Fated to Me


YUNJAE


Main Cast :

Jung Yunho

Kim Jaejoong

Kim Soo Hyun

Other Cast :

Park Yoochun

Kim Junsu

Shim Changmin

Cho Kyuhyun

Disclaimer : They are belongs to them selves, family, Elite Minority Cassiopeia, and shipper.

Author : Alyse Shanidas

Genre : AU, OOC, BL, Urban-life, Love-Hate, Love Triangle, Crack Pairing, Mpreg.

Rating : M

Warning : DON'T LIKE DON'T READ. Author Newbie, Typos *ngacir dimana-mana* , Amburadul tidak sesuai EYD, Slash.

Previous Chapter

Jaejoong menyibak selimutnya dengan kasar. Mata bulatnya yang indah memicing tajam ke arah Yunho bak se-ekor elang yang sedang mengintai mangsanya. "Kau ahli sekali tentang hal itu. Jung Yunho! Sudah berapa banyak orang yang ada di 'bawahmu' huh?"

Jaejoong tahu ia tidak cukup mampu mengontrol emosinya. Ketika kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Yunho, ia sadar kalau cemburu buta kini sedang memenuhi hatinya. Bayangan buruk memenuhi benaknya. Hingga tanpa sadar bayangan itu menghadirkan luapan air mata di pelupuk matanya.

Di satu sisi mungkin ia memang merasa bahagia karena bisa dikatakan ia adalah orang pertama yang kembali membuka hati Yunho yang telah lama beku. Bahkan Shin ahjushi sendiri yang memberikan kesaksian seberapa besar rasa cinta Yunho kepada dirinya. Akan tetapi disisi lain, hatinya seakan dicubit dan diremas kasar ketika ia tahu bahwa Yunho adalah orang yang bisa melakukan apapun sesuai kehendaknya. Mungkin lelaki tampan yang kini berstatus sebagai pasangannya itu tidak pernah membawa siapapun pulang ke Mansionnya seperti kata Shin ahjushi waktu itu, tetapi tidak menutup kemungkinan jika Yunho akan membawa mereka -entah siapapun itu- ke Hotel bukan?. Yunho punya kuasa akan hal itu. Dia tetaplah lelaki dewasa dan bebas.

"Jae..." Yunho terdiam kaku ditempatnya saat ini. Ia memang terkejut karena perubahan sikap Jaejoong yang secepat itu. Namun yang membuatnya sangat terkejut adalah mata indah Jaejoong yang kini digenangi air mata. Bagaimana mata itu menatapnya dengan pandangan terluka dan di penuhi kekecewaan, merah sembab dan terlihat sangat menyesakkan. Ia tidak suka dan ia tidak akan pernah sanggup menatap binar mata cerah itu yang kini dipenuhi embun gelap yang menyedihkan.

Chapter 15

"Please, jangan menangis. Kau tahu maksudku tidak seperti itu sayang."

"Bagaimana dengan Ji Hyun?"

Seketika itu pula ekspresi wajah Yunho berubah. Wajah dinginnya menatap ke dalam mata Jaejoong yang menciut takut. Yah, ada rasa takut dalam diri Jaejoong ketika Yunho menatapnya seperti itu.

Yunho mengeram dan jemarinya menyusuri rambut dengan frustasi. Masa lalu kembali menyeruak ke dalam benaknya. "Jangan lakukan itu, Jae."

"Jangan lakukan apa? Apa maksudmu adalah pertanyaanku tentang kau yang pernah tidur dengan Ji Hyun?"

Yunho berdiri, berkacak pinggang sambil menatap Jaejoong dengan ekspresi kecewa. "Apa kau ingin jawaban jujur?."

Jaejoong mengusap kasar kedua matanya yang hampir meneteskan air mata. Rasa sedih dan perasaan ingin menangis seperti hilang begitu saja, tergantikan oleh rasa marah, kesal dan sakit yang tak bisa digambarkan. "Hanya itu yang ku inginkan."

"Sudah ku katakan jangan lakukan itu dan kau tetap memaksanya. Apa kau siap mendengar jawabannya?." Yunho menarik nafasnya. Mencengkeram rambutnya dengan gelisah lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar.

