Senang rasanya ketika aura mencekam itu telah lenyap ketika aku menjauh dari rumah Naruto. Aku membuka pintu dengan rasa lega dan tangan yang ringan. Walau dengan tubuh yang melemas dan mulai lemah. Oh entah kenapa tubuh terlampau lemah untuk melakukan apapun kini.

Tampaknya Hanabi memang belum pulang atau mungkin dia menginap dirumah temannya, entahlah.

Aku menghidupkan sakelar lampu, tampaklah ruangan yang gelap gulita itu di sinari oleh cahaya lampu hingga sudut-sudut yang tidak ada bayangan bendanya.

Kruyuk...

Oh, entah mengapa perut ini terasa melilit tajam. Padahal aku baru saja makan tadi di rumah Naruto.

Lebih baik aku membersihkan tubuhku dulu.

Aku menaiki tangga dan memasuki kamarku. Cukup gelap walau cahaya matahari sore sedikit menelusupkan cahayanya ke jendela kamarku. Aku melepaskan jaket yang membalut tubuhku, aku rasa tubuh ini cukup kering.

Aneh, bukannya tadi seluruh tubuhku basah. Akan tetapi kini telah kering tidak seperti orang yang habis keluar dari air.

Tampaknya dunia ini sudah menggila. Aku harus menenangkannya dengan kucuran air dari shower.

...

.

.

.

.

.

.

.

Title: My Boyfriend is a Vampire

Disclaimer: Naruto belong to Masashi Kishimoto.

Fanfic By: Nauri Minna –Uchisaso AF KSS

Rate: T

Pair: Naruto/Hinata, Kiba/Hinata, all pairing to story.

Warning: OOC, miss typo, OC, flashbacknya tidak ditulis hanya diberi tanda "XxXxX" Don't Like Don't Reading.

.

.

.

.

.

.

.

...

Terpana

.

Aku mengeringkan rambutku menatap pada pantulan kaca. Aku terdiam menatap pantulan tersebut.

'Siapa itu?' aku terpana menatap pantulan itu, mungkinkah ada orang lain didalam kamar ini.

Aku mendekati cermin tersebut, aku menatap pantulan itu kembali dibawah sinar bola lampu. Aku terpana menatap pantulan dari cermin itu.

'Benarkah itu aku?'

Aku menaiki tanganku menutup bibirku sangat terkejut. Terkejut? Yah, bagaimana tidak? Wajah itu sungguh sangat sempurna, bukan seperti wajahku yang lalu.

Kini kulitku bukan lagi kuning langsat biasa, kuning itu sedikit menggelap menjadi berwarna cokelat pasir dan sedikit cerah. Dan mata itu, bukanlah mataku. Mataku tidak pernah ada sinarnya, dan aku terkejut dengan mata berwarna cokelat lumpur itu. Didalam mata itu, memiliki sebuah keteduhan dan warnanya itu menguat dengan bola mata yang tegas. Kini tubuh itu propasional, tinggi namun memiliki ketegasan dan memiliki tato yang berbeda dari terdahulu, tato yang lebih cerah dari yang terdahulu, menguat dan ada tato yang berpindah tempat.

Tato? Yah tato, tato cakar harimau pada sebelah kiri dan tato dengan ukiran yang rumit disebelah kanan.

Aku harus menutupnya.

Aku bergegas, mencari-cari baju lengan panjangku.

Yah, setidaknya aku dapat menutup tato itu.

Aku meraup baju lengan panjangku yang berwarna biru tua yang sama dengan warna rambutku.

Cermin itu juga yang memberitahukan kepadaku bagaimana aku, rambut panjang tergerai yang langsung mulus lurus tanpa ku sisir, rambut itu menjuntai dengan anggunnya. Kini, semua yang kupakai akan menjadi pas dengan diriku.

Dan sebuah rasa sakit tiba-tiba aku rasakan dilambungku.

Oh God, aku lupa untuk makan kembali, sial.

Aku berjalan menuju lantai bawah dengan rambut yang kuikat dengan karet gelang berwarna hitam.

