Number Nine
Kisah klasik mengenai kehidupan asrama siswa badung yang kemudian menjadi persahabatan yang indah. Ada cinta, harapan, tawa, kesedihan dan juga kebahagiaan.
YAOI, SMUT, PORNOGRAPHY a Little, OOC, and Typo.
Pairing : Chanbaek (Main Pair), Kaisoo, Hunhan, KrisTao, dll.
Main Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Mr. Han (OC).
Do Kyungsoo, Kim Jongin, Oh Sehun, Park Luhan (Marga saya ganti), Suho, Kris Wu, Kim Minseok, Chen, Tao, dan Lay.
Genre : Humor, Roman, drama.
Warning : Terinspirasi dari karya, Anthony Buckeridge—yang brilliant, tapi cerita sepenuhnya milik saya. No to Plagiator!
.
.
.
.
22. Choose
.
.
Waktu menunjukkan pukul enam petang—Kamis, 4 Desember—kenyataan bahwa Baekhyun terus menerus murung membuat kepala Chanyeol terasa mau pecah.
Mereka sudah naik pesawat; sudah sampai di Korea dan sekarang, dengan mobil van milik Chanyeol mereka melintasi jalanan kota Seoul yang lengang.
Chanyeol tidak berani memulai pembicaraan. Kekasihnya sedang panik dan gelisah—dia tahu diri untuk tidak memperburuk keadaan Baekhyun.
Chanyeol hanya beberapa kali menawarkan minuman agar Baekhyun tenang. Dan Baekhyun juga tidak terlalu menggubris Chanyeol.
Mobil itu mengantar mereka ke Rumah Sakit St. Cheondang. Mereka menaiki lift dan menuju ke kamar kelas ekonomi.
Baekhyun berlarian menuju kamar ayahnya—dan menemukan ibunya yang sedang memijat kaki ayahnya. Baekhyun menghampiri mereka.
"Eomma."
Ibu Baekhyun terkejut. Dia memeluk Baekhyun. Menumpahkan segala kesedihannya. Baekhyun menenangkan ibunya; mengelus punggung mungil ibunya meskipun hatinya juga sama kacaunya. Tapi, Baekhyun tidak boleh menunjukkan kelemahannya di depan wanita itu. Dia harus kuat untuk ibunya.
"Bagaimana keadaan appa? Apakah dia baik-baik saja?"
"Ehm—eomma tidak yakin. Dokter tidak bilang sesuatu yang buruk. Tapi, jantung ibu seperti akan berhenti saat melihat ayahmu terbaring lemah seperti itu, Baek."
"Appa tidak apa-apa. Kita akan menjaganya."
"Tapi—"
"Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah, eomma."
Ibu Baekhyun mengangguk. Dia melepas pelukannya dan menatap Chanyeol dengan dahi berkerut. Bingung; karena tidak biasanya Baekhyun membawa teman ke rumah. "Siapa pria tampan ini, Baek?"
Chanyeol tersenyum. Menunduk sembilan puluh derajat di hadapan calon mertuanya. Yah—bagaimanapun, Chanyeol itu serius dengan hubungannya dan Baekhyun.
"Chanyeol imnida. Saya teman sekamar Baekhyun di asrama."
"Ah? Dia teman sekamarmu, Baek?" Baekhyun mengangguk. Melihat interaksi mereka berdua. Dan sepertinya bagus. Ibunya menyambut Chanyeol dengan baik; begitu juga dengan Chanyeol yang dari tadi tersenyum dengan begitu ramahnya. Ini langka! Chanyeol tersenyum selama itu!
"Apakah Baekhyun menyusahkanmu? Dia memang hiperaktif, tapi sebenarnya, Baekhyun anak yang baik," Ibu Baekhyun berkata dengan nada yang santai—kelihatan sekali kalau sifat Baekhyun yang ramah turunan dari wanita ini.
Chanyeol tertawa. Tawa yang hangat.
"Tidak menyusahkan sama sekali, ahjumma. Baekhyun justru banyak membantuku di sekolah. Dia anak yang ramah. Dia satu-satunya yang mau berteman denganku."
"Kau begitu merendah, nak."
"Tidak, ahjumma. Saya memang tidak punya teman. Saya tidak pandai bergaul tapi, Baekhyun pandai. Karena Baekhyun, saya tidak merasa kesepian lagi."
Baekhyun menatap Chanyeol sekilas. Jadi, Chanyeol juga pernah merasa kesepian?
"Kau anak yang baik."
"Baekhyun punya banyak teman dan dia tidak pernah membeda-bedakan oranglain." Wajah Chanyeol tampak bersahabat; dan untuk sesaat ibu Baekhyun merasa tersentuh dengan perkataan Chanyeol. Dia menyuruh Chanyeol untuk duduk dan menuangkan secangkir teh untuk mereka. Chanyeol sepanjang hari itu terus-menerus tertawa. Baekhyun saja sampai bingung dengan sikap Chanyeol.
Dia berbisik pada Chanyeol—menanyakan mengapa dia terus-menerus tersenyum. Dan Chanyeol hanya mengulum senyum simpulnya. Mengacak-acak rambut Baekhyun. "Itu karena pertama kalinya aku bertemu calon mertuaku. Tentu saja, aku harus membuat kesan yang baik dengan ibumu, kan?" ungkap Chanyeol jujur. Bahkan tadi jantungnya berdegup kencang saat ibu Baekhyun menatapnya dengan dahi berkerut. Chanyeol takut saja dengan reaksi ibu Baekhyun.
Baekhyun tersenyum.
Samar-samar, dia bergumam lirih. Tapi, Chanyeol cukup jeli untuk mendengar gumaman samar Baekhyun. "Ternyata, kau serius denganku, ya?"
Chanyeol menghela nafas. Memalingkan wajahnya ke arah ranjang—tempat ayah Baekhyun berbaring. Melihat ibu Baekhyun yang dengan telatennya memijat kaki suaminya, entah mengapa membuat hati Chanyeol terasa begitu sakit. Ada satu kenangan yang membuatnya merasa sulit melupakan hingga saat ini. Kenangan terburuk dalam hidupnya.
"Ketika pertama kali ayah ketahuan berselingkuh dan memukul ibuku, saat itulah, aku berjanji pada diriku sendiri; untuk menjaga siapapun orang yang kucintai. Aku tidak akan menjadi seperti ayahku. Aku ingin menjadi seperti ibu—yang mencintai ayah hingga akhir. Meskipun, aku tidak suka karena ibu tetap bertahan mencintai ayah; tapi aku bangga karena ibuku wanita yang tangguh."
