SIMPLE HIM
"Oh lihat siapa yang berada disini."
Chanyeol maupun Narae mengalihkan kepala serantak pagi pintu terbuka. Yoora terlihat disana, raut wajahnya datar sedang sepasang hazel kembar miliknya menukik tajam pada wanita lain di ruangan itu.
Narae menarik tungkai menegak kembali. Menarik senyum tipis kemudian menyapa, "Yoora eonni."
Yoora berdecih kala nada mendayu itu menyapa inderanya. Ia menapak lantai kembali dan berdiri angkuh di depan sana. Chanyeol menghela nafas sedang Narae mempertahankan air wajah ramah miliknya.
"Kau benar-benar sangat mudah di tebak ya." Yoora menyindir tanpa peduli. Bola matanya bergulir memperhatikan wanita Ahn itu menyeluruh, penuh penilaian namun tak benar membuat Narae tersinggung karenanya. "Kau pasti kesulitan dengan semua sponsor yang menarik kerjasama denganmu."
Narae taunya tertawa. Ia menutup mulutnya dengan satu tangan-menahan ledakan tawanya disana. Yoora terlihat tak suka sedang Chanyeol lagi menghela nafas. Ini bahkan selalu terjadi tiap kali dua orang bergender sama ini bertemu.
"Eonni apa yang kau bicarakan? Sepertinya kau salah paham mengenai apa yang terjadi di Paris," Narae menelan tawa. "Eonni masih saja suka termakan rumor ternyata."
"Rubah ini..." Yoora berdesis menahan amarah. Ia telah maju selangkah jika saja Chanyeol tak menyela dari tempatnya.
"Hentikan pembicaraan tak penting kalian." Katanya tanpa minat. Matanya berputar sekali sebelum bergulir kepada Narae. "Pergilah, kami memiliki sesuatu yang dibicarakan." Katanya.
Narae mengangguk cepat tanpa bantahan. Ia keluar dari balik meja Chanyeol dan berhenti di depan Yoora sesaat. "Aku akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kapan-kapan. Bersabarlah dan jangan dibohongi oleh artikel lagi hm... Eonni." Ia menyunggingkan senyum terakhir sebelum melanjutkan langkah kembali.
"Benar-benar jalang tidak tau diri." Yoora mengumpat. Narae mengabaikannya dengan menutup pintu ruangan Chanyeol dengan debuman pelan disana.
"Sudahlah Noona." Chanyeol beralih kepada saudaranya itu kemudian. "Kau tau seperti apa dirinya, seharusnya itu tak memperngaruhimu, bukan?"
"Aku benar-benar ingin merobek muka botoksnya itu. Dasar rubah jalang sialan!" Yoora mengumpat lagi. Nafasnya bergulung menahan emosi dan telah memiliki niatan untuk mengejar wanita itu dan melakukan apa yang ia katakan. Kukunya panjang dan sempurna untuk cakaran untuk wajah wanita itu.
"Lalu mengapa noona berada disini?"
Namun pertanyaan Chanyeol setelahnya, membuat fokusnya terburai dan ia kembali ingat apa menjadi alasannya berada di kantor saudaranya itu.
Yoora mendengus sekali dan menghentak kakinya kemudian. "Mengapa menurutmu?" Wanita itu balik melempar tanya. "Kau masih saja bersama dengan kebiasaanmu seperti itu. Berkelakuan brengsek dan lari seperti pengecut."
"Noona hati-hati dengan ucapanmu."
"Kau memperkosanya dan bagaimana aku bisa menahan apa yang ingin aku katakan padamu?"
Chanyeol sontak terdiam. Baekhyun... Yoora jelas tengah membicarakan Baekhyun. Membicarakan apa yang ia lakukan pada anak itu semalam dan semua tudingan yang taunya benar adanya.
"Dia bahkan sedang hamil Chanyeol, lalu bagaimana bisa kau melakukan hal itu padanya? Kau seharusnya tidak, setelah mengatakan ingin menjaga dirinya. Lalu?" Yoora tak mengerti mengapa dadanya terasa bergemuruh. Rasanya menyakitkan sedang Baekhyun bahkan tak memiliki hubungan apapun dengannya. Seharusnya ia tak peduli, apapun yang terjadi padanya. Tapi tidak bagaimana iba itu berganti rasa sayang dalam dirinya, tak sekedar pada janin yang tengah remaja itu kandung, tapi untuk dirinya pun... sama besarnya seperti itu.
