Baekhyun berlari tergesa-gesa begitu lift membawa dirinya ke lantai lima. Raut kekhawatiran jelas terlihat di wajah cantiknya, sangat kontras dengan debaran jantungnya yang tak berdetak normal semejak ia mendapatkan telepon dari Tiffany. Wanita cantik itu memberitahu Baekhyun bahwa Chanyeol masuk RS St. Maria setelah kejadian gas meledak di restoran dekat toko pastry tempatnya bekerja. Pria mungil itu tak berhenti berdoa selama perjalanannya ke RS agar Chanyeol baik-baik saja. Namun ketika jaraknya dengan kamar inap Chanyeol sudah dekat, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya. Matanya melihat sosok yang tak asing berdiri tepat di depan kamar inap tersebut. Itu seorang pria paruh baya. Pria itu sedang bicara dengan seorang dokter. Dahi Baekhyun berkerut. Mata sipitnya semakin sipit karena ia memicingkan matanya guna menilik si pemilik bahu tegap itu. Pria paruh baya itu memang membelakangi Baekhyun, tapi ia yakin ia mengenal pria itu. Pria mungil itupun memutuskan untuk mendekat setelah napasnya mulai teratur kembali.
Semakin dekat.
Dan semakin dekat.
Baekhyun membulatkan matanya ketika paras pria paruh baya tersebut terlihat setelah dokter pergi dari sana. Napas pria mungil itu bahkan tertahan tatkala maniknya bertemu manik pria paruh baya tersebut. Tak hanya Baekhyun, pria paruh baya itu –yang tak lain adalah Tuan Park– juga sama terkejutnya dengan Baekhyun. Namun bedanya, air muka Tuan Park berubah cepat menjadi amarah tiga detik setelahnya.
"Kau..," desis Tuan Park, "Apa yang kau lakukan disini?"
"S–saya.." Baekhyun terbata. Ia masih bingung dengan kehadiran Tuan Park, namun pria mungil itu masih ingat sopan santun dimana ia harus menyapa pria paruh baya itu terlebih dahulu. Jadi, Baekhyun-pun membungkuk sopan, kemudian ia kembali menatap mata Tuan Park. Namun belum sempat satu kata terlontar dari mulut Baekhyun, pria paruh baya di hadapannya menyela dengan cepat.
"Pergi." Satu tatapan tajam penuh dengan kebencian terpancar dari mata Tuan Park. "Jangan dekati anakku lagi, dasar gay menjijikkan."
Baekhyun mematung setelahnya dengan dada yang terasa sakit.
.
.
.
###
LIES IN BETWEEN
Chapter 13 – The Rough Patch
Main Casts : Byun Baekhyun & Park Chanyeol
Support Casts : Kim Jiwon, Park Yoora, Wu Kris
Genre : Romance, Drama
Rate : M
Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy
Note: Chapter ini adalah salah satu chap paling emosional di FF ini, saya rasa. Chapter ini menceritakan bagaimana perjuangan Baekhyun untuk mendapatkan Chanyeol dengan berseteru dengan keluarga Park. Well, seperti yang kalian –dan saya– inginkan, Baekhyun juga harus berkorban demi Chanyeol. So, check it out.
###
.
.
.
"Chanyeol..bagaimana keadaannya?" tanya Baekhyun setelah menelan ludahnya susah payah.
"Kau tidak dengar? Kubilang pergi." Tuan Park menegaskan sekali lagi, namun Baekhyun masih bergeming di tempatnya. Pria mungil itu justru mendekati Tuan Park, mengacuhkan fakta bahwa pria di hadapannya telah melukai harga dirinya. Meskipun ucapan Tuan Park begitu menyakitinya, tapi kekhawatirannya terhadap Chanyeol justru lebih mendominasi. Ia masih belum tahu keadaan Chanyeol dan ia ingin tahu sekarang.
"Apa Chanyeol baik-baik saja?"
Tuan Park menatap tajam Baekhyun. "Kau tuli, hah?"
"S–saya hanya–"
"Kau hanya merusak anakku saja. Seandainya dia tidak bertemu denganmu, seandainya kau tidak muncul dalam kehidupannya, Chanyeol tidak akan menjadi pembangkang seperti sekarang. Kaulah penyebab semua ini. Kau pengaruh buruk untuk Chanyeol!" maki Tuan Park dengan suara tinggi, menyebabkan beberapa orang di sekitar mereka memerhatikan mereka. "Pergi. Jangan tunjukkan wajahmu lagi di hadapan keluargaku."
