Love or Lust

Namjin Fanfiction

Warning! Rated M, BoyxBoy, Romance, OOC, AU

DLDR!

Typo everywhere!

.

BONUS CHAPTER!


Hoseok mendesis.

Nyeri di kepalanya begitu memaksa, menaikan tingkat kesadarannya. Beberapa sekon terlewati, dan Hoseok pun baru menyadari jika ia sedang tidak berada di rumahnya. Dingin yang menerpa dada dan punggung merupakan pertanda jika tidak ada busana yang menutupi tubuhnya.

Ia menoleh, menemukan seorang wanita yang masih terlelap nyenyak dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Penasaran, Hoseok pun menyigap sedikit selimut itu. Mengintip ke dalam, namun pelan-pelan. Takut yang punya tubuh terbangun karena Hoseok.

Oh, pentilnya cokelat.

Tidak penting sebenarnya, sih. Tapi itu salah satu kebiasaan Hoseok jika habis melakukan kegiatan mendecit kasur. Ia kadang penasaran saja kenapa warna puting tiap orang itu berbeda. Apa karena di puting itu juga ada pigmen warna seperti kulit normal? Lalu kenapa ada yang sampai berwarna merah muda? Juga, kenapa ukuran puting tiap orang berbeda? Dan yang lebih anehnya, Hoseok pernah lihat sehelai rambut yang tumbuh di salah satu pentil yang pernah ia lihat.

Astaga, maafkan otak Hoseok yang masih ngelantur di pagi hari.

Dapat disimpulkan, Hoseok lagi-lagi melakukan one night stand bersama gadis yang tidak ia kenal. Merupakan hal yang biasa bagi kawan-kawan Hoseok tentang kebiasaannya yang sering sodok sana-sini. Untung saja, sisi pemabuk Hoseok selalu sadar dengan yang namanya pengaman. Di dompetnya pun selalu ia simpan beberapa jenis pengaman. Ada yang rasa stroberi, cokelat, oh! Ia juga mempunyai yang neon—glow in the dark. Jadi nanti seru kalo main gelap-gelapan, ada warna hijau kokoh nan tegak tengah menyala dengan perkasa.

Dan pada dada Hoseok, terdapat tattoo yang bertuliskan 'Remember Me to Use Condom' beserta terjemahannya. Kenapa bilingual? 'Kan Hoseok tidak tahu tahu wanita yang ia pakai nanti itu pribumi atau turis. Itu pun bukan kemauan Hoseok, ngomong-ngomong. Berterimakasihlah pada Namjoon yang begitu tidak ingin jika sahabatnya yang tampan ini terkontaminasi HIV.

Hoseok kembali meringis, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Jika ia tidak salah, ia ke klub bersama dengan Seokjin. Niatnya ingin menghibur Seokjin yang sepertinya lupa yang namanya jalang. Namun, karena sepertinya Hoseok sebagai pihak yang meninggalkan Seokjin, nanti ia akan menelpon untuk mendengar kabarnya.

Berbicara tentang Seokjin, pria itu akhir-akhir ini terlihat jauh dari kata baik. Ketelitiannya menurun secara signifikan. Wajahnya tidak segar seperti biasa. Bahkan kantung matanya punya kantung mata! Ok, itu terdengar hiperbolis. Tapi Hoseok yakin jika semua ini karena Namjoon.

Menurut penelitian Jung, sepertinya Namjoon dan Seokjin mengalami pertengkaran yang serius. Pada hari sebelumnya, kedua pria itu pergi dengan Seokjin yang membolos kantor. Mungkin ke klub malam? Lalu mereka bertengkar hingga Namjoon marah besar. Hm, sepertinya Seokjin tidak mau membayar jalang yang sudah ia pesan. Atau mungkin Namjoon tidak mendapat giliran saat mereka threesome? Bisa jadi. Hasilnya, Namjoon kesal dan tidak mau menemui Seokjin. Sedangkan Seokjin merasa bersalah, lalu digandrungi depresi yang amat berat. Tamat.

Begitulah hipotesis luar biasa karya Jung Hoseok.

Tapi, tidak hanya Seokjin yang depresi sebenarnya, karena Hoseok pun sama. Semakin hari laporan keuangan yang ia kerjakan semakin tidak benar. Entah tiba-tiba nominal nilai pengeluaran begitu besar, atau ada akun yang tidak wajar. Sayangnya, otak Hoseok terlalu dangkal untuk mengkritisi jika semua itu bermuara pada tindakan penggelapan uang yang Hyosang lakukan.