Rambatan itu semakin terasa olehku, rambatan yang membuatku lemah dan menjadi sakit. Aku melangkahkan kaki menurunkan tangga dengan sempoyongan. Rasa sakit dilambung kembali kurasakan, kali ini sakit terasa seperti dicengkram oleh tangan yang kokoh entah tangan-tangan siapa.

Semuanya terasa begitu kabur ketikaku masih berjalan dan terus berjalan, hingga kegelapan itu mengambil alih seluruh pandanganku. Dan aku pergi terbang dibawa oleh entah siapa dengan tubuh yang terkulai lemas.

XxXxXx

Api, salah satu dari unsur terbuatnya bumi. Salah satu media penghangat dan salah satu media penerangan dikala rembulan yang tengah meredup dimasa lalu, juga sebagai tempat untuk berkomunikasi.

Aku terduduk disini, masih sama seperti yang dahulu. Bosan, menatap api unggun yang menarikan tariannya. Yah itu juga yang terjadi padaku kini.

"Mom," ujarku pada Rie bosan.

Aku mengetatkan jaket itu, ini bukanlah Arizona. Tetapi ini adalah kabupaten Tanah Datar, atau lebih tepatnya salah satu Nagarinya yang terletak diperbatasan dengan kabupaten Lima Puluh Koto, meski tidak sedingin Padang Panjang tapi udaranya masih cukup dingin.

"Sebentar sayang," senyum Rie.

Dia telah selesai berurusan dengan Kalionya, dia berdiri dengan menyanggul rambutnya.

Memangnya apa yang akan dia lakukan? Ini hanya sebuah upacara biasa dengan mengelilingi api unggun. Yah, Rie menyanggul rambutnya hanya untuk sebuah acara api unggun, aku kesal, kini aku hanya dapat menyaksikan tarian api itu yang tengah menari. Sementara Rie duduk disamping Hiashi, dan Hiashi akan memimpin acara api unggun ini.

Tampaknya acara api unggun ini hanya untuk orang-orang tertentu saja, berbeda dengan yang biasanya. Itu tampak jelas dikarenakan orang-orang membuat lingkaran yang kecil dari biasanya. Semua terdiam ketika Hiashi mengucapkan kalimat perintahnya.

"Aku akan menceritakan mengenai sebuah cerita tentang kita," mulai Hiashi.

Tampaknya mereka semua dengan serius memperhatikannya. Sementara aku menatap malas dan mengantuk. Bayangkan saja, ini sudah melewati waktu tidurku sebagai anak yang berusia lima tahun setengah, ini sungguh sangat menyebalkan.

"...kita mendapatkan kekuatan ini karena leluhur kita yang bertapa bernama Gu dan Si'kha, mereka di anugerahkan setelah sekian lama bertapa kekuatan dari roh alam. Mereka adalah nenek moyang kita yang bisa merubah bentuk menjadi harimau untuk melawan satu musuh, palasiak. Kekuatan itu digunakan untuk melawan palasiak yang telah mengoyak suku kita dahulu. Setelah mereka datang, dan menghancurkan palasiak, kita aman. Tapi kita tahu, kekuatan ini terjadi ketika kita berdekatan dengan ancaman tersebut. Gu dan Si'kha tahu bahwa mereka akan kembali, maka mereka menganugerahkan kepada anak dan cucunya didalam darahnya untuk berubah ketika ancaman tersebut tiba, dan juga salah satunya mengenai perubah bentuk yang mengambil bentuk sangat banyak..." entah mengapa Hiashi menatapku penuh makna.

"Bentuk perubahannya itu adala salah satu bentuk bangkitnya ksatria baru, bernama Mou'VhaGyara yang suci," aku tidak tahu mengapa dia menceritakan itu kepadaku atau kepada semuanya.

Kami berpesta diiringi dengan api yang semakin membumbung.

"Bawa dia pergi," entah mengapa Hiashi tiba-tiba berteriak keras, aku tidak tahu mengenai itu.

