'Apakah aku sudah menjadi orang jahat ataukah masih tergolong baik? Bukankah setiap manusia memang dilahirkan dengan sisi baik dan buruk? Bukankah menjadi jahat adalah hal biasa? Manusia lahir dengan kejahatan. Sperma yang akan lahir sebagai manusia saling berebut, membiarkan sesamanya terbunuh, hanya untuk menjadi pemenang. Untuk menjadi manusia, manusia harus membunuh hewan, tumbuhan, dan terkadang sesamanya. Jika demikian, aku tidak berbeda dengan manusia lainnya, bukan?'

Naruto © Masashi Kishimoto

(I don't take any profit by publishing this fict)

AU/OoC

SasuHina

The Dark Fairy

Chapter 14

She Loves Him

Tubuh Hinata berputar di depan sebuah cermin, memastikan tidak ada lipatan di gaun selutut yang dia kenakan. Hari ini kekasihnya, Chojuro, mengajak sang wanita untuk berjalan-jalan. Ya, sebuah kencan. Ini bukan kali pertama mereka hanya berduaan. Namun, ini kali pertama mereka berduaan sebagai sepasang kekasih. Pernyataan cinta Chojuro sedikit di luar dugaan. Hinata tak menyangka bahwa pertemuan mereka yang masih bisa dihitung dengan jemari berbuah pada sebuah jalinan romansa.

Lavender bukannya tidak berpikir masak-masak soal jawaban yang dia berikan pada Chojuro. Pemilik iris mutiara itu sadar benar bahwa keputusannya akan mendulang akibat, baik positif maupun negatif. Hinata hanya bisa bertaruh. Hidupnya adalah pertaruhan semenjak dia kehilangan segalanya. Di sisi lain, hati kecil Hinata berteriak bahwa dirinya yang menerima Chojuro dilandasi rasa ingin melindungi, seakan jauh di dalam hati sang wanita, ada sebuah trauma yang lama mengendap.

Semua orang yang mendekatinya dia tolak. Semua bermuara pada perpisahan menyakitkan. Mereka yang ditolaknya akan pergi menjauh darinya. Entah dipisahkan oleh keadaan atau oleh kematian. Hinata jelas menampik pemikiran bahwa dia menerima Chojuro semata-mata karena ingin melindunginya. Wanita itu memiliki setengah niatan lain dan itu pun harus dia realisasikan. Jika tidak, untuk apa dia harus mengumpankan dirinya sendiri menjalin kedekatan dengan pihak kepolisian?


Iris safir yang melapisi iris sesungguhnya menangkap wajah merah Chojuro ketika keduanya bertemu di dekat taman kota. Chojuro yang masih dibebastugaskan dengan alasan pemulihan hari ini mengenakan setelah jaket tufty blue, senada rambutnya, dan jeans berwarna navy. Hinata sendiri kali ini tampil lebih anggun dengan gaun berwarna gading selutut, choker hitam, dan high-heels hitam. Sembari tersipu malu, kalimat pujian dilayangkan sang pemuda, membuat Hinata cukup salah tingkah dibuatnya. Dua muda-mudi berjalan berdampingan di sisi taman, mencari lokasi yang ingin mereka kunjungi. Keduanya belum menentukan hendak pergi ke mana, hanya membiarkan insting dan bantuan internet untuk mencarikan lokasi yang pas.

Ketika perut Hinata dan Chojuro berbunyi bersamaan, dua orang itu tahu ke mana mereka harus melangkah, setidaknya saat ini. Rasa lapar memancing urgensi mereka untuk melabuhkan diri di sebuah kafe. Kafe ini cukup familiar bagi Hinata. Sebagai Laventa, dia telah berkunjung kemari beberapa kali. Sang waiter bahkan menyapanya, seakan mereka berdua adalah kenalan. Sandwich menjadi pilihan ketika perut keroncongan dan sarapan dilewatkan. Toh, jam dinding masih menunjukkan pukul delapan.

