Title: Ije Mak Shijaktwen Iyagi (The Story Has Just Begun) – Belongs to You
Genre: Family. Romance.
Rate: T
Cast: Jung Yunho, Kim Jaejoong, Shim (Jung) Changmin, Kim Junsu, Park Yoochun, and other.
YunJaeMin family.
Disclaimer: Saya cuma pinjam nama. Yunho milik Jaejoong dan Jaejoong milik Yunho. Plot is mine.
Pairing: Of course Yunjae.
Warning: AU. OOC. BL. MPREG. Typo.
Note: Italic = flashback
.
a/n: Anneyoong.. chapter 14 dataaaang~~ #tet_teloleeeeet~ Psstt.. YunJae jadian di sini #Hurraaaay #minummenyan #kibarkolor XD Happy reading all~ :)
.
[Previous chap]
Karena keadaan yang sangat mendukung, tanpa sadar Yunho mencium Jaejoong. Cukup lama hingga akhirnya terpaksa harus terlepas karena Junsu datang di saat yang sangat –tidak– tepat.
.
[The Story Has Just Begun – Belongs to You]
.
"Cu-ie jummaaa~ mana eomma appa?"
"Eh, Minnie ah.. bagaimana kalau aku saja yang membuatkan makanan untukmu? Eomma dan appamu sedang.. err sedikit sibuk." Junsu menjawab seraya menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Namun sejurus kemudian ia sweetdrop sendiri, kenapa pula harus gugup bicara dengan bocah? Toh Changmin tak akan mengerti.
"Eeeh? Cibuk? Tapi ini kan di lumah, macih caja cibuk kelja? Huuuh.." Changmin menggembungkan pipinya kesal. Tangannya menyilang di depan dada dengan wajah yang ditekuk.
Melihat kekesalan yang tampak dari bocah gembul di depannya, tanpa pikir panjang Junsu berujar "Eomma appamu sedang membuatkanmu adik, Minnie ah.."
Bletak.
"Yaa Kim Junsu! Jangan bicara macam-macam!"
Jaejoong melenggang santai menuju Changmin setelah kepalan tangan indahnya 'menyapa' kepala Junsu dengan tidak elitnya.
"Aww.. appo, hyuung." Junsu mengelus kepalanya seraya mempoutkan bibir, "Tiba-tiba datang dan menjitakku.. kau benar-benar mengerikan."
Jaejoong hanya melirik malas pada Junsu kemudian mengalihkan tatapan kembali pada sang aegya, "Minnie mencari eomma, eh? Waeyo?"
"Adik Min cudah celecai dibuat, eomma?"
Blush.
Jaejoong tak berkutik. Wajah putihnya kini merona sudah, bahkan sampai ke telinga hingga menampakkan warna kemerahan. Sial.. debaran jantung akibat –ehem– ciuman –ehem– tadi saja belum sepenuhnya berhenti, ditambah lagi pertanyaan polos anaknya ini. Hey, Jaejoong hanya melanjutkan mengobati Yunho setelah ciuman tadi dan langsung menuju kesini! Tak ada hal 'iya-iya' lain yang mereka lakukan.
"S–sebaiknya.. aku ke kamar sekarang." Gagap Junsu seraya menampakkan cengiran bodoh kala menyadari tatapan maut Jaejoong yang kini diarahkan padanya, kemudian segera menuju kamarnya bak pelari marathon.
Helaan napas dikeluarkan Jaejoong sebelum kembali mengalihkan pandangan pada sang aegya yang... oh, sepertinya masih menanti jawaban darinya.
"Eum.. Minnie sayang, eomma dan appa tidak membuat adik untukmu. Ahjussi-mu itu hanya asal bicara. Ah, ne, sudah waktunya makan malam kan? Minnie ingin apa?" Jaejoong mencoba mengalihkan pembicaraan, berharap Changmin melupakan perihal 'membuat adik' itu. Dan sepertinya usahanya berhasil, tampak Changmin melengkungkan bibir lebarnya membentuk senyuman.
"Samgyetang, eomma.."
"Hmm. Arraseo~ Minnie mau tunggu di sini atau di dapur, hmm?"
"Ikut ke dapul, eomma~"
"Okee. Kajja.. uuh, baby Minnie semakin berat, hmm.." Jaejoong menarik Changmin ke dalam gendongannya kemudian berjalan pelan menuju dapur.
"Min tambah becal, eomma~"
"Ne, ne.. anak eomma sudah besar, tampan, dan pintar."
"Hehe.." Changmin menampakkan senyum lebarnya, bocah itu senang bukan main dipuji seperti itu. Benar-benar bocah kecil yang narsis, eh?
"Eomma, appa eodi?"
"Eoh?" Jaejoong menghentikan langkahnya.
Hampir saja ia melupakan Yunho. Kemana orang itu? Apa masih di kamarnya? Jaejoong jadi merasa bersalah karena meninggalkan namja itu begitu saja seusai mengobatinya tadi. Tapi.. harusnya salahkan jantungnya yang tak berhenti berdebar hingga Jaejoong memutuskan untuk segera pergi saja dari sana sebelum debaran itu terdengar dan sebelum Yunho menyadari rona merah yang menghiasi hampir keseluruhan kepalanya.
"Eumm.." Jaejoong mengedarkan pandangan ke sekeliling, berpura-pura mencari keberadaan Yunho demi menjawab pertanyaan sang aegya, walau sesungguhnya ia tak berharap menemukan namja bermata musang itu sekarang juga.
"Sepertinya appa masih di kamar eomma, nanti eomma panggilkan kalau makan malam sudah siap.." ujarnya pada akhirnya dengan tak lupa menyunggingkan senyum.
.
~yunjae~
.
Masakan sudah siap, harumnya yang menggugah selera membuat Changmin yang duduk sedari tadi anteng(?) menunggu berseru tidak sabar. Pandangan mata bambinya tak lepas dari sang eomma yang tengah menuangkan samgyetang ke mangkuk besar. Mata bambi itu semakin melebar melihat makanan yang sedari tadi ditunggunya telah terhidang manis di atas meja di hadapannya.
"Changminnie.. kau harus menunggu appa dan ahjussi-mu dulu, baru boleh memakannya." Jaejoong berujar lembut namun memasang ekspresi galak yang dibuat-buat kala melihat tangan sang anak telah menyambar sendok dan hampir menciduk(?) samgyetang di hadapannya.