Aku dibawa oleh seseorang, bukan ibuku, bukan Hiashi tetapi seseorang yang hangatnya menenteramkan hatiku. Dan aku melihatnya, melihat palasiak itu, melihat mata merah yang bengis tersebut, melihat rambutnya yang berwarna keemasan dan keperakan itu penuh dengan kebencian dan dendam.

Sama sepertiku mereka menatapku, menandaiku.

Aku dibawa olehnya menjauh hingga perbukitan.

"Kau baik-baik saja?" tanya orang itu.

Kami berhenti menatap dari atas perbukitan melihat api yang membumbung tinggi.

"Cih," sebuah decihan mengejutkanku.

Aku menatapnya.

"Ada masalah?" tanyaku.

Dia menatapku penuh makna.

"Tidak ada masalah Hinata, hanya saja dua palasiak berhasil kabur," jawab orang itu getir.

Aku terkejut dengan yang dikatakan orang tersebut. "Rambutnya berwarna apa?" tanyaku sedikit ketakutan.

"Berwarna emas dan perak," jawabnya.

Emas dan perak, kedua palasiak itu. Tentu saja aku di dalam masalah sekarang, yang akan mendatang dan juga yang sekarang. Mungkin sekarang tidak, tapi mungkin bisa saja bukan.

"Tenang saja, kaulah yang berada didalam legenda," dia berusah tersenyum untuk menghiburku.

Aku mengernyitkan dahiku.

"Apa itu?" tanyaku.

"Kau adalah Sang Pengendali," jawabnya tegas.

...

Cahaya yang terang menyambutku ketikaku membuka mataku, silau masih terasa, ini adalah kamarku.

"Kau sudah bangun Hinata," kata suara itu merdu, suara yang diucapkan dari bibir Naruto yang mengejutkanku.

Dia datang membawakanku semangkuk makanan.

Aku bingung dan lelah entah mengapa.

"Uugh," aku sedikit bangun dari tempat tidur.

"Ouch," nyeri yang ini aku rasakan disekitar tubuhku dan dadaku. Uugh entah apa ini yang terasa didalam kepalaku.

'Kau adalah Sang Pengendali,' apa itu? Aku takkan tahu.

"Lebih baik kau memakan ini terlebih dahulu," ucap Naruto lembut.

Yah, aku sangat membutuhkan itu. Sendokkan bubur putih disuapkan oleh Naruto.

Rasa yang sama namun dengan caranya yang berbeda membuatku merasa sedikit kesehatanku menjadi pulih. Tampaknya aku seperti berlari ribuah kilo dan satu abad yang dahulu tidak memakan makanan dalam bentuk cairan itu.

Dia sungguh-sungguh menyuapiku bahkan membujukku.

"Oke Bella," ucap Naruto.

Aku melotot karena dia mengucapkan hal yang paling ku benci. "Jangan sebut aku Bella," ketusku.

Dia tertawa bersama dengan aku yang mendengus.

"Baiklah," akhirnya tawa merdu itu mereda.

Aku memajukan bibirku.

Lalu sebuah kejadian itu kembali lagi, dia mendekati bibirku. Dan ciuman itupun terjadi, dia memaksakan cairan bening dengan paksa menuju rongga mulutku. Aku menelannya seakan tidak percaya.

"Apa itu?" tanyaku pada Naruto.

Dia tertawa dengan lebar.

"Karena kau tidak mau makan, maka aku memaksa dengan mencium bibirmu itu," jawab Naruto.

Menjijikan, sungguh sangat menjijikkan dan err sedikit manis.

Dia mendekati lagi wajahnya.

"Tidak, itu pahit tahu. Lebih baik kau suapi saja," ucapku memajukan bibirku.

Naruto kembali mengeluarkan tawanya.

"Apa yang lucu?" tanyaku.

Dia mengedipkan matanya

"Tentu saja dirimu," jawabnya penuh dengan senyuman.

Dia menyuapi kembali bubur ke rongga mulutku, kali ini tidak ada ucapan protes dariku ketika dia dengan lembutnya memberikan itu padaku. Aku menelannya sambil memandangi pahatan suci dari tuhan itu.