Dan teman satu-satunya yang paling nyaman untuk diajak diskusi adalah Namjoon. Sering sekali Hoseok meraung, melimpahkan keluhannya kepada pria jangkung itu. Namjoon memang bocah yang pintar, sehingga tak jarang perkara yang menggelayuti Hoseok mampu dihilangkan oleh Namjoon.

Sialnya, Hoseok yang tidak terlibat masalah diantara kedua pria Kim itu pun kena imbasnya. Jika memang menghindari Seokjin, setidaknya jangan menjauh dari Hoseok juga.

Ah, sudahlah.. Itu urusan mereka berdua, dan Hoseok mencoba membantu semampunya—menemani Seokjin ke klub sebagai hiburan. Walau pada akhirnya, Hoseok yang mendapatkan hiburannya.

Hoseok yang sudah mabuk memang tidak dapat dihentikan. Rasanya baru menegak beberapa gelas, dan selanjutnya ia tersadar dalam keadaan telanjang bulat. Kata mereka, tahta Hoseok sebagai sang matahari turun jika sedang mabuk. Ia akan berubah menjadi bulan, yang berbisik begitu tenang namun menawan. Begitu menggoda dan memancing gairah.

Si pria cantik, Seokjin—yang pernah menyaksikan transformasi Jung Hoseok—pernah bercerita, Hoseok akan dikendalikan hawa nafsu dibanding akalnya karena sebotol vodka. Seperti dahulu, Hoseok tiba-tiba menarik tangan seorang wanita dan langsung mengulum bibirnya tanpa babibu. Walau pada akhirnya, Hoseok menyadari jika wanita itu merupakan janda kembang yang tengah dalam proses mencari suami baru.

Hoseok langsung menyembur wanita itu setelah tau jika usianya dua puluh tahun lebih tua dari dirinya. Merasa sedikit jijik karena Seokie—nama penisnya—mencicipi lubang ibu-ibu. Namun, yang ia dapat malah semburan balik. Wanita tua itu justru mengatakan dengan lantang,

"Janda itu berarti pernah laris! Tidak sepertimu, flashdisk bervirus yang tidak laku!"

Jleb..

Jujur Hoseok ingin menangis saat itu. Ia tidak bervirus! Namun memang benar, janda atau duda, dua-duanya setidaknya pernah merasakan cinta yang dewasa nan suci. Dan, bohong juga jika Hoseok tidak menginginkan semua itu.

Rasa saling memiliki, ciuman setelah bangun tidur, rumah untuk berpulang, dan makan malam masakan istri. Semua itu sangat Hoseok dambakan. Namun, setiap Hoseok iseng mengajak para partner seksnya untuk menjalin hubungan khusus, semuanya menolak. Dalam konteks bercanda pun, tidak ada satu pun yang mau.

Baiklah.. Mari kita telisik secara mendalam. Hoseok itu hebat. Hidung mancung. Rahang yang begitu tegas. Senyum cerah nan menawan. Otot perut cukup terbentuk dengan baik. Ahli ranjang. Penisnya sebesar pisang tanduk. Baik hari, rajin menabung, serta tak pernah telat membayar pajak. Intinya, ia lelaki yang baik dan taat kepada negara.

Namun, kenapa ia masih membujang?

.

.: :.


.

Yoongi menatap malas sekitarnya. Hatinya yang sebelumnya terasa lega karena Namjoon telah mengangkat teleponnya, kini mendadak mendung. Bar yang disewa kantornya benar-benar seperti kandang burung. Beberapa pegawai tengah bernyanyi lagu yang menurut Yoongi kualitas rendah. Ada pula yang melakukan love shoot. Lalu di bagian pojok, ada yang memilih untuk tidur saja. Huft, ingin rasanya Yoongi mengunci diri di toilet, lagi.

Pria Min itu mengerang. Kembali melangkahkan kaki menuju bangku kosong tempat duduknya tadi di sebelah Hoseok. Pria berwajah kuda itu sedang ngelantur dengan gumaman yang tidak jelas. Dibanding melihat wujud Hoseok, Yoongi lebih sudi untuk berbincang sepatah dua patah kata kepada bocah yang tengah bermain ponsel di hadapannya.

"Maaf ya, Yugyeom. Upacara perpisahanmu tidak berlangsung dengan khidmat." Ucap Yoongi kepada lelaki yang lebih muda di seberangnya sembari kembali duduk.

Yugyeom yang masih belum berani meminum alkohol hanya mengaduk cola-nya. Senyum ceria mengembang jelas di wajahnya. "Setidaknya aku belajar tentang hiburan orang dewasa disini."

"Belajar gila, baru benar." Koreksi Yoongi.

