Hei Readers, maaf ats kterlmbatan sya apdet. Dua hri yg lalu, tba2 aj FFN d laptop sya ga' bsa d buka. Sya udah stress bget krna kmren ga' bsa d buka. Browser sna-sni. Gmana caranya biar sya bsa bka, akhirnya brhasil jg! Oh ya, ini udah chap trakhir dri Return. Dan krna ini trakhir sya mau ucapin trima kasih utk smua readers, dri yg sring review smpe yg ga' prnah review. Dan maaf krna sya sring mmbuat kduanya lma bget utk brsatu. Mngkin klu sya ada d dpan klian, mau klian pkul2 krna klamaan bkin wonkyu trsiksa. Eh!? Sya bka rhasia endingny dong! #o_o)! Aduuuh...Plak! Sya emg author bego'! Tpi dgn ktahuan endingny, klian semua bkal ttap bca smpe akhir, kan? Huhf...ya udah, lngsung aj bca ya! Ttap hrus review mski ini trakhir ya!
.
.
.
.
Title : Return
Chapter : 13
Main Cast :
Choi Siwon
Cho Kyuhyun (Siwon's Ex-Boyfriend)
Other Cast :
Kim Kibum as Kim Kibum (Siwon's Ex-Fiance) *Genderswitch
Zhou Mi as Zhoumi (Wonkyu's Friend)
Henry Lau as Henry Lau (Wonkyu's Friend)
Kim Heechul as Cho Heechul (Kyuhyun's Sister) *Genderswitch
Choi Kiho as Choi Kiho (Siwon's Father)
Kim Sungryung as Choi Sungryung (Siwon's Mother)
Tan Hangeng as Tan Hangeng (Heechul's Husband)
Shim Changmin as Shim Changmin (Kyuhyun's Husband)
Kim Maeri/Marie Watson (HeeKyu's Mother)
Kim Jaejoong as Kim Jaejoong (Kibum's Sister)
Lee Hyukjae(Eunhyuk) as Kim Eunhyuk (Kibum's Sister)
.
.
.
.
.
Beberapa bulan yang lalu di Paris-Perancis, 11 Januari...
.
.
Author POV
"Aku akan menceraikan Kyuhyun."
Di kantin rumah sakit, Hangeng dan Heechul sangat terkejut mendengar perkataan Changmin tadi. Bahkan untuk beberapa detik tak ada yang mampu bicara. Heechul akhirnya buka suara, "A-apa yang barusan kau katakan? Bercerai...?" tanyanya.
Changmin menatap kedua kakak iparnya itu dengan senyum miris. "Empat tahun akan berlalu, aku pernah membuat sebuah janji. Aku ingin menikahi Kyuhyun, merawat, melindungi dan menjaganya selama yang aku bisa. Demi menebus kesalahanku dimasa lalu, aku yakin bisa melindungi dan membahagiakan Kyuhyun. Aku meyakini diriku sendiri mungkin dia akan berpaling padaku suatu hari nanti. Tapi setelah empat tahun, aku...meragukan diriku sendiri. Apakah aku bisa melakukannya? Dulu iya, mungkin sekarang...tidak."
"Berpikir aku akan menjadi cintanya, tapi ternyata aku hanyalah penghalangnya. Bahkan jika memang dia mencintaiku, cintanya padaku...terasa semu." Ujar Changmin panjang lebar. Ia kemudian menunduk sedikit, melihat kearah jari manisnya yang terlingkar cincin suci, ikatan pernikahannya dengan sendu.
Heechul memandang Changmin dengan sendu, "Ketika dia mengetahui ini nanti, aku yakin dia tidak bisa melepaskanmu begitu saja. Kalian sudah menikah selama empat tahun, tak bisa dipungkiri adikku pasti merasakan cinta darimu. Dan aku tahu...dia memiliki rasa denganmu. Jangan hanya melihat dari sisimu Changmin, tapi lihat juga dari sisinya."
Changmin mengangguk, "Aku juga melihat dari sisinya, dan aku tahu Kyuhyun tak akan melepaskanku begitu saja. Hanya ada satu cara yang bisa kulakukan saat ini." Kata Changmin kemudian merogoh saku mantelnya, mengeluarkan beberapa lembar foto dan memberikannya pada Heechul. "Aku tergabung dalam tur amal yang diadakan oleh salah satu organisasi yang membantu anak-anak. Tur ini akan diadakan di beberapa bagian di dunia, dan butuh hampir delapan atau sembilan bulan untuk menyelesaikannya. Jadi kemungkinan aku tidak akan kembali sampai tur itu selesai. Sebenarnya bisa saja aku kembali sesekali, tapi salah satu alasanku bergabung adalah untuk mengikis perlahan hatiku untuk Kyuhyun. Aku berusaha untuk hidup tanpanya, dan Kyuhyun pun harus begitu." Lanjutnya.
"Dan aku juga sudah berkonsultasi dengan dosenku dulu di Oxford. Dan dia setuju untuk membiarkan Kyuhyun kembali melanjutkan studinya disana. Jadi, dengan begitu Kyuhyun akan menata kembali hidupnya. Setelah itu baru aku...menceraikan Kyuhyun."
Heechul dan Hangeng tak mampu bicara sepatah katapun sekarang. Meskipun ini keputusan yang menyakitkan, tapi ini adalah keputusan mutlak Changmin. Jadi, ia tahu pemuda itu tak akan mendengar apapun lagi pendapat dari mereka. Dan keduanya hanya mampu berharap, ini yang terbaik untuk Changmin, Kyuhyun dan Siwon.
.
.
.
.
.
===WK===
.
.
.
.
.
Beberapa bulan yang lalu di London-Inggris, 14 Januari...
.
.
"Apa yang barusan kau katakan?"
Henry tak dapat menyembunyikan keterkejutannya sekarang, matanya terbelalak memandang Changmin yang berada di hadapannya. Setelah bisa meredakan sedikit keterkejutannya pemuda itu segera memijit pelan pelipisnya dan bertanya, "Apa ini karena pernikahan Siwon batal? Kau membiarkan Kyuhyun kembali padanya?"
Changmin menggeleng dan memandang kearah gedung pertunjukkan yang cukup terlihat dari tempat mereka berada sekarang, tampak keramaian terlihat. "Aku hanya tidak mau menahan sakit di dalam hatinya seumur hidup, dan aku tidak punya kepercayaan diri untuk mempertahankannya. Aku bukan cintanya. Dan jika memang mereka kembali, itu lebih baik. Mereka terlalu lama terluka satu sama lain." Ujarnya.
"Kau juga terluka tuan Shim, ingat itu." Kata Henry menatap Changmin dengan sendu.
Kekehan pelan keluar dari mulut Changmin, matanya memandang ke langit malam sekarang. "Ya, aku juga terluka. Tapi, aku akan semakin terluka jika melihat Kyuhyun terus berbohong di depanku dan mengatakan dia baik-baik saja seumur hidupnya. Aku ingin dia jujur dengan hatinya..." ujarnya kemudian memandang Henry dalam. "Karena itu...tolong aku..."
Henry memandang sedih Changmin, matanya berkaca-kaca. Pemuda itu menghela napas dalam sebelum kemudian berkata, "Tak ada pilihan selain membantu melakukannya..."
Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya, sebuah gelang berbandul snowflake dan mengenggamnya dengan erat.
.
.
.
.
.
===WK===
.
.
.
.
.
Masa sekarang di London-Inggris, 22 Desember...
.
.
"K-Kyuhyun...ayo kita bercerai..."
Kyuhyun, berdiri mematung tanpa bisa berkata apapun. Mendengar perkataan Changmin, membuatnya merasa kaku. Dunianya terasa membeku.
