Domestic Disturbance
a Mystic Messenger fanfiction

Mystic Messenger
©2016 Cheritz Co,. Ltd. All Rights Reserved

Warn:
Out of Character, typo(s), etc.


Akhirnya ia kembali pada situasi dan keadaan yang sedia kala. Tepatnya pada ruangan yang tidak akan pernah terlupakan sepanjag hidup, ruangan yang telah menekamnya bagaikan tahanan. Kembali ke sana bukan karena paksaan atau kejadian yang tidak disengaja, namun ini secara sukarela dan dalam keadaan sadar.

Jumin sudah meninggalkannya bahkan sebelum ia membuka mata, tidak mengagetkan baginya, ini pernah atau sering terjadi. Sebenarnya ia belum membicarakan apapun dengan pasangannya yang baru saja rujuk itu. Sungguh, seperti ia hanya terbawa suasana dan lain sebagainya. Tapi ia akui, memang keadaaan yang sekarang ini adalah keadaan yang ia sudah mengetahui dan akan menerimanya setelah kejadian dramatis antara mereka. Setelah berbagai sakit yang diterima, baik secara verbal maupun fisik, kembalilah keduanya.

Zen, tidak mengungkung pikirannya lagi dalam ruangan itu, seperti menahan tubuhnya untuk tidak pernah keluar. Pagi yang tidak kelihatan mendung atau cerahnya itu, ia keluar kamar... hal yang ia tidak pernah memikirkannya kembali konsekuensinya seperti apa.

"Zen!"

Sosok yang benar-benar lama tak jumpa. Perempuan berkacamata dan berambut cokelat pendek itu berjalan menghampirinya dengan langkah yang hampir tergesa. Ia sendiri masih terkejut.

"Jaehee, sedang apa kau disini?"

Perempuan itu tersenyum, "tentu saja aku ada urusan pekerjaan dengan Tuan Jumin." Seperti dugaannya.

Sebenarnya ia tidak ingin menemui siapapun dulu, untuk saat ini... ia masih merasa sulit setengah wafat apabila harus menceritakannya.

"Oh... baiklah kalau begitu," seraya melewati Jaehee begitu saja.

"Apa kau mencari Jumin?"

Ia terhenti seketika lalu berpaling kembali... darimana ia bisa ditebak semudah itu. "Apa Jumin sudah pergi ke kantor?" Tanyanya agak ragu.

"Sepertinya belum, setahuku tadi Mr. Han berada di ruang makan untuk sarapan."

Wanita itu masih memajang senyumnya, sementara Zen masih menahan kaku... ia menghela sedikit, memutuskan kalau harus meluruskan urusannya sekarang.

Akhirnya Zen kembali dan berhadapan secara utuh dengannya. "Apa kau mendengar sesuatu tentangku... dari MC atau Yoosung?"

Tanpa panjang berfikir, "iya." Mendengar pengakuan membuat raut Zen berubah seketika, senyum yang melihatnya pun berubah getir. "Apa hubungan kalian bermasalah lagi?"

Ia menunjukan ekspressi yang sulit dengan makna yang tidak terbatas. "Tidak... bukan begitu," ia lalu memalingkan pandangan ke arah yang lain. Namun tidak bisa memungkirkan tatapan ingin tahu dari lawan bicaranya. "Sebenarnya aku baru rujuk dengannya..."

Jaehee tersenyum lebar, "sungguh?"

Menerima respon yang seperti ini membuatnya menahan seribu malu. "a.. aku pergi dulu kalau begitu. Sampai jumpa lagi nanti!" Ia segera memutus percakapan itu lalu melengos dari hadapannya.

Ia cukup lega mengetahui respon Jaehee seperti itu. Ia rasa teman-teman terdekatnya harus mengetahui, setidaknya apa yang demikian terjadi sesungguhnya daiantara mereka. Setelahnya langsung saja, dirinya mengitari bangunan luas itu untuk menemukan ruang makan yang disebutkan oleh Jaehee, sebenarnya hampir menyerah karena tidak dapat menemukannya. Namun ia akhirnya bertanya kepada pelayan.

Begitu ia melangkahkan kaki pertamanya di ruang makan yang bersangkutan...