Aku menyantap suapan terakhir dari sendokannya dan meminum minuman yang dia beri. Aku tersanjung karenanya.

Setelah memakan makanan hingga tandas Naruto tersenyum menatap itu seakan tiada yang membahagiakan itu daripada apapun didunia ini. Dia baru saja keluar dari kamarku, membawa piring kotorku keluar dari kamarku. Aku menatap punggungnya dan mengalihkan pandanganku menuju dentingan jam dinding. Jam itu menunjukkan waktu baru pukul lima pagi. Sepertinya aku tidak memerlukan tidur kembali.

Yah, seharusnya.

Ukh, sebuah rasa yang merambat dan menyakitiku menyentuh aliran-aliran dari seluruh tubuhku terlebih lagi tubuh bagian bawahkun yang sungguh nyeri. Aku harus menahan rasa sakit ini, harus seperti legenda suku yang diceritakan oleh ayahku dahulu ketika kami berkeliling di satu negara selama satu musim panas disaat aku dan Hanabi memiliki hari yang kosong tanpa tugas-tugas yang bertumpuk.

Yah aku harus menahan rasa sakit yang meniksa ini, untuk Naruto, untuk diriku sendiri sehingga tidak mempermalukan diriku sendiri didepan matanya.

Kriet...

Pintu kamar terbuka dengan sangat pelan olehnya, aku tersenyum tipis.

"Sepertinya tidak ada masalah jika aku meninggalkan kamu?" tanyanya memastikan padaku.

Aku menatapnya sendu.

"Memang tidak ada masalah, tetapi disinilah bersamaku," ucapku dengan sunggingan senyumanku yang berat.

"Kenapa?" kernyitnya, aku menyaksikan itu dengan suara yang ingin ku keluarkan dari dalam diriku.

"Tinggallah," pintaku.

Aku berusaha mendekati dirinya dan menggapai tangannya dengan tanganku dan membawa dia mendekatiku serta sentuhan yang kuinginkan menggapai sumber kehangatan dari dalam tubuhnya, bukanlah kehangatan yang keluar dari tubuhnya menjilat-jilat kulitku, namun rasa dari sentuhan tersebut seperti tersenturm dengan aliran listrik yang memiliki voltase rendah.

Aku memintanya bahkan memohon kepadanya dengan permintaanku padanya, untuk tetap disini dan merasakan wangi yang keluar dari kulitnya dan keinginanku untuk tetap merasakan keberadaannya.

Dia menatapku lekat dengan wajahnya yang seperti batu, kemudian wajah yang terpahat seperti batu itu mengangkat senyuman dibibirnya menyanggupi permintaanku. Akhirnya dia beranjak berbaring ditempat tidur, sementara aku mendekatinya lalu mendekap tubuh yang kokoh memeluknya erat merasakan aromanya yang wangi, menghirupnya dalam dan sangat merasakan aroma tersebut menari-nari didalam rongga hidungku.

Aku menggeliat ditubuhnya mencari tempat teramanku.

"Nah, apa yang ingin ku ceritakan padamu?"

"Apapun," jawabku.

Lalu dia menceritakan apapun tentangnya, mulai dari kelahirannya di Spanyol dan kematiannya juga didalam tanah kelahirannya, ketika dia pergi dari keluarganya berkelana dalam kesendirian penuh kemarahan namun tetap terhubung seperti dahulu. Lalu kenangan-kenangan ketika dia berada digereja, sebagai persiapan untuk mengganti ayahnya namun tidak terwujud dikarenakan dia telah berubah menjadi sosok yang terkutuk –menurutnya. Semua itu dia ceritakan kembali kepadaku hingga sang surya dengan malu-malunya keluar menggantikan dewi malam itu.

...

Beberapa menit lalu, Naruto pamit pulang untuk menjemput mobilnya. Ada sebuah rasa kehilangan dari dalam dada ini, terasa kosong hati ini pada sudut-sudutnya yang membuatku tidak mengingnkan kesendirian tanpanya. Sembari itu, aku membiarkan air mengucur dengan deras menyentuh kulitku membasahi seluruh tubuhku.

