"When I love you, I really fucking love you,
There are no in betweens.
I don't know what grey is, my love is black and white."
unknown
.
.
.
.
.
.
DISCLAIMER: I DO NOT OWN NARUTO. All publicly recognizable Naruto characters, settings, etc. are the property of SJ and the mangaka. No money is being made from this work. No copyright infringement is intended. Little bit inspired from Untouchable © masstar (Webtoon) I write this only for fun!
.
.
.
.
Warning (s): AU, Drama, Fantasy, Romance/Comedy and OOC (I made Naruto 23 y.o and Sakura 21 y.o – Kiba 23 y.o and Ino 22 y.o)
.
.
"Apa maksudnya membunuh?"
Naruto duduk di salah satu kursi, tepatnya kursi untuk pasien konsultasi. Karin baru saja masuk ke ruang kerjanya ketika ia melihat Naruto duduk di sana, berputar-putar mempermainkan roda kursi yang didudukinya. Perempuan itu tidak kaget. Perawat yang standby di depan ruangannya sudah memberitahunya kalau adiknya yang keren itu datang pagi-pagi, hampir dua jam yang lalu dan tetap memutuskan menunggu kedatangan Karin. Dokter beriris mata bak warna buah delima itu meraih jubah dokternya, mendatangi mejanya dan mengambil karet pengikat rambut, menguncirnya tinggi. Di wajahnya, terbingkai kacamata yang mempercantik bentuk wajahnya.
"Jelaskan."
"Sai sudah memberitahumu itu?"
Naruto menghela napas panjang.
"Oh, ada Naruto di sini?" Terdengar suara berat dari belakang, tepatnya di ambang pintu. Di tangannya ada secangkir teh dan gelas kopi dengan logo kedai di seberang rumah sakit. Lelaki itu mendatangi Karin dan menyerahkan gelas teh di tangannya pada Karin. "Tahu kau ke sini, pasti kupesankan kopi sekalian. Apa yang membuat Uzumaki muda datang ke sini? Ah, pasti soal gadis muda yang membuatmu rela hidup melarat itu."
"Ah, diamlah, Kakashi." Naruto mendecak.
Kakashi tersenyum di balik maskernya.
"Minum teh atau kopi, kalian benar-benar jadi manusia."
"Tidak ada salahnya," jawab Karin. "Tidak seburuk jatuh cinta pada manusia."
Naruto terdiam, ditatapnya Karin yang menyesap tehnya kemudian membuka laci mejanya. Naruto bersabar, menunggu penjelasan dari Karin. Namun sepupunya itu melemparkan sebuah buku di depan Naruto.
"Baca itu saja."
Naruto mendesis.
Legenda Manusia Rubah.
"Aku sudah pernah membacanya. Itu cerita roman fiksi meski latarnya memang bukan mitos belaka," respons Naruto tanpa repot-repot membukanya. Ia ingat dulu pernah membacanya di minimarket. Itulah pertama kalinya Naruto bertemu Haruno Sakura. Karena perempuan itu juga, ia jadi membawa pulang buku cerita itu, lalu membacanya sampai selesai. Semuanya berawal dari Haruno Sakura. Perempuan yang menjadi alasan ia datang menemui Karin untuk pertanyaan 'membunuh manusia'.
"Memangnya siapa yang bilang kalau ceritanya fiksi?"
Naruto hampir membuka mulutnya namun justru kembali bungkam. Alisnya berkerut dalam. Ditatapnya Karin baik-baik. Tapi sepupunya itu malah dengan santai menyeruput tehnya. Yakin bahwa Karin terlalu malas menjelaskan, Naruto menoleh pada Kakashi yang berdiri, bersandar di bingkai jendela ruangan. Angin pagi dari luar melambaikan helaian rambut peraknya. "Mau menjelaskan?"
"Itu bukan cerita fiksi."
Terdiam sesaat, kerutan di dahi Naruto makin dalam. "Maksudnya, pernah sungguhan ada kaum kita yang berpasangan dengan manusia?"
Kakashi mengangguk.
"Dan akhir cerita yang … keduanya mati itu sungguhan?" Naruto lalu menggeleng. "Oh, tidak. Seingatku ceritanya menggantung. Manusia itu mengandung dan sepertinya diceritakan ia meninggal karena kehamilannya, sementara manusia rubah yang terlibat skandal itu, tewas dalam pengejaran pihak kerajaan."
