Tittle: Get Down Seasons 2 : AMY (MEANIE FANFICTION)

Author: Hani Hwang

Genre: romance, married life, yaoi

Rated: M

Summarry: Mingyu dan Wonwoo sudah meraih kebahagiaan mereka, tapi, hidup tak selalu berjalan mulus kan?

Disclaimer: Plot ceritanya punya author, Wonwoo juga punya author.

Notice: Sebaiknya baca Get Down terlebih dahulu sebelum baca fict ini.

DON'T LIKE DON'T READ
REVIEW PLEASE

.

.

.

.

Pagi belum benar-benar menyapa, karena faktanya sekarang baru pukul empat pagi. Dan kabut tipis masih menyelimuti bangunan-bangunan itu. segelintir orang sudah mulai terbangun. Tapi mereka yang memiliki jadwal agak siang masih bergelung dengan selimutnya.

Biasanya Jeon Wonwoo akan terbangun pukul tujuh, dan pergi mandi lalu sarapan pada pukul setengah delapan. Tapi pagi ini, ia terbangun oleh igauan yang cukup mengganggunya. Keberisikan itu berasal dari sosok di sebelahnya.

Wonwoo terduduk sambil mengucek matanya lucu dan menguap sesekali. Ia masih sangat mengantuk. Jam bangunnya masih cukup jauh. Dan jujur, ia tak rela meninggalkan alam mimpinya begitu saja sebenarnya. Tapi suara igauan it uterus menggangunya. Mau tak mau ia bangkit.

Wonwoo menoleh, dan terdiam beberapa saat. Detik berikutnya pandangannya melebar. Terbelalak kaget. Tangannya terulur mengguncang-guncang sosok yang mengigau disebelahnya.

"Mingyu-ya! Gyu!" Panggil Wonwoo sambil mengguncang bahu Mingyu.

Pria tampan itu masih memejamkan matanya erat. Keringatnya bercucuran. Dan mulutnya terus meracau dan mengigau. Sesekali terdengar Mingyu mengigaukan ibunya, Ayahnya, dan bahkan adik perempuannya yang kuliah di Inggris.

Wonwoo menggigit bibir bawahnya. Panik menyerangnya. Telapak tanganya yang menempel di kening Mingyu merasakan suhu yang teramat panas. Mingyu demam. Dan tampaknya cukup parah karena dia sampai mengigau.

Wonwoo meraih ponselnya. Menelfon Jihoon.

"Jihhonie! Bangunlah! Cepat suruh Seokmin menyiapkan mobil! Kita perlu kerumah sakit sekarang, cepat!" Perintahnya panic, Wonwoo memang mudah cemas.

Wonwoo mengusap keringat Mingyu dengan tissue disebelahnya. Dan tangan-tanagn besar Mingyu meraih jari-jarinya, menggenggamnya erat.

"Wonu-ya, aku jangan tinggalkan aku. . ." Igau Mingyu dengan suara lirih, menggenggam erat tangan Wonwoo dengan tangan kanannya.

Wonwoo terhenyak. Igauan Mingyu menggetarkannya. Ia serasa ingin menangis sekarang.

"Aku akan berusaha Gyu, aku akan berusaha bertahan untuk keluarga kita. . ." Isak Wonwoo.

.

.

.

.

.

Seperti yang selalu dikatakan Mingyu pada Wonwoo, beberapa bulan belakangan ini Mingyu begitu sibuk. Katanya, ia sedang menangani beberapa proyek sekaligus. Ia juga sedang jengkel pada para penduduk di pedalaman yang susah ssekali diajak bernegosiasi untuk proyeknya dalam pembelian tanah. Dan karena ia menangani banyak proyek di luar kota, membuatnya jadi sering berpergian keluar kota. Setingaknya, sudah enam kali dalam lima bulan terakhir ini Mingyu pergi keluar kota. Dan kemarin lusa, ia menghilang selama dua hari. Baru kembali pada malam hari pukul sepuluh, dalam keadaan basah kuyup. Dua hari saat kepergian Mingyu tanpa kabar, memeang hujan deras. Dan Wonwoo cemas setengah mati selama menunggu Mingyu. Ia begadang, dan ditemukan Jihoon pada pagi harinya tertidur pulas di sofa ruang tamu.