Jaejoong memalingkan wajahnya. Ia menghela nafas sepelan mungkin. Ada rasa tidak siap, tetapi juga ada keinginan kuat untuk mengetahui dan menguak kembali tentang masa lalu Yunho. "Aku siap jika kau siap jujur saat ini."

"Ya. Kami pernah melakukannya beberapa kali. Kami-..."

"Antar aku pulang." Jaejoong mendesak. Rasa sakit dan kecewa semakin menghujam hatinya. Mentalnya memang siap tapi sungguh hatinya tidak siap menerima kenyataan itu. "Aku tidak ingin mendengar apapun. Aku tidak ingin mengetahui apapun lagi."

Yunho kembali duduk di hadapan Jaejoong. Berusaha meraih tangannya, tetapi Jaejoong menepisnya. "Tidakkah kata-kataku cukup jelas? ANTAR AKU PULANG SEKARANG JUGA." Sentaknya keras.

Yunho tahu memaksa Jaejoong tetap tinggal juga tidak akan memperbaiki situasi. Mungkin membiarkan Jaejoong menenangkan pikirannya sementara waktu adalah pilihan yang tepat. "Oke, baiklah."

Jaejoong tetap memalingkan wajahnya menghadap ke jendela ketika Yunho mengantarkannya pulang. Namun ketika mobil Yunho berhenti tepat di belokan jalan yang cukup sepi membuat Jaejoong mengalihkan pandangannya. "Ini bukan arah ke apartemenku."

"Aku tahu. Aku akan mengantarmu pulang, tapi kita harus membicarakan masalah ini. Kau tidak bisa membiarkan jawabanku menggantung seperti itu Jae." Perlahan Yunho meraih tangan Jaejoong yang ada di atas paha, menggenggamnya lembut dan sedikit meremasnya. "Boleh aku datang siang nanti?"

Jaejoong tahu hatinya kembali berdesir ketika tangan Yunho menyentuhnya. Dan ketika jemari Yunho bertautan dengan jemarinya, ingatan akan kebersamaan mereka membuatnya ingin menangis. Bagaimana tangan itu menyentuh pipinya, menggenggam hangat telapak tangannya, merengkuhnya dalam pelukan yang terasa sangat nyaman, tetapi kekeras kepalaannya membuatnya menarik kembali tangannya. Tetap diam membisu dan membiarkan Yunho kembali mengemudikan mobilnya. Membiarkan Yunho memahami dirinya meski tanpa ungkapan kata.

Keduanya tetap diam seribu bahasa sampai mobil Yunho memasuki area apartemen Jaejoong. Mesin dimatikan dan Jaejoong sudah memegang gagang pintu, bersiap keluar ketika Yunho menahannya dengan menggenggam pergelangan tangannya.

"Tunggu," Suaranya terdengar lirih. "Katakan sesuatu."

Jaejoong memutar tubuhnya menghadap Yunho. Ia tetap diam dan membiarkan sebagian tubuhnya bersandar di jok. Ia lupa caranya menghela nafas walaupun ingin, ia lupa caranya menangis walaupun hatinya meringis. Ia seperti kehilangan kontrol akan dirinya sendiri. Lebih seperti mati rasa.

"Please, katakan sesuatu." Yunho memegang sisi wajah Jaejoong dengan lembut. Mengusap pipi pucatnya dan menyatukan kening mereka. Ia sempatkan mengecup kening Jaejoong sebelum kembali menyatukan kening mereka dalam keheningan. "Apa kau akan baik-baik saja? please, jangan diam seperti ini."

Jaejoong tidak tahu apa reaksi yang di inginkan Yunho darinya. Apa Yunho ingin ia menjerit? Menangis? Berteriak marah? atau mungkin menampar pria itu?. Karena jujur saja, ia tidak bisa melakukan semua itu ketika hatinya masih dipenuhi rasa sakit mendengar penuturan Yunho sesaat yang lalu.

"Hatiku hancur... Membiarkanmu pergi dalam keadaan seperti ini. Aku tidak ingin kau sendirian." Yunho mendekatkan tubuh Jaejoong ke arahnya. Memeluknya dengan sangat erat seolah takut tidak akan pernah bisa melakukannya lagi.

