"Baby, bangun. Kau harus berangkat ke sekolah."
Siwon menggoyangkan bahu Kyuhyun yang masih bergelung selimut. Sekarang tidurnya tidak separah dulu setelah tiap malam ia memeluknya. Justru Kyuhyun sendiri yang selalu menyurukkan kepala kedadanya ketika ia baru saja berbaring diranjang. Tapi kebiasaan mengigaunya masih berlanjut.
Siwon membuka tirai jendela kamar agar sinar matahari bisa masuk. Kyuhyun yang terganggu dengan hal itu semakin menenggelamkan kepalanya kedalam selimut.
"Ini hari pertama kau masuk sekolah. Ayo bangun." Siwon duduk disebelah Kyuhyun berbaring dan menarik selimutnya.
"Sepuluh menit lagi hyung." Keluh Kyuhyun dengan suara malas. Dia memindahkan kepalanya kepangkuan Siwon dan menyurukkannya keperut Siwon, lengannya melingkar di pinggang pria itu.
"Kau akan terlambat. Suho dan Minho sudah bersiap-siap, sekarang giliranmu." Siwon mengelus rambut halus Kyuhyun yang beraroma Stroberi, sampo milik Suho.
"Bisakah hari ini aku bolos saja? Aku malas." Hari pertama sekolah itu membosankan. Selalu saja diadakan acara sambutan dari kepala sekolah yang mengharuskannya berdiri dalam waktu lama, lebih lama daripada acara biasa.
"Itu tidak baik. Nanti Suho akan mengikutimu."
"Bilang saja aku sakit."
"Kau mau dia menangis lagi?"
Empat hari yang lalu Kyuhyun demam dan muntah terus-terusan yang tentu saja disebabkan karena es krim. Dia sampai pingsan didapur. Suho terus menangis melihat itu dan terus bertanya apakah Kyuhyun baik-baik saja. Akhirnya dia berhenti menangis ketika Siwon dan Minho memberikan pengertian seperlunya. Suho bersikeras ingin selalu berada didekat Kyuhyun dan mengecek suhu badannya, melayani jika saja Kyuhyun membutuhkan minum. Mengganti handuk basah yang menempel didahi Kyuhyun sepanjang hari selama Siwon bekerja. Siwon melarangnya tidur bersama mereka ketika ia memintanya karena takut tertular. Pada akhirnya Suho bangun lebih pagi dari biasanya yang bahkan Siwon sendiri belum bangun hanya untuk mengecek kondisi Kyuhyun.
Siwon tidak mau menghadapi Kyuhyun yang sakit lagi. Merepotkan. Anak itu tidak mau meminum obat kalau obatnya tidak berbentuk sirup rasa stroberi. Siwon harus mengunjungi beberapa apotek untuk mencarinya, yang rata-rata hanya menjual obat seperti itu sampai umur 12 tahun. Akhirnya malam itu dia memaksa Kyuhyun meminum butiran pil yang sudah ia haluskan dan diberi air sedikit dibantu Minho yang memegangi tubuh Kyuhyun. Ia tahu tindakannya jahat, tapi ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Dia tidak tega melihat Kyuhyun meringkuk dalam selimut tebalnya dengan badan menggigil dan mengeluh dingin dengan suara seraknya. Keesokan harinya ia baru memberikan obat yang diminta Kyuhyun yang ia dapat dari rumah sakit.
"Apa Suho selalu bersikap begitu?" Kyuhyun sudah berkali-kali berkata pada Suho agar tidak usah menungguinya seperti itu. Dia takut Suho kelelahan dan jatuh sakit. Tapi anak itu keras kepala, yang berakhir dia tertidur meringkuk dikursi yang berada disamping ranjang. Dia memanggil Minho untuk memindahkannya kekamarnya sendiri karena dia masih merasa lemas.
"Tidak. Karena tidak ada dari kami yang sakit selama ini." Siwon mengusap-usap bulu mata Kyuhyun yang sedikit panjang dan lentik. "Ayo, saatnya bangun sayang."
Kyuhyun akhirnya menguap dan membuka matanya, tangannya menggaruk kepalanya. Sungguh menggemaskan dimata Siwon. "Jangan memanggilku dengan nama selain nama asliku. Itu menggelikan."
"Selamat pagi." Sapa Siwon seraya tersenyum. Dia lalu memberikan kecupan dibibir Kyuhyun dan mengacak rambut coklat madunya.