Changmin mengerucutkan bibirnya kesal, "Tapi Min cudah cangat lapal, eomma~"
"Ne, ne. Tunggulah di sini sebentar. Eomma akan panggilkan appa dan ahjussi-mu.."
Setelah mengelus lembut surai sang anak, Jaejoong segera beranjak dari dapur menuju kamarnya.
Ketika langkahnya semakin dekat menuju kamarnya, namja cantik itu refleks memegangi dada kirinya. Ugh.. kenapa tiba-tiba jantungnya berdebar tak karuan begini? Ia menghela napas panjang, berharap dapat menghilangkan kegugupan yang tiba-tiba menderanya.
"Sungguh aku tak bermaksud.. aku..tadi..hanya.. aish, aku benar-benar tak sadar."
Jaejoong menghentikan langkahnya ketika mendengar ucapan Yunho yang tampak frustasi dari dalam kamarnya.
"Sudah kubilang tidak apa, hyung."
'Oh, itu suara Junsu. Apa yang mereka berdua lakukan di dalam?'
Penasaran, namja cantik itu memutuskan untuk mengintip dari luar.
"Aku takut melukainya lagi."
Grep.
"Aku percaya padamu, hyung." Seru Junsu bersemangat seraya menggenggam tangan Yunho erat.
Alis Jaejoong menyatu. Ia mengernyit kesal melihat pemandangan di hadapannya, 'Apa-apaan mereka itu? Ish.' Kekesalannya semakin menjadi melihat Yunho yang hanya diam saja membiarkan tangannya digenggam.
"Ehem ehem." Jaejoong berdehem seraya melirik sinis Yunho dan Junsu, "Sudah waktunya makan malam." Pandangan matanya beralih menuju tangan mereka yang masih bertautan, membuat namja cantik itu mengerang kesal kemudian menyilangkan kedua tangan di dada, "Palliwaa.. Changmin sudah menunggu."
Menyadari arti tatapan Jaejoong, Junsu melepaskan genggaman tangannya dan beralih merangkul lengan kiri Jaejoong seraya menampakkan cengiran lebar. Junsu yakin seyakin-yakinnya hyung-nya itu cemburu padanya. Ini perkembangan bagus, pikirnya.
"Ish, Kim Junsu. Lepaskan tanganmu."
"Aigoo. Hyung galak sekali. Ayo, kita makan. Changmin sudah menunggu kan?" tak melepas rangkulannya, Junsu menarik Jaejoong keluar kamar, "Yunho hyung, kajja.."
Yunho hanya mengangguk lemas. Sepertinya apa yang dipikirkannya benar, Jaejoong pasti marah karena perlakuannya tadi yang seenak wajah tampannya mencium namja cantik itu hingga Jaejoong bersikap ketus padanya.
Tak tahukah kau, tuan Jung? Prince(ss)-mu itu sedang cemburu. Ck, sepertinya sistem otakmu bekerja sangat lambat sekarang, eh?
.
~yunjae~
.
Makan malam telah selesai sejak satu jam yang lalu. Acara santap bersama itu berlangsung cukup tenang. Meski Jaejoong sedikit risih terus ditatap oleh Junsu dengan tatapan seolah mengejek.
"Ish, ada apa dengan si bebek itu?" Jaejoong menggerutu kesal seraya meletakkan piring terakhir yang dicucinya ke rak yang tersedia. Selanjutnya ia geleng-geleng kepala heran pada diri sendiri kenapa sedari tadi ia seperti gadis ABG labil yang terus menggerutu?
Menghela napas pelan, Jaejoong beranjak dari dapur hendak menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti di ruang tamu ketika melihat Junsu yang baru saja menutup pintu depan.
"Yunho hyung baru saja pulang." Mengerti akan sikap Jaejoong, Junsu menjawab pertanyaan yang bahkan belum diajukan hyung-nya itu.
"Oh. Ne.." Jaejoong hanya bergumam singkat seraya mengendikkan bahu, kemudian melanjutkan langkahnya.
"Hyung.."
"Wae?"
"Aish.. hyuuung~" Junsu menyusul Jaejoong yang terus saja melangkah tampak tak peduli padanya, kemudian merangkul lengan Jaejoong guna menahan namja cantik itu.
"Kau marah padaku, hyung?"
"Marah? Aku? Kenapa harus marah padamu?"
"Eeeii... hyung pikir aku tidak tau, eoh? Hyung cemburu padaku kan?"
"Cemburu? Ck. Aku benar-benar tak mengerti apa yang kau bicarakan, Su."
"Aish.. sini, sini." Junsu menarik gemas tubuh Jaejoong untuk duduk di sofa yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri, kemudian menatap hyung-nya itu lamat-lamat, "Hyung tak ingin bertanya apa yang tadi aku dan Yunho hyung bicarakan di kamarmu?"
"Aku lebih penasaran perihal kalian yang berpegangan tangan."
Pppfft.. Junsu menahan tawanya yang hendak keluar. Benar kan apa yang dipikirkannya? Sikap Jaejoong yang ketus padanya pasti karena pegangan tangan itu.
"Benar kan hyung cemburu?" tanyanya seraya mengerling menggoda.
"Mwo? Ya—" Jaejoong tak melanjutkan kalimatnya. Ia baru sadar telah bicara terlalu spontan tadi, "Aishh.. jawab saja, Su." Akhirnya ia menyerah meski tampak tak mau kalah.
"Ne~, nee~" jawabnya seraya tetap tak melepaskan tatapan mengerlingnya, "Aku bilang padanya untuk segera menjadikanmu kekasihnya."
"Mwo? Kau sadar apa yang kau bicarakan, eh?" desis Jaejoong berbahaya. Tetapi sepertinya itu tak mempan karena Junsu tampak tidak terintimidasi sama sekali.
"Aish, hyung ini.. tentu saja aku sadar. Kalian sudah berciuman kan? Itu artinya kalian saling suka. Kenapa tidak berpacaran saja, eoh?"
"Aku tak pernah bilang menyukainya. Lagipula perlu kau ralat, Su. Kami tidak berciuman, dia yang menciumku."
"Tapi kau malah diam saja dan menerimanya. Waktu di bandara kau juga tak merasa risih ketika Yunho hyung menggenggam tanganmu. Satu lagi, kau cemburu padaku dan bersikap ketus layaknya ABG labil karena tadi aku menggenggam tangan Yunho hyung. Itu artinya kau menyukainya, hyung."
