Jauh di tengah lautan, sebuah tombak tampak bercahaya. Tombak itu memiliki gagang hitam pekat dengan ukiran kemerahan dan keemasan. Di dekat ujungnya, terpasang sebuah lonceng kecil dengan tali yang disimpul menyerupai pita.
TRAK!
Layaknya kaca, sebuah retakan menganga di dasar lautan. Seluruh air, ikan-ikan dan tumbuhan tersedot dalam retakan itu, menyisakan tombak itu melayang di atas tanah.
"Ambil tombaknya!" teriak Kakashi. Semua yang ada di sana berlari. Naruto dan Sasuke berada paling depan. Sudah tak perlu diragukan lagi. Tombak ini, pasti tombak ini adalah kunci dunia. Sesuatu yang dijaga mati-matian kerahasiaan dan keamanannya.
TRAK!
Sekali lagi retakan. Sebuah tangan keluar dari retakan itu. Kali ini memecah ruang dan waktu.
.
.
.
SEKAI NO FUIN
Naruto punya Masashi Kishimoto, tapi fic ini karya Ricchan
yang terinspirasi dari banyak sumber termasuk fic senpai yang lain
mohon maaf jika ada kesamaan dan kesalahan, fic ini hanya untuk kesenangan bersama
.
.
.
Chapter XIV
"Kakak"
.
.
.
Mata Hinata membulat. Dari dimensi yang dibuka paksa oleh Yami, bersamaan dengan sebuah tombak hitam yang indah, Sasuke, Naruto, Shikamaru, Ino, dan Kakashi ikut keluar dari dimensi itu.
"Hinata!" "Sasuke!" ujar keduanya bersamaan. Sasuke sontak mendekat. Dahinya berkerut melihat Sakura yang tengah menyalurkan cakra hijau medisnya ke betis Hinata. Lukanya masih menganga, masih mengalirkan darah, meski tak separah tadi.
"Siapa?" tanya Sakura.
Bukan tertuju untuk rekan dan gurunya. Lebih tepatnya pada pemuda yang kini tengah memegang tombak. Rambutnya perpaduan hitam dan coklat. Pakaiannya menyerupai kimono dengan celana sebagai bawahan. Sebuah jubah panjang berwarna hitam melampisi lagi pakaiannya. Pakaiannya semua hitam-hitam.
Hidan dan Kakuzu melayang di udara saat sebuah sapuan udara yang mencekam menghantam dua anggota akatsuki itu. Sosok serba hitam itu –Yami, menggenggam tombak yang sesekali terlihat mengalirkan aliran listrik. Kedua matanya memandang benci pada mereka yang telah melukai adiknya.
Tato kutukan di sekujur tubuh Hidan belum menghilang, tanda bahwa setiap luka yang ia derita bakal diderita oleh gadis pembawa segel dunia. Dia tertawa mengejek. Sedetik kemudian, lidahnya tergeletak di tanah. Hidan berteriak kesakitan, namun tidak dengan Hinata. Dia masih seperti tadi, hanya sebuah luka di bagian betis.
"Apa yang terjadi?" tanya Kakuzu. Dia memasang posisi siaga. Sesuatu dalam dirinya bilang bahwa ada hal yang berbeda dari sosok serba hitam itu. Dia benci mengakuinya, tapi dia ketakutan. Kakinya tak bisa berhenti gemetaran.
"Ahu hak hahu! (Aku tak tahu)" teriak Hidan. Ucapannya kacau tanpa lidah yang tak kunjung tumbuh kembali.
Hidan dan Kakuzu terdesak. Berkali-kali mereka terdesak mundur. Hinata dapat melihat semuanya dengan amat jelas. Tiap gerakan, aliran cakra, bahkan aliran udara. Semuanya, dimatanya, kembali hitam putih. Persis pertama kali ia melihat Yami. Tanah, langit, tumbuhan, orang-orang. Semuanya. Semua kecuali dirinya dan Yami yang berwarna merah pekat.
"Kau tak apa?" tanya Sasuke.
Semenjak melihat gadis bulannya, Sasuke tahu ada sesuatu yang mengganggu pikiran gadis itu. Tidak ada seorang pun yang sempat bermenung saat menghadapi kondisi seperti ini. Namun gadis itu justru terlihat antara sadar dan tidak.
Hening. Hinata tak menjawab.
Sasuke mencoba menepuk pipi gadis itu. Masih hening. Dengan panik ia mulai menggoncang tubuh gadis itu dan memanggil namanya keras-keras. Sakura terlihat ikut panik, cakra kehijauannya terlihat tak teratur.