Yoongi menegak minumannya yang masih utuh tak tersentuh. Dilihatnya Hoseok yang tengah menenggelamkan wajahnya diantara kedua lengannya yang bertumpu di meja. Mungkin ketiduran.

"Hoseok sudah minum berapa gelas?" Yoongi mengangkat sebelah alisnya, meminta jawaban pada Yugyeom—satu-satunya pemuda yang tidak kehilangan akal sehat selain dirinya saat ini.

Yugyeom memiringkan wajahnya, menghitung dalam ingatannya. "Hmm. Tujuh?"

"Belum mabuk?"

"Sepertinya sudah.." Terka yang lebih muda. "Dia daritadi menggumamkan tentang wanita, pacar, ranjang, jomblo. Apa dia memang begitu saat mabuk?"

Yang ditanya mengidikkan bahu, seolah mengatakan jika ia tidak tahu. "Aku tak penah mau diajak mabuk-mabukan dengannya, Merepotkan."

Yoongi pernah sekali mengunjungi klub malam bersama Seokjin dan Hoseok. Namun, tak sampai setengah jam ia sudah jijik. Musik yang berdetum terlalu kencang bukan seleranya. Apalagi jika ada Hoseok di dalamnya. Rasanya seperti bunyi kuda liar tengah mengembik—sebentar, kuda mengembik?—diantara para Avangers bertarung dengan Thanos (re:berisik).

Tak lama, Hoseok mengusak kepalanya, lalu menghadapkan wajahnya ke arah Yoongi. Bergumam tidak jelas sebelum membuka matanya.

Cih, masih hidup rupanya. Batin Yoongi.

"Hyung.." Hoseok berucap dengan parau setelah berhasil mengidentifikasi sosok disampingnya.

"Apaan?" Tanya Yoongi tak acuh. Matanya melirik ke bawah, tepat di wajah Hoseok yang masih menempel di atas meja.

"Sampai kapan aku akan tetap lajang seperti ini?" Tanya Hoseok dengan suara sedikit teredam oleh lengannya sendiri.

Bola mata Yoongi bergulir malas. Bagus, Hoseok mulai meracau tidak jelas. "Mana ada wanita yang suka melihat kekasihnya main sodok kemana-mana?"

"Apa karena aku tidak seksi?"

"Buat tubuhmu seperti John Cena."

"Apa karena aku bau?"

"Mungkin spermamu yang bau."

"Apa karena aku tidak pintar?"

"Kau itu tolol sejati. Pahamilah."

"Apa karena penisku kurang besar?"

Cukup, Yoongi lelah. Bibirnya terlalu mahal untuk menjawab pertanyaan yang sangat terbilang tidak berkualitas. Ia pun memperbaiki posisi duduknya—menyilangkan kakinya seperti duduk wanita, menegapkan punggung, dan perlahan menyesap alkohol di gelasnya.

Yoongi salut kepada Seokjin, sungguh. Mendengar beberapa kalimat saja, Yoongi sudah enggan. Tak terbayang betapa sabar Seokjin selama ini menanggapi celoteh Hoseok yang terlampau tidak berfaedah jika sedang mabuk.

Berbicara tentang Seokijn, dada Yongi mendadak bergetar. Tidak mungkin ia tidak khawatir dengan kondisi Seokjin dengan suasana hati kacau dan Hyosang berkeliaran di luar sana. Hatinya berharap, Namjoon sudah datang guna menunaikan tugasnya.

"Hyung..." Hoseok mulai merengek karena diabaikan, memecahkan lamunan Yoongi. "Kau minum apa?"

Susu mbok darmi.

Yoongi gatal sekali, ingin menjawab seperti itu. Tapi jika ia menyahuti, Hoseok mungkin akan memaksa untuk meminum segelas lagi. Padahal keadaannya sudah mabuk hingga sempat mengira dirinya sendiri adalah kuda. Lagipula, siapa mbok darmi?

Hoseok menatap Yoongi lamat-lamat. Matanya menyelidik gerakan arogan Yoongi saat menegak minumannya. Yoongi entah kenapa terlihat begitu anggun saat ini. Di pandangan Hoseok, gerakan kerongkongan Yoongi terekam jelas. Beberapa bulir minuman yang gagal masuk ke mulut Yoongi mengalir menuju dagu dan lehernya yang putih seperti susu.

Awalnya, Yoongi ingin mengabaikannya saja. Menganggapnya sebagai suara kuda yang mengembik, meminta untuk dikawini. Yah, biarkan saja. Biarkan..

Aish, sial. Yoongi risih dengan mata yang sedaritadi tertuju kearahnya.

