Disclaimer: ATLUS owns Persona 3 & Persona 4
Aku melihat gadis kecil itu berjalan melintasi pertokoan. Aku melihat gadis kecil itu berdiri di sampingku di dalam sebuah toko buku, memperhatikan dan mencermati hampir setiap buku yang terpajang dalam rak tanpa menyentuh salah satu pun dari buku-buku itu. Aku melihat gadis kecil itu memasuki sebuah café kecil dan memesan segelas cokelat bercampur susu. Aku melihat gadis kecil itu memasuki pusat perbelanjaan dan keluar dengan beberapa kantong kertas di tangannya. Aku melihat gadis kecil itu duduk sendirian di taman.
Apa yang dilakukan gadis kecil itu semuanya normal seperti orang-orang lain. Hanya saja… ia adalah seorang gadis kecil yang kira-kira baru berusia tujuh tahun dan ia selalu sendiri.
Entah kenapa, sulit bagiku untuk menghapus ketertarikanku tentang siapa gadis kecil itu. Apa ia tidak memiliki pendamping atau orangtua?
Maka aku berjalan mendekatinya ketika sekali lagi aku melihatnya berdiri di trotoar, hanya sendirian pada malam hari dan waktu itu gerimis membasahi tanah tempat kami berpijak. Gadis kecil itu tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia menyadari keberadaanku. Hingga aku telah berada sangat dekat dengannya, barulah aku menyunggingkan senyum.
"Hai, gadis kecil. Apa yang kaulakukan sendirian di sini?" ucapku sambil memayunginya dengan payung yang kubawa. Aku telah mengenakan jas hujan, jadi tidak terlalu masalah bagiku.
Anak kecil itu akhirnya menoleh padaku, dan baru kusadari ia memiliki warna mata yang indah. Begitu kelabu bagai awan mendung namun juga begitu biru bagai samudera dalam.
"Aku menunggu seseorang." Ia menjawab, dan aku menaikkan alis mataku ketika mendengar jawaban itu.
"Siapa yang kautunggu?"
"Aku menunggu seseorang, tapi ia tidak pernah datang." Gadis kecil itu kembali berkata, namun sama sekali tidak menjawab pertanyaanku.
Aku memutuskan untuk mengganti pertanyaanku, "Apa kau selalu menunggu 'seseorang' itu di sini?"
"Tidak selalu."
"Apa kau punya orangtua?"
Saat mendengar pertanyaan itu, sang gadis kecil terdiam. Aku masih menunggu jawaban, tetapi jawaban itu tidak pernah tiba.
"Kau selalu sendirian di sini… di mana kau tinggal, dan dengan siapa?"
Sekali lagi, jawaban dari gadis kecil itu tidak pernah kudengar. Aku berdiri di atas salah satu lututku, berusaha menyamakan tinggi badan kami. "Nak, apa kau tersesat?"
"…"
"Siapa namamu?"
"Tinggalkan aku sendiri." Gadis kecil itu langsung melepas kontak mata denganku dan ia tampak takut.
"Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu. Aku bukan penjahat atau penculik. Percayalah." Aku berusaha menenangkan gadis kecil itu dan membuatnya merasa lebih nyaman.
Gadis kecil itu kembali menatapku. "Aku tidak berpikir kau penjahat atau penculik."
"Kalau begitu, apa yang membuatmu takut?" aku bertanya hati-hati.
"Karena kau… kau tidak membuatku merasa ingin membunuhmu, sama sekali."
"Apa?"
Gadis kecil itu menajamkan matanya padaku. "Apakah… kau seseorang yang selalu kutunggu?"
Aku jelas-jelas kebingungan dengan pernyataan anehnya itu. "Apa maksudmu?"
Gadis kecil itu kemudian menyentuh wajahku dengan satu tangan mungilnya yang terasa bagai es dan membeku di kulitku.
"…Papa…" ucapnya pelan.
Liebe und Rache
Chapter 13
Connection
Souji tahu ia seharusnya tidak pernah meremehkan lawannya. Pemuda itu tahu ia dalam situasi cukup terdesak ketika sekali lagi, sebuah tembakan laser meluncur ke arahnya. Souji langsung mengumpat dan berusaha mengendalikan WCM-nya secepat mungkin, namun tembakan itu lagi-lagi mengenai WCM-nya pada bagian tangan. 'Dia mulai menghancurkan bagian-bagian WCM ini hingga nyaris semuanya tidak berfungsi…' batin pemuda itu waspada.
"Ada apa, Seta Souji?" suara itu membuyarkan pikiran Souji. Pemuda itu mengenalinya sebagai suara Naoto, "Kau hanya terus menghindar dan nyaris semua usahamu sia-sia. Apa hanya itu yang bisa kaulakukan?"
Gadis itu sengaja menantangnya—atau mungkin memancingnya.
Pemuda itu menelan ludah ketika WCM-WCM yang mendampingi Naoto, kira-kira jumlahnya sembilan, mulai menerjang ke arahnya, beberapa mengarahkan senapan raksasa mereka ke arah Souji. 'Meskipun semua WCM itu tergolong lemah… tetap saja mengganggu…' batin Souji sambil mencoba sedikit mempelajari situasi. Hermes dan Jiraiya terus beradu kekuatan dan semakin menghancurkan area-area dan bangunan-bangunan tua di bawah mereka. Sedangkan pemuda yang mengaku bernama Teddie itu—
…Yah… Teddie benar-benar tidak melakukan apa-apa, kecuali meneriakkan kata-kata semangat. "Berjuanglah, Seta Souji!"
Apa pemuda kekanak-kanakan itu kawan… atau musuh…?
Dari apa yang terlihat di luar, sepertinya ia mendukung Souji, dan hal itu terasa sedikit melegakan. Apa ini sungguh-sungguh ujian baginya untuk memperoleh WPM—seperti yang dikatakan Teddie? Jika ya… maka Teddie dan Shinjiro mungkin bekerja sama.
