Love In Drama

.

Author:

Kim Hyunfha

Genre:

Read, then you will find

Rated:

PG-15

Main Cast:

Cho Kyuhyun

Lee Sungmin

Kim Jong Hoon

Kim Ryeowook

Kim Jungmo

Lee Hyuk Jae

Find by your self

Disclaimer:

Fanfict ini terinspirasi oleh drama Korea yang judulnya Heartstrings. Tapi aku kurang puas sama ceritanya. Jadilah aku buat Heartstrings versiku sendiri dengan konsep cerita yang sama, namun alur cerita yang berbeda.

Mungkin ada yang berteman sama akun fb-ku dan menemukan cerita dengan judul yang sama karena memang awalnya cerita ini aku post di fb. Namun semenjak aku mulai menulis ff KyuMin, ff ini jadi gak terurus. Jadilah aku mengubah seluruh cast ditambah pengubahan alur sedikit.

P.S: FF yang udah aku publish di FB udah aku hapus demi kenyamanan.

Don t Plagiat ! Don t Bash ! RCL sangat dibutuhkan So,

Happy Reading ^^

.

.

.

Suasana Universitas Opera agak berbeda dari biasanya. Rumor pembatalan drama musikal menjadi viral di kalangan mahasiswa sehingga lingkungan kampus sedang ramai-ramainya membicarakan hal tersebut. Kemarin setelah pulang dari Pulau Nami, anak-anak dibiarkan istirahat selama satu hari sebelum kembali masuk seperti biasa. Namun hal itu tidak mengurangi kecemasan mereka jika latihan mereka akan menjadi sia-sia nantinya. Direktur Shin atau profesor yang lain pun belum memberi kabar mengenai hal ini.

Seseorang yang menjadi akar permasalahan kini sedang duduk santai di dalam cafeteria sembari menikmati makanannya. Ia bersama dua orang kawannya masih belum mengungkit mengenai seluruh masalah yang terjadi terkait drama musikal. Hingga akhirnya, Donghae, memberanikan diri untuk memulai topik tersebut.

"Hyung, bagaimana jika drama musikal ini benar-benar dihentikan? Apalagi Minggu depan kau akan resmi keluar dari kampus ini dan pindah ke New York." Donghae lalu meminum es lemonnya melalui sebuah sedotan.

"Aku tidak peduli. Biarkan saja itu batal, mereka saja yang tidak tahu berterimakasih setelah dibantu oleh orang tuaku seperti itu. Siapa lagi yang akan memberikan donasi sebanyak itu selain orang tuaku?" sahut Yesung santai tanpa mengubah arah pandangannya. Ia terlalu fokus dengan makanannya.

"Orang-orang di sini mulai mencibirmu secara negatif, Hyung. Apa kau tak risih mendengarnya?" Henry pun ikut mengeluarkan suaranya.

"Untuk apa? Aku sering mendengar cibiran itu dan sama sekali bukan apa-apa untukku. Lagipula aku juga sudah muak dengan ocehan Direktur Shin yang membuatku seolah tidak bisa berakting dengan baik."

Donghae dan Henry tidak mampu lagi membalas perkataan Yesung. Lelaki itu jika sudah memutuskan sesuatu, maka tidak akan ada yang bisa mengubahnya. Terkadang mereka suka bingung sendiri dengan sikapnya yang mudah berubah-ubah.

"Hyung... Kau tidak bermaksud demikian, kan?"

Sontak Yesung menghentikan aktivitas makannya mendengar pertanyaan Donghae yang begitu tiba-tiba. Ia terdiam sejenak lalu meletakkan sendoknya kasar hingga menimbulkan bunyi berdenting. Entah kenapa ada sesuatu yang ada di dalam dirinya yang mencoba ingin lepas.

"Apa yang bisa aku lakukan, Hae? Sebenci-bencinya orang lain padaku, bahkan mereka tidak bisa mengalahkan kebencianku pada diriku sendiri."

Lelaki itu tertawa miris. Namun telah terjadi satu hal yang membuat Donghae serta Henry terkejut. Setitik air mata meluncur begitu saja dari mata sipit seorang Kim Jong Hoon. Kedua matanya memerah, mungkin telah banyak air mata yang ia tahan agar tidak keluar. Sekarang saja ia ragu untuk melepaskan apa yang sekian lama ditahannya.

"Aku tidak ingin menjadi seorang aktor, aku tidak ingin menjadi seorang CEO, aku juga tidak ingin menjadi seorang musisi, impianku adalah menjadi seorang detektif hebat yang berada di tengah kasus sulit lalu memecahkannya dengan cara yang luar biasa. Tapi apa yang bisa aku lakukan?! Aku iri dengan Kim Jungmo yang bisa melakukan segalanya meski orang tuanya kaya sama sepertiku. Jadi aku melampiaskan kemarahanku pada sahabatnya. Itu lebih bisa membuatnya merasakan kesedihan."