Baekhyun merasa jantungnya seperti diremas begitu kuat sampai membuatnya kesulitan untuk bernapas. Seumur hidup ia tidak pernah merasa dihina sampai sebegitunya oleh seseorang, tapi entah kenapa ia tidak peduli. Hanya ada Chanyeol dalam benaknya. Baekhyun ingin sekali melihat keadaan Chanyeol, tapi melihat amarah Tuan Park yang tidak stabil, Baekhyun sadar bahwa ini bukan waktu yang tepat. Melawannya hanya akan memperkeruh keadaan. Jadi, Baekhyun-pun membungkukkan badannya sebelum akhirnya berjalan lesu meninggalkan RS. Begitu sosok Baekhyun tak terlihat oleh pandangannya, Tuan Park terduduk di kursi depan kamar inap Chanyeol. Kepalanya menunduk dengan guratan kekesalan juga kekhawatiran yang kentara. Semua ini terjadi di luar kendalinya. Tuan Park ingin sekali menyalahkan Baekhyun atas semua ini, tapi sebagian dari dirinya berpikir bahwa ini juga salahnya. Namun entah kenapa, ia tidak menyesal melakukan itu pada Baekhyun. Pria mungil itu harus menjauh dari anaknya, jika perlu menghilang dari kehidupan keluarganya. Pria paruh baya itu tidak bisa membayangkan hal yang lebih buruk dari ini terjadi pada putra satu-satunya.
.
.
Baekhyun mengedarkan pandangannya untuk memastikan Tuan Park tidak ada disana. Ya, pria mungil itu kembali lagi ke RS St. Maria di malam hari. Well, ia tidak bisa berdiam diri di apartemennya sementara tunangannya baru saja mengalami kecelakaan dan ia bahkan belum tahu keadaannya. Baekhyun sudah memikirkan ini saat ia diusir oleh Tuan Park tadi siang. Ia akan melihat keadaan Chanyeol di malam hari, setelah Tuan Park terlelap. Dengan begitu, ia bisa menjaga Chanyeol tanpa sepengetahuan Tuan Park.
Baekhyun menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya. Iapun kemudian berjalan melewati lorong RS yang nampak sepi, menuju kamar inap Chanyeol. Tidak ada siapa-siapa disana. Mata Baekhyun mengintip ke dalam kamar inap Chanyeol melalui kaca pintu dan ia menemukan Tuan Park terlelap di sofa di dalam kamar tersebut. Pandangannya beralih pada pria yang sedang terbaring di atas ranjang. Itu Chanyeol. Pria mungil itu menutup mulutnya menyadari bahwa keadaan pria yang dicintainya tidaklah baik-baik saja. Tangannya terpasang selang infus, wajahnya terbungkus perban, dan di mulut juga hidungnya terpasang alat pernapasan untuk membantunya bernapas dengan benar. Melihat keadaan naas pria tinggi itu, membuat hati Baekhyun begitu sakit. Rasanya seperti diiris banyak pisau atau mungkin lebih buruk dari itu. Namun yang pasti Baekhyun tidak tahan melihatnya dan itu membuat airmatanya jatuh begitu saja tanpa dikomando.
"Ya Tuhan.." Baekhyun terisak. "Chanyeol-ah.."
Baekhyun hampir saja membuka kenop pintu kamar inap itu untuk masuk ke dalam sana, tapi sebuah suara di belakangnya menghentikannya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Baekhyun membalikkan badannya dan ia menemukan Jiwon berdiri disana, menatapnya begitu tajam. Wanita cantik itu mendekati Baekhyun perlahan. "Beraninya kau datang kemari, hah?"
Baekhyun masih bergeming. Ia menghapus airmatanya kasar, kemudian berkata, "Aku hanya ingin tahu keadaan Chanyeol."
"Kau peduli padanya?" Jiwon bertanya sarkastis. "Kalau kau peduli padanya, jauhi dia. Jangan mendekatinya lagi. Pergi dari kehidupannya, selamanya."
Tangan Baekhyun mengepal sempurna, menahan emosi dalam dadanya. Ia tidak ingin meladeni Jiwon, karena itu ia tekan kuat-kuat amarahnya.
"Cepat pergi sebelum kupanggil security." ancam Jiwon, dan Baekhyun tahu wanita itu bersungguh-sungguh. Baekhyun menoleh sebentar ke arah Chanyeol dengan pandangan khawatir sebelum akhirnya kembali menatap Jiwon. Wanita itu masih menatapnya penuh kebencian. Sepertinya Baekhyun harus mengalah lagi. Ia berpikir untuk menjenguk Chanyeol lagi besok. Baekhyun-pun menghela napas panjang, kemudian berjalan menjauhi kamar inap itu. Tanpa diketahui Baekhyun, Jiwon masih menatap punggungnya penuh dengan sorot kebencian.
"Dan jangan pernah kembali."
Baekhyun sontak menghentikan langkahnya.
"Jangan datang menjenguknya lagi. Jangan temui Chanyeol lagi. Jangan peduli pada Chanyeol lagi."
Itu sebuah ancaman dalam perintah, Baekhyun tahu itu. Jiwon berpikir Baekhyun akan menuruti perintahnya lagi, tapi wanita cantik itu salah besar. Pria mungil itu justru membalikkan badannya dan menatap lurus tepat di mata Jiwon.
"Aku tidak mau."
Satu kalimat yang keluar dari mulut Baekhyun berhasil membuat Jiwon melotot.
"Aku mencintai Chanyeol. Apapun yang kau lakukan padaku, entah itu mengancam atau apapun, aku akan selalu peduli pada Chanyeol." Baekhyun tersenyum tulus. "Jadi, aku akan terus menjenguknya sampai ia sadar."
