luigi torelli
Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya. penulis tidak mengambil keuntungan material apapun atas pembuatan karya; ditulis hanya untuk kesenangan. perhatian: ini adalah fiksi penggemar historikal; meski mengandung unsur sejarah, tetap ada aspek-aspek bersifat rekaan di dalamnya
Pairing/Character: Romano/Liechtenstein; OC!Roma, Norway, Hungary, Prussia, Germany . Genre: Adventure/Family/Romance. Rating: T. Other notes: WWII!AU, Naval Army, Regia Marina.
(Siapa yang terakhir menyerah untuk Perang Dunia II? Dan setelahnya, Lovino tak tahu arah pulang.)
Lovino baru tidur dua jam ketika tiba-tiba saja suara ribut-ribut yang tidak biasa membangunkannya paksa.
Ia mengerjapkan mata dan menyadari orang-orang yang berteriak dengan bahasa Jepang di luar sana. Ketika ia bangkit, duduk, kepala nyaris terantuk langit-langit, ia menyadari tempat tidur Francisco kosong dan selimut Lukas di bawah tempat tidurnya menjuntai ke bawah. Lelaki itu tak pernah tidur berantakan—dan tentu saja ini bukan pertanda yang baik.
Baru saja ia menoleh, pertanda itu sudah menjadi nyata.
Seorang prajurit Jepang mengacungkan senjata ke arahnya. Memerintah dengan kata-kata yang asing, yang secara otomatis membuat Lovino mengangkat kedua tangannya begitu saja.
Begitu tiba di luar, yang ia temukan adalah seluruh rekan satu Luigi Torelli-nya—bahkan Ludwig sekalipun—diminta berdiri di tepian pelabuhan. Kapan mereka berlabuh, kapan mereka diminta untuk berjejer, ia tak sempat bertanya lagi—karena ia langsung dipukul di bagian punggung dengan hulu senjata dan diminta berdiri di samping Lukas. Perwira Jepang berdiri tepat di samping Luigi Torelli yang bersandar, dan beberapa masuk ke dalam. Tak seberapa lama, yang masuk tersebut mengeluarkan semua benda apapun yang berbau bendera Nazi.
Meski dia dijaga oleh beberapa prajurit Jepang di balik punggungnya, Lovino bertanya pada Lukas dengan bahasa Italia agar tak terlalu kentara.
"Ada apa ini?"
"Jerman menyerah pada Sekutu."
"Apa?!"
BUK! Lovino kembali dipukul dan ia mengaduh keras-keras hingga Francisco yang tadi tercenung menatap apa yang dilakukan orang-orang Jepang pada Torelli pun menoleh padanya. Matanya membulat dan tampak meringis, secara tak langsung menyuruh Lovino untuk diam.
Lukas tak menjawab. Lovino sekarang merasakan seorang prajurit Jepang mengawasinya lebih dekat di balik punggungnya.
Semua perwira yang menggeledah adalah perwira senior, kecuali satu orang yang lebih banyak berdiri di tepian pelabuhan dan hanya masuk satu kali. Badannya sangat mungil, bajunya putih, dan sesekali menoleh pada barisan tawanan. Keningnya mengerut sesekali.
Hingga pada akhirnya, saat semua pertanyaan Lovino tidaklah terjawab, perintah seorang perwira yang tadi membawa bendera terbesar Nazi dari bagian dalam kapal, membuat semua perwira yang berjaga di belakang tawanan memukul punggung semua orang lantas membalikkan tubuh mereka paksa. Meminta mereka untuk berjalan dalam bahasa Jerman satu kata yang tak sempurna dan meleset dialeknya.
Semuanya digiring ke tempat yang sudah Lovino tebak dari awal: bangunan sempit yang gelap di ujung jalan, yang pernah ia tanyakan suatu waktu pada Francisco yang hobi menjelajah dan mencari tahu hal-hal di sekitar pelabuhan Jepang yang kerap mereka kunjungi.
Penjara.
"Masuk!"
Semua dijejalkan dalam satu sel sempit.
.
.
.
.
[ weeks ago ]
Erika berhenti di mulut gang yang sudah kehilangan wajah asalnya. Tidak ada lagi rumah-rumah yang berjejer di dalam sana—semua seolah tanah lapang dengan sisa-sisa pilar yang tak seberapa.
Hanya dua rumah yang bertahan, dan gang itu ditinggalkan hingga menjadi seperti sudut mati dari desa yang telah membangun hidup barunya.
Ia berhenti sebentar di samping titik yang ia yakini dahulu dihuni oleh pot-pot tanaman yang dirawat dan disiram setiap hari, yang dulu adalah ujung dari arena bermain bola sederhana dua anak lelaki yang kembar. Ia menatap rumput-rumput dan andai saja rumput itu bisa mendengar dan bicara padanya, akan dia ceritakan. Bahwa dunia mereka sekarang dulunya adalah dunia seorang gadis kecil yang bahagia bersama kakaknya.
Ia tak menghabiskan banyak waktu di sana. Ia berjalan terus, lantas mengeratkan pegangannya pada tasnya. Entah dia mencoba berlindung dari apa, padahal yang dia lakukan adalah pulang. Sepanjang perjalanan sudah ia habiskan dengan memikirkan hal lain, misalnya isi surat yang akan ia tulis untuk Michelle maupun Erzsi—tetapi sekarang semua ketakutan dan harapan berkumpul dan bergumul menjadi satu, membuatnya panik dengan cara yang tak biasa. Tangannya gemetaran dan dingin.
Kunci rumah masih ia simpan dengan baik, meski benda itu telah dia bawa melintasi Eropa dari selatan ke utara, dari barat hingga ke timur.
Lubang kunci telah rapuh dan penuh debu. Gerendelnya seperti rusak, padahal hanya usia yang memakannya dan dia masih berfungsi dengan baik ketika Erika memutarnya.
Ketika mendorong pintu, Erika menahan dirinya untuk tidak berpikiran hal yang buruk.
Dorongan pintu terasa agak berat dan menimbulkan bunyi aneh. Debu pada lantai di hadapannya langsung menyambutnya, dan angin yang mendesau masuk memaksanya untuk menutup hidung. Langit-langit dipenuhi oleh sarang laba-laba dan jamur.
Ketika ia masuk, ia menemukan penyebab beratnya pintu saat didorong.
Setumpuk surat menanti di balik pintu. Erika menutup mulut, lalu menyerbu tumpukan kertas itu. Ia mengambil satu secara tak sabar dan ketika membaca nama pengirimnya, ia tak bisa menghentikan airmatanya.
Ia cari yang teratas. Yang terbaru, nampak dari amplopnya masih cukup bersih dibanding dengan yang lain—ada yang sudah menguning dan mengerut karena berkali-kali basah-kering. Erika langsung membukanya. Bertanggal hanya sekian minggu yang lalu, surat itu dikirim dari Hong Kong dan disertakan pula sebuah benda serupa anyaman dari tali yang kecil dan sederhana, yang barangkali bisa digantung di ujung tas atau kunci.
Erika mencium surat itu, tak peduli pada aroma dan debunya. Ia hanya ingin memeluk Lovino meski lewat tulisan.
Dan ia masih punya setumpuk 'Lovino lain' untuk menemani malamnya. Dikumpulkannya seluruhnya, disusunnya dengan rapi dan dia angkut ke atas. Kakinya meninggalkan jejak terang pada lantai yang berdebu, tetapi dia tak bisa lebih peduli lagi pada hal apapun kecuali pada apa yang dia bawa ini, dan yang masih tersisa pula di balik daun pintu sana.
Erika baru selesai membersihkan lantai bawah ketika malam ia rasa sudah cukup larut. Tak ada jam yang berfungsi kecuali jam tangan kecil di tangannya, yang dia dapat dari Joachim saat pertama kali berangkat dulu, yang ia tinggalkan di atas tempat tidur. Ia menghentikan pekerjaan itu dan membiarkan lantai atas, kecuali kamarnya sendiri, penuh debu dan kotoran.
Decit tempat tidurnya masih sama nyaringnya seperti yang dulu. Dia mengambil secara acak sebuah surat dari bagian agak ke bawah. Yang sudah cukup menguning dan berkerut-kerut, serta dilengketi noda yang tak bisa dibersihkan lagi. Namun ia tak peduli pada apapun jika bagian dalamnya masih bisa dibaca—meski agak samar karena pernah basah.
Surat itu beralamatkan pelabuhan di Spanyol. Tak banyak yang Lovino ceritakan kecuali tempat-tempat yang ia lihat dan sebaris kalimat bahwa ia merindukan Erika saat ini.
Surat-surat yang lain bernada sama. Semuanya bercerita tentang tempat-tempat di luar sana, meski ada beberapa yang alamat asal-muasal suratnya sama, selalu ada hal yang menarik. Lovino membukakan lebih banyak hal tentang dunia padanya.
Erika menghabiskan waktu hingga pukul dua hanya untuk seluruh surat itu.
Ia menengadah saat membaca ulang surat yang paling baru. Saat inilah titik terdekat ia dan Lovino, lalu ia menyadari satu hal.
Kita sudah sama-sama menjelajahi Eropa, Lovino—
Lantas ia menutup mata rapat-rapat.
Maka kapankah kita akan sama-sama pulang?
Di luar, pada pagi harinya, Erika membersihkan teras, tak seorang pun lagi di sekitar sana yang ia kenali. Desa itu semakin sepi. Rumah Nyonya Ella masih ada, tetapi tak ada tanda-tanda kehidupan. Papan namanya pun sudah ditanggalkan.
Kampung ini tak pernah sama lagi, berikut pula dengan kehidupannya sendiri. Erika berpikir untuk membeli banyak benang untuk cutinya kali ini. Barangkali ada banyak baju yang ia bisa hasilkan.
Dan ia rasa ia juga perlu menggantung sebuah papan nama di depan rumah. Ia tak memiliki keputusan pasti hitam di atas putih bahwa dia adalah perawat resmi, tetapi setidaknya, ia ingin membantu lebih banyak.
Untuk sementara, hidupnya bebas dari lebih banyak kekhawatiran.
.
.
.
.
Di dalam penjara, Lovino mendapat tempat paling dekat dengan pintu, ia yang terakhir kali dijebloskan dan ia pula yang paling leluasa memandangi pekerjaan orang-orang di luar sana, yang mengawasi mereka semua. Mondar-mandir dengan senjata di pundak.
Lovino masih melihat lelaki berbaju putih itu. Dia masuk sesekali dan mengawasi.
