Bleach fic
"Four Seasons" by Morning Eagle
!DISCLAIMER :: Bleach belong to Kubo Tite ::
Pair: IchigoxRukia
POV: Ichigo
Just to warn you :: AU, OOC, Typos, etc... for this multi-chap fic ::
Thanks for my Playlists: Rookiez is Punk'd-Song for, SCANDAL-Harukaze, BENI-Heaven's Door, GIRL NEXT DOOR-Infinity, SNSD-All My Love is for You…Silahkan bagi para readers yang mau mendengar lagu-lagu ini saat membaca fic-ku, siapa tau bisa lebih dapet feelnya..hahhaha*plak*)
Update cepat! Hihihihhi..Ini request dari uzumaki. kuchiki, yang meminta lagi POV Ichigo dimunculin. Terima kasih requestnya! Sebenarnya aku bermaksud munculin lagi POV nya Ichigo, tapi sempat kelupaan..hahahhaa *plak* Chapter ini full Ichiruki! XD Dimulai dari Rukia yang selesai menjelaskan kisah masa lalunya di chapter sebelumnya. Playlist buat chapter ini benar-benar dikit..seluruhnya hampir disabotase sama lagunya GIRL NEXT DOOR! Beneran deh membuat author jadi semangat nulis! XD Love this song~ Oya, untuk chapter sebelumnya (chapter 9 yang khusus POV Ichigo) aku sempet lupa ganti judul keterangan di atas..hehehhe..tapi sekarang udah aku ganti *ga penting, abaikan
Dan tidak lupa rasa terima kasih author pada para readers yang masih setia membaca..dan yang baru membaca fic ini, salam kenal! XD Juga pada reviewers yang membuatku selalu semangat untuk segera melanjutkan ke chapter berikutnya! Juga, buat yang sudah me-fave, me-alert, me-follow fic ini! Hontou ni arigatou gozaimasu, minna-san! Kiss n big hug for you~
Oc..this is it..Ichigo's POV! Hope u like it! (Beneran, semoga suka dan ga kecewa TwT) Happy reading~
~000*000~
Chapter 14 : Autumn Special Scene
~Not regretful, just happiness...~
Airmata mengalir keluar, menuruni pipi putih gadis mungil di depanku, yang sedang merasakan keperihan masa lalunya. Tanganku meraihnya, menghapus luka yang kembali keluar dari dalam dirinya. Seharusnya aku cepat bertindak, mengetahui hal ini lebih cepat dari kenyataan yang terpampang jelas di depanku. Seandainya..seandainya saja aku ada di saat kau membutuhkan seseorang untuk tempat bersandar. Apa yang akan terjadi kalau kita bertemu lebih cepat? Apakah mungkin kau tidak perlu mengalami hal buruk seperti itu? Apakah mungkin si brengsek itu tidak akan menyentuhmu, bahkan untuk seujung jaripun? Naa...
"Rukia." Kuraih tubuh mungil itu dan mendekapnya dalam pelukanku. Aku tidak bisa melihatnya menangis lagi. Meneteskan airmata yang seharusnya tidak perlu kau keluarkan. Bahkan, aku tidak bisa melakukan apapun sekarang untuk mengubah semua ini. Mengubah masa lalumu. Aku..benar-benar tidak berdaya. Dan ini benar-benar menyebalkan! Yang bisa kulakukan hanyalah memelukmu, berharap airmatamu berhenti mengalir.
"Kenapa...kau memelukku?" tanyanya, terdengar tanpa emosi. Justru itulah yang membuatku semakin frustasi. Tidak bisakah kau salurkan rasa sakitmu itu padaku, Rukia? Tidak bisakah kau melampiaskan segala emosi padaku kali ini?
"Kenapa kau tidak mengatakan hal itu dari awal?" Kedua tanganku terkepal erat karena emosi yang sudah melebihi batas. Si brengsek itu, benar-benar membuatku habis kesabaran. Perlukah aku untuk menghajarnya sekarang, hanya untuk meringankan rasa sakitmu, Rukia? "Seandainya saja kau menceritakannya lebih cepat, Rukia. Dia sudah kupastikan tidak akan bisa berjalan lagi selama—"
"Ichigo!" bentaknya, membuatku sedikit terkejut. Dia menatapku penuh harap, penuh penyesalan. Mata ungu besarnya terlihat berair, tidak lagi bercahaya. Kedua berlian yang selalu kupuja selama ini, sirna karena si brengsek itu. Dia yang sudah menghancurkan kehidupan Rukia. "Jangan..jangan melakukan hal bodoh seperti itu. Kumohon."