"Aku butuh sendiri, setelah semua ini."

Dengan berat hati Yunho melepaskan pelukannya. Mengangguk mengerti dan menarik tangannya dari pinggang Jaejoong lalu kembali memegang setir. Menyalakan mesin dan mengawasi Jaejoong memasuki gedung apartemen, sebelum kemudian melajukan mobilnya menjauh.

Jaejoong memasuki apartemen bersamaan dengan Changmin yang baru saja keluar dari kamarnya. "Kau mau kemana?"

"Eii hyung, kau sudah kembali?" Changmin tersenyum kecil sebelum kemudian berjalan menuju dapur. Mengambil sebotol air dan meminumnya dengan rakus. "Aku harus kembali ke Jepang."

Ada rasa tidak rela ketika Changmin mengatakan akan kembali ke Jepang. Dan hal itu cukup membuat hati Jaejoong semakin sedih. Betapa ia akan terlihat lebih menyedihkan ketika menghadapi sendiri masalahnya dengan Yunho. Tidak akan ada Changmin yang bisa membantunya mengalihkan masalah itu.

"Hyung, kenapa kau terlihat menyedihkan ?" Changmin memegang bahu Jaejoong. Menarik dagu lelaki cantik itu agar mendongak menatap ke arahnya.

"Apa terlihat jelas?."

"Sangat." Changmin tersenyum kecil. "Kau tidak pintar menyembunyikan ekspresi."

"Aku tahu."

"Mau mengatakan sesuatu?"

"Kurasa tidak. Ini hanya masalah kecil." Jaejoong tersenyum kaku.

"Istirahatlah. Tidak perlu mengantarku."

"Kenapa?" Jaejoong berucap lirih di balik bahu lebar Changmin yang sedang memeluknya. Setidaknya dengan mengantar Changmin akan membuat perasaannya lebih baik karena ia bisa mengalihkan perhatiannya agar tidak terfokus pada masalahnya.

"Aku malu."

"Yah! Bagaimana bisa kau mengatakannya?"

Changmin melepaskan pelukannya ketika Jaejoong dengan sangat kasar memukul kepalanya. Ia menghela nafas panjang sambil berkacak pinggang. "Kau pasti akan menangis. Seperti yang sudah-sudah, kita pasti akan menjadi pusat perhatian."

Jaejoong terdiam ketika apa yang di bilang Changmin memang benar adanya. Ia memang selalu menangis setiap kali Changmin akan pergi ke Jepang. Tidak peduli kalaupun saat itu mereka berada di bandara umum yang tentunya ramai. Tidak peduli seberapa keras ia meraung ketika pengumuman keberangkatan mulai mendengung. Tidak peduli rontaan sesak Changmin karena ia akan memeluk tubuh sepupunya itu lebih erat lagi. Ada rasa tidak rela dan kehilangan ketika sepupunya itu akan pergi. Berbanding terbalik ketika mereka bersama, selalu saja ada pertengkaran dan perdebatan masalah sepele.

Dan pada akhirnya, Jaejoong memilih memeluk erat tubuh jangkung Changmin sambil menangis tersedu menumpahkan perasaannya. Ia memilih tetap diam membisu meski kekhawatiran terdengar jelas dari suara Changmin.

Terhitung sudah seminggu sejak Changmin berangkat ke Jepang. Dan selama itu pula Yunho belum pernah menemuinya, sekalipun. Bahkan kabar dari lelaki itupun ia tidak tahu. Baik-baik sajakah? Sehat? atau bahkan kemungkinan terburuk?.

Memang beberapa kali Junsu datang ke apartemennya, tapi selama bertemu tidak pernah sedikitpun mereka menyinggung tentang Yunho. Ia memilih diam, atau lebih tepatnya menunggu Junsu yang mengatakan terlebih dahulu. Namun sepertinya Junsu juga enggan mengatakan sesuatu tentang Yunho, atau mungkin merasa tidak enak dan takut membuatnya marah.

Jaejoong menghela nafas untuk kesekian kalinya. Entah kenapa malam ini rasanya sangat sulit untuk terlelap, padahal ia sudah mencoba untuk memaksakan matanya agar terpejam. Beberapa kali ia mengubah posisinya agar lebih nyaman dan berharap segera terlelap. Namun rasa kantuk itu tak juga menyerangnya.

