Disclaimer, Title, Story, Warning bisa dilihat sendiri di chapter 1 dan chapter 2.
Happy Birthday untuk cerita ini! Yap. Umurnya udah setahun lhoo! Sumpah, beneran nggak nyangka kalau saya bisa ngelanjutin cerita ini sampai tahap ini.
Terima kasih kepada semua orang yang sudah membaca cerita ini dari awal, memberikan review kepada saya, dan memasukkannya ke dalam deretan cerita favorit atau cerita yang paling ditunggu!
Cerita ini, Shiroi Yuki No Purinsesu wa. awalnya hanya cerita selingan karena saya emang pengen buat sosok tokoh utama yang lebih ke tahap dewasa dan voila... muncullah Megurine Luka, Shion Kaito, Hatsune Miku, Sakine Meiko, dan Leon.
Mungkin, saya bisa menyampaikan ribuan alasan kenapa jadwal updatenya mundur sekali... yang jelas, begitu saya baca chapter ini, saya selalu merasa something is wrong, tapi beneran nggak punya mood buat nambahin kalimat-kalimatnya. Agak sayang, padahal saya pengennya diksinya pas lho, tapi...
Lanjut saja ya... kalau memang ada yang kurang dimengerti dari cerita ini, silahkan tanya di bagian review, atau PM saya~ :)
silahkan dilanjutkan membacanya!
Shiroi Yuki No Purinsesu wa.
Leon menatap gadis di hadapannya, tapi yang ada di pikirannya bukannya satu hal pun tentang gadis itu. Lola sibuk berceloteh ria membicarakan berbagai hal sementara Leon hanya menatapnya datar, tanpa ekspresi, tanpa satu pun pendapat yang terlintas di pikirannya.
Ketika akhirnya Lola berhenti bicara, Leon hanya menatapnya datar. Tanpa ekspresi. Tanpa emosi sama sekali. Lola menaikkan alisnya. "Kau baik-baik saja, Leon?"
"Ah..." Leon tersenyum tipis. Akhirnya gadisnya menyadari ada sesuatu yang salah dengan dirinya. "Kenapa memangnya?"
"Kau diam terus dari tadi."
Pemuda berambut pirang halus itu menggeleng pelan. Sebuah dusta. Dia masih ingin menutupinya hingga saat yang tepat. Daripada mengatakan kejujuran, Leon lebih memilih untuk memasang senyuman lebarnya. "Kau khawatir padaku ya? Lola memang baik sekali."
Ada sesuatu yang berbeda, Lola tahu itu. Dia mengulurkan tangannya dan memegang dahi Leon. "Agak hangat. Kurasa kau demam."
"Tidak. Aku baik-baik saja," tepis Leon sambil menjauhkan wajahnya dari jangkauan tangan Lola. Dia menolak disentuh oleh Lola sekarang ini.
Gadis bermata violet itu merengut sebal. "Mou... aku sama sekali tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini semua orang suka sekali menyimpan perasaan mereka rapat-rapat."
"Siapa maksudmu?"
"Miku! Kau tahu, kemarin siang dia mengajakku makan siang dengan wajah kacau. Kukira dia akan menceritakan sesuatu, tapi kenyataannya tidak. Aku benar-benar khawatir padanya. Apa sesuatu terjadi antara dia dan Kaito?"
Leon tahu, dia jelas tahu memang ada sesuatu yang terjadi di antara Miku dan Kaito. Adanya tuan putri yang jelas menganggu hubungan mereka berdua telah mengguncang sesuatu di dalam diri ketiga insan itu. Tapi tetap saja, dia tidak mau mengatakannya sekarang. Kembali Leon menunjukkan seulas senyuman palsu. "Apa maksudmu Lola? Jelas sekali kan, tidak ada apa-apa yang terjadi antara mereka berdua. Mereka sudah putus kan?"
Mata ungu Lola bertemu dengan mata hijau Leon. "Kau berkata seakan-akan kau tidak tahu. Padahal, kau mengerti betul betapa rumitnya hubungan mereka kan?"
Jeda sejenak hingga gadis manis itu mengangkat bahunya dengan pasrah dan tersenyum lebar. "Ngomong-ngomong aku tidak mengerti," lanjutnya pelan. "Kenapa kau memutuskan supaya kita bicara di kampus sepagi ini. Ada sesuatu yang pentingkah?"