Jari-jari kecilnya mencengkram lengan jaketku kuat-kuat. Bagaimana mungkin tubuh sekecil ini bisa bertahan di tengah cercaan dan hinaan busuk yang selalu menghantui selama ini? Segala caci maki yang sudah berputar-putar di otakku—yang ingin sekali kukeluarkan pada orang busuk itu—hilang sudah. Melihat Rukia yang bersungut-sungut dan memohon padaku, memohon untuk tidak menghajar si brengsek itu saat ini juga. Mencarinya ke seluruh pelosok kota dan menyeretnya kemari untuk berlutut dan memohon maaf pada Rukia. Tidak. Itu tidak cukup. Memohon maaf terasa tidak cukup untuk menghilangkan rasa sakit gadis mungil ini. Gadis rapuh yang berusaha terlihat tegar selama ini.
Tidak ada yang mendukungnya selama ini. Bahkan, Riruka pun ikut menyudutkan Rukia. Riruka yang selama ini kupikir hanyalah gadis manja yang selalu ingin menarik perhatian orang di sekitarnya..."Bahkan Riruka pun membohongiku. Dia—"
"Riruka tidak bersalah. Dia juga..dibohongi Kibune-san," balas Rukia, terdengar sengit.
Aku tidak bisa membantah Rukia lagi—hanya terdiam dan semakin mempererat pelukanku. Aku tidak mau lagi meninggalkannya. Tidak mau lagi melihatnya harus menangis. Aku tahu aku tidak bisa berbuat banyak kali ini, hanya bisa memberikan bahu sandaran untuknya.
"Terima kasih...Ichigo."
"Untuk apa?" Kutundukkan kepalaku ke bahu mungilnya, bersender padanya. Aroma tubuhnya seperti wangi musim dingin yang terlalu cepat untuk datang—lilac dingin yang mendinginkan paru-paruku perlahan. Tiba-tiba tangannya mengelus kepalaku perlahan, tidak terasa tegang dan kaku lagi. Perlahan Rukia mulai kembali kepadaku. Dia tidak lagi berfokus pada memori masa lalunya. Aku ingin ini berlangsung lebih lama...perasaan yang selama ini kucari. Kehangatan dari tangan seseorang yang membutuhkan diriku sepenuhnya. Sudah lama aku tidak merasakannya, semenjak terakhir kali tangan ibu membelai kepalaku lembut.
"Memelukku. Memberiku kehangatan. Sekarang...tidak terasa dingin lagi," ucapnya, berbisik.
Aku tidak bisa menahan perasaanku lagi. Aku ingin Rukia bergantung padaku sepenuhnya, untuk kali ini. Aku menarik diri dari tempat bernaungku di leher dan bahunya, melihat kembali wajah gadis mungil ini. Kuraih kedua pipinya dalam tanganku, terasa dingin. Matanya menatapku lekat, sungguh indah. Kali ini cahayanya mulai kembali bersinar, membuat jantungku berdetak lagi untuk merasakan keberadaannya di sampingku. Kuraih bibir mungilnya, melumatnya perlahan dengan bibirku. Kali ini, Rukia tidak lagi menolakku. Aku membutuhkannya, dia juga membutuhkanku. Kuberikan segala yang dibutuhkannya, membagi perasaanku padanya. Rasa sakit yang dirasakannya, kesedihannya, kekuatanku, perlindunganku, dan segala emosi yang bercampur diantara kami berdua. Hanya kali ini, aku membiarkan semua ini mengalir di antara kami berdua.
Kujauhkan wajahku darinya, mengambil nafas masing-masing yang sekarang terasa memburu. Kusenderkan dahiku pada dahinya, tidak mau menjauh dari kehangatan yang mulai diberikannya padaku perlahan. Aku ingin melindunginya, memiliki Rukia seluruhnya yang hanya bergantung padaku. Perasaan ini semakin tak terbendung, sebuah keinginan yang selama ini hanya berada di dalam benakku saja. "Aku berjanji, aku akan selalu melindungimu, Rukia. Mulai saat ini dan seterusnya," janjiku. Janjiku padamu, gadis mungilku. Apapun akan kulakukan, asalkan senyummu tidak lagi menghilang dari wajahmu. Kehangatanmu yang tidak lagi berganti menjadi dingin. Mata violetmu yang tidak lagi kehilangan sinarnya.
