Chapter 13 : The King and His Faithful Follower

Atobe's POV

Ke mana tubuh ini membawaku pergi?

Langkah-langkah berat ini, pandangan mata ini, akan berhenti di manakah nantinya?

Seperti mimpi, aku bisa berlari melepaskan diri dari jeratan obat bius dan peringatan orang-orang yang tidak punya perasaan di sana. Aku mengecam semua orang yang berani menjebloskanku ke sana. Tidak ada kebahagiaan yang aku dapat, yang ada aku malah tambah menderita. Mereka memaksaku mengurung diri, mereka memaksaku menghukum diriku sendiri.

Aku hanya ingin bertemu Yuushi…

Aku sudah berlari cukup jauh rupanya. Mungkin saja aku sudah membuat takut banyak orang yang melihatku. Ya, aku adalah seorang pasien rumah sakit jiwa yang berhasil melarikan diri. Jaket dan sabuk ini masih tergantung di bahuku. Sebenarnya orang-orang yang melihatku sekarang, bisa saja langsung menyergapku dan memanggil pihak berwenang untuk mengembalikanku ke sana. Tetapi mereka justru ketakutan. Mereka tidak berani melakukan itu. Mereka membiarkanku berlari…

Lari! Jangan lihat kebelakang dan teruslah berlari!

Aku meyakinkan diriku bisa terus berlari, tanpa peduli bagaimana kondisiku sekarang. Langkah-langkah berat ini kemudian mengarahkanku ke tempat yang sangat ingin aku kunjungi. Aku merasa dia memanggilku. Aku merasa mendengar dia

"Yuushi…"

Pemakaman yang sepi ini membuatku semakin yakin untuk bisa melangkah tanpa ada yang memperhatikanku. Aku tiba di nisan yang sedari tadi aku cari. Aku berdiri sejenak, menatap sekelilingnya. Bunga-bunga yang ditabur sudah mulai mengering, begitu pula 3 tangkai Calla Lily yang pernah aku letakkan di dekatnya. Kini warnanya sudah mulai pucat.

"Yuushi...aku datang…"

Aku berlutut di dekat pusara. Kupegang nisannya, aku usap tulisan 'Oshitari Yuushi' yang tertera di sana. Aku membersihkan rontokkan bunga yang mulai sedikit menutupi pualam hitam ini. Dan sekarang, aku duduk bersimpuh di hadapannya.

Di hadapan Oshitari…

"Yuushi...aku tidak tahu harus berbicara apa lagi padamu…"

Air mata ini sudah tidak bisa lagi dibendung. Mataku yang sudah membengkak, sepertinya tidak akan bisa kembali normal karena aku sudah lelah menguras habis air mataku.

"Kau tidak tahu bagaimana rasanya hidupku ini sekarang. Tou-san, Kaa-san, semuanya, sepertinya sudah tidak ada yang peduli denganku…"

Ingatanku kembali kepada sosok Oshitari Yuushi yang begitu aku kenal. Aku mulai membayangkan masa-masa menyenangkan bersama-sama dengannya. Canda. Tawa. Suka. Duka. Semua yang aku alami itu bisa aku lewati bersama dengan Oshitari.

"Habis sudah kata-kataku untukmu, Yuushi. Habis sudah cerita yang ingin kubagi denganmu. Dan habis sudah kekuatanku untuk berbicara denganmu."

Sakit sekali rasanya…

"Lihatlah aku, Yuushi. Lihatlah, bisakah kau melihatku sekarang? Jaket ini, sabuk ini, bekas luka suntikkan di lengan dan kakiku, bisakah kau melihatnya?"

Kau tidak tahu betapa sakitnya…

"Yuushi, sungguh…aku ingin menyalahkanmu! Aku ingin menyalahkan dirimu yang sudah meninggalkanku! Lihatlah aku sekarang, kau puas? Kau buat aku merasakan apa yang menjadi beban deritamu, dan inilah yang terjadi! Aku gila! Aku seorang pasien rumah sakit jiwa yang kabur!"