Dalam keheningan itu ia sontak membuka mata, tidak bergerak, posisinya masih berbaring miring. Keadaan kamarnya pun gelap. Namun ada bunyi yang membuatnya semakin terjaga. Ia memelankan nafasnya, menajamkan telinganya demi menyimak derap langkah seseorang.

Jaejoong tahu seharusnya ia berlari menyalakan lampu lalu mencari benda apapun yang bisa ia gunakan sebagai senjata. Sebaliknya, ia bergeming dan tetap pada posisinya. Siapapun orang yang sudah berani memasuki apartemennya bahkan sekarang menuju ranjangnya, ia tahu kalau orang itu berusaha untuk tidak menimbulkan suara. Dan batin Jaejoong mengatakan kalau orang itu adalah, Yunho. Ada alasan kuat kenapa ia yakin sekali akan tebakannya itu. Karena sebelumnya ia sudah mengganti password apartemennya dengan yang baru, tentunya hanya ia dan Changmin yang tahu. Jadi sangat tidak mungkin kalau penyusup itu adalah Soo Hyun. Ia bahkan belum bertemu dengan Soo Hyun selama seminggu ini. Dan yang lebih penting, Changmin itu sangat dekat dengan Yunho.

Meskipun begitu, Jaejoong tidak bisa mengontrol detak jantungnya yang semakin berdebar kencang, tidak juga dengan tubuhnya yang ikut menegang kaku ketika kasurnya melendut dan seseorang berbaring di sampingnya. Satu yang ia yakini, aroma itu. Jaejoong hafal dengan aroma parfumnya.

Jaejoong bergidik pelan ketika Yunho mencium tengkuknya. Membuat Yunho yang merasakan pergerakan itu tersenyum kecil. Ia tahu Jaejoong belum terlelap. "Aku membuatmu terbangun?" bisiknya pelan.

Jaejoong memilih untuk tetap diam membisu. Ia membiarkan jemari Yunho menyusup di balik baju piyamanya dan menyentuh perutnya. Ia terkesiap ketika kulit panasnya bersentuhan langsung dengan kulit tangan Yunho yang sedingin es. Lelaki itu memeluk tubuhnya dengan erat dan sesekali mencium rambutnya.

Ia marah, ia marah karena Yunho datang kesini. Tetapi ia lebih marah kepada dirinya sendiri yang memang mengharapkan Yunho untuk datang menemuinya. Kalaupun bisa ia ingin memberontak, memaki dan mengusir Yunho. Sebaliknya, ia justru sangat berharap Yunho semakin menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan lelaki itu. Karena ia takut Yunho akan melepasnya. Terlebih, ia kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa memahami sisi lain lelaki itu.

Beberapa saat mereka hanya berbaring dalam diam. Jaejoong sibuk memikirkan semua sikap Yunho selama ini. Ada saat dimana ia sangat menyukai sikap lelaki itu tapi ada juga saat dimana ia membenci sikapnya. Ada saat ia terpesona dan ada saat ia tersakiti. Dan yang terakhir adalah sisi Yunho yang membuatnya sangat kecewa.

Yunho tetap diam tanpa ada niatan untuk menjelaskan maksud kedatangannya. Pelukannya bahkan tidak mengendur. Memangnya apa yang bisa Jaejoong harapkan? Pengakuan Yunho kalau yang pernah dikatakannya waktu itu hanyalah bercanda? Itu lebih tidak mungkin lagi. Setidaknya ia tahu sifat Yunho yang memang tidak suka bercanda.

"Aku sangat merindukanmu."

Jantung Jaejoong semakin berdegub cepat ketika suara berat Yunho mengalun di samping telinganya. Saat itu juga ia merasakan tangan Yunho yang melingkar di perutnya terasa gemetar. Yunho semakin memeluknya dengan kesungguhan dan keputusasaan yang terasa menyakitkan dan berhasil menghancurkan hatinya. Jaejoong merasakan nafasnya semakin berat, pipinya memanas, kedua mata indahnya memejam erat menahan air mata yang ingin menerobos pertahanannya.