Menu yang dihidangkan di depan mata membuat keduanya duduk diam, menikmati setiap gigitan dari roti renyah nan memanjakan lidah. Telur rebus, bacon, selada, dan tomat berbaur di mulut, menciptakan perpaduan rasa asam, manis, asin, dan segar. Sandwich memang pas dikonsumsi untuk sarapan. Hinata yang masih berusaha menghabiskan setengah potong roti yang tersisa mengikuti gerak-gerik Chojuro. Tangan putih sang pemuda menarik satu eksemplar majalah di sisi kanan meja.

"Lavender berhasil ditangkap." Chojuro membaca deretan headline majalah harian tersebut. "Apanya? Lavender yang tertangkap kemarin hanyalah Lavender palsu."

Hinata spontan mendongak dan menanggapi. Rotinya diabaikan.

"Lavender? Maksudmu Lavender yang meresahkan penduduk belakangan ini?"

Kelereng gulita Chojuro masih terarah pada majalah di tangannya. "Ya, Lavender yang itu. Dia tertangkap. Namun berdasarkan kesaksiannya, ada Lavender lain yang menitahkannya. Entah ada berapa banyak Lavender di dunia ini. Aku tak tahu mana yang asli."

Tak tahu mana yang asli? Benak sang wanita membeokan ucapan Chojuro. Pemilik rambut tufty blue itu tampak jujur. Itu artinya, dia benar-benar tidak mengetahui sosok asli Lavender. Apakah ini berarti wujud Hyuuga Hinata di balik nama samaran Lavender dijadikan informasi rahasia, bahkan di antara polisi? Kenapa? Bukankah lebih baik jika semua polisi, bahkan publik mengetahui jati diri seorang Lavender sehingga mereka bisa melaporkan orang yang dianggap mirip atau mencurigakan? Apakah ini jebakan?

'Aku tidak boleh melonggarkan kewaspadaan sedikit pun.'


Bulir peluh sebesar beras muncul di pelipis Hinata. Chojuro secara tiba-tiba mengajak sang wanita berambut cokelat untuk datang ke kantor polisi. Apakah ini adalah perangkap yang dipersiapkan kepolisian untuknya? Bisa saja mereka memanfaatkan kepolosan Chojuro untuk meringkus sosok Lavender. Mungkin saja Chojuro benar memang tidak mengetahui jati diri seorang Lavender.

Tidak. berwajah polos atau apa pun, manusia bisa menipu dengan mudahnya. Manusia bisa menusuk seseorang dari belakang secara denotatif atau konotatif. Hinata tidak membawa senjata apa pun bersamanya. Lagi-lagi, hal di luar prediksinya terjadi. Apakah tinggal di Bibury sekian tahun membuat insting pembunuhnya tumpul?

Beberapa polisi menyapa dirinya sebagai Laventa. Beberapa melemparkan guyonan bernada menggoda. Chojuro memperkenalkan dirinya pada setiap kenalan sebagai "kekasih". Tentu hal tersebut mengundang perhatian beberapa polisi lain. Mereka mengerubungi Hinata, memandangi sang pemilik iris safir dan menyikut Chojuro, menyatakan rasa iri karena sang pemuda bisa mendapatkan kekasih semanis itu.

"Walcott-san, aku permisi dulu." Chojuro undur diri sejenak, berkata bahwa ada sesuatu yang harus dia bicarakan di lantai atas. Pembicaraan tertutup.

Hinata menganggukkan kepala dan duduk di kursi tunggu. Beberapa polisi masih mengerubunginya, membuat sang wanita hanya menjawab setiap pertanyaan dari mereka dengan anggukan dan senyuman. Ketika pintu ruang tunggu kembali terbuka, Hinata terbelalak. Sosok lelaki menjulang dengan rambut kelam hadir di dalam vistanya.

"Uchiha-kun, kemarilah! Lihat wanita ini! Cantik, bukan?" Seorang polisi mendorong tubuh sasuke untuk mendekat, mengeliminasi jarak di antara Hinata dan Sasuke.

Sang lelaki menatap Hinata datar. "Aku sudah bertemu dengan gadis ini."

"Benarkah? Apa kau sudah tahu jika dia adalah kekasih Chojuro? Anak baru itu boleh juga. Baru saja menjadi polisi sudah memiliki kekasih."

