Rewrite The Stars

By: the autumn evening

Pairing: Sasuke/Sakura

Rating: T

Disclaimer: I do not own Naruto. Title is from Anne-Marie James Arthur's song

Warning: AU. Multi chapters. SASUSAKU. Slight!SasuIno. Past!GaaSaku. Klise. Typos (do tell if you find any). AbsurdButAdorable!Sakura. contain spoiler for Titanic

Summary:

Pemuda Misterius bertanya, "Siapa yang sedang kau pandangi?" Tanyanya padaku yang sedang terpaku memandang seorang Pemuda Tampan dari kejauhan

"Aku tidak sedang memandangi. Aku sedang mengagumi—dari jauh."

Pemuda itu jelas tidak percaya dengan sanggahanku, karena selanjutnya dia mengatakan; "Orang menyebutnya menguntit."

o

O

o

Chapter 13

Open up

o

O

o

" Apa yang sedang kau lakukan?"

Terkejut, aku berbalik. Dengan tangan diletakan di dada, aku mengigit bibir bawahku dan menyipitkan mata untuk melihat dalam kegelapan. Tubuhku kembali rileks merasakan kehadiran familiar Sasuke (dan mengenali siluet tubuhnya dibantu cahaya lampu dari arah dapur). Aku melambai pada sosok gelap itu.

"Hai!" Aku melangkah maju dan hendak meraih stop kontak di dinding namun berakhir menabrak tubuhnya. Aku merasakan dia menopang tubuhku, dengan memegang pundak agar aku berhenti limbung. "Kenapa kau masih bangun?" Bisikku mendongak menatapnya.

Dia menatapku datar. "Seharusnya aku yang menanyakan itu padamu."

Aku menggosok belakang leherku. "Apa aku membangunkanmu?"

Dia menggeleng, aku mengangguk dengan tubuh masih menempel di dadanya. Wangi tubuhnya lumayan, seperti sabun... pasta gigi, after shave, dan heh... aku menajamkan hidungku dan mengernyitkan alis. Lalu apa lagi? Intinya, wanginya cocok dengan sosoknya—

"Apa kau sedang mengendusku?" Tanyanya dengan nada terhibur.

Aku membeku sepenuhnya, tubuhku menegang. "Um, tidak!" aku tergagap, mencoba mundur namun cengkeraman tangannya mengencang dan aku terkunci di pelukannya. Dia mengangkat sebelah alis, menantangku untuk terus menyangkal. Aku memalingkan wajah sebelum menghela nafas. "Iya," aku mengakui pada akhirnya. "Tapi itu karena kau wangi!"

Sudut bibirnya berkedut, matanya menari. "Ya sudah kalau kau bilang begitu."

Aku mengangguk.

Dia terkekeh dan perlahan melepaskanku. Aku melangkah mundur dan menggosok lenganku yang tadi ia sentuh. Entah kenapa aku merasa tiba- tiba dingin—padahal sebentar lagi musim panas! Mungkin karena efek kurang tidur... tapi aku sudah tidak sabar untuk ke mari.

Setelah lampu menyala, aku membalikan tubuh dan menatap penuh damba benda yang membuat aku terbangun di malam selarut ini (atau pagi, tergantung pada cara pandangmu). Aku mendengar Sasuke bergerak di belakangku.

"Bisa kau jelaskan... kenapa kau menatap sepeda motorku seperti itu?"

"Aku sedang mengaguminya." Aku mengoreksi.

"Oke, kenapa kau mengaguminya?"

"Karena ini keren," aku menjelaskan dengan nada yakin. "Dan aku masih tidak mengerti kenapa kau setuju dengan Paman Fugaku dan Ibu." Aku melipat tanganku di depan dada, "maksudku, aku paham kenapa orangtua tidak mengizinkan aku belajar bagaimana mengemudi si ganteng ini. Tapi kau? Kau kan yang membelinya!"

Dia menatapku cukup lama. "Lalu?"

Aku berhenti mengayunkan lenganku dan mengatur posturku kembali.

