokongnya cenat-cenut.
Ringisan tak tertahankan keluar dari belah bibirnya, sebelum sebuah tangan terulur.
"Kau tidak apa?" Furihata mendongak, menatap pemuda berambut merah yang memandangnya datar.
Dengan ragu ia mengangguk, menerima uluran tangan kanan yang menarik tubuhnya hingga Furihata dapat kembali berdiri. Namun Furihata tak menyadari, tangan kiri lelaki itu sempat meremas pantatnya saat penarikan itu terjadi.
"Uughh?" Furihata berkedip polos. Kenapa pantatnya yang cenat-cenut semakin nyeri rasanya?
"Mau ku antar pulang?" Tatapannya kembali terarah pada pemuda itu, lalu dengan ragu mengangguk. Ia terlalu ketakutan untuk menelusuri gang sepi ini sendirian.
Langkah mulai mereka ambil bersama. Entah kenapa, Furihata merasakan tremor asing melanda tubuhnya. Berada sangat dekat dengan pemuda asing yang bahkan sama sekali tak diketahui namanya ini membuatnya menggigil ketakutan.
Dengan perasaan yang terus membuatnya gelisah, Furihata mengalihkan pandangan ke arah tembok-tembok bangunan tua yang terlihat sangat rasa hangat dan sedikit basah dari leher sampingnya yang terekspos serta hembusan angin hangat yang asing membuatnya segera menoleh ke sumber itu. Dan ia hanya mendapati kekosongan.
Furihata mengamati pemuda bersurai merah itu, takut-takut dia pelakunya. Namun pemuda yang melangkah di sampingnya itu tampak biasa saja—terkesan tak melakukan apapun, malah. mata dwi warna—yang baru disadari Furihata—itu tetap menatap kedepan.
'Sebenarnya...apa yang terjadi?'
Special thanks: Witi Wiet
Readers and Reviewers, mind to give review? ;)