"Kau tahu ayahku dahulunya seorang pastur?" ukh, aku mengingat apa yang tadi diucapkan oleh Naruto. Dosa masa lalu, kesulitannya selama hampir dua abad berpisah dengan keluarganya, dia menghancurkan satu kawanan anak bulan, dia menceritakan bagaimana beberapa keluarganya yang lain sebagian mereka yang merubah dan sebagian lagi datang dengan sendirinya bergabung dengan keluarga Uzumaki selama Dua setengah abad dengan Nagato dan saudara-saudara angkatnya.

Aku membasuh rambutku yang penuh dengan busa-busanya dan dilarutkan oleh air. Handuk yang aku gantungkan aku meraupnya dan membelai kulitku untuk menyerap air dan menyisakan handuk yang basah.

Sepotong baju dan juga jeans belel kupakai dengan jaket berwarna kesukaanku –krem. Wangi bunga lavender terpancar pada keseluruh tubuhku. Sungguh menakjubkan menyaksikan ternyata aku masih harus menjalankan hari ini dan semoga saja aku tidak mati karena jantungan atau sejenis dengan berbagai penyakit yang akan menimpakan ku.

Aku menatap mengarah makanan yang disediakan oleh Naruto tadi –oat meal dengan jus buah. Aku tersenyum menatap perhatian dari Naruto itu. Waktunya untuk menyerang makanan itu sampai tandas. Yah betul saja, makanan itu telah tandas bahkan hanya dalam waktu tidak kurang dari lima menit saja –dan aku masih merasakan kelaparan setelah memakan makanan itu. Sungguh sangat aneh.

Karena perutku yang meraung-raung ingin diisi dengan makanan, aku memaksakan untuk menuruni tangga –tentu dengan tas dan piring kotor ditanganku. Tampaknya hanya buah saja yang masih ada di bandingkan dengan yang lainnya kosong tidak ada apapun, terpaksa aku memakan buah pisang yang hanya tinggal beberapa buah. Sungguh sangat mengejutkan, seperti oat meal tadi yang langsung lenyap dalam hitungan menit begitu juga dengan buah pisang yang kumakan ini.

Tiiiin... tiiin... tiin...

Suara klakson terdengar, itu pasti mobil Naruto. Aku melangkahkan kaki keluar rumah dengan ringan. Namun bukanlah Naruto yang ku jumpa melainkan, Nathan Kiwa Inuzuka, Kiba dan Hana.

Aku mengatur posisi tubuhku secara tegap dan mungkin mempesona –itu terbukti karena Hana dan Kiba terpana menatapku.

"Hm, Hiashi ada?" tanya Nathan berbasa-basi.

Aku tersenyum mendengar pertanyaan dari Nathan.

"Nath, Hiashi belum pulang dari urusannya," jawabku dengan senyuman.

Nathan tersenyum kepadaku.

"Katakan pada Hiashi, terjadi penyerangan tadi pagi," Nathan menekan kata penyerangan dengan nada tegasnya.

"Akan aku sampaikan," senyumku.

Tampaknya bukan hanya Kiba dan Hana saja yang terpesona, dari dalam mobil tampak Lian yang berada pada kemudia dan satu lagi kembaran Hana.

"Ada lagi yang perlu ku sampaikan?" tanyaku.

Kernyitan muncul didahi Nathan menatapku.

"Kau tahu bukan tentang penyerangan itu?" tanya Nathan penuh selidik.

"Ya tentu saja, aku yakin itu," jawabku.

Hana, Lian dan Nathan tampak terkejut dengan itu.

"Kalau begitu..." dengan cepat aku memotong Nathan.

"Tenang saja Nath, dia tidak menggangguku. Aku yakin itu, dan kau jangan menganggu urusanku," aku kesal dan tanpa sadar serta tanpa pemikiran matang aku mengeluarkan suatu gaung.

Nathan sungguh terkejut, dia seakan tidak percaya dengan yang keluar dari mulutku.

"Apa itu sebuah titah?" tanya Hana padaku.