"Atau lebih mudahnya, pihak keluargamu, Naruto." Kakashi melemparkan pandangan ke luar jendela sejenak. "Meski saat itu ayahmu belum menjabat sebagai raja. Tapi masih saja itu keturunan Uzumaki. Keturunan ibumu."
Naruto menelan ludah. "Jadi, larangan menjalin hubungan dengan manusia itu karena ini? Karena istri yang seorang manusia itu mati?"
Karin menggeleng. "Tidak. Kenyataan bahwa manusia yang mengandung anak dari lelaki rubah itu pasti akan mati sudah ada dari zaman nenek moyang. Tentu saja, manusia tidak mungkin sanggup mengandung benih anak yang memiliki kekuatan kaum kita. Tubuhnya akan kehilangan tenaga karena dimakan oleh janinnya sendiri," jelas Karin. "Sebenarnya, kemungkinan terbentuk janin itu sudah satu dibanding sejuta—kurasa. Kemungkinan janin itu selamat, tak pernah ada yang berani memperkirakan. Mahkluk itu pasti akan berperan penting di kehidupan dua dunia kita ini kalau dia sungguhan dilahirkan."
"Lalu bagaimana orang di dalam buku itu sungguhan hamil kalau kemungkinannya satu dibanding sejuta?"
"Satu bukan berarti tidak ada, Bodoh," imbuh Karin santai.
"Dan lagi, Naruto. Apa kau segitunya tidak pernah membaca sejarah kerajaan? Kau tinggal di sana sejak kecil." Kakashi mendecak dengan wajah tanpa ekspresi.
Karin mengibaskan tangannya. "Dia tidak pernah ke perpustakaan. Aku bahkan yakin, Sasuke lebih pintar daripada Naruto. Parahnya, Kiba pasti lebih pintar dari Naruto."
Naruto mendesis. "Jelaskan saja, apa bedanya?"
"Aku malas."
"Kakashi?" Naruto menoleh lagi pada Kakashi. Karin memang bisa menolak permintaannya, tapi Kakashi tak bisa menolak perintah putra mahkota, tentu saja.
"Bukannya Karin sudah memperingatkanmu dari awal untuk tidak mendekati Sakura?"
Naruto memukulkan kepalan tangannya di atas meja. "Dia sudah terlalu istimewa. Kalian tidak benar-benar merasakan bagaimana rasa Sakura-chan saat aku pertama kali menciumnya."
"Perlukah kucoba menciumnya?" tanya Kakashi santai.
Naruto menatap Kakashi dengan tajam, seolah akan membunuh lelaki pengawal yang bahkan lebih tua darinya itu. Aura Naruto menggelap seketika.
"Lupakan ucapanku, Uzumaki-sama."
Karin tertawa kecil. "Kau ini, benar-benar deh."
Naruto menarik napas dalam-dalam. "Kalaupun aku tidak mengejar gadis itu, kaum kita yang lain pasti juga akan menemukannya. Dan mungkin akan jatuh cinta juga."
Karin berjengit tanpa sadar mendengar kata 'cinta'.
"Tapi menghukum manusia rubah lain yang kastanya lebih rendah tidak akan sesulit menghukum anak raja, kan?" sahut Kakashi. "Soal mating dengan manusia, kembali lagi, kalau laki-lakinya yang manusia—bayangkan kalau Karin jatuh cinta dengan manusia, itu bahkan lebih aman karena tidak perlu ada kekhawatiran hamil. Karena otomatis, manusia rubah betina itu yang tidak akan bisa hamil. Manusia tak akan sanggup menanam benihnya pada Karin atau manusia rubah yang lain. Tapi larangan menjalin hubungan asmara dengan manusia tetap berlaku pada manusia rubah betina. Itu kebijakan kerajaan, karena tidak mau ada ketidakadilan. Pada dasarnya, naluri kaum kita tetap butuh berkembang biak. Kalau otomatis mandul karena manusia tidak bisa membuahinya, Karin akan stres sekali."
"Bicara apa kau," Karin mengerang, "aku tidak akan stres."
"Tapi kau memang tidak pernah mencoba menjalin hubungan dengan manusia," jawab Kakashi tenang.
"Itu karena peraturan. Kautahu betul aku tidak suka melanggar peraturan."
Kakashi hanya tersenyum mendengarnya.
"Apalagi aku anggota kerajaan, meski bukan anggota inti seperti cunguk satu ini."
Naruto mendesah keras. "Jadi intinya, hanya boleh berpasangan dengan sesama kaum kita saja?"
