RnR?
Chapter 14 update!
Naruto © Masashi Kishimoto
Genre-Romance/Drama
Just Protecting you © Yoshino Tada
Just protecting you! ..
Chapter 14
Jealous
Kamar Naruto 23:00 pm.
Bunyi desahan terdengar dari balik kamar Naruto, suara itu bak melodi yang berayun-ayun dan mengalir keenakan, suara ranjang berdecit juga tak kalah dari suara desahan wanita yang terdengar terengah-engah. Angin malam turut melarutkan suasana pada malam hari itu, meniup gorden jendela, membuat keringat kenikmatan mereka mulai menghilang.
"Itu sudah ke 3 kalinya, Sakura hehehe" ucap Naruto memandangi wajah kekasihnya dengan tatapan ringan, senyumannya tak lepas dari wajah pemuda berambut kuning bergaya emo tersebut, tangannya masih bertapak di ranjang itu, dimana Sakura menatapnya dari bawah, dengan tatapan penuh kasih sayang. Mata aquamarine indahnya berbinar-binar menatap mata biru langit milik kekasihnya.
"Kau kuat juga ya? Hehe, aku jadi merasa seperti wanita." Jawab Sakura sambil mengatupkan mulutnya menggunakan tangannya, seakan tidak mau menatap balik tatapan 'mesum' yang diperlihatkan oleh Naruto.
"He? Benarkah itu? aku baru out 3 kali? Bagaimana bisa dibilang kuat?"
"AHH- kenapa kau ini, itu luar biasa. Aku tidak bisa menyandingi beban nafsumu itu,"
"Apakah itu sebuah pujian? Ataukah-?"
"Hehehe, lagi pula aku cukup menikmatinya. Aku bisa menikmati sebuah pedang yang hanya aku yang bisa menikmatinya-" ujar Sakura. Naruto terkekeh mendengar gurauan itu, tawa itu berlangsung beberapa detik saja, sampai Naruto mulai melumat kembali bibir Sakura, bibir itu bersentuhan, bersenggolan dengan cepat. Kenikmatan yang tidak terbatas, dan mereka memulai lagi sampai ke empat kali klimaks…
Kamar Naruto, 06:00 am
Pagi hari telah tiba, matahari telah terbit dan menunjukkan sinar cerahnya. Langit biru tak berawan juga kelihatan membiru seperti samudra luas yang tak terbatas, hanya sedikit titik-titik awan yang terlihat disana, seorang laki-laki berbadan tegap terlihat minum secangkir teh hangat sambil mendekati gorden jendela dan membukanya. Srrkkk kain gorden itu terbuka, dan terpancarlah cahaya matahari yang sudah menunggu untuk masuk ke ruangan, membangunkan siapapun yang tertidur disana.
Selimut masih menyelimuti tubuh gadis berambut pinky yang tak terbalut apapun, bau-bau aneh masih tercium di ranjang itu, membuat Naruto mengenduskan hidung berulang kali, mendengus keras merasa tidak nyaman. "Aku harus mencucinya nanti, tapi-" ujar Naruto sambil melihati betapa polosnya ketika Sakura masih tertidur, yang pasti badannya masih tidak terbalut sehelai kain sedikit pun, matanya mulai terbuka ketika suara burung bersiul terdengar sampai gendang telinganya. Rambutnya masih terurai berantakan di ranjang dan perlahan-lahan ia mulai duduk di pinggir kasur. Sedangkan Naruto masih menatapnya sambil mengunci mulut rapat-rapat.
Sakura pun menoleh ke arah jendela, dimana Naruto sudah berdiri disana dan melihatinya dengan tatapan aneh. "Hehe, maaf Sakura, aku tidak ingin mengganggu tidurmu," berbeda dengan Sakura, Naruto sudah memakai celana dan baju polosan berwarna putih yang sudah biasa ia pakai untuk tidur.
"Kya!" teriaknya menggelegar ke penjuru ruangan rumah.
