Author:Huayyy smuanyhaaaa!! Maaf ya udah update lama. Soalnya ada penyitaan
Laptop di rumah jadi ga bisa ngetik d. Ga enak kan ngetik cerita berating M
Di tengah-tengah rumah… ya udah, kita mulai aja… eh, ia, Makasi ya buat
yg uda ripyu!!
Disclaimer:Juju tak punya detnot. Abis pas mau beli kburu di ambil Mikami.
" Warning. Cerita ini mengalami pengurangan sex scene. Bagi anda yang ingin melihat hal tersebut lihatlah sendiri di situs-situs hentai."
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Light berjalan gontai di tepi jalan. Lututnya serasa lemah untuk digerakkan. Ia merasa bagai pundaknya dibebani oleh sesuatu yang membuatnya tidak kuat berjalan. Namun, di suatu sisi, ia merasa kosong. Hampa… Ia tahu, membunuh B adalah kesalahan terbesar kedua dalam hidupnya setelah mencintai L.
Manusia seperti apapun juga, pasti tidak akan membunuh seseorang yang ia sayangi. Seseorang yang ia cintai walau hanya sedikit. Seseorang yang mencintai dia sepenuh hati. Kini Light tahu, ia bukanlah orang terjenius se Jepang… Ia adalah orang terbodoh sedunia…
Kakinya membawanya pergi namun pikirannya masih terpaku pada B. Terpaku pada B yang terbujur kaku di atas tempat tidurnya dengan sebatang mawar merah berduri disampingnya. Mawar merah…
' Light-kun seperti mawar merah. Indah, cantik namun berbahaya…," Light teringat perkataan L padanya. L… Saat itu Light menyadari kakinya membawanya ke markas L.
Light memandangi gedung tinggi itu. Ia kesini untuk memberitahukan kenyataan kepada L. Ia tidak akan memohon-mohon cintanya. Ia membenci L. Benci… sebesar cintanya kepadanya... Ia hanya ingin memberitahu L bahwa ia tidak pernah mengkhianatinya. Ia tidak pernah menginginkan kematiannya. Ia tidak pernah menjebaknya. Tidak pernah… Kenyataannya, L lah yang mengkhianatinya…
' Kau makhluk yang paling tidak layak untuk dicintai….' Setetes air mata jatuh kembali ke matanya mengingat kata-kata L. Ia adalah makhluk yang paling tidak layak untuk dicintai… Kata-kata itu begitu menyakitkan. Apalagi kepadanya… Kepada Light Yagami yang mencintai L setengah mati. Ia yang selalu mencintainya walaupun L mengkhianatinya, mempermainkan cintanya…
' Kau makhluk yang paling hina….' Light terjatuh duduk di depan markas L. Air matanya menetes membasahi tanah.
Kenapa? Kenapa disaat ia mencintai seseorang dengan sepenuh hatinya, orang itu hanya memanfaatkannya? Kenapa ia tidak mencintai B saja? Kenapa ia harus bertemu L?
Ia terisak di tanah, di depan markas L. Ia tahu, ia tidak layak dicintai. Bahkan oleh orang paling hina sekalipun. Kalau begitu, mengapa Tuhan tidak memberinya kematian saja? Mungkin, ini karma… Karma karena ia telah membunuh banyak orang… Ia tidak layak dicintai… Ia makhluk paling hina… L benar… Ia begitu hina hingga ia membunuh satu-satunya orang yang mencintainya…
Perlahan Light berdiri dan menghapus air matanya. Ia tidak akan menangis saat bertemu L. Ia tidak akan memberikannya kepuasan karena telah menghancurkannya. Ia disini hanya untuk kenyataan. Walau sebagian hatinya berharap L akan menerimanya lagi, akan meminta maaf kepadanya. Namun ia tahu, hanya orang yang menyedihkan yang berharap seperti itu. Dan ia orang yang menyedihkan…Orang yang paling menyedihkan di dunia ini...
Light berjalan masuk. Ia menyadari gedung tersebut sepi sekali. Ia mencoba passwordnya saat masih menjadi anggota investigasi. Gagal. Gagal. Gagal lagi. Light menyadari system keamanan disana berfungsi sempurna, Light menekan tombol intercom.
" L, I need to talk." Hening. Tidak ada jawaban.
" L, aku ingin bicara." Namun tetap tidak ada jawaban. Light nyaris putus asa. L benar-benar tidak ingin berbicara kepadanya.
" L-."
" Go away, Yagami-kun." Terdengar jawaban di intercom. Hati Light mencelos mendengar L mengusirnya. Suara L yang dingin benar-benar menusuk di dadanya.
" L, kita harus bicara." Kata Light lagi. Ia berdoa dalam hati agar L mau membukakan pintunya untuknya.
