Deidara menatap wajah Yuki lewat kaca di depannya. Wajah tampan dengan kulit putih pucat itu semakin membuat Yuki mirip dengan orang itu. Mata perak itu terus saja membuat hati Deidara sakit. Andai saja putranya terlahir sempurna, mungkin bocah itu benar-benar akan menjadi seperti orang itu.

Tidak ... Itu tidak boleh terjadi.

Deidara meletakkan sisir di tangannya ke atas meja di depan Yuki. Ia memeluk Yuki begitu erat. Takut jika bocah itu akan meninggalkan dirinya suatu hari nanti. Ia tidak mau sendirian lagi setelah semua yang terjadi.

"Mama ... Aku merasa sesak."

Suara Yuki membuyarkan lamunan Deidara. Ia melonggarkan pelukannya dan berusaha membuat Yuki nyaman.

"Hei, Yuki-kun ... Kau tidak akan meninggalkan mama, kan?"

Yuki menyentuh sebelah lengan Deidara yang melingkar di dadanya, "kenapa Mama bilang begitu?"

"Mama takut jika papamu akan datang dan mengambilmu." Deidara berusaha menahan hatinya agar tidak sakit, "kau tahu, kakekmu selalu saja suka mengambil cucu laki-laki dari ibunya."

"Walau Yuki tidak sempurna?

Bagaimana hati Deidara tidak sakit saat melihat putranya tersenyum saat mengatakan jika ia tidak sempurna? Tanpa sadar Deidara mengangguk.

"Ia tidak pernah peduli pada apapun selain cucu laki-lakinya."

"Yuki tidak akan meninggalkan Mama." Yuki berusaha keluar dari pelukan Deidara dan berbalik. Tangan kecilnya bergerak dan berusaha mencari wajah Deidara, "jadi mama jangan menangis." ia mengusap air mata yang membasahi pipi Deidara."

.

.

.

Naruto Fanfiction

Present:

Naruto © Masashi Kishimoto

After Today: Let It Be A Secret © Ran Hime

SasuNaru

Drama, Family, Hurt/Comfort

AU, OOC, Yaoi, Typo, OC

.

.

.

Chapter 13

.

Sasuke berjalan memasuki kedai ramen milik Naruto. Ia sengaja menyempatkam diri ke tempat itu hanya untuk melihat Yuki. Rasa penasaran tidak henti membuat pikirannya tidak nyaman, bahkan ia kesulitan tidur ketika melihat wajah polos Yuki. Ia ragu akan penjelasan yang keluar dari bibir Naruto hari itu. Yuki adalah putra Deidara yang lahir setelah adik iparnya siuman dari Koma.

"Uchiwa-san ..."

Sasuke tersenyum tipis ketika Deidara menghampiri dirinya dan mempersilahkan masuk ke dalam. Deidara tidak banyak berubah kecuali ia terlihat lebih dewasa dan ceria. Bocah itu telah tumbuh lebih baik setelah operasi. Yang Sasuke dengar dari Naruto, Deidara harus menjalani operasi dua kali setelah operasi pertama tidak berjalan baik. Akibatnya, ingatan Deidara harus kacau.

Deidara terbangun dengan ingatan tentang pelecehan yang ia alami ketika malam Valentine. Hanya itu selebihnya ia tidak dapat mengingat apapun. Tentang pernikahan Naruto ataupun kejadian yang membuatnya syok berat yang membuat Naruto harus kehilangan Menma. Saat ketika Kyuubi melukai Obito. Deidara bahkan begitu membenci Yuki kala itu. Namun seiring berjalannya waktu, Deidara benar-benar menyayangi bayi mungil di dekapan Naruto.

"Uchiwa-san?"

Sasuke sedikit tersentak mendengar panggilan dari Deidara. Ia mencoba tersenyum dan duduk di meja yang dicarikan oleh Deidara.

"Uchiwa-san ingin makan apa?"