Ketika Souji merasakan guncangan yang lebih hebat dari sebelumnya dan menyadari WCM miliknya telah kehilangan lebih dari setengah kemampuannya, pemuda itu tahu ia harus mengesampingkan pikiran-pikiran lain dan memfokuskan diri.
'Cukup lakukan yang terbaik,' batin pemuda itu memberitahu diri sendiri.
Souji kembali memfokuskan pandangan ke depan. Naoto adalah penembak ulung, Souji menilai, dan sangat sulit untuk menghindari tembakannya. Tetapi seperti biasanya para penembak memiliki keunggulan dalam pertarungan jarak jauh… mereka memiliki kelemahan dalam pertarungan jarak dekat.
Pemuda itu memperhatikan formasi samar yang dibentuk oleh musuhnya. WCM-WCM kecil itu berada di sekitar Naoto, terlihat cukup jelas berusaha melindungi gadis itu. Naoto juga terus mundur dan menjaga jarak sebelum ia menghempaskan tembakannya. Souji kemudian memutuskan untuk 'membersihkan' pelindung-pelindung kecil itu, dan menutup jarak di antara mereka.
Setelah berhasil melakukan itu—mungkin kemenangan akan tersenyum pada Souji.
"Baiklah…" ucap pemuda itu pada diri sendiri. Souji memajukan WCM miliknya untuk terbang melaju ke arah Naoto, dan gadis itu kembali mundur dengan kecepatan yang cukup mengagumkan. 'Dia lincah…' batin Souji kesal. WCM-WCM yang lebih kecil mulai menembaknya, dan Souji berhasil menghindar ke sisi.
Ketika tiga WCM terbang ke arahnya dengan pisau besar mereka, Souji mengayunkan pisau milik WCM-nya yang tersisa dengan luwes dan berhasil memotong WCM-WCM itu menjadi dua. Souji dapat mendengar teriakan kesakitan para pilot yang mengendalikan mesin itu.
Tetapi itulah perang.
Dua WCM lain melesat ke arahnya. Souji hendak memotong mereka dengan pisau raksasa miliknya, tetapi tiba-tiba tembakan lain dari Naoto melesat dan menghancurkan pisau itu. "Apaaa…?" Souji membelalakkan matanya. Itu adalah senjata terakhir yang dimilikinya.
Souji tidak dapat mengandalkan senjata yang terdapat dalam WCM miliknya sekarang. Naoto telah menghancurkan semuanya, dan pemuda itu sekarang harus berusaha menghindar dari serangan kedua WCM itu. Satu WCM mengayunkan pisau raksasanya, dan Souji menggunakan tangan WCM miliknya yang masih dapat digerakkan untuk menangkap bagian pegangan pisau raksasa musuh. Pilot yang mengendalikan WCM musuh terdengar terkejut. Souji kemudian melekukkan tangan WCM musuh itu dan menarik paksa pisau tersebut dengan kuat hingga berhasil terlepas.
Dengan pisau tersebut, Souji membelah dua WCM itu dengan gesit dan terbang maju meninggalkan mereka yang meledak hancur di udara.
'Empat WCM lagi…' batin Souji dalam hati, melaju kencang ke arah keempat mesin raksasa itu.
Hanya saja, yang membuat Souji sedikit heran adalah Naoto tidak begitu aktif menyerangnya. Ketika Souji menyadari hal itu, ia melihat mesin raksasa yang dikendalikan Naoto hanya melayang di tempatnya, dengan senapan di tangan, tetapi tidak lagi diarahkan pada Souji. 'Apa dia sengaja diam? Atau dia menungguku? Berusaha memancingku mendekatinya…?' pemuda itu terus berpikir sementara ia masih dengan lincah menerjang salah satu dari keempat WCM itu dan dengan luwes kembali membelah mesin itu menjadi beberapa potongan, hingga akhirnya mulai meledak.
'Tiga…'
"Kau keparat…!" terdengar suara salah seorang pilot yang mengendalikan salah satu WCM itu. Ia tampak marah karena Souji telah membunuh enam temannya. Ketiga WCM itu mengarahkan senapan mereka dan mulai menembak.
Souji menghindari tembakan-tembakan itu dengan gesit dan melesat ke arah mereka. Pemuda itu mengangkat kembali pisau raksasa itu untuk menghancurkan mereka sebelum sebuah suara yang familiar tiba-tiba menghantam otaknya.
Bereskan dengan cepat.
Pemuda itu mengerjapkan matanya. Suara itu bukan berasal dari siapa pun yang berada di luar. Suara itu berasal dari dalam dirinya, dari memori yang terkunci rapat dalam salah satu bagian otaknya.
—Dengan begitu—
Dan pemuda itu tidak lagi sadar dengan apa yang ia lakukan. Tangannya menggenggam salah satu tuas begitu kuat hingga tangan itu gemetar hebat. Suara itu kembali berlanjut… suara dari masa kecilnya.
—mereka tidak akan menderita.
:-:
.
.
Souji merasa nyaris kehilangan indra perasanya. Tubuh anak lelaki itu gemetar, kepalanya pening, dan ia nyaris pingsan dengan bau darah yang menguar luas di udara.
"Hentikan."
Hanya satu kata itu saja yang berhasil diucapkannya. Anak lelaki itu tidak tahu apakah suaranya didengar oleh gadis kecil itu. Suara itu terlalu lemah dan pelan.
Namun sang gadis kecil kembali menoleh padanya, dan matanya serasa menusuk. Sesuatu dalam mata gadis kecil itu membuat Souji menatapnya begitu dalam dan begitu terfokus. Terfokus pada gadis kecil itu, dan apa yang ada di sekitar mereka seakan memburam dan tidak lagi terbentuk jelas.
Kaki Souji yang gemetar berjalan ke arah sang gadis kecil, dan ia menyentuh pipi sang gadis kecil yang membeku dengan tangannya yang juga kaku dan dingin bagai es.
"Apa aku membuat mereka menderita…?"
Ketika mendengar pertanyaan yang terlontar halus dari bibir mungil sang gadis kecil, Souji menarik napas dan menghembuskannya. Jantungnya tidak berhenti berdetak terlalu cepat dan ia masih terengah-engah.