Changmin mulai terisak sekarang, sebelah tangannya mencengkram erat kemejanya di bagian dada. "Berhentilah berbohong padaku...jebal...hiks...Aku benar-benar lelah sekarang...hiks...sungguh, aku lelah untuk mempertahankanmu. Geuraeseo, jebal...lepaskan aku. Let me go, p-please...hiks..." ujarnya dengan lirih. Ditatapnya Kyuhyun dengan sedih, "Kali ini...kumohon. Lepaskan aku..." ucapnya sebelum perlahan matanya meredup dan tubuhnya limbung.
Kyuhyun masih membeku disana sebelum kemudian reflek menangkap tubuh Changmin yang hampir saja jatuh ke lantai. Suaminya itu terlelap dalam pengaruh alkohol. Dengan sekuat tenaga, Kyuhyun membopong tubuh Changmin ke kamar dan membaringkannya di tempat tidur. Tangannya bergetar hebat ketika menyelimuti Changmin.
Dengan langkah yang mulai goyah, Kyuhyun keluar dari kamar menuju dapur. Diambilnya sebuah botol obat di rak, mengeluarkan sebutir pil dan meminumnya dengan cepat tanpa bantuan air.
"Ah...hah..." Kyuhyun baru bisa mengeluarkan suaranya setelah meminum obat itu, dan pemuda itu langsung jatuh terduduk dan bersandar pada counter dapur. Seluruh saraf tubuhnya terasa lemas sekarang, meski jantungnya berdetak cepat. Tangannya tak mampu ia gerakkan, meskipun ia ingin mecengkram dadanya yang terasa sesak. Matanya meredup dan berkaca-kaca sekarang, dan napasnya terdengar bergemuruh.
"Hiks..."
Satu isakan lolos dari mulutnya. Kyuhyun tak mampu menahan semuanya lagi, meskipun dia ingin. Ia berusaha untuk tenang, tapi tubuhnya berkhianat. Kenyataan ia benar-benar shock dan sedih dengan perkataan Changmin tadi, tak mampu ia sembunyikan.
"Aargh...hiks...hiks...hiks...hiks..." ucapnya disela isakannya. Dan tangisnya semakin keras ketika menyadari dia tak mendapat jawaban apapun, untuk pertama kalinya setelah hampir 5 tahun pernikahannya Kyuhyun...kembali merasakan kesepian yang membuatnya hampir gila. Ketika ia melepaskan Siwon, dan ketika dia dilepaskan oleh...Changmin.
.
.
.
.
.
===WK===
.
.
.
.
.
Changmin terbangun dengan rasa pusing di kepala yang luar biasa. Dengan sekuat tenaga ia bangun dan mendapati dirinya berada di kamar. Pemuda itu memijit pelan pelipisnya, mencoba menghilangkan rasa pusing di kepalanya dan mengingat apa yang terjadi semalam.
"K-Kyu...ayo kita bercerai..."
"Kyuhyun...ayo kita bercerai..."
"Berhentilah berbohong padaku...jebal...hiks...Aku benar-benar lelah sekarang...hiks...sungguh, aku lelah untuk mempertahankanmu. Geuraeseo, jebal...lepaskan aku. Let me go, p-please...hiks..."
"Kali ini...kumohon. Lepaskan aku..."
Pemuda itu akhirnya ingat semua yang ia katakan semalam dan raut wajahnya sendu. Ia kemudian beranjak dari tempat tidur dan langkah terseok-seok masuk ke kamar mandi, mencuci muka dan meggosok giginya. Setelah itu ia segera keluar dari kamar dan harum wangi makanan yang berasal dari dapur menguar ketika ia membuka pintu. Apartemen itu tidak besar, ruang tengah dan dapurnya menyatu. Tampak Kyuhyun sedang memasak membelakanginya, sibuk mengaduk sesuatu yang tengah dimasaknya.
Changmin melangkah perlahan hendak mendekati Kyuhyun, tapi istrinya itu lebih dulu mengetahui keberadaannya. "Kau sudah bangun? Bagus, kita bisa sarapan bersama. Aku memasak chicken cream soup dan toast. Kau tak perlu takut masakanku tidak bisa di masak. Aku sudah belajar memasak dari Henry." Kata Kyuhyun sambil terus mengaduk sup buatannya.
Tapi Changmin terdiam di tempatnya, membuat Kyuhyun akhirnya menoleh juga. "Waeyo?" Kata Kyuhyun sambil mem-pout bibirnya.
Changmin reflek menggeleng dan segera duduk di meja makan. Tak berapa lama kemudian Kyuhyun selesai memasak dan menaruh dua mangkuk chicken cream soup dan toast di atas meja makan. Ia kemudian duduk dikursi yang berhadapan dengan Changmin. Keduanya kemudian memulai sarapan mereka dengan canggung, lebih tepatnya Changmin. Kyuhyun tampak tenang memakan sarapannya.
Sesekali Changmin memperhatikan Kyuhyun yang fokus dengan makanannya. Dia tahu Kyuhyun sedang berpura-pura kalau tak ada apapun yang terjadi semalam, dan Changmin juga tahu kalau ini akan terjadi. Kyuhyun tak semudah itu mau bercerai darinya. Tapi bagi Changmin ini semua harus segera diselesaikan. Ia tak mau menunda-nunda lagi. Dia tak mau ia, Kyuhyun dan Siwon akan terluka lebih lama. Enam tahun mereka hidup dengan hati terluka, itu bukanlah waktu yang sebentar.
"Kyu, aku―"
"Yeobo, kenapa kau tidak memberitahuku kalau akan tampil dalam acara Helios Orkestra lagi? Tadi, ada orang mengantarkan tuxedo yang akan kau pakai malam ini." Kata Kyuhyun memotong perkataan Changmin. Lebih tepatnya ia berusaha menahan Changmin untuk tidak membahas apapun yang terjadi semalam.
"Mian, kau terlalu sibuk dengan acara di Panti Asuhan. Jadi, aku lupa memberitahumu." Jawab Changmin kemudian kembali melanjutkan sarapannya.
Kyuhyun memasang wajah cemberut pada Changmin. "Kalau tahu kau akan tampil di Helios, aku tidak akan menerima tawaran Henry. Kau suka sekali membuatku tidak tahu banyak tentangmu." Ujarnya yang tanpa sadar membuat Changmin tersenyum namun sedih di dalam hati. Aku hanya ingin kau terbiasa tanpaku dan aku ingin kau bertemu dengan Siwon, katanya dalam hati.
.
.
.
.
.
===WK===
.
.
.
.
.
CKLEK!
Changmin membuka pintu kamar mandi dan mendapati Kyuhyun sedang menyiapkan pakaian Changmin, menyesuaikan mantel, kemeja, dasi dan celana panjang yang akan suaminya kenakan. Pemandangan itu jarang terjadi dalam setahun terakhir karena banyak hal yang terjadi. Jadi, melihat pemandangan itu membuat Changmin terkenang beberapa hal yang biasa Kyuhyun lakukan saat Changmin akan konser. Istrinya itu menyesuaikan pakaian yang akan Changmin kenakan, tangan halusnya akan memasangkan dasi di leher Changmin dan sesekali mereka membicarakan hal-hal yang sebenarnya hanya untuk mengalihkan perasaan Kyuhyun. Dihati Kyuhyun, ia ingin melakukan untuk Siwon.
Tapi Changmin tak akan pernah mengeluh tentang hal itu, ia juga turut andil dalam memisahkan keduanya. Dan selama ia tak melihat Kyuhyun, ia berusaha melakukannya sendiri. Menghilangkan kebiasaan-kebiasaannya yang selalu meminta Kyuhyun menyocokkan pakaiannya ataupun memasangkan dasinya.
Kyuhyun menoleh dan tersenyum pada Changmin, "Aku sudah menyocokkan pakaianmu. Otthe?" tanyanya menunjuk pakaian yang sudah ia susun diatas tempat tidur.
