A/N: Pasang OST. Laskar Pelangi (Ipang: Sahabat kecil)


XXX

-A Resurrection Of TheWar-


"Mein Kampf School.. Sekolah termewah dan terbaik.. Begitu juga murid-muridnya yang luar biasa.."


Enam bulan berlalu. Dan, Madara, dan Orochimaru dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Sebuah mesin penyebab segalanya, XXX telah dihancurkan demi kebaikan bersama.

Anggaplah, semua yang telah meninggalkan Mein Kampf, tetap abadi dengan kenangan.

Peristiwa malam itu telah berakhir. Menyisakan sesuatu tersendiri bagi Mein Kampf. Kini, Mein Kampf telah dibangun kembali. Tangisan dan teriakkan malam itu, telah berganti menjadi kebahagian pagi ini..

Mein Kampf—Aula besar—08.00 pagi

Pagi ini sangat cerah. Matahari menyinarkan cahayanya di atas sebuah sekolah mewah dan megah itu. Rerumputan mengelilingi halaman luas sekolah itu. Memperlihatkan ke-asriannya di musim panas. Sekolah yang terbaik..

"Good morning Mein Kampf! I love you all!", ucap Tsunade. Tsunade berdiri dengan sebuah mimbar mewah. Hari ini adalah hari terindah bagi Mein Kampf, atau tepatnya bagi murid kelas XII. Hari ini adalah hari kelulusan. Di belakang mimbar besar itu, terdapat sebuah meja panjang raksasa, tempat guru-guru.

Lalu, terdapat empat buah meja besar untuk masing-masing asrama. Semua murid kelas 1 dan 2 putra dan putri mengenakan kemeja putih dilapisi jubah asrama masing-masing. Sedangkan murid kelas 3 putra mengenakan setelan jas hitam dengan lambang Mein Kampf di sisi kirinya. Murid kelas 3 putri mengenakan dress.

Suasana di aula besar telah ramai. Keramaian itu berhenti ketika pintu aula besar terbuka. Beberapa tamu terhormat memasuki aula mewah itu. Semua guru dan murid berdiri menyambut para tamu itu. Lalu bertepuk tangan.

Terlihat Danzou Inuzumaki dan Sarutobi di barisan paling depan, lalu Namikaze Minato dan Kushina, Baki dan istrinya, Fugaku dan Mikoto Uchiha, Ebizou dari Suna, dan masih banyak lagi.

Setelah para tamu duduk, Tsunade kembali berdiri dan memulai pidatonya.

"Tak terasa, setahun telah kita lalui bersama. Tahun yang paling menyisakkan kenangan bagi kita semua. Tahun yang paling bersejarah, tahun yang terbaik", Tsunade diam sejenak. Memandang murid-muridnya.

"Hari ini, Sabtu 15 Juli, kita mempunyai even tahunan yang harus dilakukan. Penyerahan murid kelas XII!", ujar Tsunade tiba-tiba semangat. Membuat murid menaruh perhatian. Seketika, Tsunade turun dari mimbarnya dan Guy berdiri dan menuju ke depan.

"Baiklaaaaah!! Acara pertama kita! ANSAMBLE MUSIIIIIIKKKKK!!", teriak Guy dengan penuh kobaran api. Lee yang duduk di samping Aika seketika menangis saking kagumnya. Semua murid bertepuk tangan meriah. Semua mata melihat ke arah sisi kanan depan aula besar mewah itu. Cahaya matahari juga memberi sinar ke arah orang-orang yang memegang alat musik itu.

Di sana—Helen berdiri tersenyum ceria dengan biola di tangannya, diikuti Hikari yang juga memegang biola dengan anggun. Di samping Hikari, Ino terduduk dengan senyum-senyum mencuri perhatian Sai yang duduk di barisan murid paling depan. Lain lagi dengan Putee, yang kini—memainkan terompet—menggantikan Sakura. Lalu..

Saorang laki-laki yang terkenal karena ketampanannya dengan rambut belakang seperti ekor ayam mengenakan jas hitam pagi ini. Mata onyx-nya memandang seisi ruangan. Sasuke Uchiha dengan pianonya, ia tersenyum ke arah seseorang yang memegang flute. Sakura memainkan flute—menggantikan—Miu Matsuidaira.

