Chapter 14: Storm and A Blond Girl

"Pagi, Jack!"

Jack yang baru keluar dari rumah Gotz langsung menoleh dan melihat Ann dan Popuri yang mau pulang dari bukit tempat mereka biasa datang saat pagi.

"Pagi, Ann, Popuri," sapa Jack.

"Kau sedang apa di sini?" tanya Popuri.

"Aku barusan meminta bantuan Paman Gotz untuk memperluas rumahku. Aku rasa aku perlu menambah dapur agar bisa masak sendiri," jelas Jack.

Ann dan Popuri tercengang.

"Jadi, kau bisa masak?" tanya Ann.

"Ya, aku biasa masak sendiri saat tinggal di kota," jawab Jack.

"Wah, aku jadi ingin tahu seperti apa rasa masakanmu," ucap Ann penasaran. "Soalnya jarang ada laki-laki yang bisa masak. Selama ini yang kutahu bisa memasak dengan enak hanya ayahku."

"Aku juga ingin mencicipi masakanmu," sahut Popuri. "Pasti enak."

"Tapi, kalian harus menunggu sampai pembangunannya selesai. Kalau tidak salah butuh beberapa hari sampai pembangunannya selesai. Aku juga belum memesan perlengkapan dapurnya," ujar Jack.

"Kau mau pesan via telepon? Di Inn ada telepon. Kau bisa menggunakannya," saran Ann.

"Baguslah kalau begitu. Soalnya kalau lewat surat, pesanannya lama datang," ujar Jack.

"Oke, kita ke Inn sekarang!" seru Ann.

-x-x-

"Baiklah, kutunggu pesanannya." Jack menutup teleponnya. Dia sudah tenang sekarang karena pesanannya nanti akan datang diperkirakan tak lama setelah pembangunan rumahnya selesai.

"Bagaimana?" tanya Ann yang sejak tadi berdiri di sebelahnya.

"Sudah, pesanannya akan datang dalam beberapa hari," jawab Jack.

"Kalau kau punya dapur dan bisa memasak enak, rasanya aku jadi punya saingan baru selain putriku ini," kata Doug, ikut bergabung. "Selama ini yang menjadi saingan beratku hanya Ann seorang."

"Aku tidak akan kalah dari Ayah," ucap Ann.

Jack ingat cerita Cliff kalau Doug dan Ann memang bersaing ketat dalam hal memasak, terutama saat di Festival Memasak. Kalau ikut berpartisipasi di festival itu, kelihatannya tidak akan mudah mengalahkan keduanya yang sudah berpengalaman dalam hal masak memasak, apalagi Inn juga merupakan restoran.

"Kau juga, Jack. Kalau kau memang bisa memasak, aku juga tidak akan kalah darimu," ucap Ann.

Jack hanya tersenyum saja.

-x-x-

Setelah berbincang-bincang sebentar bersama Ann dan Doug, Jack pamit. Selanjutnya dia pun pergi ke rumah Thomas untuk melaporkan keadaan kebunnya. Dia diminta oleh Thomas saat hari sabtu kemarin untuk melaporkan keadaan kebunnya karena ingin tahu. Beliau ingin tahu karena kebunnya itu sudah pernah terlantar bertahun-tahun dan ingin mendengar perubahan yang terjadi setelah diurus oleh Jack selama seminggu.

"Oh, jadi kau sudah mulai menanam rupanya? Kau bahkan sudah memanen tanaman pertamamu. Itu awal yang sangat baik. Memang awalnya akan terasa berat, tapi kuharap kau tetap melakukan yang terbaik, Jack," kata Thomas, menyeruput tehnya.

"Ya, Pak Walikota," sahut Jack.

"Aku juga mendengar kalau kau menerima tawaran Kakek Barley untuk merawat salah satu kudanya."

"Ya, akan menyenangkan bila ada kuda lagi di perkebunanku itu. Anda tahu, dulunya Kakek punya seekor kuda. Jadi, aku ingin punya kuda juga seperti Kakek. Lagipula, kuda yang dititipkan itu merupakan kuda yang bagus. Biarpun dia cuma sementara di kebunku, aku akan tetap merawatnya dengan baik."

Thomas tertawa pelan. "Padahal kau dari kota besar, tapi kau tahu banyak juga mengenai hewan yang bagus."

"Kakek telah mengajarkan banyak hal padaku dulu," ucap Jack pelan. Pikirannya terbayang kembali saat-saat dirinya berlibur di Mineral Town dulu.

"Kau begitu menyayangi kakekmu, ya," ucap Thomas tersenyum tipis.

Jack langsung memasang senyuman yang lebar. "Ya, aku sangat menyayangi Kakek."