Semakin lama mengawasi balik, Lovino sadar lelaki itu memang mengincar sesuatu dari kandang sempit dan lembab itu.
Beberapa orang di dalam selnya membicarakan hal-hal yang bisa membuat diri mereka tenang. Tenggelam dalam kelompok masing-masing. Lovino juga mendengar Francisco dan Lukas berbicara satu sama lain—tetapi ia tak punya hasrat untuk mengikutinya.
Hingga malam, Lovino masih mengawasi. Ia menolak kantuk dan terus berusaha memperjuangkan firasatnya.
Dua pengawas diminta keluar oleh si Baju Putih. Di saat itu, kebanyakan tahanan sudah tidur. Kecuali dirinya dan—mengejutkannya—Ludwig. Perintah berbahasa Jepang pada dua penjaga itu membuat ia sangat menyesali kenapa tak belajar bahasa Jepang di luar pembicaraan sepotong-sepotong ala orang-orang pelabuhan.
Si Baju Putih menghampiri sel. Lovino memandang tajam, tetapi orang itu hanya membalasnya dengan tatapan datar.
Di lain sisi, Ludwig bangkit.
"Sudah kuminta pada mereka. Mereka setuju untuk mengambil beberapa kru Luigi Torelli asli untuk I-504."
Lovino terperanjat. Lancar sekali bahasa Inggrisnya!
"Aku sudah punya beberapa orang di kepalaku."
"Tetapi semua peringkat mereka akan turun ke kelasi. Berapa orang rekomendasimu, di luar dirimu sendiri?"
"Empat. Termasuk kru radio."
"Yang radio tidak bisa dipertahankan jika dia tidak bisa berbahasa Jepang dengan baik. Biarkan dia menjadi kelasi."
"Baik. Sisanya adalah yang ini, dan ini. Satu mantan mata-mata—aku tahu dia cerdas. Yang satu lagi cukup cekatan membuat keputusan. Ia sudah bergabung sejak awal pelayaran. Kapan kau akan mengeluarkan kami?"
"Besok pagi." Lelaki itu pun mengulurkan tangan, yang langsung dijabat dengan akrab oleh Ludwig. "Ini rahasia kita."
"Semua aman. Terima kasih kerjasamanya."
Laki-laki itu pergi. Lovino mematung. Berkedip pun ia lakukan dengan lambat sekali.
Dan di saat yang bersamaan dengan keluarnya prajurit Jepang tersebut, ia beradu pandang dengan Ludwig.
"Kenapa harus aku?" suara Lovino bergetar. "Dari seluruh orang yang ada, rekan-rekanmu, kenapa kau memasukkan aku?! Kita sangat jarang bicara dan kau tidak pernah benar-benar mengajakku mengobrol. Atau kalian berdua membuat konspirasi?!"
Ludwig duduk dengan kaki ditekuk di hadapannya, tepat di samping Lukas yang tidur meringkuk. "Aku tidak pernah menceritakan padamu cerita masa kecilku."
"Apa hubungannya?!" pertanyaan serak itu berusaha ia tahan-tahan agar yang lain tak terbangun—tetapi seseorang tampak bergerak terganggu, beruntung sekali ia tak benar-benar bangun.
"Pamanku seorang sukarelawan sejak ia muda. Ia turut serta membantu korban gempa di Italia—meski agak terlambat dan sempat terjadi sebuah kerusuhan."
Mata Lovino membulat. Tidak sedikit pun rangkaian kejadian penting tahun itu yang tanggal dari memorinya.
"Dia menyelamatkan seorang anak laki-laki yang sekarat karena terinjak-injak. Dia mengobati anak itu hingga ke Roma bahkan membawanya ke rumah sakit terpercaya di Jerman. Dan mengajaknya tinggal bersama aku dan saudara-saudaraku."
Lovino menggeleng cepat. Tidak mungkin.
"Aku dan anak itu berteman karena kami sebaya. Sayang sekali, dia lumpuh. Kakinya cacat. Fisiknya lemah, paru-parunya tidak bisa berfungsi normal karena terinjak-injak pada bagian dada."
Bibir Lovino bergetar, dan ia menarik kakinya ke depan dada. Memeluknya erat-erat dan menggumamkan suatu nama. "Feli ... Feli ..."
"Tetapi dia punya semangat hidup yang tinggi. Ia sering membuat aku dan kakak terdekatku, Gilbert, tertawa, meski dalam bahasa Jerman yang terbata-bata. Ia selalu ceria meski jarak terjauh yang ia bisa capai hanya dapur rumah kami." Ludwig menatap Lovino dalam-dalam. "Ia tidak bisa bertahan lebih lama lagi satu tahun kemudian. Ia semakin sakit setelah musim dingin yang mengerikan. Ia meninggal di depan aku dan Gilbert—dan kami tidak bisa berbuat apa-apa."
"Siapa namanya?! Katakan siapa dia!"
Ludwig menggeleng. "Pamanku tidak tahu siapa nama aslinya, tetapi dia memanggil anak itu Leo."
"Kenapa kau menceritakan semua ini kalau tidak ada hubungannya denganku?!" Lovino masih berusaha menolak ketakutannya sendiri, "Cepatlah kembali pada pembicaraan kita sebelumnya!"
"Saat sakitnya semakin parah, dia semakin sering mengigau memanggil 'kakak'. Saat melihat wajahmu di hari pertama kerja sama antara Jerman dan Italia, aku tahu aku bisa berbuat lebih banyak untuk teman masa kecilku."
"Feliciano! Itu Feliciano!" Lovino memukul-mukul tembok di belakangnya. "Kenapa tidak seorang pun mengatakan padaku bahwa dia masih hidup saat itu?! Kenapa tidak ada yang mengembalikan ia padaku?! Kenapa—"
Ludwig membekap mulutnya. Wajah mereka sangat dekat dan ini kali pertama Lovino menyaksikan kemarahan di mata Ludwig yang biasanya begitu dewasa dan tenang. "Kau tidak tahu apa yang akan mereka lakukan jika mendengarmu."
Lovino membiarkan tangisnya sendiri pecah. Masa bodoh jika ia terlihat kekanakan, masa bodoh dengan segalanya, masa bodoh dengan dunia! Ia menutup mata dan membiarkan hatinya yang berteriak, sementara Ludwig menarik tangan dari mulutnya.
"Aku bukan Nazi seperti rekan-rekanku, aku hanya mengikuti kewajiban militer yang tidak bisa kuelakkan, dan semua ini demi kakakku, Gilbert. Ia cacat karena pertempuran, dan beberapa kakakku yang lain tewas di garis depan. Jadi kau tidak perlu menganggapku orang asing atau jahat." Ludwig mengawasi pintu depan.
Sejauh ini masih aman, maka dia pun melanjutkan ke bagian yang lebih krusial. "Yang barusan namanya Honda Kiku. Dia menolak disebut kolaborator, tetapi pikirannya terbuka. Dia pernah bekerja untuk kedutaan Inggris sebagai staf sebelum perang dimulai. Kami banyak berdiskusi saat Jepang dan Jerman bekerja sama—dan kami satu ide soal akhir perang. Kami percaya tentang hukum sebab-akibat ... dan berpikir jika kami menyelamatkan orang-orang, kami akan selamat dari perang yang sudah semakin jelas akhirnya ini."
Lovino memegangi keningnya. Tak memiliki minat untuk berbicara sama sekali.
Sadar akan suasana, terutama pikiran Lovino, Ludwig menyimpulkan semuanya dengan hati-hati. "Kau tidak akan berpisah dengan teman-temanmu."
Paginya, Ludwig membuktikan bahwa dirinya tidak berbohong.
Dia ditarik oleh orang yang sama dengan yang menjebloskannya kemarin. Kiku mengawasi, kali ini Lovino bisa memandang dia dengan lebih ramah dan mengerti.
Orang-orang yang tertinggal di dalam penjara memandang mereka dengan iba. Lovino tak mengindahkannya. Ia hanya memberi kode anggukan pada Francisco dan Lukas, berharap mereka bisa mengerti bahwa dirinya berani menjamin.
Mereka digiring ke ruangan di mana Kiku langsung menguncinya. Hanya tembok yang mengelilingi, ada sebuah jendela kecil di dekat langit-langit yang juga dilapisi jaring-jaring kawat. Sudah ada dua orang yang menunggu di dalamnya. Segera setelah berdiri berjajar di depan Kiku, yang baru saja memberi perintah dalam bahasa Jepang yang tegas, salah satu dari mereka melemparkan lipatan-lipatan kain dari dalam tas di atas meja.
Lovino menyambut kain tersebut, dan dibukanya langsung tanpa peduli sekitar. Lukas masih ragu melakukannya, sementara Francisco termenung. Ludwig melirik ke arahnya, ia sadari itu.
"Pakai itu segera," perintah Kiku dengan bahasa Jerman yang meleset sedikit, tercampu dengan aksen Jepang yang kental.
"... Pasti baju kelasi," Lovino menggeleng-geleng, tetapi tak terlihat keberatan. Hanya bosan.
Lukas dan Francisco berpandangan. Ludwig melirik pada dua penjaga tambahan, lalu pandangannya berpindah pada Lovino.
"Ganti baju sekarang saja. Orang-orang ini tampaknya tidak berniat meninggalkan kita sama sekali."
"Masa bodoh." Lovino melepas kemejanya begitu saja. Peduli setan pada pakaian dalamnya yang lusuh dan sudah kusut serta berbau, dia langsung melapisinya dengan kemeja baru berwarna biru gelap yang tebal tersebut. Berikut pula celananya, dia tanggalkan begitu saja dan segera dipasangnya celana baru tanpa mempedulikan Francisco yang nyaris tertawa sambil bergumam bahwa celana pendeknya sudah begitu kusam dan tambalan barunya tampak jelek.
"Gantilah sekarang!" bentak Lovino balik pada Francisco.
Lukas menepi, Ludwig menggantinya di tempat dan terlihat malu-malu. Mukanya sedikit merah—membuat Lovino berpikir bahwa lelaki yang satu ini cukup lucu juga.
"Setelahnya segeralah kembali ke I-504," Kiku memerintah, dan berbalik pergi.