"Maksudku, tidak ada ruginya buatmu mengajariku," aku memberinya senyum manisku. Alisnya terangkat, aku ingin meraih dan mengatur alisnya agar tidak seagresif itu... "Ayolah Sasuke, aku tahu kau mau."

"Tidak."

"Tentu saja kau mau," aku bersikukuh. Sekarang aku bahkan rela berlutut memohon kepadanya. "Kau tidak berencana mewariskan keahlianmu agar tidak punah?"

"Kepadamu?"

Aku melotot mendengar nada bicaranya. "Sasuke," aku merengek. "Kau jahat sekali," aku melipat tanganku di bawah dada. "Kau saja sampai melawan ayahmu demi motor ini, dan saat ada orang yang memintamu untuk mengajarinya—yaitu aku—kau menolak!"

Ada keheningan sebelum sudut bibirnya terangkat dan dia mulai tertawa(beneran tertawa lepas). Dia meraih bahuku untuk menyangga tubuhnya yang terguncang. Dan saat itu, aku membeku mendengar tawanya. Aku merasakan pipiku mulai merona, walau pelototan mataku semakin tajam.

Beberapa saat kemudian, dia mendongak dan tidak untuk kali pertama, aku terpukau pandangan matanya. Tangannya mengelus kepalaku. Gesturnya membuat rengutan di wajahku seketika menghilang.

"Kau memang unik, Bocah."

Dan seketika rengutanku kembali, "Aku hanya lebih muda satu tahun dariku." Aku mengingatkan.

Tangannya masih di kepalaku, "Tetap saja lebih muda." Respon Sasuke.

Aku memutar bolamata sebelum kami terdiam. Aku memasang ekspresi berpikir. Baiklah. Kalau dia tidak mau mengajariku... "Bisakah setidaknya aku membonceng lalu berkeliling?" tanyaku.

Dia terlihat terkejut. "Kau sungguh ingin naik motor ini?"

Aku membuat gerakan tidak sabar. "Tentu saja! Memangnya bagaimana aku bisa belajar mengendarainya kalau aku tidak ingin menaikinya? Pakai roda dan bambu?"

Senyum kembali muncul di wajahnya. Aku semakin terbiasa—melihat dia tersenyum. Senyumnya memberimu perasaan seperti kau baru saja mendapatkan reward karena sudah melakukan sesuatu yang hebat—dan itu sedikit aneh, kalau kau memikirkannya lebih lanjut. Tapi tidakkah seharusnya semua senyum memberikan efek yang sama untukmu? Kau berhasil membuat hari seseorang lebih baik walau hanya sebentar saja, tidakkah seharusnya kau merasa sama bahagianya?

"Aku lebih memilih kau pakai roda dan bambu saja." kata Sasuke garing.

"Jadi apa kau mau? Please?"

Aku melihat Sasuke mengamatiku sebentar. Dia terlihat berpikir dan aku berdoa dalam hati.

"Kenapa?" tanyanya pada akhirnya.

Aku tidak menduga pertanyaannya. Untuk sesaat aku tak bisa bicara dan mencoba menemukan jawaban. Kenapa aku ingin naik motor?

"Aku pikir itu akan jadi pengalaman yang menyenangkan." Aku akhirnya menjawab, bingung melihat wajahnya yang tiba-tiba serius. Dia seperti mendengarkan dengan intens...

"Iya. Tapi... kenapa?"

Aku mengetuk daguku, tidak mengerti melihat tingkahnya namun memutuskan untuk menjawabnya. "Pertama, karena aku tidak pernah naik motor seperti ini sebelumnya." jawabku mengelus kendaraan di depanku. "Kedua... kau tahu orang-orang biasanya membuat daftar hal yang ingin mereka lakukan dalam hidup? Semacam Bucket Lists? Mengendarai motor ada dalam salah satu daftarku."

Wajahnya tak terbaca. "Iya?"

Aku mengangguk, tersenyum. "Iya."

Dia terlihat kembali berpikir dalam. Aku bergeser menjauh, membiarkan dia dengan pikirannya, namun tangannya menahan tubuhku untuk tetap di tempat. Aku menatapnya bingung, namun dia tidak sedang melihat ke arahku.

"Yang lainnya apa?" tanyanya.