" Pergi, Yagami-kun. Aku tidak sudi bicara padamu," jawab L lagi dengan sangat dingin. Light merasa air matanya mulai memaksa keluar namun ia tahan sekuat tenaga.
" L ki-…"
" Pergi!!," teriak L. Kali ini Light benar-benar ingin menangis. Ia menekan intercom sekali lagi lalu berbicara berusaha kuat menahan tangis.
" L, aku tahu kau tak mau bicara padaku… Aku janji, ini yang terakhir kau bicara denganku… Ini terakhir kalinya kau bertemu aku lagi… L, aku ingin bicara denganmu…," kata Light.
" Pergi Yagami-kun! Kau membuatku muak!," teriak L. Wlau ia hanya mendengar suaranya, ia bisa merasakan kebencian L padanya. Kali ini ia benar-benar tidak kuat lagi. Ia sempat meneteskan setetes air mata sebelum berbalik pergi.
L sama sekali tidak memandang Light dari monitor-monitornya. Ia hanya memencet tombol intercomnya dan menatap L. Sementara, Watari melihat semua kejadian.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Light berayun pelan di sebuah taman. Tangan kanannya memegangi dadanya yang terasa benar-benar sakit. L tidak ingin bicara padanya. L bahkan tidak ingin memandangnya. L benar-benar tidak mencintainya. Tidak pernah mencintainya.
Diam-diam air mata Light menetes kembali. Dadanya benar-benar terasa sakit. Ia jatuh terduduk dari ayunan itu. Tangan memegangi dadanya air matanya kini benar-benar menetes deras. Kini, ia benar-benar tidak mempunyai apa-apa di dunia ini. Tubuh Light gemeter karena menangis saat ia merasa ada tangan yang menyentuh pundaknya. Light mengangkat kepalanya perlahan dan bertemu sosok yang ia sudah kenal.
" Watari…," katanya lemah. Watari tersenyum kepadanya lalu membantunya berdiri.
" Anda benar-benar mencintai L, bukan?," tanya Watari lembut. Light menghapus air matanya perlahan sembari menatap Watari.
" Percuma… Ia tidak mencintaiku…," kata Light. Watari hanya tersenyum mendengar ini. Ia memberi isyarat kepada Light agar mengikutinya.
" Saya tahu saya tidak boleh ikut campur masalahnya, tapi saya merasa kali ini ia salah. L bodoh dalam hal emosi… Jadi, saya akan membantu anda untuk bertemu L…," kata Watari. Light hanya mengangguk pelan berjalan mengikuti Watari. Watari memperhatikan Light lekat-lekat.
' Dia benar-benar mencintai L….'
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
L yang berada di hadapannya memandangnya dengan pandangan benci. Benar-benar benci. Light merasa sedih melihatnya. Sebesar apapun ia membenci L, ia tidak akan memberinya pandangan seperti yang diberikannya sekarang.
" Bicara, Yagami-kun. Aku tidak mau waktuku terbuang sia-sia karena kau," katanya tajam. Light tidak membalas, hanya diam saja.
" Aku akan pergi. Jauh dari kalian semua. Jauh darimu, L," kata Light. L menyeringai menyebalkan.
" Bagus, kalau begitu. Aku tidak perlu melihatmu lagi," kata L dingin. Dada Light benar-benar sakit mendengar perkataan L ini. Ia menarik napas untuk menenangkan diri.
" L…," mulai Light.
" Waktumu habis." potong L dingin. Light memandangnya kaget.
" Tapi, L… A-aku…."
" Pergi." L berdiri dan berjalan pergi. Light segera berdiri dan menarik tangan L. Tiba-tiba sebuah tamparan panas mendarat di pipi kirinya. Mata Light memerah menahan tangis ia melihat L kaget.
" Jangan pernah sentuh aku…," kata L dingin.
" Jangan pernah sentuh aku dengan tangan menjijikanmu itu," kata L lagi. Setetes air mata jatuh ke pipi Light.
" Kenapa…," ucapnya lemah.
" Kenapa?," L menyeringai.
" Because you disgusted me. You slut."
" I am slut?...," ulang Light pelan.
" Ya… Berapa kali kau tidur dengan dia? Banyak. Aku penasaran, siapa lagi yang pernah kau layani selain dia? Berapa orang, hah?," kata L tajam sementara Light membeku. L pasti membicarakan B...
" Aku tak pernah… Kau tak tahu alasan-…."
" Apa yang aku tak tahu?! Kau menjijikan, Yagami-kun!," seru L.
" Itu demi kamu!," teriak Light. L menyeringai mirip seperti B.
" Jadi kau mengaku bahwa kau memang sering melakukannya? Demi aku? Lucu sekali Yagami-kun…," L memandangnya jijik.
" Aku tidak tahu kau begitu menjijikan, Light-kun…," kata L dengan sikap berpura-pura manis.