Jiwon mengeraskan rahangnya juga mengepalkan kedua tangannya sebagai bentuk pertahanan amarah, namun itu membuat jantungnya berpacu cepat karena menahannya. Baekhyun memutuskan kontak mata duluan dengan Jiwon setelah beberapa detik keheningan di lorong RS itu.
"Sialan kau, Byun Baekhyun." desis Jiwon. Matanya yang tajam itu tak lepas dari punggung Baekhyun sampai pria mungil itu menghilang di tikungan.
###
Yoora dan Nyonya Park langsung pergi menuju RS St. Maria ketika pesawat yang mereka tumpangi membawa mereka ke Swiss. Mereka mendapatkan kabar buruk yang menimpa Chanyeol kemarin, dan langsung mengambil penerbangan tercepat ke Swiss. Sepanjang perjalanan, rasa takut juga khawatir terus membayangi keduanya hanya dengan memikirkan keadaan Chanyeol saja. Namun apa yang dirasakan Nyonya Park sedikit berbeda dengan yang dirasakan Yoora. Jika wanita paruh baya itu hanya mengkhawtirkan keadaan Chanyeol, maka Yoora mengkhawatirkan keadaan adiknya juga Baekhyun. Well, jika yang memberitahukan berita buruk itu bukanlah Abeoji-nya sendiri, mungkin Yoora hanya akan mengkhawatirkan keadaan Chanyeol saja, tapi ini berbeda. Tuan Park sendiri yang memberitahukan hal tersebut. Yoora tidak tahu bagaimana caranya Tuan Park bisa berada di Swiss dan menemukan Chanyeol disana, tapi yang pasti Yoora sangat berharap Tuan Park belum mengetahui keberadaan Baekhyun.
Tapi sepertinya Tuhan belum berbaik hati untuk mengabulkan keinginan Yoora.
Suara teriakan seorang pria paruh baya menyeruak ketika Yoora dan Nyonya Park baru saja sampai di lantai lima RS St. Maria dimana Chanyeol dirawat. Kedua wanita itu tahu pasti siapa pemilik suara tersebut. Itu suara Tuan Park. Yoora tidak tahu kenapa, tapi dari intonasi Tuan Park, wanita cantik itu tahu Tuan Park sedang bicara dengan siapa. Itu menghasilkan sebuah firasat buruk di diri Yoora. Maka Yoora-pun segera berlari menuju asal suara, yang juga disusul oleh Nyonya Park di belakangnya. Dan benar saja. Mata bulat Yoora yang cantik itu membulat sempurna ketika menemukan Tuan Park tengah melayangkan tangannya untuk menampar sosok pria mungil di hadapannya. Itu Baekhyun. Tidak perlu berpikir dua kali bagi Yoora untuk segera menghentikan tindakan Abeoji-nya itu.
"ABEOJI, HENTIKAN!" Yoora berteriak, tepat sebelum telapak tangan Tuan Park menyentuh pipi Baekhyun. Tidak hanya pria paruh baya itu yang menoleh ke arah Yoora, Baekhyun dan Jiwon yang berada disanapun ikut menoleh ke arahnya. Yoora menatap geram Tuan Park seraya mendekati pria paruh baya itu yang juga tengah menatapnya geram. "Apa yang hendak Abeoji lakukan?" Yoora berbalik pada Baekhyun. Tatapannya berubah menjadi menjadi raut kecemasan. "Kau tidak apa-apa, Baek?"
"N–Noona? Bagaimana–"
"Kita berdua perlu bicara." Tuan Park memotong ucapan Baekhyun, membuat Yoora dan Baekhyun menoleh ke arah pria paruh baya itu. "Kau berhutang banyak penjelasan, Nona muda." tandasnya seraya menarik tangan Yoora ke tempat lain. Pria paruh baya itu tidak memedulikan rintihan Yoora ataupun rengekannya yang memintanya untuk melepaskan tangannya. Ia terus menarik anak sulungnya itu menuju tempat sepi dimana ia bisa bicara empat mata dengan putrinya.
Sepeninggalnya Tuan Park dan Yoora di depan kamar inap Chanyeol, keadaan menjadi hening seketika. Jiwon yang sedari tadi terdiam menyaksikan keributan antara Tuan Park dan Baekhyun, akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar inap Chanyeol setelah sebelumnya membungkuk sopan pada Nyonya Park. Sebuah tatapan tajam Jiwon layangkan pada Baekhyun ketika ia melewati pria mungil itu, namun yang bisa Baekhyun lakukan hanyalah terdiam. Mata sipit Baekhyun bersirobok dengan mata teduh Nyonya Park. Baekhyun masih tahu sopan santun, jadi ia bungkukkan badannya untuk memberikan salam pada Eomma-nya Chanyeol.
"Namamu Baekhyun'kan?" tanya Nyonya Park dengan intonasi datar.
Baekhyun mengangguk cepat menjawabnya. "Ya. Nama saya Byun Baekhyun."
