Warning : Kise Ryouta's PoV. MPREG! 9 months. Setting one month after chapter 12. Shonen-ai. KiKuro. Typo? OOC? Tidak sesuai EyD. Quick-typing.

Side-pair : TakaMidoTaka. AoKaga. AkaFuriAka. HyuuRi. MoriZuki. MomOgi. XD /slap (OgiMomo)

A/N : Takut takut nih. Saat mendebarkan dan akhirnya kita sampai pada akhir (chapter) Mungkin banyak chara yang OOC? Aduh. Karena ini hari besar(?) bagi Takao Kazunari dan Midorima Shintarou (Dikatakan bahwa chapter lalu mereka akan sehidup semati(?) Sebulan kemudian.) Jadi banyak yang hadir...

Izinkan saya curhat dahulu.

Saya mikir, cowo melahirkan darimana?! Mau gamau kan dengan metode caesar (Bukan. Bukan joget itu.) Terus tahu sudah bukaan keberapa darimana?! (Kata mama saya, proses melahirkan dapat dimulai jika... Rahim? Atau tempat 'itu'(?) Udah kebuka(?) Hingga sekitar 8?) Terus air ketubannya pecah gimana?! (Oh, mungkin ini bisa seperti BAK biasa? Atau sebut saja mengompol /ditendang) Orz

Jadi intinya...

Maafkan saya anak IPA fail. Tolong koreksi hal-hal yang saya sebutkan diatas tadi...

.

O.O.O.O.O.O

.

Last Chapter : It's the Time?!

.

.

Tanggal 16 bulan Desember.

Musim salju.

Hari ini merupakan hari spesial bagi kedua.

"Semoga berbahagia yaaaa!"

"Langgeng terus ya...!"

"Kalian sangat serasi!"

"Ah, terima kasih pujian dan doanya. Shin-chan hari ini cantik sekali bukan?" Girang Kazunaricchi sambil menunjuk Shintaroucchi yang mengenakan tuxedo berwarna putih.

Aku tersenyum bahagia melihat kedua temanku yang tengah berbahagia hari ini.

"Huh. Tak kusangka kalian masih bertahan. Kudoakan yang terbaik untuk kalian." Ketus seorang pemuda berambut hazel. Aku rasa kalau tidak salah namanya Miyaji Kiyoshi ("Bukan Teppei-chiichan yaaaa!")

"Apakah buah yang kalian pesan sesuai dengan keinginan kalian?" Tanya Kimura Shunsuke.

"Yep. Segar dan enak. Terima kasih banyak, senpai!" Jawab Kazunaricchi.

"Tes tes!" Kulihat Satsucchi pergi ke atas panggung bersama dengan kekasihnya, Shigecchi.

"Hari ini kita berkumpul untuk merayakan event yang sangat spesial!" Seru Satsucchi.

"Yaitu..." Lanjut Shigecchi.

"Pernikahan Takao Kazunari dan Midorima Shintarou!" Seru mereka bersamaan. Lalu, suara tepuk tangan langsung memenuhi tempat itu. Ya ampun, padahal mereka baru sebulan menjadi sepasang kekasih, tapi, mereka sudah sangat kompak (dan cocok.)

"Aih, tapi Midorin bukanlah Midorin lagi." Keluh gadis berambut merah muda itu sambil menyentuh pipinya.

"Kenapa begitu, Satsuki?" Tanya Shigecchi.

"Karena Midorin sekarang adalah seorang Takao!" Jawabnya.

"Uoooooh!" Sekali lagi tempat ini menjadi semakin heboh. Kulirik pasangan pengantin baru itu. Muka Shintaroucchi sangat merah. Kazunaricchi segera menertawakannya lalu memeluknya, tentu saja Shintaroucchi memberontak.

"Kita lihat siapa yang makan paling banyak." Taigacchi menantang Daikicchi untuk berlomba.

"Ya ampun. Mereka 'membersihkan' makanannya..." Keluh Yoshitaka-senpai.

"Oh! Yang bersih ya bersih-bersih makannya!" Seru Shun-senpai, "Kitakore! Terima kasih, Yoshitaka-kun!" Shun-senpai segera memeluk kekasihnya tersebut lalu menulis kalimat yang baru ia dapatkan.

"Sebenarnya, aku tidak bermaksud untuk memberimu inspirasi, Shun-kun..."

"Ini hadiah untuk pernikahan kalian." Mantan kapten tim Shuutoku memberikan sepasang kekasih itu sebuah keranjang kertas berwarna coklat.