Sasuke memandang piano di depannya, dan memandang flute di tangan Sakura. Ia tersenyum melihat ke arah jendela yang menyiratkan kesegaran pagi hari. Ia memiliki kenangan dengan piano dan flute..

"Kau bisa main musik? Mau duet?", Sasuke bertanya pada Miu. Entah apa yang dipikirkan Sasuke, ia mengacuhkan Sakura yang hanya diam. Mau menangis. Miu melihat ke arah Sasuke. "Kenapa? Takut hah?", Sasuke sengaja memancing Miu agar ia bicara.

"Dasar", balas Miu.

"Putee, aku pinjam pianonya sebentar", Putee dengan bingungnya berdiri dan membiarkan Sasuke duduk untuk memainkan pianonya. Sasuke dan Miu memulai permainan mereka. Lagu yang lembut dan cocok untuk suasana orang yang pilu. Sakura pergi dan disusul oleh Helen, Putee, Ino, dan Hikari.

Penampilan Sasuke dan Miu sangat indah dan membuat.. Sakura menangis,,.

Tak selang beberapa detik, ke-6 pemain musik itu mulai memainkan alat masing-masing. Alunan musik yang sangat lembut dan membangkitkan kenangan. Pada malam itu..

DHUAAAAAARRR!!!!

Kenangan ledakkan malam itu masih terbayang di benak Helen, Putee, Sakura, Ino, dan Hikari. Tetapi sekarang, mereka mencoba menghilangkan perasaan itu. Terhanyut dalam alunan musik yang sedang mereka aminkan. Helen dan Hikari memejamkan matanya kompak. Begitu pula dengan Putee.

"Kita harus meminta bantuan. Sekarang kita ke pintu gerbang masuk Mein Kampf dan meimta bantuan penduduk sekitar. Aku mempunyai kenalan, namanya Haku. Kita bisa meminta tolong padanya, ayahnya pemilik perusahaan

pemadam kebakaran"

'Selamatkan lah kami Tuhan kami.." "Helen-sama?" "Kami di sini Yamatooo!!!"

"Bangun Sakura.. untuk Miu Matsuidaira" "Terus bersama ya.. Sasu-Saku.."

Para pemain musik andalan Mein Kampf ini mengusir kenangan buruk itu dan kembali terhanyut dalam alunan musik yang mereka mainkan.

Beberapa menit kemudian, alunan musik itu berhenti dan disusul oleh tepuk tangan yang meriah dari para murid yang ada di aula besar. Guy Maito kembali berdiri dan melanjutkan acara-acara selanjutnya, yang penuh dengan sambutan-sambutan yang membosankan. Mulai sambutan dari Sarutobi, Danzou, Ebizaou, dan sampai akhirnya Tsunade.

"Tak terasa, setahun telah berlalu. Menyisakan berbagai kenangan yang indah atau menyakitkan. Walaupun tahun ini berbeda, walaupun banyak yang meninggalkan kita.. walaupun..", air mata telah menggenang di mata Tsunade.

"Semua itu kenangan. Sebelum bersenang-senang, marilah kita kenang sahabat-sahabat kita.. orang-orang yang berharga untuk kita..", lanjt Tsunade yang sekarang ini mulai mengangguk untuk mengenang semua korban yang ada. Semua orang dalam aula besar itu pun turut menunduk. Mengenang orang-orang yang berharga untuk mereka.

Setelah sekian menit, semua kembali mengangkat kepala mereka, melihat ke arah Kurenai yang sudah berdiri dengan dress hitam dan sebuah kertas putih di tangannya. Membaca nama-nama yang telah pergi ke alam sana.

"Zooi Togawa..", suara Kurenai tersendat-sendat. Ia menangis, dengan mic tetap berada di depannya.

"Wammy Hisanobu..", Kurenai diam sejenak. Menyeka air matanya. Semua yang berada di aula besar menundukkan kepala. Mengenang semuanya.

"Stellar Alerion..", Kurenai menyeya air matanya kembali. Tak sanggup rasanya membaca nama selanjutnya.

"Guru kami.. Hatake Kakashi..", suara isakkan mulai terdengar. Air mata Kurenai menetes di pipinya. Saat Kurenai menoleh ke belakang, ia melihat Anko. Anko yang paling berhak untuk menangis sekencang-kencangnya. Karena Anko adalah orang yang paling berharga untuk Kakashi.