"Kenapa harus berteriak? Kita kan sepasang kekasih lagipula kita sudah melakukannya tempo hari, aku yakin kau tidak akan melupakannya, benarkan?"
Sakura mengangguk. wajahnya memerah dengan sendirinya, memancarkan aura naturalis seperti putri yang baru saja bangun dari tidur yang panjang. dan ketika ia masih telanjang, Naruto langsung menyelimutinya dengan selimut baru yang terlihat lembut. Kelembutan yang pantas untuk kulit putih kekasihnya.
Ruang makan, 07:00 am
Naruto, Sakura, Nobori-san. Terlihat duduk di meja memanjang di ruang makan. Berbeda dengan sebelumnya, kini Naruto sudah boleh duduk di kursi, berbaur dengan Sakura dan ayahnya. Beberapa suapan telah ia lahap, mata laki-laki itu hanya terfokus terhadap makanan yang terletak di muka meja, sampai ia tidak sadar bahwa dirinya telah diawasi oleh Nobori-san, majikannya.
"E-ehm." Ucap pria paruh baya itu sambil berpura-pura batuk. Naruto menoleh ke arahnya. Sakura hanya terdiam seraya meneruskan makan paginya.
"Ano? Naruto-kun? Semalam apa saja yang telah kau lakukan? Aku mendengar kamarmu berisik sekali, sampai membuatku susah untuk tidur," ujarnya dengan nada menegur. Naruto terhenyak, tidak tahu apa yang ingin ia katakan, ia mulai gelisah dan berpikir yang tidak-tidak. 'Bagaimana ini? jangan-jangan Ayah Sakura tahu, bahwa aku dan Sakura telah melakukan-' tangannya mulai gemetaran, ia tidak berani menatap ke depan, dimana Nobori-san telah menunggu jawabannya. Sampai Nobori-san tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha," pria itu terkekeh karena melihat keanehan dan tingkah lucu Naruto, gugup dalam tanda tanya yang besar? Menimbulkan rasa penasaran yang tinggi.
"Aku sudah mengetahuinya, Naruto, Sakura?" ucap Nobori-san sambil menoleh ke wajah mereka berdua secara bergantian. Sakura pun terkejut atas ujaran ayahnya itu.
"He? A-apa y-yang a-ayah katakan?! Aku tidak melakukan apapun-" bela Sakura.
"Benar Nobori-san, kami tidak menyembunyikan apapun dari anda-" bantu Naruto. Ayah Sakura tersenyum, ia mengaduk-aduk secangkir kopi dengan sendok kecil, Naruto dan Sakura terus mengawasi gerak-gerik pria itu. lalu ia berbicara kembali, kali ini tanpa menatap mereka berdua, pandangannya hanya tertuju ke arah permukaan kopi di dalam cangkir. Bayangan wajahnya dipantulkan oleh air kopi tersebut.
"Kau tahu? Naruto? tentang ibu Sakura?"
"Ayah!?" seru Sakura yang berusaha menghalangi ayahnya untuk berbicara lebih kepada Naruto, gadis berambut merah muda itu, meletakkan sendok yang sebelumnya di piring, menghasilkan bunyi nyaring selama satu detik.
"Ini sudah waktunya untuk mengatakannya Sakura, aku ingin kau mempunyai sosok pria yang dapat menjagamu suatu saat nanti, seperti Naruto-kun. Aku berharap dia bisa melindungimu apapun yang terjadi."