Sebuah helaan napas terdengar oleh pria mungil itu. Ketika Baekhyun menatap wajah Nyonya Park, ia bisa menangkap banyak emosi disana, namun yang paling mendominasi adalah kesedihan.
"Seharusnya kau tak datang kemari, Baekhyun." ucap Nyonya Park. Intonasinya memang datar, tapi wajah dengan sedikit keriput itu menunjukkan rasa iba. Dan Baekhyun tahu itu ditujukan kepadanya. Pria mungil itu sempat tersentak ketika tangan lembut Nyonya Park mengelus pipinya dengan lembut. "Pulanglah. Kami akan menjaga Chanyeol."
Baekhyun tidak bisa berkata apapun untuk menjawabnya. Tenggorokannya terasa sakit seolah ada sesuatu yang tersangkut di dalamnya. Ia masih khawatir pada Chanyeol dan ingin menjenguknya, tapi sorot mata Nyonya Park meyakinkannya bahwa ia bisa mempercayakan semuanya pada wanita paruh baya itu. Maka Baekhyun-pun mengangguk pasrah, kemudian menuntun kaki-kakinya untuk menjauh dari kamar inap tersebut. Namun yang tidak diketahui oleh pria mungil yang tengah menundukkan kepalanya itu, Nyonya Park menghembuskan napasnya yang terasa berat dan disertai tatapan yang tak bisa diterjemahkan sama sekali.
.
.
Tuan Park menghempaskan tangan Yoora ketika mereka berada di salah satu sudut lorong RS yang sepi, kemudian menatap putrinya dengan tatapan yang mengintimidasi. Namun bukannya takut, wanita cantik itu justru menatap sengit Abeoji-nya sendiri.
"Ada yang ingin kau jelaskan padaku, Nona muda?" Sambil melipat kedua tangannya di depan dada, Tuan Park-pun bertanya pada putrinya.
Yoora menghembuskan napas panjang seraya menatap ke arah lain. Ia sungguh tidak ingin berdebat dengan Abeoji-nya, setidaknya untuk saat ini. "Aku datang kemari untuk menjenguk Chanyeol, Abeoji."
"Tidak sebelum kau menjelaskan semua ini." Tuan Park menahan lengan Yoora tepat sebelum anaknya itu menghindarinya.
Yoora menatap lelah Tuan Park. "Apa lagi yang ingin Abeoji ketahui? Aku yakin Abeoji sudah tahu semuanya."
"Jaga sikapmu, Park Yoora! Aku tidak mengajarkanmu untuk menjadi anak kurang ajar pada orangtua!" hardik Tuan Park. "Katakan sekarang juga. Apa kau di balik semua ini? Kau yang menyembunyikan Chanyeol bersama gay menjijikan itu?"
"Namanya Baekhyun, Abeoji. Dan Abeoji tidak memiliki hak untuk menghinanya seperti itu." balas Yoora.
"Aku tidak peduli! Yang ingin aku tahu adalah kenapa kau justru menyembunyikan keberadaan adikmu dan membantunya melarikan diri? Terlebih lagi dengan gay menjijikan itu!"
Yoora menatap kesal Tuan Park. "Berhenti mengatai Baekhyun seperti itu, Abeoji! Dia juga manusia seperti kita! Apa Abeoji memikirkan perasaannya ketika mengatainya seperti itu?!"
"Kenapa aku harus peduli padanya, hah?! Dia merusak anakku, merusak adikmu sendiri! Kenapa kau malah membela gay itu, hah?!"
"KARENA ITU SAMA SAJA DENGAN MENGHINA CHANYEOL!" Yoora berteriak frustasi. Airmatanya menggenang di pelupuk matanya, menatap manik Tuan Park dengan tatapan memelas. "Apa Abeoji lupa? Chanyeol juga seorang gay, sama seperti Baekhyun. Mereka saling mencintai, Abeoji. Kenapa Abeoji belum mengerti juga?"
Tuan Park menatap dingin putrinya, seolah tak peduli sama sekali dengan ucapan Yoora barusan. "Aku tak pernah mengajari kalian untuk menjadi pembangkang. Chanyeol menjadi seorang pembangkang setelah bertemu si Byun itu dan aku tidak akan membiarkannya terjatuh lebih dalam. Aku akan membawanya kembali, menunjukkan bahwa ia telah mengambil jalan yang salah, dan–"
"Kenapa Abeoji tak bisa membiarkannya bahagia dengan pilihannya sendiri?" Yoora setengah memelas-setengah frustasi. "Chanyeol tidak akan bahagia jika dipisahkan dengan Baekhyun, Abeoji. Kumohon, mengertilah.."
Terdiam, Tuan Park sepertinya tidak melunakkan hatinya hanya karena ucapan Yoora. Pria paruh baya itu masih teguh pada pendiriannya sendiri. Itu terlihat jelas dari sorot matanya yang dingin. Maka Tuan Park-pun mengeluarkan suaranya. "Kau tidak mengerti posisiku, Yoora. Aku adalah orangtua kalian. Orangtua macam apa yang mau melihat anaknya menyimpang dan menjadi pembangkang seperti itu? Aku hanya ingin kalian bahagia. Aku tahu apa yang terbaik untuk kalian. Karenanya, jangan ikut campur."