Guy yang sedari tadi berdiri, duduk dan merangkul Anko. Ia memegang tangan Anko, walaupun Anko tidak membalas genggaman Guy. Anko hanya menangis, memegang sebuah cincin yang terbuat dari emas putih. Cincin dari Kakashi, tepat sehari sebelum Kakashi meninggalkannya.

"Kalau melihat keadaan Kakashi-sensei yang seperti ini. Pasti Obito, sedih juga kan?"-Zooi Togawa-

"Selama masih ada orang yang berdiri dan menyangga dari belakang.. Semua akan terasa ringan dan mudah. Iya kan, Kakashi-sensei?"-Wammy Hisanobu-

"Everything will be alright Sensei.."-Stellar Alerion-

Anko terus menunduk.. Satu guru dengan tiga murid kepercayaan.. Seorang guru yang harus kehilangan kakinya.. seorang guru yang mati bersama tiga muridnya..

"Penyakit osteosarcoma"-"Ya.. Aku tahu. Dan mereka murid kepercayaanku, Anko."

"I love you Anko."-Hatake Kakashi-

"Rin Kajuji..", lanjut Kurenai dengan berat.

Tenten yang duduk di sebelah Neji terus menangis. Neji merangkul pacarnya itu. Seorang sahabat yang sangat sulit untuk dilupakan.. dan sangat menyedihkan untuk dikenal telah meninggalkan mereka dan hanya meninggalkan kata penyemangat untuk mereka..

"Ma—Maaf.. Ka..Ka..kalau a—aku punya salah sama kalian.. Ngerusak hubungan kalian.. Se-semangat ya Neji-Ten..."-Rin Kajuji-

"Neji, Aika, Rin maafin aku kan?", ucap Tenten parau.

"Tentu.. tentu Tenten", jawab Neji tanpa memandang Tenten. Bagi Neji, semua telah selesai.

"Rin itu udah maafin kamu sejak sebelum semuanya terjadi kok!", tambah Aika ceria.

"Miu Matsuidaira", Kurenai mengusap air matanya. Walaupun enam bulan telah berlalu, semuanya tak mudah untuk tersenyum. Putee, Hikari, dan Helen menoleh melihat ke arah Sakura dan Sasuke yang duduk berdampingan. Mereka bisa melihat Sakura menahan air matanya dan Sasuke menggenggam tangan pacarnya itu.

"Mereka tertindas karena malas. Orang pemalas itu tidak berguna"-"Aku suka juga padamu. Tapi, belum mengalahkan perasaan Sakura Haruno padamu, Sasuke Uchiha" Miu Matsuidaira-

'Perasaanmu padaku memang tidak mengalahkan persaan Sakura padaku, tapi perasaanku padamu mengalahkan perasaanku pada Sakura. Apa kamu mengerti?', Sasuke terus menggenggam tangan Sakura, ia angkat kepalanya dan "Jangan menagis.. Sakura..", bisiknya.

"Deeandra Hihara", ucap Kurenai. Tak sanggup untuk melihat nama-nama selanjutnya.

Tobi yang memakai jas hitam tertunduk. Mengingat seseorang yang sangat berharga untuknya.. Begitu juga Sai.. tapi berbeda dengan Tobi, Sai tidak menunduk. Tidak juga menangis. Sai tersenyum.. walau itu hanya senyum yang dipaksakan saat ia mengingat seseorang yang sebenarnya ia anggap sebagai seorang sahabat..

"Wah gambarmu tak berkembang Hihara"

"To—To bi senpai.. Na—nanti ak—ku piki—rin lagi ya?"-Deeandra Hihara-

Anggota Akatsuki yang lain merasa tak perlu untuk menghibur Tobi saat ini. Karena mereka tahu, Tobi sedang menceritakan semuanya pada Dee. Karena Tobi selalu menganggap keberadaan Dee. Berbeda dengan Tobi, Sai mengangkat kepalanya dan memandang Ino.

"Ekspresi apa yang harus kupasang Ino?"

"Kadang.. menangis itu perlu Sai..", setelah mendengar jawaban Ino, setetes air mata membasahi wajah senyum Sai. Sai tetap tersenyum, tangannya menggenggam sebuah kertas dengan gambar Madara di atasnya. 'Kau tahu Dee? Ini.. karya terbaikmu, hebat.'

"Gaara dan Matsuri..", Kurenai memulai membaca lagi.