"Apa s—"

Kalimatnya terbungkam tepat disaat Hoseok memajukan tubuhnya, untuk mencium Yoongi.

Ya, Hoseok mencium Yoongi.

Menyesap pelan bibir tipis yang berwarna merah muda pucat. Gerakannya begitu lembut, namun begitu mendamba. Bergerak secara sepihak, namun tanpa tuntutan. Membuat si empunya bergeming kehabisan kata. Tak ada balasan dari Yoongi, membuat Hoseok melepaskan pagutannya.

"Oh, tequilla?" Tebak Hoseok setengah berbisik.

Sebentar..

Hoseok mencium Yoongi?

Bibir Yoongi?

.

Di lain pihak, manik Yugyeom membola, terkejut saat Hoseok dengan berani mengecup bibir Yoongi yang setengah basah karena minuman. Dan gilanya, Hoseok yang tak tahu diri malah menyesap gumpalan kenyal itu—sumpah! ia melihat jelas gerakan bibir Hoseok yang mengemut bibir Yoongi seolah permen loli. Oke, Yugyeom memang belum pernah merasakan bagaimana dikendalikan alkohol, tapi, yah—kita anggap Hoseok terlalu mabuk.

Yoongi masih mengerjap kaget. Otaknya yang bergelar jenius itu tiba-tiba macet seketika hanya karena merasa ada benda asing menubruk bibirnya. Dirinya pun baru tersadar sepenuhnya saat Hoseok tersenyum menggoda ke arahnya.

Wow... Keberanianmu perlu diacungkan jempol, tuan Jung.

Yoongi mengangkat sudut alis kanannya. Sepertinya ia sudah paham apa yang harus ia lakukan untuk menghukum tindakan 'nakal' Hoseok. Lelaki itu menyeringai, menaikan sebelah sudut bibirnya dengan angkuh.

"Hei, Jung."

Sret..

Yoongi mengusap rahang Hoseok. Begitu lembut, seolah menjaganya bagai artefak mahal.

Hoseok memejamkan netranya. Menikmati jemari Yoongi yang perlahan menyentuh telinganya dengan lembut. Nafasnya mulai memburu, bersamaan dengan kulitnya yang meremang karena sidiki jari Yoongi. "Hn?" Jawabnya dengan erangan nikmat yang masih tertahan.

Tak terasa, jari panjang Yoongi sampai membelai tengkuk belakang pria Jung, lalu dijambak pelan. Membuat Hoseok kembali membuka kelopaknya. Seolah ada rasa terpendam di balik gerakan jemari Yoongi. Remasan di rambut belakang Hoseok memaksanya mendangak ke atas, menghadap wajah si pria pucat.

"Kau. Aku. Toilet. Hm?"

Hanya empat kata biasa, namun alkohol yang mengendalikan otak Hoseok membuatnya terdengar begitu tegas—ugh, seduktif.

Hoseok mengedipkan sebelah matanya, sembari menjilat bibir bawahnya. Ok, Yoongi anggap jika dia setuju. Pria Min beranjak dari tempat duduknya sembari itu mencengkram kuat dasi Hoseok. Ia pun menarik dasi Hoseok, membawanya mengikuti ke arah toilet.

Hampir mencapai pintu toilet, Yoongi baru menyadari tatapan canggung dari Yugyeom. Satu kata yang mendeskripsikan ekspresi wajah bocah itu: kaget. Yoongi pun meletakkan telunjuknya yang bebas di ujung bibirnya, memberi isyarat agar yang lebih muda tidak mengatakan apapun. Bersamaan dengan anggukan Yugyeom, kedua pria itu pun lenyap dibalik pintu toilet.

.

Kini, Yugyeom masih mencoba meyakinkan diri, sepertinya ia tidak sengaja minum alkohol sehingga ikutan mabuk. Namun setelah ia mencubit pentilnya sendiri—empat kali, ia yakin seratus persen bahwa ia satu-satunya pria waras disini.

Dan berarti, apa yang matanya saksikan tadi bukanlah halusinasi.

Baik, mari kita luruskan. Untuk kasus Hoseok yang mencium Yoongi, ia menganggap karena Hoseok sudah mabuk. Ya, terlampau mabuk sampai berani menghinggap di bibir tuan besar Min Yoongi. Hoseok versi normal pasti tidak akan berani menyentuh sepasang bongkahan kenyal itu walau menggunakan jempol kaki.

Yang membuat Yugyeom hampir menjatuhkan rahangnya adalah, sikap Yoongi. Tidak ada sama sekali sumpah serapah yang terlontar dari mulut pedas itu. Tidak ada nama teman-teman kebun binatang yang numpang lewat disana. Bahkan, ia justru mengajak Hosoek ke toilet dengan gerakan yang—um, menggoda.

