[Baekhyun POV]

Aku menggigit bagian dalam pipiku dan melirik ke sembarang arah. Saat ini aku masih berada di dalam Mobil milik Kai setelah kami melakukan sebuah ciuman yang tak terduga sebelumnya.

"Are you okay, Baby?" tanyanya. Aku hanya mengangguk sebagai jawabannya.

"You don't look like it."

"Aku—" dengan berat, suaraku terdengar serak, "baik-baik saja."

Ia menatapku semakin intens dan tubuh bodohku ini terus saja bergetar karena tatapan itu.

"Aku hanya sedikit gugup," aku menambahkan, "I've never really been on a… whatever it is."

Ya, aku memang tidak pernah melakukan sebuah kencan dengan seorangpun Pria. Dengan mantan Kekasihku pun, aku bahkan tidak dapat menyebutkan dengan kencan. Tetapi berbeda kali ini, Kai menjemputku di Kantor bahkan meminta izinku terlebih dahulu untuk menerima ajakan makan malamnya. Dan tidak bohong, hal itu membuatku sedikit malu.

"A date?" Ia bertanya dengan seringaiannya.

"Don't be nervous okay?" tambahnya.

Aku mengangguk dan ia mulai melajukan Mobilnya. Ia terlihat sangat fokus pada jalanan, dan itu membuatnya terlihat lebih hot dari biasanya. Mungkin karena ia tengah mengendarai Mobil yang sangat mewah dan juga mengenakan pakaian yang super mahal?

My heart beat faster.

Aku menjilat bibirku sendiri sebelum berkata, "Terima kasih."

"For the dinner or the other things?"

"Both I guess."

"You're welcome. I hope you enjoy with me."

Tak lama, aku menyadari bahwa Mobil itu mulai memasuki sebuah kawasan yang tidak pernah aku datangi sebelumnya. Aku mengedipkan mataku berkali-kali ketika melihat kilauan lampu yang berasal dari sebuah Restoran yang mewah. Juga, beberapa orang yang menyambut kedatangan kami dengan jepretan lampu sorot kamera mereka yang mengarah pada kami.

Apakah mereka semua adalah Paparazzi?

"What the—"

Aku tak dapat melanjutkan ucapanku karena aku merasa berada di Planet lain. Aku tidak pernah berada di tempat dengan banyak Paparazzi seperti ini. Dan aku cukup terkejut ketika Kai justru turun dari Mobilnya dan semua Paparazzi itu memotret dirinya.

What should I do?

Tetapi Kai justru mengabaikan semua Paparazzi itu dan berjalan memutar membukakan pintu untukku. Tidak ada pilihan untukku selain turun dari Mobil itu dan meraih satu tangannya untuk kugenggam. Kami berjalan menuju Restoran itu dan Kai terlihat berusaha untuk melindungiku dari jepretan kamera Paparazzi menyebalkan itu. Ia memblok dorongan orang-orang itu hanya agar aku tidak tersentuh oleh mereka.

This could really not be my life right now, I thought. I've never imagined this kind of thing ever happening to me.

Mereka memberondong Kai dengan banyak pertanyaan, kebanyakan dari pertanyaan itu adalah mengenai diriku. Kai masih menutup rapat bibirnya dan ketika kami sudah berada di dalam Restoran tersebut, pintu tertutup secara otomatis di belakang kami dan kebisingan perlahan menghilang.

Aku cukup terkejut dan Kai memandangi seluruh tubuhku dari atas hingga bawah. "Kau baik-baik saja?"

Aku masih terdiam karena aku masih tidak mampu mengeluarkan suaraku. Ia mulai membawaku kembali berjalan dan kami tiba pada sebuah meja VIP yang terdapat nama 'Mr. Kim' di atasnya.

"Ini hanya permulaan bagimu, Park Baekhyun."

Permulaan?

Jadi apakah hal ini yang Ayah maksud ketika ia mengatakan bahwa Dunia akan memakanku?

"See? Semua orang mengincarmu. Aku sedikit menyesal karena telah membawamu ke sini dan membuatmu tidak nyaman."

"Jadi… apakah mereka semua mengenalku?" tanyaku ragu.

"Tentu. Siapa yang tak mengenal Putera tunggal dari Park Chanyeol?" Ia tertawa dan mengusak rambutku lembut, "jadi apakah selama ini kau tidak menyadarinya?" lanjutnya.

Aku menggeleng, "Ayah tidak pernah memberitahuku."