Rukia terlihat bingung dengan kata-kataku—kikuk. Kalau saja situasinya tidak tegang dan terasa kelam seperti ini, pasti aku sudah menganggap raut wajahnya yang memberengut itu sangat lucu. Membuatku ingin melumat bibir mungilnya lagi, merasakan rasanya. Tapi, tidak. Aku tidak mau membuatnya takut. Aku tidak mau dia menjauhiku lagi, seperti saat malam itu—dimana aku menciumnya untuk yang pertama kalinya. Tiba-tiba saja dia terbangun dari lamunannya dan mulai kembali terfokus padaku. Dia menatapku dalam diam untuk beberapa saat, membuatku sedikit canggung. Lalu, senyum itu kembali padanya. Dia tersenyum padaku, yang langsung membuatku hampir terlonjak kaget. Senyum yang selama ini kurindukan mulai kembali padaku, untukku seorang.
"Aku mencintaimu, Kurosaki Ichigo."
Aku terdiam, terpaku, bahkan jantungku sempat berhenti mendadak. Kupikir...aku mungkin terkena serangan jantung mendadak. Tiba-tiba detaknya kembali muncul, berdetak lebih kencang dari yang seharusnya, terasa bisa meledak kapan saja dari dadaku. Rukia. Kuchiki Rukia...mencintaiku?
Kurasakan wajahku memanas..memerah? Segera kututupi dengan punggung tanganku dan berusaha mengalihkan pandanganku ke arah lain. Aneh, tidak biasanya aku merasakan rasa tegang seperti ini—hingga merasakan rasa canggung yang luar biasa. Apa yang sudah kau lakukan padaku, Rukia?
"I..Ichigo?" Rukia terdengar bingung, berusaha menarik tanganku dan mendapatkan perhatianku lagi. Aku tidak bisa menatap matanya kali ini. Benar-benar tidak bisa.
"Kenapa wajahmu memerah?" tanyanya polos, membuatku ingin mencubit pipi putihnya. Kuberanikan diriku untuk menatap lagi wajahnya. Seorang Kurosaki Ichigo berubah menjadi kikuk dan pengecut seperti ini hanya dengan pengakuan seorang gadis? Yang benar saja?
"I..ini semua karenamu," ucapku terbata-bata. Pandanganku beralih padanya, melihat mata besarnya yang memancarkan rasa ingin tahu. "Kau ini benar-benar—"
"Kau malu?" Rukia tersenyum lebar, penuh kemenangan. Dia semakin memajukan tubuhnya, tanpa melepas tatapannya dariku.
"A..Apa kau serius?"
"Eh?"
"Yang kaukatakan barusan," ucapku gugup, berusaha mengalihkan perhatianku lagi ke arah lain. "Kau..kau men..cintaiku?"
Rukia terdiam, tidak merespon pertanyaanku. Kuberanikan diri untuk menatapnya lagi dan mendapati Rukia tertunduk dalam. Dia terdiam, membiarkanku terpaku disini sendirian—berkutik dengan detak jantungku yang semakin tidak sabaran. Perlahan Rukia menjauhkan duduknya dariku, masih dengan kepala tertunduk.
"Rukia?"
"A..aku sudah..mengatakannya tadi, tawake," bisiknya, hampir tidak terdengar olehku. Aku bisa melihat kupingnya memerah. Dia...malu?
"Rukia—"
"Aku tidak akan mengatakannya dua kali," ucapnya buru-buru dan mulai memasukkan barang-barang di pangkuannya ke dalam ranselnya. Dia beranjak berdiri, tapi dengan cepat kutahan tangannya dalam genggamanku.
"Kau mau kemana?" tanyaku bingung menghadapi sikapnya, sambil berusaha menarik perhatiannya untuk kembali menatapku. Tapi tidak berhasil.
"Pulang," jawabnya ketus, sambil berusaha menarik tangannya lepas. Tidak untuk kali ini, Rukia.
"Tidak boleh. Kau mau pulang begitu saja dan meninggalkanku disini sendirian?" Benar-benar gadis keras kepala. Setelah semua yang dia katakan tadi—dan berhasil membuatku malu setengah mati—sekarang dia akan beranjak pergi dan meninggalkanku begitu saja?
Kutarik tangannya dan memeluk pinggangnya untuk mendekat padaku. Rukia terlonjak kaget, terlihat bingung untuk bereaksi. Segera saja seringaian licik mulai tertarik dari sudut mulutku. Kupeluk pinggangnya dari posisi dudukku, dengan mendapati wajah Rukia yang mengarah padaku—masih berdiri. Mau tidak mau wajahnya terlihat jelas dari sini, membuatku tertawa geli melihat reaksinya. Benar-benar merah padam.
"Lepaskan aku, tawake," ucapnya sambil berusaha mendorong tubuhnya menjauh. Kedua tangannya mendorong pundakku kuat, tapi itu semakin membuatku mempererat tanganku untuk melingkar di pinggang kecilnya.