"Aku ingin mandi air hangat." Kyuhyun berguling dari pangkuan Siwon lalu duduk bersila. Merentangkan kedua tangannya untuk merenggangkan otot-ototnya dan menguap lagi.
"Aku akan menyiapkannya untukmu." Siwon beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.
Kyuhyun menjatuhkan tubuhnya diranjang lagi dan menutup matanya. "Setidaknya itu bisa mengulur waktu."
Siwon menghela nafas lelah ketika keluar dari kamar mandi dan melihat keadaan Kyuhyun. Dia hanya meninggalkannya sekitar tujuh menit dan sudah terdengar suara dengkuran halus.
Siwon mendudukkan tubuh Kyuhyun yang berakhir jatuh terkulai menimpa tubuhnya. "Buka matamu. Cepat mandi."
"Sepuluh menit lagi."
"Kau mau aku yang memandikanmu? Kita bisa mandi bersama, aku tak keberatan." Bisik Siwon ditelinga Kyuhyun.
Dimandikan. Itu artinya kau tidak perlu repot membuka mata dan bergerak untuk membersihkan badan, dengan begitu dia bisa melanjutkan tidurnya beberapa menit. Dia baru saja ingin mengatakan oke ketika menyadari sesuatu yang kemudian membuat kedua mata Kyuhyun langsung terbuka. Ia menjauh dari Siwon dengan mendorong tubuh pria itu lalu melompat dari ranjang dan berlari kekamar mandi disertai bantingan pintu yang tertutup. Meninggalkan Siwon yang terkekeh geli.
"Kau mesum hyung!"
"Panggil saja aku jika kau butuh bantuan untuk menggosok badanmu." Dan dia bisa mendengar barang yang dilempar membentur pintu.
.
.
.
Kyuhyun melambaikan tangannya sampai mobil Siwon hilang dari pandangannya. Disampingnya Minho tidak berhenti mencibirnya. Entah sejak kapan dia melakukan kebiasaan ini. Padahal tidak ada Suho didalam mobil. Baru saja berbalik ia sudah merasakan seseorang menubruk tubuhnya dan memeluknya erat.
"Kyuhyun~ah. Aku sangat merindukanmu." Ucap Ryeowook seraya menggoyangkan badan mereka ke kanan dan ke kiri.
Tangan Kyuhyun berusaha mendorong tubuh Ryeowook menjauh karena dia sudah merasa sesak. Boleh saja tubuhnya kecil tapi pelukannya kuat sekali.
"Kau yang pergi dan tidak mengabariku." Tuding Kyuhyun.
"Hello tampan. Siapa namamu? Aku Lee Hyukjae. Biasa dipanggil Eunhyuk. Tapi khusus untukmu, kau boleh memanggilku darling." Eunhyuk menjabat tangan Minho disertai gummy smile-nya.
Minho hanya menarik sedikit bibirnya dan menatap aneh Eunhyuk. "Minho. Choi Minho."
"Ya! Jangan goda Eunhyuk-ku." Donghae berlari kearah mereka dan melepas paksa tautan tangan Eunhyuk dan Minho.
Donghae menarik Eunhyuk kebelakang punggungnya dan mendongak menatap Minho sinis. "Dia milikku."
"Kami hanya berkenalan." Ucap Minho kalem.
Donghae menatap Minho dari bawah sampai atas. "Kau siapa? Aku belum pernah melihatmu."
"Dia anak Siwon hyung. Choi Minho." Sahut Kyuhyun.
Donghae sekali lagi mengamati seluruh tubuh Minho, dia melakukannya paling lama dibagian wajah.
"Sial. Dia lebih keren dariku." Ucap Donghae. Dia berbalik kebelakang dan menggoyangkan bahu Eunhyuk. "Kau masih menganggapku paling keren kan? Iya kan sayang?"
Kyuhyun memutar bola matanya malas melihat tindakan berlebihan Donghae. Teman-teman abnormalnya sudah kembali.
"Ayo masuk. Bel akan segera berbunyi." Ajak Ryeowook.
"Kalian masuk kelas duluan saja. Aku harus mengantar Minho kekantor kepala sekolah dulu." Kyuhyun menggenggam pergelangan tangan Minho agar ikut bersamanya.
