"Taehyung terlihat seperti diriku yang sangat ingin melindungi orang-orang yang ia cintai. Aku benci melihatnya, seakan bercermin pada diriku di masa lalu,"

.

.

.

.

.

.

.

scavenged

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sebuah benda persegi diletakkan kembali ke atas meja. Setelah menghela nafas sejenak, akhirnya ia menyandarkan tubuhnya ke atas sandaran kursi kayu berwarna coklat itu. Otot dari tubuh tingginya dibiarkan melemas sesaat.

"Hei.. Besok adalah hari ke-14 kita," ujarnya pelan yang diyakini terdengar oleh beberapa orang yang berada di dalam ruangan yang sama dengannya. Kamar bernomor 355.

Semua yang mendengar ucapan Junhong tadi terdiam. Dalam keadaan normal seharusnya mereka akan bersorak gembira mendengar ucapan pemuda itu –hari terakhir berarti selamat tinggal kehidupan barak dan halo luxury life. Tetapi tidak.

Jauh dalam pikirannya, Jungkook, yang tengah bermain-main dengan selimut di ranjang bawahnya, dipenuhi dengan seorang pemuda. Tidak lain adalah seorang Taehyung.

Masa training mereka kali ini hanya berkisar antara dua minggu, dan di penghujung waktu mereka akan menghadapi tes kelulusan. Bersamaan dengan tes marksmanship milik Taehyung sekali lagi.

Jungkook tidak meragukan kemampuan Taehyung, namun ia merasakan sesuatu yang sangat besar seakan sedang menunggu pemuda itu. Sesuatu yang ia tak bisa mengatakan pasti, apakah hal yang baik atau hal yang buruk. Yang ia yakini, sesuatu itu dapat mengubah hidup Taehyung.

Mino yang tengah berdiri sembari bersandar pada sisi ranjang tingkat miliknya segera menyeletuk, "Waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa sebentar lagi kita akan berpisah dengan ruangan ini. Tidakkah kalian bahagia?" lengkap dengan sebuah senyuman tulus miliknya.

Youngjae yang mengerti situasi segera duduk di tepi ranjang Jungkook, "Tentu, ini adalah pencapaian terbesar kita. Bukan begitu, Jungkook?" ujarnya sembari tersenyum. Yang bisa dilakukannya saat ini hanyalah memberi senyuman pada anak itu agar ia tidak merasa panik berlebih.

Junhong memutar tubuhnya menghadap teman-teman di belakangnya, ia pun mengulaskan cengiran khasnya, "Kau terlihat kaku, Jungkook. Santai saja, kami 'kan selalu bersamamu. Walaupun pelatihan ini selesai kita tak akan lost contact!" ucapnya ceria.

Baik Youngjae maupun Mino nampak mengangguk kecil menanggapi ucapan Junhong sebelumnya. Bahkan Sehun, yang diam di atas ranjangnya juga ikut mengangguk memberi respon.

Kedua manik bulat milik Jungkook berbinar-binar mendengar ucapan teman-teman yang baru ia kenal saat pelatihan ini. Entah mengapa, ia merasakan ikatan kuat dengan mereka walau baru pertama kali berkenalan. Dengan cepat, keraguan dalam kepalanya menghilang, meski rasa takut dan cemas masih menyelimuti.

"Tentu saja, jika kalian melupakanku aku akan menangis," ujar Jungkook akhirnya. Ucapannya mengundang rasa gemas dari Youngjae, pemuda itu langsung memeluk tubuh Jungkook dan mengacak surai hitam miliknya.

"Mengapa menggemaskan sekali!" tindakannya mengundang tawa dari semua pemuda di sekelilingnya. Terkecuali Sehun yang hanya mengutaskan senyuman kecil. Tanpa seorang pun yang tahu, pikiran pemuda itu dipenuhi sesuatu yang sebentar lagi akan mengacaukan hati seorang Jeon Jungkook.

.

.

.

.

Di lain sisi, kamar bernomor 387 dipenuhi dengan sorak sorai penghuni di dalamnya. Sebut saja Sungjae, Jongup, Jimin, Minwoo, Sanghyun, dan Taehyung sebagai tersangka. Hanya tiga dari mereka saja sudah menyebabkan kebisingan, apalagi jika semuanya. Dan itu yang terjadi saat ini.

Ocehan-ocehan seperti "Siapa yang menyangka seorang Moon Jongup memiliki ketajaman mata layaknya seekor elang?" atau, "Apa kau siap menyandang sebagai trainee terbaik periode ini?" tak hentinya dilontarkan penghuni kamar itu.

Minwoo, salah satu penghuni hanya tertawa lepas melihat kelakuan para roommate-nya. Terkhusus bagi Taehyung, mereka membuat pesta pelepasan pemuda itu untuk besok hari menghadapi tes marksmanship-nya.