"Ya…" ucap Souji di sela-sela napasnya.
"Kenapa?"
"Karena… kau membunuh mereka."
"Mereka tidak menderita… aku melakukannya dengan cepat."
Souji berusaha memfokuskan pandangannya, dan hanya mendapati gadis kecil itu saja yang mampu ia hadapi.
"Ini salah… semua salah…"
"Papa bilang—bahwa—"
"Hentikan itu!"
"Bereskan dengan cepat—"
Souji menahan napasnya. Ia merasa kulit pipinya yang dingin akhirnya terasa hangat oleh air mata yang mengalir dari pelupuk matanya. "Jangan, Naoto-chan…"
"Dan—dengan begitu—"
"Sst…" Souji mendesis, satu jarinya menutup bibir lembut gadis kecil itu. Anak lelaki itu tersenyum lemah, "Kita akan melupakan ini semua… kita akan meninggalkan tempat ini…"
Sang gadis kecil tidak mengucapkan sepatah kata pun, hingga Souji melepaskan jarinya dari bibir gadis kecil itu.
"—mereka tidak akan menderita." Gadis kecil itu menutup kalimatnya.
Anak lelaki itu meringis. Ia hendak melepaskan tangannya dari pipi gadis kecil itu, tetapi sesuatu menahan tangan itu di sana.
Tangan sang gadis kecil menggenggam tangan Souji untuk tetap berada di sisi wajahnya. Kemudian Souji merasakan sesuatu yang hangat dan cair mengaliri pipi itu, melelehkan lapisan tipis es yang membekukan di sana.
"Membunuh itu mengambil hidup seseorang…" Gadis kecil itu berkata, dan air matanya mengalir sedikit lebih deras. Souji merasakan air matanya juga terus membanjir, tetapi ia tidak dapat membendungnya… tidak sekarang.
"…Benar…"
"Apakah aku telah mati…?" Sang gadis kecil menggenggam tangan Souji sedikit lebih kuat dengan kedua tangan mungilnya.
Souji tahu sang gadis kecil mencari-cari kehangatan yang menunjukkan bahwa ia masih hidup. Satu tangan Souji kemudian menyentuh leher sang gadis kecil.
"Kau masih hidup…" Souji berusaha tersenyum di sela-sela air matanya, "Aku merasakanmu… kau begitu hangat."
"Tapi kenapa… Souji-kun…" Sang gadis kecil berkata pelan, "Kenapa aku merasa 'mati'?"
"…Apa maksudmu?"
"Mereka juga telah 'membunuh'ku…" Gadis kecil itu menelan ludah dan Souji merasakan itu di kulit leher sang gadis kecil yang disentuhnya. "Mereka telah merenggut hidupku."
"Kau bisa merebutnya balik…" Souji berkata menghibur, "Aku akan membantumu."
"Tidak akan… tidak bisa…"
"Bisa." Souji meraih gadis kecil itu dalam pelukannya dan mendekapnya erat. Tubuhnya lemas, pandangannya mulai kabur dan kesadarannya nyaris hilang. Ia tidak akan bertahan lebih lama lagi.
Tetapi kedua lengan gadis kecil itu mendekapnya, menopang tubuhnya untuk tetap berdiri.
:-:
.
.
Ketika seluruh kesadaran Souji kembali pada tempat di mana ia berada sekarang, barulah ia melihat, bahwa ketiga WCM itu telah dihancurkannya dan hanya menyisakan mayat di dalam onggokan mesin di tanah serta debu-debu yang mengotori udara.
Suara Teddie terdengar dari alat komunikasi dalam WCM-nya.
"Seta Souji… kau barusan…"
Jelas sekali terlihat bahwa Teddie terkejut pada apa pun itu yang baru saja dilakukannya. Souji menaikkan alis matanya, menunggu Teddie menyelesaikan kalimatnya.
"…Barusan—kau luar biasa… itu saja yang bisa kukatakan untuk sementara." Teddie mengangguk-angguk. "Eh… lanjutkan…"
Souji jelas bingung. Barusan, masa lalu tiba-tiba menghantui otaknya dan mungkin detik berikutnya ia telah melakukan sesuatu yang tidak ia sadari.
Pemuda itu kemudian memperhatikan mesin tempur milik Naoto yang masih diam di tempatnya. "…Shirogane…" bisik Souji pelan, dan ia yakin Naoto tidak akan mendengarnya, "bertemu denganmu benar-benar menyeretku kembali ke dalam masa lalu…"
Souji memejamkan mata sesaat, kemudian kembali terfokus ke depan. WCM raksasa miliknya menggenggam pisau raksasa itu dengan kuat, kemudian melesat ke arah Naoto, hendak menyerangnya.
"Souji-kun…"
Suara itu menghentikan gerakan Souji. Itu adalah suara Naoto yang memasuki alat komunikasinya. Dan suara itu mengingatkannya pada—
Souji menarik napas. Untuk waktu yang bagi Souji terasa sangat lama, mereka terdiam di tempat. Naoto bahkan sudah tidak bergerak sejak Souji tengah menghancurkan WCM-WCM pendampingnya.
Tiba-tiba, mesin raksasa yang dikendalikan Naoto bergerak mundur perlahan-lahan. Souji sendiri tidak bergerak dari tempatnya. Kemudian pemuda itu melihat mesin raksasa itu kembali mengarahkan senapannya ke arah Souji. Pemuda itu telah bersiap untuk menghindar.
…Tetapi tembakan itu tidak kunjung tiba.
"—Aku tidak bisa…" Naoto berkata pada dirinya sendiri. Ia telah mengarahkan senapannya pada Souji. Dan ia siap menembak, tetapi tangannya gemetar, dan ia tidak sanggup untuk bergerak lebih jauh.