"Yang lain?" ulangku, aku mengingat-ingat dan terkekeh. "Well, hanya beberapa hal bodoh." Kataku.

"Aku tidak peduli, beritahu aku."

"Oke," Kataku menyandar di dinding terdekat. Jujur saja aku tidak pernah memberitahu tentang daftar 'Hal Yang Harus Dilakukan Dalam Hidup' pada siapa pun. Shizune dan aku membicarakannya sekilas, tapi tidak ada yang sungguh bertanya apa saja yang ada dalam daftarku. Aku mulai menghitung dengan jari.

"Naik sepeda motor, kau sudah tahu tentang itu."

Aku menggigit bibir bawahku. Um, apa lagi?

Aku ingat satu, wajahku memanas. Aku tidak pernah mengatakannya pada seseorang dan itu membuatku merasa sedikit canggung. Tapi Sasuke bilang dia tidak peduli. Setidaknya dia tidak peduli walau isi daftarku adalah hal- hal bodoh. Dan aku percaya padanya.

"Berenang di laut," kataku ceria. "Aku tidak pernah ke pantai, tahu tidak? Well, pernah sih tapi saat aku masih sangat kecil dan aku tidak begitu ingat."

"Iya? Kenapa?" tanya Sasuke terkejut.

Aku tersenyum malu, "Takut. Aku tidak cukup berani memasuki sesuatu yang begitu... dalam. Laut itu seperti sesuatu yang tidak ada batasnya, tahu? Bukannya aku takut tenggelam... hanya saja—aku menjeda. "Entahlah, mungkin karena aku tidak sempat pergi ke pantai juga. Tapi kalau aku membayangkannya, rasanya pasti menyenangkan..." aku tenggelam dalam imajinasi.

"Apa lagi?"

Aku kembali ke realita. "Oh, um... Melihat bintang." Kataku selanjutnya. "Kita hampir tidak bisa melihat semua bintang di langit malam kota yang banyak polusi cahaya. Pasti menakjubkan kalau bisa melihat bintang- bintang bersinar di atas kepalamu tanpa gangguan dari cahaya lampu kota. Aku selalu berpikir mereka punya wajah sendiri- sendiri dengan senyuman lebar yang ditujukan ke arahmu." Wajahku memanas, di sinilah aku, mengatakan pada Sasuke bahwa bintang memiliki wajah. Dia pasti berpikir aku gila.

Aku melirik untuk melihat apa Sasuke akan mengejekku—tapi tidak. Aku kembali memalingkan wajah santai, tapi dalam hati berteriak. Sasuke sedang melihatku dengan pandangan lucu—bukan lucu seperti dia ingin tertawa. Tapi pandangan aneh seperti dia tidak tahu harus merespon apa padaku.

Dan seketika aku mengoceh.

"Um, lalu menemukan obat untuk kanker! Tapi aku tidak berpikir aku bisa mewujudkan yang satu ini," lanjutku terkekeh ringan. "Tapi itulah alasan aku ingin jadi seorang dokter, agar bisa membantu mereka yang membutuhkan dan menjadi orang yang bermanfaat."

"Kau ingin jadi dokter?"

Aku menatapnya masam, "Terkejut?"

Sasuke menggelengkan kepala, sebuah senyum miring di wajahnya. "Tidak. Aku bisa menduganya."

"Bagaimana denganmu?" tanyaku, tiba-tiba penasaran. "Kau ingin jadi apa?"

"Lawyer," katanya setelah jeda beberapa saat.

Aku memutar tubuh menatapnya, terkejut. "Lawyer? Masa?!" Aku terperangah. Kemudian menyadari apa yang aku katakan dan mengoreksinya. "Maksudku bukan berarti lawyer tidak bagus. Aku hanya tidak menyangka saja..." aku berhenti, tidak tahu harus mengatakan apa.

"Sepertinya aku lebih baik diam." Kataku sambil menutup mulut dengan tangan.

Sasuke terkekeh. "Tidak apa-apa." Ada jeda panjang. "Hanya kau yang tahu itu."

Jantungku berdegup keras. "Oh ya?" tanyaku mencoba terdengar kasual. "Ino juga tidak tahu?" tanyaku ingin tahu. "Ayahmu...?"