Karin ikut melenguh keras. "Sayangnya, benar begitu."
"Persoalannya hanya hamil dan tidak hamil saja, kan? Bukannya mudah? Atur saja agar tidak ada sperma yang membuahi pihak perempuannya," jawab Naruto.
Karin tertawa seketika. "Kau mau pakai kondom seberapa banyak?" kelakar Karin. "Dan belum sampai hamil, staminamu akan membunuh Sakura duluan."
Naruto memalingkan wajahnya yang memanas.
Karin hanya bisa mengelus dada melihat sepupunya itu. "Kalau kau menyayangi manusia bernama Haruno Sakura itu, tinggalkan dia. Sebentar lagi musim matang untukmu. Akan berbahaya kalau naluri primal itu membuatmu menyerang manusia itu, Naruto."
"Dan sampaikan ini semua pada Kiba karena ini juga berlaku untuknya."
Naruto melirik Kakashi.
Ah, soal Kiba. Dengan sahabat pirang Sakura itu, ya?
"Pikirkan itu semua baik-baik. Kecuali kalau kau memang ingin membunuhnya."
Mendengarnya, Naruto bangkit dari kursinya, meraih jaketnya dan bersiap pergi. "Akan kupikirkan sendiri nanti. Cukup … jangan bawa-bawa soal ini pada orang tuaku." Naruto mendesah lelah. Pemuda itu berdiri di ambang pintu, bersiap menutupnya. Ditatapnya Karin yang menyesap isi cangkirnya. "Ah, satu lagi. Kalian jarang pulang dan sudah matang. Kebutuhan berkembang biak yang kalian jelaskan itu, kalian berdua melakukan seks?"
Bukannya mendapat jawaban, cangkir Karin terlempar ke arah pintu—Naruto buru-buru melesat pergi sebelum cangkir itu menghantam kepalanya.
.
.
.
.
DARE YOU TO KISS ME
Chapter 14
.
.
.
Menu sarapan hari ini, jus apel dengan lemon.
Ino merasakan tubuhnya sudah lebih baik ketimbang kemarin. Sepertinya pagi ini, membuat roti panggang untuk sarapan bukanlah ide buruk. Mungkin kemarin ia pingsan karena terlalu lelah. Kalau dipikir-pikir, ia tak harus selalu diet setiap saat. Ia tak mau terlalu kurus untuk ukuran seorang model. Jadi, pagi ini sudah saatnya ia memberi nutrisi untuk tubuhnya. Gadis itu mengeluarkan beberapa buah apel dari dalam kulkas, bersiap memotongnya kecil-kecil sebelum ia masukkan ke dalam blender. Ino membersihkan sebuah apel merah segar di tangannya, sementara satu tangannya memegangi pisau. Warna merah kulitnya benar-benar menyegarkan mata.
Ino lalu teringat stok daging di kulkas yang menipis.
"Apa kubelikan Kiba daging sekalian kalau aku belanja?" gumamnya sendirian.
Baru berpikir demikian, sebuah lengan kokoh melingkari pinggangnya dari belakang, mengagetkannya hingga gadis itu memekik dan tak sengaja pisaunya menggores ujung telunjuknya sendiri.
"Kyyaa!"
Kiba memeluk perutnya dari belakang dan menyandarkan bahunya di pundak kiri Ino. "Kenapa menyebut-nyebut namaku?" bisiknya pelan tepat di daun telinga kiri Ino.
Pisau dan apel di tangan gadis itu terlepas. Ia buru-buru melepas diri dan berbalik di belakang. Posisi Kiba yang terlalu dekat membuat Ino mundur dan pantatnya langsung membentur konter. "K-Kiba!"
Pemuda itu tersenyum.
"K-kau! Jangan mengagetkanku!"
"Ah, gomen, gomen."
Ino menelan ludah. Pemuda itu hanya memakai celana boxer yang menggantung nanggung di pinggulnya, membuat Ino mati-matian tak mau melirik ke bawah. Melihat mata Kiba pun bukan opsi yang bagus, terlebih bagaimana mata yang masih sayu karena menahan kantuk itu betah menelanjangi irisnya balik. Rambut cokelatnya acak-acakan, berantakan seperti habis dijambak ibu-ibu penjual sayur di pasar tradisional. "Kau b-baru bangun?" Ino ingin memukul kepalanya sendiri dalam hati. Sungguh! Melihat Kiba bertelanjang dada bukanlah hal baru untuknya. Pemuda itu memang selalu tidur tanpa memakai pakaian. Tapi mengingat apa yang baru saja ia alami kemarin dengan Kiba membawanya pada situasi yang teramat malu untuk menatap mata pemuda itu. Bagaimana pun juga, jantungnya masih belum bisa berkompromi dengan perlakuan Kiba yang semakin bold.