Changmin tersenyum dan menunjukkan dua jempolnya, "Aku suka." Jawabnya kemudian mulai memakai pakaian yang sudah Kyuhyun siapkan sementara Kyuhyun sedang memasukkan beberapa barang perlengkapan milik Changmin ke dalam tas―Ponsel, vitamin, sapu tangan, headphone, dua botol air mineral dengan merek yang biasa pemuda itu minum karena ia adalah orang yang cukup pemilih.
Changmin hendak memasang dasinya ketika Kyuhyun melihat itu dan segera menahan tangan suaminya itu. Senyumnya tampak sendu saat berkata, "Biar aku yang pasangkan." Jadi pemuda itu hanya membiarkan Kyuhyun melakukannya. Dalam posisi itu wajah keduanya sangat dekat, namun tak ada yang bicara sebelum kemudian Changmin merasakan napas Kyuhyun yang berat dan bergetar, matanya tampak memerah.
Perlahan Changmin menggenggam tangan Kyuhyun, menahan agar istrinya itu berhenti. Ia kemudian menyentuh pipi Kyuhyun, membuat iris karamel yang bening itu mengarah padanya. Changmin tersenyum miris, dadanya terasa sesak dan napasnya juga terasa bergetar. "Aku...ingat semuanya. Jadi, berhentilah berpura-pura kalau kita baik-baik saja..." ujarnya, membuat mata Kyuhyun berkaca-kaca. Namun tak ada satu katapun yang mampu keluar sekarang, pemuda itu menahan isakannya.
"Seperti yang kukatakan semalam, aku...sudah memikirkannya dengan matang. Dan memikirkan semua resikonya yang akan terjadi padaku dan kau. Kau tahu, kalau ini bukan pilihan yang mudah. Tapi, bertahan selama hampir lima tahun juga bukan hal mudah. Dan...kedua pilihan itu tak membuatku menyesal satu kalipun sekarang. Karena...menjadi bagian darimu adalah sesuatu yang berharga. Aku berterima kasih karena kau membiarkanku untuk berada disampingmu."
"Hiks...hiks..."
Isakan keluar bersama dengan air mata yang jatuh di pipi Kyuhyun. Pemuda itu menatap suaminya dengan sedih. "K-kenapa...? Hiks...kenapa kau tak bersikap egois? Kenapa...hiks? Harusnya...hiks...kau menahanku selamanya disampingmu...hiks...harusnya kau memikirkan dirimu lebih daripada memikirkan aku...hiks. Shim Changmin, neo jinja paboya...hiks..."kata Kyuhyun disela isakannya, tangisnya semakin kencang ketika mengatakan itu.
Changmin menangkup pipi Kyuhyun dengan kedua tangannya, membiarkan istrinya itu melihat matanya yang berkaca-kaca, memperlihatkan kesedihan yang amat sangat dalam dari wajah pemuda itu. Suaranya terdengar bergetar ketika ia berkata, "B-bagaimana mungkin...aku mampu melakukannya? Aku...t-tak pernah sanggup melakukannya...Aku tak sanggup lagi melihatmu berbohong padaku. M-mengatakan kebohongan cinta dalam pernikahan kita...aku tak sanggup lagi. K-kau...juga tak pernah egois. Kau menekan hatimu...menyimpan s-sakitmu. Sampai kapan aku sanggup...melihat itu semua...?"
Kyuhyun menggeleng dan terisak, "A-aniya...hiks...aku mengatakan yang sesungguhnya...hiks...aku mencintaimu...hiks...sungguh aku―"
"Kyuhyun...jebal..." potong Changmin, air matanya sudah jatuh sekarang. "Yang kau katakan cinta itu...bukanlah yang sesungguhnya. Hatimu...belum bergeser sedikitpun darinya. Kau...tak pernah bisa melepas bayangannya. Perasaan kepadaku...hanya sesaat saja."
Changmin kemudian mengangkat tangan Kyuhyun memperlihatkan gelang berbandul snowflake dan cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya. "Ini adalah hatimu yang sesungguhnya," ujarnya menunjuk gelang itu. "Dan cincin ini, penghalangmu. Aku...yang sejak awal membiarkan diriku menjadi penghalang kalian. Dan saat itu aku benar-benar egois...jadi sekarang, aku tak bisa seperti itu lagi. Jadi, lepaskan aku..." Lanjutnya.
Kyuhyun menangis kencang, tangis yang ia tahan selama ini akhirnya keluar juga. Sesak dan perasaan terpendamnya akhirnya diketahui juga. Changmin menarik Kyuhyun dalam pelukannya, membiarkan pemuda itu mengeluarkan semuanya.
"Hiks! M-mianhae...hiks...mianhae..." isak Kyuhyun.
Changmin hanya diam, memeluk pemuda itu dengan erat. Tak dipedulikannya rasa sesak dan lega yang ia rasakan sekarang. Yang ia ingin ia lakukan hanya memeluk Kyuhyun dengan erat, dan memastikan Kyuhyun akan bahagia setelah ia melepaskan pemuda itu.
Dalam hati Changmin berkata, Aku tahu tentang hatimu Kyu. Kau adalah orang yang setia pada cintamu. Dan aku pernah menyia-nyiakan kesempatan itu, melukaimu...melukai cintamu. Harusnya aku bersyukur setelah akhirnya berhasil memilikimu. Tapi Tuhan maha adil. Kau sudah tak mencintaiku lagi. Dan aku tak sanggup merasakan sesak ini, cinta ini menyiksaku dan kau juga. Jadi, lebih baik aku melepasmu. Membiarkan kita...tidak tersiksa lagi...
Raihlah kebahagianmu, Kyuhyun. Cho Kyuhyun...
Author POV End
.
.
.
.
.
===WK===
.
.
.
.
.
Kyuhyun POV
Dengan telaten tanganku memasangkan dasi merah maroon dileher Changmin. Setelah selesai, kupandangi wajah Changmin. Kami berdua tersenyum bersamaan, lebih tepatnya senyum yang dipaksakan. Changmin kemudian memakai mantelnya dan bersiap hendak pergi, dan kuberikan tas yang berisi perlengkapannya.
"Semoga konsernya sukses." Kataku.
Changmin mengangguk dan mengelus pelan suraiku, "Kau juga." Ucapnya.
Beberapa saat yang lalu, kami menangis dan merasakan sesak yang tak terelakkan. Bahkan aku merasa amat sangat bersalah pada pemuda di depanku ini, yang menjadi suamiku selama hampir lima tahun. Aku memberikan banyak rasa sakit dihatinya, membiarkan ia merasakan itu sendirian, dan hanya membentengi hatiku sendiri, hanya memikirkan rasa sakitku. Tanpa sadar mataku kembali berkaca-kaca.
Changmin memandangku sendu, tangannya kemudian menyentuh pipiku, menghapus air mata yang hampir terjatuh dari pelupuk mataku. Senyum tipis terlihat diwajahnya, memberikan isyarat agar aku tidak menangis lagi. Aku juga berusaha untuk tersenyum dan memberi isyarat bahwa aku baik-baik saja.
"Aku pergi sekarang." Kata Changmin. Aku mengangguk dan kemudian memeluk pemuda itu dan menyenderkan kepalaku dibahunya, mencium wangi tubuhnya yang selama ini menemaniku, merasakan lengannya yang selalu merangkulku.
"Gomawo, karena selalu mengerti tentang hatiku..." kataku lirih.
"Ne, gomawo. Membiarkan diriku mengerti tentang hatimu." Jawabnya pelan.
Kutahan air mata yang akan kembali jatuh dan berkata,"Berjanjilah...kalau ini tidak akan menjadi pertemuan terakhir kita."
"Kita akan bertemu lagi..." jawabnya sebelum kemudian melepas pelukan kami, masih dengan senyum yang terpatri di wajahnya.