Keheningan kembali terjadi. Baik sang anak maupun sang Ayah, kelihatannya tidak mau mengalah satu sama lain. Mereka masih saling menatap sengit, guna memperjuangkan suara masing-masing melalui tatapan itu. Namun keheningan itu tak berlangsung lama. Suara Yoora-lah yang memecahkan keheningan tersebut.
"Tidak." Yoora membantah dengan ketegasan dari intonasi suaranya. "Justru Abeoji-lah yang tidak mengerti posisi kami."
Penuturan itu sontak membuat mata Tuan Park membulat penuh amarah. Tangannyapun mengepal kuat, guna menahan emosinya. "Apa maksud ucapanmu itu, hah?" desisnya.
"Abeoji tak pernah memahami perasaan kami, terutama Chanyeol." Yoora menundukkan kepalanya ketika airmatanya turun membasahi pipi putihnya. "Chanyeol..dia tidak pernah egois. Ia selalu menuruti semua perkataan Abeoji, sekalipun ia tidak menyukainya. Aku menganggapnya bodoh, tapi aku tahu Chanyeol sangat menyayangi Abeoji, karena itulah ia tetap menuruti semua keinginan Abeoji. Namun selama aku mengenalnya, aku tidak pernah melihatnya begitu ingin memperjuangkan seseorang yang tidak direstui oleh Abeoji. Abeoji mungkin menangkapnya secara negatif, tapi jika Abeoji mau mengerti posisi Chanyeol, itu tidak seburuk yang Abeoji pikirkan." Yoora menatap sendu mata kelam Tuan Park seraya menggenggam tangan Abeoji-nya. "Chanyeol bukan robot, Abeoji, ataupun benda yang bisa Abeoji kendalikan setiap waktu. Chanyeol memang seorang gay, tapi ia tetaplah anak Abeoji yang juga seorang manusia. Ia juga memiliki perasaan dan batas kesabaran. Karena itu, tolong mengertilah posisi Chan–"
"Tidak." Tuan Park memotong dengan dinginnya. Ia melepaskan genggaman tangan Yoora dengan kasar, membuat putrinya tersentak. "Aku tidak akan membiarkan anakku menjadi seorang gay atau seorang pembangkang." Kemudian pergi meninggalkan Yoora yang terdiam di tempatnya berpijak.
###
Mata Yoora menangkap sosok yang tak asing ketika ia baru saja masuk ke lobi RS St. Maria. Dahinya berkerut. Wanita cantik itupun memicingkan matanya untuk memastikan sosok yang berdiri di depan lift itu adalah orang yang tengah ia pikirkan saat ini. Dan ternyata ia benar. Itu adalah Baekhyun. Yoora sedikit berlari ketika melihat Baekhyun hendak masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka. Baekhyun tidak menyadari kehadiran Yoora sampai wanita itu menahan pintu lift yang hampir menutup.
"Noona?" Baekhyun terlihat terkejut.
"Kau akan menjenguk Chanyeol?" Yoora tak mengindahkan keterkejutan Baekhyun, justru menanyakan hal yang ia curigai sedari tadi.
"Ya, ada apa?"
Yoora sudah menduga hal ini. Jadi dengan cepat, ia tarik tangan Baekhyun untuk keluar dari lift. Pria mungil itu terkejut tentu saja. Ia terus bertanya pada wanita yang lebih tua darinya kemana ia akan dibawa, tapi Yoora tak menjawabnya dan terus menariknya menuju sebuah café yang tak jauh dari RS St. Maria. Dan kini mereka tengah duduk berhadapan di salah satu meja di dalam café.
"Dengar, Baekhyun-ah," Yoora memulai percakapan setelah pelayan café mengantarkan pesanan minuman mereka, "Aku paham benar bahwa kau khawatir pada Chanyeol, tapi menjenguknya di saat orangtuaku berada disana juga bukan ide yang bagus. Kemarin saja kau hampir ditampar oleh Abeoji-ku. Kau seharusnya lebih waspada, Baek."
Baekhyun menghembuskan napas panjang. "Aku tahu itu, Noona. Hanya saja..," Pria mungil itu menelan ludahnya susah payah, "Aku tak tahu kapan waktu yang tepat untuk menjenguk Chanyeol karena Tuan Park dan Jiwon selalu berada disana sampai malam. Aku tidak bisa berdiam diri untuk menunggu waktu yang tepat."