"Kyuhyun~ah, kami belum berkenalan." Teriak Ryeowook.
Kyuhyun melambaikan tangan kanannya. "Nanti saja."
Ryeowook mendengus. Eunhyuk, Donghae dan Ryewook lalu menyusul dibelakang mereka.
"Apa Kyuhyun tidak akan berpaling dari Siwon ahjussi dan lebih memilih Minho?" Ujar Ryeowook. Seperti biasa dia mulai memakan roti kejunya, berbagi dengan kedua temannya.
"Benar. Dia tak kalah keren dari Siwon ahjussi." Ucap Donghae menyetujui. Tangannya menggenggam tangan Eunhyuk erat.
"Kalian jangan berkata begitu. Cinta Kyuhyun pada Siwon ahjussi tidak sedangkal itu." Timpal Eunhyuk. Dia lebih mengkhawatirkan jika malah Minho yang menyukai Kyuhyun.
"Que sera sera. Whatever will be will be."
"Simpan suara emasmu untuk audisi nanti Ryeong." Ucap Eunhyuk.
"Aku hanya memberikan jawabannya." Gerutu Ryeowook.
"Kupikir Heechul noona tidak akan membiarkan hal itu terjadi." Donghae tersenyum manis dan melambaikan tangannya kearah siswi yang menyapanya.
"Seperti kau tidak tahu sifat Heechul noona saja." Timpal Eunhyuk. Dia berbalik kebelakang dan menunjukkan kepalan tangannya pada gadis yang menyapa Donghae tadi.
"Que sera sera. Whatever will be will be." Ryeowook kembali bernyanyi.
.
.
.
Kyuhyun menjejalkan makanan kemulutnya dengan kesal. Kantin serasa sangat sesak karena para gadis memenuhi tempat itu, mereka berebut bangku yang terdekat dengan bangku Kyuhyun dan teman-temannya. Mereka sangat berisik menanyakan ini itu pada Minho dan mengarahkan ponsel mereka ke wajah Minho. Astaga padahal dia bukan artis. Apa jadinya jika mereka tahu Minho anak Choi Siwon yang selama ini dirahasiakan? Minho sendiri hanya diam memakan makanan pesanannya. Dengungan itu berhenti ketika Eunhyuk mengusir mereka yang terlalu dekat dan berteriak menyuruh mereka diam.
"Kau kekasih Kyuhyun ya?" Yesung mengamati Minho dengan tatapan misteriusnya.
"Hyung, sudah kubilang belasan kali kalau Kyuhyun itu sudah punya kekasih tetapi bukan dia." Ryeowook merasa kesal dengan kekasihnya barunya itu. Mereka baru meresmikannya dua minggu yang lalu. Tentu saja Ryeowook yang mengambil langkah itu.
"Kau tidak menyukai Kyuhyun sama sekali?"
Minho menaikkan alisnya. Merasa aneh dengan pertanyaan yang Yesung lontarkan. Mereka baru pertama kali bertemu tapi dia sudah memberikan pertanyaan semacam itu. Minho merasa risih dengan tatapan Yesung, dia juga merasakan aura aneh disekitarnya.
Ryeowook, Donghae dan Eunhyuk saling melirik. Mereka merasa tegang menunggu jawaban Minho atas pertanyaan mereka tadi pagi.
"Jangan pikirkan apapun yang dia ucapkan Minho. Dia seperti mereka bertiga. Abnormal." Ucap Kyuhyun santai yang dibalas pekikan tak terima dari mereka bertiga.
Kyuhyun juga merasa penasaran dengan jawaban Minho. Dia mengharapkan Minho menjawab iya. Tapi mengingat berapa lama mereka kenal dan sikap Minho padanya, dia yakin Minho akan dengan senang hati menjawab tidak. Jadi sebelum mendengar jawaban menyebalkan itu, dia memilih menyelanya.
"Hei Minho. Apa kau sudah memilih ekstrakurikuler yang akan kau ikuti?" Tanya Donghae.
"Apa itu wajib?"
"Kau kan tingkat satu, tentu saja wajib. Paling tidak memilih dua." Sahut Ryeowook. "Tiga hari lagi si ketua osis akan memberikanmu formulirnya. Aku yakin." Lanjutnya.
"Awas kalau kau memilih sepak bola." Kyuhyun mengacung-acungkan sumpitnya kewajah Minho yang duduk didepannya.