Entah sudah berapa kali aku mengucapkan kalimat itu. Aku sungguh tidak banyak tahu tentang siapa sebenarnya Ayahku dan juga posisiku saat ini. Aku tidak tahu bahwa semua orang terlihat begitu menginginkan informasi tentangku.

"Baekhyun, Ayahmu adalah seorang Pria yang sangat sibuk. Terkadang kau harus belajar sendiri untuk mengetahui hal-hal yang belum kau ketahui. Dan adanya diriku di sini, untuk membantumu dan menemanimu menghadapi kerasnya Dunia dalam kehidupanmu nantinya. Kau mulai mengetahuinya sekarang?"

Aku masih berusaha mencerna ucapan Kai dan aku hanya meresponnya lagi-lagi dengan anggukan.

"Apakah ini juga yang menjadi alasan Ayah melakukan Pertunangan dengan Luhan?"

Pandanganku mendadak kosong. Bahkan aku tak tertarik dengan seluruh makanan lezat yang tersaji di hadapanku. Memikirkan hubungan Ayah dengan Lelaki jalang itu, membuat nafsu makanku menghilang.

"Don't think too much about it. Aku akan menunjukkanmu hal lain yang menyenangkan. Sekarang, makanlah makananmu dan aku akan mengantarmu pulang setelah ini."

Untuk menghormati kebaikannya, aku mulai menyantap makananku dan sesekali aku melirik ke arahnya.

Mungkinkah Kai akan benar-benar membantuku? Apakah Kai akan tetap berada di sampingku ketika aku berada di dalam kondisi yang sulit?

.

.

.

Tidak bohong, Kai banyak membantuku untuk menyelesaikan pekerjaanku di Kantor. Kami pun lebih sering menghabiskan waktu kami berdua. Seperti makan siang, makan malam dan juga ia pernah mengajakku bolos bekerja satu hari untuk bermain di salah satu Pusat Perbelanjaan. Katanya, kami membutuhkan refreshing untuk menyegarkan pikiran kita dari banyaknya pekerjaan yang menumpuk.

Dan benar, dengan adanya dirinya, aku merasa mendapatkan kembali hidupku karena ia menunjukkan banyak hal yang tak kuketahui sebelumnya.

Mengenai Ayah…

Ia sudah 5 hari berada di Jepang, itu berarti masih tersisa waktu 2 hari lagi agar aku bisa bertemu dengannya. Aku sungguh merindukannya, terlebih sentuhannya. Tetapi lagi-lagi Kai berhasil mengalihkan hasratku terhadap Ayah dengan hal-hal yang menarik.

Kai tidak seperti yang aku pikirkan sebelumnya. Ia adalah seorang Pria yang baik dan juga menyenangkan. Ia bisa menjadi Hyung sekaligus ehem… Kekasihku di waktu yang bersamaan. Dan entah kenapa, aku semakin nyaman saat berada di dekatnya.

Jika kalian berpikir aku pernah melakukan seks dengannya, maka pikiran kalian salah. Kai tidak pernah memaksaku untuk melayaninya dan lebih sering menggodaku. Uhm, mungkin itu tidak sepenuhnya benar, karena sesekali kami melakukan make out hanya untuk memuaskan hasrat kecil kami.

Misalnya berpelukan, berciuman, meraba dan berbagi kasih sayang di atas ranjang. Kalian ingat bukan, jika kami sudah terlalu lelah dengan pekerjaan, dan tidak mungkin melakukan hal yang lebih di malam hari seperti… bercinta.

Malam ini, aku merasa bosan luar biasa. Tidak seperti malam-malam biasanya, aku ingin ada seseorang yang menemaniku. Menemani tidurku. Aku sangat merindukan kehadiran Ayah yang selalu menemani tidurku, namun kali ini Ayah tidak ada, dan itu membuatku merasa kesal.

Aku menoleh ke arah jam dinding di Kamar ini, dan jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Tidak terlalu larut untuk datang ke Apartemen Kai dan menginap di sana.

Aku membutuhkan teman bicara dan mengobrol. Aku tidak ingin gila karena berbicara seorang diri di Kamar yang sepi ini. Memang kemarin aku sering melakukan phonesex dengan Ayah, tetapi malam ini Ayah mengatakan padaku bahwa ia benar-benar sibuk dan harus melakukan perjalanan ke Kota lain. Tentu aku tidak ingin menjadi anak yang nakal, maka dari itu aku membiarkan Ayah melanjutkan pekerjaannya.