Meski bertahun-tahun menjadi bagian dari kru, Lovino hanya pernah masuk ke ruang mesin sebanyak lima atau enam kali, jika ingatannya tak keliru. Lukas tampak begitu kikuk, hanya berdiri mengamati di beberapa titik, tetapi Francisco kelihatan lebih lihai dan langsung mengutak-atik beberapa bagian sambil mengomel atas kerusakan-kerusakan kecil yang terlihat. Ia segera mengambil kotak peralatan perbaikan dan sibuk sendiri.
Ludwig membuka cetak biru yang mengusik Lovino.
"Dari mana kaudapat benda itu?"
Jari Ludwig menyusuri beberapa bagian, "Aku memilikinya semenjak pertama kali ikut Luigi Torelli. Kiku mengambilnya kemarin, lalu dia kembalikan lagi padaku."
"Tsk. Sekarang aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku seperti orang bodoh di sini."
"Seandainya kau bisa berbahasa Jepang."
"Jangan mencelaku, heh! Kepalaku sudah terlalu penuh untuk satu bahasa lagi. Apa kau bisa membagi cetak biru itu bersamaku? Setidaknya daripada aku mati bosan."
Ludwig menuju meja kecil yang hanya muat untuk separuh kertas khusus tersebut. Lovino termangu, Ludwig membiarkannya untuk beberapa saat.
"Maaf aku harus mengatakan hal seperti ini lagi ... tapi kau berhak untuk tahu."
Lovino mendelik tajam.
"Leo—maksudku Feli—sering bercerita tentang keluarganya, terutama kakaknya yang bernama Lovino."
Lelaki di hadapannya berdiri tegak, membiarkan kertas tadi tergulung kembali di atas meja. Kedua tangannya mengepal di samping tubuh.
"Dia sangat menyukai kakaknya yang selalu antusias tentang mimpinya soal pelaut. Dia bilang dia ingin sekali menjadi orang yang serius seperti sosok Lovino juga bercerita tentang kakeknya, yang ia sebut sebagai harta paling berharga yang ia punya. Lalu teman kecilnya, Erika—yang mungil ... dan perhatian—serta kakaknya yang galak."
Mereka bertatapan dengan canggungnya.
"Melihatmu bisa benar-benar mewujudkan mimpimu, aku tahu Feli pasti senang melihatnya dari dunia sana."
Di luar dugaan Ludwig, lelaki itu cuma menelan ludahnya keras-keras. Ia menunduk, kembali kepada cetak biru.
"Entah dia senang atau tidak, aku tidak perlu dan memang tidak akan tahu. Bukannya hal itu tidak penting, tetapi yang lebih penting adalah agar aku bisa pulang dengan selamat, kembali ke rumah untuk sisa orang yang kusayangi. Tuhan mengambilnya lebih dulu daripada aku, yang berarti Feli berkorban untukku—dan aku harus hidup dengan lebih baik lagi agar aku yakin bahwa dia tidak mati sia-sia."
Ludwig turut mengepalkan tangannya. Untuk sesaat ia terpaku—perlu Lovino yang sekali lagi memandangnya untuk menyadarkannya.
"Siapa yang masih tersisa di keluargamu? —Ah, maaf menanyakannya ..."
"Tidak ada." Lovino mengangkat bahu.
"Oh, maaf—"
"Kekasihku menunggu di Italia—semoga dia sudah pulang dari perjalanannya."
Erika tidak jadi membuka rumahnya menjadi tempat pertolongan untuk orang-orang. Salah satu tetangganya, yang masih bertahan dan mengenalinya, memeluknya pada suatu sore, mengatakan padanya bahwa anaknya telah membuka sebuah klinik kecil di dekat pasar, dan semua itu karena dahulu ia melihat Erika begitu rajin datang ke rumah Nyonya Ella dan membantu di sana.
Ibu itu mengenalkannya pada si anak, dan Erika diterima begitu saja.
Tak banyak perbedaan yang ia dapat selama bekerja di sana dengan kesehariannya bersama Nyonya Ella—dan ia menikmatinya.
Namun hingga ia meninggalkan rumah untuk kembali menuju tugasnya—yang kapan akan berakhir, entahlah, tak satu pun surat dari Lovino yang datang.
Ia membawa sebagian surat, secara acak, ada sudah begitu kumal dan acak-acakan, keriting karena basah berkali-kali—tetapi yang dari Hong Kong itu pun ia sertakan dan ia taruh paling atas di dalam buku agenda di dalam tasnya.
Masih ada waktu satu minggu sebelum musim semi datang, dan ia sudah berjanji pada Erzsi untuk singgah di Jerman, menginap di Stuttgart, tempat Erzsi dan suaminya tinggal.
Dahulu ia begitu takut untuk melangkah keluar dari pekarangan tanpa kakaknya. Sekarang, menaiki kereta sendirian seperti sudah menjadi keseharian. Dunia sudah banyak berubah—terutama dunianya—ketika Erika perhatikan, tetapi tak juga keadaan perang berbalik secara signifikan. Ia senang menolong orang lain, tetapi ia lebih ingin benar-benar pulang.
Lalu menikmati hidupnya. Meski datar, terpetakan dalam satu pola keseharian yang biasa-biasa saja, setidaknya ia punya kepastian dan lebih banyak keamanan.
Baru saja kereta meniupkan peluitnya sebagai ucapan selamat tinggal pada stasiun, Erika menutup mata untuk tidur. Ia ingin menemukan banyak hal yang tidak bisa ia dapatkan saat ini di kenyataan.
Erika baru mengetuk pintu, tetapi pintu langsung dibukakan. Seorang laki-laki membukakan, Erika langsung bisa menebaknya dari kaki kanannya yang palsu dan salah satu matanya yang tidak bergerak dan warnanya sedikit berbeda.
"Halo, selamat siang ... saya Erika. Apakah—"
"Oooh! Ya, ya! Erz! Erz, sahabatmu sudah datang!" panggilnya keras-keras sambil menoleh. "Ayo, masuk, masuk! Erzsi sudah bercerita banyak hal tentangmu. Sini, mana tasmu, biar aku yang membawakan!"
"Ah, tidak usah—"
"Sudah terlambaaat!" lelaki itu malah terkekeh sambil mengangkat tas tangan kecil Erika. Bersamaan dengan itu, ada derap kaki dari bagian dalam rumah, yang terburu-buru dan disusul pula oleh 'oh' yang panjang dan bersemangat.
"Sahabatku sayang! Aku sangat merindukanmu!" Erzsi langsung memeluk Erika dan menepuk-nepuk punggungnya. Cukup lama. "Tidak kesulitan menemukan rumah ini, 'kan?"
"Syukurlah, tidak. Apa kabar, Erzsi?"
"Duduk, duduk—silakan. Gil, taruh saja barangnya di sini, nanti aku yang akan menunjukkan kamar untuk Erika. Gil juga, duduklah. Aku akan membuatkan minuman." Erzsi berjalan cepat, tetapi singgah sebentar di balik punggung Gilbert dan membuatnya duduk dengan menekan bahunya. "Kau ini, duduk juga."
Erika melirik sekeliling saat duduk. Lemari-lemari kecil dipenuhi oleh berbagai patung berbagai ukuran, kebanyakan berbentuk binatang terutama elang. Ada peti-peti di samping setiap lemari, dua di antaranya terbuka dan potongan-potongan kayu serta alat pahat menyembul.
"Dia memang kadang-kadang memperlakukanku seperti bocah. Padahal, kaulihat sendiri, 'kan, aku orang dewasa yang sama kuatnya dengan dirinya?" Gilbert menunjuk dengan ibu jari arah kepergian Erzsi tadi. Ia lantas tertawa kecil. "Selamat datang di rumah kami, Erika. Mungkin tidak sebesar rumahmu, tapi—semoga kau betah hingga kalian berangkat lagi."
"Tentu saja aku akan betah—ini adalah rumah yang hangat."
Erika mendapat sebuah kamar di dekat pintu masuk, sementara kamar Erzsi dan Gilbert berada di ruang tengah. Rumah itu hanya satu tingkat, dengan lorong yang sempit dan penuh oleh perabotan. Barang antik di mana-mana, dan kursi di ruang tamu yang kecil itu pun sepertinya pahatan tangan.
Kamarnya hanya memiliki satu dipan, dan cukup berdebu. Erzsi dan Gilbert berebut untuk menyapunya, tetapi Erika bilang bahwa dia toleran dengan debu dan bisa membersihkannya sendiri. Mereka makan malam bersama dan meja makan itu begitu ramai, terkadang oleh perdebatan Erzsi dan Gilbert, kadang oleh cerita Gilbert yang beragam, mulai dari pekerjaannya sendiri sampai kisah pertemuannya dengan bocah-bocah di Polandia yang membuat dia mengorbankan diri hingga kehilangan penglihatannya—salah satu alasan mengapa dia keluar dari ketentaraan dalam keadaan sakit serta tanpa satu pun medali penghargaan dan malah cemoohan dari beberapa pihak.
Kontras dengan yang sering terjadi di meja makan antara dia dan Lovino—yang biasanya begitu tenang, dan Lovino begitu mudah untuk menyesuaikan diri dengan Erika dengan berbicara pelan-pelan, sopan, dan banyak tersenyum. Erzsi dan Gilbert membuat segalanya hidup dengan cara mereka sendiri; yang nyaring dan tak jarang diisi pertentangan remeh-temeh yang konyol.
Dari pembicaraan-pembicaraan mereka, Erika mengerti betapa Erzsi sangat menjaga Gilbert.
"Nanti kalau aku pergi lagi, cukup terima pesanan paling banyak tiga patung dalam satu bulan, aku tidak mau tahu."
"Erz—"
"O. Kau bisa melanggarnya, tentu saja, karena aku tidak tahu," Erzsi lantas tersenyum sambil mendekatkan wajahnya pada Gilbert. "Tetapi kau pasti sakit setelah kebanyakan pekerjaan dan aku pasti akan mengetahuinya bagaimanapun caranya. Aku punya mata-mata di sini, Sayang, jangan macam-macam."
"Pasti tetangga-tetangga kita kausurati juga!"
Erika memikirkan Lovino dan andainya ia bisa mengatakan hal serupa—tetapi surat tidak akan mungkin melayangkan dirinya sendiri ke daerah lautan mana saja Lovino berada. Betapa ia berharap ia bisa mengatakan bahwa ia mengharapkan Lovino menjaga dirinya pula—dan pergi dari misi kapanpun ia bisa untuk segera pulang. Jika Lovino tahu bahwa dirinya sangat perhatian—tentu hal itu akan lebih baik. Lovino akan merasa dihargai—dan tahu bahwa dirinya sangat beruntung meski hampir kehilangan segalanya.