Wonwoo selalu percaya, saat Mingyu mengatakan alasanya. Ia tak pernah berani meragukan kalimat Mingyu, meski sebenarnya iapun ragu. Tapi meragukan kalimat Mingyu hanya membuat keraguannya semakin bertambah, dan itu menyakitinya.

Dan hari ini, Mingyu dilarikan kerumah sakit. Ini pasti karena kermarin ia basah kuyup oleh air hujan dalam keadaan lelah. Sehingga daya tahan tubuhnya merosot. Padahal biasanya, Mingyu cukup sulit jatuh sakit.

Wonwoo mengayunkan kakinya. Udah dua puluh menit ia duduk disitu sejak Mingyu dibawa kedalam ruang pemeriksaan. Entah kebetulan atau apa, Dokter yang menangani Mingyu adalah Jisoo. Wonwoo lega sebenarnya, karena Mingyu dirawat oleh orang ia percaya.

Wonwoo menumpu dagunya dengan tangannya. Tubuhnya condong kedepan. Matanya terpejam, ia mengantuk. Sejak tadi kantuknya kembali menyerang. Dan ia mulai tenggelam dalam rasa bosan.

Kriet. . .

Tap. . . tap. . . tap. . .

Wonwoo tersentak, dengan cepat ia menoleh. "Jisoo h- Dokter Hong, bagaimana keadaannya? Mingyu?" Tanya Wonwoo cepat, menghampiri Jisoo yang keluar ruangan dengan wajah kalem dan teduhnya seperti biasa.

"Dia tak apa, Wonu-ya. Dia demam karena kelelahan dan kehujanan. Menginap dua hari disini sudah cukup untuk memulihkan tenaganya." Sahut Jisoo kalem. Menepuk pundak Wonwoo memberi semangat.

Wonwoo menarik napas lega. Wajahnya terlihat membaik, tidak secemas tadi. "Syukurlah.. ." Lirihnya.

"Jangan terlalu cemas, ia akan dipindahkan keruang rawat, dan sebaiknya ia istirahat dulu. Akrena sepertinya ia kurang istirahat juga." Jelas Jisoo lagi. Wonwoo mengangguk mengerti.

"Sudah ya, Wonu-ya, aku harus kembali keruanganku." Pamit Jisoo. Wonwoo kembali mengangguk.

.

.

.

.

.

Hari sudah cukup siang ketika sebuah mobil menepi di halaman rumah keluarga Kim. Sebuah mobil yang sudah familiar bagi Jihoon. Dan begitu pemiliknya keluar, benar saja. Yang datang adalah Jeonghan dan Seunghyub.

Jeonghan menggandeng Seunghyub yang terlihat ceria dalam gandengannya. Keduanya menghampiri Jihoon.

"Hai, Jihoon-ssi." Sapa Jeonghan dengan seulas senyum diujung sapaannya.

"Hai, Jeonghan hyung, ada keperluan apa?" Balas Jihoon. Menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengelap meja depan kursi-kursi jati yang ada di teras.

"Wonu ada?" Tanya Jeonghan. Seunghyub terlihat menarik-narik ujung bajunya.

"Eomma, Seunghyub ingin bermain dengan Minu dan Kyungwon." Rajuk sosok mungil itu.

"Wonu sedang taka da di rumah, Hyung." Sahut Jihoo, setelah tadi ia sempat di sela Seunghyub saat hendak bicara.

"Eh? Tak biasanya. Bukannya Mingyu melarangnya keluar?" Heran Jeonghan. Karena seingatnya, terakhir Wonwoo berkata kalau ia tak boleh keluar oleh Mingyu lagi.

"Iya, tapi sekarang ia di rumah sakit." Sahut Jihoon kalem.

"Wonu sakit?!" Seru Jeonghan. Seketika ia menjadi panic, pasti Mingyu telah melakukan sesuatu pada Wonwoo sampai ia sakit begini. Terka Jeonghan dalam hati.