Perbincangan terus berlanjut sampai topiknya berubah ke barang-barang antik yang ada di rumah Pak Walikota itu. Jack pun secara tak sengaja membaca buku harian milik Harris yang diletakkan di rak buku. Di buku itu tertulis, "Tempat ini selalu tenang."

Jack segera meletakkan kembali buku tersebut, lalu dia melihat buku yang lain. Ternyata yang dia temukan adalah buku data penduduk. Di buku itu tertulis tanggal lahir para penduduk. Dia langsung membaca semuanya.

"Jack," panggil Thomas yang membuat Jack langsung buru-buru meletakkan buku yang dipegangnya kembali ke rak.

"Ya?"

"Kurasa pertemuan kita sampai di sini saja. Aku mau ke rumah Ellen dulu."

"Begitu, ya. Kalau begitu aku pamit saja. Lagipula aku juga ada urusan yang lain, sih," ucap Jack.

Dia pun pamit dan meninggalkan rumah Thomas. Selanjutnya dia menuju Yodel Ranch. Dia bermaksud membeli seekor sapi dan domba untuk mengisi kandang sapi sekaligus dombanya yang ia sudah bersihkan sebelum ke tempat Gotz tadi pagi. Kalau ada hewan tambahan lagi, pekerjaannya akan otomatis bertambah juga. Tapi, dia merasa akan ada yang kurang bila kandang yang terletak di depan rumahnya itu kosong. Setibanya di Yodel Ranch, Jack disambut oleh May dan anjingnya, Hana.

Jack membeli seekor sapi dan domba. Dia memberikan mereka nama Muffle dan Cherry. Sebenarnya kedua nama itu diberikan oleh May karena gadis kecil itu yang meminta Jack untuk memberikan nama hewan barunya itu. Walaupun menurut Jack itu nama yang terlalu imut untuk sapi dan domba, tapi apa boleh buat. May yang meminta.

"Jack," panggil Barley. "Apa kau tahu mengenai cuaca nanti malam?" tanyanya. "Kudengar dari Zack kalau sebentar malam diperkirakan akan terjadi badai besar. Terjadinya cuma di malam hari saja, tapi kuharap kau tidak membiarkan hewan-hewan ternakmu berada di luar saat menjelang malam nanti."

"Badai itu, ya? Ya, aku sudah mendengarnya dari acara ramalan cuaca. Aku juga berencana segera memasukkan semua ternakku secepatnya. Anjingku juga akan kubawa masuk ke rumah," ujar Jack.

Barley mengusap jenggot putihnya. "Tapi, ini aneh sekali. Baru kali ini terjadi badai besar saat Musim Semi. Apa ini mungkin suatu pertanda?"

Jack cuma diam.

"Tenang saja, Kak Jack. Selama berada di dalam bangunan, semuanya akan baik-baik saja," kata May.

"Ya," sahut Jack sambil tersenyum, memperlihatkan kalau dirinya juga beranggapan demikian. Tapi, sebenarnya dia tidak yakin dengan hal itu.

-x-x-

Malam pun tiba dan begitu juga dengan badainya. Anginnya bertiup sangat kencang beserta hujan deras. Kilat, guntur, dan petir juga sering bermunculan di langit sampai membuat Brown jadi meringkuk di bawah meja. Jack pun sampai menutup telinganya.

"Badainya benar-benar mengerikan," gumam Jack, menatap ke arah jendela satu-satunya di rumanya itu. "Biarpun semua hewan ternakku ada di kandang, aku yakin mereka semua sedang ketakutan sekarang." Dia menatap ke arah Brown yang masih meringkuk gemetaran di bawah meja. "Brown saja sampai seperti itu."

Jack kembali menatap ke luar jendela yang tirainya belum ditutup. Biarpun banyak yang bilang selama berada di dalam rumah semua akan baik-baik saja, tetap saja perasaannya tidak enak. Rasanya seperti sedang terjadi sesuatu di luar sana.

-x-x-

Badai semalam berhenti begitu pagi tiba. Kebun milik Jack jadi cukup berantakan akibat badai itu. Jack hanya bisa menghela nafas melihat keadaan kebunnya yang kini penuh dengan sampah ranting dan ada beberapa tanamannya yang rusak. Untungnya bunga yang ditanamnya bersama Popuri masih utuh.

"Rasanya jadi kayak kembali ke awal lagi," keluhnya.

Dengan terpaksa dia membersihkan kembali kebunnya itu dan mengganti tanamannya yang rusak dengan tanaman yang baru. Kentang yang sudah matang langsung dipanennya dan ditanami dengan yang baru.

Butuh sekitar 2 jam untuk membereskan kebunnya yang terlihat seperti tempat terlantar setelah badai semalam. Setelah itu, dia segera memberi makan semua hewan ternaknya. Karena di luar sedang sangat becek, Jack memutuskan untuk tidak mengeluarkan hewan ternaknya itu.