Baekhyun menatap Chanyeol, jelas sekali dia terkejut dengan perkataan Chanyeol barusan. Wajahnya memerah karena terlalu senang. Dia berbisik dengan wajah malu-malunya. "Apakah itu artinya, kau tidak akan meninggalkan aku?"
Chanyeol menatap Baekhyun.
"Tentu!" katanya sambil tersenyum.
.
.
Pukul sembilan malam, Chanyeol pamit pulang. Baekhyun sempat khawatir tapi, Chanyeol menyakinkan bahwa dia bisa menginap di hotel jadi tidak masalah. Sebenarnya, Chanyeol punya villa di Seoul. Dia hanya tidak ingin memberi tahu Baekhyun. Tidak ada gunanya pamer kekayaan—toh, jika dia sudah menikah dengan Baekhyun, kekayaannya akan jadi milik Baekhyun. Jadi, cepat atau lambat Baekhyun akan tahu juga.
Chanyeol sudah kembali ke villa pribadinya. Sebuah tempat tinggal yang nyaman dan dilengkapi dengan perabotan mewah dan pengaman yang canggih. Bagaimanapun kayanya dia, Chanyeol tetap saja seorang warga Korea, dan walaupun disini tidak terlalu bergaya seperti ketika dia tinggal di Amerika, ini sudah cukup bagi Chanyeol.
Chanyeol tidak suka tampil menonjol. Maka dari itu, dia memilih sekolah asrama di Busan. Ibunya yang brengsek itu tentu saja menentang. Dia fikir, sekolah di luar lebih menjanjikan daripada sekolah di desa seperti Busan. Tapi, Chanyeol tetaplah Chanyeol. Keras kepala dan tidak mau diatur.
Di wilayah seperti itu, Chanyeol merasa cukup nyaman. Meskipun polisi mengenalnya sebagai seorang penjahat atau residivis. Tapi, Chanyeol selalu aman di sini.
Seperti semua penjahat kelas kakap pada umumnya, Chanyeol selalu bersikap low profile di sini. Naik mobil yang tidak mencolok, sekolah di sekolah kampung seperti itu—dan yah, satu-satunya yang mewah hanyalah villanya itu.
Chanyeol selalu berusaha mengaburkan pandangan dunia tentang dirinya yang sebenarnya. Dan, walaupun polisi kadang sering menelponnya untuk beberapa kasus, buku catatan kejahatan-nya bersih, kecuali kenakalan-kenakalan kecil saat ia masih remaja.
Chanyeol tumbuh dengan kungkungan kedua orangtuanya. Ayahnya menginginkan dia menjadi penerus perusahaan, sedangkan ibunya, memiliki tujuan tersendiri. Dia membenci ibunya, meskipun perempuan itu kerap membantunya lepas dari kasus hukum; sebenarnya ibunyalah yang membuatnya menjadi seperti ini.
Drrtt Drrtt...
Ponsel Chanyeol bergetar. Dia melihat di layar—Paman Kim menghubunginya. Chanyeol menghela nafas; antara ingin mengangkat atau menolak. Hampir tiga kali Paman Kim menghubunginya tapi Chanyeol tetap membiarkan. Hingga getaran ke lima, akhirnya Chanyeol menyerah.
"Hm..."
"Akhirnya." Terdengar helaan nafas lega di sambungan. Chanyeol menunggu hingga Paman Kim bicara. "Seperti yang kau minta, aku sudah mencari tahu. Soal kucuran dana; pencucian uang dan juga suap yang ibumu lakukan."
"Dia bukan ibuku," napasnya terhela. Paman Kim segera minta maaf. "Kau tahu, ini tidak mudah. Bahkan jika kita bisa memasukkannya ke dalam bui, aku tidak yakin dia akan mendapat ganjaran seumur hidup; aku jusru yakin dia hanya akan mendapat lima atau empat tahun saja."
Chanyeol berdiri, satu tangannya memegang ponsel dan satu pundak bersandar di tembok di samping jendela. Dia berfikir sejenak, lalu berucap; kali ini tanpa keraguan sama sekali. "Aku yakin pada keputusan ini."
"Tapi, bukankah kita seharusnya memeranginya untuk menghancurkannya? Kita tidak semudah itu untuk dia taklukkan."
Chanyeol tertawa.
"Simpan saja ceramahmu tentang filosofi anak sekolahan. Kita sudah ada didalamnya dan kita harus mengerahkan segala kemampuan untuk memenangi perang ini. Jika kau menyakini perang ini seperti itu, maka, kita tidak akan pernah menang. Dan, prinsipku adalah mengungkap semua kejahatannya. Dan menunjukkan pada dunia seperi apa dia. Dia yang memaksaku untuk ikut terjun ke dunia gelap miliknya."
.
.
Setelah mandi, Chanyeol mengaduk beberapa Kristal gula ke dalam kopi espresso-nya. Ia sedang mempelajari kembali sketsa-sketsa yang diberikan Paman Kim padanya.
Tapi, gulanya kurang. Chanyeol biasa memakai dua bungkus. Chanyeol berniat ke dapur mengambil gula lagi ketika dia melihat ad yang aneh dengan cermin di depan ranjangnya.
Ia melihat ada satu tombol injakan tepat di bawahnya. Tadinya ia bermaksud menyingkirkannya, tapi ia lalu mengangkat sebuah meja besar yang ada di dekat situ, dan mengusahakan agar kaki-kaki meja tidak menyentuh tombol itu. Chanyeol merunduk; dia yakin itu adalah kamera.
Rupanya, ibu tirinya benar-benar cerdas. Dia memikirkan segalanya dengan rapi.
Cermin itu ditempelkan ke dinding dengan kail magnetik, yang juga dipasangi beberapa pengaman yang lain. Ini bukan masalah. Karena memang ini yang diinginkan oleh Chanyeol.
Chanyeol justru ingin menunjukkan sesuatu.
Dia mengambil ponselnya. Menghubungi Baekhyun. Dia bilang, dia tidak baik-baik saja dan dia butuh Baekhyun menemaninya—katakanlah, Chanyeol gila menjemput Baekhyun sementara ayah Baekhyun masih di rumah sakit. Tapi, Chanyeol bahkan tahu kalau dia memang gila.
Dan, saat Baekhyun setuju, Chanyeol segera mengambil kunci mobilnya. Ia berhenti ketika dia melewati lorong. Mengecek lagi kameranya tanpa terlihat bahwa dia sedang mengecek. Chanyeol berpura-pura sedang berkaca di cermin. Lalu, setelah memastikan angle yang tepat, Chanyeol segera keluar untuk menjemput Baekhyun.