Perlahan ia pergi ke arah pintu, berhenti sejenak menoleh sesaat ke arahku sebelum kemudian kembali melangkah dan pergi. Dan ketika pintu itu benar-benar tertutup, Changmin hilang dari pandanganku, aku tersenyum miris dan air mata akhirnya benar-benar jatuh dari kedua pelupuk mataku. Kulihat tangan kananku, lebih tepatnya kearah jari manisku. Cincin yang biasanya melingkar disana sudah tidak ada...
Kemudian aku teringat perkataan Changmin, membuatku menyentuh gelang berbandul snowflake yang ada ditanganku. Dia menyuruhku untuk jujur pada hatiku...Jujur pada cintaku...
Kyuhyun POV End
.
.
.
.
.
===WK===
.
.
.
.
.
"Anak-anak! Pokoknya kalian tidak boleh gugup. Kalian hanya harus tampilkan yang terbaik, oke!?"
Siwon hanya geleng kepala melihat Henry yang berbicara pada anak-anak di belakang panggung. Pemuda itu menyuruh anak-anak untuk tidak gugup, tapi dia sendiri tampak gugup. Pemuda itu beberapa kali mondar-mandir dan sesekali berbicara sendiri, sangat terlihat kalau dia panik dan gugup.
"Mimi ge, sebaiknya kau bawa Henry keluar sebentar. Dia gugup berlebihan sekarang." Kata Siwon setengah berbisik pada Zhoumi yang berada disebelahnya. Zhoumi terkekeh pelan dan menepuk bahu Siwon sebelum kemudian beranjak kearah Henry.
"Mochi, sebaiknya kita pergi cari udara segar dulu." Kata Zhoumi kemudian menarik Henry pergi.
"Oh okay, sepertinya aku benar-benar membutuhkannya sekarang." Kata Henry, dan kemudian kedua pemuda itu pergi.
Siwon hanya geleng-geleng kepala melihat mereka dan kemudian pandangannya beralih pada seorang anak perempuan yang sibuk menghapal lagu yang akan dinyanyikannya. Wendy―gadis kecil itu duduk di atas kursi sambil menggoyangkan kakinya, menghapal lagu yang akan ia nyanyikan dengan anak-anak lain di atas panggung nanti.
"Little girl, kau sedang apa?" tanya Siwon kemudian mendekati Wendy.
Wendy tersenyum senang melihat Siwon dan dengan segera ia merentangkan kedua tangannya tanpa menjawab pertanyaan Siwon , berharap pemuda itu akan menggendongnya. Siwon hanya tertawa pelan melihat tingkah gadis kecil itu dan segera menggendongnya. "Kau sudah terbiasa denganku, ya?" tanya Siwon sambil mencubit pelan pipi Wendy, membuat gadis itu tertawa.
"Uncle, apakah kau akan pergi setelah ini? Apakah kita tidak akan bertemu lagi?" tanya Wendy tiba-tiba.
Mendengar pertanyaan gadis kecil itu, Siwon tersenyum dan mengelus pelan pipi gembulnya. "Ya, tapi aku pasti akan berkunjung lagi kemari. Kenapa little girl? Kau tak mau berpisah dariku?"
Wendy menundukkan kepalanya, tangannya sibuk memainkan ujung gaun merah yang dipakainya. "Aku takut tidak bisa bertemu denganmu lagi, aku juga takut tidak bertemu Uncle Kyu lagi, Henry dan Mimi juga. Ibu kepala panti bilang kalau malam ini akan banyak orang-orang yang datang untuk mengadopsi kami..." ujarnya dengan nada sedih.
Siwon tersenyum miris mendengar perkataan Wendy. Dia merasa sedih melihat anak-anak seperti Wendy yang tidak punya orang tua, mereka hanya bisa menunggu ada orang-orang yang mau mengadopsi mereka. Mungkin sebagian dari mereka akan diadopsi, tapi bagaimana dengan sebagian lagi?
"Wendy..."
Siwon menoleh mendengar suara lembut itu, Kyuhyun berdiri tidak jauh dari mereka. Pemuda itu menghampiri Siwon dan Wendy dengan senyum tipis. Dielusnya pipi Wendy pelan dan berkata, "Tuhan selalu punya cara untuk mempertemukan kita dengan orang yang kita sayangi. Jadi, kau pasti bisa bertemu dengan Uncle Siwon lagi. Kau menyayangi Uncle Siwon, kan?"
Wendy menatap Kyuhyun dan mengangguk dengan polosnya. "Dan aku juga menyayangimu, Uncle Kyu..." ujarnya kemudian merentangkan tangannya, kali ini gadis kecil itu ingin Kyuhyun yang menggendongnya.
Kyuhyun segera mengambil alih Wendy dari Siwon dan menggendong gadis itu, membiarkan gadis itu menenggelamkan wajahnya di dadanya. Melihat pemandangan itu Siwon tak mampu mengatakan apapun, hanya senyum yang ia bisa perlihatkan. Melihat Kyuhyun menggendong Wendy, seperti...seorang Ibu...
Dan Siwon, merasakan sesuatu yang sulit diungkapkan sekarang. Kata andai kembali terbayang di otaknya. Andai Kyuhyun miliknya...andaikan Kyuhyun istrinya...melihat pemandangan ini, seperti sebuah keluarga yang bahagia.
"Mianhae, aku terlambat." Kata Kyuhyun sambil mengelus pelan rambut Wendy.
Siwon tersadar dari lamunannya dan mengangguk, diberanikannya diri menyentuh pundak Kyuhyun. "Gwenchana, yang penting kau sudah datang. Kau akan menampilkan yang terbaik,kan?" ujarnya.
Sesaat Kyuhyun terlihat gugup, tapi kemudian ia tersenyum dan mengangguk. "Bukankah sudah kukatakan, aku benar-benar menantikan hari ini." Katanya.
Siwon juga tersenyum kemudian mengelus pelan surai coklat Kyuhyun, membuat detak jantungnya terasa cepat. Setelah sekian lama, ini pertama kalinya Siwon kembali menyentuh rambut pemuda itu. Kyuhyun juga sama, jantungnya berdegup kencang. Tak bisa dia pungkiri bahwa perkataan Changmin benar. Hatinya tak pernah berpaling dari Siwon. Tapi tak bisa semudah itu kembali padanya. Kyuhyun butuh waktu...
Ya, dia butuh waktu lagi...
.
.
.
.
.
===WK===
.
.
.
.
.
"Terima Kasih kepada seluruh hadirin yang hadir hari ini, diacara Christmass Concert yang diadakan Santa Maria. Sejujurnya, kami tak bisa mengadakan acara sebesar ini tanpa bantuan dari Siwon Choi sebagai CEO Choi Group. Beliaulah yang mendonasikan sejumlah dana untuk acara ini. Saya dan seluruh pengurus Santa Maria berterima kasih padanya. Dia pria tampan yang disebelah sana."
Acara malam itu dibuka dengan kata sambutan dari Kepala Panti Santa Maria―Nyonya Green. Siwon hanya tersenyum mendengar pujian dari wanita paruh baya itu kemudian tersenyum pada orang-orang disampingnya. Ya, Siwon duduk diantara para tamu yang lain.
"Dan baiklah, kita mulai saja. Persembahan dari Santa Maria Chorus Group, selamat menyaksikan."
Christmass Concert pun dimulai, pada pembukaan dimulai dengan paduan suara. Ketika tirai merah dibuka, langsung terdengar suara biola dan piano yang seirama. Tampak Henry dan Kyuhyun berada disisi kanan panggung yang tampil memukau. Dan disisi kiri anak-anak yang mulai menyanyi.
.