"Boleh kami melihatnya?" Tanya Shintaroucchi sambil menerima bungkusan itu. Ootsube Taisuke-senpai - kalo tidak salah namanya - mengangguk.

Tangan kiri sang (mantan) three-point shooter itu mengangkat isi yang ada didalamnya. Sebuah syal rajutan yang panjang dengan warna oranye dan hijau yang dipadukan.

"Waaaaaaaaaah! Terima kasih banyak, kapten!" Pekik Kazunaricchi sambil berusaha memeluk Taisuke-senpai.

"Kalian berdua harus akur ya, harus saling menjaga dan mengasihi." Nasihat pria berbadan tinggi itu sambil mengacak-acak rambut pasangan pengantin baru itu.

Hari ini sangatlah menggembirakan, tentu saja.

Suara alunan musik romantis terus berputar. Kuedarkan pandanganku. Kulihat Junpei-senpai dengan Riko-senpai berdansa. Meski Junpei-senpai terus-terusan menginjak gaun panjang berwarna coklat maroon itu. Jungo-kun duduk manis disamping Tetsunacchi sambil memakan desert yang disediakan.

Shigecchi dan Satsucchi juga ikut berdansa. (Ngomong-ngomong selera pakaian mereka bagus juga, mereka makin terlihat cocok. Dengan Shigecchi menggunakan tuxedo hitam yang melapisi kemeja berwarna hijau turqouise dan Satsucchi yang mengenakan gaun sleeveless yang selutut berwarna hijau tosca.)

Alunan musiknya memang pas untuk berdansa, tapi, aku tidak mungkin memaksa Tetsunacchi berdansa 'kan?

Sedangkan baka-couple yang tidak tahu atmosfer itu malah masih berlomba siapa-makan-paling-banyak. Meski kadang mereka seperti berada dunianya sendiri. (Contoh, "Taiga, disini ada remah makanan." "Mana?" Lalu, Daikicchi segera menyeka remah tersebut lalu dimakan...)

Yoshitaka-senpai tetap setia menemani Shun-senpai mencari inspirasi.

"Lihat, Yoshitaka-kun. Ini nama makanan ini terang bulan. Hari ini bulannya terang. Bulannya terang hari ini, aku mau makan terang bulan!" Girang Shun-senpai. Yoshitaka-senpai hanya dapat tersenyum sembari membalas kata-kata itu dengan kata-kata yang menggoda.

Bicara tentang orang yang diundang... Keluargaku dan keluarga Tetsunacchi juga diundang.

"Shizu-kun selalu pemalu!"

"Hentikan, Yukina..."

"Ahaha, tapi, kalian cocok sekali! Aku jadi penasaran cerita mengapa kalian bisa saling jatuh cinta seperti itu."

"Ceritanya... Shizu-kun... EH! Shizu-kuuun!" Yukicchi-kaa-san kebingungan mencari suaminya yang memiliki aura tipis itu. Ah, misdirectionnya sudah digunakan.

"Semuanya terlihat bahagia, Ryouta-kun..." Ucap Tetsunacchi. Aku meresponnya dengan tersenyum.

Hari ini Tetsunacchi sangat cantik! Astaga, baju terusan berwarna kuning muda itu yang lengannya panjang. Tak lupa selendang tipis berwarna biru muda untuk menambah kesan elegan. (Aku tidak kuat menahan diriku. Gaaaah-!)

"Ah, Ryouta. Tetsu... Na."

"Konbanwa, Ryouta. Tetsuna."

Muncul 2 orang yang bukan berdomisili di sini (Tokyo)

"Seijuuroucchi! Koukicchi!" Aku menatap senang mereka berdua. Seijuuroucchi sangat elegan seperti biasa. Ia menggunakan tuxedo berwarna putih. Serba putih yang benar. Sedangkan Koukicchi menggunakan kemeja coklat dilapisi tuxedo berwarna hitam.

"Kalian sangat serasi..." Seru Tetsunacchi sambil berusaha berdiri.

"Ah, tidak perlu berdiri, Tetsuna. Tetaplah duduk." Seru Seijuuroucchi. Koukicchi membantu memperbaiki posisi bantal untuk sandaran Tetsunacchi.

"Jadi, apakah kalian menikmati acaranya?" Tanya Koukicchi. Aku dan Tetsunacchi mengangguk.

"Aku masih tidak menyangka kalau ternyata Shintarou jatuh ke dalam pelukan partnernya itu." Seru pemilik mata heterochrome itu sambil menatap pasangan yang berbahagia.

"Semua kerja keras itu ada hasilnya, Seijuuroucchi! Kazunaricchi 'kan selalu berusaha mendapatkan hati Shintaroucchi!"