" Aku tidak.-," Light baru akan menjawab saat L menggenggam kedua tangannya dan mendorongnya ke dinding.
" Kau menjijikan, Yagami-kun… Kau kesini karena menginginkan ini, kan?," kata L sembari mencium bibir Light paksa. L mencium Light dengan kasar dan penuh amarah. L menggigit bibir Light hingga berdarah. Ia sama sekali tidak memperdulikan jerit kesakitan Light dan isakannya. Setelah beberapa lama, L memisahkan diri. Bibir Light berdarah namun yang ia lakukan hanya menyeringai.
" Kau membuat tanganku kotor...," kata L sembari membuat gerakan berpura-pura membersihkan tangannya.
" I hate you, L…," kata Light sembari mengusap darah dari bibirnya.
" I hate you so fucking much…," kata Light. Namun suaranya bergetar karena menangis. Lututnya terasa lemah namun Light berusaha berjalan. Apa yang diperbuatnya hingga ia mendapatkan ini? Ia mengambil tas yang sejak tadi dibawanya dan berjalan gontai keluar dari markas. Watari datang dan memberinya pandangan simpatik. Ia membantu Light berjalan keluar markas sementara L hanya menyeringai memandanginya. Setelah sampai diluar, Light terisak di bahu Watari.
" Aku benar-benar mencintainya… Tapi kenapa dia melakukan hal seperti ini?," ucap Light sementara Watari mengelus rambutnya dengan kasih sayang.
" L bodoh… Kali ini ia bodoh…," Cuma itu yang bisa ia katakan. Light tersenyum memaksa.
" Aku tetap harus memberitahukan sesuatu kepadanya…," kata Light sembari mengeluarkan selembar kertas dan menulis di dalamnya. Ia menulis cukup lama. Lalu, setelah selesai ia memberikannya kepada Watari.
" Berikan kepadanya… Katakan, aku mengucapkan selamat tinggal. Bukan sampai jumpa, tapi selamat tinggal…," kata Light. Watari hanya memberinya pandangan curiga.
" Kau tidak akan bunuh diri, bukan?," tanya Watari. Light hanya tertawa hampa.
" Aku harap bisa, tapi aku sudah berjanji kepada seseorang untuk tidak mencoba bunuh diri lagi…."
" Lagi?," tanya Watari lagi sementara Light hanya tertawa hambar lagi.
" Apa artinya aku hidup bila orang yang kucintai membenciku? Tidak ada... Aku rasa lebih baik mati...Aku pergi...," kata Light sembari berjalan lemas. Ia bahkan tampak seperti bisa pingsan kapan saja.
" Selamat tinggal, Watari…," kata Light. Watari memandanginya berjalan hingga menghilang dari pandangannya. Watari kembali masuk ke dalam markas dan memberikan surat yang diberikan Light kepada L.
" L… Ini surat dari Yagami-san… Dia bilang, selamat tinggal…." Tanpa melirik sedikit pun kepada surat itu L menariknya, meremasnya dan melemparkannya ke tempat sampah.
" Aku tidak butuh surat dari pengkhianat seperti dia…."
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Light memandangi Death Notenya yang kini sedang diubah menjadi abu. Dia hiraukan omelan Ryuk. Di kepalanya kini hanya ada satu nama. L… Tetapi setiap kali nama itu terngiang di kepalanya, dadanya terasa sakit dan air matanya mengalir. Ia ingat semua yang L katakan. Ia ingat semua yang L lakukan kepadanya. Ia ingat dengan jelas. Ia berharap ia bisa melupakan L. Melupakan semua yang bersangkutan dengan L. Melupakan L.
Light menatap langit. Beberapa lama ia menatap langit dengan memeluk lututnya dan airmata berjatuhan. Tiba-tiba sebuah bintang jatuh tampak di langit. Light ingat dongeng saat ia kecil dahulu. Jika seseorang berharap pada saat bintang jatuh, harapannya akan dikabulkan namun harga dari harapan tersebut umur orang tersebut akan diperpendek. Light tidak peduli. Ia tidak peduli walaupun umurnya harus diperpendek ataupun itu hanyalah dongeng belaka. Dia menutup matanya dan berharap dalam hati. Saat ia berharap, saat itu jatuh setetes air mata di pipinya.
' Aku harap aku bisa melupakan L… Selamanya….'
Dan bintang jatuh itu berkedip sebelum menghilang dari langit.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Watari sedikit kesal dengan sikap L. Walaupun Light memang mengkhianati L, L juga mengkhianati Light. Ia kasihan melihat Light yang tampak seperti tidak mampu berdiri setelah perlakuan L padanya. Ia melihat cinta di mata Light untuk L. Tampaknya Light benar-benar mencintainya. Dua jam setelah L membuang surat itu tanpa dibaca dan pergi ke ruang investigasinya, Watari mengambilnya dari tempat sampah. Ia tahu ia lancang. Tetapi ia mempunyai perasaan surat itu sangat penting. Dibukanya surat itu dan dibacanya.