"Mungkin seperti yang kemarin." Sasuke menunduk sebentar dan kembali menatap Deidara, "Naruto-"

"Kakak masih ada di sekolahan." Deidara tersenyum seolah mengerti apa yang akan dikatakan oleh Sasuke, "Uchiwa-san ingin menunggunya?"

"Tidak, aku akan ke sana setelah selesai makan."

"Baiklah."

Deidara kembali tersenyum. Ia undur diri dan berjalan ke arah dapur untuk memberitahukan pesanan Sasuke.

.

.

After Today

.

.

"Sasuke-san ..."

Naruto merasa gelisah ketika Sasuke datang menemui dirinya. Ia tidak berharap jika Sasuke mulai sering datang dan menjenguk keluarganya. Itu tidak baik.

"Mau jalan-jalan sebentar?"

Naruto mengangguk dan berjalan mengikuti Sasuke. Ia menatap punggung di depannya. Selalu terlihat tegap dengan balutan kemeja hitam. Naruto jadi ingat, selama ia bersama Sasuke, ia akan selalu berjalan di belakang Sasuke.

"Saat pertama kali aku melihat Yuki, aku sempat berpikir mungkin saja anakku akan seperti Yuki jika aku menikah dengan seseorang yang seperti Deidara."

Naruto mengernyit. Merasa tidak suka dengan ucapan dari Sasuke. Ia akan selalu merasa tidak nyaman ketika Sasuke mulai mengambil topik pembicaraan seperti itu. Karena pada akhirnya Sasuke hanya akan menjebaknya dan mengintimidasi dirinya. Sasuke mencoba untuk mencari tahu siapa Yuki.

"Sasuke-san tidak berniat melamar adikku, kan?"

Sasuke tertawa sebentar. Membuat Naruto terperangah mendengarnya. Selama ia bersama Sasuke, tidak pernah sekalipun ia mendengar Sasuke tertawa lepas seperti itu. Sasuke adalah pria yang terlalu serius dalam menjalani hidupnya.

"Tentu saja tidak. Lagi pula aku sudah menikah."

Ada rasa tidak nyaman ketika mendengar penuturan dari Sasuke. Naruto tidak cemburu, kan? Bagaimana pun juga hubungan mereka hanyalah sebatas saling membutuhkan. Tidak ada rasa cinta saat mereka menikah dulu.

"Ba-baguslah." Naruto tertawa disela ucapannya yang terbata, "dan lagi Deidara kan tunangan Itachi-san."

Tanpa sadar Naruto berhenti berjalan. Ia merasa sesak yang sangat di hatinya. Bagaimana mungkin Sasuke belum menikah? Sasuke adalah pria tampan yang mapan. Sasuke juga salah satu pemegang saham di OS Departement Store, aneh rasanya jika Sasuke masih sendiri. Pasti akan banyak rekan kerja pamannya yang berusaha menjodohkan pria itu dengan putri mereka.

Lalu ... Apa yg membuatnya resah jika Sasuke sudah menikah? Mungkin saja Sasuke juga sudah mempunyai anak.

.

.

Let It be A Secret

.

.

"Itachi-san ..."

Deidara terkejut sekaligus senang ketika melihat Itachi datang. Tidak seperti biasanya Itachi datang tanpa memberitahu. Pasti pria itu telah menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari biasanya.

"Itachi-san tumben tidak mengabari dulu."

"Aku ingin memberi kejutan pada Yuki." Itachi tersenyum. Ia meraih bahu Deidara dan merangkulnya. Membawanya ke lantai atas, dimana keluarga Namikaze tinggal.

Pipi Deidara memerah, ia tertawa kecil menanggapi setiap kalimat yang dilontarkan oleh Itachi. Ia sangat bahagia, bahkan bersyukur karena Itachi bisa menerima dirinya. Walau hati kecilnya menyadari sesuatu hal. Mungkin saja Itachi terpaksa menerima pertunangan mereka.

"Anak itu pasti senang mendengar Itachi-san datang."

Deidara meraih pinggang Itachi dan merangkulnya sedikit erat ketika mengingat bagaimana ia harus bertunangan dengan Itachi. Hari itu tidak akan pernah ia lupakan.

