"INO! INO! LIHAT, ADA GAARA SENPAI!"

Gaara sedang berlari untuk menghindari hukuman dari guru olahraga akibat rambutnya yang merah menyala sudah melewati batas yang diperbolehkan. Ketika berlari di depan Sakura, laki-laki itu menyempatkan diri untuk berdiri tegak dan mengedipkan mata, sebelum kembali berlari menghindari hukuman.

Sakura segera saja berteriak kencang dan beberapa gadis di sekitarnya juga ikut berteriak. Entah untuk siapa kedipan itu, namun semua gadis yang ada disana cukup senang mendapatkan pemandangan indah seperti tadi.

Gaara, dengan kaus olahraganya yang kebesaran, berlari-lari sementara seluruh tubuhnya mengkilat oleh keringat, menyempatkan diri untuk berhenti dan mengedipkan mata.

"Sakura, cepat bereskan barang-barangmu. Kau berjanji padaku kalau kau akan menemaniku membeli cat kuku, kan?" ujar Ino mengingatkan, menarik tangan Sakura untuk pergi dari koridor kelas satu. Mereka berjalan cepat-cepat menuju kelas yang berada di lantai tiga, lalu diam-diam mengambil tas dan keluar dari pintu belakang sekolah.

"Hei! Yamanaka! Haruno!"

Ino dan Sakura tertawa saat pengawas sekolah mereka terlambat menyadari kalau ada dua orang murid yang pergi membolos saat jam pelajaran. Ino berhasil memaksanya untuk pergi saat jam pelajaran belum selesai, karena toko yang ditujunya sangat jauh dan mereka bisa kehabisan sebelum sempat membeli apa-apa.

"Tunggu-tunggu, aku ingin membeli es krim." Ujar Sakura, menahan tangan temannya saat mereka melewati toko kecil. Sakura meraih es krim rasa buah kesukaannya, menunggu Ino yang ternyata juga tergoda untuk membeli es krim dan kemudian melanjutkan langkah mereka.

"Gaara senpai benar-benar keren, ya?"

"Dia tidak terlalu menyenangkan. Percaya padaku." Ujar Ino, menggigit es krimnya begitu saja sementara ia dan Sakura berjalan memasuki bus. "Dia hanya mentraktirku makan takoyaki setiap kami berkencan, itu kenapa aku memutuskannya. Hati-hati, Sakura. Kudengar Gaara itu brengsek."

Mereka dan Gaara sebenarnya sama-sama berada di tingkat akhir, namun Gaara sempat tinggal kelas dua kali dan seluruh siswa di sekolah mereka secara bersamaan menjulukinya dengan kata senpai. Meskipun kapasitas otaknya lebih sedikit dibandingkan air yang berada di botol air mineral––begitulah kata Ino saat gadis itu baru saja putus dari Gaara––, tapi Gaara secara visual lebih baik dibandingkan apapun.

Sakura memilih duduk di dekat jendela, lalu memandang Ino. "Sepertinya kau masih belum bisa lepas dari Shikamaru, ya?"

"Aku hanya tidak mengerti kenapa ia memutuskanku." Ujar Ino kesal. "Aku kira ia akan langsung mengajakku menikah."

Sakura tertawa, disambut dengan cengiran dari Ino. Mereka memperhatikan beberapa anak sekolah lain yang menatap mereka dengan tatapan tidak suka, terutama ke arah Ino. Anting-anting gadis itu memang cukup mencolok, namun Sakura tidak pernah merasa terganggu akan hal tersebut. Ia tidak mengerti kenapa banyak orang tidak suka pada Ino.

Berada di bus selama satu jam mau tidak mau membuat Ino dan Sakura tertidur. Kedua gadis itu terbangun ketika bus berhenti mendadak. Tujuan mereka sudah dekat, dan tidak baik kalau mereka kembali tertidur. Saat bus berhenti di depan halte yang mereka tuju, Sakura dan Ino cepat-cepat turun.

Toko cat kuku yang dimaksud Ino masih sepi dan mereka memasuki toko tersebut dengan senyuman senang. Ino bilang padanya kalau ia akan langsung membeli dua puluh botol cat kuku sekaligus. Semua cat kuku disini sangat murah karena toko ini adalah agen pertama, dia akan menyebarkan cat kuku ke toko-toko lainnya dan biasanya dijual dengan harga tiga kali lipatnya.