Leon mengamati keadaan sekitar mereka. Mereka berada di taman Universitas Utaunoda, tepat di bangku bermeja di bawah pepohonan rindang. Matahari sudah lumayan tinggi di atas, tapi Leon sama sekali tidak merasakan kehangatannya. Musim dingin memang akan datang sebentar lagi.
"Apa terjadi sesuatu?"
"Tidak..." Leon menggeleng pelan. "Aku hanya ingin bertemu denganmu."
"Ya. Kau tahu, kau memaksaku datang jam sepuluh pagi sementara jadwal kuliahku baru jam tiga nanti. Benar-benar deh! Aku sama sekali tidak seperti kau yang sering kuliah pagi. Kalau memang tidak ada sesuatu yang ingin kau sampaikan, lebih baik..."
"Aku ingin bertemu denganmu," potong Leon cepat. "Apakah itu tidak penting?"
Lola bisa merasakan wajahnya memanas. Sebelumnya, Leon tidak pernah berkata sejujur ini padanya. Kelihatannya memang ada sesuatu yang aneh terjadi. Entah kenapa, Lola merasakan suatu firasat buruk.
"Leon, kalau kau tidak cerita, aku sama sekali tidak bisa membantu apa-apa."
"Lola," bisik Leon. Pemuda itu tersenyum tipis. "Kau suka padaku?"
"Tentu saja, bodoh! Aku tidak akan pacaran selama hampir dua tahun kalau aku sama sekali tidak menyukaimu!"
Mata Leon berputar ketika rombongan gadis berjalan melewati bangku mereka. "Hemm, begitu ya... aku merasa sangat senang, Lola."
"Apa yang kau bicarakan? Tentu saja aku juga merasa sangat senang! Kau aneh, Leon!" Dahi Lola yang berkerut kembali ke bentuk asalnya saat dia berbicara lagi. "Ah ya, tadi pagi aku sempat membuatkanmu bento lho!" Lola menarik tas tangannya dan mengeluarkan kotak yang dibungkus serbet merah. Dia meletakkannya di atas meja sambil tersenyum. "Tidak tahu enak atau tidak, tapi yang jelas aku sudah berusaha keras untuk membuatnya. Kau harus memakannya sampai habis! Aku sama sekali tidak mau tahu!"
Leon tersenyum tipis. "Arigatou, Lola-chan."
"Chan? Ini pertama kalinya kau memanggilku dengan sapaan chan. Kurasa kau memang demam, Leon. Ada sesuatu yang aneh soal kau hari ini."
"Lola-chan benar-benar tahu persis apa yang terjadi padaku. Apakah ini yang namanya ikatan batin saat kau menyukai seseorang?" Leon tersenyum lebar.
Kata yang digunakan Leon barusan adalah menyukai seseorang bukannya saling menyukai. Dahi Lola berkerut lagi. "Apa maksudmu?"
"Apa maksudku? Maksudku bagaimana?"
"Ada yang salah dengan otakmu, Leon!"
"Aku sudah biasa mendengar pujian seperti itu."
Lola mengulurkan tangannya dan mengenggam tangan Leon erat-erat. "Orang yang mengatakan hal itu padamu adalah orang yang tidak mampu menggunakan otaknya dengan benar."
"Berarti termasuk kau juga, Lola-chan." Leon tersenyum lebar. Lola menaikkan alisnya dan segera menarik kembali tangannya.
"Aku tidak bermaksud begitu. Kau tahu itu kan?"
"Tentu saja aku tahu. Lola-chan benar-benar gadis paling manis yang pernah kukenal."
"Berhentilah bersikap layaknya Kaito dan Miku! Kenapa semua orang selalu ingin mengalihkan pembicaraan!" seru Lola marah. Dia menghempaskan dirinya ke kursi batu dan menatap Leon kesal. "Kalau kau tidak segera mengatakan alasan kenapa kau memanggilku sekarang, aku akan benar-benar menendang wajahmu."
"Jangan begitu, Lola-chan." Leon masih tersenyum lebar. "Nanti tidak ada laki-laki di dunia ini yang sadar akan kecantikanmu."
"Mou..." Lola meraih tasnya dan beranjak berdiri.