"Kau tak perlu khawatir ujian kelulusan, kami yakin dengan terpejam saja kau mampu menembak bokong anak ayam," celetuk Sungjae yang dibalas dengan kekehan pemuda lainnya.

"Walau badai tornado sekalipun, pelurumu akan menembus kaleng biskuit yang melayang-layang di udara bersama seekor sapi!" oceh Jimin yang makin membuat mereka tertawa keras.

"Heh, Park Jimin, kau terlalu banyak menonton film tornado Hollywood," kali ini giliran Sanghyun, pemuda tertua di antara mereka itu menjitak pelan kepala Jimin.

Taehyung yang menyaksikan itu tak mampu membendung kebahagiaan dalam dirinya. Ia merasa beruntung menemukan orang-orang seperti mereka yang sangat mendukung dirinya dalam keadaan apapun. Khususnya saat ini, saat-saat dirinya tengah berada di ambang takdir kelanjutan pelatihannya sebagai seorang sniper.

Jongup yang menyadari perubahan air muka Taehyung menjadi sedikit sedih segera memukul pelan lengannya, "Taehyung, bro, tidak perlu memasang wajah seperti orang menahan buang air begitu!"

Sontak, tindakannya disambut oleh Sungjae yang langsung merangkul Taehyung –sahabat sejatinya. "Tidak perlu kusut begitu, memang kau tidak ingat siapa yang menyandang predikat sebagai juara survival game minggu lalu, huh?"

Taehyung menaikkan kedua alisnya sembari memasang sebuah seringai, "Kim Taehyung, bukan Yook Sungjae."

Mendengar itu seluruh temannya tertawa terbahak, "Kim Taehyung bukan Yook Sungjae katanya! HAHAHA," seperti biasa, Sungjae menertawakan dirinya sendiri yang kembali mengundang kekehan geli teman-temannya.

"Ingatkah saat Yook Sungjae ini tergelincir dari tali dan jatuh ke atas lumpur? Atau saat Sungjae ini terkantuk dinding saat memanjat ala spiderman? Itu semua seorang bernama Kim Taehyung yang menyelamatkan tim! Ahahahaha~" lanjut Sungjae.

Taehyung mengerti, saat ini sahabatnya hanya ingin menghibur dirinya tanpa merasakan suatu tekanan apa pun. Jadi ia akhirnya tertawa kencang sembari menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu. Mereka berakhir pada group hug layaknya teletubbies. Ah, sungguh manis.

Setelah lelah dengan kegiatannya, satu per satu pemuda itu berjalan menuju ranjang masing-masing. Minwoo sempat menendang Sungjae karena tidak membantunya menyapu ruangan, sementara Jimin dan Jongup bekerja sama membuang sisa-sisa sampah mereka. Mereka sengaja tidak mengizinkan Taehyung ikut membantu. Ingin memperlakukan pemuda itu layaknya raja sebelum hari ujiannya.

Taehyung merebahkan tubuhnya ke atas ranjangnya. Ia mengembuskan nafas dengan berat sembari menaruh kedua tangannya di belakang kepala. Jimin yang telah selesai dengan kegiatan ayo-buang-sampah menghampirinya dan melompat ke atas ranjangnya.

"Seperti kakek-kakek saja!" celetuknya seraya mengulaskan tawa kecil khasnya. Taehyung menggeram karena tubuh Jimin yang melompat ke atas ranjangnya membuat ranjang itu berdecit.

"Jika sampai rubuh aku akan tidur di ranjangmu, kau tidur di atap." ujarnya bercanda.

Jimin masih saja terkekeh kecil. Meski berkata begitu, Taehyung tetap menggeser tubuhnya sehingga Jimin bisa tidur di sebelahnya. Jimin sangat mengerti sifat Taehyung yang seperti ini. Dengan riang ia mengambil tempat di sebelah pemuda itu.

"Kau tahu? Akhir-akhir ini aku sering sekali berpapasan dengan sang Tuan muda," ujar Jimin yang mengundang rasa penasaran Taehyung.

"Tuan muda? Min Yoongi itu?" Taehyung mengerutkan keningnya.

Jimin mengangguk pelan, ia biarkan bayangannya membentuk wajah sang Tuan muda yang mereka bicarakan.

"Aneh sekali, maksudku mengapa ia sering mondar-mandir di wilayah trainee? Menurutku tatapan yang diberikannya padaku juga aneh."

Taehyung semakin mengerutkan keningnya. Jikalau dipikirkan ini memang aneh.