Sasuke menggeleng. "Hanya kau."

Aku terdiam.

"Kau ingin aku merahasiakannya?"

Dia menatapku terhibur, "Tidak juga. Orang juga tidak akan percaya kalau kau mengatakannya."

Aku terperangah. "Tentu saja mereka akan percaya. Kenapa mereka tidak—" aku berhenti dan menyadari apa maksudnya. "Pasti karena sikapmu yang sok atlit dan dan seperti tidak peduli dengan pelajaran."

"Tiga olahraga," dia mengakui. "Aku tidak tahu bagaimana aku masih bisa berdiri tegap."

"Aku akan membantumu bangkit kapanpun kau membutuhkanku." Kataku tanpa berpikir. Lalu kami berdua menegang. Well, aku menegang. Dia hanya berhenti bergerak, seperti paru-parunya menolak untuk menghirup oksigen. Aku menatapnya dan terkekeh canggung. "Barusan adalah reaksi refleks." Kataku mencoba menghapus keheningan.

Sasuke menggelengkan kepala. "Kau selalu membuatku takjub." gumamnya, namun tidak melihatku.

"Di perpustakaan, saat aku memberitahumu aku main tiga olahraga... ekspresi wajahmu..." dia berhenti.

Aku menatapnya. Apa aku sejelas itu?

Tidak. Tidak. Sasuke hanya terlalu pandai membaca orang lain.

Sepertinya sudah saatnya aku mengatakannya. Walau aku ingin menyembunyikan hal itu darinya lebih lama lagi.

Apakah aku sudah siap untuk bercerita? Oh Tuhan. Kata-kata sudah berada di ujung lidahku, mengancam untuk dilepaskan. Namun pada saat yang sama, sesuatu masih menahanku.

"Aku benci atlit." Aku mendengar diriku berbicara. "Aku tidak spesifik membenci orangnya—lebih kepada image dan julukannya. Setiap kali aku melihat orang menunjukan kecintaannya pada olahraga... tanpa sadar aku mencoba menghindar."

Alis Sasuke mengerut. "Tapi... kenapa?"

Aku terdiam, mencoba menemukan keberanian untuk mengatakannya. Kenapa aku masih tidak bisa mengatakannya dengan mudah? Aku sudah menceritakan ini pada Ayah, aku cerita pada Mama Tsunade lalu Shizune. Aku memainkan gelang di pergelangan tanganku dan menarik nafas dalam.

Sasuke menatapku, masih menunggu jawaban. Aku melihat tatapan perhatian dan kecemasan di bawah ekspresi kakunya, dan itu hanya membuat dadaku makin sakit. Dan tiba-tiba aku ingin menceritakan semuanya padanya—apa yang terjadi, bagaimana itu terjadi, bagaimana perasaanku...

"Dia hampir memperkosaku," kataku tanpa berpikir.

Satu detak jantung kemudian, aku menggigit bibir dan mendongak, hampir takut untuk melihat reaksinya.

Sasuke membeku.

O

O

O

Aku sangat bodoh. Orang paling bodoh yang hidup di planet ini, dan—oh,Tuhan, bagaimana aku bisa mengatakannya begitu saja? Sasuke tidak perlu tahu—dia tidak mau tahu dan—

Aku menghentikan pikiranku dan menarik nafas dalam sebelum mengubur wajahku di bantal. Aku melihat dinding kamarku, dengan setengah wajah masih menempel di bantal. Cahaya dari lampu meja memendar di sebagian kamarku, l sisanya diselimuti kegelapan. Aku tidak bisa tidur.

Dia hampir memerkosaku.

Aku kembali mengernyit. Aku tidak percaya aku sungguh mengatakannya pada Sasuke! Memangnya aku pikir siapa aku, mencoba merepotkan dia dengan masalahku? Kenapa aku bahkan—apa aku sungguh berpikir dia akan peduli? Oh yeah, sekarang Sasuke pasti memandang aku sebagai seorang gadis malang yang tinggal serumah dengannya dan pernah hampir diperkosa.