Tepat saat itu juga, senyum di wajah Leon menghilang. Mata hijaunya berubah serius. Ekspresinya berubah datar. Suaranya berubah nada menjadi lebih tegas. "Lola-chan, aku serius."
Lola berhenti bergerak dan meletakkan tasnya di atas meja. "Kau sudah berniat menceritakan padaku kenapa kau..."
"Aku ingin kita putus," potong Leon cepat. Dia menengadahkan kepalanya supaya mata hijaunya bertemu dengan mata ungu Lola. "Kita putus saja, Lola-chan."
白い雪のプリンセスは
白い雪のプリンセスは
Kaito menguap lebar. Mata kuliah pertamanya adalah pengantar manajemen rekayasa jam sebelas siang. Entah kenapa, hari ini, kakinya melangkah masuk ke Utaunoda pukul sepuluh. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa niatnya untuk datang ke Utaunoda sedemikian besarnya hari ini.
Yang pasti, dia harus bertemu dengan Miku secepatnya. Kemarin, Miku sama sekali tidak kuliah dan itu membuat Kaito cemas. Apa telah terjadi sesuatu pada Miku? Kenapa gadis itu tidak pernah mau mengangkat telepon Kaito? Email yang dia kirimkan juga sama sekali tidak digubris.
Rasanya, seakan-akan, Miku sedang menghindarinya, ataukah ini hanya perasaan Kaito saja?
Sejujurnya, dia sama sekali tidak mengerti. Otaknya sibuk memikirkan berbagai macam kemungkinan kenapa Miku tiba-tiba bersikap marah padanya. Apakah karena Kaito telah menolongnya di Sudoh-Bucks? Ataukah jangan-jangan karena Miku sudah mengetahui perasaan Kaito yang sebenarnya?
Kalau memang alasannya adalah yang nomor dua, maka Kaito benar-benar dalam masalah besar. Dia tidak ingin Miku merasa terbebani dengan perasaan yang Kaito miliki. Dia sama sekali tidak boleh egois dan tamak atas hubungan mereka berdua.
Biar bagaimana pun juga, sudah keputusan Miku untuk putus dengannya beberapa bulan yang lalu. Kaito harus menghormati keputusannya dan selalu berpura-pura bahwa perasaan di antara mereka berdua juga sudah berakhir saat hubungan percintaan mereka berakhir. Atau seharusnya memang begitu.
Kenyataannya, perasaan mereka adalah hal paling berharga yang mereka miliki dan menghapusnya berarti sama saja dengan menghapus eksistensi orang yang asli.
Kaito menghela napas panjang dan membenarkan letak ranselnya. Dia dan Miku sudah memutuskannya bukan? Bahwa semua yang mereka lalui selama ini sekarang hanyalah kenangan.
Tapi, dibandingkan masalah dengan Miku, yang paling mampu membuat kepala Kaito pusing adalah masalahnya dengan tuan putri Utaunoda, Megurine Luka-sama. Dia benar-benar bingung karena gadis cantik itu selalu saja mengatakan hal yang tidak masuk akal. Seperti saat mereka belajar bersama di Sudoh-Bucks. Bagaimana mungkin Luka tiba-tiba bilang bahwa dia merasa senang saat bersama Kaito? Yang benar saja! Memangnya apa yang dilakukan Kaito? Dia sama sekali tidak bisa melawak, lalu kenapa harus merasa senang?
Lagi-lagi pemuda berambut biru itu mendesah pelan. Kenapa dunia in mendadak terasa begitu berat akhir-akhir ini?
Saat dia memutar bola matanya ke bawah pohon rindang, dia melihat dua orang yang sedang berargumen dengan serunya.
Awalnya, Kaito akan terus berjalan tanpa mempedulikan kedua orang itu. Setidaknya, percekcokan antara dua kekasih hati di Utaunoda memang tidak jarang terjadi. Namun, ketika dia melihat rambut pirang serta mata hijau itu, dia sadar, salah satu dari dua orang itu adalah sahabatnya. Kaito mencoba memicingkan matanya dan akhirnya dia melihat gadis berambut hitam sebahu yang juga dia kenal sebagai pacar Leon, Lola.