Ia membeku, ia nyaris menangis melihatnya. Light ia…Watari berjalan setengah berlari ke ruang investigasi. Disana duduk L dengan berbagai macam manisannya sedang mengetik di laptopnya. Watari mendekatinya.
" L…," panggilnya. L hanya memincingkan matanya sedikit.
" L, surat dari Yagami-kun-," L memotong Watari bicara.
" Aku tidak ingin membaca surat darinya," kata L dingin.
" L, ada sesuatu yang penting dari surat itu…," kata Watari lagi. Namun L tetap tidak memperdulikannya.
" Aku tidak mau…."
" Kau akan menyesal jika tidak membacanya, L…."
" Tidak."
" L…."
" Tidak."
" L…."
"Tidak."
" L!!," bentak Watari. L terlonjak, Watari tidak pernah sekalipun membetaknya. L menolehkan kepalanya perlahan. Watari menyodori kertas tersebut. L membacanya dengan malas. Tadinya mata L dipenuhi kejijikan. Beberapa menit kemudian matanya memerah. Tangannya gemetar.
" Watari…," panggil L lemah.
" Ya, L?," tanya Watari.
" Siapkan mobil secepatnya…," kata L lagi. Watari tersenyum lemah melihat perubahan sikap L. Ia segera pergi mempersiapkan mobilnya. L terpaku dengan surat Light ditangannya setetes air mata jatuh ke pipinya.
' Aku telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku….'
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Light menatap jurang dihadapannya. Di sebarkannya abu Death Note ke jurang tersebut. Ia mengeluarkan lembaran terakhir Death Note miliknya yang bertuliskan nama Beyond Birthday di dalamnya.
" Bye… Death Note…," katanya sembari menyalakan korek api hingga ujung kertas itu terbakar. Ia melempar lembaran kertas yang setengah terbakar itu ke dalam jurang bersama abu Death Note. Beberapa detik kemudian, ia merasa bingung mengapa ia berada di tepi jurang dengan memegang korek api.
Ia berdiri di sana termenung menatap dasar jurang. Light tertawa hambar.
" Bagaimana rasanya jatuh kesana?... Mungkin… aku bisa terbebas dari L…," gumamnya. Ia tampak seperti orang yang sudah gila. Berdiri menatap jurang sembari menangis sekaligus tertawa hambar. Seluruh tubuhnya ingin menariknya melompat saja. Melompat ke dasar jurang itu. Agar ia bisa terbebas dari L. Agar ia bisa melupakan rasa sakit yang di sebabkan L. Melupakan L…
Namun ia sudah berjanji kepada B. Kepada orang yang mencintainya bahwa ia tidak akan mencoba bunuh diri lagi. Jadi, ia hanya berdiri disana menatap jurang dengan rasa sakit di dadanya. Angin bertiup kencang di malam yang dingin itu seakan memeintahkannya untuk melompat saja. Ia diam saja. Kalau ia bisa memilih, ia akan lebih memilih tidak usah dilahirkan saja di dunia ini jika ia harus bertemu L. Saat itu pikirannya hanyalah mati… Meninggalkan L… Meninggalkan orang yang telah mengusirnya bagai pelacur itu.
Light tertawa hambar lagi. Kalaupun ia mati, ia tidak akan diterima di surga maupun neraka. Hanya nothingness… Light tertawa lagi mengingat permintaannya kepada bintang jatuh tadi. Permintaannya untuk melupakan L selamanya. Light berbalik lalu berjalan pelan menyusuri jurang itu. Semakin lama ia disana semaki sulit menahan keinginannya untuk melompat. Light berjalan pelan sementara ia mengingat permintaannya tadi. Permintaan bodohnya tadi kepada bintang jatuh itu.
' Aku harap aku bisa melupakan L… Selamanya….'
Light berbalik karena mendengar deru kencang. Ia masih berada di tepi jurang saat ia melihat sebuah cahaya. Sebuah cahaya yang bergerak ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Lalu, hal terakhir yang ia lihat saat itu adalah cahaya yang menyilaukan. Tiba-tiba tubuhnya terasa ringan. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya bersamaan dengan setetes air mata. Air mata terakhirnya.
' Aku harap aku bisa melupakan L… Selamanya….'
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Author: Horeeeeeeeee selese juga ni chapter!! Panjang ya, fiuh cape bo!! Tenang aja ini
Belum tamat. Jadi, jangan lupa pada ripyu!! Yang ga ripyu MANDULL!!
MANDUL IS BEK!!
