[Update 07/03/2017]

.

.

.

[NC included /Warn/Senyum_Mesum_ParkBantet 😆]

.

.

.


YOONGI POV

Minggu-minggu berikutnya Jimin selalu mengantarkanku bekerja setiap hari. Dia akan duduk di sebuah meja kosong sementara aku bekerja. Ketika jam shift kerja berakhir, dia akan selalu memintaku untuk sekedar bercerita tentang diriku一hal yang selalu ingin kulakukan namun tidak pernah sempat terjadi. Setiap hari dia membuat keinginan-keinginan kecilku terwujud. Kami pergi berperahu, naik helikopter, pergi parasailing, dan memakan abalone segar kesukaanku.

Dia jarang beranjak dari sisiku. Kegiatan seks kami一menakjubkan, dan itu selalu terasa lebih nikmat dan intens. Aku juga tidak mengalami mimpi buruk lagi di malam hari. Aku tidur nyenyak dan bangun di hari berikutnya dengan rileks dan cukup istirahat.

.

.

.

Malam ini adalah acara api unggun bersama staf dan aku diharapkan untuk berada di sana. Aku masih tidak yakin membawa Jimin ke sana merupakan sebuah ide yang tepat. Selain Taehyung dan Seungkwan, tidak ada yang tahu kami berkencan. Aku tidak menceritakan kepada orang lain mengenai hubungan kami karena aku memang bukan tipikal seorang yang senang mengumbar hal yang bersifat personal.

Aku mengenakan celana renangku dari balik celana jins-ku. Sebenarnya aku tidak yakin cukup berani untuk berenang, tapi Taehyung mengatakan setiap orang yang hadir minimal harus berujung dengan kaki yang basah. Aku mempersiapkan diri untuk itu atau bahkan lebih. Berendam di birunya air laut tidak terdengar buruk.

Jimin memarkir mobilnya dan menahanku untuk keluar dari mobil. Dia bersikeras untuk membukakan pintu mobil untukku. Itu terlihat sangat lucu dan sikapnya membuat hatiku menghangat. Tangannya menyelinap menggenggam tanganku dengan santai sambil berjalan ke arah orang-orang yang sudah hadir di sana. Ini dia. Jika ada staf yang penasaran mengenai hubungan kami berdua, maka Jimin sudah membuat situasi terlihat dengan sangat jelas sekarang.

"Kau yakin tidak memilih untuk berbalik dan pergi?" Tanyaku sambil tersenyum ke arahnya.

"Tidak akan."

"Mereka mungkin akan memperlakukanku berbeda," jawabku, berpikir itu bisa menyebabkan beberapa perasaan kesal dari rekan kerja lain.

"Aku akan memecat mereka."

Aku berhenti dan menatapnya. Dia menyeringai. Aku mencubit pelan lengannya.

"Hei, itu tidak lucu."

"Ya, itu lucu, Sayang. Selain itu, jika mereka membuatmu kesal, aku akan memecat mereka."

Oke, catatan untuk diriku, jangan pernah memberitahunya jika ada yang membuatku kesal.

Bau kayu yang terbakar dan suara musik memenuhi udara saat kami berjalan ke arah kumpulan orang-orang di dekat api unggun. Beberapa dari mereka terlihat sedang menari, sementara yang lainnya memanggang sesuatu di atas api, dan beberapa lainnya bermain voli di bawah sinar bulan.

"Haus?" Tanya Jimin, membawaku ke tong bir yang memang sudah tersedia di sana.

"Aku tidak begitu suka minum bir dari tong. Aku pernah mencoba sekali dan semua kacau," kataku.

Dia mengerutkan kening.

"Berapa banyak yang kau minum?"

"Aku minum one-shoot beberapa gelas yang aku juga tidak yakin berapa banyak."

Alis Jimin terangkat.

"Kau meminum bir one-shoot tanpa henti?"

Itu adalah salah satu poin pada daftar hal yang ingin kulakukan: pergi ke sebuah pesta dan minum banyak bir. Aku tidak tahu tentang one-shoot drink, tapi itu tidak sulit untuk aku coba. Baekhyun telah memperingatkan bahwa aku akan mabuk dan sakit, tapi aku tetap mencoba.

"Ya. Keputusan bodoh. Pesta musim panas," aku menjelaskan.

Di pesta itu aku bertemu dengan orang yang kuberikan perjakaku. Tiga kali kencan kemudian dia membawaku ke lingkaran seks. Aku begitu naif dan bodoh.

"Kau di sini, hyung," kata Taehyung, tersenyum saat ia berjalan dengan segelas minuman merah besar di tangannya.

"Minumlah. Bir-nya gratis."

Aku menggeleng.

"Yoongi tidak minum bir dari tong. Apa ada yang lain untuk diminum di sekitar sini?" Tanya Jimin.

Taehyung mengangguk dan berjalan ke pendingin dan melemparkanku sebotol air mineral. Sempurna.

"Terima kasih," kataku padanya, dan dia mengangguk sambil mengedip mata padaku sebelum berjalan kembali ke sekumpulan orang-orang yang menari.

Jungkook melangkah keluar dari kumpulan itu dan memeluk dia.

"Apa kau akan menolak jika aku minum bir dari tong?" Tanya Jimin.

Aku menggeleng dan meneguk airku.

"Bagus, aku butuh sesuatu," dia berjalan ke sana dan aku tetap tinggal di tempatku berdiri.