Seperti Gilbert yang bangga dan bahagia karena Erzsi—ia ingin Lovino merasakan perasaan 'dihargai' yang sama.
Ia dan Erzsi berangkat dua hari kemudian. Ia mengalihkan pandangan ketika Gilbert mencium Erzsi sebagai salam perpisahan di peron stasiun. Seolah tidak ada hari esok, seolah mereka masih lapar meski hari-hari yang hanya dihabiskan berdua sudah begitu banyak dilewati di belakang sana.
London; lagi. Tanpa Michelle di depan sana—tetapi Erika, entah mengapa, merasakan sesuatu yang lebih baik akan terjadi setelah ini.
Lovino menyaksikan kerja Kiku yang sangat datar dan ia rasa cukup kaku. Dari ruang paling pengap, ruang kendali mesin, dia menyaksikan lelaki itu berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain untuk mengatur banyak hal—meski bukan seorang komandan—seolah dialah yang paling sibuk sendiri di dalam kapal.
"Dia tangan kanan komandan misi I-504 ini," Ludwig berkata untuk pertanyaan Lovino yang tak sempat terujar. "Dia memang terlalu rajin bekerja."
"Sesuka ini dia pada kapal dan misi-misi lautan?"
Ludwig mendongak pada langit-langit yang tak seberapa jengkal dari atas kepalanya. "Cintanya melebih apa yang kaurasakan, menurutku."
"Tsk."
Lovino meninggalkan tempat duduknya. Hanya berdiri di depan mesin yang bergerak cepat.
Kiku muncul di ruangan mereka dan Ludwig hanya berdiri dan membungkuk sekilas untuk menghormatinya.
"Ada rencana baru."
Lovino menoleh.
"Kita akan menyasar salah satu pesawat pengebom Amerika dalam hitungan menit. Paling lama dua puluh menit dari sekarang. Kuharap kalian bersiap-siap begitu ada komando."
Begitu saja. Lovino memandang Ludwig lama-lama, tetapi kawannya itu tak kunjung menoleh hingga akhirnya Lovino bersuara, "Apa kita akan membunuh orang kali ini?"
Ludwig kembali duduk. "Apa kau tidak pernah melakukannya sebelumnya?"
Dia malah membuang muka. "Terlalu rumit dan aku tidak ingin menceritakannya."
"Kita tidak bisa membenarkan seluruh kelakuan kita—tetapi kita tidak bisa menyalahkan semuanya pula." Ludwig mengusap dahinya lalu duduk membungkuk.
"Apa kau sering melakukan ini sebelumnya?"
Ludwig hanya menatap Lovino. Ia mengangkat bahu. "Aku tidak pernah mengangkat senjata secara langsung seperti yang kakak-kakakku lakukan. Aku hanya menjalankan perintah di dalam armada kelautan dan aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya."
Lovino mendengar derap kaki mendekat. Satu pertanyaan terakhir, "Apa yang akan Feli pikirkan jika kita melihat apa yang kita lakukan?"
"Persiapkan penyerangan. Sekarang."
Ludwig tak bisa menjawab. Ia hanya menatap iba pada Lovino. Lukas hanya bergerak sedikit dari sudut, dan Francisco tak terlihat dari pagi.
Lovino tak memiliki firasat apapun saat berangkat tidur.
Namun ia bangun untuk hal yang mengejutkan. Tarikan dari Francisco, dorongan dari Lukas dan tatapan was-was-sedikit-antusias dari Ludwig. Ia berpakaian dengan cepat, seperti yang biasanya ia lakukan di hari-hari tugas—tanpa kecurigaan sedikit pun.
"Ada apa ini?"
Kiku menarik Ludwig diam-diam ke dalam ruangan yang cukup tersembunyi di dalam kapal. Francisco dan Lukas tetap mengikuti perintah untuk keluar dari seorang perwira yang berbahasa Jerman yang buruk.
Melawan kehendak hatinya sendiri, ia membuntuti Ludwig. Kiku menyadari keberadaannya tetapi tak menegur sedikit pun.
"Kaisar benar-benar menyatakan penyerahan diri pada Sekutu."
"Lalu nasib kami?" tanya Ludwig serak.
Kiku menggeleng lemah. Keyakinan dan ketegasan yang biasa disaksikan di matanya, kali ini benar-benar hilang dan Lovino menciut.
"Aku, sebagai prajurit Jepang asli, pasti akan ditahan pasukan Amerika setelah ini. Sementara kalian masih punya kesempatan untuk lari." Kiku menarik tangan Ludwig dan menaruh selembar surat di atasnya, dalam sebuah amplop yang masih bersih. "Aku tidak meminta kalian mengantarkannya langsung, tetapi jika kalian bisa menemukan jalan ke sana, aku akan sangat berterima kasih. Jika tidak pun, kantor pos masih berfungsi setelah ini. Tolong kirimkan ini pada istriku."
Lovino melirik pada Lukas yang secara tak sengaja juga mendelik padanya.
"Pergilah dan samarkan diri kalian."
Francisco bertindak cepat. Ia menarik Lovino begitu saja meski tak begitu menyadari siapa yang ia bawa. "Ganti pakaian sipil sekarang juga! Tinggalkan semua senjata dan jangan bawa apapun kecuali yang sangat penting. Sisa uang juga—tinggalkan semuanya!"
Sempat Lovino melihat Kiku mengangguk ke arah Ludwig. Lelaki Jerman tersebut mengucapkan beberapa patah kata yang tak jelas, dan segera mengikuti dia dan yang lain. Kiku menghilang di terakhir kali ia menoleh.
"Pasukan Amerika tidak menyusup ke daratan Jepang secara keseluruhan. Kita masih punya kesempatan di luar sana!" Francisco meyakinkan semuanya yang menanggalkan pakaian mereka dengan sangat terburu-buru.
Ia menjadi yang pertama selesai dan ia buru-buru menuju pintu, menunggu dengan tak sabarnya.
Mereka adalah orang-orang terakhir yang keluar. Tidak banyak orang di luar sana. Lovino hanya melihat dua tentara Sekutu di sudut pelabuhan dan sedang berbicara satu sama lain. Meski memegang senjata laras panjang, mereka tampak tidak acuh dengan suasana. Tentara-tentara Jepang menyebar dengan tak karuan, yang tadi menyuruh mereka keluar pun telah meletakkan senjatanya, dikumpulkan dengan setumpuk artileri lain di tepian dermaga.
Hari itu begitu mendung. Matahari bersembunyi dan awan-awan bergumul. Ada satu-dua pesawat yang berkeliaran. Lovino kehilangan petunjuk tentang tanggal berapa sekarang. Ia berjalan tanpa semangat sedikit pun, sementara itu Lukas di sampingnya memicingkan mata untuk mengamati pelabuhan yang sangat lengang—kontras dengan kekhawatiran semua orang di dalam kapal sebelumnya.
Tidak seperti yang Lovino duga, tidak ada satu pun penyerahan yang kemungkinan besar terjadi dalam perang-perang konvensional di daratan. Penodongan oleh pihak yang menang, orang-orang yang digiring oleh penawan yang kejam, dan penembakan serta pembentakan yang kejam.
Barangkali, jika ia adalah perwira di daratan, ceritanya memang akan seperti itu.
Untuk kali pertama dalam hidupnya, Lovino merasa benar-benar dijodohkan dengan keajaiban yang sudah terancang sejak awal dan ia dituntun untuk berjalan ke arah sana. Tidak salah ia meletakkan mimpi dalam-dalam di lautan, mengikuti arus samudra dan melayarkannya ke kapal-kapal mimpi semenjak kecil.
Mereka keluar dari area pelabuhan, dan sebuah pesawat melintas rendah di atas kepala—Lovino sampai menunduk sebagai refleks. Di tanah lapang tak jauh dari sana mendaratlah pesawat amfibi Catalina bersimbol bintang besar tersebut, dan kru tunggalnya turun sambil menatap ke arah mereka dengan cengiran aneh. M1911 dikeluarkan dari saku belakangnya.
"Lari!" Lovino bergerak—tetapi kalah tangkas dengan tangkapan Ludwig pada bahunya.
"Bersikaplah ksatria. Dia penerbang tunggal. Dia kelihatan tidak begitu berbahaya."
"Dia menuju ke arah kita!"
"Ludwig benar," Lukas juga bertahan di tempatnya. "Kita ada di pihak yang kalah, bagaimanapun caranya—kita harus menyerah sebagai bagian dari perjanjian."
"Kalian lupa?" Francisco menambahi, "Sebenarnya kita juga tawanan. Kita bisa membuktikannya—dan dia tidak berhak memperlakukan kita seperti yang harus ia lakukan pada tawanan Jepang. Jerman dan Italia sudah menyerah sejak lama—seharusnya kita punya takdir yang lebih baik daripada orang-orang Asia ini ..."
Lovino menelan ludah, pada akhirnya berdiri di belakang Ludwig. Lelaki Amerika itu berdiri di hadapan mereka, senyumnya masih sama, menawarkan hal yang membuat jantung Lovino hampir melompat.
"Bagaimana kalau kita semua minum kopi?"
Namun ia menodongkan senjatanya, bergantian kepada empat orang tersebut—seolah menghitungnya dengan moncong si pistol.
"Jalan duluan. Aku yang memberi komando dari belakang."
Lovino memberanikan diri melirik, sedikit menoleh, lelaki itu memainkan pistolnya, memutar-mutarnya, tetapi sembari bersiul. Mereka beradu pandang tetapi dia tidak marah. Sedikit-sedikit, lelaki itu merasa lebih aman.
"Belok kanan."
Mereka berjalan pada sisi yang salah, tetapi jalanan yang sunyi itu tak mungkin mempermasalahkan mereka. Tidak ada satu pun bangunan yang membuka pintunya, bahkan deretan pos angkatan militer Jepang tersebut. Lovino memikirkan Kiku dan di mana lelaki itu berada, tetapi sepertinya tak ada waktu lagi karena pemuda Amerika tersebut menyuruh mereka berhenti di depan sebuah gedung yang hanya terbuka separuh. "Masuk sini."
Kantor itu kosong. Bendera Hinomaru ditanggalkan dari dinding dan dibuang begitu saja di sudut ruangan. Lantai penuh dengan barang-barang, baru diobrak-abrik sepertinya. Lelaki itu mengajak mereka masuk lebih dalam—menyalakan lampu, dan berhenti.