"Aku marah sekali padamu." Kata itu akhirnya keluar dari bibir Jaejoong. Sungguh, ia tidak bisa lagi menahan kebungkaman di antara mereka. Biar saja Yunho tahu jika suaranya tersirat kesedihan, sakit hati dan kekecewaan yang begitu dalam.

"Aku tahu, sayang." Yunho semakin menarik tubuh Jaejoong dalam pelukannya. Membuainya dengan kecupan lembut di telinga dan kepalanya. "Aku tahu."

Bukan itu jawaban yang Jaejoong inginkan. Setidaknya ia mengharapkan ucapan permintaan maaf terucap dari bibir lelaki arogan itu. Nyatanya, Yunho memang tidak mencoba untuk meminta maaf padanya. Dan kenyataan itu berhasil mengiris hatinya yang memang sudah hancur. Hingga tanpa sadar jemarinya meremas pergelangan tangan Yunho.

"Aku tahu kau marah. Dan aku akan menerimanya, kau memang seharusnya marah padaku. Tapi lebih dari itu, aku lebih ingin kau menginginkanku disini bersamamu." Yunho menurunkan ciumannya di leher jenjang Jaejoong. Menumpu tubuhnya dengan siku yang ditekuk dan secara perlahan menarik tubuh Jaejoong agar telentang menghadapnya.

Jaejoong tahu, ketika kedua matanya menatap ke dalam mata Yunho ia akan terjatuh. Semua perasaannya kepada lelaki itu seolah bangkit kembali. Semua perasaan senang dan juga perasaan menyakitkan. Melihat Yunho yang menatapnya dengan sorot mata penuh kepedihan, Jaejoong tahu jika Yunho juga merasakan apa yang sekarang ia rasakan. Betapa ia ingin memeluk leher kokoh itu untuk memastikan jika Yunho memang ada disini, bukan hanya sebuah khayalan yang terasa nyata.

"Tapi perlu kau tahu... aku tidak akan meminta maaf atas kesalahan yang memang tidak seharusnya kau maafkan."

"Aku memang sangat marah padamu, tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku jika aku sangat merindukan dan menginginkanmu disini Yunho-ah..."

Dengan cepat Yunho mencium bibir merah Jaejoong dengan penuh perasaan. Mengecupnya lembut dan penuh penekanan. "Astaga Kim Jaejoong, kau tahu aku sangat merindukanmu."

Dan ketika Yunho menyalakan lampu tidur di atas meja nakas, baru Jaejoong sadari jika bibir lelaki itu berwarna kebiruan dengan wajah pucat. Rambutnya tidak tertata rapi, begitu juga dengan bajunya. "Astaga, kau kenapa?"

Jaejoong terkesiap ketika kulit telapak tangannya menyentuh wajah Yunho yang terasa menyengat sedingin es. Tidak salah lagi, lelaki itu pasti sedang kedinginan. Dengan wajah penuh kekhawatiran Jaejoong menyeka peluh yang ada di dahi Yunho. Mengusapnya kemudian menangkup wajah lelaki itu dengan kedua tangannya, berharap hal itu bisa membuat wajah Yunho lebih hangat. "Katakan, apa yang terjadi padamu?"

"Tidak ada, sayang."

Jaejoong memicing curiga. "Kau habis berlari?"

"Umm, yeah... ban mobilku bocor di jalan. Karena ku pikir tiga kilometer lagi dekat dengan apartemenmu jadi aku berlari kesini."

"Dasar bodoh." Jaejoong memilih untuk melingkarkan kedua tangannya pada tengkuk leher Yunho dan menariknya untuk jatuh dalam pelukannya. "Apa kau tidak memikirkan kondisi tubuhmu setelahnya huh? kau bisa sakit. Berlari selarut ini dalam cuaca dingin. Itu hal idiot yang pernah ku tahu."

Yunho tersenyum kecil. Sebisa mungkin ia tidak menindih tubuh Jaejoong dengan menyangga tubuhnya. "Itu juga hal idiot yang pernah ku lakukan selama hidupku." Hatinya benar-benar lega mengetahui jika Jaejoong mau menerimanya kembali. Setidaknya untuk saat ini, hubungan mereka sudah mencair kembali. "Kau menerimaku kembali?"