Aku tidak bisa mengikutinya kemanapun ia pergi. Aku menjadi terlalu membutuhkannya dimana ini bisa menjadi mengkhawatirkan. Aku tidak ingin menjadi seorang yang terlalu bergantung lagi terhadap orang lain. Psikiater-ku telah berbicara kepadaku tentang itu. Dia mengatakan aku perlu bekerja keras untuk menjadi independen dan itu mungkin akan sulit bagiku untuk memulai dengan riwayat kehidupanku sebelumnya.

"Hei, Yoongi kan?" Seorang pria yang tidak kukenal menghampiri dan menyapaku.

Aku mengangguk. Aku tidak yakin siapa dia atau bagaimana dia tahu namaku.

"Kihyun, aku salah satu pemain tenis di resort," katanya sambil mengedipkan mata.

Aku mengangguk dan melirik untuk melihat Myungsoo, kepala dapur restoran, sedang berbicara dengan Jimin, mungkin mereka sedang membahas pekerjaan.

"Senang bertemu denganmu," jawabku.

"Aku telah memperhatikanmu daritadi. Tidak yakin jika kau sudah memiliki teman atau tidak," dia mengambil selangkah lebih dekat dan aku berhasil bergerak ke kanan tanpa terlihat seperti aku mencoba untuk menjauh darinya.

"Oh," itu saja jawaban yang bisa kukatakan.

Aku tidak yakin aku perlu untuk mengumumkan bahwa aku menjalin hubungan dengan Jimin.

"Kau adalah salah seorang teman dari Tuan Park? Aku melihatmu datang dengannya."

"Apa ada yang bisa kubantu, Kihyun?" Kata Jimin sebelum ia pindah di belakangku.

Aku menghela napas lega, lagipula aku tidak ingin menjawab pertanyaannya itu.

"Tidak, Tuan. Aku hanya ingin berkenalan dengan Yoongi."

Tangan Jimin menyelinap mengelilingi pinggulku dan berhenti di atas perutku, semua terjadi dalam gerakan posesif. Kihyun tidak kehilangan pemandangan itu. Matanya melebar dan ia mengangguk.

"Senang bertemu denganmu, Yoongi," jawabnya.

"Sampai bertemu lagi, Tuan Park," lanjutnya, lalu dia melenggang pergi.

"Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian walau hanya tiga menit," katanya sebelum menggigit kecil telingaku.

"Pemain tenis-mu itu menyeramkan," kataku.

Jimin tertawa.

"Aku setuju, tapi banyak investor yang menyukainya. Aku tahu pasti dia tidur dengan beberapa dari mereka. Itu membuat mereka bahagia, jadi kita jangan biarkan dia pergi. Tidak baik untuk bisnis."

Aku tidak yakin apa yang dipikirkan oleh para investor itu, tapi aku tidak bertanya. Aku sudah cukup banyak minum dari botol mineral-ku dan saat ini aku ingin pipis. Aku melihat sekeliling dan melihat tidak ada toilet dimana pun. Aku melihat Taehyung dan memutuskan untuk pergi bertanya padanya.

"Aku perlu bertanya sesuatu pada Taehyung. Aku akan kembali," kataku sebelum bergegas pergi.

Aku tidak ingin mengatakan bahwa aku harus buang air kecil. Aku lebih suka hanya bertanya pada Taehyung. Dia melihatku berjalan kearahnya sendirian dan dia melangkah keluar dari pelukan Jungkook dan ikut berjalan mendekatiku.

"Hei, kau baik-baik saja, hyung?"

"Ya, tentu. Aku hanya perlu untuk buang air kecil. Di mana kita bisa melakukannya di sini?"

Taehyung tersenyum dan mengangguk ke arah air, dimana orang sedang bermain di sekitar dan berenang.

"Di teluk?" Aku bertanya, bingung.

Dia mengangguk. Oh tidak. Aku dalam kesulitan. Aku berjalan kembali ke Jimin yang sedang menatapku. Aku sepertinya harus memberitahu dia, walaupun itu terdengar cukup memalukan. Mungkin aku bisa berjalan menyusuri sisi pantai yang lebih sepi, kemudian buang air kecil. Tak seorangpun akan melihatku dan tahu apa yang aku lakukan.

Seorang pria berteriak bahwa dia harus pergi kencing dan berlari ke arah air一ugh, itu hanya terdengar jorok. Aku berhenti di depan Jimin dan merasakan wajahku memanas. Membahas fungsi tubuh dengan orang lain hanya bukan sesuatu yang aku kuasai.

"Apa ada yang salah?" Tanyanya.

Aku menunduk dan mengambil napas dalam-dalam.

"Aku harus buang air kecil."

Dia tidak mengatakan apa-apa pada awalnya dan kemudian dia tertawa.

"Itu sebabnya kau lari untuk menemui Taehyung?"

Aku mengangguk.

"Mengapa tidak kau katakan saja langsung padaku?"

Aku terus menunduk.

"Umm… Itu karena…"

Dia tertawa lebih keras dan melarikan jemarinya ke kepalaku.

"Apakah dia memberitahumu ke mana harus pergi?"

Aku mengangguk lagi. Dia menarik tubuhku ke arahnya.

"Apakah kau ingin aku membawamu pulang agar kau dapat buang air kecil?"

Aku menginginkan itu. Aku tidak ingin menggunakan lautan. Tapi aku juga tidak ingin kami harus meninggalkan acara secepat ini.

"Mungkin aku bisa pergi ke sisi pantai yang sepi dan menggunakannya sehingga tidak ada yang melihatku," aku menyarankan.