Ingatanku lalu kembali tertuju kepada perlakuan Katsuragi, orang yang sudah melecehkanku, meski sekarang dia sudah dalam tahanan. Aku tiba-tiba menjadi sangat marah karena banyak orang yang memaksaku untuk menerima keputusan itu. Ini tidak adil bagiku, dan ini juga tidak akan pernah adil untuk Oshitari.

"Apa kau merasa semua ini kurang, Yuushi? Kau kurang puas dengan apa yang aku usahakan untukmu? Kau marah? Jadi kau membiarkanku menghukum diriku seperti ini? Kau marah karena aku sudah kalah? Apa karena aku sudah terlanjur dikotori oleh bajingan itu?"

Kau memaksaku untuk dendam selamanya, Yuushi…

"Aku tahu usahaku kurang maksimal memperlakukan orang yang sudah membunuhmu itu. Tapi ini semua aku lakukan hanya untukmu! Seharusnya aku bisa mendapatkanmu kembali! Seharusnya…aku bisa mendapatkanmu…kembali…"

Aku tidak bisa mengendalikan suaraku, tangisku semakin meledak. Rasa sakit hati ini semakin tidak bisa ditahan.

Langit menggelap, dan hujan mulai turun perlahan-lahan. Hujan ini mengingatkanku pada pertemuan terakhir antara aku dan dia, dan saat itu pula kami bertengkar sampai akhirnya menyebabkan dia kritis.

"Yuushi…apa kau marah dengan kata-kata Ore-sama setahun yang lalu? Di bawah hujan begini, aku meminta kita putus. Aku meminta kita berakhir, karena aku merasa tidak bisa mencintaimu lagi. Kau marah? Maka itu kau tidak mau kembali padaku?"

Aku mengutuk hari itu…

"Aku yang seharusnya ditabrak mobil itu! Bukan kau! Aku yang seharusnya lumpuh total! Aku yang seharusnya kritis! Aku yang seharusnya mati! Aku yang mati, Yuushi! Demi Tuhan, mengapa kau tidak mengajakku serta?"

Tuhan…

"Aku sangat sedih sekali, Yuushi…"

Aku tidak lagi bisa merasakan dingin air hujan yang mengguyur tubuhku, membasahi area pemakaman ini. Aku tidak lagi mampu menopang tubuhku yang sudah lelah ini. aku tergolek lemas, mengistirahatkan kepalaku pada pusara makam.

"Kau bisa dengar, Yuushi? Hujan ini deras sekali. Apa yang kau rasakan? Dingin? Gelap? Kau takut dengan petir, Yuushi? Tenang, ada aku di sini. Biarlah aku berada di dekatmu sekarang, menjagamu, melindungimu…"

Aku sangat mencintaimu…

Aku membelai pusara pualam ini dalam guyuran air hujan. Aku tersenyum, sampai akhirnya semua menjadi gelap…

"Keigo..."

Aku tersentak membuka mataku dan terbangun mendengar suara orang memanggilku begitu lembut. Aku mendorong tubuhku untuk bangkit dan duduk. Aku mencoba melihat sekeliling.

"Keigo…"

Suara ini…

Tidak mungkin…

Rendah, dan begitu menyentuh hatiku. Aku sangat yakin kali ini suara itu tidak berasal dari kepalaku. Aku berbalik, dan menemukan sosok seseorang yang sangat aku kenal di balik guyuran air hujan.

"Yuushi…? Kaukah itu…?"

Aku mengucek kedua mataku, dan kali ini sosok itu tetap ada dalam pandanganku. Dari balik air hujan ini, aku bisa melihat dia tersenyum. Dia mengulurkan tangan dan mengajakku mendekat padanya.

"Kemarilah, Keigo…"

"Yuushi…Yuushi!"

Dan aku masih tidak percaya bahwa sekarang aku bisa merasakan tubuhnya dekat denganku, dalam pelukanku juga, dan kedua tangannya itu memelukku erat. Oh, aku tidak tahu bagaimana menggambarkannya. Perasaanku campur aduk. Senang, sedih, marah, semuanya menjadi satu dalam diriku.

"Kau kacau sekali, Keigo. Mereka tidak memperlakukanmu dengan baik rupanya, kasihan kau…"

"Ini semua gara-gara kau! Kau meninggalkanku, maka inilah yang terjadi!"