"All humans come as a package deal. You can't have just one aspect of a person and say you don't want the rest. Ku pikir tidak adil jika aku hanya mencintai sisi mu saat ini. Bagaimanapun juga, jika aku benar-benar mencintaimu aku juga harus menerima sisi mu di masa lalu. Meskipun, aku akan kecewa dan sakit ketika membayangkannya."

"Demi Tuhan, persetan dengan masa lalu Jae. Sekarang aku ada disini, bersamamu, milikmu. Dan tidak ada yang lebih ku inginkan selain memilikimu." Yunho mengecup kening Jaejoong dengan sangat dalam. Seakan ingin menyampaikan semua perasaannya kepada lelaki cantik itu. "Aku tidak akan berjanji untuk selalu bersamamu, tapi aku bersumpah selama hidupku aku hidup padamu."

Jaejoong tersenyum. Ia menarik wajah Yunho dan mencium bibirnya. Ia menciumnya karena ia merasa bahagia. Ia menciumnya karena hatinya merasa jauh lebih lega. Ia menciumnya karena semua perlakuan Yunho dalam menggambarkan perasaannya selalu membuatnya terjatuh untuk kesekian kalinya.

Dan malam itu keduanya kembali menghabiskan sisa malam dengan bergantian memperlihatkan perasaan masing-masing tanpa sepatah kata pun. Setelah kelelahan, mereka berbaring sambil berpelukan hingga tertidur dengan sendirinya. Jaejoong tertidur dengan perasaan tidak percaya. Mereka baru saja bermain cinta, dengan segenap hati dan jiwa. Jaejoong bahkan tidak pernah menyangka akan bisa mempercayakan hatinya secara bulat-bulat pada seorang lelaki yang pernah dibencinya.

Ini adalah hari ketiga setelah malam itu. Jaejoong memutuskan untuk mengikuti permintaan -atau lebih tepatnya paksaan- Yunho untuk mengosongkan apartemennya dan tinggal di Mansion Jung. Yeah, lebih baik menuruti orang arogan itu daripada terjadi hal buruk yang tidak di inginkan.

Jaejoong sudah hampir selesai mengemasi barangnya ketika bel apartemennya berbunyi. Keningnya mengernyit penuh tanda tanya, karena tamu itu sepertinya bukan Yunho. Ia sangat yakin akan hal itu.

Beberapa jam yang lalu, Yunho menghubunginya dan mengatakan akan menjemputnya sepulang kerja dan mungkin malam baru akan tiba. Dan ini masih terlalu sore. Lalu siapa kiranya? Teman? Atau mungkin...

"Soo Hyun-ah..." Jaejoong tertegun menatap Soo Hyun yang tersenyum di balik pintu yang baru saja di bukanya. Lelaki itu berdiri disana, menatapnya dengan senyuman hangat yang menghiasi wajahnya.

TBC.

Saya kembali setelah sekian lama.. hihihi. Mungkin untuk seterusnya saya tidak akan bisa update sekilat dulu T.T .. tapi jangan khawatir, karena sebisa mungkin saya akan tetap berkarya untuk para readers tercinta yang sudah bersedia mendukung dan menanti ff saya. terimakasih .. *deep bow* Untuk beberapa readers yang menanyakan tentang MPB yang hilang.. Umm itu murni saya yg menghapusnya... karena saya rasa masih ada konten dewasa yang sedikit eksplisit.

Ahh yaa.. saya baru tahu kalau Jaejoongie yang cantik dan unyu pernah mention Kim Soo Hyun disini [ youtube watch?feature=youtu . be&v=TE8PYth1h4M ] *hilangkan spasi* Cuma nama doang sih, hihihi...

Ahh ... Untuk reviewers baru selamat datang *bow* ... Sebelumnya terimakasih untuk readers yang berkenan membaca, para reviewers yang berkenan meninggalkan jejak, dan semua yang sudah memfollow dan memfavoritkannya, jeongmal gamsahamnida *bow*. *Ketjup banjir* untuk reviewers tercintahh..

Gamsahamnida untuk semangat dan reviewnya.