"Dan kau juga menyukainya? Karena dengan senang hati kau menggenggam tangannya? Begitu kan?"
"Aish, hyung~ dia takut melukaimu lagi karena itu aku mencoba meyakinkannya."
Jaejoong terdiam. Melihat hyung-nya tak kunjung membalas ucapannya, Junsu menghela napas pendek.
"Yunho hyung sebenarnya ingin menjadikanmu kekasihnya.. tetapi ia takut melukaimu lagi. Karena itu ia mengurungkan niatnya. Dia benar-benar mencintaimu, hyung. Kapan kau sadar bahwa kau mempunyai perasaan yang sama terhadapnya?"
"A—aku.." Jaejoong tampak salah tingkah. Ia menoleh kesana kemari tidak jelas, kemana saja asal dapat menghindari tatapan lurus Junsu ke arahnya. Berniat menyembunyikan wajah putihnya yang sepertinya akan merona hebat, Jaejoong bangkit dari duduknya dan beranjak pergi, "A—aku harus pergi tidur sekarang. Jaljja.."
Junsu hanya dapat geleng-geleng kepala memandangi punggung hyung-nya yang menjauh, "Chunnie.. seandainya ada kau. Jaejoong hyung pasti akan lebih mudah diajak bicara." Gumamnya penuh harap.
.
~yunjae~
.
Jaejoong duduk di tepi ranjang dengan perlahan. Takut mengganggu sang aegya yang tengah terlelap di atasnya. Tangan putih kurusnya terulur menyentuh pipi gembul bocah itu.
"Minnie ah.." panggilnya lembut seraya mencubit pelan pipi gembul tersebut. Tampak alis Changmin sedikit mengernyit merasa sesuatu mengusik tidurnya, membuat Jaejoong tak kuasa menahan senyumnya melihat ekspresi lucu yang terpasang pada wajah anak semata wayangnya.
Catch me, girl~!
Catch me now~~~!
Jaejoong sedikit tersentak mendengar lagu TVXQ – Catch Me yang tiba-tiba mengalun. Ia meraba saku guna meraih ponselnya. Mungkin itu tanda panggilan ke ponselnya, meski ia sendiri tidak ingat pernah menggunakan nada dering panggilan dengan lagu itu. Namun nihil, ponselnya tak menunjukkan apapun. Matanya memperhatikan seisi kamarnya dengan telinga yang ia pasang baik-baik. Tubuhnya digerakkan guna mendekati sumber suara.
Krek.
"Ommo!" pekiknya refleks ketika merasakan kakinya menginjak sesuatu, "Po..ponsel?"
Diambilnya alat telekomunikasi berbentuk segi empat itu kemudian menggeser ikon berwarna hijau yang tertera di layar.
"Yeoboseyo.."
'Yu—yunho?'
"Ne?"
"Oh, Jaejoong ah. Ponselku tertinggal di rumahmu ternyata. Aku akan mengambilnya sekarang. Kau belum mau tidur kan?"
"Ah, ne. Aku tunggu."
"Hmm. Gomawo."
"Ne."
PIP
'Aku tunggu' Jaejoong teringat kata-katanya barusan dan seketika itu juga ia merutuki kebodohannya. Kalimat 'Aku tunggu' itu benar-benar ambigu, aniya? Aish.. bisa-bisanya ia berkata seperti itu.
"Pabbo.. pabbo.. pabbo.." ejeknya pada diri sendiri seraya mengetuk-ngetukkan pelan ponsel Yunho ke kepalanya.
Setelah menghela napas sejenak, ia menghentikan aksi bodohnya itu kemudian menatap layar ponsel dalam genggamannya. Iseng, ia menggeser layar untuk membuka kunci.. dan voila~ tampak fotonya yang dijadikan wallpaper ponsel tersebut. Jaejoong sedikit mengernyit menatap potret wajahnya, seingatnya ia tak pernah berfoto seperti itu. Pasti Jung itu mengambilnya diam-diam, pikirnya seraya meringis pelan.
Kembali ditatapnya lamat-lamat ponsel itu. Pikiran kriminal memenuhi kepalanya. Lihat isinya sedikit tidak apa kan? tanyanya membatin seraya melihat kontak ponsel itu.
Daftar kontak itu cukup banyak. Wajar sih jika mengingat sang pemilik ponsel adalah sang direktur tampan Jung Yunho. Pasti mereka adalah rekan-rekan bisnis namja itu. Nama-nama yang Jaejoong yakini sebagai nama seorang yeoja juga cukup banyak. Di lubuk hatinya yang terdalam Jaejoong berharap yeoja-yeoja itu hanyalah rekan bisnis Yunho juga. Tsk..
"Oh." Tangannya berhenti menggeser secara vertikal ketika menatap suatu nama yang begitu menarik perhatiannya, "Jaejoongie.. eomma Changmin." Rapalnya membaca kontak yang menurutnya unik tersebut. Tanpa bisa ditahan lagi, semburat merah menghiasi pipi putih itu. Setelah wallpaper menggunakan foto dirinya, Jaejoong kembali dikejutkan dengan namanya dalam daftar kontak ponsel. Aigoo.. Yunho bisa membuatnya merona meski sedang tak berada di hadapannya. Bagaimana Jaejoong akan menghadapi Yunho nanti?
.
~yunjae~
.
TING TONG
"Oh, datang." Jaejoong langsung berdiri dari duduknya. Refleks ia melakukannya entah kenapa. Padahal ia sudah mempersiapkan seluruh jiwa dan raga (halah) untuk menghadapi Yunho, tapi tetap saja.
TING TONG TING TONG
"Hyuuung~ kau dekat dengan pintu depan kan? Kenapa tidak dibukaaa?" Terdengar lengkingan dolphin khas Junsu.
"Ndeee, Su." Jawabnya seraya berjalan cepat ke arah pintu depan. Setelah menghela napas sejenak untuk menghilangkan –setidaknya sedikit– kegugupan yang dirasa, Jaejoong membuka pintu dan tampaklah wajah tampan nan mempesona seorang Jung Yunho.
"Siapa, hyuuuung?" terdengar (lagi) lengkingan Junsu.
"Yunho. Dia ingin mengambil ponselnya yang tertinggal." Jawab Jaejoong tak kalah melengking.