"Villamu besar sekali!" Itu adalah kalimat pertama Baekhyun saat dia tiba disini. Dia mengitari seluruh ruangan dengan berlari dan tertawa. Memang, terlihat sekali kalau Baekhyun menyembunyikan kesedihannya; tapi, Chanyeol tidak perduli. Dia justru suka Baekhyun tertawa seperti ini.
"Kemari."
Chanyeol melingkarkan tangannya di pinggang Baekhyun. Tanpa rasa malu sama sekali, pria itu tidak perduli bahwa saat ini Baekhyun sedang sedih. Dia hanya ingin menunjukkan 'kegiatan panas' mereka tepat di hadapan ibu tirinya. Tepat di depan cermin yang ada di depan ranjang kamarnya.
"Apa yang kau lakukan?" Baekhyun menjerit saat tangan Chanyeol mulai mengelus-elus paha dalamnya. Bukannya dia menolak, Baekhyun hanya tidak punya mood saat ini—dia sedang sedih sekarang.
"Aku ingin seks, Baek."
Chanyeol mendorong Baekhyun ke ranjang. Ia membawa Baekhyun ke dalam ciuman singkat, mencumbunya seakan tidak ada hari esok. Bahkan jika Baekhyun mencintai Chanyeol setengah mati—dia tidak suka dengan sikap Chanyeol yang seenaknya seperti ini. Baekhyun sekuat tenaga mendorong tubuh kekar Chanyeol yang ada di atasnya.
"Jangan macam-macam, Park! Apakah aku hanya pelampiasan nafsumu? Aku sedang tidak ingin melakukannya! Ayahku—aku hanya ingin sendirian! Biarkan aku pergi!"
Chanyeol tidak perduli. Dia harus mendapatkan tubuh Baekhyun—setidaknya, saat ibunya melihat mereka. Tapi, dia juga tidak ingin Baekhyun terlihat menolak. Chanyeol beruntung tidak ada speaker yang terpasang. Pria itu lalu menyeret Baekhyun ke dalam kamar mandi. Menguncinya dari dalam. Membuat Baekhyun tidak bisa berkata apapun. Hanya diam. Tapi jelas, dia mulai ketakutan sekarang.
"Kau siapa? K—Kau bukan Park Chanyeol."
Chanyeol menyipitkan matanya saat dia melihat wajah Baekhyun yang sedikit aneh. Terlihat ketakutan, tidak aman dan hal-hal mengerikan lainnya. Chanyeol tidak tahu kenapa. Apa yang salah dengannya?
Chanyeol merasa benci pada dirinya sendiri, tapi dia lebih membenci ibu tirinya. Ia tetap diam seperti batu ketika Baekhyun justru tampak ketakutan di dekatnya.
"Lepaskan aku!"
"Baek, satu kali saja. Satu ronde. Hanya satu ronde," katanya lagi. Nadanya yang datar hampir membuat Baekhyun muak. Dia gugup tapi juga marah. Dan Baekhyun tak berteriak, walaupun ia ingin sekali berteriak saat Chanyeol mulai membuatnya telanjang.
"Aku tidak mau. Lepaskan. Kau brengsek," kata Baekhyun lemah. Dia memukuli dada Chanyeol. Tapi, Chanyeol tetap tegak dan bertahan dari pukulan satu ke pukulan lain.
"Aku sedang tidak ingin melakukannya. Kau tidak mencintaiku. Kau hanya mencintai tubuhku."
Setelah enam pukulan, Baekhyun memutuskan untuk berhenti. Atau lebih tepatnya, Baekhyun telah kehabisan tenaga karena sudah kelelahan memukuli Chanyeol.
"Baek, satu kali saja. Please," kata Chanyeol, yang saat ini sedang menggerakkan tangannya ke pinggul ramping Baekhyun. Untuk pertama kalinya, Baekhyun merasa risih dengan sentuhan Chanyeol.
"Aku membencimu," katanya dengan suara bergetar. Dia mulai menjerit, menangis dan memukul-mukul Chanyeol yang bahkan tidak bergerak satu inchipun. "Kau tidak mencintaiku, kan? Kau tidak!" Jeritnya frustasi.
Chanyeol menghela nafas. Dengan tenang, dia menjelaskan. Memutuskan, untuk sekali saja, berkata jujur. "Ada kamera di cermin. Di depan ranjang. Itu adalah kamera yang dipasang ibuku. Aku hanya ingin melakukannya denganmu sekali saja. Aku ingin menyakinkan ibuku bahwa aku serius denganmu."
"Apa?"
"Ibuku tidak setuju tentang hubungan kita."
Baekhyun merasakan kepalanya berdenyut, pusing dan dadanya terasa sesak.
Dengan sisa kesadarannya, Baekhyun bangkit; memakai bajunya kembali. Chanyeol hanya diam. Melihat baekhyun berjalan menuju ranjang—mengambil ponselnya. Masih tetap menangis dan dengan telunjuk yang bergetar ia menekan sebuah nomor.
Chanyeol tahu itu nomor taxi; Baekhyun ingin kabur darinya. Maka, dia membanting ponsel Baekhyun hingga hancur berkeping-keping. Baekhyun terkejut. Dia masih menangis. Dia masih takut pada Chanyeol.
"Kenapa kau ketakutan?" tanyanya lembut. Chanyeol mengelus kedua pipi Baekhyun yang penuh dengan air mata
"Aku tidak mau ibumu melihatku telanjang. Dan kenapa juga kau tidak menanyakannya dulu padaku? Aku ini kekasihmu, Chan."
Chanyeol mengerutkan kening namun segera meraih tangan Baekhyun, membimbing tangan itu menyentuh detak jantungnya. "Kau bisa rasakan? Jantungku selalu berdebar untukmu. Jadi, kenapa kau takut padaku?"
"K—Kau jahat."
Baekhyun masih menangis. Dia bingung. Di sisi lain, dia ingin mempercayai Chanyeol. Mempercayai setiap kata yang terucap dari bibir pria ini. Setiap prilaku manisnya, bahkan prilaku dinginnya, Baekhyun ingin mempercayai Chanyeol.
"Kumohon, percaya padaku." Chanyeol berbisik. Dan selama satu menit yang mengerikan Baekhyun masih menangis. Hal ini tentu saja membuat hati Chanyeol terasa semakin sakit. Dia ingin menahannya, tapi kesakitannya di masa lalu, memperburuk keadaannya. Dia takut Baekhyun juga akan meninggalkannya.