Pertengkaran antara Lola dan Leon memang biasa terjadi, namun biasanya tidak sebesar ini. Mereka biasanya hanya saling berdebat tentang sesuatu yang tidak penting.
"Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang ada di dalam kepalamu!" teriakan Lola mampu membuat semua mata tertuju pada mereka berdua.
Kaito tahu, pasti ada sesuatu yang salah. Dia segera berlari kecil kesana, tapi langkahnya terhenti ketika suara tamparan keras membuat matanya melebar. Dari kejauhan pun, dia bisa melihat bekas merah di pipi Leon.
"Sakit... Lola-chan!" kata Leon sambil tersenyum.
"Kau memang idiot! Idiot besar! Aku benci padamu, Leon! Aku benci padamu!" Lola berteriak lagi. Ekspresinya kelihatan kacau. Dia meraih tasnya dan memukul wajah Leon sekali lagi.
"Lola!" panggil Kaito. Pemuda bermata biru laut itu segera berlari mendekati dua temannya. "Apa yang terjadi? Pertengkaran kalian kali ini teralu..."
"Diam kau, bodoh!" seru Lola. Dia memelototi Kaito dengan mata berair. Kemudian, gadis itu membalikkan badannya dan berjalan pergi dari sana dengan tangan menutupi mulutnya.
Kaito melirik Leon yang masih tersenyum. "Hei, Leon... katakan sesuatu cepat! Kalau tidak, kau bisa kehilangan..."
"Apa yang kau katakan, Kaito?" Leon masih tersenyum lebar. Intonasinya datar. Ekspresinya terlihat dibuat-buat. "Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan." Dia meraih sebuah kotak berbungkus serbet dan membukanya. "Whoa! Dia rajin sekali menyiapkan ini semua!"
"Lola yang membuat bekal itu untukmu?"
"Memangnya siapa lagi." Leon meraih sumpitnya dan memasukkan telur dadar ke mulutnya. "Lumayan. Kurasa, dia sudah berusaha keras."
"Leon!"
"Kenapa kau teriak terus, Kaito? Kau mau?" tanyanya santai.
"Tidak, bodoh! Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Seperti yang kau lihat... aku bertengkar dengan Lola-chan."
"Chan? Kau tidak pernah menggunakan sapaan chan pada Lola selama ini..."
"Kalau begitu," Leon tersenyum, "aku akan mulai menggunakannya sekarang ini."
Kaito mengerutkan dahinya. Dia duduk di hadapan Leon yang makan bekal buatan Lola dengan santainya. "Leon... apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak pernah lihat Lola semarah ini sebelumnya... Kalian berdua baik-baik saja kan? Argumen bodoh apa lagi yang sanggup membuatnya semarah itu?"
"Kau banyak bertanya, ya, Kaito." Leon mengangkat sumpitnya dan menggerakkannya di udara dengan bebas. "Kau serius mau diberitahu?"
"Tentu saja! Kau sahabatku kan?"
"Kau benar..." Leon meletakkan sumpitnya lalu mengelus pipinya yang masih memerah. "Lola kalau marah seram sekali ya..."
"Hei hei, kalau Lola dengar ucapanmu barusan..."
"Aku putus dengan Lola-chan."
Kaito membeku. Pasti, ada sesuatu yang salah dengan indera pendengarannya. Tidak mungkin Leon berkata seperti itu. Sangat tidak mungkin. "Kau bercanda kan ya?"
"Tidak. Aku memang putus dengan Lola-chan."
Mata Kaito terpaku pada wajah Leon. Sahabatnya itu masih tersenyum seakan tidak terjadi apa-apa.
"Kau kelihatan sangat syok ya, Kaito." Leon tertawa ringan.
"Sudah pasti aku syok! Apa yang ada di kepalamu sekarang?"
"Rasa lapar yang tertahankan. Aku tidak sempat sarapan tadi pagi."
"Leon! Berhentilah bercanda dan katakan yang sebenarnya padaku!" bentak Kaito. Lagi-lagi, mata beberapa orang yang melewati daerah itu tertuju pada mereka berdua. "Aku sama sekali tidak mengerti pola pikirmu!"
"Aku hanya..." Leon memejamkan matanya dengan ekspresi santai. "Aku hanya merasa aku harus melakukannya."
"Melakukan apa? Putus dengan Lola?"
