Chapter 14
4. Kelas 4, part 4
Hari-hari selanjutnya benar-benar berat untuk Harry. Dia dibenci oleh seluruh sekolah, kecuali Gryffindor, dan Draco tentu. Bahkan Profesor Sprout, yang selalu suka padanya, memberinya punggung yang dingin di kelas. Anak-anak Hufflepuff tak mengajaknya bicara, bahkan tak ada sorakan yang biasanya heboh terdengar saat Cedric menunggunya untuk bicara selesai kelas ramuan. Para Hufflepuff yang selalu mengerumuni Cedric memelototi Harry saat cowok itu memaksa mereka untuk duluan.
Harry menoleh, menatap Draco memberinya tatapan dingin. Astaga!
"Ada apa?" Ketus Harry pada Cedric, yang dengan gugup mengusap rambutnya ke belakang.
"Harry please, aku sungguh minta maaf. Aku sama sekali tak bermaksud menyinggungmu," katanya memohon dengan wajah memelas. Harry mendesah.
"Yeah, oke," jawabnya akhirnya. Cedric tersenyum lega, menbuat Harry merasa sedikit bersalah karena marah padanya.
"Mau ku antar ke aula besar?" Tanya Cedric penuh semangat.
Harry meringis. "Er, tak usah, aku mau kembali ke menara Gryyfindor dulu..."
Cedric nampak kecewa. "Oh, oke." Dia mendesah.
Dan tentu saja yang paling parah adalah saat pemeriksaan tongkat. Mereka duduk di salah satu kelas kosong. Cedric langsung duduk di sebelah Harry begitu melihat cewek itu, dan mengajak Harry mengobrol ringan. Harry, yang baru selesai di wawancara pribadi oleh Rita Skeeter merasa tak ingin bicara. Dia hanya tak tahu bagaimana mengatakannya pada Cedric tanpa terdengar sok. Dia melihat Fleur di bangku lain menatapnya jijik. Harry mengangkat dagunya. Dasar cewek sok cantik.
Selesai pemeriksaan tongkat adalah sesi foto. Skeeter ingin Harry nampak menonjol, dan jelas keinginannya ini sulit terlaksana dengan Cedric menempelnya dan fotografer yang ingin Fleur nampak terdepan.
Selesai sesi foto, Cedric mengambil tas Harry dari meja. "Ayo jalan bareng ke aula besar," katanya riang. Harry tak tahu bagaimana harus menolaknya. Cowok itu membawakan barang-barangnya. Di sudut matanya, Harry bisa melihat Fleur memelototinya. Harry hanya berharap sangat bahwa Draco belum sampai di aula besar...
Dan untungnya memang belum. Dia mendesah lega.
Tapi rasa leganya ternyata terlalu cepat.
Esok harinya saat sarapan, artikel tentang juara ternyata sudah muncul di Daily Prophet. Hampir seluruh isinya adalah tentang Harry. Dan yang paling parah adalah pada halaman tiga, foto super besar saat Cedric mengambil tas Harry dan memakainya, tersenyum dengan wajah merona pada Harry, yang memberinya senyum kecil. Hary tak tahu kapan foto itu di ambil, bagaimana bisa sudut potretnya menyembunyikan ketidaknyamanannya. Dan kalau foto itu tak menunjukkan maksudnya, judulnya jelas: Intrik Cinta di antara Juara Hogwarts: Masa Remaja yang Penuh Asmara.
Seluruh sekolah mengejeknya soal ini.
Dan Harry bahkan tidak kaget saat Draco pun akhirnya ikut marah padanya. Menolak mendengar alasan karena berpikir bahwa Harry menikmati semua sorakan orang pada 'hubungan asmara'-nya dengan Cedric, Draco tak henti-hentinya mengutip isi Daily Prophet dan menertawakannya dengan kroni Slytherinnya.
Sampai di kelas Ramuan...