"Aku sempat khawatir saat mendengar Yuki hampir hilang."

"Aku harus lebih hati-hati menjaganya." Deidara tersenyum, mencoba meminta maaf atas kelalaiannya itu.

"Kau bicara apa? Kau bahkan seorang ibu yang baik." Itachi mengulurkan tangannya dan mengelus kepala Deidara.

"Yuki-kun, kau sudah bangun?"

Deidara melepaskan pelukan Itachi dan berjalan cepat menghampiri putranya itu, "Paman Itachi datang."

Itachi tersenyum melihat interaksi dua orang di depannya. Ia bersyukur bisa menjaga Deidara sampai saat ini. Orang itu ... Apakah bahagia melihatnya? Senyum bahagia itu perlahan memudar dan berganti kegetiran.

.

.

SasuNaru

.

.

Naruto bangkit dari kursi taman. Ia tidak menyangka telah menghabiskan banyak waktu hanya untuk mengobrol dengan Sasuke. Ia bahkan sudah lupa tentang apa saja yang ia bicarakan dengan Sasuke. Tahu-tahu matahari sudah hampir tenggelam.

"Aku harus kembali, Sasuke-san!" Naruto membungkuk sebentar dan kembali menegakkan badannya. Ia tersenyum kecewa saat Sasuke tidak membalas sapaannya. Naruto mulai melangkah, berjalan meninggalkan Sasuke. Ia tidak bisa bersama Sasuke terlalu lama. Deidara membutuhkan dirinya di rumah.

"Naruto."

Naruto berhenti melangkah. Ia merasakan tangan besar Sasuke menarik tangannya dengan lembut. Membuat Naruto terdiam di tempatnya berdiri. Ia tidak akan berharap apapun lagi. Semua memang hanya masalalu.

"Aku menyukaimu."

Naruto memejamkan matanya. Ia menarik napas dalam mendengar penuturan dari Sasuke. Dari awal ia sudah menebak jika kehadiran Sasuke di Uzushio bukalah kebetulan. Tapi kesengajaan Sasuke. Naruto merasa sesak di hatinya. Sasuke tidak mungkin mengatakan hal itu. Sasuke sudah menikah dan rasa suka itu bukanlah cinta.

"Naruto."

Naruto terkejut ketika Sasuke menarik tangannya hingga mau tidak mau ia harus berbalik menghadap Sasuke. Pria itu menciumnya tepat dibibir. Membuat Naruto harus terkejut untuk kesekian kalinya.

"Aku menyukaimu." Sasuke kembali mencium Naruto. Mata hitamnya memancarkan kerinduan dan kesedihan.

Dan Naruto tahu itu adalah sebuah kesalahan. Meski ia membalas ciuman itu. Betapa hina dirinya yang begitu menikmati ciuman dari pria yang sudah beristri. Naruto memejamkan matanya.

.

.

.

Mereka memutuskan untuk tidak pulang. Naruto mengikuti Sasuke ke tempat penginapan terdekat ketika hujan yang datang membuat mereka basah. Naruto duduk di pojokan sembari menatap dinding di depannya, sementara Sasuke duduk di atas futon.

Naruto menghela napas tanpa sadar. Ia ingin tidur setelah mandi dan menyerahkan pakaiannya ke pegawai penginapan untuk dicuci. Namun futon di kamar itu hanya ada satu dan ia tidak mungkin tidur dengan Sasuke.

"Kau tidak tidur?" Sasuke berbaring begitu saja. Pikirannya masih membayangkan ciuman tadi sore. Bolehkah ia mengulang lagi? Mata hitamnya menatap Naruto. Dadanya berdetak tidak karuan. Ia bergerak membelakangi Naruto.

Naruto bangun dan berjalan ke sisi Sasuke. Ikut berbaring. Jujur saja ia tidak akan bisa tidur walau ingin. Ia merasa resah dan khawatir. Dadanya kembali berdebar ketika tangan Sasuke tidak sengaja mengenai perutnya saat Sasuke mengubah posisinya.