"Hemm, Kaito, kau benar-benar memperhatikanku ya... Aku sungguh-sungguh merasa sangat senang. Kau tahu, aku merasa sangat-sangat terharu..."
"LEON!"
Pemuda berambut pirang itu meletakkan sumpitnya kemudian mengangkat tangannya ke atas. "Mau bagaimana lagi... aku memang tidak bisa bersama Lola-chan lebih lama lagi."
"Kau menyukainya kan?"
"Tentu saja. Kalau tidak, mana mungkin selama hampir dua tahun ini aku terus-terusan pacaran dengannya."
"Lantas kenapa?"
Sorot mata Leon berubah lembut. Ekspresinya melunak. Senyumannya berubah sangat tulus. Mendadak, aura di sekitar Leon berubah. "Aku sudah bertemu dengan malaikat yang seketika mampu mencuri hatiku, Kaito."
Kaito tetap menatap kedua mata Leon. Dia mencoba membedakan apakah sahabatnya sedang berbohong atau tidak kepadanya. Hasilnya, dia sama sekali tidak bisa membedakannya. Kalau memang Leon sedang bercanda, Kaito benar-benar akan membunuhnya.
"Kau bertemu dengan malaikat?" ulang Kaito bingung. Pasti otak Leon memang benar-benar kacau. "Maksudmu kau menyukai gadis lain selain Lola?"
"Tidak, perasaan ini tidaklah sesimpel itu. Aku ingin melindungi gadis itu. Aku tidak ingin melihatnya menangis."
"Tunggu dulu!" Kaito mengangkat tangan, mencoba menyusun setiap kata-kata yang baru saja disampaikan Leon, membuatnya lebih sistematis dan mudah dimengerti. Namun, usaha itu percuma saja. Dia sama sekali tidak bisa mengerti maksud sahabat baiknya itu. "Kau jatuh cinta pada gadis lain selagi kau masih berpacaran dengan Lola?"
"Aku tidak tahu," sahut Leon kemudian. "Mungkin aku sudah jatuh cinta padanya dari awal... atau mungkin aku hanya tidak menyadarinya saja selama ini..."
"Bisa saja itu hanya keinginan semu kan? Aku tidak percaya kau punya keinginan untuk selingkuh!"
"Bukan selingkuh, Kaito. Aku jatuh cinta padanya, apakah itu salah?"
"Jangan bercanda denganku!" tukas Kaito tajam. "Kau pasti dihipnotis atau apapun itu! Aku tidak bisa percaya seorang Leon yang mengejar Lola bisa..."
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Kaito!" sahut Leon dengan senyuman. "Itulah kenyataannya! Aku jatuh cinta pada gadis lain dan karena aku menyayangi Lola, aku harus memberikan kepastian padanya!"
"Sadar, bodoh!" Kaito meletakkan tangannya di atas meja. "Jangan mau dibodoh-bodohi oleh malaikat palsumu itu!"
"Jangan menjelek-jelekan dirinya, Kaito!" tegas Leon tajam.
"Kalau begitu, bisa jelaskan lebih rinci? Siapa gadis itu? Gadis yang sanggup membuatmu berpaling dari Lola..."
Wajah Leon berubah santai kembali. "Hee... kau tampaknya tertarik dengan gadis itu yaa..." Alis Leon terangkat dan dia bicara dengan nada menggoda. "Kau sepertinya benar-benar penasaran yaa..."
Tentu saja Kaito akan penasaran. Gadis itu mampu membuat Leon yang hampir tergila-gila sepenuhnya (walaupun dia tidak pernah mau mengatakannya secara jujur) pada Lola.
"Kenapa... kau memutuskan untuk putus dari Lola?"
"Aku sayang Lola, aku tidak ingin memberikan kepastian palsu padanya. Karena aku benar-benar serius menyukai gadis itu."
Kaito menegakkan kepalanya dan menatap kedua mata Leon. "Siapa gadis itu?" tanya Kaito frustasi. Sahabatnya yang satu ini benar-benar sudah gila!
"Salah satu tamu pesta penyambutan Iroha Nekomura-sama. Aku yakin kau mengenalnya."
Alis Kaito terangkat. "Kau menyukai Lily-san? Yang benar saja!"
"Tidak. Bukan dia." Leon menggelengkan kepalanya. "Kau sangat mengenalnya."