"Aku hilang kendali. Aku tak seharusnya memaksa dia seperti itu, aku tau dan aku... menyesal." Chanyeol berujar rendah. Sarat penyesalan membara di setiap kata yang ia ucapkan
Yoora memejamkan mata sesaat dan menempatkan dirinya duduk di sofa. Bersandar sedang isi kepala menerawang pada hal lampau.
Chanyeol pada tempatnya tanpa sadar ikut membiarkan memorynya berputar pada kejadian malam lalu. Pada apa yang ia lakukan sebelumnya, cengkraman tangan kuat, hempasan kuat, ikatan kemeja kuat, juga hentakkan kuat bertubi yang ia lakukan.
Chanyeol memejamkan mata dan inderanya berdengung untuk semua makian yang ia lontarkan kala itu. Chanyeol berdegup kencang. Itu sedikit nyeri bagaimana per kata miliknya menguar begitu saja, tanpa beban sedang motoriknya melecehkan anak itu.
Chanyeol menyesal. Ia merutuki dirinya berulang walau itu tak benar membantu membuat degupan dadanya terasa lebih baik. Membuat nyeri di dalam sana terasa lebih baik.
"Kau tau Chanyeol..." Pelan suara Yoora memecah jalinan keterdiaman mereka. "Kita hanya memiliki pesakitan yang sama di masa lalu, kupikir itu membuat semuanya menjadi lebih mudah dipahami." Yoora membawa hazelnya bersitatap dengan Chanyeol. "Tidakkah?"
"Ya." Chanyeol mendesah pelan.
"Baekhyun masih memilikinya."
Itu membuat Chanyeol tersenyum dalam getir. "Aku menekan perutnya dengan keras."
"Kau meninggalkan bekas yang sangat jelas." Yoora menimpali kembali. "Jangan lakukan hal itu lagi Chanyeol."
"Aku tidak akan." Chanyeol menukas cepat. Tegas dan Yoora tersenyum dengan kesungguhan itu.
Chanyeol memiliki pribadi yang keras. Ada banyak hal yang terjadi semasa mudanya dulu yang membuat ia memiliki tembok pertahanan seperti itu. Chanyeol keras dan dia kasar. Namun dibalik itu, Chanyeol penuh kasih. Untuk apa yang ia sayangi, maka ia akan melindunginya. Hanya kadang, tembok miliknya terlalu kokoh dan menguasainya dengan perlakuan kasar tanpa sadar ia lakukan.
Chanyeol hanya perlu mengendalikan hal itu. Mengendalikan dirinya dan Yoora tau Chanyeol akan seperti itu.
"Dan si rubah ular itu telah berada disini sekarang, apa yang akan kau lakukan untuk menghadapinya?"
...
Satu-satunya yang Baekhyun lakukan kala mendapatkan kesadarannya kembali, ialah memegang perutnya. Mengusap bagian itu dan mendesah lega ketika masih mendapati gembungan dengan keras terasa disana. Bayinya masih berada disana dan itu membuat susupan kelegaan memenuhi dirinya.
Namun itu tak benar membuat tubuhnya merasa lebih baik.
Pusing masih menghinggapi seisi kepalanya. Pinggulnya terasa ngilu dan rasanya begitu menyakitkan hanya untuk sebuah gerakan pelan yang ia lakukan.
Baekhyun menggigit bibir menahan sakit dan memaksa posisinya berubah walau sedikit. Kebas terasa dan itu taunya membuat segalanya menjadi lebih buruk.
Baekhyun meringis dan lagi menggigit bibirnya. Sipitnya menatap putih langit-langit di atasnya dan mengerjab beberapa kali. Baekhyun tersadar kemudian, menyadari jika itu bukanlah kamar milik Chanyeol yang selama ini ia tempati.
Baekhyun memperhatikan sekitarannya dengan jeli dan ia temukan sebuah figura besar dengan Sehun sebagai objeknya. Oh, dia berada di kamar aktor itu ternyata.