"Itu kan terserah aku. Biar kutebak. Pasti kau dulu memilih kelas memasak. Sebagai orang yang mencicipi."
Mereka, selain Yesung dan Kyuhyun, menatap takjub Minho yang bisa menebak dengan tepat. Minho menampilkan seringainya. Sedangkan Kyuhyun hanya menggumam tidak jelas.
"Bagaimana kau tahu Minho?" Tanya Eunhyuk.
"Mudah saja. Hanya melihat bentuk tubuhnya saja aku sudah tahu."
"Yak! Tak bisakah sehari saja kau tidak mengejekku?"
Minho memajukan bibir bawahnya dan mengangkat bahunya, membuat Kyuhyun mendesis kesal.
"Minho~ssi. Terimalah pemberianku ini." Seorang gadis berambut lurus sepunggung mendekati Minho dan menyodorkan bungkusan dengan kedua tangannya disertai senyum.
Minho menerimanya, ia tidak mau dibilang anak yang sombong dan bergumam terima kasih.
"Wow. Bahkan ini baru hari pertama, tapi kau sudah punya mendapat hadiah dari seorang gadis yang cukup populer disekolah." Yesung merebut bungkusan itu dari tangan Minho dan berusaha membukanya sebelum direbut kembali oleh pemiliknya.
"Ini milikku."
"Jangan percaya dengan tampang polosnya. Dia itu bukan gadis baik-baik." Ujar Eunhyuk yang dapat anggukan persetujuan dari Ryeowook. Eunhyuk masih menyimpan dendam pada gadis itu, Sulli, yang seenaknya mencium kekasihnya. Walaupun dia tidak membalas apapun karena itu, dia bukan tipe lelaki yang akan memukul seorang gadis. Padahal dia sangat ingin, tapi itu bukan tindakan lelaki gentle.
"Aku akan mengingat hal itu." Ucap Minho sambil meraih kotak susu didepan Kyuhyun lalu dengan santai meminumnya.
Eunhyuk, Ryeowook dan Donghae menelan ludah mereka pelan ketika Kyuhyun menampilkan wajah beringasnya sambil memegang sumpitnya erat. Status siaga. Tidak ada satupun orang yang boleh mengambil makanannya tanpa ijin.
"Kenapa kau minum susu milikku?!" Kyuhyun menatap tajam Minho.
"Kau kan sudah gendut, untuk apa memerlukan susu lagi?"
Gendut. Kata terlarang. Status menjadi awas.
"Kau! Tiang listrik mata kodok!" Kyuhyun meraba setiap saku di kemeja dan celana Minho. Tangan Minho berusaha mencegahnya.
"Yak! Apa yang kau lakukan?! Ini namanya pelecehan seksual. Kau tahu tidak?!"
"Masa bodoh. Kau harus menggantinya sebanyak 3 kotak!"
"Mana bisa begitu. Aku hanya meminumnya tiga teguk saja!"
Eunhyuk memberikan kode kepada dua temannya untuk pergi. Ini akan berlangsung lama. Mereka pergi dengan Ryeowook menyeret tangan Yesung meninggalkan teriakan keributan dibelakang.
"Hyung! Tunggu aku! Selamatkan aku dari beruang betina itu!" Minho berlari menyusul teman-teman barunya setelah lepas dari cengkraman Kyuhyun.
"Minho! Kembali kau!"
.
.
.
"Bagaimana hari pertamamu disekolah Minho?" Siwon menerima suapan snack dari Kyuhyun.
"Tidak begitu buruk. Aku juga sudah berteman dengan teman-teman Kyuhyun hyung."
"Baguslah jika tidak ada masalah."
Mereka berempat berada diruang televisi menonton acara running man. Suho berada dipangkuan Siwon dengan mendekap satu bungkus snack. Lengan Siwon melingkar melewati bahu Kyuhyun yang duduk disebelahnya dengan kepala menyandar dibahu Siwon. Minho berbaring disalah satu paha Kyuhyun. Tangan Kyuhyun mendekap satu kaleng snack yang sama, dia bergantian menyuapi Siwon dan Minho sedangkan ia disuapi oleh Siwon. Dia akan menyuapi dirinya sendiri jika Siwon menyuapinya dengan lambat.
"Bagiku sangat buruk. Membuatku tidak nyaman." Sahut Kyuhyun.