Shinaniku Rin duduk di sebelah Temari. Mata Niku berkaca-kaca ketika mengingat pacarnya yang telah tiada. Begitu juga temari dan Kankurou.. kehilangan seorang anggota keluarga. Gaara adalah sepupu Temari dan Kankurou. Hal itu sangat menyakitkan untuk Niku, Temari, dan Kankurou. Tapi Niku lah yang mungkin saat ini paling menderita.. untuk melihat Gaara mati di depannya sendiri..

"Kalau aku yang menang, kamu minta maaf dan tarik semua kata-katamu kemarin. Gak ada putus. Gak ada Matsuri. Mau?"-"Aku cuma suka sama kamu dan nggak ada perasaan apa-apa ke Matsuri selain perasaan kepada seorang teman" –Gaara-

"Hai Niku-chan, Gaara-kun! Aku mau kalian tersenyum saat membaca surat ini. Oke? Aku mau, saat aku pergi nanti, kalian terus bersama. Gaara-kun: Aishiteru.. Niku-chan: Arigatou" –Matsuri-

"Gaara sama Matsuri pasti terus ngeliat kamu dari atas sana Niku", ucap Noriko sambil merangkul Niku. Niku mengangguk.

"Kalian terus bersama ya di alam sana..", ucap Niku pelan sambil menyeka air matanya dan mencoba untuk tersenyum tulus.

"Kimimaro Kaguya", Kurenai melihat terdapat beberapa nama lagi untuk dibaca. Ini sangat berat. Sangat.

Ayashi Uchiha tidak menangis. Dalam pikirannya hanya ada bayang-bayang wajah Kimimaro. Seorang laki-laki yang hidup dalam kegelapan, hidup dengan penyakit mematikan, hidup dalam cekaman, seseorang yang tak pernah punya teman, dan seseorang yang mati untuk teman.

"Uchiha Ayashi, terima kasih untuk mengajariku apa artinya teman. Terima kasih untuk menemaniku dan berusaha mengubahku. Terima kasih untuk megkhawatirkanku. Terima kasih untuk menganggap keberadaanku di dunia ini.

Maaf karena mengkhianatimu. Maaf karena telah menyeretmu dalam masalah ini. Tapi aku ingin menjadi temanmu. Selamanya.. seorang teman yang berkhianat. Seorang teman yang memberikan nyawa." –Kimimaro-

'Sebenarnya ada yang belum kubilang padamu, sebenarnya kau teman terbaikku. Kimimaro.. aku rasanya, rasanya mau mendengar ceritamu lagi..', kini Ayashi tersenyum. Walaupun tidak ada orang di sebelahnya, ia tahu Kimimaro mendengarnya.

"Khai Uzumaki.."

Pola dan Naruchu-chan tertunduk. Hanya satu kalimat yang keluar dari mereka bersamaan. "Kalau Icha-icha, novel yaoi, pasti kita beli ya Khai.."

"INIII!! ICHA-ICHA TACTICS EDISI TERBARU KARANGAN JIRAIYA-SAMA! DIJAMIN GAK AKAN NYESEL KALO BACA INI!!! AYO BELI PARA SENPAI!!"-Khai Uzumaki-

Seorang murid kelas X yang sekarang telah naik menjadi kelas XI berambut kuning kehijau-hijauan bernama Darbi Aina-chan duduk tertunduk dan diam. Matanya berkaca-kaca. Sekali ia memejamkan mata, air matanya pastilah telah menetes. Mengingat seorang kepala sekolah yang luar biasa dan seorang teman yang mati di hadapannya sendiri..

"Ahahaha… Jiraiya-sama.. saya mau kok.. ano, jualan icha-icha.."-"Iya namanya Darbi!"-Khai Uzumaki-

"Kapan ya.. kita jualan Icha-Icha lagi Khai?", ucap Darbi sambil sedikit tertawa di balik matanya yang terus memerah. Darbi mengusap air matanya dengan jubahnya dan melihat murid-murid di depannya sudah beridiri. Darbi segera ikut berdiri dan menundukkan kepala. Sekarang semua yang di aula besar berdiri, tak terkecuali para tetua. Semua mengenangnya.

Akari yang berdiri di sebelah Kiba dari tadi terdiam. Ia terus memikirkan anjingnya yang telah mati sebagai pahlawan. Hori.. bukan anjing biasa. Hori itu pahlawan.. Lalu Akina yang sudah bisa tersenyu pagi ini, terus mencoba membangun hidup baru. Yuki dan Kankurou juga mengenag semuanya, bagaimana prjuangan mereka keluar dari Mein Kampf malam itu.