"Kau bilang, aku yang tidak mencintaimu? Kau Baekhyun. Kau yang tidak mencintaiku."
Baekhyun tersentak. Suara Chanyeol sekarang benar-benar terdengar dingin. Tidak seperti tadi; lembut dan penuh perhatian. Suaranya persis seperti ketika pertama kali Baekhyun bertemu dengan Chanyeol.
Ini pertama kalinya Chanyeol membentak Baekhyun. Sedingin dan sedatar apapun pria ini, tidak pernah sekalipun Chanyeol membentaknya. Dan, sekarang, Chanyeol membentaknya?
"Kau selalu egois. Kau sangat egois, Park!" Baekhyun mencoba menahan tangisnya. Meskipun sudah gagal karena Baekhyun sudah terlanjur menangis di depan Chanyeol. Tapi, kali ini, dia ingin tegas pada pria ini. Setidaknya, demi keluarganya.
"Aku egois?"
"Ya, kau egois. Kau selalu mementingkan bagaimana perasaanmu sedangkan, kau tidak pernah bertanya apa yang kurasakan."
"Tidak pernah?" Chanyeol tertawa sinis. Selama ini dia bersikap lembut, bersikap manis pada Baekhyun. Tidak ada artinya, kah?
"Aku tidak mau orang-orang melihatku telanjang. Apalagi di hadapan ibumu. Kau mungkin tidak punya malu. Tapi aku punya, Chan."
Baekhyun terduduk di lantai. Tubuhnya gemetar. Persendian lemas. Bukan karena dia terlalu lemah; tapi, karena hatinya terlalu sakit. Beban fikirannya terlalu banyak saat ini.
Tubuh Baekhyun gemetar.
"Kau selalu seperti ini. Kenapa kau tidak tanya dulu, apakah aku mau tubuhku, kegiatan kita direkam. Kau... egois, Chan."
Baekhyun tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu. Alam bawah sadarnya tiba-tiba berkontraksi hebat. Baekhyun tidak pernah semarah ini. Dia tidak pernah sefrustasi ini. Baekhyun menggeram. Dia menampar Chanyeol hingga pipi pria itu memerah. Baekhyun terkejut, tapi yang lebih terkejut lagi, tentu saja Chanyeol. Dia menatap Baekhyun dengan pandangan tak percaya.
"Baek?"
Baekhyun tidak bisa berkata apapun. Dia bingung. Dia takut. Dia frustasi. Lidahnya kelu, hatinya sakit sekali. Dia hanya menunduk, menghindari arah pandang Chanyeol yang tertuju padanya. Tubuhnya melemas.
"Ternyata benar, hati manusia itu mudah sekali berubah." Chanyeol tersenyum lemah. Menertawakan dirinya sendiri. Mengapa tidak ada orang yang mempercayainya? Apakah karena sikap dinginnya? Atau mulut tajamnya? Tidak adakah yang bisa menemaninya menghadapi masa-masa sulit? Bahkan, Baekhyun juga tidak bisa?
"Maaf." Baekhyun memutuskan untuk tidak membahas apapun lagi. Terlalu lama disini, membuatnya semakin gila. Baekhyun sudah berjalan sepuluh hingga lima belas langkah. Cukup jauh dari tempat dimana dia meninggalkan Chanyeol. Tapi, kenapa hatinya terasa begitu berat? Kenapa dia tidak ingin meninggalkan Chanyeol sendirian disana?
"Maafkan aku, Baek."
Hati Baekhyun bergetar. Kenapa dia sesensitif ini? Toh, Chanyeol sudah menjelaskan alasannya. Kenapa kau masih belum bisa menerima? Baek, ini seperti bukan kau.
"Maafkan aku. Aku memang egois dan aku belum bisa merubahnya. Tapi, aku akan merubahnya, Baek. Sedikit demi sedikit."
Baekhyun bergerak perlahan-lahan. Ia berusaha untuk tidak perduli. Tapi, dia tidak bisa. Mungkin Chanyeol memang egois; suka memaksakan kehendak tapi, bukankah seharusnya Baekhyun juga bisa menerimanya? Seperti Chanyeol yang bisa menerima segala kebodohannya?
"Baek. Aku—"
Baekhyun memotong perkataan Chanyeol dengan ciumannya. Ini pertama kalinya dia mencium Chanyeol duluan. Chanyeol kaget. Dia tidak membalas sama sekali.
"Aku mau melakukannya. Tidak masalah kalau ibumu melihat kita. Meskipun aku malu, tapi aku melakukannya denganmu. Jadi, aku tidak malu lagi," katanya sambil tersenyum. Menghapus air matanya. Seandainya, Chanyeol bisa menangis; mungkin dia sudah menangis sekarang.
"Kau yakin, Miss Park?"
Baekhyun mengangguk. Chanyeol berhati-hati menarik kaki Baekhyun dan membawa mereka ke ranjang lagi. Ia harus bergerak perlahan dan berhati-hati agar tidak terjebak lebih dalam, dan berakhir dengan Chanyeol yang tidak bisa berhenti hanya satu ronde. Dan ia harus berhenti ketika Baekhyun menyuruhnya berhenti. Ia sadar Baekhyun masih sedih dengan masalah ayahnya.
"Hanya satu ronde?" tanya Baekhyun malu-malu. Dia sedang berusaha mencapai relaks tertingginya. Chanyeol tersenyum. "Ya, hanya satu ronde."
.
.
.
"Sayang, bangun!" kata Chanyeol, begitu dekat di telinga kekasihnya—dekat tapi lembut.
Baekhyun menoleh ke arah Chanyeol. Mencoba membebaskan diri dari selimut yang membelenggu seluruh tubuhnya seperti kepompong. Chanyeol hanya tersenyum menatapnya.
"Sudah pagi, ya?"
"Ya, kau harus menjenguk ayahmu. Kau tidak mau membiarkan ibumu sendirian di rumah sakit, kan?" Chanyeol menarik selimut dan membantu Baekhyun berdiri. Meskipun mereka sama-sama laki-laki, tapi Chanyeol tetap lebih kuat. Dia mendorong Baekhyun ke kamar mandi.
"Aku belum mengambil baju ganti," keluh Baekhyun—hampir keluar dari kamar mandi.
Tapi, ternyata, Chanyeol sudah menyiapkannya di kamar mandi. Lelaki jangkung itu hanya menunjuk baju ganti Baekhyun dengan jari telunjuknya.
Baekhyun nyengir.
Yah, benar, Chanyeol itu rapi. Segalanya pasti sudah dia siapkan, Baekhyun mengingatkan dirinya. Dan Chanyeol adalah kekasih yang sempurnya untuknya.