"Itulah resiko orang keren." Timpal Minho. Kyuhyun mencebikkan bibirnya.
"Daddy. Keriseu tadi memberi Suho setangkai bunga plastik. Ada tulisan A-i-shi-te-ru. Itu artinya apa?" Suho mendongakkan kepalanya menatap ayahnya.
Kyuhyun dan Minho serempak berseru 'woowww'.
"Kau kalah romantis dengan anak lima tahun hyung."
Minho tertawa mengejek. "Kau belum mendapat bunga dari Daddy? Kasihan sekali."
"Hal seperti itu sangat mainstream. Tidak ada yang spesial jadinya." Bela Siwon.
"Apa artinya Daddy?" Tuntut Suho.
"Itu ungkapan sayang Kris pada Suho karena Suho mau berteman dengan Kris. Seperti Suho mengucapkan Saranghae pada Minho hyung dan Kyuhyun hyung." Jelas Siwon. Tidak mungkin dia mengatakan hal yang sebenarnya. Mereka baru lima tahun, tak seharusnya tahu tentang hal seperti itu. Dia sendiri bingung bagaimana bisa Kris mengetahui hal itu.
"Jadi Suho juga harus membalas seperti itu pada Keriseu?" Suho mengerjapkan matanya polos.
"Suho hanya perlu mengucapkan terima kasih dengan tersenyum. Itu sama saja." Sahut Kyuhyun. Tangan Siwon mengacak gemas rambut Suho ketika anak itu mengangguk mengerti.
"Dad, bisakah kau memasukkanku sebagai trainee?"
"Kau ingin menjadi artis?"
Minho hanya mengangguk menjawabnya.
Siwon tak menyangka putra sulungnya tertarik untuk menggeluti dunia entertainment. Padahal setahunya Minho lebih tertarik dibidang olah raga. Tak sekalipun menaruh perhatian pada artis, bahkan musik juga tidak.
"Aku akan menjadi haters garis keras untukmu." Kyuhyun tersenyum miring dan terkekeh pelan. Tapi Minho tidak memperdulikan perkataan Kyuhyun.
"Aku ingin jadi penerusmu Dad."
"Aktor? Tidak ingin masuk sebuah boy grup? Penggemarmu akan lebih banyak jika disitu."
"Tidak mau. Jadwalku akan penuh jika jadi penyanyi." Minho menerima kaleng snack yang disodorkan oleh Kyuhyun. Sudah habis tak bersisa. Padahal dia hanya merasa disuapi sebanyak enam kali. Kyuhyun mengedikkan dagunya, memberikan kode agar menukarnya dengan kaleng yang isinya masih penuh diatas meja.
"Akan sedikit sulit jika kau langsung terjun kedunia akting." Siwon sudah sejak kecil membintangi beberapa iklan dan menjadi cameo dibanyak drama. Di usia remaja dia merambah kedunia model yang membuatnya semakin terkenal. Bisa dibilang dia tidak mendapat banyak kesulitan dalam meraih kesuksesan karena pada masa itu belum banyak boy grup seperti sekarang yang bisa dipastikan ada satu anggota yang terjun kedunia akting. Cepat sukses karena sudah dikenal lewat nama grup.
"Aku tidak bisa bernyanyi Dad."
"Jadi rapper saja digrup." Usul Kyuhyun yang disetujui Siwon. "Ya Tuhan rapper itu sangat keren." Kyuhyun menahan teriakannya saat Yunho muncul dilayar televisi dengan senyum yang terbentuk dari bibir hatinya. Cuplikan running man untuk episode berikutnya lalu disambung iklan minuman isotonik yang Siwon tahu durasinya cukup lama.
Siwon mendengus kasar melihat mata Kyuhyun yang berbinar-binar, bibirnya ia gigit. Ia baru menyadari kalimat terakhir Kyuhyun ditujukan untuk Yunho.
"Awas kalau kau menggantinya hyung." Tangan Kyuhyun menahan tangan Siwon yang menggenggam remote bersiap memencet tombol lain. Bahkan anak itu tidak memalingkan tatapan matanya dan makanannya ia abaikan begitu saja sehingga diambil alih oleh Minho.
"Daddy ayo tidur, Suho mengantuk."
Siwon menundukkan kepalanya melihat mata sayu Suho lalu menggendongnya kekamar. Dia melihat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, jam tidur Suho sudah lewat tiga puluh menit yang lalu.