Baekhyun mencoba mengingat apa yang membuat ia berakhir disana. Desahan nafas lain terdengar, memenuhi dirinya dan Baekhyun merenungi banyak hal dalam ingatannya. Namun pusing mendominasi lagi, merengut banyak hal dan ia perlahan kembali terjatuh dalam tidur.
...
Daun pintu kamar Sehun adalah tujuannya. Chanyeol berdiri disana, memutar kenop dan inderanya menangkap cepat sosok yabg berbaring di atas tempat tidur.
Chanyeol mengambil langkah, berdiri pada pinggiran empuk itu dan berdegup kencang lagi kala hazelnya bersinggungan dengan wajah lelap itu.
Chanyeol menekan perasaan yang menguar cepat dalam dirinya. Menyibak selimut yang menutupi sebagian besar tubuh mungil itu lalu merunduk. Membawa masing-masing lengannya pada bawah lutut dan tengkuk kemudian mengangkat ringan laki-laki yang tengah mengandung benih miliknya.
Baekhyun mengeliat kecil dalam bopongannya. Mencari posisi nyaman pada dada lebar Chanyeol tanpa sadar ia lakukan.
Chanyeol menarik langkahnya keluar dari kamar Sehun. Menuju kamar miliknya, mendorong pintu dengan terbuka dengan pelan dan menuju tempat tidur. Chanyeol membaringkan Baekhyun hati-hati di atas empuk tempat tidurnya. Melepas sepatu yang ia kenakan lalu naik kesana pula.
Berbaring di samping Baekhyun sedang lengannya lagi memenjarakan tubuh mungil itu. Baekhyun melenguh sekali tapi tak benar membuat kesadaran menghampiri dirinya.
Baekhyun terlelap sedang dada Chanyeol menjadi sandaran. Aroma tubuh maskulin memenuhi indera pembaunya dan itu benar membuat tidurnya berkali lipat terasa lebih baik.
Baekhyun terlelap sedang Chanyeol memeluk dirinya.
...
Baekhyun terbangun lagi kala petang berganti. Ia menggeliat pelan dan semburat jingga yang berbias dari kaca besar kamar itu, mengenai irisnya. Baekhyun mengerjab dan reflek menyembunyikan wajahnya dari terpaan silau itu.
"Kau sudah bangun?" Kemudian sapaan itu terdengar.
Baekhyun sedikit tersentak dan ia segera menyadari semuanya. Menyadari keadaannya juga posisinya.
Baekhyun mendongak cepat dan itu membuat semuanya menjadi lebih jelas. Jelas bagaimana Chanyeol berada di sampingnya, berbaring dengannya dan mendekap tubuhnya.
Baekhyun menegang seketika. Pundaknya kaku sedang nafasnya tertahan di tenggorokannya. Sipitnya melebar dan Chanyeol melihat hal itu dengan balasan maklum.
Tangan besarnya merambat naik membelai punggung Baekhyun. Mengusapnya lembut dan berhenti pada helaian rambutnya.
Itu tak membuat segalanya terasa lebih baik. Baekhyun tercekat sedang niatan untuk melepaskan diri membuncah dalam dirinya. Ketakutan dan resah dalam dirinya mendominasi dan Chanyeol mengetahui hal itu.
"Maafkan aku." Berat suara Chanyeol membuat Baekhyun tak mampu bernafas. "Aku menyakitimu, maafkan aku." Chanyeol mengujarkannya berulang.
Baekhyun mengeliat, melepaskan diri namun Chanyeol menahan pergerakannya disana.
"Le-lepas..." Baekhyun merengek dan terkepal pada dada Chanyeol. Sorot matanya diliputi ketakutan dan Chanyeol melihat itu dengan terluka. Itu tidak mengenai Baekhyun yang menolak dirinya, alih-alih pancaran sipit itu... Chanyeol tak dungu hati untuk menyadari jika dirinya alasan dibalik itu semua. Semua perlakukannya... semua pesakitan yang Baekhyun terima darinya.
"Baekhyunie..." Chanyeol memanggilnya lembut, berusaha menenangkan.
Namun Baekhyun lagi menggeliat disana. Pergerakannya semakin tak beraturan dan Chanyeol tak memikirkan hal lain, selain membawa tubuh bergetar itu masuk ke dalam pelukannya.
"Ja-jangan... kumohon... A-aku tidak melakukan a-apapun..." Pinta suaranya memohon.
