Setelah sekian lama ga diupdate, bukan berarti saya lupa dengan FF ini. Tapi kebetulan karna laptop saya kudu diservis selama 2 bulanan dan chapter ini kebawa di laptop ituh. Mohon maap baru bias diupdate sekarang ==a

Chapter 13

"Makhluk ini memang menyusahkan saja…"

Samar-samar Bellona mendengar suara cemooh itu. Semua yang ia lihat seolah bergoyang saat ia mulai membuka matanya perlahan. Tak lama kemudian, Bellona mendapati dirinya sedang terkapar di atas lantai batu yang dingin dan keras. Rupanya ia pingsan dalam pertempuran tadi.

"Sudah siuman juga akhirnya."

Lagi-lagi suara bernada angkuh itu menyapanya. Bellona mendongak dan melihat seorang pemuda berambut jabrik dan berbadan tegap sedang balas menatapnya dengan sorot tajam. Dari taring yang mencuat dari bibirnya yang kemerahan, Bellona segera menyadari siapa pemuda itu. Duncan, adik Marius.

"Aku belum menggigitmu," kata Duncan dingin saat Bellona buru-buru memeriksa lehernya.

"A—apa yang sudah kau lakukan padaku?" tanya Bellona, berdiri dengan sempoyongan. Kepalanya masih pening.

"Apa yang sudah kau lakukan pada kakakku adalah pertanyaan yang lebih tepat untuk saat ini, kurasa. Jadi itu balasan yang kau anggap setimpal atas kebaikan hati kami membiarkanmu tetap hidup sampai saat ini di sarang kami, eh?"

Bellona menatap mata Duncan tajam-tajam dan agak gentar saat melihat kilau merah darah di mata itu. Dia tidak terlalu nyaman berhadapan dengan adik Marius ini. Sejak pertama kali melihatnya, Bellona sudah beranggapan kalau ada sesuatu yang dipikirkan terhadapnya. Bahkan berdekatan dengan Marius akan terasa sedikit lebih baik, karena sepertinya diam-diam Duncan mengincar kesempatan untuk mengigitnya.

"Kalian boleh pergi. Periksa bagaimana keadaan kakakku dan apa yang ia butuhkan sekarang untuk memulihkan diri!" perintah Duncan pada semua anak buahnya yang masih tersisa di bekas arena pertarungan.

Ah, Bellona ingat ia berhasil menjatuhkan lima dari enam vampir yang mengeroyoknya tadi, sebelum Duncan turun tangan. Entah apa mantra yang digunakan Duncan untuk melumpuhkannya, Bellona tak tahu pasti. Yang jelas, mendadak ada sebuah kekuatan besar yang melibas tubuhnya sampai jatuh menyusur lantai begitu vampir itu mengibaskan sebelah tangannya. Saking kuatnya, Bellona sampai terguling-guling beberapa kali dan tak sadarkan diri.

"Hmm, kurasa kau juga harus menemui kakakku," kata Duncan sambil menarik tangan kanan Bellona dan memaksa gadis itu mengikutinya di sepanjang lorong.

"Kumohon…" pinta Bellona memelas.

Sontak, Duncan menghentikan langkahnya. Namun wajahnya masih tetap datar saat ia menatap Bellona.

"Aku punya kehidupan di luar sana. Aku punya orangtua, teman-teman, dan juga…"

"Pacar yang kabur meninggalkanmu di sarang maut tentunya," tukas Duncan tajam.

"Setidaknya itu lebih baik daripada dia terbunuh di sini." Bellona menarik nafas dalam-dalam, memikirkan bagaimana nasib Oliver sekarang. "Dengar. Intinya, bukan di sini tempatku. Aku bahkan tak tahu apa yang diinginkan Marius dariku. Kalau dia memintaku berpura-pura jadi Sapir, aku tak bisa melakukannya."

Duncan melepaskan tangan Bellona dan menatap mata gadis itu dengan tatapan yang sulit ditafsirkan.

"Tidak. Marius tidak ingin kau sekedar berpura-pura. Dia ingin kau jadi istrinya sungguhan."

"A—apa… Apa itu artinya dia akan menikahiku…?" tanya Bellona terbata, wajahnya memucat.

"Lebih tepatnya begini," Duncan menjelaskan dengan nada enggan yang kentara. "Dia ingin menggunakan sebuah kalung yang sudah dimantrai untuk membangkitkan Saphirre dengan memakai tubuhmu sebagai mediumnya. Jadi nantinya, seluruh tubuhmu ini akan diambil alih oleh roh iblis wanita itu. Rohnya masuk dan rohmu keluar. Menyebalkan sekali kedengarannya, kan?"