Kiba mengangguk. "Membuat sarapan?"
Ino balik badan, ingat pada apelnya. "Ya. Mau kubuatkan sarapan yang sama? Jus … dan roti."
Kiba melongok dan melihat Ino mencuci apelnya, sekaligus melihat titik darah yang mengucur dari telunjuk Ino. Pemuda itu mengulurkan tangannya, meraih tangan kiri Ino.
"Eh? Kib—"
"Aku sarapan ini saja." Kiba mengangkat telunjuk Ino, memasukkan jemari ramping itu ke dalam mulutnya.
Sedetik, tubuh Ino menegang luar biasa. Darah langsung cepat berkumpul naik ke kepalanya, membuat wajah Ino merah seperti kepiting rebus.
Kiba mengulum jemari Ino, mengisapnya lembut.
"A—ak—" Ino kehilangan kata-katanya. Kiba mengisap jemari Ino dengan lembut seolah tangan gadis itu semanis permen kapas. Ino dapat merasakan bagaimana lidah Kiba menari, menyapu permukaan kulit telunjuknya.
Kiba menatap bola mata Ino dan menyeringai. Bibir pemuda itu akhirnya melepas jemari Ino dan ia maju ke wajah Ino. Ke mana Ino dulu yang hobi mengomel dan membentak setiap saat? Apa ia yang membuat Ino berubah menjadi se-menggiurkan ini? "Kalau merona begini, aku merasa kau sangat menggemaskan. Bukankah ini sarapan terbaik yang bisa kudapatkan?" Pemuda itu memiringkan kepalanya, bersiap menyerang bibir Ino.
Mata Ino membulat. Namun gadis itu dengan sigap mengangkat tangannya dan memukul kepala Kiba.
"Aduh!"
"K-kau ini!" Ino menarik napasnya cepat, merengkuh semua oksigen yang ia butuhkan dalam waktu singkat. Ino menggenggam tangannya, merayap hingga ke dadanya, menutupi bagian jantungnya yang berisik setengah mati. "Berhenti membuatku kaget!"
"Kalau begitu, berhenti teriak-teriak dengan wajah memerah begitu, dong." Kiba bergerak maju lagi. "Wajahmu sendiri yang membuatku lapar."
Ino memegangi pipi Kiba, mencegahnya mendekat. "K-kau!"
Kiba menggerak-gerakkan bibirnya.
Gadis pirang itu langsung memukul pelan bibir Kiba. "Kau belum sikat gigi!"
Kiba menarik wajahnya. "Eh?" Pemuda itu mengembuskan napas ke telapak tangannya, mencoba membaui napasnya sendiri. "Tidak bau apa-apa."
Ino mengibaskan tangan ke wajahnya yang memanas, tapi langsung berhenti begitu Kiba memandangnya lagi.
"Ya sudah aku gosok gigi dulu." Pemuda itu tersenyum dan berbalik. Diliriknya Ino yang seperti mengembuskan napas lega, namun Kiba berbalik lagi, mencuri kecupan singkat dan langsung pergi meninggalkan dapur.
Ino merosot ke lantai.
Kehilangan omelan andalannya.
Sial.
.
.
O.o.O.o.O
.
.
Sai berhenti menuang susu kotak ke dalam gelas beningnya setelah ponselnya berdenting nyaring. Ada beberapa pesan masuk dari Naruto. Tentu saja, siapa lagi yang pagi-pagi begini akan mengganggunya kalau bukan model yang ia pegang satu itu. Membaca pesan-pesannya, Sai menghela napas pendek. Ia mengantongi ponselnya lagi dan berniat menuang susu kotaknya. Tapi gelas beningnya raib.
"Naruto?"
Sai menoleh. Uchiha Sasuke sedang menenggak setengah gelas susu miliknya. Tangannya yang bebas mengusap-usap helaian rambutnya yang basah sehabis keramas. Beberapa butiran airnya menetes membasahi bahu dan dada bidangnya. Sai melirik ke bawah, melihat betapa entengnya rekan seapartemennya itu bersliweran tanpa pakaian. "Ya, seperti yang kutanyakan padamu kemarin. Soal bisa membunuh pasangannya kalau sampai melakukan seks. Apa semengerikan itu?"