Sakura meraih botol cat kuku berwarna merah muda dan biru toska, menyerahkannya pada Ino yang sudah siap dengan keranjang penuh cat kuku. Beberapa anak dari sekolah yang berbeda mulai datang, karena itulah toko mulai penuh dan berdesakkan. Setelah mengirimkan sinyal pada Ino kalau ia akan menunggu di luar, Sakura pergi ke luar toko.

Gadis itu mengeluarkan kamera dari dalam tasnya. Belakangan ini, ia sangat suka berkutat dengan kamera tua ayahnya itu. Apapun yang menurutnya menarik akan ia ambil gambarnya, walaupun pada akhirnya ia harus merengek pada ayah dan ibunya untuk memberikan tambahan uang saku karena uangnya sudah habis untuk mencuci foto-foto tadi.

Ia sedang mengambil gambar jalanan penyebrangan Tokyo yang ramai ketika fokusnya terarah kepada segerombolan orang yang sedang berbicara sambil menyebrang. Ada empat orang––dua wanita dan dua pria––yang sedang berbicara sambil tertawa-tawa. Mereka terlihat sangat hidup.

Sakura mengarahkan kameranya ke arah gerombolan itu dan mengambil gambar mereka. Tanpa disangkanya, empat orang itu berhenti di dekatnya untuk membeli kopi. Diam-diam ia kembali mengarahkan kamera ke arah mereka.

"Hei! Lihat, ada yang mengambil gambar kita!"

Seorang pria berkulit kecokelatan menyadari aksi Sakura dan membuat gadis gelagapan. Baru saja ia ingin berlari dan kabur, sebuah tangan pucat menahan tasnya. Sakura menjerit-jerit takut dan berusaha untuk menarik iba orang-orang disekitarnya.

Namun, Tokyo terlalu sibuk.

"Apa yang kau lakukan? Kau penguntit, ya?" tanya pria itu, orang yang berbeda dengan si pria cokelat.

Sakura menggeleng cepat-cepat. "Aku bukan pengungtit! Aku hanya mengambil gambar kalian, itu saja..."

"Apa yang kau lakukan, Kakashi, lepaskan dia." Ujar seorang wanita, menarik Sakura mendekat dan menenangkannya. "Tenang saja. Kau sedang gemar fotografi, ya?"

Sakura mengangguk. Setidaknya, wanita ini tidak membuatnya takut. Pria yang tadi menahan tasnya memang benar-benar menyeramkan. Kulitnya putih pucat seperti vampir. Ketika sadar Sakura sedang memperhatikan, kedua matanya membulat dan sukses membuat Sakura memalingkan wajahnya kembali.

"Wah, ini, 'kan, almamaterku." Ujar seorang wanita lain dengan rambut cokelat. "Halo, Sakura Haruno. Aku Mei, Kurenai, dia Asuma, dan..." Mei menoleh ke belakang, menunjuk Kakashi. "Pangeran kami. Kakashi Hatake."

Sakura dapat melihat pria bernama Kakashi itu tidak memberikan respon apapun. Karena itu, Sakura hanya memberikan anggukan singkat ke arah Mei.

Ino keluar dari dalam toko dan terlihat bingung ketika temannya sedang berbicara dengan orang-orang dewasa. Ia berjalan ke arah Sakura, menunjukkan tampang 'jangan-ganggu-temanku' ke arah orang-orang itu dan segera merangkul temannya.

"Apa ada masalah... orang-orang dewasa?" tanyanya dengan nada berbahaya.

Bukannya takut atau merasa tersindir, orang-orang itu malahan tertawa. Ketika melihat mereka tertawa itulah, Ino menyadari kalau orang-orang ini bukanlah orang-orang jahat. Mau tidak mau, Ino ikut tertawa. Meski tidak tahu tertawa karena apa, tapi Sakura pada akhirnya menyerah dan ikut tertawa.

"Kalian lucu sekali," ujar wanita bernama Kurenai, dengan rambutnya yang digelung tinggi ke atas. "Siapa namamu?"