"Bisakah aku menemanimu?" Ia bertanya.

Aku menggeleng. Tidak mungkin. Itu sama buruknya.

"Oke, biarkan aku membawamu pulang," ujar Jimin segera.

Aku bisa melakukan ini, aku tidak boleh bergantung.

"Aku akan kembali dalam satu menit," aku meyakinkannya.

"Aku tidak suka ide kau akan berjalan sendirian ke dalam air dalam gelap," kata Jimin, mengeratkan pegangannya ditanganku.

"Tapi aku harus buang air kecil. Aku akan pergi melakukannya sendiri dan perlahan bergerak menjauh dari semua orang. Semua akan baik-baik saja."

Jimin tidak melepaskan tanganku.

"Aku tidak menyukainya."

Aku mengerutkan kening ke arahnya.

"Tapi aku harus pergi," kataku.

"Jadi biarkan aku yang membawamu, ke suatu tempat. Entah aku bisa pergi ke sisi pantai juga, atau aku mengantarmu ke kamar kecil."

Aku memikirkannya dan memutuskan aku tidak akan bisa pergi ke dalam air dalam gelap dan pipis. Aku menghela napas, mengalah.

"Antarkan aku ke kamar kecil."

Dia menyeringai.

"Kamar kecil paling dekat yang aku dapat antarkan adalah di rumahku."

"Jadi antarkan aku ke rumahmu."

.

.

.

JIMIN POV

Yoongi telah memintaku untuk menunggu dia di mobil. Dia tidak ingin aku masuk ke dalam dengan begitu dia bisa pipis. Aku menyetujuinya. Tidak mungkin aku membiarkan dia pergi ke dalam air yang gelap sendirian一jadi ini yang bisa kulakukan. Namun, setelah beberapa menit berlalu dan Yoongi belum juga kembali, aku memutuskan aku harus pergi memeriksanya. Dia memiliki lebih dari cukup waktu untuk pergi pipis.

Ketika kakiku mulai melangkah ke anak tangga, aku mendengar suara familiar bernada tinggi dari Taemin. Sialan. Mobilnya tidak ada di luar sini. Apa yang dia lakukan di rumahku? Aku menyentakkan pintu dan segera berjalan ke ruang tamu. Yoongi terlihat berdiri menempel ke dinding dengan tangan memeluk protektif pada tubuhnya yang mungil, sementara Taemin terus mencercanya dengan pertanyaan.

"Apa yang kau lakukan di rumahku?" Aku berteriak marah sementara aku melewati Taemin dan meraih Yoongi jadi aku bisa melindunginya.

Ini adalah keajaiban Taemin tidak membuat Yoongi mendapat serangan panik. Aku melarikan tanganku di punggungnya untuk menenangkannya saat aku memelototi Taemin yang sedang menontonku tajam.

"Jadi ini sebabnya? Kau membuang masa depanmu karena dia? Dia bekerja sebagai pelayan di restoran, Jimin. Apa yang kau pikirkan? Lihat pria itu. Dia… dia… hanya satu dari semua di luar sana. Tidak ada tentangnya yang pantas untukmu. Apakah kau bercinta dengannya sebagai bentuk pemberontakan?"

Yoongi tersentak dalam pelukanku, dan aku hampir lupa diri bahwa Taemin adalah salah satu anak dari kolega bisnis keluargaku. Aku siap untuk membunuhnya.

"Berhati-hatilah dengan apa yang kau katakan. Ini adalah rumahku yang kau masuki tanpa permisi. Aku akan mengunci pantat brengsek-mu sampai ayahmu ke sini dan menyelamatkanmu."

Yoongi berdiri kaku dalam pelukanku, dan aku melarikan jariku di bawah dagunya dan memiringkan wajahnya sehingga aku bisa melihat matanya. Dia bersamaku. Bagus. Aku kembali memandang ke arah Taemin.

"Kau harus pergi. Jangan pernah menginjakkan kaki kembali di rumah ini dan pergi jauh dari Yoongi. Jika aku menemukan kau mencoba berbicara dengannya atau menyakiti dirinya, aku pastikan kau akan menyesal."

Taemin mendesis marah.

"Kau tidak mengancamku, Park Jimin. Aku tidak takut. Ini lelucon一semua ini一kau dan dia一" dia menunjuk dengan kukunya yang terawat ke arah Yoongi一"konyol. Aku akan tetap menikahimu. Semua yang harus kau lakukan adalah mengikuti segala yang sudah terencana sebelumnya."

Yoongi tersentak dalam pelukanku lagi, dan aku merasa semua sudah lebih dari cukup.

"Pergi. Keluar. Sekarang!" Aku meraung murka ke arah Taemin.

"Ya, aku harus menelepon seseorang untuk menjemputku. Ayahku menurunkanku di sini. Aku pikir aku bisa menunggumu dan berbicara denganmu. Tapi dia yang datang berjalan ke sini."

"Kau punya ponselmu. Tinggalkan rumahku dan panggil seseorang untuk datang menjemputmu. Aku ingin kau keluar dari sini!"

Taemin memutar tubuhnya dengan kasar dan tak lama terdengar suara pintu dibanting dibelakangku. Aku merangkul Yoongi dan membawanya ke kamarku dan duduk bersamanya di tempat tidur.

"Hei, lihat aku," kataku, perlu untuk melihat wajahnya.

Dia mengangkat pandangan matanya kepadaku, dan kebingungan dan rasa sakit yang aku pikir akan muncul darinya tidak ada. Sebaliknya dia terlihat… marah.