Tepian ruangan kosong itu adalah jeruji besi. Di tengah-tengah ada meja panjang dengan beberapa kursi.
"Oops, aku kelupaan kopinya. Bukankah aku sendiri yang memintanya tadi? Okeee, sebentar, akan kucari di tempat teman-temanku di luar sana. Jangan ke mana-mana atau ...," dia berkata dengan ringan sambil mengacungkan lagi pistolnya beberapa kali.
Mereka semua berpandangan satu sama lain lalu terdengar bunyi pintu yang dikunci.
"Okeee, baiklah, apa yang kubilang tadi? Seandainya kita lari—"
"Kita akan mati ditembak!" balas Francisco. "Lovino, bisakah kau berhenti menjadi orang pesimis?!"
"Aku sudah terlalu sering optimis selama lima tahun ini dan aku benar-benar lelah!" Lovino menendang kursi hingga terjungkal. "Bagaimana kalau dia membunuh kita?!"
"Tidak akan."
"Bagaimana kau bisa tahu, Ludwig?! Jangan mencoba untuk membuatku lebih optimis lagi saat hidup kita benar-benar—"
"Konvensi Jenewa. Mempekerjakan tawanan dengan keras hingga kehilangan hak-haknya saja tidak boleh, apalagi sampai membunuhnya. Jika kau melarikan diri, maka cerita kita akan berbeda."
Bahu Lovino melemas. Lukas mengambil kursi yang terjengkang, mendirikannya kembali dan duduk di atasnya. "Yang bisa kita lakukan adalah menjadi tenang sekarang."
Hingga lelaki Amerika itu datang kembali, tidak ada yang berbicara. Pemuda itu datang dengan santainya dengan beberapa wadah minum tentara yang tampak bersih. "Tidak ada kopi, sayang sekali. Suplai sangat susah. Apa aku boleh minta maaf?" Ia pun menarik satu kursi dan duduk di sisi yang berseberangan dengan keempat tawanannya. "Alfred Fitzgerald Jones, angkatan udara Amerika. Kalian?"
"Ludwig Beilschmidt, Letnan Kepala, Jerman."
"Lukas Bondevik, Letnan Kepala, Italia."
"Hei—dialekmu bukan Italia." Alfred lalu mengangkat bahu. "Tapi bukan hakku untuk bertanya, sih. Oke, selanjutnya."
"Aku mata-mata untuk Italia di Norwegia saat permulaan perang."
Alfred tercengang sebentar. "Ho, Italia juga bisa melakukan hal yang seperti itu, ya. Mmmm. Oke, oke, berikutnya, kau yang kelihatan paling pemberontak," Alfred berkata menahan tawa.
"Lovino Vargas. Letnan Satu, Italia."
"Dan kutebak," Alfred mengedikkan dagu pada yang terakhir. "Kau adalah saudara Lovino. Benar?"
Francisco menggeleng. "Aku saudara jauhnya. Letnan Kepala, Italia. Francisco Vargas-Agosti."
Alfred mengangguk-angguk sambil membuka tempat minum, lantas memberi isyarat pada yang lain untuk mengikutinya. "Dari I-504, benar? Aku melihat kalian keluar dari sana. Berarti benar kata orang-orang—kapal itu memang dikendalikan oleh kru campuran. Hebat sekali. Apa nama aslinya?"
"Luigi Torelli," sambar Lovino. Namun ia diam kemudian, setelah mendapat lirikan dingin dari Lukas.
"Apa yang akan kaulakukan pada kami?" Ludwig bertanya dengan tenang. "Apakah ada kamp tawanan di sekitar sini?"
"Ah, aku tidak tahu-menahu soal itu." Alfred memain-mainkan botol tersebut.
"Lalu untuk apa kau membawa kami ke sini?"
"Hanya memastikan bahwa kalian tidak kabur. Karena aku adalah prajurit teladan yang akan mematuhi Konvensi Jenewa—bahwa prajurit tawanan sebaiknya dipulangkan secepat mungkin—maka aku akan mengumpulkan kalian supaya semuanya cepat beres."
Mata Lovino merendah. "Kuharap kau tidak menipu kami."
"Aaah, untuk apa menipu?" Alfred mengibaskan tangannya di udara. "Aku melakukan ini agar aku mendapat izin untuk segera pulang. Aku harus mematuhi semua peraturan, aku harus membereskan musuh dan memperlakukan mereka seperti yang seharusnya—kalau aku membuat masalah, kalian tahu apa yang akan menghantuiku, 'kan?"
Alfred memandagi semua dengan gerakan mata yang pelan.
"Aku benar-benar ingin pulang." Tiba-tiba saja tatapan matanya melembut. "Jika di antara kalian ada yang sudah menjadi seorang ayah—maka kalian pasti mengerti."
Lovino melirik Lukas.
"Aku pergi berdinas beberapa hari setelah aku menikah. Selama istriku hamil, melahirkan, dan mengurus anak kami—aku tidak berada di sampingnya. Dengan berakhirnya perang, aku benar-benar berharap aku bisa melihat pangeran kecil kami untuk pertama kalinya. Aku benar-benar tidak sabar."
Terjadi keheningan yang cukup lama. Lukas terdengar mengembuskan napas yang berat.
"Jadi kau pun tidak tahu ke mana kami akan dibawa?"
Alfred mengangkat bahu. "Setelah pelucutan senjata tentara Jepang, kami akan memegang kendali atas negara ini, dan melakukan pengetatan terhadap angkatan bersenjata Jepang. Tapi kalian bukan orang Jepang—dan kurasa akan ada sedikit pengecualian secara khusus. Yang kudengar, akan ada pemulangan tahap pertama tentara-tentara Sekutu dari sini dalam waktu dekat."
"Apa kami bisa ikut?" Lovino maju dan hampir memukul meja jika tangannya tidak ditahan Lukas.
Alfred mengangkat alisnya. "Tergantung kemauan orang-orang atas. Tapi menahan kalian lama-lama di sini pun akan merepotkan. Menghabiskan suplai saja. Mempekerjakan kalian? Untuk apa? Kami punya banyak tawanan Jepang di sini. Kalian pulang, aku pulang, semua beres, 'kan? Kita akan menemui orang-orang yang kita cintai dan perlahan melupakan semuanya."
Ludwig mulai minum, diikuti Francisco. Lovino belum ingin bergerak sama sekali. Tatapan matanya masih lekat pada Alfred.
"Pesawat pemulang akan singgah di Filipina, kemudian ke beberapa atol di Pasifik untuk mengevakuasi tentara yang tersisa—lalu pulang. Barangkali kalian bisa dimasukkan? Tetapi mana aku tahu. Yang jelas, aku akan tetap menyampaikan kabar tentang keberadaan prajurit asing yang dipekerjakan Jepang."
"Jika melihat dari posisi kami ..." Ludwig menjalinkan jari-jemarinya di atas meja. "... Kami sebenarnya berada di sisi kalian. Jerman sudah menyerah sejak Mei dan Italia sudah lebih dahulu beberapa tahun sebelumnya. Kami berstatus tawanan Jepang. Kami punya hak yang sama dengan kalian." Ludwig melirik teman-temannya. "Seharusnya kami bisa dipulangkan secepatnya."
Alfred mengelus dagu, kemudian tertawa. "Jerry, kau pintar bernegosiasi juga."
"Terima kasih pujiannya. Namun aku tidak memerlukan itu."
"Oke." Alfred berdiri dan menepuk meja. Tepukan itu seperti main-main, santai, dan berlagu. "Aku akan mengatakan ini pada atasan. Sementara, tinggallah di sini. Jangan keluar tanpa perintahku. Jangan ke mana-mana sebelum aku kembali."
Lovino berdiri saat Alfred meninggalkannya, tetapi pemuda itu berbalik seolah tahu, ia membungkam Lovino dengan mudahnya.
"Aku akan membawakan makanan. Tetaplah di tempat dudukmu."
Lovino berdecak. Ia memukul meja saat Alfred menghilang dari pintu.
Alfred hanya kembali dengan setumpuk ransum berupa daging kalengan serta tambahan air. Ada dua potong roti yang barangkali sudah basi, mungkin dia dapatkan di ranselnya sendiri di Catalina sana.
Dia tak kunjung datang lagi hingga malam tiba. Lovino bersandar pada jeruji, sementara Ludwig dengan tenang duduk di kursinya. Francisco berjarak satu kursi dari Ludwig, sementara itu Lukas menemaninya di lantai.
"Apa kita bisa mempercayai orang lain di saat-saat seperti ini?"
Lukas merenung begitu lama. Mendongak sambil menghela napas.
"Lukas."
"Pilihan kau yang menentukan. Namun sekarang ... perang sudah berakhir. Kautahu apa yang harus kauputuskan."
Lovino menyilangkan tangan di depan dada. "Kuharap Erika baik-baik saja."
"Tak semua hal berjalan secepat yang kaumau."
Lovino mengiyakan dengan anggukan saja, lantas memejamkan mata.
Setidaknya ia tidak perlu tidur di kandang sempit yang bergerak di bawah permukaan lautan lagi. Dia pun berbaring dan merentangkan tangannya kuat-kuat—benar-benar terasa lapang. Tidak ada langit-langit yang bisa dicium ubun-ubunnya kapan saja jika ia sedang terkejut.
Di antara batas sadar dan tidurnya, ia mendengar pintu luar yang ditutup keras-keras, bergema, dan ada suara panggilan. Dia tak mengacuhkannya. Ia sedang ingin menemui Erika. Dalam mimpi belaka pun tak apa.
Jam di dalam kepala Lovino masih berfungsi sebagaimana adanya. Ia terbangun sebelum matahari terbit—dan ternyata semua orang mengalaminya. Ludwig bahkan merapikan ruangan dengan menaruh meja di tepian, menempel dengan dinding yang tidak diisi oleh ruangan berjeruji. Kursi-kursi dibuat berjejer rapi menghadap meja, dan kaleng-kaleng bekas makan malam mereka ditumpuk di sudut ruangan seolah bukan sampah.
Francisco menyulut rokok yang dibawakan Alfred. Ia pernah bercerita bahwa ia memang menyukai rokok, tetapi semenjak menjadi bagian dari angkatan laut ia tak begitu leluasa menikmatinya. Lukas masih berbaring, tetapi ia menulis.