Naoto tiba-tiba merasakan sakit luar biasa dalam tubuhnya, dan tangan gemetarnya mulai bergerak ke arah lain, mencari-cari botol obat yang seharusnya berada di dekat sini. Pandangan gadis itu nyaris kabur, sementara tangannya bergerak gelisah untuk menemukan apa yang dicarinya. Ia membutuhkan obat itu sekarang…
Ketika tangannya berhasil merasakan botol obat yang dingin di dekatnya, ia meraih jarum suntik yang berada dekat obat itu dan menarik obat itu. Naoto merasa nyaris kehilangan kesadaran ketika ia dengan susah payah menusukkan jarum suntik itu ke kulit lengannya.
Saat Naoto mengalami kondisi seperti ini, seharusnya Seta Souji dengan mudah dapat mendekatinya dan kemenangan mungkin akan berada di pihak Souji. Jika Seta Souji mendekatinya, ia mungkin dapat membunuh Naoto dan bahkan menghancurkan mesin tempurnya. Seandainya saja WCM pemuda itu masih utuh.
Namun Seta Souji tidak bergerak dari tempatnya.
Gadis itu juga tidak dapat bergerak lebih jauh. Sesuatu menahannya untuk tidak menyakiti pemuda itu. Sesuatu yang berada jauh dalam lubuk hatinya dan tidak ia mengerti. Sesuatu yang terkunci dan terkubur jauh di dalam memorinya.
"Cukup."
Dan dengan satu kata itu, Naoto yang merasa tubuhnya semakin pulih mengendalikan mesin tempurnya untuk menurunkan senapan. Tidak ada lagi yang sanggup dilakukannya kecuali… mundur.
Souji tidak dapat menutupi keterkejutannya ketika ia melihat mesin tempur milik Naoto mulai berbalik membelakangi dan mundur begitu saja.
"Tu-tunggu… tunggu!" suara Teddie kembali terdengar dari alat komunikasinya, "Kenapa ia terdiam dan tiba-tiba meninggalkan tempat ini begitu saja, kumaa! Ini di luar rencana, di luar rencanaaa!"
Souji hanya mampu menganga. Tetapi entah kenapa, Souji tiba-tiba memiliki satu pendapat, dan mungkin Naoto merasakan hal yang sama, bahwa mereka merasa pertempuran ini tidak sanggup mereka lakukan sekarang.
Pertempuran di antara mereka berdua.
Souji memutuskan untuk membiarkan Naoto mundur begitu saja, dan ia juga dapat melihat Hermes sekarang telah berdiri sendiri. Ia tidak lagi melihat tanda-tanda keberadaan Jiraiya ataupun prajurit Verstannia.
Pemuda itu kembali mencoba menghubungi Junpei, dan ia lega ketika ia berhasil melakukannya. Junpei sepertinya telah menyalakan kembali alat komunikasinya. "Junpei, kau tidak apa-apa?"
"Ya…" Junpei menjawab lelah, "Permainan kami sepertinya berakhir."
Souji memperhatikan Hermes. WPM itu tampak rusak dan hancur di beberapa bagian. "Apa yang terjadi?" tanya Souji perlahan.
"Kami sudah menyelesaikan pertempuran kecil ini…" jawab Junpei, "berkat seseorang."
"Apa yang terjadi pada mereka, kumaaa…?" Teddie masih tampak kaget dan heran dengan segala sesuatu yang jelas terjadi di luar rencana awal. Kenapa tiba-tiba semuanya terhenti? Mereka seharusnya—"
Suara Teddie terpotong ketika ia melihat seseorang yang berdiri jauh di bawahnya, memperhatikan WPM milik Teddie dengan mata yang begitu tajam, seolah-olah mata itu dapat melihat hingga orang yang berada dalam WPM itu sendiri.
"Chidori-chaaan!" Teddie tiba-tiba tersenyum antusias, "Kau tiba juga! Apa sekarang sudah waktunya?"
Suara wanita itu terdengar lewat alat komunikasinya. Teddie dapat melihat senyum yang sangat tipis tersungging di ekspresi kaku wanita bernama Chidori itu. "Ya, Teddie… Tugas kita selesai. Aku sudah melihat cukup banyak."
Ketika Junpei dan Souji kembali ke UFoND base, yang paling sulit untuk menutup mulutnya adalah Satonaka Chie.
"Mereka mundur begitu sajaaa?" Chie jelas-jelas terkejut dan mengeluarkan suaranya yang besar, "Tunggu… tunggu… ini sebenarnya ujian untuk Souji-kun, bukan?"
Souji mengangguk. Ia sendiri tidak tahu mengapa ingatannya akan masa lalu tiba-tiba bangkit dan menguasainya saat itu. "Aku tidak tahu… sesuatu menahanku untuk melanjutkan pertempuran. Dan kurasa gadis itu juga merasakan hal yang sama."
"Aneh sekali." Chie berpendapat, kemudian ia beralih pada Junpei, "Dan kau?"
Sebelum Junpei sempat bercerita tentang kisahnya, pintu ruang pertemuan tempat mereka berada itu terbuka. Shinjiro, Fuuka, dan Kanji berjalan masuk ke ruangan.
"Hai, semua." Fuuka menyapa mereka, sementara Shinjiro dan Kanji tidak mengucapkan sepatah kata pun dan langsung duduk di salah satu bangku di depan meja panjang ruangan itu. Souji, Chie, dan Junpei ikut duduk bersama dengan mereka, diikuti Fuuka.
Shinjiro menarik napasnya, kemudian ia melirik Souji. Pria itu tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, seperti biasa. "Bagaimana ujianmu?"
Souji ingin mengangkat bahu, tetapi ia memilih untuk menjawab saja, "Sepertinya berjalan di luar rencana."
"Chidori mengatakan ia telah melihat cukup untuk menilai kemampuanmu." Shinjiro berkata, dan Souji langsung mengangkat alisnya.
"Siapa?"
"Chidori." Shinjiro mengulang, kemudian kembali berdiri dan berjalan ke dekat pintu masuk ruang pertemuan itu. Ia kemudian menghadap para anggota lainnya, dan menyampaikan pengumumannya.
"Beberapa dari kalian mungkin telah bertemu dengan mereka, tetapi beberapa dari kalian mungkin belum." Shinjiro kemudian menolehkan kepala pada pintu masuk. "Masuklah, kalian berdua."