Kali ini, Yoora yang menghembuskan napasnya. Well, pria mungil itu ada benarnya. Sekalipun Tuan Park tidak ada disana untuk menjaga Chanyeol, Jiwon pasti datang untuk menggantikannya. Meskipun Jiwon adalah seorang wanita, tapi Yoora tahu benar sifat Jiwon. Teman sejak kecil Chanyeol itu pintar, dan Yoora yakin Jiwon memiliki banyak cara untuk menghalangi Baekhyun agar tidak bertemu dengan Chanyeol. Belum lagi kemungkinan terburuk dimana Jiwon akan melaporkan kehadiran Baekhyun yang ketahuan menjenguk Chanyeol diam-diam pada Tuan Park. Abeoji-nya itu pasti akan melakukan sesuatu yang gila, termasuk menyewa security untuk berjaga di depan kamar inap Chanyeol selama dua puluh empat jam sehari. Hal itu hanya akan menyulitkan akses Baekhyun untuk bertemu dengan Chanyeol.
"Maafkan aku, Noona.." Baekhyun tiba-tiba meleburkan lamunan Yoora. "Aku tidak tahu bagaimana caranya Tuan Park bisa menemukan Chanyeol. Aku sendiri baru bertemu beliau di RS ini."
Dahi Yoora berkerut sebagai pertanda bingung. "Lalu, untuk apa permintaan maaf itu?"
"Well, aku tahu Noona sudah berusaha untuk menyembunyikan kami disini, jadi–"
"Astaga, Baek, kau mengkhawatirkan hal itu?" tanya Yoora tak percaya. Baekhyun menatap Yoora antara terkejut dan bingung. Namun wanita yang lebih tua darinya itu memberikan senyuman manisnya agar pria yang lebih muda bisa lebih tenang. "Kau tak perlu mengkhawatirkan hal itu, oke? Sepertinya Abeoji mengetahui keberadaan Chanyeol karena kecerobohanku sendiri, jadi kau tak perlu merasa tidak enak padaku."
Baekhyun tersenyum lega. "Terima kasih, Noona."
Yoora tersenyum tipis. "Sudahlah. Yang terpenting saat ini adalah menemukan waktu yang tepat agar kau bisa menjenguk Chanyeol."
"Oh ya, bagaimana keadaannya? Sudah ada kemajuan? Apa dia sudah sadar?" tanya Baekhyun beruntun. Mimik kekhawatiran tergambar jelas di wajah manisnya.
Yoora menggeleng pelan. "Masih sama seperti kemarin."
Raut kekhawatiran Baekhyun semakin terlihat jelas. Pria mungil itu menggigit bibir bawahnya dengan kepala menunduk. Yoora tidak tahu apa yang tengah Baekhyun pikirkan saat ini, tapi mengesampingkan hal itu, ia penasaran akan satu hal.
"Kalian benar-benar sudah bertunangan?"
"Ne?" Baekhyun mendongak dengan raut terkejut. Pipinya agak merona. Melihat perubahan warna di pipi Baekhyun, Yoora tahu apa jawaban dari pertanyaannya, dan itu membuatnya tersenyum senang.
"Woah~ selamat ya!" seru Yoora, membuat pria mungil itu terkekeh seraya menggaruk tengkuknya kikuk. Ia tiba-tiba teringat pada acara lamaran Chanyeol beberapa hari yang lalu. Well, itu benar-benar lamaran yang romantis dan tak terlupakan. Namun tak lama kemudian, bibir Baekhyun yang tadinya membentuk senyuman, kini melengkung ke bawah karena teringat keadaan tunangannya saat ini. Melihat perubahan raut muka Baekhyun, Yoora tahu apa yang tengah dipikirkannya.
"Chanyeol akan baik-baik saja." Yoora menggenggam tangan Baekhyun seraya tersenyum tulus. "Aku janji."
Baekhyun tak tahu harus berkata apa lagi. Hatinya terenyuh karena penuturan wanita di hadapannya ini. Walaubagaimanapun, ia sungguh berterima kasih pada Yoora yang sudah ia anggap seperti Noona-nya sendiri. Setelah pelariannya dengan Chanyeol ke Swiss, Yoora banyak membantu mereka untuk bersembunyi disana. Tanpa bantuan Yoora, entah apa yang terjadi pada mereka. Mengingat hal itu, membuat dada Baekhyun terasa sesak dan menciptakan genangan airmata di pelupuk matanya.
"Terima kasih banyak, Noona.." Baekhyun mengelus pelan tangan Yoora.
"Itu ucapan terima kasihmu yang ke-berapa hari ini?"
Baekhyun terkekeh karena candaan itu. Pria mungil itu menghapus airmatanya, kemudian berkata, "Kurasa aku tidak akan pernah berhenti mengatakan 'terima kasih' padamu."
Yoora tersenyum karenanya. Ia sungguh menyayangi Baekhyun, sama seperti ia menyayangi adiknya sendiri. Sejujurnya,Yoora sungguh takjub pada pria mungil itu. Walaubagaimanapun, Baekhyun adalah sosok yang telah membuat banyak perubahan di diri adiknya yang kaku itu. Chanyeol jadi lebih sering tersenyum, bahkan berani mengutarakan apa yang ia inginkan untuk hidupnya. Tidak seperti Tuan Park dan beberapa orang yang menentang hubungan ChanBaek, Yoora justru melihat ini semua sebagai perubahan yang positif. Yoora sempat berpikir Chanyeol tak akan pernah berubah dan terus menjadi boneka orangtua mereka, tapi ternyata tidak. Adiknya itu bahkan dengan lantang mengatakan bahwa ia adalah seorang gay dan ingin hidup bersama dengan pilihan hatinya. Yoora benar-benar bangga pada Baekhyun dan Chanyeol.