"Jawab dulu pertanyaanku," ucapku ngotot, tidak peduli kalau saja wajahku akan berubah memerah lagi di depannya. Yang kuinginkan adalah jawaban itu, keluar lagi dari mulut seorang Kuchiki Rukia.
Rukia masih memberengut kesal, berusaha menjauhkan jaraknya dariku. "Sudah kukatakan, aku tidak mau mengatakannya dua kali!"
"Kalau begitu tidak akan kulepas."
"Ichigo!"
"Cium aku."
Rukia melotot kaget, kali ini benar-benar menatapku. Wajahnya masih memerah, dengan semburat pink-merah di kedua pipinya. Aku tersenyum lebar melihat reaksinya. Nah, sekarang apa yang akan kaulakukan, Rukia?
"Ka..kau—"
"Kamu tidak mau mengatakannya dua kali. Jadi, cium aku sebagai penggantinya. Kau menyukaiku, kan?"
"Aku—"
"Atau kau membenciku?"
"Sudah kukatakan aku tidak membencimu!" ucapnya hampir berteriak. Dia menatapku kesal, membuat matanya semakin terlihat besar. Seperti seekor kelinci marah yang berusaha memberontak lepas.
"Kalau begitu tidak masalah, bukan? Kau tidak akan kulepas sebelum melakukan apa yang kukatakan, Rukia."
Dia terdiam lagi, terlihat sedang memikirkan sesuatu. Kedua tangannya semakin mencengkram bahuku kuat. Aku sama sekali tidak mempermasalahkan kelakuannya padaku. Terserah dia mau menjambak rambutku atau menendang kakiku lagi. Yang terpenting sekarang adalah pengakuannya kepadaku. Perasaan yang mulai dia berikan padaku. Benar-benar membuat frustasi.
"Tutup matamu," bisiknya sambil menutup mataku dengan kedua tangannya.
"Rukia, kau ini—"
Sesuatu menyentuh bibirku lembut, walaupun terasa hanya sebentar. Spontan kulonggarkan pelukanku dari pinggangnya, benar-benar terkejut untuk yang kedua kalinya hari ini. Rukia mendorong tubuhku dan segera berlari menjauh, masih terlihat kikuk. Tawaku tidak bisa kutahan lagi, melihat si kelinci yang mulai kebingungan itu lepas dari genggamanku—berlari tak tentu arah, tapi masih tidak melepaskanku dari tatapan polosnya.
(..)
(..)
(..)
"Aku mau yang itu," tunjuknya polos, sambil mengerucutkan bibirnya. Mataku menatapnya tajam, tidak percaya. Sungguh, perubahan emosinya benar-benar cepat sekali. Beberapa jam yang lalu dia terlihat terpuruk dan membuatku emosi setelah mendengarkan kisah masa lalunya. Lalu, pernyataannya kemudian membuatku hampir terkena serangan jantung mendadak. Sikap malu-malu dan kikuknya membuat tawaku tidak bisa berhenti keluar, hingga perutku mengejang sakit karenanya. Dan sekarang...dia memberengut seperti anak kecil polos yang menginginkan sebuah boneka kelinci alie—Chappy, di depan etalase toko mainan di tengah kota Karakura.
Aku menghela napas, sedikit pusing dengan kelakuan polosnya ini. Sekarang mata besarnya menatapku—memelas. Bagaimana bisa aku menolak keinginan gadis lici—imut di depanku ini?
"Kupikir, kau menginginkan hal lain sekarang," balasku, berusaha menarik perhatiannya dengan minat lain.
"Kau sendiri yang mengatakan akan mengabulkan apapun permohonanku kali ini. Kau yang mengajakku jalan-jalan kemari, kan?"
Aku menggaruk kepalaku frustasi, benar-benar sulit berdebat dengan Rukia sekarang. Memang aku yang mengajaknya pergi kemari, yang kupikir bisa mengubah suasana hatinya yang sedang sedih. Aku tidak tahu kalau kami akan melewati toko mainan yang menjual kelinci ali—Chappy ini. Aku tidak tahu kalau al—Chappy itu dipajang di etalase toko yang membuat perhatian Rukia langsung tertuju padanya. Dan, aku tidak tahu Rukia akan berdebat padaku untuk membelikannya Cha—kelinci ALIEN besar itu sebagai permohonannya padaku! Kelinci alien siala—
"Ichigo," ucapnya memelas, menarik-narik tanganku dalam rangkulannya. Dia benar-benar membuatku menderita sekarang. Astaga!
"Rukia, apa kau tidak mau pergi ke tempat lain? Ke cafe ataupun bioskop misalkan? Atau mungkin—"
Usahaku menarik perhatiannya sia-sia belaka. Sekarang Rukia menatapku marah sambil meremas tanganku kuat-kuat. "Kau bohong padaku. Bukankah kau akan mengabulkan permohonanku? Tadi kau bilang begitu!"