Ketika hendak memberi makan Lena, Jack menemukan sebutir telur di dekat tempat pakan. Rupanya Lena sudah bertelur. Karena merupakan telur pertama, Jack tidak mau menjualnya dulu. Dia ingin menetaskannya untuk menambah ternaknya sekalian memberikan Lena teman alias anaknya sendiri. Setelah meletakkan telur di inkubator dan memberi makan ayamnya, Jack keluar dari kandang.

"Selamat pagi, Jack!"

Jack langsung menengok dan melihat Gotz yang baru tiba. "Selamat pagi, Paman Gotz," sapa Jack.

"Sedang membereskan kebun, ya? Badai semalam benar-benar mengacaukan semuanya. Kau tahu, atap rumahku sampai ada yang terlepas akibat tiupan anginnya. Louis juga jadi tidak mau keluar pagi ini karena masih ketakutan dengan badai semalam."

"Lalu... Paman sendiri?"

"Kalau aku tentu saja tidak takut. Badai seperti ini sudah sering kulihat. Apalagi saat Musim Dingin."

Jack merasa kagum juga dengan keberanian Gotz itu. Dari wajahnya juga sudah kelihatan, sih, kalau Gotz itu sangatlah berani.

"Baiklah, aku akan mulai bekerja sekarang. Kau juga lanjutkan saja pekerjaanmu," kata Gotz sambil berjalan menuju rumah Jack dan mengeluarkan peralatan kerjanya.

Tapi, karena pekerjaannya sudah selesai, Jack sekarang bisa dibilang sedang nganggur. Sebenarnya dia mau ke Supermarket untuk membeli bibit baru karena bibit yang dimilikinya sudah hampir habis dikarenakan menggantikan tanaman yang rusak. Tapi, dia baru ingat kalau hari ini Supermarket tutup. Mungkin dia akan berjalan-jalan keliling saja atau ke Perpustakaan, tempat yang biasa dia datangi kalau lagi nganggur saja.

Jack baru saja mau melangkah ketika dia mendengar suara Popuri memanggilnya.

"Jack!"

Jack menoleh ke arah jembatan dan melihat Popuri yang berlari kecil menghampirinya. Wajah gadis itu terlihat cemas.

"Ada apa, Popuri?" tanya Jack bingung.

"Semalam terjadi badai yang sangat kencang, 'kan? Karena kau tinggal sendirian... aku merasa agak cemas padamu," ujar Popuri.

Jack nyengir. "Tenang saja, Popuri. Aku tidak apa-apa. Biarpun semalam aku memang jadi susah tidur karena suara gunturnya keras sekali, tapi aku tenang-tenang saja, tuh. Beda dengan Brown yang meringkuk ketakutan di bawah meja."

Wajah Jack langsung mendadak tegang menahan jeritan. Ketika Popuri menengok ke belakang Jack, rupanya Brown sedang menggigit bokong majikannya dengan wajah kesal. Anjing itu sepertinya merasa tersinggung karena dianggap penakut oleh majikannya. Popuri hanya menatap dengan mimik biasa karena sudah biasa melihat kejadian seperti itu.

-x-x-

Awalnya Jack memang mau berkeliling atau ke Perpustakaan saja, tapi pada akhirnya dia memutuskan pergi ke Pantai Mineral. Anginnya yang sejuk dan suara deburan ombak, membuatnya merasa tenang.

Namun, ketenangannya agak terganggu dengan terlihatnya sesuatu mengapung di tengah laut. Jack menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas. Tapi, karena belum jelas terlihat juga, dia pergi ke pelabuhan. Dari situlah dia langsung tahu kalau ternyata yang mengapung itu adalah seseorang yang mengapung di atas sebuah ban penyelamat yang biasanya terdapat pada kapal-kapal.

Tanpa buang waktu, Jack melepas sepatu dan topinya dan langsung melompat ke laut, berenang menuju orang yang mengapung itu. Ternyata yang terapung itu adalah seorang gadis berambut pirang sepinggang. Gadis itu dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Jack segera berenang kembali ke tepi pantai sambil membawa gadis itu di tangannya. Walaupun memang sedikit kesulitan, Jack akhirnya berhasil tiba di tepi pantai. Kemudian, gadis berambut pirang itu dibaringkan di tepi pantai. Jack kembali memeriksa kondisi gadis itu. Ternyata gadis itu tidak bernafas. Langsung saja Jack melakukan pertolongan pertama. Akhirnya gadis itu siuman. Dia terbatuk, memuntahkan air laut yang terminum olehnya. Tapi, kondisinya masih lemah.

Tanpa mempedulikan kakinya yang masih tidak bersepatu, topinya yang belum dipakai kembali, dan kondisinya yang basah kuyup, Jack menggendong gadis pirang itu dan membawanya ke Klinik secepat mungkin.