"Mungkin wajahmu memang aneh," "Yah! Wajahku ini perpaduan antara tampan dan manis,"

Taehyung terkikik pelan mendengar pembelaan Jimin. Ia kembali menghela nafasnya, "Mungkin saja Tuan muda Yoongi itu hanya ingin mengawasi trainee-nya. Kita ini 'kan milik dia dan ayahnya itu–"

Sejenak Taehyung tak melanjutkan ucapannya. Saat ia mengucapkan 'ayahnya' bayangan seorang lelaki yang pernah ia temui tempo hari muncul di kepalanya.

Mr. Min.

Entah mengapa otaknya ingin sekali berpikir keras tentang lelaki tua itu. Sepertinya Taehyung pernah mendengar nama maupun melihat wajah orang itu.

"Tapi dilihat-lihat si Tuan muda itu betul-betul manis. Maksudku, wajahnya. Dan juga perawakannya, misterius dan mengundang siapa saja untuk menguak misteri itu dari dalam dirinya," lanjut Jimin.

Taehyung tertawa pelan mendengar ocehan sahabat lamanya itu. Ia berpikiran mungkin saja Jimin memiliki ketertarikan pada si Tuan muda.

"Panggil Sherlock Holmes. Aku bertaruh, kau bertingkah seperti orang yang dimabuk cinta, Jimin. Katakan, apa kau tertarik pada si Tuan muda Yoongi?"

Jimin tersentak mendengar ucapan Taehyung di sebelahnya. Sesungguhnya ia tak tahu apa yang menyerang pikirannya saat ini. Perkataannya tentang Yoongi keluar begitu saja dari bibirnya. Bahkan ia tak bisa memikirkan apa-apa saat sang Tuan muda mendadak menyentuh pundaknya dan tersenyum padanya –ia belum siap menceritakan ini pada Taehyung.

"T-tidak mungkin, TaeTae. Kami tidak sederajat. Lihat, ia seorang Tuan muda," jawab Jimin sembari menggigit bibir bawahnya.

Taehyung mendesah perlahan mendengar ucapan Jimin yang terdengar konyol. "Kalau begitu buat ia sederajat denganmu. Bawa lari saja dia dari kehidupan mewahnya,"

Jimin tertawa pelan mendengar jawaban Taehyung yang unik seperti biasa. Ia menggelengkan kepalanya, "Benar-benar Kim Taehyung yang kukenal. Mungkin aku akan mempertimbangkan saranmu,"

Kemudian mereka berdua tertawa bersama.

Hingga tiba-tiba Taehyung beranjak dari tidurnya, "Seluruh percakapan ini membuatku rindu dengan Jungkook," ia melangkahi Jimin dan turun dari ranjangnya.

"Kita diberi waktu bebas bukan? Aku akan menemui Jungkook. Jangan berantaki ranjangku," ujarnya lalu segera keluar dari ruangan.

"Jangan hamili Jungkook!" celetuk Sungjae dari depan pintu kamar yang langsung dihadiahi dengan geraman Taehyung yang sudah berlari menuju kamar Jungkook.

Jimin yang melihatnya hanya mengulaskan senyuman. Ia segera beranjak, berniat mengikuti pemuda itu namun dengan membuat jarak padanya.

Berpamitan dengan Sungjae yang sedang bercakap-cakap dengan Jongup, lelaki itu membuka pintu dan berjalan searah dengan Taehyung.

Ada banyak yang ia sembunyikan dari Taehyung. Termasuk saat ini.

Jimin menghampiri seorang pemuda tinggi berpakaian serba hitam yang sepertinya sudah menunggunya sedari tadi. Pemuda itu tidak sendiri, ia ditemani dengan seorang wanita berparas cantik yang memegang sebuah catatan di tangannya.

Menengok ke belakang, memastikan bahwa tak ada yang mengikutinya Jimin menyapa dua orang itu,

"Oh, maaf sudah menunggu lama, aku harus memancing Tae agar ia keluar ruangan, Namjoon-hyung dan Jinah-noona,"

Seorang pemuda yang dipanggil 'Namjoon' tadi menolehkan kepalanya dan tersenyum menyambut Jimin.

"Tidak apa, maaf juga sudah memanggilmu malam hari, Jimin." ujarnya penuh dengan rasa sopan.

"Baiklah, tempat ini tidak terlalu aman. Bagaimana jika kita langsung saja menuju ruangan? Tuan muda sudah menunggu," kali ini giliran Jinah, sang wanita yang memegang catatan tadi berkata. Ia mempersilakan Jimin berjalan bersama Namjoon, selagi wanita itu menutup pintu yang terhubung dengan gedung lain –gedung tempat para petinggi berada.

.

.

.