Berita itu akan tersebar seperti kebakaran hutan di antara teman segrupnya. Mereka mungkin akan menertawakanku.

"Hentikan," desisku pada diri sendiri. Apa yang aku pikirkan? Sasuke tidak mungkin seperti itu. Sasuke tidak seperti... dia. Sasuke punya hati.

Aku menjeda. Setidaknya... aku harap begitu. "Sungguh gila," gumamku memutar bolamata dan menjatuhkan kepala ke bantal. Setelah mengatakan kalimat terlarang itu, aku merasakan darah berhenti mengalir ke wajahku dan seketika aku mencari alasan untuk pergi ke toilet dan masuk kembali ke dalam rumah. Aku tidak tahu apa Sasuke mengerti apa yang aku katakan.

Lima menit setelah aku memasuki kamar, aku mendengar suara sepeda motornya menyala dan lewat tiraiku, aku dapat melihat Sasuke mengendarainya pergi menuju kegelapan malam.

"Bagus, Sakura," gumamku, menjambak rambut. "Kau menakuti satu-satunya orang di sini yang peduli padamu."

Aku berguling dan menatap dinding kamar. Ponselku ada di tangan dan aku menatapnya kosong. Sekarang jam tiga pagi, apakah Ayah masih bangun?

Menghela nafas, aku meletakan ponsel itu di nakas. Aku tidak bisa terus menyusahkan orang lain— aku menjeda. Itulah solusinya. Aku harus berhenti menceritakan masalahku pada orang lain dan membesar-besarkannya. Maksudku, kalau saja aku tidak memberitahu Ayah, Ayah tidak akan mencemaskanku setiap saat.

Kalau aku tidak memberitahu Shizune, dia tidak akan memukul hampir setengah tim sepak bola karena tidak menghentikan dia.

Aku hanya bisa menjadi beban. Sungguh menyusahkan.

O

O

O

Tidur di bawah tangga tidak senyaman yang aku pikirkan. Aku meregangkan punggungku sebelum berbaring lemas di sudut dengan tasku sebagai bantal. Aku tiba satu jam tigapuluh menit lebih awal di sekolah. Kau percaya itu? Aku percaya, aku memang sudah merencanakannya. Secara tekhnis, seharusnya aku sampai empat jam lebih awal. Tapi sepertinya sekolah belum buka jam segitu, jadi aku memutuskan untuk pergi ke taman tempat aku... um, menangis tempo hari. Dan duduk di ayunan selama satu jam... atau lebih.

Maaf tidak akurat, aku memang sering melupakan sesuatu saat aku setengah tidur seperti ini.

Apakah aku sedang menghindari Sasuke? Ya. Aku terlalu lelah untuk menyangkal dan itulah jawaban jujurku.

Sejam setelah Sasuke pergi mengendarai motornya semalam, dia kembali dengan suara sama nyaringnya seperti saat dia pergi (aku ragu orangtua kami mendengarnya, mereka biasanya tidur dengan lelap.) dan mulai menggedor pintu kamarku.

Tapi kemudian dia menyadari bahwa pintu tidak terkunci dan dia memutuskan untuk masuk (kenapa tidak masuk saja langsung dari awal?). Aku bukannya sedang tidur, namun dari sikapnya yang tergesa dan umpatan tertahannya dari balik pintu, aku tidak yakin percakapan kami akan menyenangkan. Jadi satu-satunya cara untuk menghentikannya bicara padaku adalah dengan berpura-pura tidur. Sulit melakukannya, tentu saja, aku dapat merasakan tatapan membakarnya di seluruh inchi wajahku. Dia sedekat itu. Maksudku, aku dapat merasakan nafasnya di kulitku.

Syukurlah, dia pergi pada akhirnya, sambil menggumamkan "Ini belum berakhir, Haruno."

Aku harap tidak.

O

O

O

Aku bangun dari tidur tak nyenyakku sejam kemudian, cukup terkejut karena belum ada yang menemukanku. Aku menahan diri untuk tidak terkikik geli. Aku harus ingat untuk menceritakan tentang ini kepada Shizune. Aku mengambil cermin saku dan mataku hampir copot melihat betapa berantakannya penampilanku. Dengan enggan aku bangkit dari tempat aku berbaring (mengecek apakah ada orang di tangga) sebelum berlari menuju toilet. Aku membersihkan wajahku dari sisa-sisa kantuk dan mengambil bedak dari ranselku.