Pintu itu kemudian terbuka otomatis, dan seorang wanita bersama seorang pemuda berjalan masuk ke ruangan itu. Wanita itu cantik, dengan rambut merah panjang hingga ke pinggang dan gaun gothic lolita putih berenda. Wanita itu tampak tenang dan sangat anggun, dan wajahnya seperti mencerminkan tipe wanita yang sulit dibuat tersenyum. Sedangkan sang pemuda adalah pemuda pirang familiar yang telah Souji kenali bernama Teddie.
"Mereka anggota lama UFoND, dan pergi dalam jangka waktu cukup lama untuk melaksanakan misinya. Bagi yang belum mengenal mereka, perkenalkan…" Shinjiro berkata acuh tak acuh, "Yoshino Chidori dan Teddie."
"Salam kenal." Wanita bernama Chidori itu berkata datar, kemudian pandangannya beralih pada Souji. "Aku yang kali ini bertugas menilai kemampuanmu sebelum kau mendapatkan WPM, Seta Souji."
Souji menelan ludah, kemudian mengangguk.
"Salam kenal, semuanya!" Teddie berkata riang pada mereka semua, "Aku merindukanmu, Fuuka-chan! Dan kau yang berambut coklat susu dan memiliki mata selaras yang indah…" Teddie berkata pada Chie, "Siapa namamu, Lady?"
Chie tampak terpana sesaat, dan wajahnya memerah. "Eh… maksudmu, aku?" tanya Chie tak yakin, dan menerima anggukan dari Teddie. Gadis itu berkata ragu, "Oh… namaku Satonaka Chie."
"Satonaka Chie…" Teddie mengulang nama tersebut itu, "Nama yang indah, Chie-chan."
Wajah Chie semakin memerah, dan gadis itu akhirnya tersenyum canggung. "Wah… kau gentleman kecil yang menarik, Teddie."
"He-eh, tentu saja." Teddie mengangguk bangga, "Aku merasa sangat terhormat menerima pujian darimu, Lady."
"Ehm… jadi," Fuuka akhirnya membuka suara untuk menarik perhatian mereka, "kita akan menikmati masa liburan kita hingga hari Natal tiba. Hari Natal nanti kita semua akan berkumpul di UFoND base ini, dan setelah itu kita akan kembali menikmati liburan hingga usai tahun baru. Kuharap kita semua saling memperhatikan diri dan para anggota yang lain. Hubungan yang intim tidak hanya lahir dari perkenalan, bukan? Tetapi kehidupan bersama. Jadi kuharap kita semua dapat saling menyesuaikan diri dengan orang-orang di sekitar kita, baik teman lama ataupun teman baru. Selamat berlibur."
"…Kuharap ini bukan liburan yang sama seperti waktu itu? Di mana kami jelas-jelas diwajibkan menetap di negara musuh?" Kanji bertanya hati-hati.
"Tentu saja tidak." Fuuka langsung menjawab, "Kalian benar-benar bebas selama masa liburan kalian. Tidak akan ada misi kecuali bersifat sangat mendesak."
"Oh… liburan itu… bukan hanya berarti terbebas dari misi, tetapi kami juga dapat bepergian, benar bukan?" Chie tampak antusias, dan ketika menerima anggukan persetujuan dari Fuuka, gadis itu semakin bersemangat. "Yeah! Baiklah, ayo kita berlibur ke suatu tempat! Ada yang ikut denganku?"
"Aku tidak menyarankan Verstannia…" Junpei memberi pendapat, "Terakhir kali aku ke sana, semua kacau. Aku dikejar-kejar petugas keamanan, dan alhasil bertemu Jeruk keparat itu…" Junpei tampak berpikir sejenak, "…Tapi, kalau kau menginginkan kota besar yang terkesan canggih dan maju, teknologi mereka tidak akan mengecewakanmu… kurasa."
"Kalau saja bukan negara musuh, Letzvetrie tempat yang menarik…" Souji akhirnya angkat bicara, "Segala bangunan di sana bergaya klasik dan tertata indah. Begitu juga dengan tumbuh-tumbuhan dan struktur kota… luar biasa, sebenarnya. Tidak menunjukkan kecanggihan teknologi, justru mengingatkanmu pada masa lalu, terutama jaman Baroque."
"Jika ingin aman, kita bisa saja hanya pergi ke negara-negara kecil atau negara tetangga. Walaupun tidak akan secanggih atau seindah dua negara besar itu, tapi tempat-tempat mereka cukup memuaskan. Mereka memiliki pemandangan indah. Kesederhanaan, itu yang mereka tawarkan." Fuuka juga memberi saran pada Chie.
"Aku tahu!" Teddie mengangkat tangannya, "Ayo kita pergi ke Night Club, Geisha—"
"Menarik sekali semuanya!" Chie memutus kata-kata Teddie tanpa menghiraukan saran pemuda itu. "Rasanya aku ingin pergi ke tiga tempat yang disarankan Junpei, Souji, dan Fuuka itu," ucapnya, jelas-jelas mengecualikan saran Teddie, "Aku akan memilih nanti, ada yang ingin ikut denganku? Pergi sendirian tentunya kurang menyenangkan."
"Kalau kau ingin ke Verstannia… maaf, aku keluar." Junpei tersenyum kecil sambil mengangkat bahu.
"Oh… Junpei…" Chie tampak sedikit kecewa, "Aku belum tentu memilih Verstannia. Bagaimana dengan kalian?" Chie beralih pada sisa orang-orang yang berdiri di ruangan itu.
"Akan kupikirkan dulu." Souji menjawab paling pertama, diikuti anggukan lainnya.
"Sama denganku… aku tidak tahu apa aku akan menghabiskan liburanku di daerah ini saja atau tidak." Fuuka berkata lembut.
"Aku juga." Kanji berkata ragu.
"Kalian semua tidak menyenangkan…" Chie tampak semakin kecewa, "Apa aku benar-benar harus pergi sendiri?"