Uchiha Sasuke tidak berkomentar apa pun. Mulutnya seakan terkunci rapat. Beberapa polisi memaklumi. Pria itu bukanlah tipikal yang bisa diajak berguyon. Mereka memilih orang yang salah. Suasana canggung tidak dapat dihindarkan ketika dua manusia berdiam diri. Beberapa polisi yang semula mengerumuni mereka membubarkan diri, sadar bahwa atmosfer mengharuskan mereka untuk tidak melanjutkan guyonan.

Tinggallah Hinata dalam wujud Laventa dan Sasuke yang masih berdekatan. Jemari lentik Hinata menepuk kursi kosong di sebelahnya, yang Sasuke tangkap sebagai isyarat untuk duduk. Hinata tidak mengerti lagi dengan dirinya sendiri. Kenapa debaran itu masih ada? Kenapa rasa nyaman itu masih bersarang di hati ketika sosok sang Uchiha berada di sisinya seperti ini? Bukankah seharusnya dia murka? Bukankah seharusnya dia mengutuk semua Uchiha?

"Walcott-san, bisa ikut aku sebentar?"

Ajakan tiba-tiba dari Sasuke membuat jantung Hinata berdegup keras. Apakah penyamarannya terbongkar? Ataukah dirinya yang memberikan celah sehingga sang pria bisa menyadari bahwa Laventa dan Hinata adalah orang yang sama? Hinata bimbang. Jika menolak, apakah Sasuke akan semakin mencurigainya? Jika tidak menolak, apakah ada jebakan yang menantinya? Kenapa di saat seperti ini sosok Chojuro tak kunjung datang?

Jangan-jangan … ini adalah rencana mereka?

"Aku sedang menunggu Chojuro-kun … kekasihku." Hinata, entah kenapa, memberikan penekanan pada kata "kekasih".

Sasuke menautkan alis lalu kembali membisu. Ketika Hinata pikir bahwa obrolan mereka berakhir, mulut sang Uchiha kembali terbelah.

"Kalau begitu setelah urusanmu dan Chojuro selesai, temui aku di kafe dekat sini."


Hyuuga Hinata tidak mengerti lagi dengan dirinya sendiri. Dia mengabaikan Chojuro, sekembalinya sang pemuda dari sebuah pembicaraan, selama berkencan. Mereka telah bertandang ke beragam tempat, meluapkan kebersamaan. Namun, benak sang wanita seolah tengah bepergian entah ke mana. Sudah kesekiankalinya pembicaraan antara Hinata dan Chojuro tak berlanjut hanya karena Hinata melupakan topik yang tengah mereka bicarakan.

Sang Lavender paham benar bahwa air muka Chojuro menandakan kekecewaan. Hinata, menurut sang pemuda, adalah kekasih pertamanya dan apa? Kencan yang selama ini diidamkan sang pemuda dengan segala tetek-bengek hal romantis runtuh seketika. Betul jika dibilang bahwa ada sekali-dua kali hal romantis yang terjadi. Bergandengan tangan di antara riuh pengunjung, berbagi panganan, sampai menaiki angsa bersama. Namun, Chojuro merasa antusiasme itu hanya sepihak darinya. Dia merasa pikiran dan hati Hinata tengah berada di lain tempat.

"Apa ada yang mengganjal hatimu, Walcott-san? Kau tidak senang berkencan denganku?"

Telengan yang terlambat Hinata berikan seakan meyakinkan Chojuro bahwa Hinata telah memaksakan diri untuk menerimanya. Mungkin wanita itu hanya iba padanya. Mungkin wanita itu tidak benar-benar menganggapnya sebagai kekasih. Hal-hal negatif yang berkecamuk di dalam kepala Chojuro membuat sang pemuda mengakhiri kencan mereka. Hinata ingin mencegah kepergian Chojuro. Namun, urung. Pemuda itu berjalan pergi dengan leher ditekuk.

Kenapa dia tidak konsisten? Hinata mempertanyakan dirinya sendiri. Apakah kesalahan dahulu, yang telah mengorbankan Neji, tidak cukup? Kenapa pertemuannya dengan Sasuke bak takdir? Kenapa mereka harus intens bertemu?