Yunho hanya meringis mendengar obrolan di atas 5 oktaf itu. Jaejoong yang melihat ketidaknyamanan yang tampak dari ekspresi wajah tampan di hadapannya hanya bisa menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal seraya menggumamkan kata maaf. Tak ingin membuat Yunho menunggu lama, Jaejoong segera menyerahkan ponsel Yunho kepada sang pemilik.
"Terima kasih. Maaf merepotkanmu."
"Tidak apa, Yun." Balasnya seraya mengatur suaranya agar tidak terdengar gugup.
"Hmm.. kau.. mau pergi?" tanya Yunho sedikit heran melihat Jaejoong yang tampak.. err bolehkah dikatakan menggoda? Karena namja cantik itu mengenakan kaos tipis dengan kardigan panjang dipadu celana panjang hitam yang cukup ketat. Jangan lupakan tatanan rambutnya yang rapi.
"Ehm.. aku memang berencana jalan-jalan keluar setelah mengembalikan ponselmu."
"Oh. Kebetulan aku juga ingin mencari udara segar. Bagaimana kalau kita pergi bersama?"
Berbohong demi kebaikan itu tidak dosa kan? Sebenarnya Yunho ingin segera pulang setelah mengambil ponselnya untuk mempersiapkan presentasinya esok hari. Tetapi membiarkan Jaejoong keluar malam dengan pakaian seperti itu adalah sebuah dosa besar(?). Bisa-bisa pujaan hatinya itu menjadi objek tatapan lapar pria-pria mesum berstatus seme di luar sana. (Author: Ck, babeeh. Gak sadar lu juga mesum? XD)
"Ah, nde." Jawab Jaejoong tanpa disadari terselip nada riang dalam ucapannya. Mereka serasa akan berkencan, aniya?
"Su-ie~ aku akan keluar sebentar. Tolong jaga Changmin nee." Lagi, Jaejoong melengkingkan suara 5 oktafnya.
"Nde, hyung. Selamat menikmati kencanmu." Dan Junsu pun tetap tak mau kalah lengkingannya.
"Aisshh.. aku tak mendengar apa yang kau bicarakan, Suu~"
KLAP
Jaejoong menutup pintu secara perlahan kemudian tersenyum canggung menatap Yunho, "Kajja." Ajaknya.
Yunho hanya menganggukkan kepala dan mengikuti langkah Jaejoong yang cukup cepat. Pujaan hatinya ini sangat bersemangat malam ini. Entah apa yang membuatnya seperti itu, Yunho tak mau berdelusi.
Mereka berdua berjalan beriringan di trotoar dalam diam. Awalnya Yunho berniat menawarkan mobil mahalnya untuk menjadi tumpangan mereka, namun Jaejoong menolak dengan alasan berjalan kaki di malam hari merupakan hal menyenangkan yang tak boleh dilewati. Namja bermata musang itu menurut saja. Apapun yang dilakukan asal bersama Jaejoong itu adalah hal yang menyenangkan baginya.
Kedua namja itu masih tak ada yang membuka suara. Menikmati suasana malam kota Seoul yang masih tampak ramai. Sering kali Yunho melirik wajah manis namja yang berjalan di sampingnya, meski terkadang namja tampan itu mendapati Jaejoong yang mencuri pandang ke arahnya. Hahaha.. Yunho tertawa dalam hati melihat tingkah menggemaskan Jaejoong yang langsung mengalihkan pandangan ketika sedang tertangkap basah meliriknya.
"Kita kesana. Kajja.." ajak Jaejoong tiba-tiba ketika melihat kedai pinggir jalan yang menarik perhatiannya.
Yunho hanya menurut saja dan mengambil tempat duduk di hadapan Jaejoong.
"Tapi.. orang sepertimu apa tidak apa-apa datang ke tempat seperti ini?"
"Eh?" Yunho mengernyitkan alisnya bingung, "Memang ada yang salah denganku atau tempat ini?"
"Ah, tidak. Hanya saja.."
Yunho tersenyum penuh arti pada Jaejoong yang masih menggantung kalimatnya, pandangannya kemudian dialihkan ke arah lain, "Ahjussi.." panggilnya pada ahjussi pemilik kedai seraya mengangkat tangan kirinya kemudian menyebutkan pesanannya, mengabaikan Jaejoong yang sepertinya akan meneruskan kalimatnya.
"Kau tidak 'minum', Yun?" tanyanya heran ketika mendengar menu yang dipesan Yunho tidak terdapat soju, seperti halnya yang biasa orang-orang pesan di kedai pinggir jalan.
"Lambungku tak bisa mentolerir hal-hal seperti itu."
Jaejoong hanya manggut-manggut seraya ber'oh' ria mendengar jawaban Yunho, ia kemudian mengangkat tangan kanannya seraya memanggil ahjussi pemilik kedai, "3 botol soju."
"Eeiii, apa itu tidak terlalu banyak, Jae?"
"Haha.." Jaejoong tertawa singkat, "Rekorku adalah 6 botol tanpa mabuk."
"Mwo?" Yunho menampakkan wajah 'bloon'nya, menganga mendengar jawaban namja manis pujaan hatinya itu. Ternyata Jaejoong cukup.. err asdfghjkl.
Kembali Jaejoong tertawa, kali ini lebih keras hingga beberapa orang di sana melirik mereka. Wajah tampan di hadapannya seakan berubah 180 derajat ketika ekspresi bodoh itu tampak.
"Eiisshh.. kau tertawa seakan melihat hal paling lucu di dunia."
"Pppfftt.. kau tak tau betapa lucunya ekspresi terkejutmu itu, Yun.."
"Aisshh.. ya ya ya. Tertawa sepuasmu. Aku ikut senang jika kau senang."
Trek.
Seorang namja yang cukup berumur meletakkan beberapa piring berisi makanan yang dipesan ke atas meja Yunho dan Jaejoong. Tak lupa 3 botol soju pesanan Jaejoong dan susu jahe(?) minuman pesanan Yunho. Cara menghangatkan tubuh yang berbeda dari dua namja itu dilihat dari minuman yang mereka pesan. Jaejoong menghentikan tawanya, setelah mengucapkan terima kasih kepada sang pembawa pesanan, ia mulai menikmati soju pesanannya.
.
~yunjae~
.
Kluk.. Kluk..
Yunho tertawa geli melihat kepala Jaejoong yang terantuk-antuk. Mata namja manis itu tampak sayu dan cherry lips-nya bergerak-gerak seperti mengatakan sesuatu namun tak jelas hingga hanya terdengar seperti gumaman tak berarti.