"Hei Potter, lihat apa yang kubuat semalam," seru Draco saat Harry, Ron, dan Hermione masuk kelas. Harry melihat lencana bertuliskan DUKUNG CEDRIC DIGGORY, JUARA ASLI HOGWARTS yang mengeluarkan sinar. Harry merasakan tenggorokannya tercekat. Tapi Draco tak berhenti di situ, dia menunggu tawa Slytherin reda, lalu melanjutkan, "Dan, jika ditekan tombol ini..." Tulisan POTTER BAU bersinar langsung ke wajah Harry. Para Slytherin tertawa terbahak-bahak.
Harry merasakan wajahnya merah saat semua anak Slytherin menyorotkan lencana Potter Bau ke arahnya. Ron langsung maju dengan wajah murka.
"Hentikan Malfoy!"
"Kau dan Granger mau, Weasel?" Tawar Draco mengangkat-angkat alisnya. "Tapi hati-hati Granger, jangan sampai menyentuh tanganku. Aku baru mencucinya, tak ingin di kotori lagi oleh darah lumpur..."
Dan Harry merasakan marah yang terus terpendam selama beberapa hari bergejolak. Dia dan Ron mengacungkan tongkatnya ke arah Draco, yang langsung berdiri tegak.
"Ayo kalau berani! Di sini tak ada Moody yang melindungi kalian!"
Kejadian itu berakhir dengan saling kutuk, Hermione ke rumah sakit, dan Gryffindor kehilangan 50 angka.
Harry merasa sangat merana, dengan Draco tak bicara padanya kecuali makian, dia merasa seolah dunia sedang menghukumnya. Ditambah lagi kutipan-kutipan yang tidak henti-hentinya di lontarkan padanya. Dan selasa depan sudah mulai Tugas Pertama. Hanya prospek bertemu Sirius yang membuatnya sedikit bersemangat.
Sampai hari Sabtu malam, saat dia tahu bahwa tugas pertamanya adalah naga.
Dan Sirius tak sempat memberitahunya soal bagaimana mengalahakannya. Akhirnya hari Minggu pagi dia, Ron, dan Hermione pergi ke perpus untuk mencari tahu bagaimana cara mengalahkan naga, dan Harry rasanya seperti mau muntah setiap kali melihat jam, yang berjalan tertalu cepat. Saat jam makan siang, mereka baru akan keluar perpus saat Harry melihat Draco memasuki perpus dan berjalan ke tempatnya yang biasa.
Harry merasakan tenggorokannya kering. Kalau dia sampai mati...
Dia menyuruh Ron dan hermione untuk duluan, lalu saat sudah yakin kedua sahabatnya sudha pergi, dia menghampiri Draco, yang sedang membaca buku mantranya. Cowok itu mendongak, tatapannya langsung dingin begitu melihat Harry.
"Apa?" Ketusnya.
Harry menatapnya lama. Ingin sekali dia menonjok Draco di tempat. Dia sunggu heran apa yang dia lihat dari Draco. Mereka jelas terlalu berbeda, terlalu sering bertengkar karena hal yang tak penting...
"Naga."
"Pardon?"
Harry menatap cowok itu kaku. "Tugas Pertama turnamen. Melewati naga hidup."
Draco tergagap, menatap horor Harry. Harry berbalik lalu pergi, entah kenapa merasa puas. Kalau dia sampai mati, dia tahu Draco pasti akan sangat menyesal sudah memperlakukannya dengan luar biasa brengsek.
Tapi betapa kagetnya Harry saat Draco menariknya ke ruangan kosong esok paginya setelah sarapan.
"Apa?" Tandas Harry, ingin melampiaskan marahnya karena super tegang.
"Potter, aku tahu bagaimana kau harus melewati naga," kata Draco cepat, wajahnya lebih pucat dari biasanya, dan di bawah matanya ada kantong...
"Draco, apa kau tidur semalam?" Tanya Harry kaget.
Draco memelototinya. "Menurutmu bagaimana?" Bentaknya. "Mendadak kau memberitahuku soal naga dan aku melihatmu di perpus semalaman dengan wajah panik! Aku membaca semua tentang naga dan tak menemukan apapun tapi Moody... well.. itu tak penting sekarang!" Jelas Draco tak tidur. Dia selalu jadi lebih cerewet jika kurang tidur. "Aku tahu apa yang harus kau lakukan. Kau sudah menguasai mantra panggil kan?"