Jihoon menggeleng. "Tuan Kim yang sakit. Tadi pagi ia demam dan suhunya sangat tinggi, sehingga Wonu memutuskan untuk membawanya kerumah sakit. Dan sampai sekarang ia belum pulang." Sahut Jihoon menjelaskan.

"Jihoonie Ahjuci!" Terdengar seruan mungil dari dalam. Sepertinya suara Minwoo.

"Eomma, Seunghyub kedalam ya!" Dan Seunghyub segera berlari menghampiri sumber suara itu. Sedang Jeonghan hanya mengulum senyum karenanya.

"Sebenarnya, Seunghyub meminta untuk bermain bersama si kembar, dan sebenarnya aku ada urusan dalam waktu dua jam kedepan. Bolehkah aku menitipnya disini, Jihoonie? Kufikir karena disini ramai, aku lebih tenang meninggalnya. Lagipula ada Minu dan Kyungie juga." Jelas Jeonghan akhirnya.

Jihoon mengangguk. "Iya, taka pa. Hyung. Aku akan menjaganya."

"Terima kasih, Jihoonie. Aku pamit dulu, kalau ada apa-apa telefon aku saja!" Ujar Jeonghan, sambil melangkah pergi.

Jihoon menatap Jeonghan yang masuk kembali kedalam mobilnya. Dan melajukan mobil itu meninggalkan pekarangan rumah yang luas itu. Jihoon bergumam.

"Aku baru ingat, kalau ini hari Minggu." Dengungnya.

.

.

.

.

Wonwoo terduduk di kursi yang terletak di samping ranjang inap Mingyu. Ia menumpu dagunya dengan tangan. Kemudian sesekali merubah posisinya menjadi menyandar dengan tangan terlipat didada. Mingyu sudah tertidur sejak sarapan tadi. Dan ia merasa bosan.

Wonwoo meraih sakunya. Merogoh ponselnya yang sejak tadi di kantonginya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

Selama beberapa jeda, Wonwoo tampak memikirkan sesuatu. Detik berikutnya, ia sudah membut keputusan.

Dengan lincah tanggannya bergerak mengirim pesan pada seseorang. Dan wajahnya kembali terlihat cemas. Wonwoo bangkit, meninggalkan ruangan itu. ada yang harus diselesaikannya.

.

..

.

.

.

Wonwoo membawa langkahnya menyusuri lorong rumah sakit, menuju pintu utama. Kaki-kakinya yang panjang dan kurus terus berayun semakin meninggalkan rumah sakit. Ini waktu yang tepat. Mingyu sedang sakit dan tak mungkin ia bisa mengejarnya. Ia harus menyelesaikannya. Sejak kemarin ia dihantui rasa penasaran yang begitu menggebu-gebu. Ia ingin tahu-sangat- siapa yang sudah mengiriminya pesan semacam itu. ingin memastikan, bahwa pesan itu untuknya atau hanya salah kirim.

Tadi Wonwoo sudah mengajak orang itu bertemu, dan dia sudah setuju. Mereka berjanji akan bertemu di alah satu kafe yang cukup dekat dengan rumah sakit. Wonwoo tak ingin Mingyu tahu akan hal ini.

Wonwoo menyetop taksi, dan ia masuk kedalamnya. Meninggalkan jalan raya depan rumah sakit itu.

.

.

.

.

Tak sampai lima belas menit, taksi itu menepi dan masuk kehalaman depan Kafe itu untuk parkir. Wonwoo turun setelah membayar dan kemudian beranjak memasuki Kafe itu.

Sejenak, langkahnya terhenti. Wonwoo menarik napasnya sejenak. Kemudian memantapkan tekad. Ia sudah siap apapun yang akan terjadi selanjutnya. Ia ingin segera tahu, apa yang sebenarnya terjadi selama lima bulan belakangan ini. Ia sudah lelah merana menunggu Mingyu mengatakan yang sebenarnya, tapi suaminya itu tak juga buka mulut. Terus-terusan bersandiwara tak terjadi apapun. Dan Wonwoo juga tak berani mengutarakan firasatnya. Ia takut.