"Oke, lalu tentang waktu jengukmu..," Yoora berpikir sejenak, "Kupikir aku tahu kapan waktu yang tepat."
Mata Baekhyun berbinar mendengarnya. "Benarkah?"
###
Pintu lift RS St. Maria baru saja terbuka di lantai lima. Nampak seorang pria bermata sipit keluar dari sana. Itu Baekhyun. Pria mungil itu sempat melirik sekelilingnya sebelum akhirnya keluar dari lift. Lorong RS itu terlihat sepi. Well, itu wajar karena waktu baru menunjukkan pukul lima pagi. Langit di luar bahkan masih agak gelap. Jika kalian bertanya apa yang tengah Baekhyun lakukan di jam seperti ini di RS St. Maria, maka jawabannya adalah menjenguk Chanyeol. Ya, Yoora menyarankan Baekhyun untuk datang saat dini hari jika ia ingin menjenguk Chanyeol. Setahu Yoora, orangtuanya dan Jiwon akan berada disana sekitar pukul delapan pagi sampai tengah malam. Jadi, ia berpikir waktu yang tepat bagi Baekhyun untuk menjenguk Chanyeol adalah sebelum pukul delapan pagi. Untuk berjaga-jaga, Yoora meminta Baekhyun datang ke RS pukul lima pagi sehingga ia memiliki banyak waktu untuk berduaan dengan Chanyeol tanpa perlu merasa was-was.
Baekhyun menghembuskan napas lega karena ternyata perhitungan Yoora benar. Tidak ada siapapun disana di jam seperti ini. Kamar inap Chanyeol terlihat sepi, bahkan ketika Baekhyun mengintip ke dalamnya, ia tak menemukan siapapun disana kecuali Chanyeol. Pria mungil itupun masuk ke dalam kamar inap tersebut, dan menutup pintunya teramat pelan. Hatinya kembali terkoyak karena melihat Chanyeol yang belum menunjukkan perubahan signifikan semenjak terakhir kali ia melihatnya. Tunangannya itu masih terbaring lemah di atas ranjang dengan mata tertutup dan alat bantu pernapasan di sekitar mulut juga hidungnya. Mata Baekhyun tak hentinya menatap Chanyeol. Semakin lama ia menatap pria yang dicintainya itu, semakin sakit dadanya. Sebenarnya ia masih tak bisa mempercayai kejadian buruk yang menimpa Chanyeol. Ini bagai mimpi buruk. Tidak. Bahkan di dalam mimpi sekalipun, Baekhyun tak pernah melihat Chanyeol terbaring di RS seperti ini.
"Chanyeol-ah.." Kaki-kaki Baekhyun berhenti tepat di samping ranjang tersebut. Ia mendudukkan dirinya di sebuah kursi di dekat ranjang tanpa melepaskan pandangannya dari Chanyeol. Pria mungil itu tak bisa menahan airmatanya untuk tidak menggenang di pelupuk matanya. Karena sekuat apapun Baekhyun berusaha menahannya, pada akhirnya mereka akan keluar. Airmata-airmata itu keluar tentu karena sebuah alasan yang kuat. Itu karena Chanyeol.
Hening.
Dalam keheningan itu, yang dilakukan Baekhyun hanyalah menggenggam tangan Chanyeol dengan airmata yang membasahi pipinya. Dan Baekhyun tersadar. Ketika ia menggenggam tangan Chanyeol yang terbaring di atas ranjang, ini semua bukanlah mimpi buruk. Ini semua nyata. Lagi-lagi ini membuat dadanya terasa sakit. Di satu sisi, Baekhyun bersyukur Chanyeol masih bisa diselamatkan dari musibah itu. Namun di sisi yang lain, Baekhyun takut Chanyeol tak akan pernah membuka matanya karena keadaannya yang kritis itu. Bukannya pesimis atau apapun, tapi firasat Baekhyun mengatakan bahwa Chanyeol tidak akan membuka matanya dalam waktu yang dekat. Firasat Baekhyun biasanya tidak salah, namun pria mungil itu sungguh berharap firasatnya itu salah besar kali ini.
"Kapan kau akan membuka matamu, Yeol?" Baekhyun bertanya dengan suara bergetar. Tersirat ketakutan dalam suaranya yang lirih itu. Baekhyun sungguh ingin menyembunyikannya, tapi ia tak bisa. Setelah kematian orangtuanya, Baekhyun jadi sensitif terhadap orang yang ia sayangi. Ia jadi mudah ketakutan jika orang yang ia sayangi mengalami kecelakaan. Ia takut kehilangan orang yang ia sayangi lagi.
"Kumohon, bukalah matamu. Katakan kau baik-baik saja, dan kita bisa menghadapi semua ini bersama-sama..," Baekhyun terisak, "Kumohon, jangan tinggalkan aku, Yeol.."