Harry masih kaget dengan situasi ini. "Er... belum?"
Draco mengerang. "Minta Granger mengajarimu sekarang juga! Astaga! Dengar. Kau hanya harus melewatinya kan? Kau tak harus melewati dengan jalan. Kau bisa menggunakan sapu!"
Harry melongo. "Tapi aku tak boleh membawa sapu!"
"Tapi kau punya tongkat Potter! Dan itulah gunanya mantra panggil!"
Harry tergagap. Mereka saling tatap dalam diam, dan Harry mengangguk, lalu langsung pergi untuk mulai belajar pada Hermione.
Esok harinya tugas pertama dimulai.
Draco tampak sangat cemas, menunggu Harry di dekat tenda dimana harusnya dia sudah tak boleh bertemu siapapun. Tapi cowok itu menarik Harry dan mendesis, "Bagaimana?"
Harry tak tahu apakah dia akan muntah atau tidak jika berbicara, jadi dia hanya mengangguk. Draco tampak sedikit lega, tapi wajahnya masih tampak penuh horor dan kantong matanya tampak lebih jelas dari kemarin. Mendadak Draco memeluk Harry erat dan mencium kepalanya.
"You can do it. Kau dan keberuntunganmu," bisiknya menenangkan, walaupun Harry bisa mendengar detak jantung tak beraturan cowok itu. Sepertinya Draco yang lebih takut Harry menghadapi naga daripada Harry sendiri.
Harry menarik napas dan mengangguk lagi. Draco melepaskannya dan mendorongnya pelan ke arah tenda.
Di sana sudah hadir semua juara yang lain. Cedric lansung melompat berdiri begitu melihatnya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Cedric. Harry mengangguk. Dia kemarin sudah memberitahu Cedric bahwa lawan mereka hari ini adalah naga.
Lalu Bagman datang dan mereka mengambil nomor undian. Cedric maju pertama. Lalu Fleur. Dan Krum. Lalu Harry.
Dan dia berhasil melakukannya! Dia berhasil mengambil telur naga! Bahkan dia merupakan yang tercepat! Sekilas Harry bisa melihat Draco nyengir lebar dan bersorak bersama yang lain.
Ron dan Hermione menempel Harry sepanjang sisa hari itu, hanya melepaskannya dari pandangan mereka saat Harry mandi, dan dia harus bercerita dan terus bercerita pada anak Gryffindor yang lain. Padahal satu-satunya hal yang ingin dia lakukan hanyalah bersama Draco.
Draco, yang sudah menyelamatkan hidupnya...
Harry akhirnya berhasil masuk ke kamarnya dengan alasan dia ingin buang air. Dia mengambil jubah gaib dan peta perampok, dan langsung melesat keluar menara asrama. Draco sedang berada di asramanya sendiri. Mungkin sudah tidur karena ini sudah jam 12 malam, mengingat Draco tidak tidur dua malam terakhir.
Nekat, Harry berjalan cepat ke bawah tanah. Dia melihat Blaise Zabini berjalan ke arah yang sama, dan langsung mengikuti cowok itu. Blaise menyebutkan kata kuncinya, dan Harry menyelinap masuk. Dan untungnya lagi, Blaise menaiki tangga, yang Harry yakin pasti menuju kamar anak laki-laki kelas 4.
Benar saja. Kamar itu luas, dengan 6 tempat tidur yang semuanya tertutup tirai. Slytherin dan privasinya, pikir Harry. Dia melihat Blaise menuju ruangan yang pasti adalah kamar mandi. Harry memperhatikan satu per satu kasur, dan langsung bisa menebak bahwa kasur Draco adalah yang terjauh, yang paling dekat dengan jendela besar. Walaupun asrama Slytherin di bawah tanah, tapi cahaya bulan bisa masuk. Mungkin jendela itu di sihir. Koper di ujung tempat tidur itu paling rapi dan mewah, dengan meja kecil rapi berisi buku-buku.
Harry memastikan bahwa Blaise masih di kamar mandi, dan mengendap menyelinap masuk ke kasur Draco, menggumamkan Silencing Charm supaya bisa mengobrol dengan cowok itu tanpa di ganggu.