Pemilik surai cokelat berjalan ke depan kafe. Awalnya Hinata pikir bahwa mustahil Sasuke berada di sana petang hari seperti ini. Perkiraan sang wanita meleset. Ketika kakinya berada di depan kafe, tampak sesosok pria yang bersandar di dekat tiang. Pria itu mengenakan setelan kemeja hitam dan jeans hitam. Sasuke. Bola mata Hinata berkaca. Ada gemuruh di dalam dirinya, mendesak sang wanita untuk berhambur memeluk sosok di dekatnya.

Pertanyaannya, motif apa yang membuat Sasuke repot-repot membuat janji bertemu dengannya, bahkan berada di depan kafe entah sedari kapan seperti ini?

"Aku menunggumu sejak siang," ujar sang pria seolah tengah membaca pikiran Hinata.

Uchiha muda berarak menuju mobil hitam yang terparkir di sisi kafe seraya menarik tangan Hinata. Sang wanita ingin berontak, tapi Sasuke terlebih dahulu menyelipkan jemarinya di antara jemari Hinata. Tarikan tangan sang pria bukanlah pemaksaan. Sasuke menggenggam tangannya dengan lembut. Meski erat, genggaman tangan itu bisa dilepaskan Hinata dengan mudah. Namun, wanita itu memilih tidak berontak.

Bertanya-tanya hendak dibawa ke mana, Sasuke justru menanyakan alamat apartemen Hinata. Tentu saja wanita berambut cokelat itu menolak mentah-mentah maksud Sasuke yang ingin mengunjungi kediamannya. Dia tinggal seorang diri dan statusnya adalah kekasih Chojuro. Bagaimana bisa dia mengizinkan Sasuke masuk ke apartemennya?

"Kenapa harus di apartemenku?" Hinata melontarkan tanya.

Seketika, sang wanita mengheningkan cipta ketika sang pria berambut gulita menjawab dengan, "Jadi lebih baik jika di apartemenku saja?"

Geram, Hinata memberikan tepukan kecil di punggung tangan Sasuke, membuat sang pria terkekeh.

'Rasanya sudah lama aku tidak merasa sesantai ini,' batin sang pria.


Setelah berputar di area yang sama berulangkali, Hinata mengizinkan Sasuke datang ke apartemennya. Jika ditanya alasannya kenapa, Hinata angkat bahu. Intuisinya yang menyuruh demikian. Intuisilah yang menuntun wanita itu untuk mengiyakan dan menunjukkan arah menuju apartemennya.

Hinata masuk terlebih dahulu, menyalakan lampu yang semula padam. Alangkah terkejutnya sang wanita ketika Sasuke yang berada di belakang sontak mengunci pintu apartemennya.

"Apa yang kaulakukan—"

"—Hinata."

Bola mata Hyuuga Hinata melebar. Sasuke mendekapnya begitu erat. Sangat erat. Hinata bahkan dapat mencium aroma yang selama beberapa tahun terakhir hanya bisa dikenangnya. Aroma cologne yang Sasuke pakai.

"Bagaimana—"

"—Bagaimana aku bisa mengetahui bahwa Laventa Walcott adalah dirimu?" Sasuke menyambung kalimat Hinata.

"Bagaimana mungkin aku tidak mengenali wanita yang kucintai? Tidak peduli kaumengubah wajah atau suaramu, aku akan tetap mengetahuinya."

Keduanya terdiam cukup lama. Hinata tidak sanggup melontarkan kalimat apa pun. Lehernya seolah menahan banyak kata yang ingin dia ucapkan. Di sisi lain, Sasuke masih mendekapnya. Pria itu merapatkan bibir, melingkarkan lengannya di tubuh Hinata. Kembali, sepasang safir dibuat terbelalak saat air terasa merembes di bahunya. Isakan kecil lolos dari celah bibir Sasuke.

"Jangan menanggungnya sendirian, Hinata. Kali ini, aku ada untukmu."

Hinata bukanlah wanita yang religius. Dia telah tersesat pada hal sekuler. Kehidupan yang diraihnya adalah kehidupan fana di dunia ini. Namun, sekalipun demikian, saat ini sang wanita ingin percaya bahwa tanda-tanda kebesaran Tuhan itu nyata.

"Aku pembunuh, Sasuke-kun. Aku hidup untuk membalaskan dendam keluargaku." Hinata masih merajuk. Wanita itu mengingkari rasa bahagianya, mencari alih-alih apa yang sesungguhnya hanya memperburuk keadaan.

