Disclaimer:
Vocaloid © Yamaha & Crypton Future Media.
Happy Reading!
Suasana sunyi melanda klub malam tersebut. Luka, Kaito dan Gakupo hanya bisa saling pandang dengan cemas karena Rin berhasil disandera. Sedangkan Len masih fokus menodongkan pistolnya ke arah Dell. Dell hanya bisa mengamati situasi dengan teliti. Rin sendiri menyesal karena tak menuruti permintaan Len untuk tidak ikut menyergap.
Karena kesalahannya, misi ini gagal. Karena kesalahannya, nyawanya sendiri terancam. Karena kesalahannya, Len berwajah seperti saat ini. Dan Rin siap menerima akibatnya…
"Len! Tembak saja! Jangan perdulikan aku!"
Luka, Kaito dan Gakupo reflek terbelalak kaget mendengar ucapan tegas Rin barusan. Dell sendiri terkejut dengan ucapan Rin yang di luar dugaannya. Sedangkan Len, tersenyum tipis dan mulai menarik pelatuk pistolnya.
"As your wish, Rin…"
DOR DOR
Dua tembakkan dilancarkan Len dan melukai kaki kiri Dell dan tangannya yang memegang belati. Rin sendiri hanya bisa menarik nafas dan membuangnya perlahan untuk menenangkan dirinya. Kaki Rin sedikit tergores karena peluru yang ditembakkan Len, untungnya, peluru itu hanya menggoresnya. Bukan bersarang di kakinya.
Dell segera melepas belati yang dipegangnya saat tangannya terkena peluru dan segera terjatuh ke lantai karena tembakkan di kakinya. Luka, Kaito dan Gakupo segera membawa Dell dengan sigap menuju mobil untuk segera di bawa ke kantor.
Rin masih berusaha menenangkan dirinya dengan menarik nafas dan membuangnya perlahan. Len menghampiri Rin dan memperhatikan Rin sejenak, ia khawatir dengan keadaan Rin sekarang.
"Kau tak apa 'kan?" tanya Len khawatir. Rin membuka matanya yang semula ditutupnya, lalu tersenyum lebar dan menggeleng, tanda bahwa ia baik-baik saja. "Hanya luka gores dikit!" balas Rin dengan cengiran lebar.
Dan Len hanya membalas ucapan Rin dengan senyum tipis.
"Akh! Kupikir rekaman itu sudah dihapus!"
Len menghentikan langkahnya yang hendak menuju ruangannya saat ia mendengar teriakkan Rin dari arah sel tahanan itu. Ia pun segera memutar badannya dan menuju sel tahanan. Ia penasaran dengan maksud rekaman yang dimaksud Rin itu.
Dan saat ia sampai, ia mendapati Rin yang berwajah merah sedang berusaha merebut ponsel Kaito dari sang pemilik yang terlihat sedang mengisenginya. Di samping Kaito ada Luka dan Gakupo yang sedang menahan tawa. Jadi, rekaman apa yang dimaksud?
"Ah, Len! Bantu aku mengambil ponsel Kaito-san!" ucap Rin agak mememerintah pada Len yang masih berdiri di depan pintu menuju ruangan yang berisi para tahanan itu. "Kenapa tiba-tiba kau menginginkan ponsel Kaito-san?" tanya Len dengan datar. Rin menggembungkan kedua pipinya malas.
"Semua ini 'kan karena ucapanmu saat di perpustakaan kota waktu itu! Kaito-san menyimpannya di ponselnya!" ucap Rin sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Oh, itu. Memang kenapa dengan ucapanku saat itu?" Rin menatap datar Len yang menatapnya bingung. Sedangkan Luka, Kaito dan Gakupo sedang berusaha menahan tawa.
"Itu memalukan tau," balas Rin datar. Len memiringkan kepalanya sedikit dan menaikkan sebelah alisnya, lalu bertanya "Masa'? Aku 'kan hanya mengatakan yang kurasakan," balas Len agak bingung dengan ucapan Rin.