"Singkirkan kepalamu." Kyuhyun mendorong kepala Minho lalu berdiri yang hampir membuat Minho terjatuh. "Kuharap kau tidak mempunyai kutu rambut." Gerutu Kyuhyun. Kedua tangannya mengusap celananya sembari berjalan kekamar.
"Kau pikir aku kucing jalanan."
"Bukan, tapi kau satu spesies." Setelah mengucapkan itu Kyuhyun segera berlari sebelum mendapat balasan dari Minho.
"Aku tak mengerti kenapa Daddy bisa menjadikannya kekasih."
Siwon yang baru kembali dari kamar Suho menaikkan satu alisnya mendengar ucapan Minho. Tapi menurutnya Minho dan Kyuhyun bertengkar lagi karena Minho menggerutu disepanjang jalan menuju kamarnya. Siwon menuju kamarnya setelah mematikan semua lampu.
Ketika membuka pintu, Siwon mendapati Kyuhyun sudah berganti dengan piyama dan berbaring diranjang, ditangannya sudah ada PSP. Telapak kakinya bergerak menghentak-hentak mengikuti alunan lagu yang ia gumamkan, disisipi beberapa umpatan.
"Bisakah kau melepaskan kaos kakimu itu?"
Kyuhyun menurunkan PSPnya dan menunduk melihat kedua kakinya yang berbalut kaos kaki berwarna biru putih. Dia meletakkan PSPnya diatas ranjang dan bangkit dari posisinya.
"Tidak mau. Kau tidak lihat? Ini lucu sekali." Kyuhyun duduk dengan kaki terjulur dan menggerakkan jari-jari kakinya.
"Harusnya kau beli yang versi kekasihmu, bukan milik Yunho." Siwon memegang kedua kaki Kyuhyun bersiap melepaskan kaos kaki yang bergambar chibi Yunho itu. Tapi Kyuhyun dengan cepat menarik kakinya.
"Kau mau wajahmu itu diinjak-injak oleh kakiku?" Kyuhyun mengelus-elus kakinya. Dia membelinya kemarin di pasar Dongdaemun dengan harga murah, 4000 won. Dia terkikik geli ketika melihat wajah Yunho yang bergerak mengikuti gerakan jari-jari kakinya. "Aku berencana membeli masker gambar wajah chibimu. Nanti."
"Untuk apa kau membeli masker jika tidak pernah kau pakai?" Siwon melepaskan kaosnya didepan lemari dan menggantinya dengan piyama. Dari cermin dia bisa melihat Kyuhyun masih asyik dengan kegiatannya. Biasanya akan berteriak ketika melihat Siwon melepaskan baju didepannya.
"Aku memakainya ketika aku flu."
"Itu lebih mengenaskan dibanding diinjak-injak." Siwon berteriak dari dalam kamar mandi. Menggosok gigi.
Siwon memasang wajah ngeri membayangkan wajahnya menerima berbagai virus. Belum kalau Kyuhyun bersin yang bisa saja mengeluarkan ingus atau ketika batuk. Menjijikkan.
Kyuhyun mendecak sebal mendengar respon Siwon. Jika memakai masker, ia tidak pernah menutup hidungnya. Hanya semakin membuatnya susah bernafas. Lagipula dengan begitu bukankah wajah Siwon selalu tercium bibirnya? Pria itu benar-benar tidak tahu maksudnya.
Kyuhyun menengkurapkan badannya dan menopang dagunya melihat Siwon yang baru saja duduk mengatur jam weker. Benar-benar kuno. Padahal pakai ponsel saja bisa untuk memasang alarm.
"Hyung, apa kau tidak berpikir untuk memasukkanku ke agensi mu juga?" Kyuhyun memainkan kakinya yang ia angkat keatas bertumpu dilutut, naik turun bergantian.
"Untuk apa?"
"Bukankah kalau ingin jadi aktor musikal hebat juga harus punya agensi?"
"Cih. Aku tahu modusmu." Siwon sudah mulai memahami satu persatu sifat Kyuhyun. Dia punya gengsi yang tinggi, meminta sesuatu tidak langsung ke poinnya tapi tujuannya sama.