Bukannya aku tidak bisa membelikan kelinci alien itu padanya. Bukannya aku tidak memiliki uang cukup untuk membelikan kelinci raksasa itu. Tapi, yang kuinginkan sekarang adalah perhatian Rukia padaku sepenuhnya, untuk hari ini! Dan sekarang harapanku itu terancam karena kelinci bodoh itu. Dia akan mengambil seluruh perhatian Rukia dariku! "Bukan, maksudku—"
"Aku pulang saja," ucapnya sinis dan melepaskan genggamannya dari tanganku.
Dengan cepat aku menariknya kembali, mencegahnya untuk pergi lagi—yang kedua kalinya hari ini. "Baiklah, Rukia—"
Dia kembali menatapku, masih penuh harap. Mata besarnya mengerjap-ngerjap yang membuatku langsung salah tingkah. Rukia benar-benar tahu cara untuk menaklukanku, gadis kikuk yang berbahaya. Aku mendesah kalah dan menarik tangannya memasuki toko boneka ini. Mungkin...hari ini memang bukan hari keberuntunganku.
(..)
Memang..ini bukan hari keberuntunganku. Sekarang, Rukia yang terduduk di depanku, sama sekali tidak mau melepaskan pandangannya dari kelinci berukuran besar yang terduduk di samping tempat duduknya. Walaupun kelinci alien itu terlapisi oleh kantong plastik besar, tetap saja tidak menutup kemungkinan Rukia meliriknya sesekali. Dan dia sama sekali tidak menatapku. Hanya es krim di depannya yang bisa menarik perhatiannya. Es Krim. Kelinci Alien. Es Krim. Kelinci Alien. Pemandangan di luar cafe. Kelinci Alien. Kelinci Alien...
"Rukia," panggilku pasrah menghadapi sikap menyebal—uniknya ini. "Selama apapun kau memandangi kelinci itu, dia tidak akan bisa hidup."
Rukia memandangku sinis sambil menyendok es krim ke dalam mulutnya. "Aku tahu itu, tawake!"
Tanpa sengaja sendoknya menyentuh sudut mulut Rukia, meninggalkan jejak es krim putih di sana. Aku tertawa geli melihat sikap cerobohnya kali ini, sambil mengulurkan tanganku untuk menghapusnya dan kemudian mencicipinya dengan lidahku. "Manis."
Rukia melotot kaget dan mukanya kembali memerah. Mulutnya terbuka lebar, tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari sana. Lagi-lagi, aku tertawa melihat tingkah anehnya. Sungguh bisa membuatku mati perlahan. "Ta..tawake! Jeruk bo—"
"Rukia?"
Pandangan kami teralih kepada sosok seseorang yang sedang berdiri di sebelah meja kami. Dia terpaku, terbengong, sambil menunjuk Rukia dan aku berulang kali. Mata lentiknya terbelalak lebar, menatapku seperti melihat sesosok makhluk aneh baginya. Sungguh menyebalkan.
"Yumichika!" Rukia tersenyum lebar mendapati teman nyentriknya itu mengganggu kencan kami.
"Ru..Rukia..Apa yang kau lakukan dengan si kepala orange itu?!"
"Jaga kata-katamu, mata lentik. Dia pacarku," balasku tidak kalah sengit.
"Pacar! Rukia! Dia...dia sudah jadi pacarmu?" tanya si mata lentik sambil memelototiku. "Kenapa kau tidak memberitahukan hal ini padaku?"
"Apa yang kau lakukan disini?" sindirku, berusaha menyingkirkan si nyentrik ini secepat mungkin dari sini.
"Diam kau, aku sedang berbicara pada Rukia sekarang!" balas si nyentrik sambil menunjukku dengan jari telunjuknya.
Rukia mendesah pasrah menghadapi teman anehnya ini. Aku sedikit bingung, bagaimana caranya Rukia bertahan untuk berada di samping teman berisiknya satu ini. "Yumichika—"
"Yumichika, kau sudah mendapatkan mejanya?" tanya seseorang di belakang si nyentrik, yang langsung membuatku berkeringat dingin. "Loh, Rukia? Eh, Kurosaki-kun!" Rangiku-san menatapku dan Rukia antusias, lalu senyum anehnya mulai muncul mengiringi tawa ringannya.
"Rukia!" tambah lagi, seorang gadis yang tidak kalah kecil dengan Rukia. Disampingnya terlihat seseorang yang begitu familiar untukku. Rambut putih. Tubuh pendek… Toushiro?