"Demi Tuhan, jangan ungkit lagi hal itu. Semua sudah terjadi, aku bahkan tidak bisa menolak kematianku juga, Keigo."

"Yuushi…mengapa…kau begitu nyata sekarang? Maksudku…kau…"

"Entahlah, kau pun tampak nyata untukku, Keigo."

Aku merasakan tangan dingin Oshitari menyentuh kepalaku, membelai rambutku dengan sayang. Tatapan matanya begitu mengena di hatiku. Aku mengangkat tanganku, dan menyentuh wajahnya. Oh, aku bisa menyentuhnya! Dia begitu nyata, Oshitariku…

"Ada yang ingin kau katakan, Keigo?"

"Yuushi…"

"Aku akan mendengarkanmu, Keigo. Katakan sesuatu…"

"Yuushi…aku sangat mencintaimu…!"

Aku tidak bisa mengeluarkan segenap amarahku. Pahadal beberapa menit yang lalu, diri ini dibenamkan rasa marah dan kekecewaan yang amat sangat. Tetapi ketika Oshitari berdiri di depanku seperti ini, memelukku, menyayangiku, entah kenapa semua itu hilang. Yang ada sekarang adalah aku mulai menyesali diriku sendiri.

"Maafkan aku, Yuushi. Semua salahku…"

"Bodoh, jangan pernah menyalahkan dirimu, Keigo. Selamanya, kau akan selalu benar untukku. Kau tidak pernah melakukan sesuatu yang salah."

"Tapi…aku yang seharusnya…"

"Mati, Keigo? Itukah yang kau ingin kau katakan?"

"Aku tidak tahu harus bilang apa lagi, Yuushi. Aku ingin kau di sini denganku, kembalilah padaku, Yuushi."

Dia membelai kepalaku sekali lagi, kali ini mengangkat daguku dan menyuruhku menatapnya. Aku tidak bisa berkata-kata lagi setelah melihat dia tersenyum.

"Keigo, kau tidak akan pernah bisa mengembalikan aku ke dunia lagi. Sebesar apa pun kekuatanmu, sehebat apa pun kuasamu, kau tidak akan bisa menghidupkanku. Bahkan Tuhan sekali pun, jika Dia tidak berkehendak, maka Dia tidak akan mempertemukan kita seperti ini sekarang."

"Jadi…kau tidak akan…"

"Apa yang kau pikirkan, Keigo? Kau mengira aku sudah tidak memikirkanmu lagi? Kau pikir aku mau meninggalkanmu? Demi Tuhan, Keigo. Tidak terbesit dalam pikiranku untuk meninggalkanmu. Inilah takdir Tuhan."

Aku dibuat diam seribu bahasa setelah mendengar kata-katanya. Jika dia sudah memberikan begitu banyak nasihat, bahkan di saat dia masih hidup sekali pun, aku paling tidak bisa membantahnya. Dia selalu benar, dia selalu bisa menguatkanku.

"Sudah, Keigo?"

"Apa?"

"Jika kau sudah selesai, sekarang maukah kau mendengarkanku?"

"Bicara apa kau? Tentu saja Ore-sama akan mendengarkanmu! Maafkan aku yang dulu sudah mencampakkanmu, Yuushi. Andai saja aku mampu memutar waktu…"

"Tidak ada yang perlu disesali dari kejadian tahun kemarin, Keigo."

"Bicaralah. Aku akan selalu mendengarkanmu…"

Aku menarik nafas dalam-dalam dan siap mendengarkan kata-kata darinya. Ini akan menjadi peristiwa yang tidak akan pernah terulang lagi seumur hidupku. Dia menggenggam tanganku, tatapan matanya begitu…oh…

Tuhan, biarkan kami seperti ini sebentar lagi…

"Keigo, tetaplah hidup untukku…"

"Eh?"

"Sebesar apa pun keinginanmu untuk menyusulku, aku mohon jangan pernah berpikiran seperti itu lagi. Hiduplah, seterusnya…"

"Kenapa? Apa kau tidak mau Ore-sama mendampingimu di sana, Yuushi?"