Dalam perjalanan, Jinah menginterupsi dengan berkata, "Jimin-ssi, kurasa kau harus mengganti pakaianmu. Tuan muda akan–" "Tak apa, noona. Tuan muda tidak akan mempermasalahkan apapun yang dipakai oleh Jimin, kurasa," potong Namjoon lengkap dengan kekehan kecilnya.

Jinah ikut tertawa kecil mendengarnya, "Tetapi jika dilihat oleh para mentor itu–" "Tak akan ada lagi mentor yang bertindak kurang ajar –melintasi perbatasan seenaknya, seperti si keparat Lee itu,"

Jimin tersentak mendengar penuturan Namjoon. Apakah mereka sedang membicarakan seorang penjaga bernama Lee yang menyebabkan Taehyung harus berurusan dengan obat-obatan terlarang itu?

Namjoon yang menangkap ekspresi Jimin hanya mengangguk pelan, "Aku yakin kau akan mendapatkan penjelasan saat bertemu dengan satu-satunya mentor kurang ajar ini, yang dapat seenak hatinya bolak-balik masuk ke dalam ruangan Tuan muda," ujar Namjoon sembari berhenti di depan ruangan yang dijaga oleh dua orang berbadan besar dan lengkap dengan kunci khusus, scanner retina mata.

Namjoon memindai retina matanya untuk membuka ruangan dan mengetuk pelan saat pintu lapis pertama terbuka. Jimin sampai mengerjapkan kedua maniknya saat mempelajari ada beberapa lapisan yang melindungi ruangan ini.

'Ini pasti ruangan Tuan muda,' gumamnya.

Pintu lapis kedua terbuka yang menimbulkan bunyi geseran, Namjoon melangkah masuk sembari menarik Jimin untuk secepatnya masuk ke dalam. Begitu pun dengan Jinah, wanita itu hendak melangkahkan kakinya sebelum bisikan salah satu penjaga bernama Dongwoo melewati telinganya,

"Yuri-noona yang berangkat menjemput Yongguk tadi pagi memberitahukan bahwa Seungah-noona tertembak. Ia menyuruhku menyampaikannya padamu. Tolong jangan menangisinya terlalu lama.."

Jinah terdiam sejenak. Bibirnya nampak bergetar saat mendengar nama yang tidak asing di telinganya.

Oh Seungah, seseorang yang sudah bersamanya selama bertahun-tahun harus pergi meninggalkannya. Wanita itu sudah lama bekerja untuk kediaman keluarga Min dan merupakan salah satu agen rahasia. Yang Jinah ketahui, wanita itu mahir menggunakan senapan tipe apapun, dan hanya seorang penembak jitu cerdas yang dapat mengakhiri hidupnya.

Tiffany.

Namjoon dan Jimin segera disambut oleh Hoseok yang nampak berlari ke arah pintu, di mana Jinah berada. Pemuda itu segera menarik pergelangan tangan Jinah dan menutup pintu. Setelahnya ia menggenggam erat kedua bahu sempit wanita itu.

"Noona, maafkan aku. Seharusnya aku tahu jika Tiffany ada di antara mereka yang menyerang kemarin malam.." ujar Hoseok dengan tatapan sendu pada Jinah yang mulai melinangkan air matanya.

Namjoon memalingkan wajahnya, juga dengan raut wajah yang sedih. Ia mengepalkan kedua tangannya, menyadari jika sesuatu terjadi pada orang-orang terdekatnya walaupun ia sendiri belum mengetahui kabar tentang yang diucapkan oleh Hoseok barusan.

Jinah mengusap kedua air matanya dengan kasar dan berbalik menatap Hoseok yang masih terlihat sendu. "Seungah-eonni mungkin lebih bahagia di sana. Aku tidak apa Hoseok-ah, terima kasih," ujarnya sembari mengusap jemari pemuda itu yang masih bertengger di bahunya.

Jimin yang tidak mengerti apapun hanya mengerjap-ngerjapkan kedua maniknya dengan bingung. Ia ingin sekali bertanya, namun sepertinya saat ini belum saatnya. Maka pemuda itu hanya menunduk dan sesekali menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.

"Seungah-noona pasti bahagia memiliki orang-orang yang menyayanginya," sebuah suara muncul dari balik pintu kamar mandi.

Untuk sejenak kedua manik Jimin terpaku pada sosok kurus itu. Surai blonde miliknya dipadukan dengan setelan blus berwarna hitam nampak begitu elegan dan juga –misterius.

Jinah tersenyum kecil begitu mengenali sosok di hadapannya, "Sang Tuan muda mengganti warna rambut lagi?" godanya seakan-akan sudah mengenali sosok di depannya dengan baik.