Setibanya di Klinik, dia berteriak, "Elli! Dokter!"

Tak lama, Elli membukakan pintu Klinik dan terkejut melihat Jack yang basah kuyup sambil menggendong seorang gadis.

"Cepat tolong gadis ini!"

-x-x-

Trent melepaskan stetoskopnya dari telinganya setelah memeriksa kondisi si gadis pirang yang kini terbaring di atas tempat tidur.

"Bagaimana kondisinya?" tanya Jack yang berada di belakang Trent. Dia masih belum mengambil sepatu dan topinya yang tertinggal di pelabuhan.

"Untunglah kau segera membawanya ke sini. Dia jadi bisa diberi pertolongan," jelas Trent. Dia menatap kembali si gadis pirang yang masih tertidur. "Kalau kulihat dari kondisinya, dia sepertinya sudah cukup lama terombang-ambing di tengah lautan."

"Dia terapung di atas sebuah ban penyelamat," kata Jack. "Itu artinya sebelum ini dia menaiki kapal."

"Ada kapal yang berlayar di saat akan terjadi badai? Itu 'kan berbahaya," kata Elli.

"Mungkin saja ada terjadi salah komunikasi atau mungkin kapal itu telah berlayar jauh sebelum badai datang sehingga mau tidak mau pasti akan terkena badai biarpun sudah diberitahukan akan terjadi badai," ujar Trent.

"Kalau begitu bagaimana dengan penumpang yang lain?" tanya Elli dengan wajah cemas.

"Sayangnya aku tidak melihat ada orang lain selain gadis itu," jawab Jack. Dia menatap ke arah si gadis pirang. "Mungkin saja hanya dia satu-satunya yang selamat."

Elli tersentak dengan wajah pucat sambil menutup mulutnya.

"Tapi," sambung Jack, "masih ada kemungkinan kapal yang ditumpanginya tidak apa-apa dan hanya dia yang tercebur ke laut."

Elli menghela nafas lega.

"Sekarang kita rawat saja dia dulu," kata Trent.

Si gadis pirang kemudian bangun sambil merintih dan memegang kepalanya. Jack dan yang lainnya segera menghampirinya.

"Syukurlah kau sudah bangun," ucap Elli senang sekaligus lega melihat kondisi pasiennya. "Sudah merasa baikan?"

"Ng... ya...," jawab si gadis pirang pelan.

"Kau tahu, kau itu beruntung sekali karena Jack cepat menolongmu dan membawamu ke sini," kata Trent.

Gadis itu terlihat bingung. "Jack?" Dia kemudian menengok ke arah Jack yang berdiri di sebelah Elli sambil tersenyum dan melambaikan tangan padanya.

"Sebenarnya apa yang terjadi hingga kau bisa terapung-apung di laut?" tanya Elli.

Gadis pirang itu mendadak jadi pucat sambil menundukkan kepalanya. Tubuhnya gemetaran dan tangannya mencengkeram erat selimut.

"Kurasa sekarang bukan saatnya menanyakan hal itu," kata Jack. Dia menatap kembali si gadis pirang. "Kalau boleh kami tahu, siapa namamu, Nona?" tanyanya seramah mungkin agar suasananya tidak tegang lagi.

Gadis itu mengangkat wajahnya. "Namaku... Claire."

Welcome to My Fic! \(^O^)/

Akhirnya lanjut juga fic ini setelah sekian lama memikirkan kelanjutannya. Memikirkan jalan cerita itu sulit, lho. Dan akhirnya kuputuskan untuk memunculkan Claire. Tapi, dari awal pertemuannya ini, kenapa aku jadi berfirasat Claire juga akan bersama Jack, ya? Bisa jadi rebutan, nih, nantinya kalau begitu.

Langsung saja ke review, deh...

To kirio-kun: Terima kasih pujiannya ^^.

To Aika Namikaze: Wuih... senang sekali, ya.

To Norikonori-chan: Aku juga senang kalau kau senang.

To claire-wizard: Baca terus, ya.

To Kuma Sagara: Terima kasih pujiannya. Aku memang berniat ingin menjadi novelis, tapi orangtuaku bilang untuk menjadikannya sebagai hobi saja. Bukan profesi. Jadinya tidak terlalu menekuni juga.

To asuna v.t.e: Maaf membuatmu kecewa. Soalnya aku sudah memutuskan demikian.

To orang terdampar: Syukurlah kalau kau beranggapan begitu.

To uzumaki shin: Awalnya aku memang ingin menjodohkan(?) Jack sama Elli. Tapi, setelah dipertimbangkan terus, akhirnya pilihannya jatuh pada Popuri, deh.

Terima kasih telah membaca dan mereview ficku ini. Maaf kalau update-nya telat sekali.

~Princess Fantasia~