Naruto terdiam selama beberapa waktu, ia terus mendengarkan perkataan majikannya. Yang ia anggap sebagai ayahnya sendiri, dan Sakura berhenti berbicara seolah membiarkan ayahnya untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
"Ibu Sakura telah meninggal dalam kecelakaan, jadi sekarang hanya aku dan dia yang tinggal disini, kami tidak mempunyai sanak saudara lagi, dan jika suatu saat nanti aku meninggal-" perkataan itu diputus oleh Sakura. "Berhenti bicara ayah!" teriak gadis itu sambil menyembunyikan kesedihannya. dan Sakura pun memutuskan untuk meninggalkan ruang makan dan pergi ke sekolah duluan. Naruto dan Nobori-san hanya terdiam, sampai ayah Sakura pun melanjutkan perkataannya kembali, Naruto cukup terkejut atas pemberitahuan mendadak tersebut, dalam hatinya mungkin ini adalah suatu pemintaan yang tersirat. Tentu saja untuk melindungi Sakura. Dan begitu cerita itu selesai, Naruto langsung menyusul Sakura dengan tergesa-gesa.
Trotoar jalan 07:30 am.
Pagi hari di jalanan kota memang menyenangkan, banyak orang-orang yang berlalu lalang. Udara sejuk masih menghembus pelan, menyejukkan suasana pada pagi hari itu. dan sepasang kekasih telah terlihat di sana. Gadis berambut pinky itu memakai sepatu coklat se mata kaki, jaket tebal dan memakai sebuah syal yang dikalungkan di lehernya. Ia berjalan cepat sambil memasukkan tangannya ke kantung jaket, tanpa melihat Naruto yang sudah berjalan menyesuaikan langkahnya.
"Sakura? Apa aku salah? –maafkan aku jika aku salah." Ujar laki-laki itu terus menatapnya, menatap wajah cantik yang sedang terlihat cemberut, lalu wanita itu pun berhenti secara tiba-tiba melihat ke wajah Naruto yang terlihat merasa bersalah ketika dirinya pergi begitu saja dari ruang makan.
"Kenapa kau begitu? Kau tidak salah, ayah yang salah-"
"He? Kenapa bisa Nobori-san yang salah?"
"Kau itu tidak tahu masalah keluarga ya? Pokoknya jangan ikut campur dulu, karena kau bukan suamiku" Naruto membisu, Sakura berjalan mendahuluinya lagi. dan ketika Naruto melihat punggung indah Sakura yang berjalan pelan menjauhinya, ia mulai ragu. Jarak diantara mereka berdua kembali melenggang.
"Aku sangat mengkhawatirkannya," batinnya dalam hati.
Sekolah 07:45 am.
Seperti biasa. Sambutan adik kelas terdengar di mana-mana, dari sudut-sudut yang tidak bisa di jangkau sekalipun, ketika Sakura datang dan mengumbar senyuman manisnya, hal itu akan membuat semua orang. terutama laki-laki akan jatuh hati kepadanya, sampai kadang-kadang Naruto cemburu dibuatnya, sedangkan hal sebaliknya juga terjadi. teriakan cewek-cewek mulai terdengar di telinga pria berambut kuning itu, membuat Sakura mengeluarkan urat-urat kemarahan yang tercetak di dahinya. Hawa aneh menyelimuti dirinya.
"Aku takut terhadap senyuman mengerikan itu." pikir Naruto dengan nada bercanda.
Kelas 08:00 am.
Setelah bel dibunyikan para murid pun memasuki kelas tanpa ada kegaduhan yang terdengar, siswa-siswi nampak mengikuti pelajaran seperti biasa, sampai bel istirahat berbunyi, orang-orang pun mulai keluar kelas, entah merasa bosan atau kelaparan. Karena pelajaran tadi benar-benar membosankan.
Bangku paling belakang kini dihuni oleh Naruto, Sakura dan Sasuke. wanita itu berada di tengah-tengah diantara mereka, pria berambut raven itu tiba-tiba saja berdiri dari bangkunya mendekati Sakura yang membereskan buku-buku yang tercecer di atas meja. iris Sasuke menatapnya, tatapan bak pangeran tampan itu seketika membuat Sakura terhenyak. Ia juga memandang wajah Sasuke beberapa saat.
"Ada apa, Sasuke?" tanya Sakura mendangak.