Sasuke tidak terpancing. Pria itu tidak mengendurkan dekapannya. Ketimbang membalas frasa sang wanita, Uchiha dewasa memilih mengatakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang bisa meluruskan kebingungan di antara mereka.

"Hinata, sejujurnya aku memperoleh dokumen yang kucari selama ini. Isinya informasi mengenai kematian orangtuaku. Di dalam dokumen itu disebutkan bahwa orangtuaku … dibunuh orangtuamu."

Refleks, Hinata mendorong tubuh Sasuke.

"B-bagaimana mungkin? Orangtuamu yang telah membunuh orangtuaku!"

Sasuke terus menatap lurus Hinata tanpa teralih ke objek lain. Pria itu meraih tangan Hinata dan menuntunnya untuk kembali mendekat.

"Aneh, bukan? Kita berdua seperti diadudombakan. Kendati telah menjadi detektif andalan kepolisian Jepang, aku tetap tidak mendapat bocoran informasi tentang kasus orangtuaku. Namun, tiba-tiba dokumen tentang kasus itu kutemukan. Seperti rekayasa."

Kaki Hinata mengayuh mendekati jendela besar di sisinya. Pandangan sang wanita terarah pada langit gulita di balik kaca. Deru napas wanita berambut cokelat itu tampak jelas mengepul di udara berkat dinginnya suhu kala itu. Sasuke berada di sisinya, turut bersandar di kaca jendela.

"Ada sesuatu yang terjadi di antara kepolisian dan organisasimu. Orangtua kita terlibat di dalamnya. Sesuatu yang benar-benar dirahasiakan."

Sasuke mengarahkan tubuh Hinata sehingga mereka kembali berhadapan. Pria Uchiha membenamkan wajahnya di sela bahu Hinata, menghirup wangi shampoo yang digunakan sang wanita.

"Aku menahan diriku untuk tidak lekas memelukmu saat kita bertemu kembali. Aku merindukanmu, Hinata."

Kali ini, pertahanan Hinata luruh. Air matanya jatuh. Wanita berkulit pasi melingkarkan tangannya di leher Sasuke. Keduanya meneteskan air mata, menjatuhkan kesedihan bersama. Keduanya larut dalam irama isakan yang sama, terbuai dalam kerinduan dan derita kehidupan. Sasuke merengkuh Hinata, menempelken bibirnya ke bibir sang wanita. Wanita yang dia nanti. Wanita yang paling ingin ditemuinya. Wanita yang bisa menghalau segala rasa amarah, kebingungan, dan keraguan.

"Aku … juga merindukanmu, Sasuke-kun." Hanya kata itulah yang bisa Hinata lontarkan pada pria yang dia cintai selama ini. Sasuke.


Hinata menyodorkan secangkir cokelat hangat pada sang pria. Keduanya lantas duduk di balkon, memandangi lapisan bumi dengan gemerlap bintang yang terlihat kecil dari bawah sini. Sasuke menutupi punggung Hinata dengan selimut yang juga menutupi punggungnya. Pipi Hinata bersemu merah, kepalanya bersandar manja ke bahu Sasuke.

"Hinata," panggil sang pria.

"Bergabunglah dengan kepolisian. Kita berdua akan menguak kebenaran di antara keluarga kita."

Kepala Hinata terangkat. Iris lavender tanpa lensa kontak safirnya bertumbu pada dua kelereng gelap.

"Aku akan menjaga rahasiamu. Identitasmu. Kau akan bergabung dengan kepolisian sebagai Laventa Walcott."

Genderang badai ditabuh. Keduanya akan berjalan bersama melewati badai tersebut. Baik Sasuke maupun Hinata, tidak ada yang tahu apakah mereka berhasil menembus badai ataukah justru terbawa dan menghilang di dalamnya. Namun, kali ini mereka bisa bergantung satu sama lain. Mereka tidak sendirian.

" … Baiklah."

To be continued


Next Chapter:

"Aku tidak ingin mengatakan ini, tapi jangan putus dari Chojuro."

"Belakangan ini kalian dekat, ya?"

"Kenapa rasanya aku mengenal wanita itu?"

"HINATA!"


Thanks!

(Grey Cho, 2016)