"Kepala sekolah, Jiraiya-sama, berdo'a mulai.."

Kini semuanya menundukkan kepala dan berdo'a untuk keselamatan teman-teman mereka yang telah pergi. Hanya satu orang yang tidak menundukkan kepala, seseorang yang berdiri di samping Hinata. Naruto berdiri dengan tegap, mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Ia tersenyum, mata birunya bersinar dengan kaca air mata yang melapisinya.

Jiraiya-sama..

Jiraiya-sama yang kukenal sampai sekarang adalah.. Yang terbaik...

Sebagai kepala sekolah, sebagai kakek.. ataupun.. pembuat XXX.. XXX adalah mesin penghancur yang dibuat untuk menghancurkan musuh. Tetapi..

XXX bekerja sebagai… mesin penghancur kebahagiaan..

"Mari Mein Kampf, kita tancapkan pada diri kita, bahwa mereka yang meninggalkan kita, telah berkorban untuk kita. Telah menceriakkan hati kita, telah membantu kita, segalanya untuk kita. Anggaplah mereka akan abadi dengan kenangan, taburilah mereka dengan senyum dan kerelaan. Berdo'a lah untuk mereka ucapkanlah terima kasih untuk mereka", kembali lagi, Tsunade dipaksa untuk menghapus air matanya.

"Malam ini, ucapkan lah do'a untuk mereka walau hanya sepatah atau dua patah. Karena Mein Kampf adalah satu kesatuan, karena Mein Kampf adalah sebuah keluarga besar. Mein Kampf School!! I LOVE YOU ALL!!", teriak Tsunade semangat sambil tersenyum. Susulan tepuk tangan memenuhi ruangan dan semua hadirin kembali duduk.

"Hal yang paling penting hari ini bukan tangisan! Marilah melanjutkan acara pagi yang cerah ini! Acara selanjutnya adalaaaaaaaaahhhh.. PENGUMUMAN KELULUSAAAAAANNNN!!!", teriak Guy dengan semangat.

Tsunade kembali naik ke atas mimbar. Ia membawa sebuah map coklat bernuansa batik emas. Semua anggota Akatsuki keringat dingin.

Sasori dan Faika berpegangan tangan, Kisame dan Seiryuu yang kabarnya telah putus berdiri dekat-dekatan dan langsung Zetsu dan Hidan nyelip di antara mereka, Kakuzu berhenti ngitung uang sedangkan Pola nutup komik yaoi-nya. Naruchu-chan hanya senyum-senyum liat kakak kelasnya. Itachi mencoba megang tangan Yvne, tapi Yvne langsung pergi jauh-jauh. Tobi sama Deidara yang berdiri sampingan udah kayak orang mau pelukkan, mereka langsung memisahkan diri saat Pola udah mengeluarkan 'ehem-ehem'. Pain tetep stay cool dan Konan mengelap keringatnya.

"Hari ini, Sabtu 15 Juli 2008, Depertemen Pendidikan Nasional Konoha dengan ini, menyatakan"

Deg deg

"Angkatan ke-5 dari Mein Kampf School, tahun ajaran 2007-2008,"

DEG DEG DEG DEEG

"LULUS 100 PERSEEEEEENNNN!!!!", akhirnya ucapan Tsunade selesai. Aula besar sangat gaduh. Semua murid kelas 9, dari asrama Kyubi, Gamabunta, maupun Manda langsung terlonjak gembira. Mereka berpeluk-pulukan, bersalaman, atau berlopat. Perjuangan dalam setahun ini, terbayar sudah. Akhirnya dalam beberapa menit, suasana tenang kembali walaupun Akatsuki terus ribut.

"Terima kasih Dewa Janshin!!!", Hidan sujud-sujud, membuat anggota Akatsuki yang lain menutup wajah.

"Kisame tembak Seiryuu lagi tuh! Balikan gih balikan! Sei kasian tuh Kisame diputusin gitu!", ucap Faika yang duduk di samping Sasori,

"No no no no.. Dan Lucious udah sadar, kok bisa pernah pacaran sama ikan hiu. Faika, Sasori, Matt udah nunggu!", ucap Seiryuu tanpa perasaan, Kisame langsung mengambil tissue dan pergi ke kamar mandi. Di sisi lain, Kakuzu dan Pola sudah bertengkar lagi masalah uang dan yaoi. Itachi dan Yvne duduk di pojok meja.