Bibir Bellona terbuka lebar. Jelas ini bukan ide yang bagus untuknya. Marius benar-benar sudah gila! batinnya.

"Aku… Aku tak mau…" Kerongkongan Bellona tercekat saat mengatakan hal ini. Sekujur tubuhnya gemetar dan lemas. Tanpa sadar, ia mundur beberapa langkah sampai punggungnya menempel di tembok. Tak lama kemudian, ia merosot dan duduk bersimpuh di lantai, kalut.

"Sama. Aku juga tak mau hal itu terjadi."

Bellona mendongak, namun Duncan malah ikut-ikutan duduk di lantai. Ada keraguan yang terpancar dari wajah vampir itu saat mereka berdua saling menatap. Semula Bellona berpikir mungkin saja Duncan mau membantunya, tapi ia kaget saat melihat mata Duncan yang berkilau kemerahan. Mendadak saja vampir itu menyambar lengan kirinya.

"Hei, apa yang kau lakukan?!"

Rupanya ada setetes darah yang mengalir dari goresan luka di lengan Bellona itu. Jantung Bellona hampir berhenti ketika Duncan mendekatkan bibirnya ke lengan itu dan menjilati lukanya.

"Hentikan!" pinta Bellona. Namun cengkraman Duncan terlalu kuat dan ia menolak untuk melepaskan lengan kiri Bellona untuk saat ini. Bellona merasa ketakutan sewaktu vampir itu mulai menyesap darahnya melalui luka yang terbuka di lengan kiri gadis itu.

"Hanya snack ringan, keberatan?" tanya Duncan, agak mendesis. "Sebelum makanan yang sesungguhnya."

"Apa?!"

Bellona terhenyak. Ternyata benar, Duncan memang ingin memakannya. Tapi Duncan hanya tersenyum geli melihat ekspresi ngeri Bellona.

"Cuma bercanda. Masa mencicipi sedikit saja tidak boleh?" katanya enteng. "Sejak melihatmu datang kemari, bukan aku saja yang penasaran seperti apa rasanya darah manusia sepertimu. Kau tahu, rasa darah manusia baik-baik. Semua vampir di sini juga ingin merasakannya karena sangat jarang ada makanan sepertimu. Tapi ternyata aku yang lebih beruntung."

Bellona mencari-cari tongkatnya dan panik saat menyadari tongkat itu tak ada bersamanya. Sementara itu, semakin lama Duncan menyesap darahnya, Bellona merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan selama ini, yang membuat bulu kuduknya meremang dan adrenalinnya mengalir lebih cepat. Rasanya sama seperti saat ia baru saja mendapat ciuman pertamanya dulu dari Oliver, menyenangkan, membuat perasaannya melejit tinggi dan kepalanya terasa ringan. Sensasi ini langsung lenyap seketika begitu Duncan berhenti menyeruput darahnya. Untuk sesaat, Bellona bengong, agak kecewa.

"Kenapa? Kau terlanjur menikmatinya? Belum merasa puas?" tebak Duncan, menaikkan salah satu alisnya.

Bellona tak tahu apa yang sedang ia pikirkan atau ia rasakan, tapi mendadak nafasnya memburu, tubuhnya menghangat, dan mulai berkeringat. Sementara jantungnya berdebar kencang. Menikmati, kalau itu memang pilihan kata yang tepat untuk sensasi menyenangkan ini, maka Bellona ingin sensasi ini berlanjut.

"Well, begitulah cara kami, maksudku kaum vampir, berhubungan dengan lawan jenis. Kami saling menghisap darah satu sama lain untuk mencapai puncak kepuasan. Ah, kupikir kau sudah tahu apa yang kumaksud ini, kan? Dari ekspresi yang kau tunjukkan sekarang, bisa jadi kau juga akan segera menggigitku kalau kau adalah seorang vampir. Aku pun tak akan keberatan," kata Duncan, mengerling nakal. Ucapannya ini membuat kedua pipi Bellona merona merah, malu sekali. Dia hampir saja kehilangan akal sehatnya.

"Tapi tidak. Tentu saja tidak," lanjut vampir itu cepat. "Itu karena kau bukan vampir. Kau manusia. Bagaimanapun juga, sampai dunia jungkir balik pun, manusia tidak bisa bersama dengan vampir. Vampir tidak boleh punya kontak dengan manusia."

Sambil menepis tangan jahil Duncan yang hendak membelai wajahnya, Bellona berkata, "Tapi kakakmu menikah dengan Sapir. Sapir itu mungkin nenek dari neneknya neneknya nenekku, dia manusia sama sepertiku."