(The Chipmunk Song-Christmas don't be late)
Christmas, Christmas time is near
Time for toys and time for cheer
I've been good, but I can't last
Hurry Christmas, hurry fast
Want a plane that loops the loop
And I want a hula hoop
I can hardly stand the wait
Please Christmas, don't be late
.
Christmas, Christmas time is near
Time for toys and time for cheer
I've been good, but I can't last
Hurry Christmas, hurry fast
Want a plane that loops the loop
And I still want a hula hoop
I can hardly stand the wait
Please Christmas, don't be late
.
I can hardly stand the wait
Please Christmas, don't be late
Oh, I can hardly stand the wait
Please Christmas, don't be late
.
Suara riuh tepuk tangan menjadi bagian terakhir dari lagu itu. Siwon dengan senyum terkembang ikut bertepuk tangan. Dan kemudian sampai berakhirnya acara itu, tak sedikit yang bertepuk tangan melihat penampilan anak-anak. Dan Siwon dapat merasakan air mata akan jatuh dari sudut matanya ketika melihat di atas panggung itu, semua anak-anak tampak tersenyum senang, dan yang paling membuatnya bahagia adalah ketika melihat wajah Kyuhyun yang juga tersenyum senang. Dan senyum itu, adalah senyum yang sama ketika ia mengenal pemuda itu 8 tahun yang lalu. Dan kemudian ia melihat kearah Wendy yang berada di antara anak-anak itu. Bayangan Kyuhyun menggendong anak itu, dan sesuatu terlintas diotaknya.
.
.
.
.
.
===WK===
.
.
.
.
.
"Merry Christmass, Abeoji. Maafkan aku karena baru menelponmu sekarang." Setelah acara berakhir, Siwon pergi sesaat menjauh dari kerumunan. Sambil memandangi langit yang perlahan di turuni salju diluar panti, Siwon menelpon Ayahnya.
Dengan suara khas yang selalu tegas Choi Kiho berkata, "Na do, Merry Christmass. Pastikan kau memperhatikan cabang perusahaan kita di London. Sebagai pewaris Choi Group, kau punya tanggung jawab untuk melakukan itu."
Siwon hanya tersenyum mendengar perkataan Ayahnya itu. Ia sudah terbiasa dengan sifat Ayahnya itu. Pria paruh baya itu tak pernah benar-benar bisa jujur pada hatinya. Ia terlalu kaku untuk bersikap di depan orang yang disayanginya, seperti yang dilakukannya sekarang.
"Abeoji, ada yang mau kukatakan." Kata Siwon setelah beberapa saat tak ada diantara keduanya yang bicara. "Orang tua mungkin pernah melakukan kesalahan. Tapi, jadikanlah kesalahan itu sebagai pengalaman. Tidak ada manusia di dunia ini yang luput dari kesalahan. Bahkan mungkin seorang anak pernah melakukan kesalahan yang lebih besar dari pada orang tuanya. Aku juga bersalah Abeoji. Aku juga bukan anak yang baik dan berbakti padamu. Aku―"
"Berhentilah mengatakan hal itu." Potong Kiho, terdengar suara helaan napasnya. "Seorang Choi tidak pernah melihat ke belakang. Bagi keluarga Choi, kau hanya akan menyia-nyiakan waktumu untuk menyesali masa lalumu." Lanjutnya.
"Namun, tak ada salahnya untuk melihat kebelakang dan jangan menyesalinya. Karena jika kau menyesal akan sesuatu dalam hidupmu, tidak akan ada habisnya. Akan ada penyesalan berikutnya dan yang berikutnya lagi. Jadi, membiarkan semuanya di masa lalu dan melakukan banyak hal ke depan adalah yang terbaik. Aku tak pernah menyesal tentang kesalahan yang kulakukan dulu, itulah caraku melindungimu. Dan sekarang, kupikir kau bisa melindungi dirimu sendiri, dan memilih untuk dirimu sendiri. Aku...tak akan memilihkan apapun untukmu lagi. Kau harus memilihnya sendiri. Ingat itu Choi Siwon."
Siwon tak mampu berkata beberapa saat, matanya tampak berkaca-kaca. Tapi kemudian senyum terlihat di wajahnya. "Sudah lama sekali...Abeoji bicara sangat panjang padaku. Mendengarnya membuatku terkejut." Ujarnya.
"Jika kau ingin bicara lebih panjang lagi padaku, seringlah datang ke rumah. Kita...bisa pergi bersama-sama di akhir pekan. Bermain catur, memancing atau bermain golf mungkin." Kata Kiho.
Siwon menghapus sedikit air mata yang akan jatuh di sudut matanya dan berkata,"Ne, setelah pulang nanti aku akan mengunjungimu." Dia kemudian menarik napas cukup lama, "Saranghamnida, Abeoji..." lanjutnya.
Cukup lama tak ada suara diseberang sana sebelum kemudian terdengar, "Nado, saranghamnida adeul. Cepatlah pulang, bogoshipotta..."
Kini Siwon tak bisa menahan setetes air mata yang jatuh di sudut matanya, ia bergumam mengiyakan perkataan ayahnya. "Aku tutup dulu, annyeong..."
"Ne, annyeong."
Dimasukkannya ponsel ke dalam saku. Siwon kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangan, memejamkan matanya beberapa saat. Ada rasa lega dan haru ketika mengingat pembicaraannya dengan sang Ayah. Sudah sangat lama dari yang ia ingat ketika suara Ayahnya terdengar begitu hangat.
Tiba-tiba saja sebuah tangan menyentuh tangannya, membuat Siwon perlahan membuka matanya ketika seseorang menurunkan kedua tangannya. Kyuhyun lah orang itu. Beberapa saat Siwon terpaku sebelum kemudian dengan lirih ia berkata, "Kau...mendengarnya?"
Kyuhyun tersenyum dan mengangguk, memandangi tangannya yang menggenggam tangan Siwon. Dan perlahan kepalanya terangkat dan memperlihatkan matanya yang tampak berkaca-kaca.
"Jarhanda, hyung..." ucapnya pelan.
Mendengar itu Siwon juga tersenyum, dan matanya juga berkaca-kaca. Ia tahu bahwa ini adalah satu hal yang Kyuhyun inginkan. Dia ingin Siwon menyadari keberadaan Ayahnya dan menyayanginya. Sama seperti Ayahnya, Kyuhyun tidak ingin ia menyesali apapun dalam hidupnya. Kyuhyun tidak ingin Siwon kembali terlambat, terlambat meraih tangan Ayahnya. Siwon tahu itu...
Dan dia berterima kasih untuk itu...
.
.
.
.
.
===WK===
.
.
.
.
.
Salju turun perlahan seperti menjadi background malam itu. Dikursi panjang yang terletak di perhentian bus tampak dua orang pemuda disana. Seperti jalan yang sepi, tak ada suara diantara kedua pemuda itu. Namun, kedua tangan mereka saling bertautan, bergenggaman. Keduanya tampak gugup dengan keadaan mereka, namun sama-sama tak ingin melepaskan tangan mereka. Hanya diam memandangi langit meski sebenarnya mereka tidak benar-benar memandang langit.
"Aku tahu ini dosa, menggenggam tangan istri orang lain..." gumam Siwon, memecah kesunyian.
Kyuhyun tersenyum tipis. "Bersikap egoislah sedikit. Jangan memikirkan siapapun sekarang..." ujarnya kemudian semakin erat menggenggam tangan Siwon.
Siwon menoleh dan memandang wajah pemuda itu dan tersenyum, "Aku takut berada diluar batas." Katanya kemudian hendak melepaskan tangannya, namun Kyuhyun tetap menggenggam erat tangannya.
Kyuhyun menunduk dan menarik napas dalam. "Ada sesuatu yang ingin kutanyakan..." ujarnya sebelum kemudian mengangkat kepalanya dan menatap Siwon sendu. "Meski sampai saat ini aku tahu jawabannya, tapi aku tetap akan menanyakan hal ini. Apakah hyung...masih mencintaiku...?"