"Ei Itachi.. Aku mau pamit, sebelum kelulusan orang tuaku udah bilang, aku mau kuliah di Iwagakure. Pendidikan Iwa kan bagus. So, this is a good bye..", ucap Yvne sambil tersenyum. Itachi masih tercengang.

"Ta—tapi.. aku?"

"Jangan lihat aku terus, lihat ke sana. Noriko ada di sana Itachi..", ucap Yvne lembut. Yvne masih menyukai Itachi. Tapi Yvne akan pindah ke Iwagakure mengejar cita-citanya.

"Iya Yvne,"

Acara pun dilanjutkan. Acara selanjutnya adalah sambutan dari ketua OSIS. Chantika..

Chantika adalah ketua OSIS sekarang. Bukan Neji Hyuga. Neji menyerahkan jabatannya kepada Chantika. Untuk menjadi seorang ketua OSIS hanya mengingatkan Neji akan Rin. Oleh sebab itu, Neji menyerahkan jabatannya kepada Chantika. Chantika ketua OSIS Mein Kampf.

"..teman-teman dan hadirin semua.. saya mungkin tak bisa bicara banyak. Tahun lalu mungkin banyak mengandung peristiwa yang berharga, peristiwa menyenangkan, peristiwa menyakitkan, ataupun peristiwa yang mengecewakan. Saya hanya ingin mengatakan sebuah pesan untuk minna-san yang ada di sini.. Jadikanlah peristiwa itu sebagai sejarah. Sebagai sejarah hidup yang berharga untuk kita semua…"

Tepukkan tangan terus terdengar. Sorakkan-sorakkan gembira mengakhiri sambutan dari Chantika. Ucapan Chantika benar. Jadikan semua yang telah lalu itu sebagai sejarah. Sambutan berikutnya datang dari kepala sekolah Mein Kampf yang baru. Kepala sekolah dengan rambut kuning cerah dan bisa dibilang keren. Semua murid putri langsung menancapkan satu kalimat dalam hati.

'Kalo kepala sekolahnya die, rajin dah belajar.. hihiiihih'

"Pagi Mein Kampf I love you all..", Namikaze Minato menyapa publik Mein Kampf dengan gaya yang biasa ayahnya gunakkan. Gaya biasa yang biasa Jiraiya gunakkan.

"Saya, Namikaze Minato, tak akan bicara banyak. Kata-kataku mungkin sudah terambil semua oleh ketua OSIS kita yang luar biasa..", Minato tersenyum ramah lalu kembali berbicara.

--

Mein Kampf—Gerbang—Setelah Wisuda

Hari berjalan dengan cepat, wisuda kelas XII telah selesai. Sekarang semua hadirin dipersilahkan untuk pulang ke rumah masing-masing. Hikari, Helen, Putee, Ino, dan Sakura berjalan keluar. Semua langsung melirik Hikari karena ada Haku di depan pintu gerbang.

"Ehem ehem Hikari..", goda Helen dan Putee berbarengan lalu langsung berlari meninggalkan Hikari. Ino, Yuki, dan Sakura juga langsung berlari dengan tersenyum-senyum. Haku adalah pacar Hikari.

"Udah?", tanya Haku yang akan pulang bersama Hikari. Hikari mengangguk. Ia memegang sebuah buku, buku sejarah Mein Kampf.

"Mestinya kamu sekolah di sini Haku. Sejarahnya keren", ucap Hikari ceria. Sejarah Mein Kampf yang dibaca Hikari, adalah awal dari semua ini.. awal dari semua kejadian ini, tetapi sekarang semua telah berakhir. Semua telah kembali tersenyum.

Di belakang gedung Mein Kampf, terdapat halaman yang sangat luas, dan sejak kejadian itu, dibangunlah beberapa batu-batu monument untuk setiap korban. Deidara, Tobi, dan Darbi berdiri di sana. Memandang sebuah nama yang terukir di batu itu.

Tobi meletakkan serangkain bunga lilly di atas nisan itu dan berdo'a sejenak. Di sampingnya, Deidara berdiri merangkul pacarnya, Darbi Aina-chan. Mereka telah berpacaran kurang lebih lima bulan. Setelah berdo'a Tobi kembali berdiri dan mengambil nafas panjang.