Jumin, ayahnya, dan isteri sahnya duduk rapi seperti gambaran tipikal sarapan keluarga kaya... Ketiga anggota keluarga bahagia seketika menatap Zen bersamaan, kedatangannya benar-benar bagaikan kilat di musim panas. Si objek perhatian hanya membeku dan mematung, berdiri saja tidak melanjutkan langkah... apalagi pandangan-pandangan dari mereka tidak terlihat begitu menyenangkan.

"Jumin, aku tidak tahu kalau kau membawa temanmu ke rumah," ujar si ayahanda.

"Ah, apa ini temannya Jumin yang pernah diceritakan?" Wanita lacur itu tersenyum ngeri, "ternyata kau adalah Zen."

Dengan kecanggungan hampir klimaks, "Kenapa diam saja? Ayo duduk." Dengan perintah dari nyonya besar, Zen perlahan-lahan menuju kursi yang ia lihat kosong, di sebelah Jumin dan berseberangan dengan calon ayah mertuanya.

Jumin diam saja, namun sungguh ekspressinya tidak terpecahkan. Zen panik sekaligus khawatir, apabila laki-laki itu tidak senang dengan kedatangannya... atau ada hal lain... yang, sungguh ia benar-benar tidak ingin.

Detik mulai berubah menjadi menit sejak Zen duduk di sana dan hanya memerhatikan orang makan. Calon ibu mertua hanya memerhatikannya sesekali, calon ayah mertua terlihat hampir tidak peduli sama sekali. Sementara Jumin, ia tidak dapat melihatnya, dari samping... apa yang sebenarnya ada di balik wajah musim dingin itu.

"... Sebenarnya dia bukan temanku," sepatah kalimat Jumin memecahkan suasana. Ayahnya tidak berhenti dari makan sama sekali, seperti mengabaikan omongan anaknya barusan. Zen makin bingung, panik, dan.. 'kalau begitu hubungan apa yang ia minta selama ini?'

"Hyun adalah orang yang pernah kujanjikan makan malam dengamu."

"Apa maksud omonganmu itu, hm?" Walau Jumin terlihat serius mengatakannya tapi ayahnya seperti tidak menganggap begitu, asik saja.

Zen diam, benar-benar diam.

"Aku berniat untuk menikahinya."

Ayahanda seketika berhenti dari aktivitas yang dilakukannya lalu menatap, Zen menundukan pandangannya secara halus dan perlahan, sembunyi. Entah kenapa lelaki bersurai putih keabuan itu tidak merasa senang atau bangga dengan Jumin, yang ada ketakutannya kini menjulang tinggi. Ia diam walau sebenarnya panik, ketakutan, dan cemas. Sungguh ingin meninggalkan tempat itu. Namun kalimat laki-laki di sebelahnya bukan seperti suatu yang bisa diabaikan...

"Apa aku tidak salah dengar?" Jawab laki-laki paruh baya itu dengan ekspressi yang tepat. Zen tidak ingin menatap keduanya, baik Jumin atau orang diseberangnya yang bisa saja melempar meja ke arahnya.

"Aku berniat untuk menikahi Hyun."

Zen kian menundukan kepalanya benar-benar, sehingga wajahnya tak terlihat. Selanjutnya yang ia dengar, bunyi pergerakan yang kencang dari seberangnya. "Sayang?! Sarapanmu belum habis!" dan suara perempuan yang menunjukan peringatan.

Ia hanya menghela, namun tak sanggup mengeluarkan beban berat di ulu hatinya.


Di kamar Zen terdiam saja, duduk di atas ranjang, bersikap tenang dan manis di depan orang tersayang. Melihat gelagatnya dengan seribu tafsiran, lelaki gelap di hadapannya tiba-tiba menunduk dan menyamakan posisi. Kepala surai putih keabuan masih menunduk, menyembunyikan senyumnya yang separuh tulus, penuh dengan resah berserah yang terserah. Perlahan ia rasakan sebuah telapak tangan bergesekan dengan punggung tangannya.

"Hyun... maaf aku tidak membicarakannya denganmu terlebih dulu."

Hyun kedengarannya terkekeh sedikit, "bicara yang jelas."

Raut gunung es di depannya menunjukan kecemasan yang mengkhawatirkan. "Apa kau masih tidak ingin menikah?"