"Toushiro?"
"Panggil aku Hitsugaya!" protes Toushiro menatapku sengit. "Apa yang kau lakukan disini, Kurosaki?"
"Itu pertanyaanku untuk kalian! Apa yang kalian lakukan disini?"
"Apa yang sedang kau lakukan dengan Rukia?" tanya Rangiku-san, menatapku penuh tanya.
"Kau tidak akan mempercayai hal ini, Matsumoto!" teriak si mata lentik heboh, mengguncang-guncangkan bahu Rangiku-san. Bisakah dia berhenti berteriak untuk satu menit saja?! "Mereka benar-benar sudah menjadi sepasang kekasih!"
"He?!" Sekarang semua tatapan memelototi kami berdua. Rukia terlihat tidak tenang dalam duduknya, berusaha memeluk si kelinci alien di sebelahnya dan menyembunyikan wajah merahnya di baliknya. Seandainya aku yang berada di posisi si kelinci aneh itu...
"Bisakah kalian tidak berisik?" protesku, yang mulai tidak nyaman karena mendapat perhatian hampir dari seluruh pengunjung cafe ini.
"Siapa yang menyatakannya duluan?" balas Yumichika sengit, memajukan tubuhnya ke arahku sambil melotot penuh harap—membuat kepalan tanganku tidak sabar untuk meninju muka bodohnya.
"Hah?"
"Sudah kukatakan Rukia yang akan menyatakannya duluan, kau kalah taruhan!" potong Rangiku-san, yang membuatku langsung memelototi dua orang bod—berisik ini.
"Mereka belum mengatakan apa-apa, Matsumoto! Kau ini!" Sekarang si lentik balas memelototi Rangiku-san.
"Apa maksud kalian?" tiba-tiba Rukia angkat bicara. Dan sekarang dia merasa tersudut lagi, mulai mengeluarkan emosi yang tadi sempat ditujukan padaku. Dia marah.
(..)
Rukia masih terlihat kesal, tidak mau melepas kelinci anehnya itu dari pelukannya. Bahkan, aku yang berjalan di sampingnya ini pun dihiraukannya—sama sekali tidak dianggap. Setelah tingkah bodoh kedua temannya tadi di cafe, Rukia benar-benar terlihat marah—segera menghabiskan es krimnya yang tersisa sambil memberengut kesal, lalu menyeretku pergi dari situ. Dan sekarang disinilah kami, berjalan pulang menuju rumahnya dalam diam. Hening. Benar-benar canggung.
"Rukia," tegurku, berusaha untuk mencairkan suasana. Dia sama sekali tidak mau menatapku, masih berkutik dengan pikirannya sendiri—menatap jalan raya di depannya sambil mengerutkan alisnya. Langit malam sama sekali tidak bisa membantu untuk mengubah perasaan Rukia sekarang. Bahkan, angin malam menambah suasana disini semakin terasa…dingin.
"Rukia," panggilku lagi, menyentuhkan punggung tanganku ke pipinya. Dia terlonjak kaget dan berubah memelototiku sengit. Aku tersenyum lebar menanggapi reaksi kagetnya. "Sampai kapan kau akan mendiamkanku seperti ini?"
Entah bagaimana, tatapannya berubah fokus padaku. Dia terlihat...sedih? "Kenapa, Rukia?"
"Maaf..." gumamnya, semakin mempererat pelukannya pada boneka kelinci yang besarnya hampir menyamai tinggi tubuhnya. "Bukan maksudku...marah padamu. Hanya saja, Yumichika dan Rangiku-san membuatku kesal. Bagaimana mungkin mereka bisa mempertaruhkan hal seperti itu? Maksudku...itu tidak bisa dijadikan sebagai ajang taruhan..hubungan kita.."
"Menurutmu?" potongku, meliriknya dari posisiku sekarang—menatap lurus jalan sepi di depan kami. Komplek perumahan ini benar-benar membuatku tidak tenang. Sepi, tapi menenangkan entah bagaimana.
"Eh?"
"Bagaimana hubungan kita sekarang? Kau pacarku, kan?" tanyaku memastikan.
Rukia menatapku lagi dalam diam, kembali terlihat uring-uringan dan kikuk. Jadi, begini ya sikapnya dikala sedang bingung dan malu? Benar-benar lucu.