Rin hanya mendengus dan menggaruk tengkuknya. "Lupakan saja," bisik Rin pelan karena sudah malas melanjutkan debat.
"Oh ya, Rin. Aku ingin kau mengikuti cek darah," ucap Len tiba-tiba saat ia mengingat hal yang ingin disampaikannya. Rin mengerutkan alisnya bingung, "Buat apa? Aku sehat 'kok," tanya Rin bingung. Tapi, Len hanya tersenyum tipis dan menatapnya lembut. Dan pipi Rin agak memerah karenanya.
"Ikuti saja."
Hari-hari pun berlanjut dengan damai seperti sedia kala. Para staff masih disibukkan dengan berbagai kejahatan kecil yang terjadi di masyarakat. Kadang, Len turun tangan, kadang ia hanya memberi perintah. Semua tergantung moodnya yang tak stabil.
Rin sendiri tetap mengikuti tes darah yang diajukan Len. Dan hasilnya keluar beberapa hari setelahnya. Dan benar dugaan Len, dalam darah Rin terdapat sedikit reaksi dari narkoba. Hanya sedikit. Jadi, Rin tak bisa di anggap kecanduan. Dan hal ini membuat Rin agak merinding karenanya.
Beberapa bulan setelah kejadian tersebut, kantor sedikit dikejutkan dengan kabar Miku yang mengandung. Kaito sendiri langsung melompat bahagia mendengar kabar yang dibawakan Istrinya pada siang hari itu. Dan disusul dengan kabar Luka yang mengandung anak keduanya dengan Gakupo. Rin pikir, ini menarik. Karena Luka dan Miku kemungkinan melahirkan pada bulan yang sama. Dan ia akan memiliki seorang adik, karena Luka dan Miku sudah seperti Kakak baginya.
Dan karena kabar Miku dan Luka yang mengandung, Rin menjadi objek sasaran Miku dan Luka. Usia Rin sudah sembilan belas tahun dan akan lebih baik jika ia menikah saat usianya dua puluh tahun. Jadi, Miku dan Luka memaksa Rin untuk mencari pasangan. Walau Rin mengerti siapa orang yang dimaksud Miku dan Luka. Kaito sendiri sibuk menyiapkan kelahiran anak pertamanya dan Gakupo sibuk menyiapkan kelahiran anak keduanya, walau masih sembilan bulan lamanya sebelum anak mereka lahir 'sih.
Karena desakkan dari Miku dan Luka, Rin memutuskan untuk memulai kembali hubungannya dengan Len. Setidaknya, ia tak ingin dijauhi lagi seperti beberapa waktu yang lalu. Reaksi Len, masih sama. Tak terlalu berubah dan membuat Rin semakin berharap banyak.
Dan di sinilah ia berada, di dalam kantor Len yang dulunya kantor Ayahnya. Memulai pembicaraan dan berharap agar pembicaraan berlangsung lancar dan sesuai harapan, sambil mengucapkan doanya untuk keempat orang yang dikasihinya…
'Tou-san, Kaa-san, Lily-san, Leon-san, maaf jika aku memutuskan hal ini secara sepihak tanpa meminta restu kalian. Tapi, aku yakin kalian setuju dengan keputusanku ini… Jadi, aku ingin kalian menyetujui keputusanku… Love for you…'
THE END
A/N: Selesai. Sepertinya, endingnya maksa 'ya? Saya ingin selanjutnya reader yang menentukan endingnya. Soalnya, saya sendiri punya beberapa ending. Dan saya putuskan agar reader membuat ending sendiri. Dan saya ucapkan banyak terima kasih untuk semua reader yang sudah menyempatkan diri untuk membaca dan mereview. Gomen ne jika chapter kali ini pendek. Sekian dari saya. m(_ _)m