Nyeri dalam dadanya Chanyeol rasakan kembali. Laki-laki 28 tahun itu memejamkan matanya, membiarkan seluruh perih itu memerangkapi dirinya semakin jauh-mendengarkan raungan Baekhyun dengan isak tangis pilu yang sama seperti malam lalu.
"Kumohon... Maafkan a-aku... A-aku sungguh tidak melakukan apapun. Kumohon percayalah padaku."
"Aku tau kau tidak." Chanyeol berbisik padanya. "Kau tidak akan melakukannya, aku tau."
"Kumohon... sa-sakit sekali." Baekhyun lagi memohon disana.
"Baekhyun maafkan aku." Chanyeol merasa konyol dengan matanya yang terasa panas kemudian. "Maafkan aku, maaf. Maaf..." Chanyeol mengujarkannya berulang-ulang.
Baekhyun masih bergetar disana. Terisak sedang lidahnya lagi mengucapkan hal yang sama.
Chanyeol mengusap punggungnya untuk jumlah yang tak terhitung kalinya kemudiam melepas dekapannya perlahan. Buraian air mata Baekhyun adalah hal pertama yang menyambut inderanya.
Chanyeol mencolos. Basah wajah itu membuat sesal memenuhi sekujur tubuhnya. Chanyeol hanya tak ingin mengingat seperti apa brengseknya ia memaksa anak di depannya itu. Menekan dirinya dan menghentaknya tanpa tau iba sama sekali.
Cemburu membakar semua rasional dirinya. Chanyeol gelap mata dan ia merutuki semua itu. Merutuki dirinya yang payah hanya untuk sebuah pengendalian dirinya sendiri.
Jemarinya tertuntun menuju wajah basah Baekhyun. Mengusap aliran disana namun lagi titik aliran baru membasahi jemarinya pula.
"Aku tak menggoda Sehun hyung, a-aku sungguh tak melakukannya." Baekhyun menggigit bibirnya yang bergetar.
"Aku tau kau tidak Baekhyun." Chanyeol mengusap pipinya dan menangkup belahan berisi itu di dalam telapak lebarnya. "Maafkan aku, aku sungguh menyesal."
Chanyeol meletakkan bibirnya pada titik wajah basah itu. Asin terkecap namun tak membuat ia berhenti melakukannya. Chanyeol menghujani Baekhyun dengan banyak kecupan disana, pada pipinya, ujung hidungnya, keningnya kemudian pelipis. Bibir Chanyeol jatuh pada belahan yang sama kemudian. Pada bibir tipis dambanya dan memangutnya disana.
Chanyeol merasakan tubuh Baekhyun menegang lagi. Itu sedikit lebih baik dengan isakan yang tak lagi menguar. Chanyeol menekan bibirnya, merasakan dengan baik bagaimana bibir mereka yang berada disana.
"Maaf, maaf, maaf." Laki-laki itu berbisik di sela. Ia menjadi yang pertama bergerak dan menjadi satu-satunya.
Baekhyun terkesiap. Keterkejutan mempengaruhi apapun yang ia rasakan. Otaknya kosong tapi Baekhyun masih benar menyadari seperti apa lembutnya Chanyeol bergerak di atas bibirnya.
Baekhyun mungkin benar bodoh. Naif memenuhi jiwanya yang masih 19. Untuk semua yang Chanyeol lakukan padanya, tak seharusnya ciuman itu membuat ia masih merasa baik.
Baekhyun begitu konyol bagaimana ia terlena dan membiarkan dirinya jatuh kembali. Jatuh dalam pasrahan apapun yang Chanyeol padanya.
Baekhyun hanya terlalu mudah.
...
"Apakah dia baik?" Chanyeol meletakkan satu tangannya di dalam sweater yang Baekhyun kenakan. Menyentuh perut yang mulai membesar itu dan mengusapnya dengan lembut.
Baekhyun menganggukkan kepalanya pelan. Masih terengah akibat ciuman panjang yang Chanyeol berikan padanya. "Dia baik." Ia menyahut kemudian.
Baekhyun menjatuhkan padangannya di atas perutnya. Rajutan lembut itu Chanyeol tarik sampai batas dadanya, membiarkan perut diterpa suhu kamar sedang keduanya leluasa menatap bagian itu.