"Ino Yamanaka." Ujar Ino.

"Dan kau?"

Sakura mengangkat kepalanya, memberikan senyuman. "Sakura Haruno."

"Baiklah. Yamanaka, apakah kau bisa mengambil gambar kami?" tanya Kurenai, memindahtangankan kamera Sakura kepada Ino. "Temanmu Haruno ini tadi mengambil gambar kami diam-diam, jadi kami menegurnya. Sekarang, biarkan sang fotografer berfoto dengan modelnya."

Sakura berdiri, diapit oleh orang-orang itu. Ia melihat Kakashi yang mencibir namun kemudian ditarik oleh Kurenai untuk mendekat. Ketika Kakashi pada akhirnya berfoto di sebelahnya dengan wajah masam, Sakura dapat mengingat untuk pertama kalinya aroma anggur dari sabun cuci tangan pria itu.

.

.

.

Sakura melipat rok sekolahnya agar terlihat pendek. Beberapa bulan lagi ia akan lulus dari sekolah ini dan tidak ada yang dapat membuatnya berhenti berbuat onar.

Hari ini Ino harus mengikuti ekstrakulikuler cheerleader. Mempunyai teman seperti Ino memang kadang-kadang membuatnya iri. Meski begitu, saat memasuki bus untuk kesekian kalinya hari ini, ia selalu bersyukur mempunyai teman baik seperti Ino.

Berbeda dengan Ino yang merupakan anak top di sekolah, Sakura nyaris tidak kelihatan. Ia adalah salah satu ketua redaksi majalah dinding––domisilinya berada di depan ruangan aula, yang paling jarang dibaca oleh anak-anak sekolahnya––dan biasanya ia akan menulis tentang betapa berbahayanya zat-zat beracun bagi pelindung bumi.

Sakura harus membeli bahan-bahan yang akan dipakainya untuk membuat majalah dinding ini. Sialnya, semua orang yang bisa ia suruh sedang sangat sibuk karena sebentar lagi ada festival kecil yang diselenggarakan oleh sekolah. Hanya Sakura yang bisa membuat majalah dinding tersebut.

Ia tidak peduli dengan sindiran dan cemooh yang diberikan oleh orang-orang ketika membaca artikelnya. Bagi Sakura, semua hal yang tidak diketahuinya pasti tidak diketahui juga oleh orang lain. Karena ia sangat senang membaca. Sementara orang-orang di sekolahnya yang berotak seperti batu sudah dipastikan jarang membaca.

Hanya ada tiga orang siswa yang tidak pernah mengeluh ketika membaca majalah dinding Sakura. Sakura––karena ia yang menulisnya––, Ino––karena Ino tidak pernah membacanya––, dan Gaara. Gaara bahkan pernah memandangi majalah dinding dan artikel Sakura selama berjam-jam dan membolos pelajaran untuk itu.

Saat Sakura tanya kenapa laki-laki itu melakukannya, Gaara hanya menjawab, "Aku tidak bisa mengerti satu kalimatpun dalam artikelmu. Aku langsung penasaran dan merasa kau adalah orang yang menarik."

Saat itu Sakura dengan gugup menaikkan kacamata dan berusaha untuk menutup mulutnya rapat-rapat, demi menyembunyikan kawat gigi yang sudah satu setengah tahun dipakainya. Ia tahu kalau Gaara mungkin saja akan langsung melupakannya hari itu, tapi pujian dari orang terkeren di sekolah mau tidak mau membuatnya melayang.

Sakura turun dari bus dan masuk ke dalam toko alat tulis besar yang ada di depannya. Tangannya dengan sigap memeluk beberapa lembar karton besar-besar berbeda warna dan papan gabus. Ia mengingat-ngingat apakah persediaan cat di ruang majalah dinding sudah habis atau belum, kemudian pada akhirnya mengambil cat berwarna merah.

Sebelum sebuah tangan mengambilnya terlebih dahulu.

"Kakashi Hatake!"

Jeritan Sakura membuat beberapa orang menoleh, terutama orang di belakangnya. Sakura memang tidak tahu betul siapa orang itu namun bau anggur dari sabun tangan yang digunakan oleh orang di belakangnya ini membuat Sakura yakin kalau orang itu adalah Kakashi Hatake.