"Kau akan menikah dengan jalang itu? Yang benar saja? Apa yang orang tua-mu pikirkan? Dia mengerikan, Jimin. Kau jauh lebih baik dari itu. Aku tidak bisa membayangkan bagaim…"

Aku menutup mulutnya dengan mulutku sebelum dia bisa mengatakan apa-apa lagi. Aku begitu sialan lega mendengar kemarahan dalam suaranya, bukannya kesakitan. Aku hanya perlu meyakinkan dia baik-baik saja. Yoongi membalas ciumanku lalu melepaskannya.

"Aku masih harus buang air kecil," katanya, dan berdiri.

Aku tersenyum saat dia berlari ke kamar mandi.

.

.

.

Sejenak kesadaran memenuhi pikiranku. Fakta bahwa ayahku akan tahu tentang Yoongi menamparku. Dia akan membenci kenyataan ini. Dia akan membencinya. Jika ada cara aku bisa menutup mulut Taemin, aku akan melakukannya. Aku hanya tidak tahu bagaimana. Dia adalah seorang pria egois yang telah tersinggung. Dia sudah ditolak untuk orang lain dan dia tidak terima.

Aku meraih ponsel-ku dan mematikannya. Jika ayahku menelepon malam ini, aku tidak akan berurusan dengannya. Aku akan pastikan Yoongi tidak berada di dekatku ketika aku memiliki percakapan ini dengan Ayahku. Aku sudah memutuskan, jika ayah semakin mendorongku terlalu jauh, aku akan berkemas dan pergi. Yoongi memiliki daftar tempat yang dia ingin kunjungi dan aku pastikan untuk pergi melihat itu semua一bersamanya.

Pintu kamar mandi terbuka dan Yoongi berjalan hanya menggunakan celana renang hitam, tanpa memakai kemeja biru一juga tanpa jins biru一menunjukkan dada rata telanjangnya yang menggoda. Aku hanya melihatnya sambil menahan lonjakan gairahku saat dia berjalan ke arahku.

"Apakah kau tahu hari apa hari ini?" Tanyanya.

Mataku terpaku pada kedua tonjolan merah muda yang terlihat mencuat didadanya itu, yang mampu membuat kejantananku terasa sesak dari balik celanaku.

"Sabtu," jawabku parau.

Dia mengulurkan tangan menyentuh lembut putingnya seakan mencoba untuk menggodaku sambil menggigit bibirnya menahan desahan ringan dari bibir manisnya. Sekarang ini tidak terlihat seperti kami akan kembali ke acara api unggun.

"Umm… Sudah tujuh hari sejak aku meminum pil pertama," katanya sambil menyelipkan ibu jarinya ke dalam sisi celana renang miliknya dan perlahan-lahan meluncurkan mereka turun dari kaki indahnya dan melangkah keluar dari mereka.

Sial! Sudah tujuh hari. Bagaimana aku bisa melupakannya? Aku menarik kasar bajuku ke atas kepalaku dan menarik tubuhnya mendekat, kemudian melemparkannya di tempat tidur.

"Di sini aku mengkhawatirkanmu yang akan marah karena mantan gila-ku dan kau datang berjalan keluar dari kamar mandi memberikanku service strip-tease. Sialan, Baby, kau adalah setiap fantasi sempurna yang pernah kumiliki."

Dia melemparkan tangannya di atas kepalanya dan meraih kepala ranjang.

"Aku ingin kau datang dalam diriku. Lagi dan lagi," katanya, membuka kakinya dan melengkungkannya kembali main-main.

Aku menarik lepas celana jins dan celana boxer-ku lalu naik mengungkung di atas tubuhnya.

"Pertama kali ini akan kulakukan dengan cepat, karena aku tidak bisa menunggu. Aku perlu melakukan ini. Setelah itu kita akan melakukannya dengan lembut dan perlahan, aku bersumpah."

Dia menjilat bibirnya perlahan.

"Ya, lalu lakukan-lah dengan keras, Jimin-nie," dia berbisik sensual sambil tangannya menyentuh lembut dadaku.

Persetan! Aku akan meledak sebelum aku masuk ke dalam dirinya jika dia terus mengucapkan kata nakal dan tindakan menggoda seperti ini. Aku mengangkat pinggulnya dan membanting milikku ke dalam lubang ketatnya dalam satu gerakan keras.

"Argh! Oh, ya Tuhan, ya," dia berteriak, dan aku mencoba mengusir rasa kekhawatiran karena bertindak terlalu kasar.

Dia ingin percintaan yang keras, dan aku lebih dari siap untuk memuaskannya. Hanya dengan pemikiran bahwa aku dapat melepaskan kepuasanku dalam dirinya membuat bola-bola-ku terasa mengencang. Aku tidak akan bisa berhenti malam ini. Aku akan bercinta di seluruh sisi rumah ini.

Aku mengeluarkan penis-ku dan menumbuk kembali lagi dan lagi saat ia menggeliat panas di bawahku. Ia memohon dan mendesahkan namaku merdu. Kuku pendeknya mencakar punggungku dan aku tahu bekas cakaran akan berada di sana besok. Itu membuatku bahkan merasa lebih gila. Aku ingin tanda darinya tercetak ditubuhku. Sama seperti aku yang akan segera menandai lubang sempitnya dengan cairanku. Yoongi mengangkat lututnya dan meremas pinggulku dengan kakinya.