Dengan cepat aku meraih jaket tebalku dan berjalan menuju pintu utama Mansion mewah ini. Aku berjalan menuju Kamar Paman Lee yang terletak tak jauh dari pintu utama dan mengetuk pintu Kamar itu.

Tok tok tok

Tak lama pintu itu terbuka dan menunjukkan Paman Lee yang ternyata masih terjaga.

"Paman, aku ingin ke Apartemen Kai. Aku ingin menginap di Apartemennya. Bisakah kau mengantarku ke sana, Paman?" pintaku lengkap dengan wajah memelas khas anak anjing andalanku. Aku melihat Paman Lee menghembuskan nafasnya lemah.

"Apakah Ayah sudah mengizinkan Tuan muda?"

Aku mengangguk dengan cepat. "Tentu."

Aku berbohong tentunya.

Aku bersorak dalam hati ketika Paman Lee menuntun langkahku menuju pintu utama. Ia bahkan telah menyiapkan Mobil yang biasa kunaiki di depan pelataran Mansion ini. Aku bergegas masuk ke dalam, dan terduduk manis layaknya seorang anak yang penurut.

"Terima kasih, Paman."

Aku membungkuk hormat setibanya aku di depan Apartemen mewah milik Kai. Aku tersenyum pada Petugas Keamanan yang sedang berjaga, dan seolah mereka telah mengenalku, aku langsung masuk begitu saja ke dalam Apartemen itu dan menaiki Lift guna tiba di Kamar Apartemen milik Kai.

Sungguh aku tidak sabar untuk bertemu dengannya.

"Baekhyun? What's going on?"

Ia nampak terkejut, dan aku menunjukkan wajah memelas andalanku agar ia membiarkan aku masuk ke dalam Kamar Apartemennya itu.

"Nothing. I just… uhm, can I stay here tonight?"

Ia mengangguk dan membiarkanku masuk. "Tentu."

"Dimana aku bisa tidur?" tanyaku setelah kami berada di dalam. Aku memang sedikit menggodanya, dan aku menggigit bibir bawahku.

Aku tahu, ia paling tidak suka jika aku menggigit bibirku seperti ini.

"There's only one bedroom," Ia menyeringai. Kemudian ia memperhatikan pakaianku yang sangat tidak cocok untuk tidur.

"Sepertinya kau harus mengganti pakaianmu sebelum tidur. You can wear one of my shirts to bed, they're long enough to cover your little body," Ia tersenyum.

Aku berjalan menuju Kamar pribadinya dan meraih salah satu Kaos yang terdapat di atas kasur miliknya. Dengan cepat aku melepaskan jaket dan juga pakaian yang melekat di tubuhku. Hingga aku tidak mengenakan apapun selain celana dalamku.

Kaos milik Kai cukup besar untuk menutupi pahaku, tetapi aku yakin ia masih dapat melihatnya. Kemudian aku membalikkan tubuhku dan baru menyadari bahwa sedari tadi Kai berdiri di ambang pintu memperhatikanku. Wajahku seketika memanas dan aku berusaha untuk bertanya padanya. Sekali lagi.

"Dimana aku bisa tidur?"

"Di sini hanya ada satu Kamar tidur dan satu ranjang di dalamnya," ucapnya santai.

Aku kembali menggigit bibirku sendiri dan entah kenapa aku merasa malu saat ini. Aku benar-benar malu karena baru menyadari bahwa aku tengah bersama seorang Pria tampan yang hanya mengenakan celana pendek, di dalam Kamar yang sepi ini.

"Relax, I'm not gonna try anything," Ia tertawa.

"Not even if I do this?" Aku menghisap jemariku sendiri dan memberikannya tatapan yang lugu. Entah kenapa, aku sangat senang merangsangnya seperti ini.

Dan ia nampak tertarik. Kini ia mulai berjalan mendekatiku. Aku ingin menghindarinya tetapi ia lebih dulu menahan pinggangku.

"Don't tease me," suaranya terdengar berat.

Apakah ia mulai bernafsu?

Apakah ia bernafsu pada Bocah kecil yang nakal sepertiku?

Aku tersenyum manis hingga mataku nyaris tertutup, dan kedua tanganku menarik pinggulnya mendekat ke arahku.

"Why not?" Aku berbisik bermain-main padanya.

Senyumanku luntur kala ia semakin mengeratkan cengkramannya pada pinggangku dan ia melihatku penuh nafsu melalui tatapannya. Aku tidak menyangka ia akan menganggap godaanku ini serius, karena tak pernah sekali pun aku melihatnya sangat bernafsu seperti ini. Justru sebaliknya, ialah yang selalu membuatku bernafsu.