Kaito menunjukkan ekspresi tanda tanya yang demikian besar pada Leon. "Siapa yang kau maksud?"
Leon tersenyum lebar. "Seorang gadis dengan rambut hijau kebiruan yang indah. Gadis paling lembut dan baik yang pernah kukenal."
Mata Kaito melebar tak percaya. Dia punya firasat buruk soal ini. Leon tidak membicarakan soal...
"Ya, kau sudah bisa menebak orangnya kan?" Dia tersenyum lembut.
"Apa... maksudmu?" Kaito mengepalkan kedua tangannya dengan kesal. "Jangan bercanda, Leon! Ini semua sama sekali tidak lucu!"
"Aku memang tidak sedang bercanda, Kaito! Kau sendiri tahu kalau aku memang serius kan?"
Tubuh Kaito terasa menengang. "Tidak logis, Leon! Kau suka Lola dan aku tahu persis itu!"
Leon diam, menatap Kaito dengan ekspresi datar. "Kau bukan diriku, Kaito. Aku yang tahu persis siapa yang kusukai."
"Tidak... tunggu dulu... jangan coba-coba mengarang cerita. Lagipula, Miku sama sekali tidak hadir di pesta Nekomura... atau... dia justru ada..." Wajah Kaito diliputi ekspresi horor yang kelihatan jelas. "Dia tidak... ada disana... kan..."
Leon tersenyum lebar. "Kau memang sama sekali tidak dapat memahami Miku-chan."
"Tidak... tunggu dulu, Leon! Kau... apa maksud... kenapa... bukankah kau temanku? Kau ada di pihakku kan?"
"Hee... benarkah aku selama ini ada di pihakmu?" Alis Leon terangkat dan senyumnya semakin membuat wajahnya terlihat manis. "Kau yang selama ini menganggap seperti itu. Aku tidak pernah mengatakan hal apapun soal itu."
Mata biru itu bertemu dengan mata hijau indah itu. Satu-satunya hal yang dapat dipahami Kaito adalah Leon serius. Kelihatan serius sekali.
Mendadak tubuh Kaito terasa amat sangat lemas.
"Karena itulah," kata Leon sambil membereskan kotak makannya. "Jangan ganggu aku soal masalah ini. Aku serius, Kaito!"
"Tunggu dulu, Leon! Bagaimana mungkin... ini semua... teralu mendadak... kau tidak mungkin serius... selama ini kau..."
"Selama ini..." Leon menunjukkan ekspresi sedih. "Aku selalu melihat Miku-chan menangis gara-gara kau!" Ekspresi Leon kemudian berubah serius. "Aku tidak akan membiarkanmu melukai Miku-chan lagi! Aku akan melindunginya sepenuh hatiku!" Setelah itu, dia mengangkat kotak bekalnya dan memasukkannya ke dalam tasnya. "Lagipula, aku sama sekali tidak menghianatimu. Kau sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan Miku-chan kan?"
Kaito menundukkan kepalanya, menatap tanah subur tempat pohon rindang itu berdiri. Dia kemudian mendengar langkah kaki menjauh, tapi dia sudah tidak peduli. Seharusnya memang seperti itu. Seharusnya Kaito tidak peduli lagi pada Miku. Hubungannya dengan gadis itu sudah lama berakhir. Seharusnya dia melupakan semua kenangan itu. Menutup album lama mereka.
Tapi dia tidak bisa!
Dia tidak bisa dan tidak akan pernah bisa!
Leon serius.
Miku mungkin saja bisa jatuh cinta pada Leon.
Leon memiliki sifat penuh humor.
Miku selalu tertawa ketika bersama Leon.
Leon menyukai Miku.
Miku mungkin saja bisa jatuh cinta pada Leon.
Leon serius.
Miku selalu menangis gara-gara Kaito.
Leon akan menjaga Miku.
Miku mungkin saja bisa jatuh cinta pada Leon.
Leon serius.
Semua pikiran negatif menyeruak masuk ke pikiran Kaito.
"Maaf, Kaito-kun. Aku sudah tidak bisa lagi."
Gambaran Miku yang menutupi wajahnya dengan air mata sama sekali tidak bisa keluar dari pikiran Kaito.