Kontan Donghae dan Henry secara bersama-sama membulatkan mata saking terkejutnya.

"Jangan bilang alasan kau membully Cho Kyuhyun adalah..." Henry sengaja tidak melanjutkan kalimatnya. Semuanya sudah jelas sekarang.

"Hyung... Kau..." Nafas Donghae pun jadi tercekat setelah mengetahui fakta ini.

"Tidak usah dipikirkan. Aku juga tidak mempedulikan komentar orang lain mengenai diriku. Biarkan saja mereka mengumpatiku dengan kata apapun. Di New York, aku akan tinggal dengan pamanku. Setidaknya beliau tidak akan membiarkanku terkengkang di sana."

"Jadi kau tidak akan bersama orang tuamu?" tanya Donghae.

"Ya. Mereka akan menetap di sini karena pusat bisnis mereka hanya di Asia."

Setelah itu tak ada lagi percakapan di antara ketiganya. Terlalu sibuk menyeimbangkan antara pikiran dengan aktivitas mereka. Juga sibuk mencerna setiap fakta yang baru saja terpecahkan. Donghae maupun Henry percaya kalau Yesung bukan lelaki yang sama seperti yang dipikirkan orang lain.

Kini mari kita menuju ke aula universitas yang dipenuhi oleh para pemain drama musikal sembari menunggu berita lanjutan dari Direktur Shin selaku pembimbing drama musikal, minus Sungmin dan Kyuhyun yang sengaja tidak datang ke kampus karena menjemput orang tua Sungmin yang baru datang dari Tokyo. Kyuhyun yang notabene menumpang tinggal di sana merasa tidak enak jika tidak ikut menyambut kedatangan orang tua dari sang calon kekasih. Calon? Yup! Mereka masih belum resmi menjadi sepasang kekasih. Kenapa? Karena...

.

**FLASHBACK**

.

Kyuhyun melepaskanciumannya dan kembali memandang Sungmin yang masih memerah. Ia lalu menanyakan hal yang sama sampai membuat kesadaran Sungmin kembali.

"Jadi, kau mau menjadi kelasihku?"

Sungmin menggigit bibir bawahnya gugup. "Maaf, Kyuhyun. Tapi aku benar-benar tidak mengerti perasaanku sendiri. Aku... Aku tidak bisa. Maaf..." ujar Sungmin menyesal.

Kyuhyun tersenyum tipis. "Baiklah... Aku tidak akan memaksamu, Min. Tapi penerimaanmu akan selalu aku tunggu."

Dan mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke penginapan mengingat jarak taman ini ke penginapan. Jadi mereka harus sampai agar tidak kena marah Direktus Shin.

.

**FLASHBACK END**

.

Begitulah yang terjadi di antara mereka sebelum pulang ke penginapan. Pada akhirnya pikiran Sungmin yang masih baru dalam urusan cinta mengharuskan Kyuhyun untuk menunggu hingga Sungmin menyadari perasaannya sendiri. Padahal Kyuhyun juga baru tahu bagaimana rasanya mencintai seorang gadis, namun usianya yang beranjak dewasa menjadikan pola pikirnya dewasa pula.

Yeah, kembali pada masalah rumor drama musikal yang masih simpang siur. Para pemain sungguh berharap agar drama musikal ini tetap terlaksana karena ini adalah pengalaman awal mereka untuk tampil di hadapan para maestro drama musikal, tak hanya dari Broadway, juga surganya hal yang berkaitan dengan itu, Teater West End yang terkemuka di daerah Britania Raya mengalahkan Broadway yang berada di Amerika.

"Bagaimana, Direktur Shin?" tanya salah seorang pemain penuh kecemasan melihat ekspresi sang Direktur yang benar-benar dalam kondisi tidak baik.

Sebelum menjawab, Direktur Shin terlebih bahulu menghela nafas berat. "Masih ada kesempatan tahun depan."

Sontak jawaban tersebut berhasil membuat mental mereka terjatuh. Berbagai respon mereka tunjukkan mulai dari helaan nafas, umpatan, menangis, terdiam tanpa bisa mengekspresikan kekecawaan mereka saking shock-nya dengan kenyataan ini.

"Untuk merayakan ulang tahun universitas kita ini, kepala direktur memberikan alternatif yang sekiranya menggunakan dana yang tidak terlalu banyak. Yaitu kompetisi bernyanyi. Tapi...-"

"Batalkan saja, Direktur! Tahun ini tidak perlu mengadakan perayaan seperti itu. Kami terlalu kecewa dan tidak lagi memiliki motivasi untuk tampil dalam ajang apapun itu bentuknya."