Wonwoo meraih ponselnya, dan menelfon orang itu sambil masuk kedalam Kafe.

Matanya yang sipit dan tajam memandang sekeliling. Mencari-cari sosok yang bicara dengannya ditelfon, dan ia mendapati seorang wanita melambai kearahnya. Wonwoo memutus sambuangan telefon, kemudian menghampiri wanita itu.

.

.

Keduanya duduk berhadapan. Dua cangkir Moccachino hangat mengepul di depan mereka, sementara masing-masing piring kecil berisi seporsi brownis cokelat yang agak pahit- unuk menyeimbangkan raa manis dari mocchachino- terhidang di hadapan mereka.

Wonwoo merogoh sakunya. Ia harus cepat selesaikan semuanya. Ia bukan orang yang pandai berbasa-basi, jadi dia akan langsung kepoint nya saja. Dan menurutnya, lebih cepat ia tahu akar permasalahannya, akan lebih baik.

Wonwoo menyodorkan ponselnya di depan wanita cantik yang tenang itu. Memperlihatkan sebuah pesan bergambar padanya.

"Apa kau yang mengirimnya? Bisa kau jelaskan apa maksudnya?" Tanya Wonwoo datar, sebisa mungkin mempertahankan ekspresi datarnya, agar gugupnya tidak menyeruak kepermukaan.

Wanita itu berdehem pelan. Lalu mengulas enyum cantik yang memikat. Wonwoo melipat tangannya, menunggu kalimat wanita itu, tubuhnya menyandar. Berusaha rileks.

"Sebelumnya, biar kuperkenalkan diriku. Namaku Chou Tzuyu. Aku berkebangsaan Taiwan dan sudah hampir setahun lebih menetap di Korea." Ujar Tzuyu, masih dengan gayanya yang tenang dan khas.

Wonwoo mengernyit.

"Dan aku adalah istri kedua Kim Mingyu, Jeon Wonwoo-ssi." Lanjut Tzuyu, kali ini kalimatnya penuh penekanan. Dan diakhiri dengan seriangaian.

Wonwoo terbelalak dengan rahang jatuh. Seandainya ia punya penyakit jantung, pasti ia sudah mati karena serangan jantung sekarang.

"A-pa? j-jangan asal bicara!" Sergah Wonwoo panic, ia benar-benar gugup sekarang. Dan kepalanya mulai pening. Dugaannya benar.

"Tidak, untuk apa aku asal bicara. Saat ini aku mengandung anak Kim Mingyu, seperti bisa kau lihat sendiri." Sahut Tzuyu, mengelus perutnya yang membesar.

Wonwoo tercekat. Paru-parunya serasa kosong dan ia sulit bernapas sekarang. Kepalanya menggeleng.

"Ti-dak, aku tak percaya. . . " Lirihnya, Wonwoo sudah hampir menangis sekarang. Kalimat Tzuyu menohoknya, serasa begitu menyodok hatinya. Sesak dan ngilu sekali.

Tzuyu meraih tasnya. Mengeluarkan sebuah amplop. Dan kemudian menarik kertas-kertas dari dalam amplop itu.

"Ini buktinya, ini hasil USG-ku, Tes DNA, dan juga surat-surat pernikahan kami. Memangnya MIngyu tak cerita ya?" Tzuyu pura-pura bertanya dengan nada ramah, padahal sebenarnya ia sedang menghina Wonwoo.

Wonwoo memperhatikan kertas itu dengan seksama. Asli. Semuanya. Ia tahu betl mana berkas palsu dan asli-karena dulu ia sempat bekerja di sebuah Lembaga pegadaian surat-surat berharga yang membuatnya hapal betul mana surat palsu dan asli, sebelum ia bekerja sebagai model majalah dewasa dan berakhir menjadi istri Mingyu- Wonwoo merasa jantungnya sudah merosot jatuh menyatu dengan lambung dan usus besarnya sekarang. Perutnya melilit, dan kepalanya semakin pening. Matanya memanas. Air mata menggantung diujung kedai matanya.