Hanya helaan yang keluar sebagai jawaban untuknya.

"... aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya, tapi.." Jemarinya yang sudah bersentuhan dengan ujung-ujung kuku Jumin menunjukan gelagat yang gelisah, dan sulit diutarakan. Menarik nafas dengan berat jadi awalan, "aku tidak ingin menyakitimu lagi... juga, aku tidak ingin berseteru lagi denganmu karena kebodohanku."

"Kurasa... kalau kau ingin menikahiku... aku bisa menerimanya."

Detik kemudian adalah hening, raut mereka nampak tak berubah, baik ia yang biasa sulit mengubah ekspressinya, dan ia yang sudah sering bermain mimik.

"Aah! Aku merasa bodoh sekali mengatakan ini! Kenapa kau diam saja?!" Ia segera menarik tangannya dari sentuhan orang yang sedang berkomunikasi dengannya, sekaligus mematahkan suasana yang ada.

Jumin tersenyum tipis saja, namun menunjukan perasaan yang lega.. Namun perlahan berubah lalu ia terkekeh, "Kau mentertawaiku?!" Zen mulai spaning mode tsun-tsun.

"Aku anggap kau setuju," tambah lelaki posisi seme itu. Ia lalu berdiri, mengetahui urusannya sudah terselesaikan kemudian beranjak seakan akan menghilang.

Zen turut mengikuti pergerakan lawannya, berdiri, namun ia hanya menatap dan melihatnya dari jarak yang mulai bertambah. "Aku harus pergi dulu sekarang," kata Jumin.

"Baiklah," balas Zen, terlepas dari kedengarannya yang lesu atau kecewa.

Namun lelaki yang sudah rapi itu kembali dan berpaling kepadanya, dengan senyum yang tidak biasa. Yang ditangkap kecerdasan tsundere milik Zen adalah sinyal terancam yang keras. Tapi apa begitu berhadapan, ia hanya mencium keningnya, yang sedikit-sedikit diselimuti poni warna terangnya yang agak kacau. "Aku akan berhati-hati," sambung Jumin.

Zen ingin berucap, sekedar membalas, atau menunjukan gelagat-gelagat bahwa ia menganggapi dan merasakan itu... namun tidak, ia tetap mematung di tempatnya, membeku dengan panas yang masih menyengat di kedua sisi piki kiri dan kanannya.

Jumin terbiasa maju dengan rencana-rencana yang sudah dipikirkannya. Selama ini berlalu sangat sistematis dan terencana, namun selepas rujuknya dengan Zen ia tidak pernah membicarakan tentang masalah pernikahan yang sempat terabaikan. Mengucapkan dengan terus terang tentang niatnya menikahi Zen adalah hal yang tidak biasa baginya, tapi setelah mengetahui respon orang yang berkaitan itu positif, ia merasa lega dan bahagia.

Terlepas dari ayahnya.


Ketika ia sedang memutar-kan bolpen yang tidak murah itu ke atas kertas, ponselnya yang ia taruh di sebelah dokumen berdering halus. Segera saja ia menjawab.

"Hyun?"

"Halo, Jumin."

"Ada apa kau meneleponku?" Ia langsung saja ingin ke poin terpenting.

"Aku akan pergi kerumah sakit—"

"Baiklah, kau tunggu saja dulu dirumah, aku akan kesana." Ujarnya seraya melepaskan bolpen dari tangan.

"Tidak, aku akan pergi sendiri." Intonasinya terlepas dari kata pasrah, atau apapun. Terdengarnya biasa saja.

"Hyun... jangan membuatku memaksa." Ia mulai serius dengan telepon itu.

Zen di seberang sana tersenyum. "Menunggumu terlalu lama, aku bisa mati duluan." Jumin mendengar kalimatnya yang sarkas biasa, ia tahu ini hanya ala ala Zen. "Ini hanya gejala biasa yang sudah sering timbul... aku hanya ingin memeriksakan diri."

Mendengar kalimatnya yang naif seperti itu, membuat memori-memori lalu berputar, "Kau sudah divonis, Hyun."

Zen terdiam sementara, lalu menarik nafas, "Karena itulah aku akan memeriksakan diri kembali."