Seseorang tiba-tiba memotong ucapan Direktur Shin. Pria itu tidak bisa lagi untuk marah. Semua kemarahannya ia lampiaskan di Kantor Kepala Direktor Im hingga Profesor Oh dan Profesor Park yang juga berada di tempat yang sama tidak berani berkata apa-apa setelah melihat kemarahan Direktur Shin yang luar biasa. Pasalnya ia sangat mempedulikan anak-anak ini. Ia marah karena tahu hal ini akan menjatuhkan motivasi semua pihak yag terlibat. Hanya karena masalah biaya yang kurang, sedikitnya donatur, dan terutama perginya donatur tetap di kampus ini.

Bukan waktunya untuk menyalahkan orang lain sekarang. Yang terpenting adalah bagaimana cara mengembalikan motivasi para mahasiswa yang terlibat agar mereka tetap bersemangat menekuni dunia entertainer.

"Tidak apa-apa, jangan khawatir. Jangan hanya gagal sekali, maka akan selamanya gagal. Yang terpenting kalian telah berusaha. Terima kasih atas semua latihan yang telah kalian lakukan. Tetap semangat!" Direktur Shin mencoba untuk menyemangati anak didiknya meski mereka tetap bersedih.

Sementara itu, dua orang yang memilih tempat duduk paling belakang memiliki kondisi yang tak jauh berbeda dari yang lain. Mereka saling menatap lalu sama-sama menghela nafas lelah.

"Yesung sialan! Akan pergi saja dia masih egois. Rasanya percuma aku ikut audisi jika begini caranya." Berkali-kali Kibum menggerutu kesal.

"Berhentilah mengumpatinya, Kibum. Semuanya juga telah terjadi orang itu juga akan pergi ke New York. Sepertinya tak akan ada kesempatan bagiku untuk menjangkau dunia Broadway ataupun West End. Tahun depan juga aku harus fokus dengan skripsiku."

"Jadi aktris musikal di Korea juga masih bisa kok," sahut Kibum malas.

Heechul berdecak. "Aku juga ingin di ajang yang lebih tinggi lagi tahu!"

"Ya... Ya... Ya..."

Tak jauh dari posisi mereka, terlihat Jungmo dan Ryeowook yang kebetulan duduk berdampingan. Akhirnya yang dikhawatirkan terjadi. Jujur saja Ryeowook agak kesal dengan pamannya, namun ia juga tidak bisa menyalahkannya, mengingat seberapa pentingnya donatur bagi sekolah ini.

"Kau sahabat Sungmin kan?" tanya Jungmo tiba-tiba.

"Ya, kenapa?"

"Ayo kita ke rumahnya. Aku tidak terlalu suka memberi kabar seburuk ini lewat ponsel. Lagipula ia dan Kyuhyun tinggal seatap. Pemberitaan jadi lebih mudah," usul Jungmo malas.

"Kau benar. Ayo kita pergi ke sana setelah ini."

.

.

.

Berbeda dari situasi yang terjadi di kampus. Rumah keluarga Lee bahkan dipenuhi canda tawa setelah kepulangan Tuan dan Nyonya Lee. Sesekali mereka menggoda Sungmin hingga gadis itu selalu mengerucutkan bibirnya kesal. Apa-apaan? Kenapa mereka jadi ikut-ikutan Kyuhyun yang suka menggoda? Apakah menggoda orang itu merupakan penyakit menular? Kalau iya, Sungmin ingin membeli obatnya sekarang juga.

"Aiisshh.… eomma, appa, berhentilah menggodaku! Aku sudah terlalu lelah karena satu orang yang bermarga Cho ini, ditambah lagi dengan kalian. Ingin membuatku stres, huh?" Sungmin menyenderkan punggungnya sambil bersedekap dengan kesal.

"Habisnya menggodamu itu menyenangkan, Sungmin," ujar Tuan Lee yang lalu tertawa senang.

"Benar, Yeobo. Uri Sungmin memang lebih lucu dan imut kalau digoda." Nyonya Lee ikut tertawa bersama suaminya.

"Ahh iya, Nak Kyuhyun. Apa kau betah tinggal di rumah ini, hm?"

"Iya, Ahjussi. Di sini cukup menyenangkan," kata Kyuhyun sambil tersenyum manis.

"Bagus-bagus. Tapi…. Kalian tidak melakukan sesuatu yang tidak wajar kan?" Tuan Lee memandang Kyuhyun dan Sungmin curiga.