Sebagai lelaki yang sudah mengalami mimpi basah lebih dari dua puluh kali, Yugyeom terlalu paham jika apa yang Yoongi lakukan itu mampu membangkitkan birahi Hoseok. Setahu Yugyeom pun, Hoseok lelaki yang 'lurus', fans nomor satu payudara dan lubang. Tapi jika dalam keadaan mabuk begini, perempuan atau laki-laki pasti sudah terancam lubangnya. Dan Yoongi seolah bersedia memberikan lubang berharga yang penuh kerut miliknya untuk seonggok titit kuda.

Jadi, Yoongi itu 'belok'?

Oke, cukup. Mungkin setelah beberapa waktu kedepan, Yugyeom akan menemukan salah satu dari keduanya berjalan pincang.

.

Kriet...

Tiba-tiba lamunan Yugyeom pecah karena bangku di seberangnya bergeser. Didapatinya sosok yang sedaritadi menjadi tokoh utama di pikirannya tengah menggeser kursi tempat ia duduk sebelumnya.

"Loh... Su-sudah selesai urusan dengan Hoseok-hyung?" Tanya Yugyeom canggung.

"Sudah. Si idiot itu sudah kuberi pelajaran karena mencuri bibirku yang mahal." Ujar Yoongi santai sembari kembali duduk di bangkunya semula. Pria itu kembali duduk dengan angkuh, lalu menyeruput minumnya perlahan.

Yugyeom sedikit bingung. Biasanya untuk—err, seks paling cepat dibutuhkan waktu minimal lima belas menit, itupun jika menunggu sampai klimaks. Tapi, Yugyeom yakin jika Yoongi hanya menghabiskan waktu tidak lebih dari dua menit di dalam toilet.

Dan, dimana Hoseok?

"Yugyeom-ah, bisa minta tolong?"

Suara Yoongi yang terdengar malas berhasil menunda pertanyaan yang bergerumul di otak Yugyeom terhenti. "Nde! Apa, hyung?"

"Tolong sadarkan Hoseok." Ia menyesap minumannya sebentar, "ku rasa ia pingsan."

"Eh? Ba-bagaimana bisa?" Yugyeom mengedipkan sepasang matanya, kaget.

Yang lebih tua menghela nafas. Bagaimana menjelaskannya dengan singkat, namun Yugyeom paham. Ia mulai memikirkan sebuah paragraf singkat.

Yoongi menggiring kuda binal itu ke dalam salah satu bilik di toilet, lalu menendangnya. Menjambak rambut belakangnya dan menenggelamkannya ke lubang kloset. Setelahnya diangkat, dan ditenggelamkan lagi. Hm, mungkin lima kali ia melakukan siklus itu. Dan sepertinya Hoseok sudah tidak sadarkan diri saat dilelepkan untuk yang ketiga kali.

Sebagai outro-nya, ia menutup dengan kencang penutup kloset duduk itu, sehingga tercipta bunyi debuman manis oleh tengkorak belakang Hoseok dan penutup tersebut. Setelah semuanya selesai, Yoongi mencuci bibir dan tangannya dengan sabun sejumlah tujuh kali serta mengeringkannya dengan tisu gulung. Menata kembali kemejanya yang berantakan karena kegiatannya yang menguras emosi. Merasa sudah kembali rapih dan tampan, ia pun kembali ke hadapan Yugyeom.

Ah, terlalu banyak kata yang harus diucapkan jika Yoongi menjelaskan kronologi kejadiannya. Yoongi pun memilih untuk mengedikkan bahu,

"Tadi bukankah sudah kukatakan, tentang memberinya pelajaran?"

.

.: :.


Author note.

Bonus chapter sebagai permintaan maafku karena sudah ngaret pangkat tiga. Aku baru ngerasa ternyata kemunculan mereka berdua tidak terlalu sering, makanya aku buat chapter ini. Sekalian menegaskan apa yang ada di pandangan Hoseok tentang namjin kita

Alurnya ga jelas, ngasal-ngasalan, 2k doang, tapi gini deh ehe.. Walau tidak ada adegan dewasa, semoga dimaklumi kenapa dipublish selesai puasa

Apakah ini berarti slight pairing-nya adalah YoonSeok? Entahlah, aku tidak terlalu menggubris dan peduli silght pairing di cerita ini. Ini cuma hiburan doang kok. Hoseok memang normal—untuk sekarang, dan Yoongi tetap kejam seperti biasa, ehe.

Semoga cukup menghibur ya! See you at next chapter~