"Aku akan mengantarmu sampai rumah sakit. Setelah itu, aku akan mengantar adik-adikmu ke sekolah," ucap Chanyeol dari sisi lain pintu kamar mandi.
Baekhyun hampir tersedak ketika sedang berkumur. "Apa?" Dia mengulanginya. Siapa tahu tadi Baekhyun salah dengar.
"Aku akan mengantar adik-adikmu. Kau tidak keberatan, kan?"
"I—Itu..."
"Kau tidak suka aku mengantar adik-adikmu?" Chanyeol tahu pertanyaannya agak kasar tapi, dia hanya ingin memastikan. Baekhyun menghela nafas. Dia membuka pintu—sedikit celah agar Chanyeol tidak melihatnya telanjang.
"Bukan begitu. Aku hanya terkejut. Dan, yah, ini agak mendadak juga."
Chanyeol menatap wajah Baekhyun dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kau tidak serius denganku."
"Chan."
"Tidak apa-apa. Aku mengerti. Ibumu pasti curiga. Dia pasti berfikir aku sedang mendekati adik-adikmu dan dia akan tahu kalau kau dan aku—"
"Bukan seperti itu, Chan." Baekhyun menggigit bibirnya. Dia tidak ingin bertengkar. "Maksudku, itu terlalu cepat. Lagipula, adik-adikku sudah biasa naik bus. Ini bukan waktu yang tepat mengajak mereka naik mobilmu, kau tahu, kan, ayah..."
"Aku tahu. Tidak apa-apa. Cepat selesaikan mandimu," kata Chanyeol. Dia kembali mendorong kepala Baekhyun agar masuk ke dalam. Baekhyun menggerutu karena Chanyeol selalu memperlakukannya seperti bayi.
"Chan, aku taruh disini pakaian kotorku?" tanya Baekhyun sambil menunjuk keranjang kotor yang ada di sana. Meskipun, Chanyeol tidak tahu Baekhyun menunjuk keranjang itu, tapi dia sudah paham maksud Baekhyun.
"Ya, taruh saja disana."
"Nanti kita beli makan apa?" tanya Baekhyun. Pria mungil itu mengeringkan rambutnya lalu keluar dari kamar mandi. Disana, Chanyeol sudah rapi mengenakan kaos dan juga topi lebar—lengkap dengan sepatu adidas kesukaannya. Baekhyun menatap Chanyeol lama sekali.
Chanyeol stylish sekali, puji Baekhyun dalam hati.
Merasa dipandangi, Chanyeol menoleh. Dia hanya tersenyum lalu memeluk tubuh mungil Baekhyun. Baekhyun yang pendek dan kurus terasa sangat pas berada di pelukannya.
"Kita makan quesadilla sebelum pergi. Aku sudah memesannya."
"Bukan makanan Korea?" Protes Baekhyun cemberut. Chanyeol tertawa melihat reaksi Baekhyun. seperti dugaannya, Baekhyun pasti tidak suka makanan westernd.
"Kau harus mencobanya. Ini enak."
"Baiklah, tapi, nanti eomma—"
"Kita akan belikan daging dan mie dingin untuk ibumu. Sekarang, ayo kita makan, anak bawel."
"Aku tidak bawel!"
Chanyeol tidak menggubris. Dia membawa Baekhyun duduk kemudian memandangi Baekhyun yang makan dengan enggan.
"Kenapa, Baek?"
"Rasa yang ini aneh."
"Maksudmu, salsanya? Itu hanya efek dari kesedihanmu. Makanlah. Anggap saja ini demi ibumu. Kau harus kuat nanti di depannya."
Baekhyun mengangguk patuh. Dia mengambil sesendok demi sesendok. Memakannya dengan perut yang hampir meledak. Baekhyun tidak begitu suka rasa masakan aneh ini. Bahkan namanya saja, Baekhyun tidak bisa ingat.
Ketika Chanyeol dan Baekhyun masih memakan sarapannya, ada satu orang yang berjalan tergesa-gesa di lorong. Pria itu menatap Chanyeol yang menatapnya malas.
"Ada apa?"
"Tuan."
"Ada apa?" ulang Chanyeol agak kesal. Baekhyun masih berkutat pada rasa makanan—tidak terlalu menggubris mereka.
"Nyonya. Beliau menghubungi Anda di saluran satu." Chanyeol memalingkan wajah hingga langsung bertatapan dengan pria itu. "Bilang padanya, aku sedang tidak ingin bicara," kata Chanyeol tegas.
Laki-laki itu memandang Chanyeol tak menentu, seolah-olah ingin berkata banyak tapi ragu karena ada Baekhyun di sekitar mereka.
"Aku rasa ini sangat mendesak, tuan. Kurasa Anda tidak punya pilihan lain," saran pria itu. Ekspresi wajah Chanyeol langsung berubah. Dia menarik dirinya sendiri ke ruang kerja. Matanya menyorot tajam ke arah Baekhyun yang masih bergelung pada rasa makanannya.
"Tunggu aku sampai aku kembali," katanya pada Baekhyun. Baekhyun hanya bergumam acuh. Memang mau kemana lagi dia tanpa Chanyeol. Dia kan disini menumpang.
Chanyeol menutup pintu ruang kerjanya. Duduk disana dan membuka video callnya—rupanya, wanita itu sudah menunggu disana.
"Hai, mida, kau mengangkat panggilanku," kata wanita itu, seolah dia baru ingat kalau dia punya anak tiri seperti Chanyeol.
Wanita itu duduk di kamarnya, tersenyum. Tapi, Chanyeol bukanlah orang yang bodoh. Tidak peduli seberapa banyak senyuman wanita itu; Chanyeol tahu bahwa di lubuk hati wanita itu sebenarnya kecewa, dan ia ingin tahu sebabnya.
"Ada urusan apa kau menghubungiku pagi-pagi begini?" tanya Chanyeol, lalu diam menatap tingkah wanita itu. Sepertinya wanita itu sedang menyuntikkan sesuatu di pergelangan tangannya.
"I'm sick," kata wanita itu. Suaranya jernih menggema. Wajahnya tampak sangat sedih—membuat hati Chanyeol jungkir balik saking senangnya.
Wanita itu terlihat sangat kesakitan. Tapi, meskipun begitu, tampilannya selalu tetap mewah; terlihat mahal. Ia mengenakan mantel berbulu dengan jahitan halus di setiap sisinya. Mengenakan stocking hitam yang membuat kaki jenjangnya tampak begitu menggiurkan. Tapi tidak bagi Chanyeol.