"Eh? Ahh... Itu... Tidak, Ahjussi. Kami melakukan hal yang wajar-wajar saja." Kyuhyun gelagapan menjawabnya membuat Tuan Lee makin yakin jika mereka berdua memang telah melakukan sesuatu.

"Kalian yakin?"

"Appa! Apa maksudnya itu? Appa pikir aku ini gadis apa, huh? Lagipula kalau Kyuhyun melakukan hal yang aneh padaku, pasti akan aku hajar!" Ahh... Sebenarnya Sungmin sendiri tidak yakin dengan perkataannya sendiri. Pasalnya gadis itu sering melupakan kalau ia adalah seorang pemegang sabuk hitam taekwondo saat sedang bersama dengan Kyuhyun.

"Benarkah? Baguslah kalau begitu."

"Tuan muda Cho, Nona Lee... Dua orang yang bernama Kim Jungmo dan Kim Ryeowook ingin bertemu." Jung ahjumma tiba-tiba muncul dari pintu utama.

"Suruh mereka masuk, Ahjumma."

"Teman-teman kalian?" tanya Nyonya Lee yang dijawab anggukan oleh Sungmin dan Kyuhyun.

"KYUHYUN!"/"SUNGMIN!"

Tanpa memperhatikan adat kesopanan, Jungmo dan Ryeowook berteriak memanggail nama dua orang itu. Apalagi Ryeowook menggunakan nada soprano yang sungguh memekakkan telinga. Astaga... Sungmin memang berteman dengan gadis yang memiliki suara terbaik.

Sontak dua orang itu menghentikan langkah ketika melihat sepasang pria dan wanita paruh baya yang duduk sembari menutup telinga mereka dan menutup mata saking terkejutnya.

"Ahh... Ada Nyonya dan Tuan Lee," ujar mereka Ryeowook sambil menahan malu.

"Annyeong haseyo, Tuan, Nyonya." Jungmo membungkuk sopan sembari tersenyum sangat manis menutupi rasa malunya.

"Ada apa, huh? Kalian tidak tahu dengan suara kalian yang 7 oktaf itu, hah?" tanya Sungmin kesal.

"Kau juga, Jungmo. Jangan sombong kalau suara falsetto-mu bagus," timpal Kyuhyun.

"Hahh, itu tidak penting Kyuhyun. Kami hanya mau menyampaikan kalau... Kalau..."

"Kalau?"

"Drama musikal dibatalkan!"

Seketika Kyuhyun dan Sungmin bangun dari duduk santai mereka dengan wajah menegang.

"Tunggu dulu… jangan membuat candaan bodoh seperti ini!" Kyuhyun mencoba berpikir positif sekaligus berharap ini hanya candaan belaka.

"Tidak, Kyuhyun. Direktur Shin tadi mengatakannya. Semua orang jadi sedih, aku jujur saja tidak tega," jelas Ryeowook.

"Kalian yakin? Kenapa bisa sampai sejauh itu?" Sungmin yang agak shock akhirnya ikut bertanya.

"Orang tua Yesung menarik uang donasinya dan menyebabkan kekurangan dana yang besar bagi pihak universitas. Hal itu berdampak pula bagi acara tahunan sekolah. Jadi Kepala Direktur Im memutuskan untuk membatalkan drama musikal setelah berdebat hebat dengan Direktur Shin," jelas Jungmo detail.

Di sana masih ada orang tua Sungmin yang ikut mendengarkan percakapan itu. Mereka akhirnya mengerti apa yang menjadi permasalahan para anak muda ini. Nyonya dan Tuan Lee saling pandang sebelum Nyonya Lee membisikkan sesuatu pada suaminya. Tuan Lee pun menganggukkan kepala seolah tengah menyetujui sesuatu.

"Ahh... Ini benar-benar gila! Si Yesung itu juga gila! Aku tidak pernah merasakan kebencian seperti ini, selain padanya dan keluarganya yang sombong itu." Kyuhyun memijat dahinya yang terasa pening.

"Meski seratus kali kau mengumpatinya, itu tidak akan menghasilkan apa-apa, Kyu. Kalau keputusannya sudah seperti itu, apa yang bisa kita lakukan selain menerimanya? Lagipula masih banyak yang menunggu kita," ujar Sungmin menenangkan Kyuhyun yang tengah diselimuti amarah.

Kyuhyun mendengus. Ia membenarkan ucapan Sungmin. Namun rasa kesal dalam hatinya tetaplah ada, mungkin akan sulit untuk diredakan. Mereka hanya bisa mengaharapkan yang terbaik untuk semua ini.

.

**KM137**

.