"Hinata!" panggil Sasuke lagi.
Naruto dan yang lainnya ikut mendekat. Mereka masih menimbang apakah sosok serba hitam itu musuh atau bukan. Terlebih melihat Hinata yang seolah terhisap dalam pemikirannya entah tentang apa.
"Maaf!" gumam gadis itu.
.
.
.
Hinata bermimpi.
Hari terasa hangat, meskipun salju menutupi tanah hampi setebal buku bacaan yang biasa dibawa Kakashi kemana-mana. Hinata tertawa melihat dirinya sendiri. Tubuhnya dibalut pakaian kebesaran dengan syal merah yang panjangnya menyentuh tanah. Umurnya hampir 20 tahun, dan ia melihat dirinya berbalut baju hangat yang dulu sering ia kenakan sewaktu kecil.
"Hinata" "Hinata" "Hinata"
Banyak suara memanggil namanya. Senyum gadis itu sumringah mengenali suara yang memanggilnya. Suara lembut milik Ibunya, suara penuh perlindungan milik pamannya, dan suara penuh kesetiaan milih kakak sepupunya. Iris mata gadis itu menangkap sosok kakak sepupunya yang berusia 22 tahun. Juga ibunya yang beruban, dan pamannya yang berjalan dengan bantuan tongkat.
Ia senang dengan pemandangan itu. Semua orang terlihat lebih dewasa, lebih tua. Kesannya, semua orang masih memiliki jatah usia untuk menjadi dirinya yang lebih tua.
"Kemarilah!" ujar Neji. Rambut coklatnya lebih panjang 2 cm dibanding terakhir kali Hinata melihatnya. Kerutan di bawah matanya bertambah, juga hidungnya yang kemerahan akibat udara dingin. Tangannya terulur, menanti sang adik untuk meraihnya.
"Kakak punya banyak hal untuk diceritakan padamu" lanjut Neji. Senyumannya adalah senyuman paling lebar yang pernah ia buat. Hinata ingat sekali, Neji bukan tipikal orang yang gampang tersenyum.
Hinata memanut-manut. Bolehkah ia menerima uluran tangan itu? Kesadarannya bilang, bahwa ini hanya mimpi. Tak banyak orang yang sadar bahwa ia sedang bermimpi dalam mimpinya sendiri. Hinata merasa tengah diuji. Bahkan dalam mimpi sekali pun, ia harus memikirkan banyak hal. Bahkan untuk meraih tangan kakaknya. Bukankah semua hal diperbolehkan dalam mimpi? Semua yang telah mati boleh hidup kembali. Semua yang kau benci boleh kau buang jauh-jauh, termasuk perasaan sedih. Hinata ingin sekali memiliki kuasa untuk mimpinya sendiri. Ia ingin buang jauh-jauh kenangan tentang hari kematian orang-orang yang ia sayang.
"Kenapa, Sayang?" Tanya ibunya.
Pertahanan Hinata runtuh seketika itu. Matanya ditemani genangan air yang mengalir di kedua pipinya. Ia rindu. Rindu sekali ibunya. Rindu ibunya memanggilnya sayang.
Tiga orang di hadapan hime-Hyuuga itu tampak kebingungan dengan Hinata yang tiba-tiba saja menangis. Lalu sepasangan tangan merangkul bahunya. Hinata terisak, namun ia tersenyum.
"Maaf!"
.
.
.
Pernah di suatu waktu Yami duduk dengan tenang di pangkuan Hinata yang sedang membaca. Jarang sekali Yami tidak membuat ulah, atau meminta sesuatu tidak masuk akal. Hinata pikir, Yami hanya sednag good mood hari ini. Setiap orang pasti punya setidaknya satu hari dimana ia merasa dunia akan baik-baik saja.
"Apa ada kabar gembira?" Tanya Hinata.
Yami tersenyum, meski Hinata melihatnya sebagai sebuah seringai.
"Aku mengingat suatu hal yang sangat penting."
"Apa itu kabar baik?"
"Ya!"
Sempat hening sebentar. Hinata pikir Yami akan meneritakannya tanpa perlu ditanya. Namun Yami adalah Yami. Dia hanya menjawab saat ditanya.
"Kau keberatan berbagi kabar baik itu denganku?"
"Tentu saja!"
Yami membisikkan kabarnya.
Seperti angin. Seperti lantunan lagu asing.
Hinata merasa dunianya tidak akan baik-baik saja hari ini.
.
.
.
"Maaf!" gumam Hinata.