"Rekor 6 botolmu itu sepertinya hanya bohongan, eh?" tanya Yunho berniat menggoda.
Jaejoong segera menegakkan badannya dan mengangkat kepalanya, menatap Yunho dengan mata yang dipicingkan.. bermaksud mengintimidasi namun sepertinya gagal karena hal itu malah terlihat lucu di mata Yunho.
"Aku tidak mabuk, Yuun~" bibir cherry itu melayangkan protes.
"Hmph.. ne~ ne~ kajja, kita pulang." Yunho berusaha menahan tawanya dan mulai beranjak. Menghampiri Jaejoong dan menggenggam lengannya guna menarik namja cantik itu untuk berdiri. Namun Jaejoong menahannya.
"Chakkaman.."
"Wae?" Yunho melepaskan genggamannya pada lengan Jaejoong dan menatap namja cantik itu penuh tanya.
"Boleh aku bertanya sesuatu~?"
"Nde. Tanyakan saja."
"Hmm. Apa aku mencintaimu, Yun~?"
"Heeh?" Yunho terkejut mendengar pertanyaan tak terduga yang dilontarkan Jaejoong padanya. Menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, Yunho memikirkan jawaban yang akan diberikan.
"Entahlah.. aku tidak tau, Jae. Tapi aku tau kalau aku mencintaimu." Hanya jawaban itu yang terpikir oleh Yunho.
"Aish.. itu aku juga sudah tau, Yun~ bahkan Junsu juga mengatakan itu padaku tadi. Kau tak perlu mengatakannya lagiii.. membuatku makin tertekan."
"Tertekan? Wae?"
"Junsu menanyakan padaku kapan aku menyadari perasaanku terhadapmu.. hingga aku terus memikirkannya. Dan akibatnya wajahmu terus berputar-putar di kepalaku." Jawab Jaejoong seraya menunjuk kepalanya sendiri kemudian menggerakkan telunjuknya dengan gerakan memutar.
"Wow, bagus dong. Berarti kita sama. Wajahmu juga selalu berputar-putar di kepalaku."
"Aish.. kau ikut-ikut saja." Jaejoong memukul pelan bahu Yunho, kemudian beranjak dari duduknya.
Brugh.
Karena pusing teramat sangat yang menyerang kepalanya, Jaejoong terhuyung dan akhirnya tubuhnya menubruk Yunho. Segera Yunho meletakkan lengan kiri Jaejoong ke pundaknya kemudian memapah tubuh yang lebih kecil darinya itu. Setelah membayar pesanan mereka, Yunho berjalan bersama tubuh Jaejoong yang dipapahnya menyusuri jalan untuk pulang.
"Yun~" panggil Jaejoong, memecah keheningan yang sempat tercipta antara mereka berdua.
"Hmm?"
"Cium akuu~"
"Mwo?" terkejut, Yunho menghentikan langkahnya kemudian mengangkat dagu Jaejoong dan menatap namja cantik itu lamat-lamat, "Kau.. bilang apa?"
"Aishh.. pendengaranmu bermasalah, eh? Cium aku.. di sini." Jaejoong menunjuk bibir merah merekahnya, "Aku ingin tau bagaimana perasaanku yang sebenarnya padamu."
"Hei. Tak usah mempersulit dirimu seperti ini. Biarkan waktu yang menjawab kebingunganmu itu. Dan lagi.." Yunho mendekatkan wajahnya ke wajah Jaejoong, hingga aroma alkohol menyapa indera penciumannya, "Sebenarnya aku ingin sekali menciummu, tapi.. aku akan merasa menjadi seperti orang jahat jika menciummu yang dalam keadaan mabuk seperti ini. Saat kau sadar, sebanyak apapun yang kau minta, akan kukabulkan. Arrachi?"
.
~yunjae~
.
Jaejoong bangun dari tidurnya seraya memijit-mijit pelipisnya. Kepalanya masih terasa pusing akibat mabuk semalam.
Semalam.. ukh. Jaejoong memgacak rambutnya kasar. Mengingat betapa bodoh dirinya semalam. Bagaimana bisa ia berbuat senista itu ketika mabuk?! Arrrrgghh.
Jaejoong berdo'a dalam hati supaya Yunho tak mempedulikan kejadian semalam.
"Hyung, sudah bangun?" tampak kepala Junsu di sela pintu kamar Jaejoong yang sedikit terbuka.
"Ne." Jawab Jaejoong dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Namja itu mengusap-usap kepalanya hingga rambutnya semakin berantakan.
"Bercerminlah dan lihat betapa mengerikannya dirimu sekarang, hyung."
"Aish.. tanpa kau katakan aku juga tau seberapa berantakannya aku. Sudah sana. Suara berisikmu membuatku tambah pusing."
"Eii, hyung galak sekali." Junsu memasuki kamar Jaejoong dan memegang lengan hyung-nya itu kemudian mengelusnya pelan, "Kalau kepalamu masih terasa pusing, izin tidak masuk kerja saja, hyung."
"Aku tidak apa-apa, Su. Sebentar lagi pusingnya juga hilang. Aku tidak minum banyak semalam."
"Tidak minum banyak tapi mabuk begitu? Aisshh.. kuharap tidak ada adik Changmin di rahimmu."
"Mwoya?! Apa yang kau bicarakan, Su? Kami tidak melakukan apa-apa semalam."
Jaejoong mengerang kesal. Apa-apaan dongsaeng-nya ini? Memang sih ia meminta Yunho untuk –ehem– menciumnya semalam, tapi mereka tak melakukannya. Apalagi melakukan ini-itu hingga menciptakan seorang adik untuk Changmin.. setidaknya itu sih yang ia ingat.
'Tidak.. tidak..' Jaejoong menggeleng keras ketika suatu hal buruk terlintas di kepalanya. Selanjutnya ia mengangguk-angguk yakin bahwa ia mengingat semua yang terjadi semalam saat ia mabuk dan mereka tak melakukan apapun!
"Ck, hyung aneh!" gumam Junsu, namun sepertinya tak digubris oleh Jaejoong, dapat dilihat namja cantik itu sibuk merapikan tatanan rambutnya.
"Mana Changmin?" tanya Jaejoong heran ketika melihat tak ada sang aegya di ranjangnya, sekaligus mengalihkan pembicaraan mereka dari kejadian semalam.