Senin pagi yang membosankan seperti biasanya telah menyambut. Hari ini adalah hari dimana seharusnya para peserta tour ke Pulau Nami kembali ke Seoul. Namun karena muncul sebuah masalah yang tak terduga, mereka diharuskan pulang lebih awal dan menjadikan semua latihan terasa sia-sia. Tapi mereka bisa apa kalau uang telah berbicara? Hanya menurut seperti orang bodoh, tanpa bisa melawan.

Tokk... Tokk... Tokk...

Suara ketukan pintu membuyarkan fokus Kepala Direktur Im yang tengah dipusingkan oleh kondisi keuangan universitas yang terus menurun karena kehilangan donatur utama. Padahal Universitas Opera terkenal dengan universitas yang elit, tidak pernah sekalipun dalam kondisi susah seperti ini. Mungkin pepatah "hidup itu bagai roda berputar" tidak akan pernah sirna dari kehidupan nyata.

"Permisi, Kepala Direktur. Tuan dan Nyonya Kim sudah datang."

Kontan pria paruh baya itu berdiri lalu membungkuk menyambut kedatangan dua orang itu.

"Selamat datang, Tuan, Nyonya."

"Tidak perlu berlama-lama di sini. Kami ingin segera urusan putra kami selesai dengan cepat. Lusa ia harus segera pindah dari sini dengan cepat," ujar Tuan Kim ketus.

"Baiklah, Tuan. Ini berkas-berkas putra Anda." Kepala Direktur menyerahkan sebuah map yang berisi berkas-berkas yang mungkin akan berguna untuk Yesung saat berada di New York nanti. "Ahh iya, mengenai donasi, apakah kalian tidak beniat menjadi donatur kami untuk yang terakhir kalinya?"

Nyonya Kim berdecih. "Kenapa? Kalian kekurangan dana, ya? Maaf, sayangnya putra kami akan pergi dari sini. Menjadi donatur pun tak ada untungnya juga. Ayo, Yeobo!"

"Kenapa buru-buru sekali, Tuan dan Nyonya Kim?"

Ketika mereka berdua berniat meninggalkan kursi mereka, tiba-tiba muncul dua orang lagi yang kini tengah berdiri di ambang pintu. Tentu Tuan dan Nyonya Kim sangat mengenal mereka yang merupakan salah satu investor terbesar di perusahaan mereka.

"Kepala Direktur Im, jangan khawatirkan mengenai keuangan kampus ini. Tolong lanjutkan drama musikal itu. Uang adalahhal yang mudah."

Tuan dan Nyonya Kim terdiam. Tampaknya mereka terlalu menyombongkan diri di universitas ini. Siapa sangka jika ada keluarga yang lebih kaya dibandingkan dengan mereka? Begitu pula dengan Kepala Direktur Im yang masih tercengang di kursinya.

.

**KM137**

.

"KYAAAAAAAAAAAA!"

Seorang mahasiswi yang tengah mengikuti pelajaran tari modern tiba-tiba berteriak histeris setelah menerima pesan singkat dari salah satu temannya. Sontak profesor yang sedang mengajar memukulkan tongkatnya ke lantai ruang latihan menari. Ia memandang mahasiswi tersebut dengan tatapan murka karena berani mengganggu kefokusan di kelasnya.

"Ada apa, Nona Jung? Kau ingin aku keluarkan dari kelasku, Huh?"

Gadis bermarga Jung itu malah memandang profesornya dengan mata berkaca-kaca, hampir menangis. Lalu memeluk sang profesor seraya kembali berteriak kencang hingga menarik perhatian seisi kelas.

Tak hanya di ruang menari, hal itu juga terjadi pada kelas akting. Beberapa mahasiswa maupun mahasiswi tiba-tiba naik ke atas bangku mereka sambil berteriak, bahkan profesor yang mengajar hampir dibuat jantungan karena itu.

Begitu juga dengan kelas vokal yang malah lebih parah. Mereka yang terbiasa menggunakan nada di atas 2 oktaf ini kini memanfaatkannya, memenuhi ruang kelas dengan suara teriakan mereka yang sama sekali tidak merdu seperti saat mereka bernyanyi pada batas wajar.

Para profesor dibuat kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Anak didik mereka tiba-tiba menjadi histeris setelah membaca sesuatu dari ponsel mereka. Namun rasa bingung itu berubah saat beberapa mahasiswa yang tidak ada kelas membentuk kelompok dan berjalan menyusuri seluruh koridor kampus serta meneriakkan hal yang sama secara kompak.

"DRAMA MUSIKAL TIDAK JADI DIBATALKAN!"