"Kenapa kau meminta maaf, Hinata?" Tanya Sasuke. Tangannya menggoncang tubuh gadis itu, mencoba menarik kembali kesadarannya.
Hinata ingin tertawa. Jika dia bisa menghitung, maka kata maaf mungkin adalah kata paling banyak yang ia ucapkan. Maaf bahwa ia lemah. Maaf bahwa ia tidak berguna.
Tapi kali ini, ia ingin meminta maaf bahwa ia tidak akan lemah, ia tidak akan tidak berguna.
"Aku tahu cara menghentikan Yami" ucap Hinata mantap.
"Yami? Sosok serba hitam itu?" tanya Sakura.
Hinata mengangguk. Ia tidak pernah seyakin ini.
"Tapi aku tak bisa melakukannya sendiri" lanjut Hinata.
Sasuke, Naruto, Kakashi, Shikamaru, Ino, dan Sakura memberikan tanda kesiapan mereka. Naruto menyengir lebar.
"Kupikir membiarkan Yami itu mengamuk dan menyelesaikan akatsuki adalah ide yang baik" komentar Shikamaru.
"Kunci dan segel dunia membutuhkan wadah dan alat. Untuk kasus Yami, dia adalah wadahnya, dan tombak itu adalah alat supaya kekuatannya dapat digunakan dengan sempurna. Aku juga seorang wadah, aku membutuhkan alat milikku supaya aku bisa mengontrol kekuatan penghancur ini" ucap Hinata
"Ini informasi baru. Kupikir kita bisa melakukan sesuatu dengan informasi ini" ucap Kakashi.
"Jadi, alat apa yang seharusnya jadi milikmu, Hinata?" tanya Ino.
"Sebuah pedang" jawab Hinata.
"Bisa pedang apa saja?" tanya Shikamaru. Hinata menggeleng.
"Kita tidak punya waktu mencari pedang atau apa pun itu, Hinata! Kau tidak lihat? Akatsuki sudah hampir kalah. Dan kita tidak tahu apa Yami akan berhenti setelah ia menumpahkan darah akatsuki atau justru menuntut pula darah kita! Ah! Mendokuse!" komentar Shikamaru.
"Tapi kita bisa membuat pedangnya" ujar Hinata. Alis Sasuke sebelah terangkat.
"Apa syarat pedangnya?" tanya Sasuke.
"Pedang yang memiliki darah matahari dan bulan. Aku memiliki keturunan bulan di darahku. Dan klan Senju memiliki darah matahari. Aku yakin senju dan uzumaki memiliki hubungan cukup erat di keturunannya."
"Aku?" tanya Naruto.
"Lebih baik mencoba dibanding menyesal" komentar Kakashi.
"Maaf Sasuke, kau boleh meminjamkan pedangmu?" tanya Hinata.
Sasuke entah kenapa terlihat sangat kesal.
"Kusanagiku, ditetesi darahmu dan dobe itu?" tanya Sasuke. Penekanan pada tiap kata yang ia ucap.
Membayangkan kusanagi miliknya dilumuri darah Hinata adalah hal terakhir yang akan dibayangkan kalau dunia tiba-tiba hancur begitu saja. Ditambah pula darah uzumaki? Bercampur dengan darah Hinatanya di Kusanaginya? Ayolah! Siapa pun tahu betapa protektifnya Uchiha pada apa pun yang ia klain sebagai miliknya.
"Kesampingkan egomu itu Sasuke. Kita perlu melihat apa ini berhasil atau tida dan menetukan langkah selanjutnya" pinta Kakashi.
Sasuke mendelik. Kusanaginya ia pegang erat-erat.
"Biar aku saja yang melawan hitam bajingan itu! Langkahi mayatku kalau kalian ingin mengambil Hina – ehem, maksudku Kusanagi dariku!" ujar Sasuke.
Uchiha itu mengambil kuda-kuda melompat. Dalam hitungan detik ia sudah sampai di pertarungan Yami dan anggota terakhir akatsuki yang masih hidup. Pertarungan berubah. Ini pertarungan tiga sisi.
.
.
.
TBC
Gomen atas kelamaan Ricchan update minna. Tapi chap ini udah ricchan panjangin kok. Hehe
Sekai no Fuin udah hampir tamat nih. Ricchan lagi nyari inspirasi buat namatinnya kayak apa. Ga pengen buru-buru dan jatuhnya ntar endingnya malah ngecewain. Jadi maaf ya kalau misalnya Ricchan bakal update agak lama.
Kemungkinan besar sih bakal tamat 2-3 chap lagi.
Keep review minna!