Untuk satu kali setelah lima tahun, Lovino merasa begitu bebas. Ia menggeliat dan berbalik menghadap dinding jeruji. Di dalam sana ada ruangan sempit, sel yang muat untuk kurang lebih lima orang. Ia tersenyum sambil menyentuh jeruji itu. Berterima kasih karena bukan tiang-tiang besi itulah yang mengurungnya. Ia bisa tidur di tempat yang luas, meski tanpa bantal dan selimut semuanya terasa baik-baik saja.
"Alfred datang tadi malam."
Lovino berbalik. "Dia bilang apa?"
"Ludwig adalah negosiator cerdik."
"Ludwig minta apa?"
"Sekutu mengizinkan kita mendapatkan privilese karena kita adalah bagian dari tawanan Jepang. Dia berhasil membujuk tentara Amerika agar pesawat pengangkut pertama itu singgah ke Taiwan, lalu mungkin ke Singapura jika memungkinkan. Di Singapura, Inggris telah kembali dan kita akan lebih mudah mendapatkan, setidaknya, kapal untuk pulang ke Eropa."
"Mereka benar-benar mau?"
"Seperti yang diminta?"
"Memang sulit dipercaya ... tapi begitulah." Lukas menurunkan buku dari hadapannya, meletakkan benda itu tepat di samping telinga kanannya, di antara ia dan Lovino. "Aku tidak ingin memikirkan hal lain selain betapa dekatnya aku dengan Ennis dan Emil sekarang."
"Mungkin ini adalah balasan dari lima tahun kegilaan yang kita alami di dalam kapal?" Lovino lalu berbaring telentang. "Aku tidak mengatakan bahwa hidupku—hidup kita semua—sebelumnya mudah ... kita bahkan beberapa kali hampir mati di lautan ... tetapi setelah dipikirkan lagi sekarang ... kukira ada yang akan lebih menyusahkan lagi ..."
"Kau mengira bahwa kita akan dibombardir lalu diminta menyerah dalam keadaan terluka?" Lukas menoleh.
"Ya ... kurang lebih begitu ..." Lovino menggeleng kepala begitu saja.
"Kita bukan prajurit di daratan. Jika kita bertarung di bagian infanteri—sudah pasti kita akan mendapat tekanan yang kurang lebih seperti itu."
"Artinya kita beruntung?"
"Tergantung caramu memandangnya." Lukas lalu menutup mata. Matahari belum terlihat, dia berpikir untuk kembali menutup mata. "Tak jarang, sesuatu terlihat berat hanya karena pikiranmu menipu dirimu sendiri."
Lovino mengusap-usap wajahnya, lalu berbalik menghadap jeruji lagi.
"Kapan pesawat itu akan berangkat?"
"Alfred akan mengabari kita secepatnya."
Lima hari berdiam di kantor kosong itu, dengan suplai makanan seadanya yang mereka buru di sekitar pelabuhan dengan uang ala kadarnya yang diberikan oleh Alfred dan dua perwira Amerika lainnya, mereka berempat akhirnya mendapat kepastian pesawat militer untuk pulang.
"Kenapa kau tidak mengirimkan surat itu saja dan meminta agar mereka semua langsung menyinggahkan kita di Singapura secara langsung?" Lovino membereskan sisa-sisa kaleng terakhir, dua jam sebelum waktu yang diminta Alfred.
Ludwig memandangi seluruh ruangan seolah ia mencintai tempat itu seperti kamarnya sendiri. "Kautahu apa yang Kiku kerjakan selama ia bertugas di Taiwan?"
"Mana aku tahu. Jelaskan tanpa berbelit-belit, cepat." Mata Lovino mengikuti Francisco yang keluar dari ruangan sebagai yang pertama. Ia tampak paling tak sabar.
"Dia membeli rumah dan dengan uang yang ia miliki, ia dan istrinya mempekerjakan orang-orang di pabrik kamper yang ia dirikan. Dia juga membeli kapal untuk transportasi barang-barang dari Jepang ke sana dan sebaliknya."
"Lalu—" Lovino tertegun. "Kapal! Ya, kapal! Jadi dia meminta kita mengirimkan surat itu bukan hanya untuk dirinya sendiri—bukankah begitu?!"
"Aku belum melihat isi suratnya. Itu hal pribadi. Namun aku yakin ... ada hubungannya dengan itu. Kiku selalu punya cara untuk apa yang diinginkannya—dan dia adalah orang yang setia kawan."
"... Begitu ..."
"Ada satu hal lain lagi yang membuat fakta bahwa dia bisa mendirikan pabrik dengan uangnya sendiri."
"Apa?"
"Dia berdarah biru."
"Bagian dari kaisar?"
"Tidak langsung, tetapi dia masih berada di jalur suksesi walaupun sangat jauh. Terlebih, dia menikah dengan wanita luar."
"... Artinya?"
Ludwig menghela napas. "Sekutu kita yang satu itu mungkin bisa selamat dan akan baik-baik saja—walaupun dia akan mengalami hal-hal berat setelah ini."
Pesawat itu berangkat separuh penuh. Dua pesawat lain, yang termasuk Alfred di dalamnya, akan berangkat dua jam kemudian.
Perjalanan ke Taiwan Lovino habiskan dengan tidur.
Ludwig membiarkan pesawat yang mengantar mereka langsung menuju Filipina dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja. Lovino sempat akan memarahinya dan berkata bagaimana seandainya nanti istri Kiku tidak bisa memberikan apa yang mereka butuhkan—tetapi Francisco menenangkannya sambil tertawa,
"Perang sudah selesai. Setidaknya berhentilah pesimis barang untuk sehari saja, Lovino."
Rumah yang Kiku maksud tak begitu jauh dari pelabuhan. Mereka hanya berjalan kaki. Berempat melanglangbuana hanya dengan satu tas untuk berempat yang disandang oleh Ludwig.
Terletak di tempat yang agak berbukit sedikit, rumah itu berpekarangan sedang dengan bunga-bunga dan pohon serta tanaman yang bisa dimakan memenuhi sekitar pagar sampingnya. Sebelum mendorong pintu pagar, Ludwig sekali lagi memastikan kecocokan alamat yang tertera di amplop dengan apa yang ada di sekitarnya.
"Kurasa kita tidak akan salah."
Pintu rumah itu setengah terbuka. Terasnya lebar ke samping, dengan gaya yang sangat Jepang sekali. Terrbuat dari kayu cokelat tua dan pintunya berwarna sedikit lebih muda. Dua lampion tergantung di sisi kiri dan kanan pintu. Cat merah mewarnai bingkai jendela. Ludwig maju selangkah untuk mengetuk.
Sahutan dengan bahasa Jepang yang sedikit terdengar seperti Mandarin terdengar dari bagian belakang rumah. Ludwig menyilangkan tangan di depan tubuh, menanti, sementara Lovino dan Francisco berbisik-bisik soal burung-burung kecil yang mematuki beras yang sepertinya sengaja dihamburkan di dekat rumpun bunga matahari yang sedang tak berbunga.
"Sebentar—aku datang!"
Perempuan itu mematung sesaat di mulut rumah. Yukata merah tuanya, yang bermotif bunga putih besar—menyapu lantai sedikit. Ia sangat mungil, hampir sama dengan Kiku, rambut cokelatnya terbebas hingga punggung bagian bawah—sedikit ikal dan tebal. Matanya bulat seperti bulan, wajah bundarnya membuatnya semakin terlihat seperti anak gadis.
"Anda semua ... siapa?" Tiba-tiba saja ia mengubah bahasanya menjadi bahasa Inggris. Ia kedengaran tak cukup mahir, tetapi mengejutkan untuk keempatnya.
Lovino mulai menebak-nebak kehidupannya. Taiwan adalah koloni Jepang yang dibuat modern, kata Ludwig, dengan segala perusahaan berdikarinya yang disokong dengan baik oleh Jepang dan orang-orang lokal diberikan kebebasan untuk berbisnis—kemudian ia merasa telah menemukan jawabannya.
"Teman-teman Kiku. Kiku meminta kami untuk menyerahkan surat ini pada Anda, Nyonya Honda Mei."
Wajah perempuan itu—yang langsung Lovino sebut dalam hati sebagai 'Mei'—tampak tegang. Ia menerima surat tersebut dengan gerakan kaku. Ia hanya memandang kopnya sebentar, lantas mempersilakan semuanya untuk masuk.
Sofa modern membuat ruang tamu rumah tradisional itu kelihatan pincang. Lovino bertanya-tanya dalam hatinya sendiri—kapankah terakhir kali ia merasakan tempat empuk seperti ini?
Lukisan kuda dan kavalerinya, ala barat sekali, digantung di dinding sebelah kanannya, tetapi tumpukan bantal duduk diletakkan dengan rapi di samping guci chinoiserie di dekat jendela. Seluruhnya terasa tidak berhubungan—tetapi yang lebih penting dari semua itu adalah kerapian ruangan ini. Juga sofanya yang kelihatan seperti baru.
Mei tidak menghabiskan waktu lama untuk membaca dua lembar surat tersebut.
"Aku mengerti. Jadi kaulah Ludwig—yang sering Kiku ceritakan," terbentuk senyum tipis di wajahnya, "Senang bertemu denganmu secara langsung, Ludwig." Ia membungkuk sedikit—yang juga langsung dibalas Ludwig. "Aku ... ah, maksudku ... dia, telah memperkirakan hal ini," suaranya gemetaran. "Dan ternyata memang terjadi. Semoga dia baik-baik saja."
"Orang-orang Amerika ... kurasa tidak akan terlalu keras." Ludwig tersenyum—sangat tipis—untuk meyakinkan. "Anda terlihat sangat pucat, Mei, sebaiknya tidak terlalu mengkhawatirkan Kiku—saya bisa menjaminnya, karena kami juga baru saja diantarkan oleh orang-orang Amerika. Mereka memang bukan malaikat, tetapi setidaknya ada kebaikan yang mereka lakukan."
Mei tersenyum kecil sambil mengibaskan tangan di udara. "Aku tidak terlalu khawatir—karena aku percaya pada kalian. Aku hanya sedang dalam masa penyembuhan ..."
"Anda sakit?"
Wanita itu meringis, suaranya menjadi pelan. "Aku baru saja keguguran."
Lovino dan Francisco saling berpandangan. Lukas dengan sopannya mewakili Ludwig yang masih terkejut, "Kami turut sedih mendengarnya, Nyonya Honda ..."