Keadaan ini juga terjadi pada cafeteria yang biasanya dalam suasana tenang hingga berhasil membuat para penghuni setianya merasa sangat terganggu. Terutama tiga orang pelanggan tetap cafeteria yang tadinya tengah santai menyantap makanan mereka.

"Ada apa ini? Apa mereka jadi gila setelah drama musikal itu dibatalkan?" tanya seorang laki-laki yang kita semua kenal, Kim Jong Hoon a.k.a Yesung itu.

Ting!/Ting!

Tiba-tiba ponsel Donghae dan Henry berbunyi menandakan jika ada satu pesan masuk. Mereka lalu saling menatap takjub setelah membaca pesan singkat itu.

"Kurasa tidak, Hyung." Henry menggelengkan kepalanya.

"Ini, bacalah." Donghae memberikan ponselnya pada Yesung. Itu adalah pesan singkat yang dikirimkan oleh Direktur Shin.

"Ada sepasang suami istri yang datang ke kampus dan menawarkan diri untuk menjadi donatur tetap. Jadi...

Drama Musikal TETAP terlaksana sesuai rencana awal, dengan sedikit perbedaan, yakni Kyuhyun dan Sungmin yang tadinya pemeran utama cadangan, kini menjadi pemeran utama yang sesungguhnya."

Yesung membelalakkan kedua matanya terkejut. Siapa sepasang suami istri yang menjadi donatur tetap itu? Apakah orang tua Kim Jungmo? Hanya dia satu-satunya orang yang Yesung tahu berasal dari keluarga kaya sama sepertinya.

"Siapa donatur itu?" tanyanya yang tentu tidak akan mendapatkan jawaban apapun jika bertanya pada Donghae maupun Henry.

"LEE SUNGMIN!"

Seorang lelaki tiba-tiba berteriak setelah beberapa detik ia sampai di pintu masuk cafeteria, memanggil nama Sungmin yang masih terdiam di atas panggung -karena ia terbiasa menyanyi di cafeteria tersebut untuk hiburan-. Gadis itu masih shock dengan pesan yang baru saja sampai di ponselnya. Masih belum sadar dengan Jungmo -lelaki yang berteriak tadi- yang terus memanggil namanya.

"Akhirnya kau bisa mendapatkan peran utama! Selamat, selamat!"

"Tapi... Tapi siapa donaturnya?"

Jungmo mengerutkan keningnya. "Kau tidak tahu? Mereka kan..."

"Ahh... Sudahlah. Aku tidak terlalu peduli dengan hal semacam itu. Tapi yang pasti... Peran utama, Oppa! Peran utama!" Sungmin berjingkrak-jingkrak kegirangan lalu berlarian keluar dari cafeteria meninggalkan Jungmo yang masih tercengang dengan tingkah gadis itu.

"Kupikir dia sudah tahu kalau orang tuanya yang menjadi donatur," gumamnya pelan yang pada akhirnya keluar mengikuti Sungmin.

Tidak jauh dari mereka, jangan lupakan Yesung dan kawan-kawan yang masih belum beranjak dari tempat mereka. Tidak ada yang bisa mendengar apa ucapan akhir Jungmo barusan sehingga keyakinan Yesung kalau orang tua Jungmo lah donatur itu semakin kuat.

.

.

.

Sungmin berlari keluar cafeteria dan melihat seorang laki-laki yang memang saat ini sedang dicarinya, siapa lagi kalau bukan Cho Kyuhyun? Ia kini tengah berjalan santai sambil memandangi layar ponselnya sambil tersenyum tipis.

Namun...

Senyuman itu tiba-tiba sirna kala merasakan ada sosok yang memeluk dirinya kuat. Kyuhyun terpaku saat mengetahui siapa dia, gadis bernama Lee Sungmin yang memiliki hati dan pikiran yang sulit ditebak, gadis yang tak henti-hentinya memberi warna pada lingkungan di sekitarnya, dan gadis yang ia cintai.

"Kyuhyun! Apa kau sudah menerima pesan dari Direktur Shin?" tanya Sungmin dengan nada bahagia setelah ia melepas pelukannya. "Wahh, aku tidak menyangka hari ini akan datang juga."

"Ohh, itu… ya," jawab Kyuhyun kelabakkan. "Hmm, Sungmin?"

"Ya? Ada apa?"

"Nanti malam, kau mau pergi denganku?" tanya Kyuhyun ragu, sedikit berharap agar Sungmin mengeluarkan jawaban yang ia inginkan.

"Pergi denganmu? Kemana? Apartemen Jungmo oppa? Kau ingin menonton film kolosal lagi, huh?" Sungmin menoel lengan Kyuhyun dengan pandangan sedikit menggoda.