Spesial thanks for :

irna lee 96 √ Lia √ akiramia44 √ Vivi √ zuzydelya √ dienha √ Yanie √ JonginDO √ kimmy ranaomi √ Minozme √ GreanTea √ 5351 √ Cherry YunJae √ alby chun √ kim anna shinotsuke √ MinnaYeong √ Selena Jung √ DahsyatNyaff √ dheaniyuu √ rinayunjaerina √ jaena √ tinaYJS √ ShinJiWoo920202 √ Yunholic √ YoonJae100604 √ yuu √ echacheon √ NanaShe √ cha yeoja hongki √ Ai Rin Lee √ aismamangkona √ jingle bubble √ yoon HyunWoon √ msLeeana √ Jiyeon park √ Saki √ Dream Girls √ yunjae q √ Najiha Hizaki Anzu √ nabratz √ Shim Chwang √ Dewi15 √ Delulu √ nimahnurun √ Elis √ kim wiwin 9 √ BaBYunJae √ Jung Jaehyun √ YunjaeDDiction √ fanny kimiel √ MyBabyWonKyu √ Florent √ meirah 1111 √ quinniee √ azahra88 √ ClouDyRyeoRez √ herojaejae √ Jerin √ rizkyhandayani89 √ boobearchangkyu √ juan kwon 9 √ NaeAizawa √ My beauty jeje √ bambielulu √ septiJOY √ vianashim √ puji √ Mickeyrang √ misschokyulate2 √ whirlwind27 √ minminkyu √ rsza √ aiska jung √ yunjaeboo √ tobie15 √ Himura Hana √ Safitri676 √ jj √ littlecupcake noona √ diahmiftachulningtyas √ Minkyu √ Park July √ shipper89 √ Yikyung √yunjaeboo √ ifa p arunda √ Dhea Kim √ Lilin Sarang Kyumin √ vermilion √ simba yeu203 √ ms R √ shim jaecho √ yola yaoi √ cminsa √ anakyunjae √ Yunjae Shipper √ dokbealamo √ choikim1310 √ hyejinpark √ Youleebitha √cuwon √ silviaafufu √ akira lia √ JJorien √ Kirena-chi √ nickeYJcassie √voldemin √min √ liangie √ CheonsaXia √ minminkyu √ mimi2608 √ sukhyu √haesyah elfishy √ momo chan √ MyeolchiHaru137 √ Princessintaan √ aka Mrs Jang √ amora amora 94043 √ kimjaejoong309 √ redskylar √ Jaejoongiewife √ Akishi Aki √ oom komariah 921 √ ranum92 √ miu sara √ chantycassie √ maharanisafitri91 ms√ Lee Muti √ YunjaeKyuWookLover √ jung hyunmi √ sequinn jung √ minjaeboo √ Jungyunjae13 √ WineMing √ Hiruzent 1 √ lanarava6223 √ alwaysbabyyunjae √ cherimori √ AprilianyArdeta √ ayyu annisa 1 √ zoldyk √ haya √ teukiangle √ nurilhuda ahsina √ 60021215 √ redskylar √ tinababyboo √ ellandaallen √ Edelweiss √ jaejoonghitam √ Hana - Kara √ Jung Sister √ fivah √ Momo ziel √ YunhoisaDILF √ auntyjeje √ yunyunjae √ HaehyukYunjae √ fishy1510 √ maulida cassie √ alby √ jaejoonghusband √ odult √ JJ √ opi nur 58 √ Jung Kim √ Baby Yoonjae √ JJaerista √ My jeje √ rennyekalovedbsk √ choco jin √ RistinOk137 Suka YJ NoChangKyu √ myYunnie √sukhyu √Hyemi Han √aichi √Novena Gusti √cokelat √RereYunjae Pegaxue √fiya KH √Jyesika68 √jungnara2602 √ Rara yuki √vichi vhan √Changcimin √Jaehan22 √harubonbon √hatakehanahungry √dii petals √ beserta para guest.

Adakah yang belum kesebut? Atau malah penname nya kesebut double? Tell me..

Cukup sekian.. terimakasih sebelumnya untuk antusiasme para readers *deep bow*

Keep RnR ... And last... Wanna tell me what do you feel about this chapter?...