Uhuk, aku tersedak dengan air liurku sendiri. 'Titah' tidak aku tidak mengeluarkan titah seperti raja maupun ratu.

"Tentu saja bukan, aku bukan keturunan kerajaan," jawabku.

Mereka terhenyak kembali.

"Baiklah aku sungguh minta maaf padamu Hinata, tetapi sampaikan kepada Hiashi oke," akhirnya dengan berat hati Nathan dia pergi dari hadapanku.

Aku menatap kepergian mobil itu dengan senyuman.

Sebuah rasa sakit mengejutkanku, tubuhku berkeringat entah mengapa mengucur deras dari pori-pori tubuhku.

"Hinata," suara Naruto mengejutkanku.

Aku menatapnya terkejut, dia tampak sangat panik.

"Kau tahu, aku sangat khawatir padamu terlebih aku mencium bau keturunan serigala," ucapnya.

Aku mengedipkan mataku.

"Tidak ada masalah Naruto, aku baik-baik saja," senyumku.

"Diantara serigala!" dia terkejut.

Aku mengedipkan kelopak mataku.

"Ayo," senyum Naruto.

Aku mengikutinya dengan tubuh bergetar ketakutan meskipun dia tersenyum ramah. Duduk di mobilnya penuh dengan aura yang menegangkan berbeda dengan aura yang biasa terpancar darinya –aura yang menenangkan. Dia dingin, sedingin seperti sebongkah es kutub yang susah untuk dicairkannya. Karena aura itu aku tidak merasakan perjalanan ini kembali.

"Tenanglah, aku tidak marah padamu," ucapnya penuh penyesalan. "Tadi aku hanya panik."

Aku menatapnya penuh.

"Aku mengetahui itu," senyumku.

Cup, dia mengecup bibirku dengan lembut sambil mengendarai mobil.

"Hmm... hmm... hmm," aku terbuai ke angkasa raya.

Akhirnya ciuman itu terlepas ketika kami sampai di pelataran sekolah yang mulai ramai.

"Kau yakin ini ide yang bagus?" tanyaku.

Dia tersenyum menatapku. "Yah, lagi pula aku akan pergi ke neraka," jawabnya.

Aku berjengit. "Tidak ada bicara tentang neraka," ancamku.

Dia tertawa mendengar ancamanku itu. Dia membuka pintu ku dengan sunggingan senyumannya. Aku keluar dan menatap hal yang sangat gawat semua orang terpana dan err terpesona menatap kami berdua berjalan.

"Wow!" seruku menatap tidak percaya.

Tidak percaya dengan keterpesonaan mereka kepadaku atau karena kami pergi bersama.

"Kau tahu semua orang memperhatikan kita," bisikku dengan wajah yang memerah malu.

Cengiran tiga jari terpatri pada bibirnya.

"Bukan pada kita tetapi kepadamu," cengirnya.

Aku terperangah dengan apa yang dia katakan.

"Itu tidak mungkin," ucapku

"Serius, lebih baik kau menanyakannya kepada teman-temanmu," senyum.

Aku mengernyitkan dahiku. Dia pergi sebelum aku kembali bertanya padanya. Aku masih bingung, namun akhirnya aku berjalan mengarah tempat teman-temanku.

"Wow, Bella!" seru Sakura.

"Sakura, jangan gunakan itu padaku," ucapku.

Dia tersenyum miris.

"Maaf Hinata."

Aku menatap mereka dan Tenten menatapku secara tidak suka.

"Kau sungguh mempesona Hinata," puji Sai.

"Yah Sai betul, kau berbeda dengan yang kemarin," Ino tersenyum membenarkan pujian Sai.

Aku membelalakan mataku, begitu terpananyakah mereka sehingga menatapku terpana.

"Kau sungguh cantik Hinata," puji Tenten yang sungguh membuatku terpana.

...

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

,

.

.

.

.

...

Balasan Review:

Bubble bee: hmz, di chapter yang berjudul mobilkan ada!

Hina chan: Terimakasih telah mereview fic ini

NaruHina lovers: Maksudnya?