Waktu terus berjalan, terisi oleh gelak tawa dan kebahagiaan. Tentu saja! Hari ini adalah hari yang membahagiakan bukan?

Aku melirik arlojiku, sudah menunjukkan waktu jam setengah 8 malam. Baiklah, aku sudah mulai merasa lapar. Mungkin Tetsunacchi juga begitu, "Ah, Tetsunacchi mau makan apa-ssu-!"

GREB.

Aku merasakan sebuah tangan tengah menarik ujung bajuku. Aku segera menatap Tetsunacchi yang menarik ujung bajuku. Raut wajahnya...

"R-Ryouta-kun... Rasanya sakit sekali... Apakah ini sudah waktunya...?" Suaranya bergetar. Cengkramannya di bajuku makin menguat.

"Te-Tetsunacchi!" Pekikku panik.

Semua mata langsung tertuju padaku.

"Tetsu?! Apakah sudah waktunya?!" Daikicchi langsung ikut panik.

"Te-Tetsuya! Bertahanlah!" Taigacchi segera menggenggam tangan Tetsuyacchi.

"Tolong permisi!" Aku tak tinggal diam. Aku segera menggendong Tetsuyacchi ala pengantin.

"Segera buka jalan! Sadarlah akan tempatmu." Perintah Seijuuroucchi-sama.

"Maafkan dia, tolong buka jalan. Ini benar-benar penting! Mohon buka jalan!" Seru Koukicchi membantuku untuk mengosongkan jalan.

"Apa?! Tetsu-chan akan melahirkan?!" Pekik Natsucchi-nee dan Okaachii saat mendengar kerusuhan.

"Shizu-kun! Tetsuya! Cucu kita!" Yukinacchi-san begitu panik. Shizuka-san tetap tenang. Seperti yang kita ketahui, seorang Kuroko tetaplah tenang.

"Tetsuya. Ambil napas perlahan, hembuskan..." Bahkan Shintaroucchi sampai meninggalkan pesta hanya demi Tetsuyacchi.

"Sh-Shintaroucchi...! Bagaimana ini-ssu!" Tanyaku. Aku sendiri juga tidak tahu harus apa!

Lalu, aku melihat bagian bawah Tetsuyacchi membasah.

"AIR KETUBANNYA PECAH?!" Pekik Satsuki ribut.

"Sa-Satsuki-chan, tenanglah!" Shigecchi segera menenangkan kekasihnya tersebut, "Bertahanlah, Tetsuya!"

"A-air ketuban pecah...? ITU ARTINYA DIA SUDAH MAU MELAHIRKAN BUKAN?!" Seruku.

"Ry-Ryou-chan... Te-tenanglah!" Seru Kazunaricchi.

"A-a-aku harus apa-ssu?!" Aku segera memeluk Tetsuyacchi. Takut ia kenapa-kenapa.

"Bawa ke rumah sakit! Bagaimana sih kau ini!" Keluh Yukio-senpai sambil berjalan pergi untuk mengambil mobilnya.

.

O.O.O.O.O.O

.

Sesampai dirumah sakit, Tetsuyacchi terus-terusan mengerang kesakitan, menggenggam tanganku kuat sekali.

Aku segera membawanya masuk, diikuti Seijuuroucchi dan Koukicchi. Lalu, kami mencari nama dokter yang biasanya menangani persalinan.

Setelah menemukannya, kami segera menuju ruang dokter tersebut, "Apakah anda bisa menangani proses melahirkan seorang pria?" Tanya Seijuuroucchi.

"Hah?" Dokter itu terlihat mengernyitkan dahinya, dia tidak mengerti.

"Aku ulangi, apa anda bisa menangani proses melahirkan seorang pria?" Ulang Seijuuroucchi kepada dokter yang biasa menangani operasi persalinan bayi.

"Pria? Apa anda tidak salah-"

"Jika anda mau dan diam, saya akan membayarmu berapa pun." Seijuuroucchi segera mengeluarkan sebuah kartu (kredit mungkin?)

"EH! S-S-Seijuuroucchi?! Kenapa jadi kau yang membayarnya-ssu?!"

"Tentu aku tidak bisa membiarkan Tetsuya dikatakan aneh dan lain-lain. Yang penting sekarang adalah keselamatan Tetsuya dan Yuuta." Jika dipikir-pikir benar juga kata Seijuuroucchi...

"Tenang saja, Ryouta. Aku rasa tentang uang itu tidak masalah untuknya kok." Ujar Koukicchi.