Ia mendorong tubuhku hingga akhirnya aku terbaring di atas ranjang mewahnya. Ia menindih tubuhku dan hendak meraih bibirku.

Apa yang sedang aku lakukan? Aku adalah Kekasih Ayah. Bukan Kekasih Kai. Aku ingin menghentikan semua ini, tetapi aku pun tak ingin hal ini berhenti. Hingga aku memutuskan untuk memejamkan kedua mataku dan melumat bibirnya lebih dulu. Aku dapat merasakan kembang api meletup-letup di dalam perutku ketika ia membalas ciumanku dengan panas.

Kami memang sudah terbiasa melakukan french kiss dan ciuman-ciuman lainnya. Tetapi aku mematahkan segalanya, ketika tangannya mulai meremas kedua bokongku dengan kuat. Bayangan Ayah seketika muncul di pikiranku. Hal itu tidak membuatku takut, justru sebaliknya.

Aku merasakan bahwa Kai tengah menggantikan posisi Ayah saat ini.

Ciuman kami sempat terputus, dan ia memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan kaos miliknya dari tubuhku hingga aku tampil polos di hadapannya. Dengan lapar ia menghisap dan menjilati kedua putingku bergantian. Tubuhku menggelinjang dan aku hanya mendesahkan namanya sebagai imbalan.

Bisa kulihat miliknya menegang di balik celana dan aku masih terheran pada diriku sendiri yang dapat dengan mudahnya merangsang Lelaki seperti Kai. Entah itu disebut keahlian atau kekurangan. Aku tidak perduli.

"Baekhyun… maafkan aku okay?"

Aku terkejut atas permintaan maafnya. Untuk apa ia meminta maaf?

"So… you wanna fuck me right now?" tanyaku.

Ia menggeleng dan kembali membawaku pada ciuman manisnya. Masih kurasakan kedua tangan besarnya menjelajahi tubuhku dan merangsang titik-titik lemah yang kumiliki.

Namun tak lama kemudian, ia melepaskan ciuman kami dan ia bangkit dari atas tubuhku. Ia tersenyum simpul dan menatapku dengan penuh kasih sayang.

"Pakai kembali pakaianmu, dan cepatlah tidur. Aku…," Kai menyempatkan dirinya untuk menatap ereksinya sendiri, "aku harus menyelesaikan urusanku terlebih dahulu. Mungkin kita akan melakukannya lain kali."

Ucapannya berhasil menamparku dengan keras.

Apa maksud ucapannya tadi?

Jadi, ia dapat menahan nafsunya dan mengendalikan dirinya untuk tidak menyetubuhiku?

Tetapi… apa alasannya?

Kenapa ia menolak untuk menyetubuhiku?

Aku benar-benar masih tidak mampu membaca pikirannya.

Aku hanya mengangguk mematuhi perintahnya dan melihatnya mulai memasuki Kamar mandi. Aku tidak begitu bodoh untuk memahami apa yang akan ia lakukan di dalam sana. Ia pasti akan melakukan masturbasi untuk meredakan ereksinya. Ugh! Bukankah aku terlihat begitu jahat?

"Kai… kau membutuhkan bantuanku?"

Ya, mungkin aku bisa membantunya. Aku memiliki bibir yang manis dan aku pun pandai dalam melakukan blowjob maupun handjob.

"Tidak perlu. Lakukan saja perintahku tadi."

Aku mendesah kecewa dan mulai membaringkan tubuhku kembali di atas ranjang mewah ini. Menarik selimut hingga menutupi tubuhku dan terlelap menuju alam mimpi.

"Goodnight, Mr. Kim Freaking Jongin."

.

.

.

.

.

.

To Be Continued…

.

.

.

.

.

.

Hai, Yuta mau kasih sedikit informasi kalo akun wattpad Yuta itu baru aja dibanned. Jadi, Yuta gak akan publish ff di sana lagi.

Yuta akan fokus nulis cerita di ffn. Dan semoga, kalian masih mau baca ff Yuta ini.

Oiya, dengan updatenya ff ini, yaitu sebagai penutup dari semua ff Yuta karena Yuta akan hiatus selama bulan Ramadhan.

Yuta bakal aktif lagi yaitu setelah Lebaran.

Yuta ucapkan mohon maaf lahir batin, kalo Yuta banyak salah. Semoga puasa kita dilancarkan hingga hari kemenangan tiba. AMIN.

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya.

Sampai bertemu nanti. Saranghae bbuing~!