"Aku menekannya dengan kuat." Chanyeol berujar sedang jemarinya menelusuri bekas samar memanjang disana. "Saat aku melakukannya lagi, maka tendang aku dengan keras." Sambungnya.
Baekhyun terkekeh mendengar hal itu.
"Aku serius!" Chanyeol berseru. Hazel bulatnya menatap Baekhyun penuh ketegasan.
"Aku akan melakukannya." Baekhyun terkikik pelan di akhir. Itu menulari Chanyeol dan membuat ia ikut tertawa. Chanyeol berpikir mengapa ia sampai hati menyakiti ketulusan seperti itu.
Chanyeol bangkit dari posisinya dan Baekhyun pikir laki-laki itu hendak beranjak pergi. Namun tidak, taunya Chanyeol merunduk di atas perutnya dan memberikan kecupan disana.
Baekhyun memalu namun sialnya ia menyukai hal itu. Maka Chanyeol melakukannya lagi. Mengecupnya berulang sebelum akhirnya kembali memangut Baekhyun disana.
...
"Adakah sesuatu yang kau inginkan?"
Chanyeol bertanya lagi saat ia telah berbaring kembali disamping Baekhyun, menautkan jemari lentik Baekhyun di antara ruasnya sedang ia melontarkan beberapa pertanyaan ringan disana.
"Tidak." Baekhyun menjawab, kemudian ia berpikir. "Boleh aku... mengajak Kyungsoo kesini lagi?"
"Tentu, dan kau tak harus meminta izinku lagi jika ingin melakukannya sayang."
Panggilan yang laki-laki itu sematkan padanya, membuat Baekhyun memiliki rona pada wajahnya. Warnanya merah dan terasa hangat.
"Lalu apa yang kau inginkan untuk 'cemilan'mu? Yoora noona bilang orang hamil memiliki nafsu besar saat kehamilan mereka."
Baekhyun bersemu lagi dan ia menunduk malu-malu.
"Sebelumnya aku melihat iklan cokelat di tv, itu terlihat lezat sekali."
"Cokelat? Oke, aku akan mendapatkannya untukmu."
"Benarkah?" Baekhyun menatap Chanyeol setengah tak percaya.
"Adakah hal lain yang kau inginkan?"
"Es krim juga terlihat enak." Cicitnya.
"Well, kau akan segera mendapatkannya."
Lebih dari segalanya... Baekhyun hanya menyukai hal sepele seperti itu. Bagaimana Chanyeol memperhatikannya, menuruti kemauan kecilnya... taunya membuat kepercayaan itu Baekhyun miliki kembali.
Sesederhana itu.
...
Seluruh rasa lelahnya, Sehun rasakan menguar kala menapaki pintu penthouse itu lagi. Ia kemudian tersenyum tanpa alasan, menarik langkah semakin jauh masuk ke dalam sana dan berhenti tepat di depan pintu kamarnya.
Sehun memutar kenop dan telah siap untuk sebuah sapaan namun tertahan di tenggorokannya.
"Bae-"
Alisnya berganti menikung dengan kala inderanya menangkap tempat tidur miliknya kosong. Hanya terdapat selimut dalam keadaan berantakan sedang Baekhyun yang seharusnya berada disana, tak terlihat.
Sehun berpikir Baekhyun berada di kamar mandi dengan muntahannya kembali di depan kloset. Maka Sehun pun membawa tungkainya kesana, namun lagi kekosongan yang ia dapati.
"Baekhyun?" Sehun memangil nama laki-laki mungil itu berulang. Keluar dari kamar dan menuju dapur dengan harapan kemungkinan Baekhyun berada disana untuk memuaskan nafsu makannya yang meledak, tapi lagi si mungil itu tak ada disana.
Sehun berubah khawatir. Ia memikirkan kemungkinan dimana Baekhyun pergi setelah apa yang terjadi. Itu tak boleh, bagaimanapun dia sedang hamil sedang para pencari berita masih saja bersenang hati menuliskan apapun mengenai dirinya.
Sehun menggelengkan kepalanya, mencoba menampik hal itu dan mencoba berpikir dengan jernih. Mungkin Yoora datang dan mengajaknya pergi ke rumah sakit atau suatu tempat yang lain. Sehun menyambar ponselnya dan telah siap untuk sebuah panggilan untuk saudara tertuanya itu kala ia dapati pintu kamar Chanyeol memiliki celah terbuka akibat engsel rusak belum sempat diperbaiki.