"Bukan, bukan... Bukan ke sana, Sungmin. Tapi,-"

"Tapi kemana? Ahh! Aku tahu! Kau pasti ingin mengajakku berkencan, ya?! Ayo mengaku!" Bahkan Sungmin sendiri tidak sadar apa yang sedang dikatakannya. Gadis itu masih terlalu fokus dengan apa yang telah terjadi hari ini.

"Eh?" Kyuhyun mengernyitkan keningnya heran.

"Saat aku lihat di dalam drama, ada tokoh utama pria yang sepertimu. Tiba-tiba mengajak pasangannya pergi malam nanti. Ia membawa sang kekasih ke sebuah restoran mewah, memberinya cincin, dan lantas melamarnya di antara suasana romantis itu. Mereka pun akhirnya berciuman dengan mesra. Ahh, manisnya..." Sungmin tersenyum bahagia sembari membayangkan apabila hal itu terjadi padanya. Masih belum sadar, kekekeke...

Beberapa detik kemudian, berbagai kenangan yang telah ia lalui bersama Kyuhyun melintas begitu saja di dalam kepalanya, membuat senyum di bibirnya menghilang. Apalagi peristiwa ketika hujan di malam hari saat mereka berada di Pulau Nami. Sebuah ciuman panjang yang pertama kali Sungmin rasakan, bahkan rasa bibir Kyuhyun masih melekat kuat di bibirnya. Gadis itu benar-benar tidak memiliki keberanian untuk memandang Kyuhyun saat ini.

Jemarinya yang bergetar mencoba untuk menyentuh bibirnya sendiri. Wajahnya memanas. Sialan! Apa yang baru saja ia katakan?! Kau cari mati, Lee Sung Min!

"Apa yang kukatakan?" gumam Sungmin gugup. Ia memberanikan diri melirik Kyuhyun sebentar. Dan yeah, lelaki itu juga sedang menatapnya.

"Kau lucu, Min." Kyuhyun terkekeh melihat tingkah Sungmin yang menggemaskan ketika sedang gugup. Mungkin seharusnya ia lebih sering memperlakukan Sungmin seperti ini.

"Ayo pergi!"

"Huh!?"

Sungmin agak terkejut dengan Kyuhyun yang tiba-tiba menggenggam tangan kirinya, membawanya pergi keluar dari area kampus, meninggalkan sosok yang berdiri tidak jauh dari mereka sembari menunjukkan seringaiannya.

"Itu dia! Pasangan masterpiece kita!" gumamnya sambil memegang sebuah map berwarna coklat lalu mengibas-ngibaskannya dengan perasaan senang.

.

**KM137**

.

"Ehem!"

Tuan Lee sengaja mengeluarkan dehemannya ketika dua orang yang sejak tadi ditunggunya akhirnya datang.

"Dari mana saja kalian, Kyuhyun, Sungmin?"

Kontan keduanya yang berniat naik ke lantai atas harus mengurungkannya. Apalagi Nyonya Lee memberi mereka isyarat agar duduk di ruang tamu. Wajah mereka sama seperti seorang jaksa dan detektifnya yang ingin meginterogasi pelaku dari kasus pembunuhan berantai.

"Kami, uhmm... Hanya makan di kafe, ahjussi," kata Kyuhyun gugup.

"Benarkah?"

"Astaga! Eomma, Appa... Kalian ini kenapa, huh? Memperlakukan kami seperti penjahat saja."

"Diam, Sungmin! Biarkan Nak Kyuhyun yang menjawab segala pertanyaan yang diajukan ayahmu."

Tidak seperti biasanya, Nyonya Lee tampak garang malam ini. Kedua orang tua Sungmin yang biasanya murah senyum, kini terlihat bagai induk burung yang berhadapan dengan pencuri telurnya. Sontak Sungmin terdiam daripada mendapat masalah lebih dari ini.

"Baiklah, kutanya sekali lagi, Kyuhyun. Kau dan Sungmin, apakah kalian tidak melakukan hal di luar batas kewajaran?"

"Tidak, Ahjussi. Percayalah, saya tidak mungkin melakukan hal aneh kepada putri Anda," sahut Kyuhyun tegas.

"Apa ucapanmu itu bisa kupercaya, Cho Kyuhyun? Kalian tinggal bersama satu atap, tanpa ada kami. Bagaimana caramu meyakinkan kami agar kami percaya kalau kau itu bisa dipercaya?"

"Jika saya adalah orang yang tidak bisa dipercaya, saya yakin kalian tidak akan mengijinkan saya untuk tinggal di rumah ini."

Tuan Lee mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah. Tapi perlu kau ketahui, Kyuhyun. Alasan kami berada di Tokyo adalah untuk menemui teman lama kami dan membicarakan masalah penting, yakni perjodohan uri Sungmin dengan putra mereka. Jadi kami harap kau tidak melewati batasanmu."