Kyuhyun mengerucutkan bibirnya mendengar respon Siwon. Sepertinya pintu menuju Yunho sudah tertutup rapat, terkunci. Cara yang sama tidak akan berhasil lagi. "Tidak bisakah kau berhenti berburuk sangka padaku?"
"Jadi orang terkenal itu melelahkan." Siwon membalikkan halaman dokumen ditangannya.
"Ya. Dan itu menyebalkan. Tapi aku tidak tahu nanti harus bekerja apa. Aku tidak mau mengurus bisnis Appa." Kyuhyun merangkak kepangkuan Siwon dan merebahkan kepalanya dipaha pria itu, kembali memainkan PSPnya.
"Fokus dulu saja dengan ujian akhir dan ujian masuk universitas."
"Jangan bahas topik membosankan itu. Yah mati kau." Kyuhyun memencet tombol PSPnya dengan lincah.
"Kyu, aku ingin membicarakan hal serius denganmu." Siwon meletakkan dokumennya diatas nakas disamping ranjang.
"Eum. Bicara saja."
Siwon mengambil PSP ditangan Kyuhyun dan memindahkannya diatas dokumennya tadi. Membuahkan tatapan protes dari Kyuhyun. "Kalau bicara ya bicara saja. Aku akan tetap mendengarkanmu. Aku bisa fokus dalam dua hal secara bersamaan. Aku ini cerdas. Kau ingat kan?"
Kyuhyun menjulurkan badannya sepanjang mungkin untuk bisa meraih kembali PSPnya. Tapi Siwon mencekal tangannya. "Hyung..." Rengek Kyuhyun.
Siwon menggelengkan kepalanya yang ajaibnya mampu membuat Kyuhyun menurut begitu saja. Walaupun wajahnya masih tampak kesal. Siwon yakin Kyuhyun tetap akan mengeluarkan umpatannya selagi bermain game.
Siwon merapikan poni Kyuhyun yang berantakan dengan jemarinya. Merasakan sedikit keraguan. "Kau tahu kan posisimu dirumah ini?"
Kyuhyun mendongakkan kepalanya untuk melihat Siwon. Alisnya mengerut. "Aku? Aku paling tua diantara Minho dan Suho."
"Lebih tepatnya kau kekasihku. Calon ibu mereka." Ini memang tidak adil bagi Kyuhyun yang masih berusia belia dituntut untuk menjadi jauh lebih dewasa daripada usianya. Tapi menurut Siwon hal ini perlu ditanamkan dipikiran Kyuhyun sejak dini jika tidak ingin mereka bertiga terus 'berkelahi'.
"Aku tidak mau jadi ibu mereka." Kyuhyun bangkit dari posisinya dan berpindah ketempat biasanya ia tidur tapi kali ini dengan membelakangi Siwon yang wajahnya mengguratkan keterkejutan.
"Jadi kau tidak-"
Kyuhyun bergegas bangun lalu memeluk Siwon. Melingkarkan lengannya dileher Siwon dan meletakkan dagunya diatas bahu pria itu. "Aku mencintaimu. Sungguh. Hanya saja-"
Siwon menarik Kyuhyun dari pelukannya. Menyentuh bibir bawah Kyuhyun, mengisyaratkan untuk berhenti menggigiti bibirnya. Kyuhyun sedang memikirkan dan mempertimbangkan banyak hal. Siwon tahu itu, tapi dia tidak punya clue apapun. Dan dia tidak bisa memaksanya untuk mengatakannya.
"Aku tidak mau jadi ibu mereka." Kyuhyun memainkan jemarinya. Kepalanya ia tundukkan dan matanya berputar tidak fokus. "Kenapa harus aku? Maksudku, aku juga lelaki. Aku juga pantas dipanggil ayah."
Kyuhyun mendongakkan kepalanya untuk menatap Siwon ketika pria itu tak mengatakan sepatah katapun selama beberapa menit. Raut wajahnya masih mengguratkan suatu kebingungan. Kyuhyun menggigit bibirnya sekali lagi. "Hyung?"
"Kau. Membuatku takut." Raut wajah Siwon sudah sedikit rileks. Ia mencium dahi Kyuhyun lalu menariknya kedalam pelukan lagi dengan membenamkan kepalanya didada bidangnya. "Aku takut kau menolak kehadiran Minho dan Suho."
"Tidak. Tentu saja tidak. Aku justru takut mereka yang menolakku karena kau tahu kan kenapa?"