Yoongi, sang "Tuan muda" itu tersenyum kecil, "Dua makhluk ini berkata bahwa aku mungkin akan terlihat bagus jika di-blonde , dan aku turut merasa kehilangan Seungah-noona. Ia sudah kuanggap sebagai noona-ku sendiri,"

Hoseok melepaskan genggamannya pada Jinah dan membiarkan wanita itu menghela nafasnya. "Semua yang ada akan kembali, kurasa sudah waktunya Seungah kembali. Dan, iya, blonde sangat cocok untukmu, Yoongi," dengan cepat Jinah menutup bibirnya, ia memanggil Yoongi tanpa embel-embel 'Tuan muda'. Ia lupa dengan kehadiran Jimin.

Sedangkan Yoongi hanya tertawa melihatnya. Ia tak menyadari jika suara tawanya mungkin memancing jantung seseorang untuk terpompa lebih cepat. Seorang Park Jimin.

"Kan sudah kubilang berkali-kali, aku kurang suka panggilan Tuan muda itu. Jadi panggil saja Yoongi biasa," sahut Yoongi sembari melangkahkan kakinya mendekati Jinah.

Namjoon menundukkan kepala pada Yoongi yang hendak menghampirinya, hal tersebut membuat Yoongi memutar matanya jengah.

"Lakukan itu lagi aku akan mencekikmu, Namjoon," ancamnya yang malah membuat Namjoon terkekeh geli.

Jimin yang melihatnya entah mengapa merasakan sesuatu meletup-letup dalam dirinya. Perasaan sama yang menyelimutinya saat pertama kali berkenalan dengan Taehyung –tidak, tidak sama.

Namjoon menarik lengan Jimin mendekat saat ia melihat pemuda itu nampak lost di antara mereka. Ia yakin sebentar lagi pemuda itu menagih penjelasan dari mereka.

"Yoongi, kubawakan Jimin sesuai pesananmu," ucap Namjoon disambut dengan anggukan Jinah. Jimin lantas terkejut, ia tak tahu jika yang memanggilnya adalah sang Tuan muda. Ia memang mendapat pesan dari Jinah bahwa malam ini Namjoon menunggunya dan akan mengatakan sesuatu yang penting padanya, namun ia tak menyebutkan nama sang Tuan muda.

Hoseok yang mengerti segera menyeletuk, "Ah! Aku tidak menyangka kau akan memakai temannya secara langsung, hyung! Benar-benar cara kerja seorang Min Yoongi, unpredictable." Pemuda itu terkekeh sembari menggelengkan kepala –tanda 'aku-tidak-mengiranya'.

Baru saja Yoongi hendak merespon Hoseok, "Jangan katakan, kau sungguhan tertarik pada anak ini?" Hoseok menyela dengan ekspresi jahil khasnya. Lantas, hal itu membuat Yoongi mencubit lengannya dengan keras.

"Kau harus hentikan hanging around Tiffany yang membuatmu gemar bergosip," ujar Yoongi dengan gemas.

Tanpa mereka sadari mungkin pikiran seorang pemuda bernama Jimin sudah sangat bingung, komponen penyusun otaknya mungkin sudah sangat panas saat ini. Ia tak mengerti sama sekali apa yang dibicarakan orang-orang di hadapannya ini.

"Lihat, klien kita kebingungan. Lucu sekali ekspresinya," ucap Namjoon seraya memberi kekehan pelan pada wajah Jimin.

Setelah Yoongi menendang kaki kurus Hoseok ia segera menghampiri Jimin, "Maaf kau kebingungan seperti itu,"

Jimin berani bersumpah ia akan mengingat nada lembut Yoongi yang mengalun di telinganya untuk selamanya. Ekspresi yang dibuat oleh Tuan muda itu juga mampu menyebabkan gemuruh di dalam dadanya.

"Semua jawaban kebingunganmu ada pada makhluk ini," lanjut Yoongi sembari menarik Hoseok menuju hadapan Jimin. Pemuda itu memberi isyarat pada Hoseok untuk mulai berbicara,

"Perkenalkan, Jung Hoseok atau yang kau kenal sebagai J-Hope, our main character,"

.

.

.

.

.

Seorang pemuda bersurai hitam legam tengah bersenda gurau dengan beberapa temannya. Sesekali bibirnya menyunggingkan sebuah senyum yang memperlihatkan gigi depannya yang menyerupai seekor kelinci. Setelahnya kedua pipi gembil miliknya sudah habis decubiti oleh teman-teman di hadapannya yang merasa gemas dengannya.

Jeon Jungkook, pemilik gigi kelinci dan pipi gembil itu. Ia nampak merengek pada teman-temannya agar mereka berhenti mencubiti pipinya. Tidak mengetahui bahwa sikapnya itu mengundang seseorang untuk tak berhenti menatapnya.