"Co?" Bisik Harry, menyentuh tangan Draco. "Sst, Draco..."
Draco menggumamkan sesuatu, dan Harry terkikik geli. Cewek itu melepaskan sepatunya dan jubah gaibnya, memeluk Draco dari belakang, menyandarkan kepalanya ke punggung Draco, menghirup aroma sabun mahal yang menggiurkan...
Draco tersentak duduk mendadak, berbalik, dan untungnya tidak berteriak saat melihat Harry selain, "Potter! Apa yang kau lakukan di sini?"
Harry nyengir, ikut duduk. Dia bisa melihat ekspresi kaget luar biasa Draco dan menutup mulutnya sambil cekikikan. Draco memelototinya, menunggu tawanya reda.
"Aku ingin bertemu denganmu," kata HArry dengan nada manja yang sangat bukan dirinya, memeluk pinggang Draco. Jantung Draco masih berdegup kencang saking kagetnya. Jelas saja. Dia sedang tidur nyenyak, dan Harry, yang bahkan tidak satu asrama dengannya, membangunkannya.
"Tak bisakah menunggu besok?" Desis Draco, menatap cemas sekelilingnya yang masih bertirai.
Harry menggeleng. "Tenang saja, aku sudah pakai Silencing Charm tadi. Jaga-jaga kalau kau berteriak," katanya sambil kembali tiduran di bantal Draco dengan santai, seolah-olah menyusup ke kamar anak laki-laki di malam hari adalah hal biasa baginya.
Draco menatapnya tak terkesan. "Potter! Ini kamar anak laki-laki!"
"Dan aku habis menghadapi naga. Kau pikir anak laki-laki Slytherin akan membuatku takut?" Jawab Harry ringan. Draco masih cemberut.
"Aku sungguh tak mengerti dirimu dan cara berpikirmu," desah Draco akhirnya, dan tiduran di samping Harry. Harry menautkan jari-jarinya dengan jari jari Draco. Draco mengangkat tangan mereka yang bertaut, dan senyum kecil tersungging di bibirnya.
"Kau tidak mau mendengar ceritaku menghadapi naga?" Kata Harry.
"Aku melihatmu menghadapi naga Potter, aku tak perlu kau ingatkan kembali. Akan kulupakan seumur hidupku," kata Draco, bergidik.
Harry menatapnya sayang. "Thanks to you aku masih hidup," gumamnya, menempelkan pipinya ke bahu Draco.
Draco hanya mendesah tapi tidak menanggapi.
Mereka hanya tiduran sambil bergandengan tangan dan tidak mengatakan apapun malam itu. Terlalu lelah, terlalu bahagia karena Harry masih hidup.
-dhdhdh-
Shell cottage
Hening menyusul cerita itu. Ron menatap Draco dengan tatapan tak terdeskripsi. Tapi Hermione tahu apa yang dia pikirkan.
"Well," katanya akhirnya, menatap Draco serius. "Kurasa kami berhutang nyawa Harry padamu. Thanks for that."
Draco nyengir malas-malasan. "Granger, aku memang istimewa. Harusnya kau paham sekarang," katanya berpuas diri. Ron mendengus.
"Kami memang berterima kasih padamu, tapi bukan berarti kami jadi suka padamu," ketusnya.
Harry mengangkat sebelah alisnya. "Tapi kejadian selanjutnya rasanya akan menutup kebaikanmu yang ini," katanya. Draco meringis.
"Oh ayolah, masa sih kau masih marah karena itu?"
Harry memutar bola matanya. "Aku akan selalu marah pada kejadian itu," tandasnya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Ron penasaran, apapun untuk menjatuhkan Malfoy.
Dan Harry melanjutkan ceritanya.
-dhdhdhd-
bersambuuung
bagaimana? Masih ingin lanjut ya? Please review yang banyak; update seperti biasa setelah minimal 10 review x)
btw, please rnr juga fic saya yg lain, one shot Marry Your Daughter, Make Her mY Wife... apakah layak untuk sequel?