"Bukan begitu, Keigo. Tetapi lihatlah ke depan, lihatlah kehidupanmu…"

"Ore-sama akan sangat keberatan menjalani hidup tanpamu, Yuushi!"

"Aku tahu, tapi coba dengarkan aku dulu. Yakinkan hatimu untuk selalu bisa bertahan hidup. Kau punya banyak teman, kau pun punya kehidupan sendiri. Banyak hal yang harus kau pikirkan, ketimbang memikirkanku yang sudah tidak ada."

"Mana mungkin aku tidak memikirkanmu, Yuushi? Kau begitu penting…"

"Aku tidak lagi penting, Keigo. Aku tidak lagi berguna untukmu."

"Tidak! Tidak, Yuushi! Sampai kapan pun kaulah yang terpenting untukku…!"

"Maka itu, tetaplah hidup. Kau mau menyalahkan dirimu atas kematianku, Keigo? Tidak, itu tidak boleh terjadi lagi. Aku ikhlas menerima takdir ini karena aku tidak mau melihatmu terluka."

"Yuushi…"

Aku pun tidak mau melihatmu menderita, Yuushi…

"Jangan habiskan sisa hidupmu yang begitu berharga hanya untuk memikirkanku, Keigo. Jika demikian, maka kau tidak akan pernah maju selamanya. Atau, mungkin saja kau tetap bisa melangkah, tetapi kau tidak punya arah dan tujuan."

"…"

"Hiduplah hanya untukku, Keigo. Satu nafas itu sangat berharga untukmu. Buatlah dirimu bahagia, kau itu senang sekali dengan hal-hal yang membahagiakan."

"Tetapi aku tidak mau bahagia sendiri, Yuushi…"

"Jika begitu, yakinlah bahwa aku akan selalu ada untukmu. Datanglah ke tempatku berbaring di sini, Keigo, seperti biasa. Aku akan mendengarkan ceritamu, tawamu, tangismu, amarahmu."

"Benarkah itu?"

"Kau Raja-ku, Keigo. Sampai kapan pun kau akan tetap menjadi Raja untukku. Aku akan dengan setia menjadi pendampingmu, meski kita berada di alam yang berbeda."

"Yuushi…oh, kau ini…"

Mengapa kau baik sekali, Yuushi?

"Jangan pernah menghukum dirimu lagi, Keigo. Jadilah dirimu yang seperti dulu. Kau itu kuat, kau itu tegar, kau itu disegani, kau itu dikenal."

"Apa…kau marah, Yuushi?"

"Dasar bodoh, untuk apa aku marah? Tidak ada gunanya, Keigo. Aku tidak akan pernah berani marah padamu. Karena itu akan menjadi kesalahan terbesarku padamu. Ah, dan satu lagi..."

"Ya, Yuushi..."

"Jangan dendam, apa pun yang terjadi jangan mencoba untuk balas dendam. Serahkan semuanya kepada Tuhan. Kenyataan pahit ini harus kita terima sama-sama, Keigo. Berjanjilah kau tidak akan mencari masalah."

"Kau yakin ini akan baik-baik saja, Yuushi?"

"Maka itu, tepatilah janjimu dulu. Dan yakinlah, semuanya akan baik-baik saja."

"Berjanjilah juga, kau akan selalu ada untukku..."

"Ya, Keigo. Selalu."

"Jangan ingkari janjimu, Yuushi..."

"Demi kau, demi apa pun di dunia ini, aku akan selalu ada untukmu…"

Dia membuka satu telapak tanganku, diletakkannya sesuatu yang aku sendiri tidak bisa melihatnya karena dia langsung menutup telapak tanganku.

"Keigo…"

"Ya, Yuushi…"

"Keigo…Keigo…"

Perlahan Oshitari mulai menjauh dariku, dia memudar dalam penglihatanku. Aku berusaha meraihnya kembali, menariknya supaya tidak menjauh dariku. Namun yang terdengar berikutnya adalah banyak sekali suara yang memanggil namaku…

Owari~


YAY! Semua main-chapters sudah selesai dibuat! Akhirnya saya bisa bernafas lega seperti biasa. Ah, selanjutnya ada epilogue part. Sekedar percakapan kecil antara Atobe dan teman-temannya. Plis, stay tuned terus yak!