Sehun, sebut saja orang beruntung yang mendapat view bagus dari atas ranjangnya tak henti-hentinya mendecak kagum pada sosok Jungkook. Ia menatap pemuda itu layaknya sebuah karya besar. Ia tak tahu sejak kapan perasaan seperti itu menghampiri dirinya.

Tak lama, sosok Mino memanggil nama Jungkook, "Jungkook, ada yang ingin bertemu denganmu," ujarnya menyembuk dari balik pintu.

Jungkook mengerjapkan matanya, siapa gerangan yang hendak bertemu dengannya?

"Siapa, hyung?" tanyanya sembari beranjak dari posisi duduknya bersama Youngjae dan Junhong.

Tiba-tiba Mino menyeringai jahil, "Yang pasti kau akan merasa senang. Ikut aku," lanjutnya sembari memberi tanda pada Jungkook untuk mengikutinya.

Tanpa ba bi bu, Jungkook berjalan menghampiri Mino yang diikuti oleh Youngjae dan Junhong. Namun Mino langsung menahan tubuh kedua orang itu.

"No guests included. Sudah kubilang Jungkook akan merasa 'senang'," ujarnya penuh teka-teki.

Youngjae mengerutkan bibirnya, namun ia segera tertawa pelan begitu mengerti maksud Mino, "Ahahaha~ baiklah, cepat kembali, hyung!" tawanya yang disambut tatapan bingung Junhong.

Mino membalas tawa Youngjae dan segera membawa Jungkook pergi setelah melambaikan tangannya pada penghuni ruangan.

"Hyung, beritahu Taehyung pakai pengaman!" Youngjae kembali tertawa kencang begitu Mino membawa targetnya pergi. Beruntung Jungkook tidak mendengar ucapannya.

Junhong yang akhirnya mengerti saat nama 'Taehyung' terucap lantas menarik hyung-nya itu dari dekat pintu. "Hyung! Tidak mungkin Taehyung-hyung seperti itu-!"

Youngjae hanya sanggup terkekeh mendapatkan reaksi Junhong, "You'll never know~"

Sedangkan Sehun terdiam mendengarnya. Raut wajahnya berubah drastis menjadi wajah Sehun seperti biasanya. Sejenak ia berpikir, setelahnya kedua kaki jenjangnya melangkah turun dari atas ranjang tingkat miliknya.

"Aku mau mencari udara segar," bibirnya mengucapkan kata-kata sebelum keluar dari ruangan, meninggalkan Youngjae yang memaksa Junhong melanjutkan permainan kartu mereka. Kedua pemuda itu mengangguk dan mengucap 'hati-hati' pada Sehun sebelum akhirnya Junhong menyerah dan mengikuti perkataan hyung-nya untuk bermain kartu.

Sehun berjalan menyusuri lorong dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantung celana dan tetap berekspresi dingin. Tak menghiraukan beberapa trainee yang menabrak dirinya saat sedang berjalan.

Ia berharap dengan menyusuri jalan tempat Mino pergi membawa Jungkook ia akan menemukan pemuda itu terlebih dahulu.

Dugaannya salah.

.

.

Di sebuah taman kecil yang terletak di belakang asrama, nampaklah seorang pemuda tengah duduk membelakangi mereka. Pemuda itu melipat kakinya dan tengah merasakan deburan angin menyapu wajahnya. Begitu melihat sosok belakang pemuda itu, Jungkook merasakan dadanya bergemuruh lebih kencang.

"Taehyung, kubawakan pesananmu," ucapan Mino menambah kecepatan detak jantung Jungkook.

Terlebih saat sosok itu menoleh dan tersenyum ke arahnya lalu mengeluarkan alunan nada yang sangat syahdu di telinganya,

"Jungkookie,"

Ah, betapa inginnya Jungkook meleleh sekarang juga. Wajah kekasihnya yang terkena sinar rembulan berubah menjadi 200% lebih mempesona dari apapun juga. Apalagi saat kekasihnya itu berdiri menghampiri dirinya lalu segera menautkan jemarinya dengan jemari Jungkook.

"I miss you," ujar Taehyung, sang kekasih, selagi mengangkat jemari mereka yang bertautan ke udara dan menggoyang-goyangkannya.

Rona merah tak mampu ditahan oleh kedua pipi gembil milik Jungkook. Biarpun dalam keadaan gelap rona itu tetap terlihat dengan jelas oleh Taehyung.

"Wow, aku mengganggu. Taehyung, transfer saja gajiku oke? Aku permisi. Nikmati malam kalian~" celetuk Mino sembari menutup pintu dan meninggalkan kedua sejoli itu.

Taehyung terkekeh pelan melihat tindakan Mino, ia mengirim sensasi lebih pada diri Jungkook yang mendengar suara kekehan dirinya tersebut. Pemuda itu melenguh secara tidak sengaja, "N-ngg.." dan membuat Taehyung tersentak.