Chanyeol malah malas melihatnya.
"Mida, Where have you been? I miss you so bad," katanya menghela nafas. Wanita itu—ibu tiri Chanyeol.
Mia Greey Johnson. Memiliki mata biru terang; kulit kemerahan berseri dan sangat cantik—dia memiliki cara untuk membuat seseorang merasakan jantung yang berdegub kencang dengan tatapan matanya itu. Wanita Eropa yang menikahi ayah Chanyeol hanya karena hubungan bisnis.
"Yah—I haven't seen you for quiete a while either," jawab Chanyeol seadanya. Dia duduk tepat di depan Mia untuk mengamati reaksi Mia, dan wanita itu hanya menatapnya sinis, terus menerus sinis. "How's every thing?"
Chanyeol tahu arah pembicaraan wanita itu dan Chanyeol hanya akan meladeni.
Dia sedang membahas Baekhyun sekarang.
Chanyeol menyeringai.
Mencondongkan tubuhnya ke arah layar komputer—menggoda Mia dengan beberapa kedipan mata.
Mia hanya menatap sekilas lalu beralih ke tangan kiri Chanyeol—terfokus pada benda yang saat ini sedang dipakai pria tampan itu. Gelang berbentuk kerang di tengahnya. Sepertinya itu gelang pasangan, menurut Mia.
"What is new in here?"
Chanyeol mengikuti arah pandang Mia. Memainkan gelangnya dan memberi senyum mengejek pada wanita itu. Membuat rahang Mia mengeras.
"Nothing much—but, Baekhyun is a new for me."
Mia tertawa menyambutnya. "Aku bisa membuatmu menjawab teleponku sepagi ini, ya?" Mia menggunakan bahasa Korea—bahasa yang mereka gunakan setiap kali pembicaraan yang serius. Berpura-pura sarkasmenya hilang entah kemana.
"Kau sungguh tidak manusiawi."
"Oh—yang benar saja! Aku tidak punya waktu untuk jadi manusia. Peringatanku rupanya sampai lebih cepat dari yang kuduga."
Kata-kata itu langsung membuat Chanyeol tercekat dan menatap tajam kepada Mia. "Apa kau yang melakukan hal itu? Membuat ayah Baekhyun—"
"Why didn't you call me back?"
"Apa?"
"Kenapa kau tidak menelponku balik?"
Chanyeol menghantam meja di depannya dengan tinjunya. Matanya berkilat marah dan telinganya mulai memerah—tanda setiap kali dia mulai marah. "Who do you think you are? Kau fikir kau siapa, hah?"
"Do you understand what I'm saying?" Mia tidak berkedip menatap Chanyeol. Bahkan ketika Chanyeol menghantam meja, tatapan datarnya masih sama. "Jangan coba-coba bermain-main denganku, Park Chanyeol!"
Dia telah menjerumuskan Baekhyun ke dalam masalah besar. Tidak seharusnya, dia jatuh cinta. Tidak seharusnya dia melibatkan Baekhyun—tidak seharusnya.
"Kau melakukan semua ini—hanya karena aku tidak menelponmu balik? Kau fikir nyawa manusia itu sampah? Think before you do that, bastard!"
"You leave me no other choice. Kau membuatku kesal karena tidak menjawab panggilanku dan karena kau menjalin hubungan dengan pria bodoh itu."
Chanyeol merasa tidak ada gunanya marah. Yah, benar, wanita ini bukanlah manusia, Chanyeol mengingatkan dirinya sendiri.
"Aku tidak mau pindah."
Suara Chanyeol terdengar tegas; mimik wajahnya yang sedikit tertekan, menjadi hiburan tersendiri bagi Mia. Tapi, Chanyeol tidak menganggap ini lucu.
"Punya penawaran yang menarik? Buat aku berfikir ulang masalah kepindahanmu itu." Mia bersandar di meja, dekat dengan ranjang megahnya. Menahan dirinya sendiri dengan satu telapak tangan dan pinggul. Membiarkan Chanyeol melihat seluruh paha indahnya yang terbungkus stocking hitam.
Chanyeol tidak berpaling tapi juga tidak melirik.
"Apa maumu?"
"Mauku?" Mia memeluk bantal bonekanya sebelum ia terlalu tua untuk melakukan itu. Dia berusaha agar mimik wajahnya terlihat sedang berfikir. "Sayangnya, aku juga tidak tahu apa yang ku inginkan."
Chanyeol melambatkan nafasnya.
Mia. Wanita itu melarang suruhannya untuk membunuhnya. Dia melindungi dan menyuruh Paman Jung menjadi temannya. Dia menyewa guru terbaik dari Eropa untuk mengajarinya banyak hal. Mengenai bisnis, pendidikan, dan segalanya. Wanita itu amat bangga dengan prestasi Chanyeol. Itu bukan perilaku orang yang hendak membunuhnya.
Tapi, wanita itu juga yang menghancurkan keluarganya. Ibunya, kebahagiaan, dan segalanya—yang ia miliki. Semuanya jelas, apapun yang terjadi, Chanyeol hanyalah boneka dari wanita itu.
Tujuan ayahnya dan Mia sangatlah berbeda. Chanyeol sadar ini hanya kebohongan belaka. Saat wanita itu melihat Chanyeol, dia melihat dirinya sendiri; muda, kuat, dan idealis. Seperti melihat cermin.
Chanyeol tidak pernah tahu seperti apa hubungannya dengan Mia. Rumit, terlalu membingungkannya.
"Aku tidak suka kau bergaul dengan orang-orang kampung. Apalagi, sekolah di sekolah menyedihkan seperti itu. Aku ingin kau pindah."
Chanyeol tertawa pahit.
"Aku suka disini. Setidaknya, aku punya teman. Teman yang baik. Dan, Baekhyun—"
"Jangan sebut jalang itu!" Teriaknya keras. Suaranya tercekik dan mata Mia terasa perih sekarang.
"Aku tidak ingin pindah, Mia."
"Kalau aku menolak, apa yang kau rencanakan dengan Kim Yejin?" Mia menunggu lama, Chanyeol tidak kunjung menjawab. Mia ingin tahu muslihat macam apa yang akan mereka berdua lakukan.
"Jangan paksa aku melakukannya."
"Kau telah mengecewakanku."
Chanyeol merasa tidak nyaman dengan tatapan Mia. Wanita itu meringis sebentar. Kepalanya mulai terasa berdenyut. Ia terkulai di sofa dan dia menutup mata. Lalu, seorang dokter menghampiri Mia dan menyuruhnya bersender.