Siwon terdiam beberapa saat sebelum menjawab, "Ne, aku masih mencintaimu..."
Kyuhyun tersenyum tipis, terlihat pipinya yang kemerahan. "Entah kenapa...aku masih seperti dulu. Ketika kau mengatakan itu, membuatku malu dan...bahagia." ujarnya kemudian menunduk lagi. "Ada satu pertanyaan lagi." Lanjutnya.
"Apakah...masih terasa sakit? Cintamu padaku...apakah sangat menyakitkan?" tanyanya, dan kali ini suaranya terdengar pelan dan bergetar.
"Ne, neomu appayo..." jawab Siwon. "Tapi, itulah yang namanya cinta." Lanjutnya. Siwon tersenyum miris setelah mengatakan itu, matanya tampak berkaca-kaca.
"Bagaimana denganmu?" tanya Siwon pelan.
Kyuhyun mengangguk, masih menunduk. "Neomu appayo...bahkan membuatku berpikir untuk mati. Aku mencintaimu...lebih dalam dari yang pernah kubayangkan..." jawabnya.
Kepalanya terangkat dan terlihat air mata yang mengalir dari kedua matanya. Matanya memandang Siwon yang kini memandangnya. "Mianhae...membuatmu merasakan sakit cinta ini. Jeongmal mianhae..."
Siwon menggeleng, "Justru aku yang harus minta maaf...karena akulah yang pertama kali mencintaimu. Memberikan rasa sakit untukmu...menghancurkan impianmu...dan keterlambatanku mengetahui semuanya...jeongmal mianhatta..." ujarnya dan kali ini air mata juga mengalir di pipinya.
Kyuhyun terisak sekarang, sebelah tangannya menyentuh pipi Siwon. "Hiks...Kita...harus menghentikan rasa sakit ini...kita―"
"Jangan memaksaku untuk berhenti mencintaimu...aku tidak akan melakukannya." Kata Siwon memotong perkataan Kyuhyun.
Kyuhyun menggeleng, "A-ani, hiks...aku tidak akan melakukannya..." ujarnya kemudian perlahan melingkarkan kedua tangannya di leher Siwon dan memeluk pemuda itu. "Aku...tahu...aku...hiks.. butuh waktu...dan jika kau mau...hiks...aku meraihku lagi nanti..."
Siwon mematung beberapa saat, mencerna maksud perkataan Kyuhyun barusan. Dia masih merasa bahwa apa yang dia dengar tadi salah. Dan ia menyadari bahwa apa yang ia dengar benar setelah Kyuhyun melepas pelukannya, menatap Siwon dengan air mata yang terus mengalir dan berkata, "It may take time, but...Ireally want tocome backfor you. Hiks...Iwant to beselfishtobe yours. May I...? Maukah hyung melakukannya lagi...?" Ia kemudian mengangkat sebelah tangannya, memperlihatkan bahwa tak ada lagi cincin yang melingkar di jari manisnya.
Dan Siwon terisak sekarang, kedua tangannya gemetar menangkup wajah Kyuhyun. Ia mengerti sekarang. Kyuhyun juga terisak dan menyentuh kedua tangan Siwon. Pemuda itu mengangguk cepat, dan menarik Kyuhyun dalam pelukannya dengan erat. Keduanya terisak melampiaskan semua rasa sesak dan sakit yang terpendam enam tahun terakhir. Menyatakan bahwa mereka tak akan berpisah lagi.
Ya, Siwon tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia ingin bersikap egois dan meraih Kyuhyun lagi. Ia ingin menjadikan Kyuhyun miliknya dan tak akan melepaskannya lagi. Tidak akan lagi...
"Raihlah selagi masih bisa diraih. Jadikan milikmu selagi kau masih bisa memilikinya. Karena mungkin tak akan ada kesempatan lain untukmu. Jagalah dia...cintamu...selagi kau bisa melakukannya..."
.
.
.
.
.
===WK===
.
.
.
.
.
Dua tahun kemudian
.
.
.
.
Masa sekarang di Seoul-Korea Selatan, 7 Juli...
.
.
"Jadi, kau ingin menikahi putriku?"
Shim Changmin mengangguk cepat, "Ne, Abeonim. Aku ingin menikahi Kibum." Jawabnya.
Di kediaman keluarga Kim―tepatnya di ruang keluarga, berkumpulnya keluarga besar Kim. Ada Youngwoon, Jungsoo, Jaejoong, Yunho, Eunhyuk dan tampak Chanyeol bermain dengan paman kecilnya―Sehun. Seluruh keluarga Kim sedang mengintrogasi Changmin dan Kibum.
"Sudahlah Abeoji, izinkan saja mereka menikah." Kata Jaejoong sambil tersenyum-senyum melihat kedua orang yang sedang diintrogasi itu.
"Aku setuju dengan Jae Eonni, biarkan saja mereka. Lagipula sebentar lagi Kibum sudah berumur 27 tahun, sudah waktunya dia menikah. Apa salahnya jika Kibum menikah dengan duda yang pernah menikah dengan pria. Lagipula Kibum juga pernah gagal menikah." Ujar Eunhyuk membuat gadis itu mendapat tatapan death glare dari Kibum.
"Yak! Kim Eunhyuk, neo jinja! Berhenti mengejek dongsaengmu. Kau juga belum menikah!" kata Youngwoon kesal, membuat Eunhyuk langsung bungkam dan cemberut.
Jungsoo tersenyum dan memandang Changmin, "Kau benar-benar mencintai putriku? Bukannya mau menyinggung masa lalumu, tapi kau pernah mencintai seorang pemuda. Jadi, apa yang membuatmu tiba-tiba mencintai Kibum?" tanya Jungsoo.
Changmin menarik napas dalam, berusaha menghilangkan kegugupannya. Diliriknya Kibum yang ada disampingnya dan menggenggam erat tangan gadis itu. "Dua tahun yang lalu, aku bertemu dengan Kibum. Kesan pertamaku dia adalah gadis cerewet dan ceria. Aku sangat suka cara dia bercerita padaku tentang masa lalunya dan Siwon, membuatku nyaman untuk menceritakan kehidupanku dan Kyuhyun. Kami menjadi teman yang baik setelah aku bercerai dan kami jadi semakin dekat."
Kibum menoleh kearah Changmin dan memandangi pemuda itu berbicara. "Ada banyak yang bertanya padaku, apakah aku seorang gay atau tidak. Sebenarnya aku juga tidak tahu. Yang pasti saat aku mencintai Kyuhyun, aku hanya mencintainya tanpa memandang yang lain. Begitu juga ketika aku mencintai Kibum. Aku hanya mencintainya...dan ingin menjadi bagian dari hidupnya."
Tanpa sadar mata Kibum berkaca-kaca mendengar perkataan Changmin. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa pemuda yang dikenalnya dua tahun lalu, yang dianggapnya seorang gay dan tak akan pernah tertarik padanya kini adalah kekasihnya. Bahkan pemuda itu melamarnya dan meminta restu dengan keluarganya.
Kibum kemudian menatap kedua orang tuanya, "Appa, Eomma, otthe? Jika kalian tidak memberi restu, aku akan kabur dan tetap menikah dengannya." Kata Kibum tegas.
"Yak! Kim Kibum." Tegur Jaejoong dan Eunhyuk serempak.
Youngwoon menatap Changmin dan Kibum bergantian. Dia kemudian menoleh kearah istrinya yang tersenyum dan mengangguk. Youngwoon menghela napas panjang dan berkata, "Kami akan memberi restu pada kalian..." Senyum terlihat diwajah Changmin dan Kibum ketika mendengar kata-kata Youngwoon.