"Apa sayang? Kau barusan–" Jungkook yang menyadari lenguhannya segera menggeleng kepalanya cepat. Sungguh ia merasa malu dengan apa yang dikeluarkan olehnya tadi.

"A-aniya! Aku-aku juga merindukanmu, hyung.." ujarnya cepat dilengkapi dengan semburat merah yang masih setia hinggap di kedua pipinya.

Taehyung menyingkirkan poni yang mengganggu kening kekasihnya dan mengulaskan senyum andalannya, "Jungkookie, apa kau pernah merasa bersalah?" ujarnya tiba-tiba sembari mengelus pipi gembil Jungkook.

Jungkook mengerjapkan kedua maniknya dan memiringkan kepalanya sedikit, jemari kanannya menggenggam tangan Taehyung yang berada di pipinya. "Salah? Maksud hyung?"

Pancaran sinar rembulan yang malam ini menghiasi langit terbias pada wajah Jungkook kali ini. Membuat pemuda itu terlihat beribu kali lebih mempesona.

Dengan menahan nafasnya sejenak saat menatap wajah Jungkook yang menjadi lebih menawan, Taehyung menjawab,

"Karena telah membuat banyak orang menjadi gila akan dirimu. Termasuk aku," jawabnya seraya mengecup kening Jungkook. Ia menempelkan bibir penuhnya sedikit lama pada kulit halus Jungkook. Menyebabkan sang pemilik kening memejamkan kedua manik indahnya –menikmati sentuhan yang diberikan kekasihnya.

Setelah melepas kecupannya, Taehyung kembali menatap wajah sang kekasih yang tengah memejamkan matanya. Ia berulangkali mendecak kagum pada ciptaan Tuhan yang satu ini. Ia bersyukur bahwa dirinya menyadari pesona Jungkook dan membuat lelaki ini menjadi miliknya, jika tidak ia mungkin akan menyesal selamanya.

"Mengapa kau begitu cantik? Aphrodite bahkan akan menangis saat melihatmu sayang," puji Taehyung dengan tulus. Pemuda itu telah melihat beribu-ribu wanita maupun pria berparas cantik di luar sana, dan meski kenyataannya Jungkook tidaklah secantik yang ia katakan Taehyung akan tetap menyebutnya sebagai yang paling cantik.

Jungkook kembali memanas akan perkataan Taehyung. Ia memukul pelan bahu pemuda di depannya, "Apa kau juga tidak pernah menyadari bahwa Aphrodite mungkin juga akan menangis karena begitu menawannya dirimu, hyung?"

Taehyung terkekeh mendengar pernyataan kekasihnya. Sepertinya penyakit pujangga miliknya sudah tertular pada Jungkook. Pemuda itu mengusap bibir Jungkook yang berwarna merah alami dan mengundang untuk dicicipi.

"Aku bertaruh Aphrodite juga menangis meraung-raung jika kita melakukan ini," Taehyung kembali menautkan kedua jemarinya pada milik Jungkook, menurunkannya agar tak menghalangi. Lalu mempertemukan belah bibirnya dengan bibir kemerahan Jungkook. Menciumnya dengan lembut dan penuh, serta menyesap rasa yang keluar dari bibir kekasihnya. Tidak manis seperti permen, dan juga tidak pahit layaknya obat-obatan.

Melainkan rasa baru yang menciptakan suatu getaran dalam diri sejoli itu. Tidak ada yang mampu mewakilkan rasa tersebut dalam kata-kata.

Beberapa kali Taehyung menyesap belah bibir Jungkook dan memberinya lumatan kecil yang menyebabkan bunyi decapan keluar dari pertautan mereka. Tautan jemari keduanya meregang dan bersatu kembali sesuai irama pagutan mereka. Perlahan-lahan suara desahan kecil melintas dari bibir Jungkook yang masih dikuasai oleh lumatan kekasihnya.

"Mmn.." desahan kecil itu melintasi telinga sang dominan yang masih setia menyesap belah bibir kesukaannya. Ia mengetuk belahan bibir itu dengan lidahnya dan membiarkan daging tak bertulang itu menyusuri gua hangat milik kekasihnya.

"Aahn~" desahan demi desahan terus terlontar dari kekasihnya yang mulai mengeratkan tautan jemarinya pada dirinya. Saat Taehyung mempertemukan kedua daging tak bertulang milik mereka, Jungkook semakin merasa resah dan tak tahu harus melakukan apa selain membalas perlakuan kekasihnya.