"Ada rapat osis nanti, sebaiknya kau datang. Dan aku minta maaf soal yang dulu, aku harap aku bisa mengembalikan pertemanan kita seperti di masa lalu." Ujar pemuda itu sambil terus menatap mata indah Sakura, sampai Naruto yang melihati mereka dari tadi tak tahan atas adegan saling menatap tersebut.
"Bukankah aku sudah bilang kepadamu? Jangan dekati Sakura lagi." Tegur Naruto dengan lirikan tajam.
"Kenapa aku harus menuruti perintahmu? Hn?"
"Karena aku-"
"Berhenti Naruto, jangan bertengkar lagi. aku mohon..." sela Sakura yang dibuat risau akan keadaan itu, Naruto terdiam. Ia pun kembali ke tempat duduknya, "Sesuai perintahmu Ojou-sama"
Laki-laki itu pun merasa dirinya kembali ke dirinya yang dulu, orang asing, orang yang tak dikenal, dan tentu saja tidak pantas untuk berbaur dengan orang-orang itu. Naruto menempelkan hidungnya di muka meja, ia menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya. "Sakit? perasaan apa ini? kenapa aku merasakan sakit? sakit di dalam hati? Benar-benar menyakitkan."
"Maafkan dia ya, Sasuke?" ucap Sakura lirih.
"Tidak apa-apa kok, bukan suatu hal yang perlu dipermasalahkan." Jawab Sasuke dingin. Mereka pun tersenyum bersama, tanpa memperdulikan keberadaan Naruto.
'Betapa bodohnya aku. Kenapa aku berpikir sampai bisa menikah dengannya? Itu belum tentu terjadi, aku benar-benar pria yang tidak tahu diri.' Batin Naruto sambil meninggalkan tempat duduknya, dan ketika Naruto keluar kelas. Tidak ada pertanyaan yang terlontar dari bibir manis Sakura. Gadis pinky itu hanya memandang punggung kekasihnya yang berjalan pelan meninggalkannya.
Kini Naruto berjalan lamban di koridor sekolah, ia menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan tampangnya dari keramaian. Ia terlihat dalam kondisi yang tidak baik waktu itu, dan ia berjalan menaiki tangga yang menuju ke lantai paling atas, tempat dimana ia berada ketika ia merasa sedih.
Lantai atas, 12:10 pm.
Pandangan Naruto buyar ketika ia melihat seorang gadis yang duduk di kursi memanjang yang biasanya ia pakai untuk duduk. "Ino?" sapa Naruto.
"Naruto?" balas Ino. Kemudian ia duduk di kursi tersebut.
"Tumben kau ke sini? baru kali ini aku melihatmu disini setelah satu minggu yang lalu." Tanya Ino dengan wajah datar.
"Hehe, kau tahu kan? Kenapa aku kesini?" tanya balik Naruto menatap gadis pirang itu dengan senyuman manis. Wajah Ino pun memerah, terlihat salah tingkah yang mendera dalam dirinya saat itu juga.
"A-aku tidak tahu, memangnya apa?"
"Aku juga tidak tahu."
"Kenapa kau malah bercanda!?" ujar Ino dengan nada bercanda. Kemudian Naruto mulai menceritakan apa yang sedang ia pikirkan, ketika menyebut nama 'Sakura' panah imajiner serasa menusuk hati Ino yang paling dalam, membuat luka yang tak dapat disembuhkan dengan sentuhan tangan. Dan pada saat itulah, Naruto menceritakannya. Namun Ino berusaha bersikap biasa saja, tanpa memperdulikan perasaannya sendiri.
….
….
….
"Heeh? Seperti itu kah?"
"Hm, memang kau tahu apa yang aku rasakan sekarang?" tanya Naruto yang nampak bingung atas keadaan yang sekarang ini ia alami.
"Tentu saja Naruto. asal kau tahu saja, aku sudah beberapa kali mengalami kejadian seperti itu?"