Sasuke mengembalikan gelas bening di tangannya yang telah kandas isinya pada Sai. Jejak-jejak warna putih susu sapi segar masih berbercak di tepiannya, juga di bibir atas Sasuke. "Kalau kau bisa hamil, mungkin iya."
Sai memutar bola matanya.
"Lalu?"
Sai mengangkat bahunya. "Juga soal keluarganya yang dulu mengejar siapa pun ras kalian yang menjalin hubungan dengan manusia."
Sasuke menyandarkan sisi tubuhnya di kulkas. "Bukannya kau sudah tahu itu sejak dulu? Itulah kenapa kau sangat antusias menjebak Naruto dan Kiba, biar mereka tahu bagaimana sulitnya jatuh hati pada makhluk mortal. Apa aku salah?"
Sai tahu Sasuke terlalu cerdas. Berada di dekat Sasuke akan membuktikan bahwa kecerdikannya tak ada apa-apanya dibandingkan bungsu Uchiha.
"Lalu Naruto bilang apa lagi?"
"Nanya jadwal."
"Ada jadwal?"
"Tidak. Hari ini kosong."
"Jadi kau akan tinggal di sini seharian?"
"Keberatan?" Sai tersenyum tipis.
Sasuke mendecak.
"Sebaiknya kaubilang ke manajermu untuk membatalkan semua acaramu hari ini."
"Gampang." Sasuke tersenyum balik, sangat tipis hingga hampir tak terlihat. Pemuda itu mendekat pada manajer yang memiliki wajah hampir seperti pantulan rupanya sendiri. Melihat Sai hampir terlihat seperti bercermin. Tiap melihat iris gelap pemuda Shimura itu, satu-satunya kekesalan yang Sasuke rasakan sejak pertama ia melihat sosok Sai adalah, kenyataan bahwa Sai bukan dari kaum-nya. "Mau memberiku sarapan?"
Sai mendorong bahu Sasuke. "Apa kau akan telanjang sepanjang hari? Cari pakaian sana."
Seringai bertengger di bibir pemuda itu.
Sai membuka pintu kulkasnya, mencari tomat ceri dan langsung menjejalkannya di mulut Sasuke. "Sarapanmu. Seperti yang kauminta." Pemuda pucat itu berbalik dan pergi meninggalkan dapur dengan santainya.
Sasuke bergerak mengikutinya. "Hei, Sai, ayo main game. Mumpung kita tidak ke mana-mana."
"Ya, ya. Video game seperti biasa?"
"Tapi sebelumnya, berikan aku sarapan dulu."
.
.
O.o.O.o.O
.
.
Sakura terbangun oleh suara berisik ponselnya sendiri. Ada telepon masuk dan deringnya seakan tak menyerah, menjerit-jerit minta diangkat. Sakura mengangkat kepalanya dari bantal, menoleh ke sana kemari. Dari arah suara ponselnya, benda seluler itu sepertinya bersemayam dalam tasnya yang tergeletak di tepian dinding kamar. Mengulurkan tangan pun percuma—tak sampai. Namun gadis itu enggan bangun. Kepalanya masih agak pusing karena efek sake semalam. Sialan.
Gadis itu mendesah berat. Untungnya jadwalnya kerja part-time hari ini kosong. Tapi besok ia harus masuk shift pagi. Ia ingin sekali tidur. Tapi apa daya, suara ponsel itu membuat Sakura merasa menyesal memilikinya. Sakura menguap, lalu bergerak berguling-guling meninggalkan futon, hingga tubuhnya berputar-putar ke arah dinding. Dengan tangannya, ia mencari ponselnya.
Mengangkatnya, suara kencang menerjang telinganya.
"Kau libur, kan?! Libur, kan?!"
Sakura menguap. "Ada apa?"
Ino di seberang mendesis panjang. "Aku butuh kau sekarang. Sangat butuh sekali."
Sakura menggaruk rambutnya yang makin kusut. "Aku ingin sekali tidur."
"Aku ingin sekali kabur."
Kata terakhir Ino membuat Sakura memicingkan mata. "Maksudmu?"
"Aku ingin kabur dari Kiba sementara waktu."
"Ke … napa?"
Ino tak langsung menjawabnya. Gadis itu terdengar menelan ludah dari seberang sana. "Ini buruk! Buruk sekali untuk kesehatan jantungku!"