Aku sedang menyisir rambut panjangku saat Ino memasuki toilet. Aku tersenyum padanya lewat cermin. "Selamat pagi," cicitku, "bagaimana kabarmu?"

Dia tersenyum, tapi aku dapat melihat ada yang mengganggu dari matanya. "Aku baik." Dia mencuci tangan di wastafel sebelum dia kembali bicara. "Boleh aku bertanya sesuatu padamu?"

Aku menatapnya, berhenti menyisir rambutku yang berantakan. "Tentu saja." Kataku dengan suara perhatian, dan memberinya perhatian penuh. "Ada apa?"

Dia diam untuk beberapa saat sebelum menatap tepat di mataku. "Bagaimana kau tahu kalau kau sedang jatuh cinta?"

Aku mengedip. Cinta! Oh, perasaan yang sangat indah, jatuh cinta.

Aku menjawab ceria. "Aku tidak tahu." Jawabku sebelum melihat wajah kecewanya dan membuatku merasa bersalah. "Tapi aku sering membaca tentang cinta. Aku tahu membaca dan merasakan adalah dua hal yang berbeda, tapi aku akan menjawabnya sebisa mungkin." Aku menawarkan.

"Oh. Terimakasih..." Ino ragi. "Jadi apa jawabanmu?"

Oh. Well, aku belum memikirkan sejauh itu. Tapi sepertinya aku harus mengarang sesuatu untuk membuat Ino percaya padaku. Dia terlihat butuh teman mengobrol. Aku harus menghapus rengutan itu dari wajahnya. "Cinta itu seperti persahabatan yang menggelora," aku mengutip, "jadi menurut tebakanku, kalau kau jatuh cinta, pertama kau harus menyukai pria itu...?"

Tentu saja. Itu kan sudah jelas.

Ino mengangguk hati- hati. "Tentu saja aku menyukainya."

"Oke, jadi begini," lanjutku. "Bayangkan dirimu lima tahun dari sekarang. Bisa kau bayangkan dia ada bersamamu?"

Ino membuka mulut. "Aku..."

"Dan bagaimana perasaanmu saat dia tidak ada di sampingmu dan memastikan kau baik-baik saja?" Aku melanjutkan. Sepertinya aku berbakat. "Terkadang, katuh cinta itu seperti kau tiba-tiba saja sadar bahwa dia lah orangnya. Dia adalah orang yang tepat untukmu. Kau tahu kalau kau sedang jatuh cinta saat kau tidak bisa membayangkan dirimu dengan orang lain, sekarang dan selamanya. Dan kehidupan tanpanya bukan hanya tidak bisa kau lalui, tapi tidak bisa kau bayangkan."

Itu kalimat yang indah. Coba saja aku masih bisa mengingatnya nanti saat jam pertama mulai, agar aku bisa menuliskannya dan mengingat momen bijakku.

Bukan berarti aku tidak biasa bijak. Tapi kau tahu lah.

Ino terlihat berpikir.

"Apa itu membantu?" tanyaku.

"Tidak begitu." Jawab Ino jujur, membuatku sedih. "Aku jadi lebih bingung. Tapi aku mengapresiasi usahamu."

Aku mengangguk. "Aku harap kau bisa menghadapi kebingunganmu."

"Terimakasih."

Rasanya menyenangkan dapat membantu seseorang, walau aku masih setengah tidur. Aku kembali merapikan rambutku untuk menghilangkan efek kurang tidur dari wajahku dan keluar dari toilet.

"Hai, Sakura."

Aku berhenti berjalan dan menatap sekeliling. Mataku melebar saat melihat sosok yang memanggil namaku. "Hai, Sai."

Sai. Ya Tuhan, bagaimana mungkin aku bisa melupakan tentang dia?! Aku memutar otakku, mencoba mengingat kembali kapan terakhir kali aku berpikir tentang dia. Itu sudah lama sekali, hari saat dia bicara padaku di perpustakaan. Mengejutkannya, aku tidak merasakan letupan di dadaku saat melihatnya.