"Bisakah kau tutup mulut?" tanya Kakashi kesal, saat Sakura sudah membalikkan tubuh dan memandang Kakashi lewat karton-karton yang dipeluknya.

"Kenapa kau mengambil cat itu? Aku baru saja akan mengambilnya!" ujar Sakura, mengerling ke arah cat yang diambil oleh Kakashi. "Harusnya kau mengalah!"

"Aku mengambilnya lebih dulu. Kau kalah cepat." Balas Kakashi, langsung membalikkan tubuhnya begitu saja dan berjalan meninggalkan Sakura.

Sakura menghela nafasnya, memutuskan untuk tidak cari masalah dan akan mencari cat merah di toko lain saja. Ia berjalan menuju kasir, meletakkan barang-barangnya dan menyerahkan sejumplah uang.

"AAAAH!"

Seorang pria dengan baju penuh dengan cat merah berteriak-teriak di dalam toko. Tidak jauh di depannya, Kakashi berjalan dengan santai, melewati Sakura tanpa menoleh sama sekali, keluar dari toko. Sakura yang melihat itu yakin kalau Kakashi sengaja menumpahkan catnya ke laki-laki malang tadi.

Setelah menerima plastik penuh karton miliknya, Sakura berjalan mendekat ke arah laki-laki itu dan memberikan sapu tangannya. Ia tersenyum ketika pria itu mengembalikan sapu tangannya yang sekarang penuh dengan cat merah, kemudian pada akhirnya berlalu begitu saja penuh rasa malu.

Dasar Kakashi si orang gila, umpat Sakura dalam hatinya, keluar dari dalam toko alat tulis dengan gerakan lambat. Matanya sibuk membaca setiap tulisan yang ada di nota, mencocokkan barang-barang yang ada dalam plastiknya ini dengan yang dituliskan.

Sakura berhenti di depan sebuah kedai kopi dan meletakkan barang-barangnya di salah satu meja. Ia memastikan uangnya masih cukup untuk membeli segelas kopi.

"Caffe latte."

"Kopi hitam."

Bau sabun tangan beraroma anggur kembali membuatnya kesal. Sakura menoleh ke belakang, mendapati Kakashi yang terlebih dahulu menyerahkan uang. Dengan begitu, pesanan pria itu lebih dulu diproses daripada Sakura.

"Berhenti merecoki hidupku!"

"Berhenti muncul di depanku." Ujar Kakashi tidak peduli, tangannya menerima uluran segelas kopi hitam sementara matanya memperhatikan Sakura yang sedang menerima uluran kopi juga. "Kau duduk dimana?"

Sakura tidak mau menjawab. Kakashi tersenyum, menunjuk suatu meja. "Disana, kurasa."

Tanpa permisi, laki-laki itu berjalan dan duduk disana. Ia membuka plastik Sakura yang penuh karton dan menarik keluar sapu tangan gadis itu yang penuh dengan cat merah.

"Apa yang kau lakukan? Itu saputanganku!" kata Sakura, meletakkan caffe latte-nya dengan buru-buru dan berusaha merebut saputangannya. "Kembalikan, Kakashi!"

"Hei, anak kecil, siapa kau sampai bisa memanggil namaku seperti itu?" tanya Kakashi kesal, mendorong kening Sakura dengan telunjuknya sampai gadis itu diam. "Aku akan mencuci saputanganmu. Akan ku kembalikan secepatnya."

Sakura bungkam dan menyesap caffe latte-nya banyak-banyak. Ia tidak mempedulikan ketika Kakashi menarik keluar sebuah saputangan lainnya––berwarna putih polos, tidak seperti saputangan merah mudanya yang ia beri bordiran rilakkuma di tengah-tengah, sapu tangan Kakashi sangat jelek dan terlihat seperti tisu––dan memberikannya ke arah Sakura.

"Besok kita bertemu lagi, oke? Disini." Ujar Kakashi, mengusap-usap kepala Sakura dengan kedua matanya yang melengkung karena tersenyum.