"Changmin sudah bangun satu jam yang lalu. Ia sudah mandi dan mengenakan seragam TK-nya. Sekarang mungkin masih menunggumu di meja makan. Ia merengek ingin makan masakanmu.. yeah, walau ia sudah menghabiskan dua bungkus roti yang kubelikan untuknya di minimarket. Demi Tuhan hyung, anakmu itu benar-benar.. Yak hyung! Aku belum selesai bicara–aish!"
Junsu menggerutu sebal melihat Jaejoong yang meninggalkannya begitu saja bahkan sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. Namja imut itu beranjak cepat menyusul hyung-nya.
Tampak Jaejoong berjalan menghampiri Changmin kemudian mengecup sang anak sekilas.
"Ish, eomma bau." Bibir lebar Changmin melayangkan protes kala aroma tak sedap menyapa hidung bangirnya.
Jaejoong yang mendengar itu memasang tampang kesal yang dibuat-buat, "Arraseo~ arraseo~ eomma mandi sekarang... Yaa Kim Junsu! Hentikan tawa menyebalkanmu itu."
Junsu yang duduk di seberang Changmin menghentikan tawanya kemudian memasang pose peace kepada Jaejoong yang selanjutnya berbalik menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
25 menit kemudian Jaejoong telah menyelesaikan acara mandinya kemudian cepat-cepat ke dapur dan memakai apronnya bersiap untuk memasak.
"Minnie.. eomma buatkan kimbap saja, ne." Jaejoong melirik jam dinding kemudian menatap sang anak meminta persetujuan.
"Apa saja, hyung. Changmin pasti akan memakannya."
"Ish.. aku tak bertanya padamu, Su."
"Cepatlah, hyung. Kau bisa terlambat."
"Aish.. si bebek itu." Jaejoong hanya bisa bergumam sebal Junsu tak menanggapi ucapannya dan malah mengalihkan pembicaraan ke arah lain. Tapi, Junsu ada benarnya sih. Ah.. daripada berdebat dengannya, lebih baik ia segera membuatkan sarapan untuk Changmin sebelum mereka benar-benar terlambat!
.
~yunjae~
.
Jaejoong, Changmin, dan Junsu menyelesaikan sarapan mereka dalam waktu singkat. Bahkan Changmin membawa kimbap yang belum habis dimakan itu sebagai bekalnya.
TING TONG
"Eh? Siapa yang bertamu pagi-pagi begini?"
"Siapa lagi kalau bukan Yunho hyung? Dia pasti ingin mengantarmu dan Changmin."
Jaejoong hanya ber'oh' ria mendengar jawaban Junsu kemudian segera menuju pintu depan untuk membukanya.
"Anneyoong.." sapa Yunho kemudian menyunggingkan senyum mautnya, sebenarnya kamuflase karena sesungguhnya namja tampan itu sedang menahan tawa yang akan keluar mengingat perlakuan Jaejoong padanya semalam.
Refleks Jaejoong menutupi wajahnya dengan salah satu tangan, entah kenapa senyuman Yunho menyilaukan melebihi mentari pagi ini. Halah.. kenapa ia mendadak menjadi pujangga?
"Appaaaa~" Changmin langsung menghambur menuju appa-nya dan dengan senang hati Yunho menggendong anak semata wayangnya.
"Minnie sudah tampan, hmm?"
"Ne~ Min tampan seperti appa."
"Nde, nde. Sudah siap untuk berangkat?"
"Lojeeeeeeel~" Changmin memasang pose hormat, sangat lucu hingga Yunho tergerak untuk mengacak surai hitam anaknya itu gemas. Setelahnya, namja tampan itu menatap Jaejoong dengan senyum tak lepas dari wajahnya.
"Kajja. Kuantar kau ke kantor."
"Eh.. tapi—"
"Aku berangkat duluan, hyung. Anneyoong.." seru Junsu menginterupsi ucapan Jaejoong yang dapat dipastikan berupa penolakan, kemudian melenggang pergi.
"Ya Kim Junsu! Jangan meninggalkanku."
"Aku buru-buru, hyung. Mian.." Junsu melengkingan suara dolphin-nya kemudian bayangannya hilang di belokan koridor.
"Aish.." Jaejoong mengerang frustasi kemudian menatap Yunho, "Aku.."
"Aku tak merasa direpotkan. Kau harus segera berangkat sebelum terlambat kan?" Yunho memotong ucapan Jaejoong kemudian menarik tangan namja yang lebih kecil darinya itu dengan tangannya yang bebas, sedang Changmin masih dalam gendongannya.
Jaejoong tak punya kesempatan untuk menolak.. tapi memang namja cantik itu tak ingin menolak sih. Rasanya ia ingin berdekatan dengan namja itu terus.
"Sudah sampai~" seru Yunho riang seraya memperlambat laju mobilnya sebelum benar-benar berhenti di pelataran TK Changmin.
"Jangan nakal di sana. Habiskan bekal yang eomma bawakan. Pulang nanti eomma akan menjemputmu—"
"Bersama appa juga."
Jaejoong sedikit terkejut mendengar Yunho yang dengan seenaknya melanjutkan ucapannya.
"Jinjja?" Changmin bertanya meyakinkan pada appa-nya dengan mata berbinar.
"Ne. Jadi tunggu appa dan eomma saat pulang nanti."
"Lojel~" Changmin memasang pose hormat kemudian membuka pintu mobil dengan bantuan Jaejoong. Bocah itu keluar dan melambaikan tangannya sebelum masuk ke gedung TK dengan langkah riang.
"Changmin selalu bersemangat." Jaejoong bergumam seraya tersenyum lembut memandangi tubuh Changmin yang perlahan menghilang.
"Yeah.. anak kita memang selalu bersemangat." Ucap Yunho kemudian mulai menjalankan audi hitamnya.
Jaejoong yang mendengar itu hanya diam, memandangi Yunho cukup lama. Hey, Jung! Berhenti membuatku merona. Kau sudah berkali-kali melakukannya kemarin, ringis Jaejoong dalam hati.
"Ada sesuatu yang aneh di wajahku?"
Jaejoong terkesiap, sepertinya Yunho menyadari sedang ditatap sedari tadi.
"Oh. Eum.. kantung di matamu.. apa kau tidak tidur semalaman?" sadar dengan ucapannya barusan, Jaejoong merutuki kebodohannya yang ingin mengalihkan pembicaraan namun malah terdengar mengkhawatirkan namja tampan itu.