Mengerti gejolak yang menggebu yang ia rasakan, tanganku segera menggenggam penis-nya dan memompanya dengan tergesa-gesa. Ini terlalu nikmat, bagaimana cengkraman dalam lubang ketatnya dan kejantanannya yang terasa semakin mengeras dan berdenyut di tanganku.

"Aku... aku akan datang, Jimmmh" ia terengah-engah.

"Oh, Tuhan. Sekarang, aku, ahhhh," dia berteriak, dan kukunya seakan tertanam dipunggungku.

Aku membiarkan sensasi manhole-nya yang menyempit dan meremas-remas menekan kejantananku sampai akhirnya aku ikut meledak di dalam dirinya. Tubuhku bergetar saat aku menumbuk dua kali terakhir dengan keras dalam dirinya dan cahaya putih itu datang. Spermaku membanjiri dinding lubangnya. Aku ingin berteriak penuh kemenangan mengetahui ini adalah milikku. Dia milikku seutuhnya. Tidak ada seorangpun dalam keluargaku yang dapat membuatku berjalan menjauh dari ini. Dari dirinya.

.

.

.

YOONGI POV

Aku meminum kopi sementara aku duduk di teras rumah Jimin dan menyaksikan gelombang air laut yang menabrak pasir. Aku dilarang untuk pergi bekerja hari ini. Jimin mengatakan ia harus berurusan dengan ayahnya, dan mengetahui aku bekerja tanpa dia di sana hanya akan membuatnya stres. Dia khawatir aku akan terluka. Setelah malam di restoran itu, aku menyadari aku cukup lemah untuk dihadapkan pada situasi tanpa Jimin yang menjagaku. Jadi aku setuju dan tinggal di sini. Jika aku bekerja di restoran akan menjadi masalah, maka aku akan perlu untuk mendapatkan pekerjaan di tempat lain. Tapi itu bukanlah topik argumen yang ingin kuhadapi hari ini.

Kegiatan panas semalam masih seakan merelungiku. Aku kehilangan hitungan akan berapa banyak orgasme yang aku dapatkan, tapi aku tahu Jimin telah datang dalam diriku sebanyak lima kali. Masing-masing dan setiap kali itu terjadi, selalu mengesankan. Aku telah meminum pil pertamaku pagi ini sebelum menggosok gigi. Jika kami akan mulai berhubungan seks seperti ini, aku tidak bisa melupakan jadwal pil-ku satu kali pun.

Aku tidak boleh mempunyai anak. Itu akan menjadi sebuah nasib yang mengerikan pada sang anak. Seorang ibu yang ditakdirkan untuk kehilangan kesadarannya di beberapa titik trauma. Tidak ada anak yang membutuhkan kehidupan seperti yang ku-punya. Aku bersumpah aku tidak akan pernah melakukan apa yang ibuku lakukan untuk anakku kelak, tapi aku juga tidak yakin akan diriku. Tidak jika aku juga mungkin dapat mendapatkan serangan mental.

Ibuku bukanlah orang yang jahat. Penyakitnya lah yang membuatnya menjadi demikian. Aku menggeleng takut dan mengusir pergi pikiranku. Ya, itu tidak akan terjadi karena aku akan sangat berhati-hati. Aku tidak akan hamil.

Lamunanku buyar ketika ponselku berdering dan aku meraihnya. Nama Baekhyun terlihat di layar. Aku tidak bicara dengannya lebih dari seminggu. Aku telah menjadi begitu sibuk dengan Jimin hingga aku lupa untuk menghubunginya.

"Selamat pagi," kataku.

"Selamat pagi, orang asing yang tidak menghubungi sahabatnya lagi. Bagaimana kabarmu?" Jawabnya.

"Aku baik," makna di balik satu kata sederhana itu sangat kuat.

Baekhyun tertawa.

"Baik, ya? Seperti bagaimana yang baik? Seperti dia yang superhot dan memberimu orgasme berulang, atau baik seperti kau tidak pernah memiliki seks yang lebih baik, atau baik seperti kau akan menikah dan memiliki anak-anaknya?"

Aku telah tersenyum, sampai kalimat terakhir dari Baekhyun membuat senyumku lenyap dan hatiku terasa membanting dadaku. Menikah dan memiliki anak-anak-nya… Aku tidak akan pernah bisa menikah dengannya, dan Jimin tahu itu. Aku telah memberitahunya bahwa aku gila dan bahwa aku dapat mengalami serangan mental pada setiap menit.

Apakah ia bahkan mencintaiku? Aku tidak berpikir begitu. Dia tidak pernah mengatakan kepadaku. Tapi aku mencintainya. Aku mencintainya lebih dari apa pun. Dan aku tidak bisa menikah dengannya. Ini harus berakhir pada akhirnya, karena aku tidak bisa menikah dengannya. Dia pasti ingin memiliki anak. Dia tidak membutuhkan seorang istri yang pada akhirnya hanya akan kehilangan pikirannya. Ya Tuhan. Apa yang telah kulakukan?

"Yoongi, kau baik-baik saja?" Tanya Baekhyun.

Aku bisa mendengar nada khawatir dalam suaranya.

"Sialan. Yoongi, aku tidak berpikir sebelum aku mengatakan itu. Sobat, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu. Pikirkan tentang dia dan seks panas. Pikirkan segala sesuatu yang kau butuh untuk ceritakan kepadaku. Tetap fokus. Tinggal denganku," dia bekerja keras untuk mendapatkanku kembali ke jalur.