"Per... jodohan?" gumam Sungmin tak percaya. "Kalian bercanda, kan? Eomma... Appa..."

"Tidak Sungmin. Itu benar. Maka dari itu kami mengatakan hal ini agar kalian berdua tahu batasan kalian." Nyonya Lee membelai lembut helai rambut halus Sungmin. Kedua mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Entah kenapa ini rasanya sakit sekali.

Keadaan Sungmin tidak jauh berbeda dengan Kyuhyun, meski lelaki itu tidak terlalu menunjukkannya, namun tidak ada yang tahu bagaimana saat ini hatinya bagai tertusuk benda tumpul, lalu dikoyak hingga membentuk sebuah lubang besar. Walau begitu, ia tetap tersenyum.

"Wahh, selamat, Sungmin. Aku yakin Tuan dan Nyonya Lee akan memberikan calon yang tepat untukmu," ujar Kyuhyun yang berusaha kuat untuk tampak biasa saja.

"Terima... kasih," balas Sungmin pelan dengan sedikit getaran dalam nada bicaranya.

.

**KM137**

.

Malam ini terasa begitu panjang bagi dua insan yang baru saja memasuki kamar mereka masing-masing itu, Kyuhyun dan Sungmin. Nyatanya tidak ada yang mudah dalam hidup ini. Sungguh, ini mungkin terlihat biasa saja, namun tidak ada yang mengerti dengan perasaan manusia. Dokter ahli bedah pun yang terkadang mengoperasi organ dalam pasiennya tidak akan mampu mengetahui perasaan terdalam pasien tersebut.

Kyuhyun berjalan menuju balkon kamarnya, membiarkan dinginnya angin malam mengenai kulit putih pucatnya ia menghela napas berat. Setelah apa yang terjadi hari ini, Kyuhyun akhirnya memiliki definisi sendiri tentang cinta.

"Mungkin cinta pertama itu tidak harus menjadi cinta terakhir ya, Minnie. Hahaha..." Ia memang tertawa, namun tidak ada sedikitpun kebahagiaan dalam tawa tersebut. "Tapi aku akan selalu menunggu, Sungmin. Menunggu kau memintaku untuk tetap bersamamu."

Jarak antara Kyuhyun dan Sungmin hanya berbataskan dinding dengan tebal tak lebih dari 10 sentimeter, tapi meski begitu, jarak untuk menyatukan takdir mereka mungkin lebih jauh dari jarak antara batas langit atas dengan batas langit bawah. Apa yang bisa mereka lakukan? Bahkan Sungmin sendiri ingin sekali menolak perjodohan itu. Namun gadis tersebut sejak dulu tidak pernah menolak permintaan orang tuanya karena memang mereka jarang meminta suatu hal pada Sungmin. Mereka juga selalu memberi putri mereka itu melakukan apa yang ia inginkan.

Di dalam kamarnya Sungmin hanya bisa menelungkupkan diri di atas ranjang dan terus menangis. Pada dasarnya ia adalah gadis yang selalu menurut pada orang tua yang sangat dihormatinya itu. Ia ingin menolak, tapi hatinya yang terlampau baik tidak bisa untuk melakukan tindakan yang dapat mengecewakan mereka meski Sungmin sendiri tak mengharapkan hal yang diminta itu.

"Kenapa aku bisa sangat sedih begini? Air mata ini selalu mengalir... Aku tidak bisa menghentikannya..."

Entah kenapa hati Sungmin begitu ngilu mendengar kata perjodohan tadi. Gadis itu tidak tahu mengapa hanya satu orang yang ada di dalam pikirannya sejak tadi. Cho Kyuhyun... Jujur saja ia berharap lelaki itu akan datang ke kamarnya.

"Hujan... aku ingin hujan sekarang..." gumamnya dengan nafas sesenggukkan

.

.

.

To Be Continued

Yooooo!

Chapter 14 uppp!

Hahahhahahah :v 😁😁 inspirasi lancar, membuat konflik pun ikut lancar πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Jangan salahkan author yakkk kalau akhirnya Kyumin kek gitu πŸ˜…πŸ˜… habisnya bosen kalau cinta kyuminnya mulus tanpa tersentuh konflik.

Wahhh, gak nyangka ada readers yang kangen sama author πŸ˜„πŸ˜„ jadi malu, wkwkwkkwk

Makasih yak buat yang udah ninggalin jejak, makasih juga ada yang sampai baca maraton. Kekekeke :v

See you next chapter, Joyersdeul :*

Kamsahamnida *Bow