"Kau tidak perlu bingung seperti itu, aku hanya bertanya," ucapku buru-buru, tidak tahan membuatnya terus bingung seperti itu. Yang penting Rukia tidak menolakku sekarang dan tidak lagi bersedih karena masalahnya sendiri. Asalkan dia bisa tertawa, itu sudah cukup untukku. Walaupun dia enggan untuk menunjukkan perasaannya padaku secara langsung. Mengungkapkan perasaannya langsung dari mulut yang sulit untuk menyatakan fakta dalam pikiran dan hatinya—
Sebelah tangannya merangkul tanganku erat. Aku terkejut menanggapi sikapnya yang tiba-tiba berubah lagi. Wajahnya menekan tanganku yang dirangkulnya, benar-benar dekat. Jantungku kembali lagi berpacu cepat, membuat wajahku memanas. Dia benar-benar mengejutkanku dengan tingkah manjanya. "Ru..Rukia?"
"Ka..kalau kau ingin seperti itu..tidak apa-apa. Aku...tidak masalah," ucapnya pelan sambil memeluk tanganku semakin erat. Aku mulai memperlambat langkahku, menyamai langkah Rukia yang terbilang lebih pendek dariku. Aku benar-benar senang, entahlah, senyumku tidak mau meninggalkan wajahku sekarang. Rasanya seperti melayang sungguhan. Gadis pujaanku memberengut manis seperti ini dan mau menjadi pacarku. Aku tidak sedang bermimpi, bukan?
Kami kembali berjalan dalam diam, diiringi lampu jalan yang menerangi jalan dalam keremangan. Bukan diam yang canggung, tapi diam yang menghangatkan. Walaupun angin musim gugur menerpa di malam gelap ini, tapi sekarang sama sekali tidak terasa dingin lagi. Keberadaan Rukialah yang mengubahnya. Dia berhasil membuat pandanganku berubah, bahkan hatiku pun teralih sepenuhnya untuk keberadaan si mungil ini. Dia menyabotase diriku—seluruhnya.
Tanpa terasa kami tiba di rumah kediaman Kuchiki ini. Kuhentikan langkahku dan menanti Rukia lepas dari pelukannya di tanganku. Dia hanya terdiam disana, tidak bergerak dan tidak merespon. Tidak mungkin dia tertidur, bukan?
"Rukia, kita sudah sampai," kataku, yang sebenarnya enggan melepas kepergiannya. Tiba-tiba dia terlonjak kaget, menjauhiku dengan langkah kikuknya. Matanya menatapku bingung, sambil menggendong boneka kelincinya dengan satu tangan.
"Ah..maaf, aku.." ucapnya kikuk, membuatku kembali tertawa geli.
"Tidak apa-apa," balasku sambil mengusap-usap kepalanya. "Masuklah, dingin di luar sini."
Rukia tersenyum manis padaku. Tangannya menggapai pintu pagar depan rumahnya, mendorong untuk masuk. "Terima kasih..Ichigo. Untuk hari ini, semuanya—"
Aku tidak tahan melihat senyumnya itu. Semburat pink yang kembali muncul di kedua pipi putihnya. Kutundukkan kepalaku untuk menyamai tinggiku dengannya dan mengecup bibir kecilnya. "Tidak perlu berterima kasih. Seharusnya akulah yang mengatakan hal itu, Rukia."
Rukia menatap mataku lekat, terkejut dengan sikapku yang menyerangnya mendadak. Aku tersenyum puas melihat reaksinya. Lagi-lagi Rukia tertunduk malu, mengingat jarak wajah kami yang terlalu dekat sekarang. Kulirik mobil hitam yang memang sudah terparkir di halaman rumahnya sejak tadi. Rasa tertekan dan hentakan aneh tiba-tiba mengganggu diriku. Ah, ya...kakaknya sudah pulang ya. Ancaman terbesar yang harus kuhadapi sekarang. Haruskah aku memperkenalkan diriku sebagai...pacar Rukia?
Rukia ikut melirik arah pandangku, ke mobil kakak laki-lakinya itu. Wajahnya berubah ngeri dan dengan cepat mendorong tubuhku menjauh. "Ka..kau harus pulang, Ichigo. Ini sudah malam."
"Eh? Kupikir..aku harus menemui kakak—"
"Tidak perlu!"
"Hah?"
"Mungkin mereka sudah tidur...atau mungkin..." Rukia terlihat gugup. Yang kutahu saat ini dia sedang berbohong. Tidak mungkin kakak super protektifnya itu tidak menunggu kepulangan adik kesayangannya ini.
"Aku perlu mengenalkan diri—"
"Kau sudah mengenalkan dirimu waktu itu, Ichigo," potong Rukia buru-buru. Pandangannya memburu. Sesekali dia melirik pintu rumah di belakangnya sebelum melirikku dengan tatapan...takut?
"Sebagai..pacarmu," balasku dan membuat Rukia menjerit, tapi dengan cepat dia menutup mulutnya kembali. "Kau ini kenapa, sih?"