"Haaaah.. kau yang menang Dei. Selamat ya. Iri nih. Hahahaha!", ujar Tobi mencoba tertawa sambil menepuk pundak Deidara. Tertawaan Tobi terputus saat Darbi mengatakan sesuatu.

"Apa Darbi?", tanya Tobi yang kurang mendegar kata-kata Darbi dengan jelas.

"Sebenernya, Dee udah bilang kalau dia suka sama Tobi-senpai sebelum aku punya perasaan ke Deidara. Dee itu sangat suka pada Tobi-senpai, sebenernya Dee gak mau kalau Tobi-senpai tau, tapi ini yang terbaikkan..?", ucap Darbi sambil tersenyum. Ia juga tersenyum pada pacarnya Deidara. Deidara menepuk pundak Tobi.

"Duluan yah", Deidara dan Darbi meninggalkan Tobi sendirian. Mereka tahu, Tobi ingin sendiri. Tobi berdiri terpaku, memandang nama Deeandra Hihara.

"Apapun yang dikatakan Darbi. Itu sudah tidak penting lagi. Sekarang, kamu lihat aku ya Dee. Aku bukan anak SMA lagi.. hahah.. coba tebak hari ini ada apa Dee? Aku lulus. Sedih juga sih ninggalin Mein Kampf. Kamu lihat kelulusanku dari atas sana ya Dee hahah..", sangat keluar dari karakter, tetapi ini kanyataan, Tobi menangis. Kini ia terduduk, memegang ukiran nama Deeandra Hihara.

"Kalau kamu masih ada, kamu orang pertama yang ngasih ucapan selamat gak ya? Hahaha.. Sudah dulu ya Dee. Aishiteru Hihara-san..", ucap Tobi sambil menyeka air matanya dan berlari menyusuri rumput yang menghijau.

Mein Kampf—Pintu Masuk Gerbang Mein Kampf—Sesudah Wisuda

Naruto berdiri di depan pintu masuk gedung Mein Kampf. Ia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Ia memandang sebuah patung besar. Patung kepala sekolah Mein kampf, patung Jiraiya.

"X..X..X..", ucapnya pelan. Lalu Naruto memutar badannya, menghadap sekolah mewah dihadapannya.

"Mein Kampf School.. Sekolah termewah dan terbaik.. Begitu juga murid-muridnya yang luar biasa.."

-THE END-

THANKS FOR ALL OC(s):

Phillip William-Wammy;

P. Ravenclaw:

Kagurafuuko;

Cantik-Chan;

X-tee;

Hikari Hoshizora;

Aika-chan126;

Akina Takahashi;

Stellar. Alerion;

uchiha ayashi;

Rin Kajuji;

Naruto;

Noriko Saionji;

Faika Araifa;

Dani D'mile;

HiNAMori MoMO iS KucHiKi YuKi;

NikuCross dVaizard;

Naruchu-chan;

Inuzumaki Helen;

yvne-devolnueht;

Pianissimo puteeChan;

Darbi Arsk XIII;

Deeandra Hihara;

Uzumaki Khai;

Makasi bagi yang udah daftar OC dan yang ngikutin fic ini dari awal sampe akhir! Kalian sangat berjasa! Oh ya, Nakamura mau request bagi para OC yang daftar, kalo nge-review chapter Epilog ini, sekalian dikasih kesan jadi OC di XXX ya!! Thanks.

Special Thanks for all reviewers non OC (kalian baik banget sumpah!)

AAARGGHH!! Maaf telat ngupdate, saya sibuk banget mana mau ambil rapor besok! –deg deg deh- jahahaha.. Akhrinya tamat juga fic ini! Saya mengucapkan banyak terima kasih bagi para author yang daftar OC sama semuanya yang udah review!! :D

MAKASIII YAHH!!!! Hahahahah.. Oh ya, para yang daftar OC jangan lupa kesan jadi OC-nya ya..

Maaf, lowongan buat fic nakamura yang baru udah ditutup.. heheh.. XDD

Fict ini pasti masih banyak kesalahannya (terutama miss type!!) dan juga tata bahasanya yang kurang baik atau deskripsi yang kurang.. maaf ya  kan masih belajar.. ahahahah..

OK!! SAMPAI JUMPA DI FICT BERIKUTNYAAA!!!

--Nakamura arigatou--