"R-Ryouta-kun... Sa-sakit..." Erang Tetsuyacchi. Tangannya tetap mencengkeram lenganku, alih-alih menahan sakit mungkin?

"Tolong letakkan saja diatas ranjang ini." Pinta seorang perawat yang membawakan ranjang yang beroda.

"Anda bisa menunggu diluar selama proses operasi berlangsung." Kata dokter tersebut.

"A-apa?" Aku tidak salah dengar? Aku tidak diperbolehkan menemani Tetsuyacchi selama proses persalinan?!

"Mohon bersabar." Ucapnya lagi.

"Tunggu! Saya suaminya! Kenapa saya tidak boleh masuk?!"

"Ryouta!" Daikicchi dan Taigacchi segera menahanku agar tidak menyerang dokter tersebut.

"Maafkan kami, tapi, anda harus tetap menunggu." Lalu, dokter yang akan menangani persalinan tersebut berlalu meninggalkanku.

"Aku harus menemani Tetsuyacchi! Bagaimana bisa kau menyuruhku menunggu kelahiran anak pertamaku diluar?!" Seruku yang masih berusaha memberontak dari Daikicchi dan Taigacchi.

"Ryouta, akan kupastikan Tetsuya baik-baik saja-nodayo..." Kulihat Shintaroucchi mengenakan pakaian dokternya.

"Shintaroucchi... Tidak bolehkah aku masuk... Aku mohon...!" Aku berlutut dengan kedua kakiku. Demi apa pun, aku harus menemani Tetsuyacchi!

"R-Ryou-chan..." Kazunaricchi menatapku simpati. Lalu, kembali menatap pasangan hidupnya itu.

Shintaroucchi menghela napas, "Baiklah..."

"TERIMA KASIH BANYAK, SHINTAROUCCHI!"

"Tolong jangan ribut... Ini rumah sakit..."

.

O.O.O.O.O.O

.

Aku mengekor Shintaroucchi. Kemana ia pergi, aku ikuti. Tentu saja. Rumah sakit ini besar. Bagaimana kalau aku tersesat?!

Akhirnya kami sampai didepan pintu yang bertuliskan 'ruang operasi'. Aku tidak tenang.

"Kau siap, Ryouta...?" Tanya Shintaroucchi. Aku mengangguk. Demi Tetsuyacchi dan Yuutacchi!

"Aku memberi izin agar ia bisa menemani pasien dalam proses persalinan ini." Ucap Shintaroucchi.

Aku menemukan Tetsuyacchi yang bersimbah keringat di ranjang operasi, "R-Ryouta-kun..."

"Aku disini..." Aku langsung berdiri disampingnya dan menggenggam tangannya.

"Kkhh..." Tetsuyacchi mengerang lemah. Ini adalah saat yang paling menegangkan buatku...

"Maaf ya, kami harus membius anda dengan obat pereda sakit." Ucap seorang suster sambil menyiapkan suntikan serta dosis yang tepat. Selagi suster yang lain menyiapkan obat bius, suster yang lain dengan hati-hati membasahi kapas dengan alkohol lalu memintaku untuk membantunya membalikkan tubuh Tetsuyacchi. Memoleskan kapas tersebut di pada punggung Tetsuyacchi.

Sepertinya cara tersebut adalah pembiusan secara regional, dilakukan pada daerah tulang belakang. (Aku hanya pernah mendengarnya dari teman seprofesi yang istrinya melahirkan secara caesar.)

"Tenang saja, Ryouta. Ia akan tetap sadar namun tidak akan merasakan sakit saat operasi nanti-nodayo." Jelas Shintaroucchi.

"Apa obat biusnya sudah siap...?" Tanya Shintaroucchi. Suster yang memegang suntikan mengangguk.

"Uh..." Jarum suntik memasuki kulit Tetsuyacchi perlahan, lalu, cairan yang berada didalamnya perlahan-lahan habis.

"Mari kita mulai operasinya..."

Tetsuyacchi yang sudah kembali menjadi posisi terlentang, menggenggam tanganku.

"Aku bersamamu, Tetsuya..." Bisikku sambil mengelus lembut kepalanya.

Aku menatap ngeri. Kurasa obat biusnya bekerja karena Tetsuyacchi tidak mengerang kesakitan. (Meski... Bagian perutnya tengah disayat oleh pisau bedah... Glek...)

Sekitar 15 menit, dokter yang membedah dan Shintaroucchi (yang menjadi dokter asisten) memeriksa isi dalam Tetsuyacchi. Maksudku, rahimnya. Selanjutnya aku tidak mengerti apa yang terjadi, aku hanya dapat diam dan tetap memberikan semangat pada Tetsuyacchi.