Masalahnya adalah, aku tidak keluar jalur. Aku sangat menyadari kebenaran. Fakta-fakta yang memang nyata adanya. Dan aku membiarkan diriku melupakan mereka.

"Aku mencintainya. Aku tidak bisa mencintainya," kataku pelan keponselku.

Pintu belakangku terbuka dan aku berbalik untuk melihat seorang pria yang hanya pernah kulihat sekali sebelumnya. Itu adalah ketika aku diharuskan bernyanyi dalam acara pertunangan Jimin dengan pria jalang yang menyedihkan. Pria yang datang ini adalah ayah Jimin.

"Jangan berkata seperti itu, Yoongi. Kau dapat mencintainya. Kau layak untuknya. Kau bukanlah ibumu. Kau bisa berbahagia. Ini adalah apa yang aku inginkan untukmu sejak begitu lama. Apakah dia mencintaimu juga?" Baekhyun bertanya.

Aku menatap ayah Jimin saat ia berjalan dan mengambil tempat duduk menghadapku. Mengapa ia ada di sini? Dia seharusnya bersama dengan Jimin.

"Aku tidak bisa. Aku tidak tahu," kataku pada Baekhyun, tidak dapat membuang pandanganku dari mata tajam dan dingin di depanku.

"Ya, kau bisa. Kau bahkan dapat memiliki bayi, Yoongi. Kau pria spesial. Mereka akan tumbuh besar dan istimewa sepertimu. Jangan berpikir kau tidak bisa."

Aku harus menghentikan Baekhyun. Aku bisa merasakan kegelapan mulai menutup penglihatanku. Tatapan dari ibuku dan mata liarnya muncul. Ponselku jatuh dari tanganku.

"Mari kita buat ini menjadi sederhana," ayah Jimin menatapku dan terdengar nada jijik dalam suaranya.

"Berapa banyak uang yang kau perlu untuk membuatmu meninggalkan dan tidak pernah menginjakkan kaki kembali di kota ini? Sebutkan harganya dan itu milikmu."

Yoongi, Yoongi, mari kita menyanyikan sebuah lagu. Yoongi, Yoongi, datang makan lah dengan saudaramu. Makanan semakin dingin. Dia menunggumu. Yoongi, apakah kau melihat kemeja favorit saudaramu di ruang cuci? Dia berkata kau mengambilnya dan dia sangat marah. Dia tidak mau makan, Yoongi. Dia tidak akan makan. Kita harus membuat dia makan.

Apakah kau pergi keluar, Yoongi? Kakakmu bilang kau melakukannya. Dia mengatakan kau menyelinap keluar sementara aku tidur. Dia melihatmu. Dia hanya ingin membuatmu aman. Aku tidak membuatnya aman, tapi dia membantuku untuk menjagamu. Apakah kau tidak ingin aman, Yoongi? Kau tidak bisa pergi ke sana.

Yoongi, dia mengatakan dia menungguku. Dia mencintaiku, Yoongi. Kau tidak mencintaiku. Kau tidak menurutiku dan berjalan di malam hari di luar dalam gelap. Dia selalu mematuhiku. Dia tetap tinggal denganku. Sekarang dia menungguku. Dia mengatakan dia akan makan jika aku datang kepadanya. Yoongi, bagaimana caranya aku pergi kepadanya? Apa yang harus aku lakukan?

"Eomma! TIDAK! Eomma! Tidak!" Teriakanku tidak meringankan rasa sakitku.

Darah di mana-mana. Di kolam renang, di sekitar tubuhnya. Aku meninggalkan dia dan dia pergi kepadanya. Aku seharusnya tidak meninggalkannya. Aku seharusnya tidak meninggalkan ibuku.

.

.

.

Aku mengedipkan mataku beberapa kali. Aku berada di lantai. Aku menyentuh lantai kayu yang hangat di bawahku dan perlahan kesadaranku datang. Aku sedang berbaring di teras. Merasa bingung, aku melihat sekeliling dan melihat ponselku tergeletak di sampingku dan secangkir kopi berada di nakas disebelahnya.

Ayah Jimin telah kemari. Aku sedang berbicara dengan Baekhyun. Ya Tuhan, Baekhyun. Aku meraih ponselku dan melihat aku punya beberapa panggilan tak terjawab dari dia dan dua dari Jimin. Aku melirik kembali di pintu dan bertanya-tanya apa yang akan aku lakukan mengenai ayah Jimin.

Apakah aku hanya bermimpi bahwa dia berada di sini atau itu memang nyata? Apakah dia meninggalkanku setelah itu? Mungkinkah dia telah menghubungi Jimin? Aku baru akan bangun ketika aku mendengar pintu depan terbuka, dan kemudian Jimin berlari ke dalam ruang tamu dan langsung menuju ke arahku. Aku segera berdiri tepat ketika dia sampai di teras lalu menarikku ke dalam pelukannya.

"Kau baik-baik saja. Kau tidak mengangkat ponselmu. Aku menghubungi dan kau tidak mengangkat. Mengapa kau berbaring di lantai? Apakah itu terjadi lagi? Apakah kau mendapat serangan panik? Mengapa? Ayo kemari," dia mengoceh sambil duduk di bangku teras dan memelukku di pangkuannya.

Dia menyisir rambutku dan mengusap wajahku lalu menekan ciuman yang dalam dibibirku.

"Kau membuatku takut setengah mati, Yoongi. Kenapa kau tidak menjawab, baby? Apakah kau baik-baik saja?"

Aku tidak ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi aku juga tidak ingin berbohong kepadanya. Tapi aku tidak yakin ayahnya ada di sini, jadi aku tidak akan membahas hal itu.