"Kalau kau tidak ingin pindah, putuskan hubunganmu dengan Baekhyun."
"Kau gila."
"Terserah. Kuberi kau waktu sampai lusa. Kalau sampai, lusa kau belum memutuskannya, Mr. Kim akan menyampaikan berkas-berkas kepindahanmu."
"Mr. Kim adalah mata-matamu, benar?" Chanyeol mendengar suara tawa Mia di sana. Wajahnya berseri-seri kesenangan. Saat itulah, Chanyeol tahu bahwa saat ini Mia sangat berbahaya.
"Uang bisa membeli segalanya, kau tahu. Aku tidak suka kau masih berhubungan dengan jalang itu. Putuskan dan kau tidak akan pindah."
"Baiklah."
"Good choice. Tapi, jangan kira aku bisa kau tipu. Aku tahu apapun yang kalian lakukan."
"Kalau perlu, aku akan pindah kamar, kalau kau mau," jawab Chanyeol cepat. Dia malas berdebat masalah yang sama dengan wanita ini. Mia tersenyum puas lalu menutup sambungannya. Chanyeol membanting laptop miliknya. Tangannya lebam ketika menghantam meja.
"Sialan," katanya. Masih membanting barang-barang di meja. Chanyeol mencoba mengingat kebaikan Mia padanya. Mia mencintainya, tapi orang itu jahat. Orang yang paling keji, paling jahat, dan paling egois yang pernah ada. Dia menghancurkan perusahaan ayahnya agar bisa menikahi ayahnya—mengambilnya setelah perusahaan itu tumbuh pesat. Membuat ibunya menderita. Melukai orang-orang yang Chanyeol cintai.
Chanyeol berjanji akan membalas setiap hal; sekecil apapun, setiap perlakuan Mia pada keluarganya. Suatu saat nanti.
.
.
.
"Aku sudah mengemasi tasmu," kata Chanyeol sambil menurunkan koper. Mereka akan kembali ke Busan—asrama mereka ketika dokter menyatakan ayah Baekhyun sudah boleh pulang. Baekhyun tersenyum karena Chanyeol ternyata sudah menyiapkan semuanya.
"Aku sudah tidak sabar bertemu dengan teman-teman. Dan, Daehyun juga bilang, akan mengajariku lebih banyak lagi kalau sampai di asrama."
Dahi Chanyeol berkerut.
"Daehyun?"
"Ya, Chan. Dia memberiku ucapan penyemangat selama aku menunggui ayah di rumah sakit. Bukankah dia begitu baik?"
Putuskan Baekhyun kalau kau tidak ingin pindah, kata-kata itu teringang bagai mantra. Baekhyun menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Chanyeol. "Chan, kau melamun?"
Chanyeol menoleh dan berbisik di telinga Baekhyun. "Ya, aku membayangkan hal kotor denganmu."
"Apa?" Baekhyun buru-buru pergi ke mobil van, meninggalkan Chanyeol dengan tawa mesumnya. Ia melihat Baekhyun memindahkan botol air ke dalam mobil. Chanyeol lupa, Baekhyun itu banyak minum, tidak sepertinya.
Matahari tenggelam dan hari pun berangsur gelap dengan cepat. Chanyeol masih mengemudi dan Baekhyun sedang asyik dengan ponselnya.
"Siapa, Baek?"
"Daehyun. Dia memberiku semangat karena dua hari lagi pertandingan penentuan."
Chanyeol diam.
Baekhyun menatapnya bingung.
"Kenapa, Chan?"
"Tidak apa. Lanjutkan saja membalas pesannya." Baekhyun merasa Chanyeol agak pendiam hari ini. Yah, meskipun Chanyeol memang pendiam, tapi, kalau hanya berdua saja, Chanyeol cukup menyenangkan.
Mereka sampai di asrama pukul sebelas malam. Anak-anak yang lain sudah tidur tapi mereka tetap menyambut Baekhyun dan juga Chanyeol. Mereka menyambutnya dengan cepat. Menanyakan keadaan ayah Baekhyun, saling berpelukan dan kemudian membiarkan mereka berdua pergi ke kamarnya. Mereka pasti sangat lelah.
Baekhyun tidur lebih cepat. Dia tidur di dada bidang Chanyeol. Sedangkan Chanyeol, dalam waktu yang lama, menatap wajah Baekhyun yang cantik.
"Daehyun?" Suara Chanyeol terdengar pelan. Dia memang hanya bergumam, takut kalau Baekhyun bisa terbangun karena suara beratnya.
'Apakah aku harus merelakanmu untuknya, Byun Baekhyun?'
.
.
.
Baekhyun dan juga Chanyeol kembali ke kelas saat jam makan siang.
Anak-anak kelas sembilan langsung berhamburan memeluk Baekhyun—dan bahkan, Kyungsoo mulai menangis karena terlalu cemas. Baekhyun menceritakan hal-hal yang indah kepada mereka: ayahnya sudah keluar dari rumah sakit dan semuanya baik-baik saja. Tentu saja, Baekhyun tidak menceritakan soal restorannya yang harus dibangun ulang dan membutuhkan biaya. Dia tidak mau membuat mereka semua cemas.
"Ah, Mr. Han. Apa kabar? Terima kasih atas bantuannya. Dan terima kasih atas ijinnya selama dua hari," kata Baekhyun dengan nada ceria. Diam-diam Mr. Han merasa lega. Baekhyun sudah kembali seceria biasanya. "Bagaimana keadaan ayahmu, Baek?"
"Appa sudah keluar dari rumah sakit, Mr. Han."
"Syukurlah..." Hanya sesaat wajah ramah Mr. Han terlihat, setelah lima detik, dia kembali memasang wajah sangarnya yang biasa. Menatap Baehyun dan juga Chanyeol dengan mata tajam andalannya. "Kenapa masih disini? Tidak berniat untuk cuci tangan?"
Anak-anak yang lain kembali duduk di kursi masing-masing. Takut dengan Mr. Han yang disiplin. Baekhyun mengajak Chanyeol ke kamar kecil, untuk mencuci tangan sebelum makan siang. Di kamar kecil tidak ada sabun. Bagi anak-anak itu malah lebih menyenangkan. Mereka membasahi tangan di bawah keran air dingin, lalu menekankannya keras-keras ke handuk-handuk yang bersih. Bekas tangan itulah yang membuat Chanyeol risih dan menolak mengelap tangannya ke handuk. Dia lebih memilih tangannya basah daripada harus mengelapnya dengan handuk bekas oranglain. Dan, Baekhyun selalu hafal dengan kebiasaan Chanyeol yang satu itu.