"Tenang saja, Chie-chan! Teddie bersiap mendampingimu, kumaaa!" Teddie kembali mengangkat tangannya dengan ceria. "Setidaknya, Shinjiro dan Chidori-chan juga akan ikut, bukan—"
Ketika Teddie menolehkan kepala, baik Shinjiro maupun Chidori sama sekali tidak terlihat di ruangan itu. "Heee? Sejak kapan mereka pergi meninggalkan kita begitu saja?" Teddie membelalakkan matanya.
"Mereka sibuk." Fuuka menjawab, tanpa tanda-tanda akan melanjutkan kalimatnya lebih jauh.
Malam itu, salju kembali turun membasahi tanah Verstannia. Tidak banyak yang ingin dilakukan Hanamura Yosuke saat itu. Pertempurannya dengan Junpei nyaris berakhir dengan kemenangan di pihak Yosuke. Ia telah berhasil memojokkan Hermes dengan menghancurkan senjata terakhirnya, sedangkan Yosuke masih memiliki banyak senjata tersisa berupa kunai dan shuriken raksasa, walaupun kondisi WPM-nya sendiri lebih buruk dibanding Hermes.
Tetapi di saat itu, tembakan dari sesuatu yang ia duga sebagai WPM menghancurkan senjata-senjatanya yang tersisa. Yosuke belum pernah melihat WPM seperti itu, yang tiba-tiba muncul di kejauhan beberapa meter dan WPM itu mengayunkan kapaknya yang tersambung dengan rantai besar dari jauh dan nyaris menghancurkan Jiraiya.
Yosuke merasa terdesak dengan kemunculan musuh yang tidak diduganya itu, dan tidak ada yang dapat dilakukannya kecuali mundur. Prajurit-prajurit Verstannia yang mendampinginya sendiri telah dikalahkan Hermes dan sisanya dibantai habis oleh WPM asing itu.
Yosuke menarik napas, kemudian menghembuskannya pelan, menghasilkan uap yang langsung menguar di udara. Ia hanya duduk sendirian di taman itu. Malam terasa dingin dan ia mengencangkan syal jingganya. Yosuke hampir memutuskan untuk berdiri dan pulang, ketika seseorang tiba-tiba duduk di sampingnya.
"…Dingin sekali…" orang itu berkomentar, dan ketika Yosuke menoleh padanya, ia mendapati itu adalah Takeba Yukari. Gadis itu membawa kantong kertas berisi roti yang terlihat masih hangat dan menggugah selera.
"Hei… jarang sekali aku melihatmu di sini." Yosuke menyunggingkan senyum dengan bibirnya yang kering.
"Aku perlu keluar untuk menjernihkan kepalaku," jawab Yukari sambil menengadah ke langit, merasakan butiran salju yang mendarat di kulit wajahnya, "dan ini adalah tempat terbaik."
Yosuke memejamkan matanya, kemudian mengangguk. "Aku setuju."
"Kau ingin roti?" Yukari meraih kantong kertas itu dan menyodorkannya pada Yosuke.
"Luar biasa. Apakah mungkin aku berkata 'tidak'?" Yosuke tersenyum, kemudian meraih salah satu roti yang masih hangat itu dan melahapnya. "Lezat sekali… sesuatu yang kubutuhkan selain sup hangat di udara sedingin ini."
"Ya…" Yukari mengangguk setuju, kemudian ikut mengambil salah satu roti itu dan menggigitnya perlahan, menikmati kehangatan dan kerenyahan roti itu.
Hening menyelimuti mereka sementara mereka mengisi perut. Pohon-pohon di taman itu telah kehilangan daun dan kehijauannya, yang akan kembali dengan kuncup-kuncup kecil yang mekar pada musim semi. "Taman tidak terlihat begitu indah di musim dingin," ucap Yosuke tiba-tiba.
"Oh ya…? Menurutku sama indahnya. Setiap musim, taman ini memiliki pesonanya tersendiri." Yukari berpendapat, "Dalam keadaan apa pun… selalu ada keindahan di dalamnya."
Tidak banyak yang dapat dilakukan Naoto untuk sementara waktu. Kakinya yang tertembak telah pulih sepenuhnya, dan Naoto bersyukur akan hal itu. Gadis itu duduk di ruang musik, memperhatikan Aigis bermain-main sendiri dengan piano di ruangan itu.
Bukan berarti Aigis kurang pandai bermain piano. Hanya saja… butuh lebih banyak latihan, sama seperti Naoto dengan biolanya. Aigis terlihat sedikit kaku di depan piano itu, dan lebih kaku lagi ketika Naoto menyerahkan biola padanya.
"Aigis…" Naoto berkata pelan sambil meraih biolanya. Ketika Aigis menghentikan permainannya, Naoto berjalan ke samping Aigis dan berdiri dengan biola serta bow di tangannya. "Aku ingin menyelesaikan apa yang belum sempat terselesaikan waktu itu."
Aigis tersenyum, "Kau sudah melakukan yang terbaik."
"Belum," jawab Naoto, kemudian menekan biola itu di lehernya, "Coba ikuti musik ini. Antonio Vivaldi… Four Seasons, Winter."
Aigis tersenyum, kemudian mencoba mengikuti musik yang mulai terbentuk dari gesekan bow dengan senar biola di tangan Naoto. Banyak kesalahan yang dilakukan mereka, bahkan terlalu banyak terutama untuk Aigis yang masih berusaha menyesuaikan permainannya.
Setelah selesai menyelesaikan musik itu dengan cukup berantakan, mereka berdua tertawa.
"Semoga Vivaldi mengampuni kita." Aigis masih tersenyum ketika ia akhirnya berhasil menahan diri.
"Setidaknya kita melakukan itu di luar kesengajaan." Naoto membalas, masih tersenyum lebar, "Kita telah berusaha." Sambil memain-mainkan senar biolanya, gadis itu kemudian mengalihkan pembicaraan, "Rise akan bergabung dengan kita untuk makan malam hari Natal nanti."
"Apa perlu seseorang dari pihak kita untuk menjemputnya?" Aigis bertanya, kemudian menerima gelengan kepala dari Naoto.
"Ichijou-san akan menjaganya."
"Chidori itu cantik."