"Hyun, izinkan aku—"

"Selamat tinggal."" Telepon dimatikan terlebih dahulu, sebelum hal yang ingin dibicarakan terucap semua. Sarkas.

Ia masih menggenggam ponsel itu, dengan beberapa pikiran yang membekas. Benar juga bukan? Setelah hubungan membaik pun, Zen masih memiliki sesuatu yang menahun dan belum terselesaikan.

Bagai pedang bermata 2 baginya, dan bagi mereka. Ialah yang menabur dan harus merasa bersalah atas apa yang ia tuai, kenapa sakit itu harus muncul saat rentetan waktu ia sudah hadir dalam hidup Zen sebagai kekasih. Mungkin sebenarnya banyak faktor, tapi Jumin tetap menyalahkan dirinya. Sedang asik meratap dan merenung, telepon di atas mejanya berdering. Ia pencet saja langsung, mungkin ada kabar rapat atau perjanjian untuk bertemu.

"Jumin, aku minta kau ke ruanganku sekarang juga."

Terucap dalam 1 tarikan nafas, tanpa perlu pembantahan yang tidak diharapkan. Jelas... itu ayahnya sendri, ia cukup terkesan, baru kali ini ia menggunakan suaranya sendiri untuk memanggil anaknya.

Ia sudah dapat mengira sekaligus menebak, apa motivasi panggilan itu. Maka begitu ia menemui daun pintu yang akan menunjukannya kepada kejadian yang tak akan terlupakan olehnya, ia tanpa segan langsung menariknya.

Ayahnya sedang tidak melakukan apapun, kelihatannya bahwa ia benar-benar menunggu kedatangan putranya seorang. Duduk dengan rapi di kursi kantor. Dari rautnya yang selalu tegas, dan menyembunyikan kekolotan...

"..."

"Ada apa?" Jumin memulai pembicaraan.

"Kau tidak perlu mempertanyakannya lagi, kau pasti tahu apa tujuanku memanggilmu."

Ia diam saja, masih lebih dekat kepada pintu, tidak ada inisiatif untuk mendekati pembicara di hadapannya. "Jumin Han... apa kau segitunya membenci perempuan hingga berniat menikahi laki-laki?" katanya, lengkap dengan gelagat dan gestur kecewa. Lelaki itu lalu menatap seorang Jumin, yang teguh pada pendiriannya sendiri walau ditentang sejuta umat. "Apa yang kau pikirkan selama ini, hah?"

"Kalau kau masih ingin berbaikan dengan Sarah—"

"Tidak. aku tidak ingin berhubungan dengannya lagi," raut jengkel sekilas tampak darinya, sepasang alis yang mengkerut. "Semua ini bukan karenanya."

"Dia benar-benar menginginkanmu kau tahu?" Si orang tua leluasa memainkan gestur tangan, mengusap kening yang terlihat pusing.

Jangan lagi tentang perempuan.

"Aku tidak bercanda, ayah, saat kubilang akan menikahi Hyun." , "Aku serius, dia-lah yang ingin kupertemukan denganmu selama ini—"

Tiba-tiba berdiri, "KAU TAHU AKU TIDAK MENYUKAINYA KAN?!" Menohok, memotong kalimat yang tak dibiarkan selesai, "Apa kau pikir dengan ucapanmu aku akan setuju?!"

Walau wajahnya tidak pernah berubah, namun aura yang dingin dan mencekam bertambah darinya beberapa derajat. "Kurasa dugaanku memang benar, tak akan ada artinya aku memberitahukannya padamu." Lalu berbalik, ingin saja segera, kemanapun itu asal tidak berhadapan dengan ayahnya.

"Apa kau ingin menikahinya begitu saja tanpa persetujuanku?"

Ia diam, sebelum benar-benar menyentu daun pintu. "Jumin Han." Mulut lawan bicaranya berucap memanggil, bermaksud menghentikan.

"Ya, aku akan benar-benar menikahinya." Dengan sedikit menoleh

Terdengar helaan yang berat, lalu ia duduk kembali. "Kau tahu... kalau kau bukan anak laki-lakiku satu-satunya, dan kita tidak pernah terikat pertalian darah, akan mudah untuk mengabaikanmu begitu saja." Jumin belum merubah posisinya. "Jangan bertindak egois... kau masih membawa namaku dan segenap perusahaan"

"Lalu apa maumu?" Jumin dengan nada menantang.