"Aah.. aku tidak bisa tidur semalam karena—"
"Apa kau sudah sarapan?" lagi, Jaejoong berusaha mengalihkan pembicaraan bahkan memotong ucapan Yunho ketika merasa namja tampan itu akan mengungkit-ungkit soal semalam.
Yunho menaikkan satu alisnya bingung terhadap Jaejoong yang bertingkah aneh, "Belum. Aku tidak sempat."
"Mwo? Aisshh.. kalau kau punya waktu untuk mengantarku dan Changmin ke kantor, kenapa tak menyempatkan sedikit waktu untuk mengisi perut, eh? Sarapan itu penting, kau tau?" Jaejoong geleng-geleng kepala heran kemudian merogoh tasnya dan mengambil sebuah kotak bekal dari dalamnya, tangannya terulur menyerahkan kotak bekal itu ke Yunho, "Isinya kimbap. Tadinya ingin kujadikan bekal makan siangku, tapi lebih baik kau memakannya untuk sarapan."
"Jja.." Jaejoong menyodorkan kotak bekalnya lebih dekat ke wajah Yunho ketika merasa namja tampan itu hanya diam tak menerima bekalnya. Melihat Yunho yang masih belum bereaksi, Jaejoong memutuskan untuk meletakkan kotak bekal itu di dashboard mobil.
"Ckck." Lagi Jaejoong menggelengkan kepala heran melihat Yunho yang belum juga bereaksi. Namja tampan itu sepertinya terlalu senang hingga tak tau harus berkata atau berbuat apa.
"Go—gomawo." Ucap Yunho pada akhirnya, sangat pelan nyaris seperti bisikan, namun masih tertangkap indera pendengaran Jaejoong.
"Ne, cheonmaneyo."
.
~yunjae~
.
"Oh, bunga." Jaejoong sedikit mengernyit mendapati setangkai lili putih bertengger manis di atas mejanya. Ia baru saja kembali dari ruang atasannya untuk menyerahkan tugas kantor yang harus diselesaikannya hari ini. Beruntung hari ini tidak banyak yang harus ia kerjakan hingga ia bisa pulang siang hari ini juga.
Jaejoong mengarahkan pandangan ke sekitar meneliti kira-kira siapa orang yang meletakkan bunga ini. Merasa tak mendapat jawaban, ia membuka lipatan kertas yang berada di dekat bunga itu.
'Bunga cantik untuk orang yang cantik.'
'Jung Yunho.'
"Aish.. orang ini." Jaejoong hanya bisa tersenyum malu-malu jiji usai membaca tulisan dalam lipatan kertas itu.
"Ehem, Jae. Sepertinya kau sedang sangat bahagia, eoh?" celetuk Hyunjoong dari mejanya, "Apa itu dari namja bernama Yunho?"
Jaejoong menatap Hyungjoong sekilas, kemudian menganggukkan kepala sebagai jawaban. Merasa ponsel dalam sakunya bergetar, Jaejoong mengalihkan pandangan dari lili putih dalam genggamannya kemudian mengambil ponsel dan melihat satu pesan yang baru saja masuk. Dari Yunho.
'Kupikir setelah melihat bunga itu kau akan langsung menghampiriku di luar.'
Ternyata Yunho sudah menunggunya. Mereka berdua akan menjemput Changmin dan mungkin setelah itu berjalan-jalan sebentar. Yaah.. semoga saja, harap Jaejoong dalam hati.
"Aku pulang dulu, Hyunjoong ah. Anneyoong.."
"Hmm. Hati-hati.." Hyunjoong menatap Jaejoong yang melangkah riang ke luar ruangan, namja cantik itu sama sekali tak melepas senyumnya, "Aaah.. kau beruntung, Yunho."
.
~yunjae~
.
Seperti yang diharapkan Jaejoong, setelah menjemput Changmin di TK-nya mereka bertiga berjalan-jalan.. tetapi tidak sebentar. Mereka benar-benar lupa waktu hingga tak menyadari hari sudah gelap.
Changmin yang berada dalam gendongan Yunho masih fokus dengan robot gundam di tangannya. Mainan itu baru saja dibelikan sang appa sore tadi, sebagai hadiah karena Changmin mendapat nilai sempurna dalam pelajaran berhitung.
"Sudah pulang, hyung?" tanya Junsu sedikit sinis ketika melihat Jaejoong, Yunho, dan Changmin memasuki apartemen. Namja bohay itu iri pada keluarga kecil yang tampak bahagia tanpa mengajaknya. Haah.. ia jadi merindukan Chunnie-nya.
"Nde, Su." Tak menyadari aura sinis dan keirian yang menguar dari Junsu, Jaejoong menjawab seperti biasa.
"Cu-ie jumma~ Min beli lego belbentuk lapangan sepak bola lhoo.." seru Changmin antusias, bocah itu tau bahwa ahjussi-nya sangat menyukai sepak bola dan pasti tertarik.
"Jinjja?"
Changmin mengangguk pasti. Benar kan dugaannya. Lihat saja mata ahjussi-nya itu yang tampak berbinar-binar.
"Kalau begitu ayo kita susun legonya!" ajak Junsu bersemangat. Setelahnya Minsu memisahkan diri dari YunJae yang hanya bisa tertawa geli melihat tingkah mereka yang tampak akab seperti teman seumuran.
Keadaan hening seketika karena duo berisik (baca: Junsu dan Changmin) sudah menghilang dari ruang tamu tempat YunJae berada dan pasangan fenomenal itu tak membuka suara sama sekali. Kecanggungan melanda mereka.
"Ka—kau mau minum?"
"Tidak usah. Sungguh. Aku sedang tidak ingin minum." Yunho menahan lengan Jaejoong yang hendak beranjak.
"Oh. Nde.." Jaejoong kembali duduk.
Lagi.
Keheningan tercipta.
Hanya terdengar debaran jantung yang jelas sekali. Entah itu milik siapa.. Jaejoong berharap bukan miliknya. Hmm.. teringat kembali kejadian kemarin. Pertanyaan bodoh yang Jaejoong lontarkan.. serta permintaan konyol yang ia utarakan. Aish.. untung saja Yunho tidak menuruti keinginannya semalam. Kalau iya, bisa-bisa Jaejoong benar-benar tak bisa bertatap muka apalagi berdekatan dengan Yunho seperti ini.