"Aku sedang berbicara dengan Baekhyun dan dia mengatakan sesuatu yang memicu memoriku. Dia tidak bermaksud, itu hanya terjadi kadang-kadang. Aku pikir aku pingsan. Aku terbangun di lantai. Dia meneleponku berkali-kali daripada kau. Aku harus menelepon kembali一dia mungkin panik."

Jimin menarikku ke dalam pelukannya.

"Sialan. Aku benci mengetahui bahwa kau melalui itu semua sendirian. Aku tidak tahan membayangkannya," geramnya sambil memelukku erat-erat.

Dia tidak bisa terus melakukan hal ini. Ia terlalu marah atas masalahku. Aku sudah kacau dan semua hanya akan bertambah buruk. Hal itu tak terelakkan. Mungkinkah dia dapat mengatasinya? Tidak, aku tahu dia tidak bisa. Dia juga pasti menginginkan untuk memiliki anak.

"Kau tidak bisa selalu bersamaku, Jimin. Kau harus menerima ini. Kadang-kadang itu akan terjadi ketika kau tidak disekitarku."

Jimin mendesah kalah.

"Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak pernah ingin kau sendirian ketika itu terjadi. Aku akan menemukan obatnya. Aku akan menemukan dokter sialan yang terbaik di luar sana yang dapat membantumu. Kita bisa mengalahkan ini. Aku berjanji."

Dia terdengar begitu bertekad. Namun aku tidak sepenuhnya jujur padanya. Aku tidak menjelaskan kepadanya bahwa ini kemungkinan hanyalah awal dari tahap kegilaanku. Tatapan matanya padaku sangat lembut dan mencerminkan apa yang aku rasakan. Apakah itu berarti dia mencintaiku? Sanggupkah aku membiarkan dia jatuh cinta kepadaku hingga benar-benar membutakan kondisiku yang sebenarnya?

.

.

.

JIMIN POV

Yoongi berbicara dengan Baekhyun dan meyakinkan bahwa itu bukan salahnya, kemudian dia pergi untuk berbaring dan tidur siang. Dia tampak tidak fokus. Sesuatu pasti telah terjadi. Aku tidak pernah tahu dia tidur siang di siang hari. Dan ketika dia bercerita tentang episode panik yang dia alami, dia tidak memberitahuku segalanya. Aku bisa melihat sesuatu yang lain di matanya.

SEBUAH keraguan.

Aku berdiri di pintu kamar tidur dan melihat bagaimana dia terlelap. Dia meringkuk seperti bola, posisi yang sering dia lakukan. Melihatnya di lantai ketika aku berjalan tadi seperti sebuah tendangan telak diperutku. Aku ketakutan di sepanjang perjalanan bahwa ini akan terjadi. Aku tidak yakin sampai ketika aku pernah melihatnya di sana berjuang untuk tersadar. Aku benci membayangkan itu. Aku benci bahwa dia bahkan memiliki hal-hal sialan seburuk itu untuk dilalui sendirian. Aku akan mendapatkan bantuan untuknya. Segera.

Ayahku juga telah menghilang hari ini. Aku tidak bisa menemukan untuk berunding dengannya. Hari ini menjadi seakan hari yang melelahkan dan membuang waktu. Aku telah meninggalkan Yoongi di sini sendirian ketika dia bisa saja pergi ke restoran bekerja seperti biasa dengan aku menemaninya. Aku tidak akan melakukan ini lagi padanya. Itu mungkin sebabnya dia mendapatkan serangan sialan seperti tadi. Dia sudah berpikir tentang aku yang menyembunyikannya dari ayahku dan berpikir dia adalah sebuah masalah. Aku sharusnya memikirkan hal itu.

Sebuah ketukan di pintu membuyarkan pikiranku dan aku menutup pintu kamar tidur sehingga siapa pun yang datang berkunjung tidak akan membangunkan Yoongi. Hoseok terlihat berdiri di sisi lain dari pintu dengan tangan terselip di depan celana jinsnya. Aku membuka pintu dan melangkah mundur untuk membiarkan dia masuk.

"Hoseok hyung," kataku menyapanya.

"Aku datang untuk mengatakan selamat tinggal. Sudah waktunya aku meninggalkan tempat ini dan menemukan tempat yang baru. Ayahku datang untuk melihatku kemarin dan itu tidak berjalan dengan baik," jelasnya.

Aku mengerti itu. Mungkin pergi memang satu-satunya pilihanku juga untuknya. Keputusan semua adalah miliknya.

"Kemana kau akan pergi?" Aku bertanya.

Dia mengangkat bahu.

"Belum tahu. Aku akan tahu ketika aku menemukannya."

Aku mengangguk dan melirik ke lorong.

"Aku ingin mengajakmu untuk minum tapi Yoongi sedang tertidur. Dia memiliki pagi yang buruk dan aku tidak ingin mengganggu dia."

"Aku mengerti. Aku ingin mengatakan selamat tinggal kepadanya juga, tapi kurasa tidak perlu. Katakan saja nanti kepadanya."

Aku tidak suka dia berpikir dia perlu mengatakan sesuatu untuknya, tapi aku mengangguk. Aku tidak perlu menjadi keledai pencemburu yang bodoh tentang itu.

"Ya, akan kusampaikan."

"Dia akan tinggal di sini, kupikir?"

"Ya."

"Dan ayahmu baik-baik saja dengan itu? Aku mendengar bahwa Taemin tahu sekarang. Beberapa rumor mulai terdengar keluar."