Mereka kemudian keluar dari kamar kecil, mengantre. Seperti biasa, makanan akan dibagikan sesuai dengan kupon yang mereka tukar setiap minggu. Baekhyun makan dengan berisik seperti biasa—tapi begitu lonceng berbunyi; tanda makan siang berakhir, tiba-tiba Mr. Kim menyuruh mereka untuk membentuk barisan yag bergerak ke salah satu tempat.
Baekhyun sudah bosan antre. Maka dari itu, dia menyelinap ke barisan dimana ada anak-anak kelas tiga. Meskipun anak-anak kelas tiga senior, tapi mereka paling malas berurusan dengan Baekhyun yang menurut mereka—tukang buat onar. Jadi, mereka hanya diam.
Tapi, tetap saja, ada anak brandalan di antara anak-anak kelas tiga. Dia sudah memasang wajah sewot ke arah Baekhyun. Sampai kemudian, Daehyun—melindunginya dari pria itu. Baekhyun terkejut ketika Daehyun memeluknya.
Segalanya menjadi cepat.
Tapi, Baekhyun hanya diam. Dia tahu Daehyun sedang berusaha melindunginya. Bukan bermaksud apa-apa; jadi, Baekhyun membiarkan saja kepalanya berada di bahu Daehyun. Cukup lama kejadiannya. Sampai, suara Daehyun membuat Baekhyun tersadar. Baekhyun sedikit canggung, tapi bisa mengendalikan semuanya.
"Terima kasih, Daehyun."
"Ehm. Mana Chanyeol?"
Baekhyun sadar, dia meninggalkan Chanyeol tadi. Dia melihat sekeliling dan tidak menemukan Chanyeol. Dia tersenyum canggung pada Daehyun; sedikit merasa malu karena kejadian tadi.
"Dia ada di belakang bersama yang lain, mungkin." Daehyun mengangguk paham. Dia mengambil steak dagingnya dan memberikannya pada Baekhyun. Baekhyun tidak membayangkan akan seperti ini. Dia menatap Daehyun bingung.
"Aku sedang diet. Untukmu saja," katanya ramah. Baekhyun tersenyum senang. Dia benar-benar polos; berfikir bahwa Daehyun memang sedang diet. Dia berterima kasih lalu pamit kembali ke bangkunya.
Sunggyu—teman Daehyun menyikut lengan temannya itu. Menatapnya dengan pandangan mencemooh. "Diet apanya. Tadi saja kau makan banyak keripik kentang," katanya menyindir. Daehyun tersenyum malu-malu.
"Itu, kan, untuk Baekhyun."
"Ingat, dia sudah punya kekasih."
Daehyun menatap meja anak-anak kelas sembilan. Ia mendengar suara melengking Baekhyun dan tawanya. Betapapun romantisnya pasangan itu, Daehyun tetap tidak ingin menyerah.
"Yang penting, dia gay; itu sudah cukup. Setelahnya, aku akan merebut Baekhyun dari Chanyeol." Daehyun memberi semangat pada dirinya sendiri. Sunggyu memberi cemooh yang biasanya dan dalam dua detik, Daehyun entah matanya yang bermasalah atau tidak, dia sepintas melihat tatapan penuh kebencian Chanyeol saat mereka bertatapan.
Tapi, benarkah? Masa bodoh, fikir Daehyun.
TBC
Hai. Hai. Hai. FF baru nih-Pilih dua (2) dari empat summary dibawah ya, yang paling banyak, akan Jona buatin FFnya. Jadi, nanti tinggal yang mana yang ada mood buat lanjut nanti di lanjut. Dan pairing, tentu aja Chanbaek. Hihi. Untuk cast lainnya, kalian bisa request kalau mau. So, to choose. ^^
.
.
.
Dont Touch Me, bastard!
Summary :
Byun Baekhyun, murid SMA di Dwongjo, adalah tipe orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Egois, kasar, dan berantakan. Dia tidak pernah memiliki hubungan yang lama dengan seorang pria ataupun wanita. Dia tipikal yang suka bemain-main tanpa harus perduli dengan keseriusan. Hingga kedatangan Park Chanyeol, murid baru di sekolahnya membuatnya kesal. Chanyeol mampu menarik banyak perhatian dan sialnya, pria itu malah menyukainya! Yang benar saja, Baekhyun bahkan membenci pria itu.
Magic
Summary :
Byun Baekhyun adalah seorang idol yang dielu-elukan di antara fansnya. Dia cantik, berbakat, memiliki segalanya dan sangat pintar. Hingga suatu hari, segalanya berubah. Tiba-tiba dia ada di negeri asing yang semua penduduknya mempunyai kekuatan sihir! Baekhyun yang manusia biasa tentu saja bingung. Dia tidak bisa melakukan sihir apapun, ditambah bertemu dengan orang-orang aneh disana. Lalu, bagaimana kisahnya selanjutnya? Apakah dia akan kembali atau terjebak dalam dunia sihir itu?
The Others
Summary :
Byun Baekhyun, pria kaya yang terjebak dengan kejenuhannya. Suatu malam, pergi ke bar dan bertemu dengan seorang bartender yang tampan. Siapa sangka, jika ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan bartender itu. Sayangnya, kepribadian ganda yang dimilikinya, memperburuk semuanya. Akankah pria itu juga menyukainya? Kepribadian manakah yang disukai oleh pria itu? Ataukah pria itu akan menyukai dua kepribadiannya? Atau salah satunya? Dan bagaimana mereka mengatasi semua itu?
The Obsession Of Murder
Summary :
Byun Baekhyun adalah anak kecil berumur sembilan tahun yang biasa-biasa saja. dia hanya tinggal berdua dengan Victoria Nonna yang sudah dia anggap ibunya sendiri. Siapa sangka, kalau ternyata ayah Baekhyun tiba-tiba menjemputnya dan disanalah dia bertemu dengan kakak tertuanya. Park Chanyeol. Paman aneh berusia dua puluh tahun. Paman yang dingin dan tidak pernah mengajaknya bicara itu ternyata menyimpan rahasia besar dalam hidupnya. Dia seorang psykopat dan sialnya, Baekhyun harus terjebak kedalam kehidupan paman aneh itu.
Pilih dua ya, temen2. Dan boleh kasih saran, siapa2 aja castnya. Tetapi cerita tetep milikku. G bisa diganggu gugat. *dug* dan soal rating, itu tergantung cerita. Ada yang rating aman, ada yang emang harus rating M #jelas cerita mana yang ratingnya M#
Pokoknya, kasih masukan aja