"Ahh ngh~" Jungkook terlonjak dan mendesah lebih keras saat salah satu jemari kekasihnya menyusuri pinggangnya. Jemari kokoh milik Taehyung menyentuh dan memberi usapan pada perpotongan betis dan bokong milik Jungkook yang membuat Jungkook secara refleks mencengkram kaus pemuda itu.

"T-Taehyung, ahhn~" bibirnya masih berpagut dengan bibir tebal Taehyung yang sedari tadi menyesap dan melumatnya tanpa kenal lelah. Tambah lagi, jemari nakal milik kekasihnya sudah bertengger di salah satu bokongnya. Jungkook semakin merona atas hal paling jauh yang pernah dilakukan sang kekasih hingga saat ini.

Hingga akhirnya sang kekasih melepaskan pagutannya pada bibir Jungkook dan mengakibatkan benang saliva terbentuk seperti penghubung antara bibir keduanya.

"–hahh.. hh.." Taehyung memperhatikan wajah sang kekasih yang amat menggiurkan. Butir peluh menghiasi pelipis, bibir merah yang terbuka dan mengeluarkan lenguhan, oh, sudah ia cicipi itu. Pemuda itu tersenyum sembari mengusap peluh di wajah kekasihnya,

"Aku menyebutnya sindrom aphrodisiac sebab kapan pun aku melihatmu aku merasa gairahku memuncak,"

Taehyung harus rela dihadiahi dengan cubitan pada perutnya oleh Jungkook yang merasa kesal sekaligus malu.

"M-mesum," ucap Jungkook sembari menunduk dan memainkan ujung kausnya. Taehyung hanya tertawa kembali setelah meringis mendapatkan cubitan sayang Jungkook.

Pemuda itu mendekap tubuh kekasihnya dan meletakkan kepalanya di atas kepala sang kekasih.

"Aku tidak tahu apa yang sudah kuperbuat dalam hidupku sehingga mendapatkan seorang malaikat sepertimu, Jeon Jungkook," ujarnya pelan dan penuh arti sembari mengusap helaian surai gelap kekasih dalam dekapannya.

Jungkook tentu saja merona dibuatnya, dengan kepala yang bertumpu pada bahu kekasihnya, Jungkook mengeratkan pelukannya. "Hyung harus lulus esok hari.."

Taehyung mengembuskan nafasnya begitu mendengar ucapan Jungkook yang mengandung kekhawatiran di dalamnya. Ia mengecup puncak kepala sang kekasih dan menjawab mantap,

"Aku akan lulus, angel. Untukmu dan juga untuk tujuanku, untuk ibuku,"

Kedua sejoli itu berpelukan erat, seakan takut kehilangan satu sama lain.

Tak ada yang menyadari jika seorang Oh Sehun menyaksikan pemandangan di depannya dari awal hingga akhir lengkap dengan setetes air mata yang jatuh dari pelupuknya. Pemuda yang sedang berdiri menatap kedua sejoli dari balik jendela itu nampak begitu berantakan.

'Setidaknya, bolehkah aku tetap melindungimu, Jeon Jungkook?'

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

AKHIRNYA AKU UPDATE! (?)

Ngga lupa kan sama aku ya(?) huwa maafkan huwaaaaaaaaaa aku tau aku salah marahin aja akunya(?) D":

Aku ngga mungkin lupain scavenged idenya udah nyantol dariiiiii jaman baheula(?) emang akunya aja moody-an ngetik gini maafkan aku /.\

MAU BILANG MAKASIH BANYAAAAK BUAT YANG MASIH SETIA, REVIEW MAUPUN PM AKU TENTANG SEMUA KARYA2KU. Tanpa kalian aku bukan apa-apa /tebar lopelope/ AKUTUH SELALU KEPIKIRAN CUMA AKU MOOD2AN ORANGNYA HUHUHU MAAFIN AKU :"(

Aku lagi di tingkat akhir kuliah jadi gini deh sebenernyaaa u_u tapi gapapa, aku usahain selalu nulis deh hehehe Aamiin!

Oke dan ga bosen2nya aku promosi akun twitter/? Ini aku di sini danmarked fufufu.

Oh! Dan kira2 menurut kalian abang jehop itu gimana xD aku seneng aku bacain semua review maupun pm yg masuk hehehe boleh kok kalian bantu aku bikin sifat karakter2nyaa~ terutama namjoon, aku masih berkutat dengan masa lalu dia huhu

Dan maaf ini kayanya masih lama cerita bersambungnya/? Tapi dengan tanpa mengecewakan pihak manapun aku akan berusaha bikin scavenged tetap ada~!

ok, tinggalkan jejak apapun untuk membuatku bahagia(?) dan apapun tanggapan kalian mengenai cerita ini khuhuhu

critics/comments are warm welcomed, but please do not bash chara and or pairing, thx!

seeyou soon~!