Tanpa sempat menjawab, Kakashi berlalu begitu saja dari hadapannya. Saat pria itu dengan entengnya membuang gelas kopinya yang masih penuh di tong sampah terdekat, Sakura langsung mengira-ngira apa yang sebenarnya dikerjakan oleh pria itu.

.

.

Sakura memainkan ujung kemeja seragamnya sembari menunggu Kakashi untuk muncul. Saputangan pria itu sudah ia lipat rapi-rapi di dalam tasnya. Sakura ingat kalau ia pernah membiarkan Gaara memegang saputangannya itu sekali, dan ia tidak akan membiarkan Kakashi membawa saputangannya pergi.

Beberapa menit kemudian, Kakashi muncul dan berjalan dengan tenang ke arah Sakura. Pria itu mengulurkan saputangan Sakura––yang ternyata tidak dicuci sama sekali––ke arah sang pemilik dan mengambil saputangannya begitu saja.

Lalu pergi.

"Hei!" jerit Sakura tidak terima. "HEI KAKASHI HATAKE!"

Kakashi menoleh, senyumannya mengembang namun siapapun tahu kalau senyuman tersebut adalah senyuman 'siapa-anak-kecil-yang-berani-memanggilku-seperti-itu'-nya. Ia membiarkan Sakura mendatanginya sambil mengacungkan saputangan merah muda berbordir rilakkuma-nya.

"Kenapa kau tidak mencucinya? Dasar tidak sopan!" Sakura berteriak tidak terima.

"Bukan aku yang memakainya. Kenapa aku harus mencucinya?"

"Tapi kau yang menumpahkan cat itu!"

"Memang. Tapi aku tidak memakainya."

"Tapi kau yang MENUMPAHKANNYA!"

Jeritan Sakura yang menggelegar mau tidak mau membuat Kakashi harus mengusap-usap telinganya yang terasa panas.

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Kakashi tidak tahu apa yang terjadi pada gadis muda di depannya, tapi ia merasa Sakura mulai menggila. Dengan tatapan bersalahnya pada beberapa orang di sekitar, Kakashi segera menarik Sakura masuk ke dalam mobil.

Sakura melipat kedua tangannya di depan dada, tidak mau angkat bicara duluan.

"Kenapa kau berteriak-teriak?"

"Kau tidak mencuci saputanganku."

"Itu saja?"

Sakura mengangguk-angguk. Kakashi menghela nafasnya, menekan pedal gas dan menjalankan mobilnya menuju salah satu tempat laundry yang tidak jauh dari sana.

Dan sepuluh menit kemudian, Sakura sedang menangis terisak-isak ketika ia mendapati bahwa noda cat di saputangannya tidak bisa hilang. Dengan penuh tatapan benci, ia melemparkan saputangan tersebut ke wajah Kakashi dan berjalan dengan marah, keluar dari tempat laundry tersebut tanpa mempedulikan tatapan bingung orang-orang di sekitar.

Kakashi muncul di depannya dan memberikan saputangan putih lainnya yang dia ambil dari dalam saku ke arah Sakura.

"Maafkan aku. Aku tidak tahu dimana kau membelinya, tapi kuharap ini dapat menggantinya." Ujar Kakashi, secara sepihak menempelkan saputangan itu ke wajah Sakura, membuat gadis itu kesulitan bernapas untuk beberapa saat. "Aku harus pergi."

.

.

Sakura tidak tahu kenapa ia ingin sekali bertemu dengan Kakashi. Ia harus mengakui kalau Kakashi benar-benar tampan. Tapi walaupun ia sangat ingin bertemu dengan pria itu, ia tidak tahu apa-apa tentangnya kecuali nama dan penampilannya.

Karena itulah, selama seminggu terakhir ini, Sakura mendatangi toko cat kuku, toko alat tulis, dan kedai kopi berkali-kali. Tempat-tempat tersebut adalah tempat ketika ia bertemu dengan Kakashi. Setiap menapak di tempat tadi, Sakura selalu berharap Kakashi ada disana, mungkin sedang memesan kopi atau membeli cat.

"Dia tidak pernah muncul." Ujar Sakura sedih.