Souji hanya dapat menatap Junpei dengan sedikit unsur keterkejutan. Tentu saja, Chidori itu cantik… tetapi ada yang berbeda pada sudut pandang Junpei.
"Oh sialan…" Junpei mengumpat pelan, "Apa yang terjadi padaku? Astaga, Souji, apa wajahku merah?"
"…" Souji tidak mengatakan apa-apa. Pemuda itu mempelajari ekspresi Junpei. Jelas sekali wanita itu memenuhi pikiran Junpei sekarang. "Jatuh cinta pada pandangan pertama?"
"Jangan bercanda." Junpei tampak terkejut, "Apa aku benar-benar terlihat seperti pria yang jatuh cinta?"
"Mungkin." Souji menjawab jujur. Pemuda itu tidak dapat menahan senyum geli.
"Kau menertawakan aku…" Junpei mendesah, kemudian berbaring di ranjangnya dan menarik selimut.
"Aku tidak menertawakanmu—"
"Bicarakan besok saja…" ucap Junpei pelan, kemudian hening menyelimuti kamar itu. Souji menduga Junpei telah tertidur… dengan sangat cepat.
Souji mendesah. Tidak banyak yang dapat dilakukannya sekarang, dan ia juga ikut berbaring serta menarik selimut menutupi dirinya. Pikirannya mulai melayang kepada peristiwa-peristiwa yang belum lama terjadi.
Dan Souji tiba-tiba teringat pada gadis kecil itu.
Pemuda itu langsung terduduk di atas ranjangnya. Souji meninggalkan Naoto kecil dalam keadaan yang… kurang menyenangkan.
Gadis kecil itu kehilangan kendali, sayap tumbuh dari punggungnya, dan ia mulai menyerang Souji dengan kelihaian seorang pembunuh berpengalaman. Dan pada saat itu, sang gadis kecil menahan tubuhnya sendiri dengan menusukkan pisau pada salah satu lengannya. Gadis kecil itu berteriak pada Souji untuk meninggalkannya sendiri, dan Souji melakukan apa yang dimintanya dengan cukup cepat dan tanpa pikir panjang.
Pemuda itu harus menyelesaikan urusan ini. Apa yang terjadi pada gadis kecil itu sekarang? Apa ia baik-baik saja…?
Tangan Souji mulai meraih ke laci di samping tempat ia biasa menyimpan memory visor, dan baru teringat bahwa benda itu ada dalam kokpit WCM miliknya. Souji kemudian bangkit berdiri, dan berjalan keluar kamarnya dengan jaket tebal menutup tubuhnya.
Belum sempat Souji melangkah lebih jauh dari kamarnya, suara seseorang yang familiar terdengar di samping Souji. "Apa kau mencari ini?"
Souji menolehkan kepala ke arah sumber suara, dan mendapati Chidori berdiri di sampingnya dengan memory visor pada tangannya. Wanita itu tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, dan hanya menatap Souji dengan tajam.
Pemuda itu jelas terkejut dengan keberadaan Chidori. Ia hanya mampu mengangguk. Chidori berjalan mendekatinya dan meraih kedua tangan Souji dengan kedua tangannya juga, memindahkan memory visor itu dengan hati-hati ke tangan Souji. "Bersyukurlah aku tidak ikut menilai kecerobohanmu."
Seusai mengucapkan kalimat itu, Chidori berjalan melewati Souji dan meninggalkan pemuda itu sendiri.
"Pharos, kau curang!"
Itu adalah kalimat pertama yang Souji dengar ketika ia mengenakan memory visor itu di kamarnya. Souji membuka mata, dan melihat tempat familiar itu. Pohon raksasa besar yang beberapa bagiannya telah putih oleh salju, tetapi daunnya masih lebat. Souji mengarahkan pandangannya ke bawah, dan mendapati Naoto kecil (sesuai yang telah diduganya) dan seorang lagi yang tidak ia kenali.
Mereka tengah berlutut di salju yang mulai menebal itu, dengan bola-bola salju besar yang Souji duga adalah sebuah boneka salju (hanya saja tanpa mata, hidung ataupun hiasan lainnya). Ketika mata indah sang gadis kecil bertemu dengan Souji, bibir mungilnya membentuk senyuman manis.
"Souji onii-chan!" Gadis kecil itu langsung berdiri dari tempatnya, namun tidak berlari ke arah Souji. Pemuda itu balas tersenyum bingung dan berjalan ke arah mereka. Souji dapat melihat perban putih yang melingkar di salah satu lengan atas gadis kecil itu.
Seorang yang tidak ia kenali itu ikut berdiri. Souji dapat melihat bahwa ia juga adalah seorang anak kecil. Seorang anak laki-laki dengan pakaian bergaris seperti seorang tahanan. Rambutnya berwarna biru yang gelap dibanding rambut Naoto, sementara matanya berwarna aquamarine yang indah. Ia tersenyum pada Souji, dan senyumannya terkesan khas.
"Perkenalkan," Naoto kecil menunjuk anak lelaki di sampingnya, "dia temanku, Pharos."
Pharos melebarkan senyumannya, kemudian berkata misterius pada Souji. "Aku tahu kau Seta Souji. Naoto-chan bercerita cukup banyak tentangmu. Nah…" ia sedikit berbisik, "jadi kau yang membangkitkan apa yang ada dalam diri Naoto-chan?"
"Apa?" Souji bertanya bingung, tetapi suara Naoto kecil kembali mengisi udara.
"Souji onii-chan, kau ingin bergabung dengan kami membuat boneka salju? Entah kenapa, Pharos selalu melakukannya dengan sangat baik. Jadi kuharap kau ingin membantuku."
Souji menoleh bingung pada gadis kecil itu. "V gi do, boleh aku menanyakan sesuatu padamu?"
Gadis kecil itu menelengkan kepala sejenak, kemudian mengangguk.
"Apa yang terjadi waktu itu?"