Sehun menukik tajam lagi, ia merasa tak yakin namun tetap membawa langkah mendekati kamar itu. Mendorong daunnya pelan dan semua pertanyaannya mengenai keberadaan Baekhyun terjawab sudah.
Baekhyun berada disana. Di dalam kamar Chanyeol dengan laki-laki tinggi itu memeluknya di atas sana.
Untuk beberapa saat Sehun termangu. Colosan hatinya membuat ia tertawa miring sekali. Sehun tak bisa mempercayai apa yang tertangkap hazelnya kini.
Bagaimana bisa?
Bahkan setelah apa yang Chanyeol lakukan padanya, bagaimana bisa Baekhyun tetap berakhir pada laki-laki itu.
Chanyeol memeluknya erat dan Baekhyun terlihat begitu nyaman dalam dekapan itu. Menyembunyikan wajahnya di atas dada lebar itu dan bernafas teratur tanpa isakan apapun.
Sehun mungkin sedikit konyol bagaimana ia mulai membandingkan hal serupa yang ia lakukan malam lalu. Sehun memeluk anak itu dalam posisi yang sama namun taunya sambutan itu berbeda rasanya.
Baekhyun terisak dan tubuhnya bergetar hebat. Baekhyun menangis dalam tidurnya dan Sehun menghabiskan banyak kalimat untuk menenangkannya berulang. Kemudian Baekhyun terbangun dengan gejolak perut mual dan berakhir di kamar mandi.
Baekhyun pingsan setelahnya dan Sehun masih berada disana. Kemudian memeluknya lagi setelah Yoora pergi. Sehun tak yakin kapan Baekhyun terjaga ketika itu dan taunya saat Sehun terbangun, ia mendapati posisi mereka berjarak seolah tanpa pelukan apapun sebelumnya.
Sehun berakhir dengan helaan nafas miliknya. Laki-laki itu berbalik badan, berusaha acuh walau itu menyergapi pikirannya. Mengenai Baekhyun juga dirinya sendiri.
Sehun hanya tak mengerti mengapa dadanya terasa berdenyut dan apa yang tertangkap inderanya beberapa saat yang lalu itu, benar menganggu dirinya. Sehun tak menyukainya walau ia tak memiliki alasan kuat mengapa disana. Sehun hanya tak menyukainya.
...
Sebenarnya jadwal syuting dramanya mulai dilakukan minggu depan, maka kesehariannya hanya diisi dengan mengunjungi kantor agensi dan melakukan pemotretan untuk drama yang dibintanginya itu.
Jadwalnya hari ini telah berakhir dan Sehun telah memiliki rencana untuk tidur atau memiliki beberapa pembicaraan ringan dengan Baekhyun di kamarnya. Itu akan menjadi rencana yang bagus, seharusnya... jika Baekhyun tetap berada di kamarnya. Tidak di kamar Chanyeol lagi dengan tubuh meringkuk di dalam pelukan saudara laki-lakinya itu.
Sial. Sehun berdecih dalam hati.
Moodnya berubah buruk dan ia memikirkan beberapa tempat untuk membuat perasaannya sedikit lebih baik. Sehun tak jadi berganti baju dengan rencana tidur sebelumnya, berbalik badan lagi menuju pintu utama dan keluar dari sana.
Namun langkahnya tertahan kala intercom berbunyi dua kali dan memperlihatkan seseorang yang berada di balik pintu sana.
Sehun terkejut bukan main. Sipit tajamnya melebar dan ia tanpa sadar mengumpat.
"Fuck! Apa yang dilakukan si ular jelek itu disini?"
Cocot: dan kayaknya aku emang butuh piknik hahaha aku coba2 ngetik dan chap ini kelar juga akhirnya. Aura wb minggat mulai kerasa hihihi...
Makasih untuk semua reviewers di chap sebelumnya, aku baca lagi semua review kalian dari chap pertama tau ga, dan semacam dapat suntikan semangat buat nge fic lagi wkwkw
Sampe ketemu di chap depan ya~
Salam, Byun Baper Baekhyun.