Tatapan tajam Duncan membuat Bellona semakin risih saja. Apalagi karena tangan kirinya yang terluka belum juga dilepaskan. Detik berikutnya, Duncan semakin merapatkan tubuhnya ke Bellona dan mulai mengendus-endus wajah dan leher gadis itu. Untuk sekali lagi, Bellona tak bisa bergerak saking ngerinya. Taring Duncan terlihat begitu dekat.

Bagian yang paling lama diendus Duncan adalah leher Bellona. Entah apa yang membuat vampir itu suka sekali berlama-lama di sana. Tapi rasa ngeri gadis itu berubah menjadi jengah saat Duncan malah mengecup lembut lehernya.

"Apa sih yang kau lakukan?!" bentak Bellona sambil mendorong tubuh Duncan menjauh. Tapi vampir itu malah tertawa riang. Tampaknya ia senang sekali melihat Bellona marah dan salah tingkah di saat bersamaan.

"Hanya mencoba menggodamu.. Err, sangat menyenangkan bisa melihat wajah seorang gadis manusia yang merah merona karena tersipu. Membuat mereka terlihat lebih cantik. Kau tahu?" balas Duncan, masih tersenyum. Beberapa detik kemudian ia berdehem dan kembali bersikap normal seperti semula. "Tidak. Bukan. Kalian memang mirip, tapi tidak sama. Tidak seperti kakakku, aku sudah tahu kau bukan penyihir keji seperti Saphirre sejak pertama melihatmu. Saphirre itu iblis, seperti yang sudah kukatakan tadi. Yeah, dia bukan manusia."

"Tapi Marius bilang…"

"Apa kau juga makan jantung sesamamu? Mentah-mentah, begitu?" potong Duncan tajam. Tentu saja Bellona menggeleng keras. "Karena itulah yang dilakukan oleh nenek dari neneknya neneknya nenekmu itu. Saphirre ingin selalu awet muda dan panjang umur. Dia penyihir berumur lima ratus tahun yang sinting, kurasa. Dia sampai rela membunuhi gadis-gadis belia hanya supaya dia bisa tetap terlihat muda dan cantik."

Lagi-lagi bibir Bellona terbuka lebar. Kali ini dia shock. Marius tidak pernah mengatakan ini kepadanya. Bahkan Marius justru menceritakan kisah Saphirre sebagai wanita yang paling suci dan paling penuh cinta sedunia. Inilah yang tadinya membuat Bellona menaruh simpati kepada kisah cinta Marius dan Saphirre.

"Dan pastinya, penyihir iblis itu akan mengulangi kebiasaannya begitu ia dibangkitkan nanti. Mengulangi masa-masa kegelapan yang juga pernah dilalui oleh kakakku bersamanya. Hal yang membuatku sangat kecewa dan sempat menjauhinya dulu."

"Aku tidak begitu mengerti…" kata Bellona, masih shock. Tapi gadis itu menyadari raut muka Duncan sekarang berubah menjadi murung. "Masa-masa kegelapan bagaimana?"

"Marius tidak pernah benar-benar menikah dengannya, manis. Saphirre hanya memanfaatkannya, memanipulasinya. Sudah kubilang padamu tadi, satu-satunya cara bagi vampir untuk mengadakan kontak dengan seorang gadis manusia adalah dengan membunuhnya. Kami tidak bisa berhubungan suami-istri kecuali dengan sesama vampir, dan Saphirre menolak keras saat Marius ingin menjadikannya vampir."

"Oke…" Kening Bellona berkerut-kerut, berusaha berimajinasi.

"Mereka hanya sempat bersama selama beberapa tahun, tapi di masa itulah terjadi banyak sekali pembantaian. Yang satu menghisap darah dan satunya lagi memakan jantung. Seperti sebuah simbiosis mutualisme yang mengerikan. Saphirre membuat kakakku tak terkendali. Dia berubah menjadi monster haus darah yang sesungguhnya," kata Duncan, menerawang sedih.

"Vampir punya pantangan yang wajib dipatuhi, Bellona. Kami tak pernah menghisap darah korban sampai tetes terakhir, atau kami akan mati. Yang kutahu, beberapa kali kakakku nyaris mati karena hampir melanggar pantangan ini. Saphirre selalu saja mampu membujuknya, membuatnya haus terus-menerus. Kurasa, entah bagaimana, ia memang bermaksud membuat kakakku terbunuh supaya bisa lepas darinya."

"Jadi, karena itu kau tidak mau Saphirre dibangkitkan?" tanya Bellona lirih. Ada harap-harap cemas di dadanya.