Dan untuk beberapa menit ke depan, airmata Baekhyun tak kunjung berhenti.
###
Jiwon melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya ketika ia memasuki lobi RS St. Maria. Itu menunjukkan pukul delapan pagi. Seperti biasa, teman sejak kecil Chanyeol itu datang kesana untuk menjenguk pria tinggi itu. Sudah seminggu lebih Chanyeol dirawat disana dan ia masih dalam keadaan koma. Ini cukup memprihatinkan sebenarnya. Karena keadaannya ini, Chanyeol harus dirawat di Swiss setidaknya sampai ia sadar sebelum dirawat di Korea Selatan, begitulah kata dokter. Mengingat hal itu, Jiwon jadi merasa sedih. Jujur, ia masih sakit hati karena ditinggalkan Chanyeol di hari pertunangan mereka. Tapi wanita cantik itu tak bisa memungkiri hatinya sendiri bahwa ia masih mencintai Chanyeol. Jadi ketika Tuan Park memberitahukan keberadaan Chanyeol juga musibah yang menimpanya di Swiss, Jiwon-pun segera pergi menyusul kesana.
TING.
Jiwon segera memfokuskan pikirannya ketika pintu lift di hadapannya telah terbuka. Ia sudah berada di lantai lima, dimana Chanyeol dirawat di salah satu kamar inap di ujung lorong. Wanita cantik itu kemudian memperbaiki letak tas di bahunya, kemudian berjalan keluar lift. Jiwon sudah hampir sampai di kamar inap Chanyeol ketika matanya menangkap sosok seorang suster keluar dari sana. Suster yang membawa buku catatan kesehatan itu menghentikan langkahnya, kemudian tersenyum ramah pada Jiwon, yang juga dibalas senyuman simpul oleh Jiwon. Sepertinya suster itu baru saja mengecek keadaan Chanyeol di dalam sana.
"Selamat pagi." sapa suster itu ramah dalam bahasa Inggris. "Anda datang untuk menjenguk Tuan Park Chanyeol?"
Jiwon mengangguk pelan. "Ya. Hari ini, saya datang sendiri. Orangtuanya akan menyusul nanti siang."
"Begitu." Suster itu mengangguk mengerti. Beberapa detik setelahnya, raut muka suster itu menunjukkan bahwa ia baru saja teringat akan sesuatu. "Oh ya, tadi pagi juga ada yang datang menjenguknya."
Alis Jiwon bertautan sempurna karena ucapan suster itu. "Ada yang menjenguk Chanyeol?"
Suster itu mengangguk yakin. "Dia selalu datang saat dini hari dan pulang sekitar pukul setengah delapan pagi. Dia baru saja keluar lima menit yang lalu. Apa kalian tidak bertemu tadi?"
"'Selalu'?" Tautan alis Jiwon semakin dalam dibuatnya. Ia sedikit bingung dengan ucapan suster itu. "Apa ada orang lain yang selalu datang menjenguk Chanyeol selain saya dan keluarganya?"
Suster itu mengangguk beberapa kali. "Ya, seorang pria mungil. Sudah tiga hari ini dia menjenguk Tuan Park Chanyeol di jam seperti itu."
Entah kenapa, Jiwon merasakan firasat aneh. Otaknya sontak melayang pada sosok Byun Baekhyun. Well, ini cukup mencurigakan mengingat Baekhyun beberapa hari ini tidak menampakkan batang hidungnya disana. Jiwon bahkan masih ingat ucapan Baekhyun yang mengatakan tidak akan pernah berhenti menjenguk Chanyeol sampai pria tinggi itu sadar. Dan ini semua masuk akal. Baekhyun tidak datang kesana selama beberapa hari terakhir dan ada orang asing yang menjenguk Chanyeol di dini hari. Jiwon tahu benar dini hari bukanlah jadwal jenguknya ataupun keluarga Park. Mereka selalu datang ke RS paling pagi pukul delapan. Dan itu hanya menambah kecurigaan Jiwon. Tak ingin berspekulasi terlalu lama, wanita bermarga Kim itupun berniat untuk bertanya pada suster itu lebih detail.
"Siapa orang itu?"
Suster itu nampak berpikir sejenak. "Um..dia tidak mengatakan namanya. Tapi dia bilang dia adalah tunangannya Tuan Park Chanyeol."
TBC
Perjalanan Baekhyun masih berlangsung di chap depan. Nantikanlah~
Makasih banget-nget-nget bagi yang masih mengikuti FF ini dan memberikan dukungannya berupa review ataupun klik fav/follow. Saya sungguh minta maaf karena membutuhkan waktu yang cukup lama untuk apdet semua FF saya. Berhubung saya kerjanya dari senin sampe sabtu, saya tidak punya pilihan lain selain nyicil dikit-dikit di antara ide terbatas dan waktu yang minim untuk ngetik FF. Mohon pengertian kalian ya. Semoga akan datang hari libur panjang dimana saya bisa rampungin semua FF saya. Amien.
So, review?