Sakura berjalan begitu saja menyebrangi jalan, menyusuri jalanan khusus pejalan kaki di depan kedai-kedai yang membingkai jalan raya. Matanya terus menelusuri setiap orang yang berada di depannya, mencoba mencari seorang pria berkulit pucat yang mungkin saja muncul tiba-tiba.

Ia ingin menceritakan banyak hal pada Kakashi. Hari ini Ino mengajarinya cara memakai lensa kontak, jadi saat upacara kelulusan nanti, Sakura bisa melepas kacamatanya. Ia juga akan memaksa ayah dan ibunya untuk memperbolehkannya melepas kawat giginya. Menurutnya, kawat gigi ini tidak memberikan pengaruh apapun karena giginya sudah rapi.

"Aku rasa aku menyukai Kakashi." Gumam Sakura lagi.

Hal itu bukannya tidak mungkin. Ia pernah menyukai Sasuke, kakak kelasnya dulu yang baru dilihatnya selama tiga jam penuh saat pertandingan basket dan langsung mengejarnya selama berbulan-bulan. Atau Shino, laki-laki misterius yang selalu ia lihat berada di perpustakaan dan klub mendaki setiap pulang sekolah, lalu diam-diam selalu diperhatikan oleh Sakura berbulan-bulan lamanya pula.

Dan yang terakhir adalah Gaara. Tapi semua orang di sekolah menyukainya.

Yang membuat Sakura tersiksa adalah, ia tidak bisa mengejar-ngejar Kakashi seperti ia mengejar-ngejar Sasuke dan Shino dulu. Ia tidak tahu apapun tentang Kakashi, dan yang lebih parahnya lagi, Kakashi bukan siswa sekolah seperti dirinya ataupun laki-laki yang sudah disebutkan tadi.

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA! KAKASHI HATAKE, KELUAR KAU!"

Sakura berteriak kencang, tidak mempedulikan orang-orang yang berhenti sejenak untuk menatapnya. Ia berharap ada yang menariknya untuk menjauh, memasukkannya ke dalam mobil dan bertanya 'apa-maumu' ke arahnya.

"Sakura..."

Seseorang memeluknya begitu saja. Sakura membuka kedua matanya, terkejut mendapati Kakashi sedang memeluknya erat-erat. Meskipun kasihan karena laki-laki itu harus menunduk cukup jauh agar bisa memeluknya, namun Sakura bersyukur dan balas memeluknya dengan erat sekali.

Baru saja sepuluh detik ia memeluk Kakashi, pria itu melepaskan pelukannya dan memandang Sakura.

"Aku sudah bilang, jangan pergi diam-diam dari rumah sakit. Mentalmu masih terganggu, adikku."

Beberapa orang yang sedari tadi memperhatikan Sakura dengan bingung kemudian mengangguk-angguk. Seketika itu juga, Sakura tersenyum jengkel. Pria ini benar-benar membuatnya malu.

"KAKASHI HATAKE! KELUAR KAU! KAKASHI HATAKEEEEEEEEE!"

Jeritan Sakura kali ini lebih dahsyat dan akibatnya Kakashi sampai harus menggendongnya untuk pergi dari sana. Mobil Kakashi yang cukup jauh membuat Sakura mampu meronta-ronta lebih lama dan menarik perhatian banyak orang.

Kakashi memasukkannya ke dalam mobil dan menyalakan mesin. Laki-laki itu melipat kedua tangannya di depan dada, bersiap membuka mulut.

"Apa maumu?" ujar Sakura, menirukan nada bicara Kakashi. "Sepertinya kita benar-benar berjodoh. Aku baru saja memanggil namamu sekali tapi kau langsung keluar dan memelukku dengan begitu kencangnya."

"Apa kau gila? Sepertinya kau benar-benar harus kumasukkan ke dalam rumah sakit jiwa." Ujar Kakashi kesal, melemparkan saputangan putih yang dibordir Sakura begitu saja ke arahnya. "Semua orang menertawakanku. Tidak sopan bagi seseorang untuk menambahkan apapun pada barang yang dipinjamnya."