"Hm? benarkah? Pasti itu sangat menyakitkan. Bisa kah aku membantumu untuk menyembuhkan sakit di dalam hatimu itu?" Naruto merasa cemas terhadap Ino yang barusan berkata dia pernah mengalami kejadian tersebut, namun lebih sering daripada dirinya.
Ino termenung sebentar, pandangannya berubah ke langit biru yang cerah, teriknya matahari tidak menghalangi keindahan langit bak samudra itu, ia pun tersenyum sambil menatap wajah Naruto.
"Tenang saja, aku baik-baik saja. Jadi jangan cemaskan aku ya-" dalam senyuman itu, terdapat sebuah penderitaan yang menyakitkan, akan tetapi gadis pirang itu tetap bersembunyi di balik senyumannya. Tanpa mengatakan kejujuran yang sebenarnya kepada orang yang sangat dicintainya yang sekarang ini duduk di sampingnya.
Tiba-tiba saja tangan Naruto mengusap-usap rambut pirang Ino. Ino terhenyak untuk beberapa saat, terbawa suasana yang sangat ia inginkan tersebut, yaitu berduaan dengan Naruto. senyuman manis Ino telah terbalaskan oleh usapan lembut tangan Naruto.
"Baik-baik saja kah? jika seperti itu? mungkin aku akan menirumu. Sebenarnya aku ini sangat ringkih terhadap hal-hal seperti itu, sampai aku lupa akan hal itu. berpikir ke depan adalah pilihan yang terbaik, tentu saja dibarengi oleh positive thinking, benarkan? Ino? hehe." ujar Naruto tersenyum tulus terhadap gadis bersurai pirang itu, kemudian ia pun berdiri dan mengajak Ino untuk segera turun karena bel istirahat telah berbunyi, pertanda istirahat siang sudah berakhir.
Kelas,12:30 pm.
Naruto masuk ke dalam kelas, dan duduk di bangkunya. "Dari mana saja kau?" tanya Sakura. Sampai ia melihat Ino yang berjalan di belakangnya. Ia pun membisu, berhenti menanyakan pertanyaan yang seharusnya ia tanyakan.
"Kenapa, Sakura?"
"Lupakan."
Lagi-lagi perkataan Sakura, membuat Naruto merasakan sakit. Naruto pun mengangguk, dan ia hanya mengiyakan segala ucapan yang terlontar dari mulut Sakura. Tidak ada sedikit pun rasa kesal terhadap wanita berambut pinky itu, karena Naruto tahu, dia bukan siapa-siapa. pelajaran kembali dimulai, namun ketika ia sedang konsen-konsennya memperhatikan pelajaran, tiba-tiba saja pandangannya teralihkan secara cepat, melihat Sakura bercanda dengan Sasuke. mereka terlihat senang sekali pada saat pelajaran, melemparkan sebuah kertas yang diremas-remas, dan menulis kata-kata di dalam kertas tersebut. Saking marahnya Naruto, ia pun meremas buku yang ia baca. Meskipun begitu ia tetap tak mau mengatakan apapun kepada Sakura, Sakura yang mendengar suara gemingan itu, mulai melihat ke arah Naruto. dimana gadis itu melihat Naruto yang nampak lesu, tanpa ada gairah maupun semangat sedikit pun. Naruto meletakkan kepalanya, seperti tidak memperdulikan apapun di sekitarnya. sampai akhirnya...
Beberapa menit kemudian.
Naruto pun tertidur di kelas, baru kali ini murid teladan tersebut sampai seperti itu. ketenangannya berangsur singkat ketika ia dibangunkan oleh Sakura.
"Hey, hey? bangunlah, Naruto?"
"Ehm? Sakura?" Sakura pun menarik tangan Naruto untuk membantunya berdiri. Kini mereka berdua telah berjalan di koridor sekolah, sampai Sakura memberhentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Naruto.
"Maaf, aku ada urusan sebentar."
"Osis kah?"