Mei mengembuskan napas panjang. "Entahlah ... tapi seandainya saja anak kami selamat, aku juga tidak yakin aku mampu menjalani semuanya sendirian. Saat Kiku mengambil cutinya dua bulan lalu, aku tidak menduga bahwa dia benar-benar membujukku untuk memiliki anak. Aku tidak punya alasan untuk menolaknya ... tetapi ternyata tidak semudah itu ... tubuhku mungkin belum cukup matang untuk seorang anak."
"Berapa umurmu, Nyonya? Boleh kami tahu?"
Lovino menyikut Francisco atas pertanyaan tersebut, tetapi tampaknya yang risih atas pertanyaan itu di sini hanya dirinya dan Ludwig.
Mei tersenyum kecil. "Tujuh belas."
Francisco terbelalak dan Lovino nyaris tersedak ludahnya sendiri.
"Kami bertemu empat tahun lalu, saat dia, seorang garnisun muda yang polos itu ditempatkan di pelabuhan, juga ditugaskan untuk mengajar anak-anak lokal tentang kebudayaan Jepang dan bahasanya. Dia ternyata juga bisa mengajarkan hal-hal lain, misalnya bahasa asing ... karena dia sering belajar dari kerabatnya yang dulu adalah bagian dari hubungan diplomatik aliansi Anglo-Jepang, dan pengalamannya sesaat saat menjadi staf sebelum perang. Aku begitu tertarik dengan kemampuannya ... dan, ya, begitulah. Kami menikah sebelum dia naik pangkat dan bertugas di laut."
"Jadi begitu ..."
Mei pun melipat surat dari Kiku. "Aku mengerti apa yang kalian minta. Aku akan memberikan satu tumpangan pada kalian ... tapi aku tidak yakin aku bisa membantu lebih dari kapal, Tuan-Tuan ... karena uang yang ada di rumah ini sudah hampir habis untukku berobat. Tetapi jika kalian mau menunggu hingga dua minggu lagi, maka aku akan menerima uang dari keuntungan tebu dan kamper ... jika kalian mau."
"Tidak, terima kasih, Nyonya Honda, kami tidak akan meminta lebih dari tumpangan—karena satu-satunya yang kami butuhkan hanyalah itu."
"Benar ...?" Mei kelihatan tak nyaman, tetapi juga lega. "Ah, kita bicarakan lebih jauh soal ini setelah makan malam, ya? Aku baru memasak sebagian, karena teman-temanku di kebun juga akan datang—tetapi semoga kalian tidak keberatan menunggu. Ayo, silakan masuk. Akan kutunjukkan kamar untuk kalian. Paling cepat kapal itu dapat berangkat lusa, jadi kalian akan menghabiskan beberapa malam di sini." Wanita itu berjalan memandu dengan pelan-pelan.
Rumah itu tak seluas yang dikira dari luar, tetapi cukup untuk tinggal dengan nyaman. Ruang tengah hanya bagian kecil dengan meja berkaki rendah dan sepasang bantal duduk. Ada televisi tetapi tampaknya radio di pinggir meja rendah itu lebih sering terpakai. Kamar yang Mei maksud berada setelah ruang tersebut, berseberangan dengan ruang lain dengan pintu geser yang dibuka separuh, memperlihatkan piring-piring yang ditumpuk di tengah-tengah meja.
Hanya ada setumpuk kasur gulung di kamar tersebut, dan Mei mengatakan bahwa kamarnya sendiri ada di bagian ujung rumah, dekat dengan kolam ikan dan tempat minum teh yang merangkap ruang baca Kiku, berseberangan dengan dapur.
Makan malam itu agak sedikit kaku bagi mereka berempat karena ada tiga orang teman Mei yang mengajak perempuan itu bercerita dengan bahasa Mandarin mereka sendiri. Keempat orang itu menyelesaikan makan dengan cepat, menanti ketiga tamu lain selesai dengan ceritanya dan pamit duluan karena tampaknya 'bisnis' mereka telah beres.
"Kalian ingin tambah lagi?" Mei menawari sambil mengumpulkan mangkuk-mangkuk bekas ketiga orang tadi. "Kalian pasti lapar setelah perjalanan jauh. Sebentar, kutambahkan sayurnya, ya."
Tidak ada yang menolak dari seluruh tamu yang tersisa itu, karena ... tidak ada yang bisa berbohong soal perut mereka yang kosong dan entah sudah berapa lama mereka tidak makan besar dengan nikmat dan dengan menu yang beragam seperti ini.
Mei sendiri tidak makan lagi. Keempatnya makan dengan pelan dan segan-segan, meski seluruh sayur, kuah, nasi dan lauk-pauk terutama masakan ikan itu masih sangat menggoda.
"Yang kudengar ... perang memang sudah berakhir, ya?" Mei menjalinkan jari-jemarinya, lalu menopangkan dagunya di punggung jari-jari itu. "Menurut kalian ... apakah semua yang kalian lakukan itu sia-sia? Setelah semua yang kalian perjuangkan ..."
Lovino meletakkan mangkuknya. Ia yang paling pertama membereskan babak kedua makannya. "Sia-sia atau tidak—aku tidak peduli. Yang penting aku bisa pulang."
Mei tertawa kecil. "Bersyukurlah kalian yang bisa pulang."
Semuanya mematung.
"Yah ... setahuku Kiku juga hanya bertugas seperti tentara biasa dan tidak melakukan kejahatan perang. Sepengetahuanku. Paling tidak dia bisa pulang dua atau tiga tahun lagi, dan mungkin saat itu adalah saat yang tepat karena tubuhku sudah mulai sembuh dan kuat untuk mengandung lagi. Mungkin ... kami bisa benar-benar memulai kehidupan yang sebenarnya setelah itu."
Lukas pun juga meletakkan mangkuknya. "Meskipun sia-sia, perang telah membentuk hidup kita."
"Kalau boleh tahu, apa yang akan kalian lakukan setelah ini? Ludwig?"
"Kurasa aku akan belajar lagi. Aku ingin belajar hukum ... atau fisika. Bisa keduanya jika memungkinkan."
"Aku hanya ingin mengurus keluargaku," Lukas memejamkan mata sebentar. "Aku sudah terlalu lama meninggalkan anak laki-lakiku, aku takut hubungan kami menjadi renggang setelah ini."
"Francisco?"
Lelaki Italia itu tersenyum puas, "Aku akan tinggal di Roma dan bekerja apapun yang aku bisa dapatkan. Aku hanya ingin bisa menikmati rokok dan kopi di sore hari untuk beberapa waktu. Ah, kehidupan itu—kurindukan sekali."
Lovino lama diam meski sadar saat ini adalah gilirannya.
"Lovino pasti akan menikahi Erika," celetuk Francisco yang lantas tertawa.
"Hei!" Lovino memukul punggung Francisco, lalu menyepak kaki mereka yang berdekatan di bawah meja rendah tersebut. Dua orang yang sama sekali tak mematuhi kelumrahan cara duduk berlipat di meja rendah itu sekarang perang tatapan.
"Oh, begitu? Jadi dia punya pacar yang menunggunya di Eropa, ya? Aaah, manis sekali!"
Lovino hanya menggembungkan pipinya. Tak peduli celetukan 'bocah' dari Francisco yang tak puas-puas dengan ejekannya.
Semua ini akan segera berakhir.
Ya, termasuk candaan dan kebersamaannya.
Bahu Lovino terasa memberat meski yang lain sedang mengobrol ringan dan setengah bercanda.
Kapal yang dijanjikan Mei datang tiga hari kemudian. Mei berjanji akan membalas surat-surat mereka kelak.
Mei tak kelihatan lagi meski Francisco belum puas melambaikan tangan.
"Sepertinya hidup perempuan itu akan baik-baik saja. Ia punya cukup harta-benda sementara suaminya jauh darinya—dan dia akan bertahan," komentar Francisco, saat memasuki ruang tidur mereka di kapal kecil tersebut.
Ludwig memandang pesimis ke arah jendela. "Tidak juga, kurasa."
"Kenapa?"
"Kautahu kepada siapa Taiwan diserahkan setelah perang ini selesai?"
Francisco mengelus dagu. "Taiwan adalah koloni Jepang, setelah direbut dari China pada tahun ... 1895 kalau tidak salah. Perjanjian Shimonoseki."
"Siapa yang akan mengambil miliknya kembali?"
Francisco terdiam sesaat. "China ... tentu saja."
Ludwig bersandar lalu menatap Francisco seakan mengatakan kerisauannya lewat sana. "Dan aku tidak yakin bahwa pemerintahan China akan sama dengan Jepang yang memperlakukan Taiwan seperti anak emas."
Lovino hanya mendongak, menatap kosong pada langit-langit. Ia tak tahu tepatnya apa yang sedang dia rasakan atau pikirkan.
Erika keluar saat anak-anak dan orang dewasa berhamburan keluar. Mengosongkan rumah mereka untuk berpesta di tengah jalanan London, bersuka-ria, bernyanyi-nyanyi dan menari—meneriakkan jargon perdamaian serta perayaan kemenangan, kesukacitaan yang membahana.
Erika nyaris larut di tengah-tengah keramaian tersebut jika Erzsi tidak menariknya.
"Sebenarnya ini perayaan apa?"
Erzsi akhirnya berhasil membawa Erika ke tepian, masuk ke dalam gang di mana hanya ada dua orang dewasa yang bercakap-cakap sambil mengamati bagaimana keramaian itu membawa semua orang dalam euforia.
"Hari kemenangan," Erzsi harus bicara dengan berteriak. "Orang-orang London merayakan kemenangan Sekutu dalam perang. Kudengar dari orang-orang di rumah sakit bahwa Jepang sudah menyerah pada Amerika di timur sana."
Erika menatap gelombang manusia itu. Tak sedikit yang saling memeluk bahagia, ada pasangan yang berciuman, dan anak-anak yang digendong ibunya tinggi-tinggi dan tangan-tangan mungil itu mengibarkan bendera kecil Britania dengan sangat bangga. Mereka semua tertawa, bersorak, separuh membanggakan sambil tersenyum lebar, sebagian menangis terharu di tepian, dan tak sedikit yang bertepuk tangan. Ada pula yang berjalan menembus keramaian hanya untuk memeluk orang-orang.
Gadis itu mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Mereka bisa merayakan sesuatu seperti ini ... sementara itu di sisi lain—ada berapa banyak orang yang tewas karena prajurit mereka? Dan berapa banyak tentara yang mesti berjuang sia-sia hanya untuk kalah dan kehilangan segalanya?"