"Naruto."

Mata Sasuke terbuka, membuat manik hitam itu menatap wajah cemas Naruto. Sasuke menatap Naruto dengan pandangan yang sulit diartikan.

Naruto terkejut ketika Sasuke tiba-tiba saja setengah bangun dan beralih memerangkap tubuhnya. Napas Naruto memburu, melihat mata hitam itu penuh nafsu. Ia memejamkan matanya, merasakan bibir lembut Sasuke mencium bibirnya dengan rakus. Ia mencoba menahan suaranya saat tangan dingin Sasuke merayap masuk ke dalam yukata yang ia kenakan. Naruto menggeliat merasakan tangan Sasuke bermain di kesejatiannya.

.

.

Untuk kesekian kalinya Naruto merasa telah melakukan kesalahan yang sama ketika ia membiarkan Sasuke membuka kedua kakinya dan membuatnya merasa melayang dalam kenikmatan. Penyesalan pun tidak bearti saat ia tidak menghentikan Sasuke memasuki lubang sempitnya. Jujur saja, hati kecilnya merindukan kehangatan yang pernah Sasuke berikan.

"Akhh .."

Sasuke bahkan mampu membuatnya lupa segalanya. Naruto meringis dan menarik apapun yang ada di tangannya ketika Sasuke menghujam lubangnya tanpa ampun. Ia mencoba menghirup udara sebanyak yang ia bisa.

"Naruto ..."

Mata Naruto melirik Sasuke yang masih bersemangat menggerakkan pinggangnya. Naruto bahkan bisa merasakan kesejatian Sasuke yang perlahan makin besar di dalam lubangnya. Tanpa sadar ia kembali mendesah merasakan bibir Sasuke menguasai lehernya. Ia melingkarkan tangannya ke punggung dan memeluk Sasuke dengan erat. Ia merasa akan sampai.

Sementara Sasuke menghujami setiap jengkal leher Naruto dengan ciuman. Ia mulai kesulitan untuk bergerak. Ia menggeram merasa frustasi. Dengan sisa tenaga, ia berusaha mendapatkan puncak kenikmatan. Deru napasnya kian berat dan beberapa hentakan lagi ia sampai. Ia memejamkan matanya. Menikmati akhir perjuangannya.

Naruto memejamkan matanya. Napasnya tersengal. Sasuke selalu saja hebat dalam urusan bercinta. Ia mencoba membuka mata dan menemukan Sasuke masih berada di atasnya dengan mata sebelah yang tertutup. Ia kembali merasa cemas jika mengingat Sasuke tidak lagi sendiri. Entah bagaimana hancurnya hati istri Sasuke jika tahu kejadian ini.

Naruto kembali menutup mata. Dalam hati ia berujar, "Tuhan ... Setelah hari ini, biarlah menjadi rahasia.

.

.

.

To be Continue ...

.

Terima kasih karena masih bersedia mengikuti kelanjutan ff ini. Saya minta maaf karena saat tidak bisa menulis dengan panjang setiap chapternya. Jujur saja saya juga tidak tahu mau dibawa kemana cerita ini. Tapi saya akan berusaha untuk segera menamatkannya agar saya bisa menyelesaikan ff saya yang lain.

.

Balasan review:

Elan134: Ini udah lanjut. Makasih review nya.

D: Yuki manggil Deidara mama loh (^o^)/

amura: Semoga chapter ini bisa memberi penjelasan ^^

naruchan: Saya g bilang Naru hamil loh ya ^^

yellowfishh14: Dia g bila lihat.

Classical Violin: Jawabannya ada di chapter ini. ^^

svetlana: saya akan berusaha menyelesaikan sampai akhir. Tapi saya tidak janji akan cepat update ^^

aka-chan: Terima kasih karena sudah mau membaca ff ini disini. ^^

sukisuke: saya akan selalu semangat ^^

.

Terima kasih atas dukungannya. Sampai jumpa di chapter depan.