"Pinjam apa? Kau memberikannya padaku! Lagipula, aku juga sudah membordir yang ini. Sekarang kita punya saputangan kembar." Ujar Sakura senang, menunjukkan saputangan yang baru saja di bordir. "Kau simpan yang ini, aku yang––"

Kakashi berdecak malas, menatap Sakura di sebelahnya. "Apa maumu, hah? Aku tidak punya waktu untuk bermain-main dengan anak sekolahan."

Sakura melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku tidak bermain-main sama sekali."

Kakashi baru saja ingin menjawab ketika ponselnya berdering. Pria itu meraih ponselnya, mendekatkannya ke arah telinga. "Ya?"

Sementara Kakashi menjawab teleponnya, Sakura sibuk memperhatikan seisi mobil Kakashi. Sejauh penglihatannya, tidak ada barang-barang pribadi seperti kartu nama ataupun botol parfum disini. Mobil ini kosong dan bersih seperti mobil baru.

"Sekarang? Senpai, aku sedang––baiklah."

Kakashi memperhatikan Sakura yang sedang melihat-lihat, lalu membuka kunci mobilnya. "Keluar. Aku harus pergi."

"Pergi kemana? Aku tidak mau keluar!"

"Tunggu saja disini, nanti aku akan datang lagi."

"Pembohong! Tidak mau keluar!"

Kakashi melihat jam di mobilnya yang tidak pernah berhenti, lalu segera menekan pedal gasnya dalam-dalam. Yang perlu dilakukannya adalah tiba di kantor dalam waktu lima menit, membiarkan Sakura menghabiskan waktu di dalam mobilnya, lalu ia akan mengusir gadis merepotkan itu dari mobilnya.

Kakashi memberhentikan mobilnya beberapa menit kemudian, lalu melepas seatbelt dan memperingatkan Sakura untuk tidak keluar.

Tentu saja Sakura keluar dari mobil setelah memastikan Kakashi sudah tidak dapat melihatnya lagi. Ia memandang gedung di depannya dengan huruf A besar-besar di muka gedung dan berdecak kagum. Meski tidak tahu apa pekerjaan pria itu, gedung kantor dan mobil Kakashi sudah cukup menjelaskan kenapa pria itu mau membuang kopi yang bahkan belum diminumnya.

Sakura berjalan masuk dan ia segera saja dihujani tatapan bingung dari orang-orang di sekelilingnya. Matanya menangkap sosok Kurenai dan segera saja ia melambaikan tangan saat wanita itu mendekat.

"Sakura? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Kurenai bingung.

"Kakashi yang membawaku."

Sakura tidak berbohong, tidak juga berkata jujur. Ketika Kurenai menatapnya dengan tatapan menyelidik lebih jauh, Sakura mengeluarkan saputangan yang ada di sakunya dan menunjukkannya ke arah Kurenai.

"Ini saputangan yang kemarin dipakai Kakashi, 'kan? Kenapa ada dua dan––oh." Kurenai tersenyum, mengangguk-angguk. "Jadi kau dan Kakashi..."

Sakura ikut mengangguk-angguk dengan senang. Ia tidak menyadari kalau banyak orang yang memperhatikan percakapannya dengan Kurenai tadi. Sakura hanya diam saat Kurenai memanggil Kakashi yang beberapa menit kemudian muncul dari dalam lift.

"Kenapa kau ada disini?" tanya Kakashi, kemudian berpaling ke arah Kurenai dan memberikan setumpuk map. "Ketua satu memintamu untuk kembali mengoreksi ini. Dan, hei, apa yang kau lakukan disini? Cepat kembali ke mobil."

"Kakashi, kau memacari anak sekolahan?"

"Dia masih kecil sekali, Hatake. Yang benar saja."

"Dia seumuran dengan anakku. Berapa umurmu, Nak?"

"Pelan-pelan saja, Kakashi. Dia masih terlalu muda."

"Selera Kakashi jauh berubah."

"Sialan..." geram Kakashi kesal.

Pria itu mengangkat kepalanya, menatap Sakura yang kini sedang memandangnya dengan takut-takut. "Keluar, Sakura..." ujarnya tenang dan dalam. Membuat Sakura bergidik dan cepat-cepat angkat kaki dari gedung tersebut.

.

.

.

iya, ini before storynya reloving. dibaca ya supaya pada paham:)))))))))))) ai lofyu gaez.