Changmin segera berdiri dan membungkuk hormat, "Kamsahamnida Abeonim, Eommonim. Aku akan menjaga Kibum dengan baik."
Jungsoo tersenyum dan berkata, "Mulai sekarang panggil kami Appa dan Eomma, arrachi?"
Changmin tersenyum dan mengangguk, "Ne, Eomma."
Eunhyuk hanya terkekeh pelan melihat pemandangan di depannya, "Kupikir akan ada perang dunia dulu. Tapi sepertinya kalian memang berjodoh, mengingat kalian sama-sama penghalang Siwon dan Kyuhyun. Oh ya, bagaimana keadaan mereka sekarang, ya?"
"YAK! KIM EUNHYUK!"
"Ups!"
Author POV End
.
.
.
.
.
===WK===
.
.
.
.
.
Masa sekarang di Dorchester-Inggris, 7 Juli...
.
.
Siwon POV
Kubuka mataku yang terasa berat, lalu mengangkat tanganku untuk menutupi mataku dan mengerang pelan. Sinar mata hari yang menembus jendela kamar menyilaukan mataku. Aku menguap lebar sambil merenggangkan lengan dan kaki dengan posisi yang masih terbaring di tempat tidur. Kulihat ke samping dan mendapati bahwa aku sendirian di tempat tidur.
Jam weker di atas meja nakas menunjukkan pukul 7 pagi, membuatku langsung mengerang pelan dan merutuki diriku sendiri. "Haish...harusnya aku bangun lebih cepat." gumamku pelan.
Kupaksakan diri untuk berguling turun dari tempat tidur, berjalan dengan langkah terseret-seret kearah pintu dan membukanya. Aroma waffle menyapaku dan segera kulangkahkan kaki menuju dapur. Dapat kulihat seorang yang paling kucintai sedang sibuk di dapur―Kyuhyunku tampak manis dengan apron baby blue yang dikenakannya. Dia yang membelakangiku sama sekali tak menyadari keberadaanku dan kemudian ide jahil terlintas.
Dengan langkah yang benar-benar pelan dan diusahakan tidak bersuara, kulangkahkan kakiku mendekatinya. Dua langkah lagi aku akan sampai ketika suara yang tiba-tiba menginstrupsi di belakangku, "Daddy, what are you doing now?"
Gagal! Rencanaku untuk mengejutkan Kyuhyun benar-benar gagal sekarang. Kyuhyun menoleh ke belakang dan memandangku bingung. "Kau sudah bangun? Aku tak mendengar suaramu membuka pintu." Katanya.
Aku hanya bisa tersenyum kemudian mencium pipinya. "Rencananya aku ingin mengejutkanmu," ujarku kemudian menoleh ke belakang, melihat gadis kecil berusia 7 tahun yang ada di belakangku dan berpura-pura kesal, "Tapi Wendy sudah menggagalkannya." Lanjutku.
Kyuhyun terkekeh pelan, "Wendy benar-benar putriku. Dia mewarisi bakatku, sangat antipatif dan susah dibohongi. Akan sulit sekali mengejutkannya."
"Putri kita, babe." Koreksiku, membuat Kyuhyun tersenyum dan melingkar tangannya di pinggangku. Aku juga melakukannya dan mengecup pucuk kepalanya.
Wendy menatap kami dengan wajah aneh, "Berhentilah bersikap seperti itu. Ingat, kalian sudah punya dua anak. Seperti pengantin baru saja," ujarnya kemudian naik ke atas kursi counter, mengambil piring yang sudah berisi waffle dan menaruh sirup strawberi di atasnya.
"Hei, kami memang pengantin baru!" omel Kyuhyun sambil berkacak pinggang. Sementara yang diomeli sibuk dengan sarapannya dan tak memperdulikan omelan Kyuhyun. Dalam hati aku tertawa melihat Wendy benar-benar mewarisi sifat Kyuhyun.
Kupeluk Kyuhyun dari belakang dan menyenderkan kepalaku dibahunya, mencium wangi sampo strawberi yang selalu digunakannya. Kucium pipinya sekali lagi sebelum berkata, "Happy Anniversary baby...Awalnya aku ingin mengucapkannya saat membangunkanmu, tapi ternyata kau bangun lebih dulu." Ujarku.
Kyuhyun tertawa pelan, "Maaf karena aku juga menggagalkan rencanamu. Happy Anniversary, hyung."
Tak terasa dua tahun berlalu sejak Kyuhyun memintaku kembali meraihnya. Dan...butuh waktu satu tahun sebelum kemudian kami resmi menikah dan menjadi suami istri. Kami sepakat Kyuhyun harus menyelesaikan kuliahnya dulu dan aku harus mengurus beberapa hal di perusahaan. Satu lagi, aku mengurus berkas adopsi kedua anakku. Ya, kami mengadopsi seorang putri dan seorang putra.
Ide itu terbersit ketika aku melihat Kyuhyun yang menggendong Wendy dengan sayang. Jadi kuputuskan untuk mengadopsi gadis kecil itu. Lalu beberapa bulan kemudian aku mengadopsi seorang anak lagi bernama Jeno, usianya baru satu tahun sekarang. Sepertinya dia masih tidur sekarang.
Kami juga memutuskan untuk menetap di Seoul. Selain karena posisiku sekarang adalah Presiden Direktur Choi Group, aku ingin keluarga kecilku lebih dekat dengan Abeoji dan Eommoni. Sesekali aku membawa mereka tidur di rumah Abeoji dan liburan akhir pekan ke Busan, tempat Eommoni. Sekitar dua bulan yang lalu kami ke Paris, mengunjungi Heechul noona dan Hangeng gege. Kami juga ke Cambridge musim semi kemarin, ke tempat ibu mertuaku.
Aku selalu berusaha meluangkan waktuku bersama keluarga, sesekali mengesampingkan sedikit urusan perusahaan dan membiarkan Zhoumi yang mengurusnya. Pemuda cina itu sekarang adalah Wakil Presiden Direktur Choi Group. Dia dan Henry juga sudah menikah, akhirnya...aku lega karena mereka berdua akhirnya mendapat restu dan menikah.
Dan kali ini, berhubung sedang libur musim panas kami memutuskan untuk liburan ke Dorchester. Kami menyewa apartemen di tempat tuan Takeda dan disambut layaknya keluarga.
"Aku sudah selesai, terima kasih atas makanannya." Kata Wendy kemudian turun dari kursi dan berjalan melewatiku dan Kyuhyun. "Aku mau ketempat Takeda Grandpa sekarang, katanya Grandpa buat menu baru. Annyeong daddy! Annyeong mommy!" lanjutnya sebelum kemudian menuju pintu dan pergi.
"Cepat sekali dia makan, dan sekarang mau makan sushi lagi." Gumam Kyuhyun heran. Aku terkekeh pelan, Wendy sama saja dengan Kyuhyun jika menyangkut makanan. Anak itu tampak berbeda sekali daripada saat aku pertama kali melihatnya di panti. Dia yang sekarang lebih hiperaktif dan ceria. Jangan lupa satu hal, dia terkadang terlihat lebih tua dari umurnya.
"Jadi, apa rencana liburan kita kali ini?" tanyaku.
"Seperti rencana awal, kita akan piknik ke Maiden Castle. Rumput hijau dan udara sejuk bagus untuk anak-anak. Jeno juga harus mulai belajar berjalan, anak itu malas sekali untuk mengangkat kakinya." Kata Kyuhyun kemudian melepas pelukan kami. "Sebaiknya bangunkan Jeno dan mandi bersama. Aku akan menyiapkan makanan untuk piknik kita, menyiapkan pakaianmu dan Jeno."
Aku tertawa pelan, "Jeno bukannya malas mengangkat kakinya, baby. Dia hanya belum bisa. Perkembangan setiap anak berbeda-beda. Aku yakin sebentar lagi Jeno akan bisa berjalan." Ujarku.