Sialan.

"Aku belum bicara dengan ayahku."

"Kau butuh bertindak, bung. Sebelum dia melakukannya dulu."

Dia benar, tentu saja. Aku harus memastikan ayahku tinggal jauh dari Yoongi.

"Aku akan bertindak."

"Apakah Yoongi seorang yang selamanya untukmu? Dia seorang yang kau anggap layak hingga membuatmu membuang semua yang lain?"

Aku tahu dia bertanya sebagai seorang teman yang telah membuat pilihan yang sama.

"Ya, dia. Tidak ada yang lain. Dia semua dari yang pernah akan kuinginkan."

Hoseok menyeringai.

"Tidak percaya uri Park Jimin benar-benar jatuh cinta."

Kata 'cinta' mengejutkanku, tetapi itu hanya karena aku tidak pernah mengatakan itu sebelumnya. Itu masih terdengar asing bagiku. Aku tidak berpikir untuk menggunakan kata itu, tapi dia benar. Aku jatuh cinta. Aku kembali menatap pintu kamar tidur dan berpikir tentang Yoongi yang tidur nyenyak di sana di tempat tidurku. Aku mencintainya. Aku suka mengetahui dia di sana. Bahwa dia adalah milikku. Bahwa aku bisa merawatnya.

"Aku mencintainya," aku menyatakan dengan sederhana.

Hoseok menepuk punggungku.

"Bagus. Dia membutuhkan itu."

Lalu ia membuka pintu dan melangkah keluar. Aku tidak melihat ke belakang untuk melihat dia berjalan pergi atau melambaikan tangan. Aku pergi ke pintu kamar tidur dan berdiri di sisi lain. Aku meletakkan tanganku di setiap sisi kusen pintu dan menyandarkan kepalaku terhadap pintu.

Ya, aku mencintainya.

Aku mencintainya dengan sesuatu yang benar-benar dalam hingga aku bahkan tidak bisa menamakan apa itu. Apa pun yang aku perlu lakukan untuk membantunya, akan kupenuhi. Dia harus hidup bahagia. Aku akan menghabiskan setiap detik dalam hidupku untuk membuat senyum manisnya itu selalu ada. Aku harus menemukan dokter terbaik. Itu adalah langkah pertama untuk membantunya.

Gagang pintu bergerak dan pintu perlahan terbuka. Aku mengarahkan pandanganku ke depan dan menemukan sosok terkasihku di sana. Mata Yoongi terkunci denganku. Rambutnya acak-acakan dari tidur dan ia masih tampak lelah.

"Kau mencintaiku?"

Mendengar dia mengatakan itu membuat hatiku melambung. Dia tahu. Dia mendengarnya.

"Ya. Lebih dari hidupku."

Alih-alih melemparkan dirinya ke dalam pelukanku dan mengatakan dia juga mencintaiku, ia menjatuhkan wajahnya ke tangan dan terisak. Aku menyaksikannya sejenak dalam kebingungan. Aku benar-benar bingung akan reaksinya. Ini bukan apa yang aku harapkan.

"Yoongi?" Tanyaku saat rasa panik mulai menetap di dadaku.

"Kau tidak bisa mencintai aku. Kau layak mendapatkan yang lebih baik. Bukan aku," dia menangis, menatapku.

Matanya penuh air mata dan beberapa menetes di wajahnya.

"Tidak ada yang lebih baik daripada kau, Yoongi."

Dia menggeleng.

"Tidak, tidak. Apakah kau tidak melihat? Aku tidak stabi, Jimin. Dengan jangka panjang... kemudian... dalam hidupku… aku bisa menjadi seperti ibuku. Kau tidak bisa mencintai aku."

Ibunya? Dia tidak akan menjadi ibunya. Mengapa dia bahkan berpikir seperti itu?

"Kau untukku, baby. Hanya kau. Kau tidak akan menjadi ibumu. Kau istimewa dan unik dan kita akan mendapatkan bantuan untukmu. Aku akan selalu berada di sisimu sepanjang waktu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku bersumpah."

Wajah berlinang air mata milik Yoongi menatapku. Aku mengulurkan tangan untuk menyeka air mata dari pipinya dan menariknya lebih dekat sehingga aku bisa menciumnya.

"Aku tidak ingin menghancurkanmu," bisiknya.

"Kehilanganmu akan menjadi satu-satunya hal yang bisa menghancurkanku, Sayang."

Dia memejamkan mata erat-erat.

"Tapi bagaimana kalau aku kehilangan pikiranku一kewarasanku?"

Aku harus meyakinkan dia untuk tahu bahwa aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dia bukan ibunya, sialan.

"Kau tidak akan menjadi seperti itu. Aku tidak akan membiarkanmu."

Yoongi terisak dan menggeleng.

"Kau tidak bisa mengendalikannya."

Ya aku bisa. Aku akan menemukan cara sialan untuk mengontrolnya.

"Kau milikku. Apakah kau mendengarku? Kau milikku, Min Yoongi. Aku akan menjagamu. Tidak ada yang bisa membawamu jauh dariku. Tidak ada."


-TBC-

.

.

.

[Bogoshipda~ ireoke malhanikka deo bogoshipda ]

[I miss you & I'm sorry utk reader yg (masih setia) nungguin update ffku T_T No excuse, just I'm so so sorry hehe… Kedepannya gk janji fast update dulu ya. But selalu diusahain utk update lebih cpt. Ciao!]