"Mungkin...lain kali...tidak sekarang—"
"Rukia," panggil suara rendah yang khas. Yang aku tahu itu adalah jenis suara yang mengancam. Dan datangnya dari arah belakangku.
Kubalikkan tubuhku dan mendapati kakak Rukia—Kuchiki Byakuya—menatap kami bergantian dengan risih.
"Nii..nii-sama.."
"Kuchiki-san," sapaku tenang, berusaha setenang mungkin. Dia datang bukan dari dalam rumah? Keberadaannya benar-benar tidak terduga, membuatku merinding tiba-tiba.
"Apa yang dilakukan bocah itu di depan rumah, Rukia?" tanya Kuchiki protektif itu tajam, menuntut. Haruskah aku menjelaskan dari awal? Sebenarnya...darimana aku harus menjelaskan situasi ini?
"Aku mengantar Rukia pulang," ucapku, yang kupikir Rukia masih berkutik dalam pikirannya. Tidak ada salahnya aku menjawab.
"Semalam ini? Apa tanggung jawabmu, bocah?"
"Aku?" Tunggu...apa-apaan maksudnya memanggilku dengan sebutan bocah? "Aku pacar Rukia, jadi ini sudah menjadi tanggung jawabku."
Hening. Canggung. Dan Rukia terpaku tidak bergerak di sebelahku. Aku meliriknya bingung dan mendapatinya memelototiku marah. Kenapa sekarang dia marah lagi padaku?
"Masuk sekarang juga, Rukia." Perintah kakaknya itu membuatku bergidik ngeri. Mengancam dan membuat bulu kudukku berdiri seketika. Jadi ini ya kekuatan seorang Kuchiki?
*(((to be continued...)))*
(..)
(..)
(..)
Author's note :
Maaf harus aku cut sampai disini...hehehhee...bisa tebak sendiri kan kelanjutannya? Rukia kena ceramahannya Byakuya...lagi...dan dilarang menemui Ichigo lagi untuk… seterusnya? Nah, kalau yang itu masih rahasia, di chapter berikutnya ya readers! Hihhihii *plak*
Oiya, sebenernya Byakuya tuh udah pulang kerja sebelum Rukia n Ichigo datang (mobilnya udah ada kan tuh..hehe). Dia ada keperluan lain, makanya pergi lagi keluar rumah, nah pas dia balik lagi...ada Ichigo n Rukia di depan rumah! Langsung deh sikap protektifnya muncul..XD Aku terangin disini, soalnya ga bisa jelasin di atas (soalnya Ichigo's POV sih ^^;)
Akhirnya Ichiruki resmi menjadi sepasang kekasih! Hehehhee..sebenarnya scene ini belum aku rencanakan sebelumnya, langsung aku ketik begitu saja dari otakku. Idenya benar-benar langsung keluar spontan..hahahahha
Beneran ini SUSAH banget mendeskripsiin perasaan Ichigo, apa yang dia pikirkan, apa yang dia lihat dari Rukia..semoga ini bisa mewakilkan perasaannya ya..gomen kalau jelek dan aneh, author sudah melakukan semaksimal mungkin! TAT...
Selama mengetik ini, aku sedikit mengintip movie Fade to Black buat nyari-nyari sikap Ichigo ke Rukia yang menurutku benar-benar terlihat dekat banget di tuh movie. Ichigo galau..thehehehhee..*ga penting
Chapter berikut mungkin bakal lebih heboh..hehhehe..Kemungkinan aku bakal munculin Grimmjow lagi! Iyeeyy...XD Udah lama dia ga muncul, kasian juga.. *plakk*
Oce..gatau mau nulis apa lagi..bingung..hheehhe ^^; Kalau ada pertanyaan, kritik, dan saran, seperti biasa bisa lewat review ataupun PM. Author sangat menghargai pendapat para readers dalam bentuk apapun..thehehehhee~ XD
Balasan untuk anonymous and no-login reviewers :
Guest : Makasih udah review ya~ hihihhi.. Oce, ini aku update kilat XD
Qao : Hi juga Qao! Makasih udah review ya! XD Gapapa kok, santai aja..hihiihihi.. Iya, Kibune aku sengaja buat kaya yang di animenya, disana dia juga gitu kok. Pertamanya baik banget, tpi ternyata jahat di belakangnya.. Iya, si Ichi makin seneng, tuh di chapter ini dia uring2an sendiri XD wkwkwkkwk…Iya, aku bikin si Ichi baik banget sifatnya, ga kaya di manga nya..dia OOC banget, terlalu perhatian sama Rukia ya~ Aku juga iri *plakk* Makasih buat semangatnya! XD Ini aku udah update cepat..hihihihi