"Mereka tidak pernah menolakmu selama ini. Ataupun menunjukkan sikap tidak suka terhadap kehadiranmu." Minho memang pernah menyatakan keberatannya. Tapi itu sebelum dia pulang.
"Aku masih takut. Suho tidak tahu tentang ini. Dia tidak mengerti apapun." Akhirnya, Kyuhyun mengucapkannya. Salah satu bebannya selama ini.
Siwon melepaskan pelukannya dan beralih memegang kedua bahu Kyuhyun. Menghapus air mata Kyuhyun yang mengalir dengan kedua ibu jarinya.
"Kita bisa memberikannya pengertian pelan-pelan. Dia anak yang baik, dia berkali-kali berkata padaku bahwa dia menyukaimu. Dia tidak ingin kau pergi dari sini. Bukankah itu pertanda baik?"
Kyuhyun masih menundukkan kepalanya dan menangis. Menolak untuk menatap mata Siwon.
"Hei sayang. Berhentilah menangis."
"Aku juga benci menangis. Pria tampan tidak menangis." Kyuhyun mengelap air matanya dengan ujung lengan piyamanya.
"Kau lelaki cantik."
"Aku seorang pria tampan." Kukuh Kyuhyun.
"Jangan mengkhawatirkan apapun. Semuanya akan baik-baik saja." Siwon mengacak rambut ikal Kyuhyun dan tersenyum kecil.
Kyuhyun menepis tangan Siwon pelan. "Jangan memperlakukanku seperti itu. Bukankah tadi kau bermaksud untuk berkata agar aku bersikap dewasa? Itu perlakuan untuk anak kecil."
"Dalam beberapa hal Kyu."
Kyuhyun mengerucutkan bibirnya lalu berbaring diranjang membelakangi Siwon lagi. "Tapi aku tetap tidak mau dipanggil ibu."
Siwon ikut membaringkan tubuhnya dan memeluk Kyuhyun. "Bukankah akan aneh jika satu keluarga ada dua ayah? Ibumu juga laki-laki kan?"
"Pokoknya tidak mau ya tidak mau. Pria tampan tidak pantas dipanggil ibu."
Siwon menghela nafas menyerah. Tidak ada akhirnya jika menghadapi Kyuhyun yang keras kepala. "Kau tidak mau kuberi ciuman selamat tidur?"
Kyuhyun hanya bergeming diposisinya. Siwon pikir dia sudah tidur, tapi ketika ia memeriksanya mata bulatnya masih terbuka dan memainkan jari telunjuknya diatas ranjang.
"Ya sudah."
Siwon baru saja melepaskan pelukannya dan membalikkan badannya ketika ia merasakan sepasang lengan melingkari pinggangnya. Kyuhyun menggerakkan hidungnya kekanan dan kekiri diatas punggung Siwon. "Hyung..."
"Apa?" Siwon membalikkan badannya. Alisnya ia naikkan satu.
"Hidungku gatal. Disini." Kyuhyun menunjuk ujung hidungnya.
Kyuhyun tetaplah Kyuhyun. Punya rasa gengsi yang tinggi. Dan Siwon lah yang harus mengambil langkah duluan.
Siwon memegangi sisi wajah Kyuhyun lalu mencium bibir merah muda itu. Melumatnya beberapa kali sampai terdengar lenguhan Kyuhyun sebelum melepasnya dan beralih mencium dahi Kyuhyun lama.
"Selamat tidur." Siwon mendekap kepala Kyuhyun didadanya.
"Ya, selamat tidur." Gumam Kyuhyun sambil tersenyum.
'Cho Kyuhyun selalu menang.' Ucapnya dalam hati.
Siwon mengelus belakang kepala Kyuhyun. Dia masih mengkhawatirkan banyak hal tentang Kyuhyun. Tentang ucapannya pertama kali, penolakan itu dan lainnya. Siwon hanya berharap alasan yang digunakan Kyuhyun memang ungkapan hatinya. Benar-benar apa yang dirasakan dan yang ia takutkan. Bukan hanya untuk menenangkan hati Siwon.
.
.
.
Terima kasih untuk kalian yang telah memberikan beberapa kata untukku. Aku sangat berterima kasih. Jangan bosan bosan untuk memberikan beberapa kata untukku lagi dan lagi
THANK YOU VERY MUCH~~~~ ^^