"Ba-bagaimana bisa Mingyu mengenalmu. . .?" Lirih Wonwoo, berusaha meredam isakannya. Dia tak ingin terlihat lemah di depan Tzuyu. Tidak, itu akan merusak harga dirinya.

"Kau ingat, saat Vernon Chwe mengadakan pesta bujangan? Aku juga diundang karena aku adalah rekannya saat sekolah dulu. Dan saat itu, Mingyu jatuh pingsan tepat didepan kakiku. Aku berusaha menolongnya yang mabuk, tapi ternyata, saat aku membawanya keapartemenku, dia secara tak sadar melakukannya-bisa disebut memaksa- dan semuanay terjadi begitu saja tanpa kendaliku." Ujar Tzuyu bercerita panjang lebar.

Tiap kalimat yang keluar dari mulutnya membuat Wonwoo meremas ujung sweaternya dari balik meja.

"Lalu, kami membuat perjanjian. Jika selama sebulan tak terjadi apa-apa, maka Mingyu bebas dan aku akan mengganggap semuanya hanya mimpi saja. Tapi nyatanya, sebulan kemudian aku hamil. Dan aku menuntutnya bertanggung jawab. Ia menolak, mungkin karena ia terlalu mencintaimu. Tapi aku hanya ingin anakku lahir dalam keadaan ber ayah, dan kemudian, dia selalu mengelak. Dia bahkan sempat menyuruh orang untuk mencelakaiku, tapi Tuhan selalu membela yang benar. . . dan akhirnya, kami menikah. Hanya pemberkataan, karena aku tak butuh pesta atau semacamnya, yang penting kami sudah sah secara hukum." Tzuyu mengakhiri ceritanya yang panjang dan dramatis sambil mereguk mocchachino nya.

Wonwoo menunduk. Menyembunyikan ekspresinya yang kacau. Air matanya sudah emnganak sungai dipipinya yang putih. Bahunya bergetar, tapi tak ada sedikitpun suara yang keluar darinya karena Wonwoo menggigit bibir bawahnya.

Tzuyu menyeringai semakin lebar di balik cangkir kopinya.

"Dan oh ya, terakhir aku memintanya untuk tinggal serumah, karena perutku sudah membesar dana ku cukup kesulitan hidup sendiri, dan ternyata ia menolak. Katanya karena ia sudah serumah denganmu, dan Wonwoo-ssi, bolehkah aku meminta izin untuk tinggal bersama kalian? Kau yang udah pernah mengandung pasti tahu bagaimana repotnya perut besar ini, kan?" Tanya Tzuyu, nada suaranya terdengar dibuat-buat. Namun Wonwoo terlalu lugu untuk menyadarinya.

Wonwoo bangkit. Wajahnya masih menunduk. Namun kemuraman menguar kuat darinya. Ia merasa hancur sekarang. Entah keberapa kali Mingyu membuatnya hancur seperti ini, tapi ia selalu berhasil menata kembali dirinya. Tapi untuk kali ini. . .

Wonwoo tak yakin dia sanggup melakukannya.

"Cukup, Tzuyu-ssi. . . hiks, terima kasih atas informasimu. Aku permisi!" Wonwoo dengan agak serampangan melangkah. Membuat kakinya menabrak kaki meja dan cangkir mocchachinonya tumpah ke meja. Wonwoo tak peduli. Ia ingin secepatnya meninggalkan tempat itu.

Wonwoo berlari meninggalkan kafe.

Meninggalkan tumpahan mocchachino yang berserak karenanya, meninggalkan brownisnya yang bahkan belum di sentuhnya, dan meninggalkan Tzuyu yang masih terduduk tenang dengan seringai iblis yang begitu lebar.

"Kena, kau, Jeon Wonwoo."

.

.

.

.

.

To be continued OR END/?

REVIEW PLEASE

Note: Heyaq, mulai serius, hati-hati greget :v karena author juga gemes sendiri nulisnya :v semoga ngefeel ya~ dan jangan lupa feedbacknya. Maaf kalau sekarang updatenya lama, karena tugas sekolah yang menggunung T_T

KECEPATAN UPDATE TERGANTUNG BANYAKNYA REVIEW