Mata Erzsi melembut mendengarnya. Bahunya juga meleas dan ia trenyuh. Kedua tangannya terulur untuk menggenggam kedua bahu Erzsi.
"Adalah hal yang wajar untukmu merasakan hal tersebut," ucapnya lirih. Lalu ia memandang pada keramaian. "Gil juga mengalami hal mengerikan karena perang yang akhirnya tak bisa ia menangkan. Namun orang-orang ini juga punya hak untuk hidup dengan damai—dan mereka bahagia atas itu. Karena mereka selamat dari ketakutan. Jika pihak 'kita'," ia mengutip dengan berat, "menang pun ... maka hal ini juga pasti akan terjadi di sisi lain—selalu ada pihak yang akan menderita, Erika ... dan seperti itulah kehidupan berjalan."
Erika memeluk Erzsi perlahan.
"Menyakitkan, memang, tetapi untuk hal seperti itulah kita harus berdiri dengan kuat ..."
Erika menelan kalimat Erzsi bulat-bulat.
Joachim mengakhiri pertemuan tersebut dengan dua pilihan,
"Kalian bisa diarahkan untuk diperbantukan ke Jerman yang porak-poranda dan akan segera dibagi menjadi empat zona okupasi, atau memilih untuk pulang. Untuk kali ini, semua ini bersifat sukarela."
Erika dan Erzsi berpandangan sesaat. Erika bertanya dengan kepala yang dimiringkan, tetapi lawan bicaranya hanya mengangkat alis. Erzsi, dengan yakinnya, lebih dahulu mengangkat tangan.
"Saya akan membantu di Jerman, berhubung saya juga tinggal di sana."
Erika mengangkat tangan pelan-pelan, melirik pada Erzsi secara naluriah. Sayang sekali perempuan itu menggeleng. Mulutnya berbicara tentang sesuatu, tetapi Erika tak dapat menangkapnya dengan benar.
"Saya."
Erika menoleh. Ada satu tambahan volunter, yang kemudian berkembang menjadi dua, tiga, hingga tujuh—dan kesemuanya mulai dicatat oleh Joachim. Sementara itu tangannya masih setengah terangkat di udara, ia hanya menoleh-noleh menyaksikan sahutan demi sahutan.
Hingga akhirnya ada yang menyahut hal lain, "Saya ingin pulang. Barangkali saya bisa membantu banyak hal di negara saya." Satu orang dari Belgia. Kemudian seseorang dari Ceko mengatakan hal yang serupa.
Erika mendapat anggukan dari Erzsi.
"Kamu tahu apa yang harus kamu putuskan, Sayang. Di antara kedua pertanyaan di dalam hatimu itu, tidak ada yang lebih baik ataupun lebih buruk."
Erika akhirnya mengangkat tangan.
Lovino memimpikan lagi harinya saat berada di dalam lautan, dan ketika membuka mata ia mengelus dinding kapal tempat ia menumpang, yang baru tiba di sekitar daerah India, jika perkiraannya benar.
Tiba-tiba saja ia merindukan tabung itu—tabung yang sudah menjadi rumahnya selama lima tahun, nyaris menjadi peti matinya, pernah menjadi temannya bermonolog tentang masa kecilnya atau Erika, dan selalu menjadi tempat perlindungannya ketika teman-teman sejawatnya berjuang di darat, dihujani bom atau dijebak ranjau.
Ada banyak keberuntungan yang baru terasa setelah terlewati, dan Lovino merenungkannya. Usianya sudah dua puluh empat, tetapi dia baru saja menyadari bahwa betapa lama kehidupannya, yang diisi dengan hal-hal yang menguatkannya, telah terlewati. Yang membantunya pergi dari keterpurukan akibat kehilangan dan belajar untuk berlari dengan kakinya sendiri—meski sakit dan terluka.
Ia memandang kawan-kawannya yang sedang tidur.
Apakah perpisahan pantas untuk menjadi sesuatu yang menyakitkan ketika setelahnya kita akan disambut oleh mimpi lama yang siap datang kembali?
Tiga puluh lima jam setelah dia terakhir kali tidur, dia keluar dan berdiri di lambung kapal dan bertopang pada birai. Senja itu, daratan Eropa akhirnya terlihat—setelah sekian lama ia berkutat di air hangat tropis.
"Kantung matamu benar-benar kelihatan, Kawan."
Francisco datang tak sendirian. Lukas mengikuti, dan Ludwig paling belakang. Yang terakhir tersenyum padanya. Lovino tertegun sekian lama dan bergerak, mendatangi mereka semua dan membiarkan semuanya mengelilingnya dengan tanda tanya di mata.
"Aku akan sangat merindukan kalian." Ia pun merentangkan tangan dan merangkul Francisco juga Lukas, dan sebisa mungkin mencapai Ludwig.
Ia tahu airmata siapa yang jatuh ke lantai.
.
.
.
.
Ia datang seperti seorang tunawisma. Seragamnya benar-benar lusuh, dan ia tak membawa apapun kecuali beberapa uang koin di sakunya, yang juga tak mungkin berlaku di sini. Pelabuhan di belakangnya telah benar-benar berubah, berikut pula desa ini—yang tampaknya mulai beranjak untuk menjadi kota. Lovino bisa melihat beberapa rumah yang dipugar, ada banyak pula yang sama sekali tak ia kenal. Cukup menyenangkan mengetahui bahwa dampak perang tak begitu banyak terlihat di sini.
Atau setidaknya, mereka semua telah sembuh.
Ia berhenti di sekian banyak persimpangan. Berusaha mengenali dan mencoba untuk tidak menyesatkan dirinya sendiri.
Lidah Italianya benar-benar kaku sekarang, entah mengapa, padahal ia telah menginjak tanahnya kembali. Segalanya tercampur dengan istilah-istilah sederhana Jepang, bahasa Jerman Ludwig, dan bahasa Inggris sopan ala Lukas yang sesekali diselingi oleh sumpah-serapah Britania, juga kata-kata ala Amerika yang dilontarkan Francisco.
Ia harus memutar dua kali karena salah mengambil jalan, salah berbelok, atau lupa area, untuk menemukan kembali gang yang tak lagi menjadi sebuah 'gang' tersebut.
Rumah itu masih berdiri, semakin doyong karena sekitarnya telah berganti menjadi rumah yang lebih baik atau tanah lapang—dan Lovino tak pernah merasa selega ini. Lututnya lemas dan napasnya mulai tak tenang. Batinnya bergumam tentang keajaiban dan tubuhnya yang kurus itu pun gemetaran.
Perlahan ia putar knop pintu—dan tidak menghasilkan apa-apa. Terkunci.
Namun jendela bersih, berikut pula dinding dan teras kecilnya. Lovino menemukan dua pot kecil tanaman kecil, yang masih benar-benar muda dan ringkih. Ia menelan gumpalan kasar di kerongkongannya saat mencoba mengetuk pintu. Ia berdeham berkali-kali.
Tidak ada jawaban dan dia pun duduk di sudut teras, kaki terlipat dan separuh wajah sengaja ditenggelamkan di balik lipatan tangannya. Ia menutup mata.
Ia tidak bermimpi apa-apa dan ketika terbangun pun, masih belum ada jawaban dari pintu. Ia coba mengetuk lagi, tetapi tak ada jawaban sama sekali.
Rumah yang dulu ada di mulut gang, sudah lumat menjadi padang kecil dan sebuah bola yang kempes diabaikan di tengah-tengahnya. Ia meringis, lalu berlari tanpa tentu arah ke depan sana, melaju terus ke tempat yang tak ia kenali. Lovino merasa seperti orang gila, lalu termangu di tengah-tengah jalan lengang yang sejenak membuatnya seperti terjebak di kota mati.
"Ah, apa kau ... kau benar Nak Lovino yang waktu itu?"
Lovino termangu memandangi si ibu tua. Butuh waktu hingga akhirnya ia ingat, ibu ini adalah tetangganya yang dulu sering dimintai tolong Kakek untuk memasak untuk ia dan Feli ketika Kakek harus berurusan lama dengan ikan-ikannya.
"Yang pergi untuk dinas militer tahun '40?"
Lovino mengangguk lemah.
"Nak Erika sudah pulang juga minggu lalu! Astaga, lengkap lagi akhirnya keluarga di rumah itu—kalian sama-sama pulang! Senang sekali melihat kalian berdua," si ibu berkata riang sambil menepuk-nepuk lengan Lovino. "Bagaimana kehidupan militer, Nak? Kau sungguh beruntung, pulang dalam keadaan seperti ini! Walaupun kelihatannya ... kau sangat kurus, Nak, kau tidak sakit, 'kan?"
"Erika ...," ia menggumam, tatapannya kosong. Sesaat kemudian bahunya tegap kembali, dan ia tatap ibu itu kuat-kuat, "Erika—di mana dia?!"
"Mungkin belum pulang bekerja—sebentar lagi juga pasti kembali. Dia sekarang bekerja di dekat pasar, ikut membantu di klinik milik ... nah, baru saja dibicarakan. Nak Erika! Lihat siapa yang datang!"
Sore itu, pukul lima lewat tujuh, Erika berhenti melangkah dan Lovino berlari kencang.
tbc.
a/n: i had to look up for Geneva Convention, teehee. yah, walaupun ada perjanjian seperti itu tentang tawanan perang, ada banyak kekerasan untuk para tawanan. kadang perjanjian hanya menerima nasib sebagai hitam di atas putih, ya 'kan.
then, if you ask why kiku and ludwig use english ... well, keperluan rahasia agar nggak diketahui. that's how being undercover goes, eheheheh ="))
tahu siapa yang malah baper sendiri bikin bagian perpisahan lovi, fran, lukas sama lud? _(:"""3 saya yang nulis berasa malah kayak yang 'aduh'. btw ide luigi torelli ini sudah berjalan satu tahun, dan hampir setahun pula saya menulisnya. oh god, seolah selama itu saya bersama persahabatan lovi-lukas-fran. semacem sedi.
ah sudala. oiya bentar ngebahas ending dulu. saya bener2 ga tau mau nulis apa di akhir, karena saya nggak suka ending pertemuan yang klise tapi kemudian, ya ... semacem berakhir mendadak dan tetep jatohnya kayak yang biasa gitu, ya? tapi mau gimana lagi sih karena basically yang akan dilakukan dua orang yang baru bertemu pasti saling menghampiri ya...
akan ada satu chapter penutup dan ... petualangan saya (—kita) bersama luigi torelli akan selesai. ="")))