"Kau bicara apa, sih?"
"Ayolaaah!"
"Ayo apa?" Sakura mengerjap. "Berhenti berteriak. Kau akan membuatku tuli, Pig."
"Aku akan cerita nantiiii, kumohooon."
Sakura seperti menahan tawanya. "Ck. Kau ini kenapa, sih. Biasanya juga berhadapan dengan laki-laki tidak pernah menjadi masalah untukmu."
"…"
Tahu Ino butuh tempat cerita, Sakura mendesah rendah. "Ya, ya. Kutemani kau kabur sehari ini saja. Mau ke mana kita?"
"Bagaimana kalau ke Nagano? Cari onsen, berendam kolam air hangat. Kalau perlu, sekalian ke Distrik Shimotakai."
Mata Sakura membulat. Gadis itu terduduk, teringat sesuatu. Ya, ia juga butuh sekali refreshing. Semalam ia kebanyakan minum sake. Naruto menggendongnya sepanjang perjalanan pulang. Lalu … lalu? Ah, Naruto menciumnya. Lalu … Sakura memintanya untuk tetap tinggal. Sakura menepuk kepalanya dengan keras. "Bodoh sekali!" dengusnya tak tanggung-tanggung.
Bukankah permintaannya kemarin itu murahan sekali?
Meminta Naruto untuk tetap tinggal, lalu apa? Melakukan seks sepanjang malam?
"Hei, Sakura?"
Sakura memandangi ponselnya. Ya, ia juga butuh bicara pada seseorang. "Aku setuju! Kita ke Nagano!"
.
.
O.o.O.o.O
.
.
Harusnya hari ini jadwalnya ia berkumpul dengan Shinobi. Sejauh ini belum ada telepon dari manajer Shinobi. Mereka akan membahas konser amal terdekat dengan beberapa musisi band lain di luar kota. Bukannya Kiba mau membangkang, tapi ia punya prioritas sekarang. Toh, belum ada kabar harus jam berapa ia datang.
Memiliki pendengaran yang melebihi kemampuan manusia membuat Kiba tak yakin harus merutuk atau malah bersyukur. Memiliki darah ras rubah dalam tubuhnya adalah keajaiban.
Ia adalah makhluk mitos.
Kadang Kiba tak senang mendengar kenyataan itu.
'Aku ingin kabur dari Kiba sementara waktu.'
Mencuri dengar kalimat itu yang meluncur dari Ino di dalam kamarnya tanpa gadis itu tahu telah membuat rongga rusuk pemuda itu mendadak menyempit. Seketika Kiba merasa kakinya terpaku di lantai. Apa ia melakukan kesalahan? Pemuda itu hampir berbalik menuju kamarnya ketika suara merdu itu kembali terdengar samar di telinganya.
'Ini buruk! Buruk sekali untuk kesehatan jantungku!'
Ah, itu rupanya.
"Dasar." Kiba menggelengkan kepalanya, berbisik sendiri. Memangnya Ino kira, hanya jantung gadis itu yang mendadak tidak sehat karena perasaan asing ini? Senyum terulas tak dapat dicegah di bibirnya. "Nagano ya…."
Mengikuti Ino diam-diam sepertinya bukan ide buruk.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
A/N
3010 words, cenderung singkat kalau dibandingkan beberapa chapter sebelumnya, yaa! Tapi gak apa lah, kita selow saja yaa! Udah banyak itu 3010 kata hahahaa! Jadi ceritanya, daku iseng buka stats story, ada satu judul yang viewnya mencapai hampir 400 ribu views, langsung melayang-layang pas tahu. Pada bisa nebak judul mana yang viewnya fantastis itu?
Nah, kita tahu kalau daku ini gak dibayar untuk menyebar imajinasi yang menghibur pembaca di FFN. Jadiii, cukup bayar dengan tinggalkan jejak review yaa :P
Untuk Riel Excel, Sai ini semacam cenayang wkwkkwk dia paham development nya Naruto ini selanjutnya bakal masuk fase apa karena dia tau bener soal manusiarubah, wkwkwkkw. Mangaaaap buat antiyaoi, sasusai di sini cuman numpang sekilas. Maap juga yang gatel sama kibaino yang overdosis. Tapi percayalah, mulai adegan onsen, kita akan ketemu banyaaaak narusaku dan kibaino mulai habis porsi wkwkwkkwkwk
REVIEW?
.
.
.
.
.
.
V