Souji tidak perlu menjelaskan waktu kapan. Naoto kecil memahami itu. Yang Souji maksud adalah ketika tiba-tiba sayapnya tumbuh dan ia dengan hasrat besar bermaksud membunuh Souji. Seketika ekspresi ceria sang gadis kecil berganti dengan keraguan dan ketakutan. Gadis kecil itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun selama beberapa saat, hingga akhirnya ia berhasil mengucapkan tiga kata, "Tolong lupakan itu…"
"V gi do—"
"Tidak sekarang." Gadis kecil itu berhasil berkata dengan susah payah. Souji hendak membalas kata-kata itu, ketika suara Pharos terdengar dari belakangnya.
"Kau harus mengerti, Seta Souji…" Pharos berkata pelan. "Jika ia berkata 'tidak sekarang', kusarankan kau tidak mendesaknya."
Souji terdiam. Ia tahu konsekuensi seperti apa yang mungkin terjadi jika Souji mendesaknya. Naoto kecil pernah berkata di pertemuan terakhir mereka sebelum gadis kecil itu kehilangan kendali, bahwa 'jika sayap itu tumbuh, maka tubuhnya merasakan adanya ancaman.'
Dan jika ia mendesaknya sekarang, maka Naoto kecil akan berakhir menyakiti Souji dan dirinya sendiri.
Pemuda itu menarik napas. "Baiklah… apa yang ingin kaulakukan sekarang?"
Gadis kecil itu tersenyum, "Ayo kita membuat boneka salju."
Souji mengangguk, kemudian hendak meraih salju di bawah mereka, tetapi ia tidak dapat menyentuhnya. Salju itu tembus begitu saja di tangannya, dan Souji juga tidak dapat merasakan rasa dingin membeku dari tanah di bawah mereka.
"Sayang sekali…" Pharos angkat bicara, "Aku baru ingat kau masih penuh 'keterbatasan' di tempat ini."
Souji menoleh pada anak lelaki yang masih tersenyum misterius padanya. Pemuda itu terlihat ragu sejenak, kemudian berjalan mendekati Pharos dan menyentuh kepala anak lelaki itu.
"Aku bisa menyentuhmu… apa kau… sama seperti gadis kecil itu?"
"Souji onii-chan?" suara Naoto kecil terdengar di belakangnya, "Apa kita tidak jadi membuat boneka salju?"
"Apa kau sadar…" Pharos meraih tangan Souji, menekan tangan besar itu dengan tangannya yang lebih kecil, "bahwa sesungguhnya kau sendiri sama seperti kami?"
"Apa?" Souji tampak terkejut dengan pertanyaan Pharos. "Apa maksudmu…?"
Pharos menekan satu tangan Souji itu lebih kuat lagi, hingga Souji merasakan sesuatu yang janggal berusaha mendesak masuk ke dalam tubuhnya. Kepalanya tiba-tiba pening, dan Souji langsung terjatuh di atas satu lututnya, berusaha mempertahankan keseimbangan.
"Souji onii-chan…!" Suara sang gadis kecil terdengar berdenging di telinganya. Souji merasa kepalanya berkunang-kunang dan pandangannya nyaris kabur. Kemudian ia merasa tangan Pharos akhirnya melepasnya.
Souji tidak tahu apakah kesadarannya sudah hilang atau belum, karena untuk sementara itu ia nyaris tidak dapat melihat apa-apa. Seluruhnya gelap, hingga ia merasakan sesuatu yang sangat dingin dan membeku di bawahnya.
"…Souji onii-chan…?"
Ketika mendengar suara itu, Souji dapat kembali melihat. Pemandangan buram itu perlahan-lahan semakin jelas, hingga Souji menyadari ia telah terbaring di hamparan salju. Pemuda itu berusaha bangkit dan berhasil terduduk di atas tanah putih itu. Dan ia menyadari Naoto kecil tengah berlutut di sampingnya dan menatapnya khawatir. Tangan mungil gadis kecil itu menggenggam tangan Souji dengan erat.
"…Kau tidak apa-apa…?" gadis kecil itu bertanya. Souji mengerang pelan, dan tubuhnya menggigil. Hembusan angin terasa kuat dan salju di bawahnya begitu dingin hingga membuatnya tidak tahan.
…Tunggu.
"…A-apa…?" Kedua mata sang pemuda terbelalak. Salah satu jarinya bergerak kembali ke tanah dan ia dapat merasakan salju itu. Pemuda itu meraih segumpal salju dalam tangannya dan merasakan dinginnya salju itu. Angin berhembus dan menari di sekitar mereka. Helai-helai rambut halus sang gadis kecil melambai-lambai akibat angin, begitu juga dengan rambut Souji sendiri.
"Tidak mungkin…" Souji berkata pada dirinya sendiri. Ia tidak mungkin dapat merasakan apa pun yang ada dalam memory visor. Tetapi kenapa tiba-tiba—
"Souji onii-chan…" Naoto kecil memanggil Souji sekali lagi, membuat pemuda itu mengalihkan pandangan ke arahnya. Sang gadis kecil tersenyum. "Ayo kita membuat boneka salju…"
Gadis kecil itu menggenggam segumpal kecil salju di telapak tangan mungilnya, dan memindahkan salju itu ke tangan Souji.
Pemuda itu tidak dapat berkata-kata saat itu. Ia hanya mampu mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Pharos tidak lagi terlihat di mana pun.
A/N:
Salam buat para pembaca! XD saya tau chapter ini begitu gaje dan-ahaha... sudahlah *ditimpuk*
Sama seperti fic saya lainnya, saya mohon maaf karena nelantarin fic" ini begitu lama sampe jadi rongsok di pojok fandom ini... semoga kalian memaafkan saya yang suka seenak jidat ini :'D
Terima kasih banyak untuk para pembaca dan special thanks bagi yang telah menyumbangkan review-nya, yaitu Kuro, Togane Shiro, Hayato Arisato, heylalaa, deguchi mou, serta neraraaa- XDD terima kasih semua! Tanpa kalian fic ini ga bakal jadi seperti sekarang dan terus maju.
Akhir kata, saya mohon kritik, komentar, dan saran yang dapat kalian sampaikan lewat review :D
-Snow Jou