Walau dia masih membuatku gugup.

"Bagaimana kabarmu?" Sai memasukan tangannya ke saku celana untuk mengatasi kegugupannya sambil tersenyum malu.

Ok. Ok, dia sangat manis. Aku tidak bisa menyangkalnya. Aku merasakan bibirku tertarik membentuk senyum manis. "Aku baik, terimakasih," jawabku dan mulai berjalan beriringan dengannya. "Kau sendiri?"

"Baik." Dia menjeda sebelum menunduk menatapku. Aku menatap tepat ke mata hangatnya dan mencondongkan tubuhku ke depan. Aku tahu tatapan itu. "Apa kau mau pergi makan es krim... sepulang sekolah?" Ujung telinganya memerah dan aku terkekeh pelan. "Maksudku, kalau kau tidak sibuk. Kau tidak perlu pergi kalau kau tidak mau, tapi..."

"Dengan senang hati," aku memotongnya. "Tapi aku penasaran, apa Sasuke yang menyuruhmu mengajakku keluar?" Aku mengangkat alis, merasa sedikit takut. Mungkin ini adalah jebakan. Mungkin Sasuke menggunakan Sai untuk menjebakku agar aku bicara padanya!

Sai terlihat bingung. "Sasuke? Tidak, tentu saja tidak. Aku sudah lama tidak bertemu dia..." lanjut Sai. "Kau mau mengajak dia juga?"

"Tidak!" Aku hampir berteriak. "Maksudku, tidak usah... kita berdua sama-sama sudah mengenalnya... dengan baik. Aku ingin lebih mengenalmu."

Oh Tuhan! Kenapa aku begitu frontal?!

Wajah kami sama-sama terbakar menyadari kalimatku memiliki dua makna. Membersihkan tenggorokan, aku mencoba bersikap biasa. Aku perlu menemukan sebuah lubang untuk mengubur diri.

"Maksudku," aku tergagap, "sebagai teman. Karena, itu pasti akan menyenangkan. Tapi mungkin selanjutnya..."

"Iya..."

Kami terdiam lagi.

"Sampai jumpa sepulang sekolah?" Lanjutku.

Sai mengangguk, wajahnya cerah, masih tidak menatapku. "Sampai jumpa nanti."

O

O

O

TBC

O

O

O

AN: EDITED because of massive mistakes. Beberapa chapter terakhir, Eve ketik lewat catatan di iphone—karena pinggang ga tahan duduk lama depan laptop, so pardon the typos. (Kasih tau ya bagian mana yang masih ada yang salah ketik.)

Menjawab pertanyaaan; Apakah Ino sudah tahu hubungan keluarga SasuSaku? —Yep, tentu saja Ino tahu, bahkan saat Sakura dengan tidak elitnya pura-pura minta tisu lalu kabur waktu mergokin Sasuke dan Ino lagi making out di rumah mereka, Ino juga sudah tahu. Apalagi Ino juga pernah ketemu sama Ayahnya Sakura, kan?

Tapi karena cerita ini dari sudut pandang Sakura, kita hanya bisa tahu dari sudut pandang dia saja, dan sayangnya akan ada banyak hal yang tidak diceritakan secara detail.

Apakah Sasuke dan Sakura lupa pernah ketemu sebelum semua ini? —Sebelumnya, mereka gak benar- benar ketemu loh, waktu di prolog yang diceritakan dari sudut pandang Sasuke, hanya Sasuke yang aware sama Sakura. Kalau Sakuranya kan cuma lihat Sasuke sekilas, itupun dari kejauhan(dan mengingat betapa absurdnya isi kepala Sakura, Eve ragu kalo Sakura ingat dia pernah lihat Sasuke.)

Menurut kalian Sasuke ingat nggak kalau Sakura adalah gadis yang bikin dia terpesona tahun lalu?

Anyway, terimakasih sudah membaca.

Kritik, saran dan pendapat silahkan sampaikan lewat review.

-with cherry on top-

.the autumn evening.