Kyuhyun tersenyum dan mengangguk, "Aku harap begitu. Sudahlah! Cepat bangunkan Jeno, sebelum dia―"
"Hiks...Huweeeeee!"
"...Menangis." Lanjut Kyuhyun sebelum kemudian menghela napas panjang. "Putramu benar-benar cengeng, hyung."
"Putra kita, babe." Koreksiku, sebelum kemudian pergi menuju kamar tidur Jeno. Memulai aktivitas pagiku dan bersiap pergi piknik.
Siwon POV End
.
.
.
.
.
===WK===
.
.
.
.
.
Author POV
"Jeno, be carefull sweety!"
Ditengah padang rumput Maiden Castle, tampak seorang bayi laki-laki berbadan gempal tampak sibuk merangkak di rerumputan, mengejar sang Ayah dan kakaknya yang sedang bermain bola. Bayi mungil itu tidak betah duduk bermain bersama Kyuhyun yang hanya memberinya pisang dan mainan mobil-mobilan. Dia ingin bermain seperti Wendy yang tampak sangat ceria bermain bola bersama Siwon.
"D-diddy! Diddy!" celoteh Jeno sambil merangkak mendekati Siwon. Di belakangnya ada Kyuhyun yang mengikuti bayi itu. Pemuda itu hanya terkekeh pelan melihat Jeno yang sangat bersemangat merangkak.
Siwon menoleh mendengar celotehan Jeno. Ia tertawa melihat putranya itu tampak sangat bersemangat ingin bermain dengan dia dan Wendy. "Aigoo, uri Jeno. Kau juga ingin bermain, ya?" tanya Siwon ketika bayi itu berhasil sampai dan menggendongnya.
Wendy tertawa riang dan menendang bola kearah Siwon dan Jeno. "Daddy, biarkan Jeno menendang bolanya!" katanya.
"Ne, kajja Jeno-ah!" Siwon menurunkan Jeno dari gendongannya, membiarkan kaki bayi gempal itu menyentuh tanah.
Melihat pemandangan itu, Kyuhyun tersenyum dan memberi semangat. "Uri Jeno! Hwaiting!"
Awalnya Jeno tampak takut meski Siwon tetap memegang tangannya untuk membantu bayi itu berdiri, bahkan Jeno hendak duduk di rumput karena takut. Tapi Siwon menahannya dan tetap membantu Jeno berdiri.
"Kajja, Jeno-ah. Daddy tahu kau pasti bisa." Kata Siwon menyemangati putranya.
Cukup lama Jeno masih tampak takut, sebelum kemudian ia melihat bola berwarna-warni di depannya. Dengan langkah yang masih tertatih dan masih di bantu oleh Siwon, Jeno akhirnya berhasil menendang bola itu.
"Kyaaa!" bayi itu tertawa riang ketika berhasil menendang bola. Siwon dan Kyuhyun pun ikut tertawa bahagia. Akhirnya Jeno mulai mau mengangkat kakinya untuk berjalan meskipun tetap harus di pegang.
"Jarhanda, Jeno-ah!" kata Wendy menangkap bola yang di tendang adiknya.
Jeno tampak sangat senang kini berpegangan pada kaki Siwon, sebelum kemudian dengan hati-hati bayi itu melepaskan pegangannya dan berjalan selangkah ke depan. Kyuhyun sangat kaget bercampur senang melihat itu. Tapi begitu hendak melangkahkan kakinya lagi, bayi itu limbung dan hampir saja jatuh jika Siwon tidak menahannya.
"Wow, Choi Jeno. Kau benar-benar hebat hari ini." Ujar Siwon kemudian menggendong Jeno, "Mommy dan Daddy sangat senang." Lanjutnya kemudian mencium pipi gembul Jeno, dan membuat tawa bayi itu keluar.
Kyuhyun mendekati Siwon dan ikut mencium pipi Jeno. "Ne, Mommy sangat senang!" katanya kemudian memandang Siwon yang tersenyum kearahnya. "Hyung, uri Jeno benar-benar hebat."
Siwon mengangguk dan melihat kearah Wendy yang berlari kearah mereka. "Dan uri Wendy juga sangat hebat hari ini." Katanya kemudian memberikan Jeno pada Kyuhyun dan menggendong Wendy. "Aigoo, uri Wendy sekarang semakin berat. Kau sudah semakin besar little girl."
"Aku tak menyangka hari ini benar-benar ada hyung. Memilikimu dan kedua anak kita adalah hal yang paling membahagiakan dalam hidupku." Kata Kyuhyun memandang Siwon dengan mata berkaca-kaca.
"Hei, babe. Don't cry..." kata Siwon kemudian mengecup pipi Kyuhyun dan mengelusnya. "Aku juga tak menyangka. Memiliki kalian dalam hidupku adalah yang paling membahagiakanku. 8 keinginanmu sudah tercapai,kan?"
Kyuhyun tersenyum dan mengangguk, "Saranghaeyo, hyung..."
"Nado, nado saranghae..." kata Siwon kemudian mengecup bibir Kyuhyun.
.
.
.
.
"Delapan keinginanku. Sebenarnya kupikir keinginan itu tak akan benar-benar tercapai setelah apa yang terjadi padaku dalam enam tahun terakhir. Kupikir, tak akan ada kesempatan bagiku untuk kembali bersama Siwon hyung dan memiliki keluarga ini. Tapi setelah kebahagiaan ini hadir aku mulai berpikir bahwa tak ada yang tidak bisa dilakukan di dunia ini. Kami melewati masa-masa tersulit, sakit dan sesak selalu memenuhi dada kami. Dan akhirnya, kami berhasil melewati itu semua dan bersama."
"Mungkin memang tidak selamanya, karena maut tetap akan memisahkan kami. Tapi bagiku, menjalani apa yang ada sekarang. Memberikan dan mendapatkan cinta dari keluargaku adalah momen berhargaku. Hari-hari, yang akan kami lewati nantinya...asalkan bersama kami pasti bisa. Sungguh, bersama dengannya...aku pasti bisa..."
"Siwon hyung...saranghae..."
.
.
.
.
.
.
The End
.
.
.
Hah! Akhirnya selesai juga. Hampir 7000 kata lagi kyak chap sbelumnya. Gimana? Suka ga' readers! Jujur, saya ngebut bget nulis chapter ini dan saya udah lemes buat ngeditnya. Jadi ga' tahu deh ada yg salah atau nggak, pkoknya lngsung apdet aja. Oh ya, kalau ada yang nanya knapa ada Wendy SM Rookies disni jawabannya krna saya suka bget sma suaranya! Lgu soundtrack MIMI yang dia nyanyiin "Because I Love You", selalu sya denger stiap sya nulis FF ini. Lgu itu ngebantu bnget buat ngeluapin emosi sya buat nulis FF ini. Dan knapa anak Wonkyu yg stu lgi sya ambil Jeno SM Rookies, krna sya suka aj liat dia. Cute! Pas udah gede, dia pasti ganteng bget.
Akhirnya lunas satu utang saya sama readers. Tinggal nyelesain sequel "I believe you" dan lnjutin "Shadow". Pkoknya skli lagi trima ksih untuk smua readers yg udah review n bca FF ini. Tnpa klian, mngkin sya ga' bkal sjauh ini nulis FF. Ju2r, awalny sya ga' mau menekuni bidang nulis FF ini. Saya cma iseng wktu apdet prolog dri FF ini. Eh, ga' taunya ada yg review. Dri stulah saya mlai brsemgat nulis FF. Dan jgn bosen2nya ngsih kritik n saran utk sya, lewat review ataupun PM. Sya bkalan blas kok review dan PM klian. Trima kasih! Kamsahamnida! Arigatou! Xiexie! Gracias! Thank You!