Sakura mengangguk. Naruto pun memperbolehkan Sakura untuk pergi, dan pada sore hari itu. Naruto berjalan sendirian, tanpa ditemani oleh sang kekasih. Ketika ia sendirian, ia merasakan sesuatu yang berbeda. berangan-angan mengenai 'itu' adalah sesuatu yang mustahil baginya, namun ia mencoba tersenyum, memandang langit yang mulai gelap. Matahari yang terbenam di ufuk barat, sore hari itu memang benar-benar terasa berbeda baginya. Sampai suara langkah cepat terdengar di gendang telinganya, ia pun berbalik dan mendapati senyuman manis Sakura yang menghampirinya.
"Hah? Hah? Hah?" gadis itu menekuk lutut, sambil menghela napas berulang kali. "Sudah lama aku tidak berlari, rasanya lelah sekali, hah?"
"Sakura? Bukankah kau ikut rapat osis?" tanya Naruto keheranan, "Masa bodoh tentang rapat itu, dari tadi aku mengkhawatirkanmu, Naruto." ujar Sakura sembari menatap iris biru Naruto. ia pun berdiri dengan posisi normal sambil membicarakan sesuatu kepada Naruto. "Heh?"
Trotoar jalan. 16:30 pm.
Mereka berjalan berdua di trotoar jalan tersebut, "Ano? Sakura?"
"Ada apa?"
"Apakah kau ada hubungan dengan Sasuke? kau tadi terlihat sangat senang terhadapnya. Melihat senyuman itu aku merasakan sakit disini." Ujar Naruto sambil menunjuk daerah hatinya dengan jari telunjuk.
"Jadi kau merasakannya ya? Hehehe. Maaf-maaf, aku hanya mengujimu saja, aku pikir kau akan cuek terhadap semua yang sudah aku lakukan barusan," jawab Sakura terkekeh, seperti tidak menghiraukan perasaan Naruto, "Kau masih ingat kan dulu? Ketika kau membuatku cemburu, waktu itu kau berkencan dengan Ino. Bisa dikatakan ini adalah sebuah pembalasan hehe," imbuh gadis itu tersenyum manja, rona merah timbul di pipi halusnya.
"Heh? Jadi kau hanya pura-pura saja tadi?"
"Tentu saja. Kenapa aku harus bersanding dengan Sasuke, jika aku sudah memilikimu, kekasih terbaik yang pernah aku miliki, yah bisa dibilang aku- ingin melihat seberapa besar cintamu terhadapku, meskipun rencana tadi kelihatannya tidak berjalan dengan lancar, haha."
Naruto terdiam sebentar.
"Berjalan dengan lancar kok, aku masih merasakan sakit disini."
"Itu namanya Jealous, syukurlah kau mempunyai perasaan itu. aku senang!"
"Jealous?"
"Iya- jangan dipikirkan lagi ya, aku ingin ini yang terakhir kali kita saling melukai hati, tentu saja untuk mempererat tali cinta kita, karena suatu saat nanti aku ingin menikah denganmu, Naruto!"
Senyuman itu membuat pria disampingnya tersenyum. Semua kesalahpahaman itu sirna di bawah redupnya matahari yang terbenam.
.
.
.
'Ternyata aku hanya salah paham'
To be continue
Chapter 14 END
Setelah memikirkan ini terlalu lama, akhirnya saya membuat keputusan bahwa Chapter 15 adalah chapter terakhir dari Just Protecting You. thanks for yor attention. semoga bisa menghibur pecinta NaruSaku sejati. xD
Dan dengan saya mengakhiri cerita ini, saya bisa bisa lebih berkarya lagi di genre romance.. TERIMA KASIH, Chapter 15 akan menjadi penutup JPY. walaupun masih ada satu konflik yang tidak terselesaikan namun dengan adanya alasan yang signifikan, mungkin rencana Itachi bisa dibatalkan...
See you in the last Chapter!
Yoshino Tada.