"Pilihanku sama-sama berat. Pilihan pertama, aku bisa saja membiarkan kakakku gila seperti ini setiap kali melihatmu dan mengira kau adalah Saphirre. Pilihan kedua, aku harus sekali lagi melihat kakakku diperdayai wanita iblis itu dan menjadi lebih biadab dari binatang buas kalau ia berhasil membangkitkannya."

"Seandainya ada yang bisa kulakukan…"

"Sebenarnya sih, ada," kata Duncan, menatap Bellona dengan tatapan penuh arti. "Sejauh ini, kupikir yang terbaik bagi kakakku adalah aku harus membunuhmu, Bellona."

"Apa?!"

"Yeah, membunuhmu dan membakar mayatmu sampai jadi abu agar tubuhmu tak bisa dimanfaatkan oleh roh penyihir jalang itu."

"Tapi itu tidak adil!" tukas Bellona. "Tidak bisakah kau memikirkan juga apa solusi yang terbaik untukku? Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini semua. Well, Sapir mungkin memang kerabat jauhku, tapi itu tidak membuatnya berhak atas tubuhku. Begitu juga kau atau pun kakakmu. Tubuhku adalah milikku sendiri!"

Untuk sesaat, Bellona dan Duncan sama-sama mendiamkan. Dari ekspresi seriusnya, tampak Duncan sedang mencoba mempertimbangkan apa yang harus ia lakukan. Bellona tak tahu pasti vampir itu ada di pihak mana. Seperti yang sudah ia katakan tadi, posisinya serba sulit. Tapi sebenarnya posisi Bellonalah yang jauh lebih sulit lagi.

Suasana hening ini terusik dengan kemunculan dua orang vampir pria yang mengusung sebuah tandu berisi sesosok tubuh manusia yang sedang sekarat. Mereka menghampiri Duncan, meminta perhatian.

"Makan malam yang kedua untuk Marius rupanya," kata Duncan, bangkit dari lantai untuk mengamati korban kakaknya itu. "Kurasa dia memang butuh banyak makanan untuk mengembalikan kondisinya setelah kau melukainya tadi, Bellona."

Bellona mendongak dan mendapati lubang bekas gigitan yang masih mengeluarkan darah segar dari leher pria yang ada di atas tandu. Sementara, terdengar erang kesakitan lirih dari bibir pucat keunguan pria itu. Didorong oleh firasat buruknya, Bellona memilih untuk memalingkan muka, tak tega melihat pemandangan di depannya itu. Sebuah pilihan tepat, karena tak lama kemudian ia mendengar suara gemeretak seperti bunyi tulang yang patah dan erangan itu pun tak lagi terdengar.

"Buang ke parit dan bakar," kata Duncan enteng, mengibaskan tangan kanannya seperti sedang mengusir lalat. Dia baru saja mematahkan leher pria sekarat itu, sekaligus mengakhiri penderitaannya.

Kedua vampir itu segera berlalu, membawa mayat itu menjauh. Bellona memandangi kepergian mereka dengan tatapan tak percaya bercampur ngeri. Setelah rombongan kecil itu menghilang di ujung lorong, ia pun memberanikan diri untuk bertanya dengan suara tercekat.

"Ka—kau membunuhnya? Kenapa?"

"Pria itu tadi seorang perampok dan pemerkosa. Kalau aku tidak membunuhnya, maka dia akan jadi vampir dan keadaan akan semakin memburuk. Orang seperti dia tak mungkin bisa bertanggung jawab atas kekuatannya sebagai vampire nanti," jawab Duncan tenang, tanpa rasa bersalah. "Lagipula, kalau kau melihat daftar kejahatannya, kau pasti juga akan setuju kalau dia memang pantas mati."

Bellona terpana. Ia mulai berpikir kalau tak ada vampir yang benar-benar baik. Dalam banyak hal, ia tak juga bisa mengerti karakter Marius mau pun Duncan. Kedua vampir ini seolah punya sisi misterius masing-masing, dan ia tak bisa menebaknya.

"Ayo bangun!" kata Duncan, mengulurkan tangannya dan membantu Bellona berdiri. "Kurasa ini sudah saatnya menemui kakakku."

"Tolonglah, Duncan…"

"Maafkan aku, Bellona. Tapi membunuhmu dan membakar mayatmu adalah opsi terbaik yang bisa aku tawarkan," ujar Duncan datar seraya menghindari tatapan mengiba Bellona. "Sungguh disayangkan, memang. Manusia sebaik dirimu…"

~Belum kelar Juga….~