"Kurasa kau sudah mengetahui yang mana yang sebaiknya yang kau lakukan dan tidak, aku tidak perlu menceramahimu lagi seperti kau masih bocah saja."

"Aku memberimu 2 pilihan. " Jumin melirik, sedikit saja lewat ekor mata. "Kalau kau memutuskan hubungan dengan laki-laki itu saat ini juga, di hadapanku, maka aku akan melupakan kejadian ini." , "tapi, kalau kau masih bersikeras ingin bersama laki-laki itu, menikahinya atau apapun..."

Ayahnya menatapnya lurus, dengan posisi duduk yang tidak segan dan tegas. Ia mengaitkan antar jemari tangan kiri dan kanan, menggenggam dan menyatukan bersama. Jumin hampir benar-benar acuh, ia tak menampakan wajah dan memilih berhadapan dengan pintu.

"Aku ingin kau mati."

"Aku ingin, kau mati secara tiba-tiba." Jumin tak berkutik, ia tak terkejut atau memberikan reaksi yang membatalkan pembangkangannya. "... Walau sebenarnya aku akan mengasingkanmu ke suatu tempat, aku tidak akan menganggapmu sebagai anggota keluargaku lagi, kau akan hidup dengan identitas baru." Jumin sudah malas mendengarnya, sungguh, demi apapun. Apalah arti kalimat panjang orang tua yang sebernarnya tidak akan mengubah makna dan pilihannya. "Dan aku akan mengambil seluruh aset milikmu, apapun itu yang dimiliki atas namamu. Kematianmu akan dipalsukan, dengan ini kuharap semua orang tahu kau telah lenyap."

"Tidak mungkin aku memutuskan hubungan dengannya."

Bapaknya mengangkat sebelah alis, "Jumin Han... sejak kapan kau bisa menentukan keputusan secepat ini?" Ia menarik nafas berat, ke mana didikannya kepada anak selama ini bermuara. "Aku tidak akan segan, kau mengatakannya sekarang, maka akan aku lakukan sekarang juga."

"Kalau begitu beri aku kesempatan untuk memberitahu Hyun."

Ia lalu benar-benar meninggalkan ruangan itu, atmosfer berubah menjadi sehening mungkin.

Berjalanlah ia menuju ke ruangannya kembali, setelah konfrontasi barusan... bukan dalam dugannya namun tidak diluar batas perkiraannya juga. Walau lagi-lagi tanpa perundingan dengan Zen terlebih dulu, ia tahu ia sedikit tergesa-gesa. kemana Jumin yang biasanya selalu memerhatikan hal baik dan buruk, dan tanpa negosiasi yang berarti, semuanya seolah bahwa ia benar-benar terbawa arus cintanya yang seperti opera sabun colek. Konsekuensinya mungkin lebih dari hanya mendengarnya saja, tapi tetap, kalau itu berkaitan dengan hubungannya pada Zen, tak akan ragu lagi ia. Dirinya juga paham, bahwa ayahnya adalah sosok yang sama keras kepalanya dengan dia.

Ia berusaha memasukannya ke dalam sistem dan membuat rencana ala Jumin seperti biasanya, kalimat ayahanda terdengar tegas, di bagaian ia seolah-olah tidak akan menunda dan akan mengusirnya sekarang juga. Yang terpenting ia tidak bisa berdiam diri lagi, kesepakatan sudah dibubuhi materai.

Ia mengambil ponselnya yang ia taruh di atas meja kerja, segera memanggil nomor yang dituju... ia masih berdiri, tanpa duduk sedikitpun, lalu mulai berjalan beberapa langkah dengan ponsel masih ditelinga, cukup lama hingga ia hampir mengitari setengah ruangan. "Hyun... kenapa tidak diangkat teleponnya...?"


Tbc.


Makasih banget udah baca ff ini sampe chapter 14, ga berasa bakal sejauh ini. Yang baca chapter 14 doang atau baru ngikutin juga gapapa kok, kalian luar biasa. Sampai ketemu di chapter selanjutnya.