"Kau hebat sekali... Tenanglah, Tetsuyacchi..." Aku kembali menguatkan genggamanku dan mencium lembut keningnya. Tetsuyacchi membalasnya dengan senyuman kecil.

Sekitar setengah jam berlalu. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, salah satu dari suster tadi mengangkat sesuatu dengan handuk - yang bersimbah darah Tetsuyacchi.

Tapi...

Tidak ada tangisan bayi.

Kenapa?

Kenapa tidak ada tangisan sama sekali?

Bukankah setelah dilahirkan bayi akan menangis?

"Aa- Bo-bolehkah aku bertanya..." Aku takut. Tolong jangan membiarkan perjuangan Tetsuyacchi selama ini sia-sia...

"Dia tidak menangis..." Lirih salah satu perawat.

"Denyut nadinya masih ada... Dia masih hidup." Perawat yang menggendong bayi itu segera melakukan hal yang umum.

Puk. Puk.

Aku melihat perawat itu memukul pelan bayi itu.

Tolong...

Selamatkanlah dia!

"Ooeee..." Suara lemah terdengar dari bayi itu.

"Ooeeeeeeeeee!" Dan suara tangisan bayi segera memenuhi ruangan tersebut.

"R-Ryouta-kun..." Lirih Tetsuyacchi.

"Selamat... Anak anda laki-laki yang sehat!" Seru perawat tersebut sambil membersihkan sisa plasenta yang menempel di tubuh anakku dan Tetsuyacchi.

"Fuh... Kami juga sudah selesai menjahit jaringan yang kami sayat tadi." Aku merasa tidak enak mendengar hal seperti itu.

"Bo-bolehkah aku menggendong anakku...?" Tanya Tetsuyacchi.

"Tentu." Perawat itu menyerahkan bayi yang ia gendong kepada Tetsuyacchi.

"Yuuta-kun..." Tetsuyacchi menatap bayi yang sudah keluar dari kandungannya tersebut, "Kau cantik sekali... Selamat datang ke dunia..."

Yuutacchi terlahir dengan warna rambut sepertiku, kulit putih pucat seperti Tetsuyacchi. Bulu matanya panjang dan lentik. Aku rasa dia pendiam, karena itu setelah ia dikeluarkan, ia tidak menangis sama sekali...

"R-Ryouta-kun, matanya terbuka..."

Matanya bulat dan berwarna biru seperti Tetsuyacchi. Lalu, mata itu menutup lagi. Tertidur.

"Tidurlah yang nyenyak..." Tetsuyacchi menimang-nimang anak pertama kami itu.

Aku tersenyum menatap orang yang kucintai dengan anggota baru keluarga kami, "Terima kasih atas kerja kerasnya, Tetsuya..." Aku mencium keningnya lembut.

"Selamat datang anakku..." Lirihku, "Namamu adalah Kise Yuuta-kun."

Tetsuyacchi tersenyum, "Ini buah cinta kita, Ryouta-kun... Aku mohon bantuanmu..."

"Ya... Aku akan menjadi pendamping hidup yang baik dan akan menjadi ayah terbaik bagi anak kita..."

Dan mulai hari ini...

Hidup kami tidak akan sama seperti sebelumnya.

.

O.O.O.O.O.O

.

A/N : *sob* akhirnya selesai... *tebar bunga*

Saya ga ngerti proses operasi caesar dan akhirnya saya membulatkan hati untuk g**gling. Sekedar info (ga penting) saya ga kuat sama darah dkk, jadi... G**gling ttg operasi itu n membuat proses kelahirannya melewati mual dan gelisah krn ga kuat. Ahaha anak IPA takut darah. Ahaha-_-"a (Semacam ini jadi gore...)

Saya mau nanya... Yang membaca fic ini... Umur berapa aja ya? Kalo ada yg lebih muda dari saya dan ngerti sesuatu dari fic ini, silahkan tanya :D(?)

Sekian fic dari saya. Terima kasih sudah mendukung, bagi para reviewer setia, pembaca setia, yang udah follow ampe di fav. Saya sungguh berterima kasih m_ _m tanpa kalian fic ini ga akan berlanjut (saya serius)

.

A/N (new) : Saya belum baca ulang chap ini. padahal banyak banget kekurangan kata (lupa ketik).

Saya jadi untuk membuat epilogue dan sekuel (sekedar pemberitahuan, sekuelnya itu semacam kumpulan fic dengan AU yang sama dengan ini, apa tidak apa?)