Mata Kaito melebar. Dia tidak bisa membiarkan ini semua. Tidak bisa. Tidak bisa. Tidak akan pernah bisa. Tidak mau. Tidak mau. Tidak akan pernah mau. Dia jelas masih menyukai Miku. Tidak... Dia sangat-sangat menyukai Miku. Perasaan itu masih kuat. Sekuat saat hubungan mereka diakhiri dulu. Tidak berubah. Tidak berubah. Tidak akan pernah berubah!
Kaito meraih ponselnya dan memencet nomor Miku. Ketika sambungan telepon diangkat, Kaito bisa mendengar desahan napas Miku.
"Miku..." bisik Kaito pelan.
Miku masih tidak bicara di seberang sana.
"Miku... aku..."
"Kaito-kun..."
Akhirnya, Kaito bisa mendengar suara Miku. Seakan-akan seperti ratusan abad berlalu. Mendadak, dia bisa merasakan semua perasaannya mendesak keluar.
"Miku... aku..." Kaito membuka mulutnya kemudian menutupnya lagi. Dia bahkan tidak tahu bagaimana dia harus menyampaikannya. Perasaannya begitu besar hingga tidak bisa diekspresikan lewat kata-kata. "Aku..."
"Aku sudah mengerti, Kaito-kun."
"A-apa yang..."
"Aku mengerti betul perasaan Kaito-kun." Suara gadis di seberang telepon terdengar sangat pelan, lembut, dan sedih. "Maaf karena aku sama sekali tidak sadar. Maaf."
"Apa yang kau maksud?"
"Aku... tidak akan menyusahkan Kaito-kun lagi. Maaf."
"Apa yang kau bicarakan, Miku?" Kaito mengenggam ponselnya dengan erat. Dia bisa merasakan buku jarinya hampir memutih.
"Maaf aku selama ini tidak menyadarinya... Megurine-san... dia pasti..."
Kenapa tuan putri itu mendadak muncul? Kenapa?
"Miku, dengar dulu! Soal dansa di pesta itu..."
"Aku sudah mengerti, Kaito-kun." Suara di seberang semakin pelan dan lemah. "Leon sudah menjelaskan semuanya padaku."
"Leon... dia tidak... Miku, kau harus dengarkan aku... Aku serius! Aku..."
"Selamat atas hubunganmu dengan Megurine-san. O..." Kaito bisa mendengar suara isakan tangis di seberang sana. "Ome... detoo..."
Kemudian sunyi dan sambungan telepon di putus.
白い雪のプリンセスは
a.n. tepat tanggal 10 Juni 2011 tepat jam 23.59, saya resmi masuk jurusan yang sama seperti Luka, Kaito, Miku, dan Leon. Manajemen Rekayasa Industri.
Lagu yang mengiringi proses pembuatan cerita ini adalah Moshimo Hanashi, sebuah lagu lembut karya Scop. Coba didengerin, terutama untuk part terakhir pas Kaito nelpon Miku. Bukan... bukan promosi walaupun saya emang suka banget sama Scop, tapi emang mendukung banget!
Dengerinnya yang versi Scop asli ya, bukan yang dinyanyiin ama Miku! Soalnya yang versi Scop jauh kedengaran lebih sedih!
Terus, entah kenapa tiba-tiba karakter Luka disini ngancurin hubungan semua orang ya... (menghela napas). Soal kecepatan alur, entah deh pas, kecepatan, atau kelambatan. Kayaknya deskripsinya kurang, tapi beneran bingung mau nambahin apa lagi! Masalah gaya penulisan, semoga tidak berubah dari awal! Walaupun begitu, saya usahakan tetap menyeimbangkan banyaknya kata dari setiap chapter karena jujur saja, saya mulai merasa 3000 kata itu sedikit sekali, tapi di Shiroi Yuki No Purinsesu wa. ini mungkin kisarannya tetap 2000-3500. Kalau lebih dari itu, akan disebutkan di awal kok, tenang aja!
Yah, kita lihat aja nanti akan berjalan kemana cerita ini. :)
dan yang pasti, maaf atas keterlambatan update dari yang seharusnya!
(bab cerita ini sama sekali nggak nambah sejak empat bulan yang lalu... ;_;)
ditunggu pendapatnya yaa! Jangan pernah raguuu!