"Hmm.. Yunho." Panggil Jaejoong pelan.
"Ne?"
"Semalam.." Menghela napas sejenak, Jaejoong memutuskan untuk membicarakannya, ia tak ingin lari lagi. Lari dan menghindari perasaannya terhadap Yunho, mungkin inilah saatnya, "Maafkan atas pertanyaan dan permintaanku yang konyol."
"Eh?" Yunho menaikkan satu alisnya, tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini, "Mak.. sudmu?"
"Semalam.. saat aku mabuk—" Jaejoong tak berani melanjutkan, kata-katanya seolah tersangkut di tenggorokan. Ia pikir ini mudah, ternyata sangat sulit.
"Aah.. ternyata kau mengingatnya."
"Aku mengingatnya.. dengan sangat baik."
Yunho hanya manggut-manggut seraya tersenyum lembut, "Aku tak terlalu mempermasalahkannya. Tenang saja.."
"Yeah.. aku sudah cukup tenang karena aku sudah tau jawabannya."
"Mwo? Ja—jawaban.. apa.. maksudmu?" segera Yunho memukul-mukul pelan mulutnya, kenapa juga ia jadi gugup seperti ini?
"Sepertinya aku memang.. ah ani.. bukan sepertinya.. aku memang mencintaimu, Yun." Jaejoong menundukkan kepala dalam-dalam, berharap dapat menyembunyikan rona merah yang menjalari seluruh wajahnya, "Maafkan.. aku terus menghindarinya selama ini."
"Hei." Yunho ikut menundukkan kepala berusaha mengetahui bagaimana ekspresi namja cantik di hadapannya ini sekarang, ia ulurkan tangannya menarik dagu Jaejoong, namun Jaejoong berkeras tak ingin mengangkat wajahnya. Yunho menyerah dan membiarkan kepala itu tertunduk.
"Kau bilang mengingat kejadian semalam dengan sangat baik. Itu artinya kau ingat perkataanku kan? Biarkan waktu yang menjawab kebingunganmu. Jadi kau tak perlu meminta maaf karena mungkin memang sekaranglah waktunya."
"Te—terima kasih."
"Nde. Sekarang berhentilah menunduk seperti itu. Aku ingin melihat wajahmu, Jaejoongie."
"Bi—biarkan seperti ini saja. Aku malu..."
"Eeii.." kembali Yunho menarik dagu Jaejoong.. dan kali ini berhasil karena namja cantik itu mau mengangkat wajahnya, "Kenapa harus malu dengan wajah cantikmu, hmm?"
"Aish.. aku tampan, Yunho yah." Jaejoong berusaha menundukkan kepalanya lagi, namun Yunho bergerak lebih cepat sehingga tatapan mata mereka masih bertemu.
Perlahan Yunho turun dari sofa –dengan satu tangannya tetap memegang dagu Jaejoong– dan menatap namja cantik di depannya lembut.
"Aku.. juga mencintaimu, Jaejoong ah."
"Aku sudah tau, Yunho yah. Sudah kubilang kan kalau aku mengingat kejadian semalam dengan baik? Dan kau juga pasti ingat bahwa kau sudah mengatakan itu.. bahkan Junsu juga."
"Ne, ne, ne. Cerewet~" Yunho mencubit gemas kedua pipi Jaejoong yang masih diliputi rona.
Setelah menghela napas sejenak guna mengumpulkan segenap keberanian, Yunho menatap Jaejoong lagi. Kali ini lebih dalam hingga merasa akan tenggelam dalam mata hitam nan besar itu.
"Jaejoong ah, jadilah kekasihku."
"Hmm. Aku—"
"Cukup. Kau tak perlu menjawabnya. Karena itu bukan suatu pertanyaan. Cukup turuti saja perkataanku. Arrachi?"
"Yak mana bisa begi–ya! Jung Yunho, turunkan akuu." Jaejoong memekik heboh ketika tiba-tiba Yunho menggendongnya ala bridal style.
"Jung Yunho mencintai Kim Jaejoong~" seru Yunho tak mempedulikan ucapan namja dalam gendongannya. Sejurus kemudian ia memutar tubuhnya beberapa kali.
Jaejoong hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah.. ng, bolehkah ia sebut kekasihnya? Mengingat permintaan Yunho beberapa saat lalu yang sebenarnya lebih tepat disebut paksaan. Minta turun pun percuma, karena dapat dipastikan Yunho tak akan menurunkannya. Biarlah seperti ini.. rasanya menyenangkan juga.
"Kau terlihat senang, eh?"
"Ne?" Yunho menghentikan putaran(?)nya, menatap namja cantik dalam gendongannya, kemudian berputar lagi, "Jung Yunho sangat bahagia~"
TBC
a/n: How? How? Chapter terpanjang dalam sejarah ff 'The Story Has Just Begun'. Gimanaaaa? TBC-nya gak enak yeee? Biarlah seperti itu, YunJae mau mesraan dulu, haha.. ohiya, reader ff ini adakah yang juga membaca ff saya berjudul 'Letter'? Sekedar informasi aja, ff itu tinggal 1 chapter lagi tamat dan last chapternya udah jadi. Tapi karena bopeng sana-sini, jadi mengalami editing total dan belum bisa diupdate. Karena itu saya langsung update ini mumpung ide tiba-tiba ngalir dan saya emang kangen sama readers ff ini *kecupsatusatu oke deh, gak usah banyak cincong. Ini balasan review:
akiramia44: yeah.. Junsu emang pengganggu XD sip sip, terima kasih semangatnya dan terima kasih reviewnya^^
Ai Rin Lee: Takutnya kalo gak diganggu, rate-nya naik jadi M, hehehe. Gomawo ne reviewnya^^
whirlwind27: yunjae harus diganggu terus, biar rate ff ini tetap di T, hohoho. Sip ini dilanjut. Gomawo reviewnya^^
ruixi1: akhirnyaaa :) maaf, gak janji bisa update cepet, rada stuck, hehe. Makasih reviewnya^^
Mickeyrang: sip, ini next chap-nya :) gomawo ne reviewnya^^
Mpok kitty: aiiih, kasian si duckbutt udah 4 kali dibilang pengganggu, kkk. Gomawo ne reviewnya^^
ClouDyRyeoRez: mianhae *bow chap kemarin baru update karena baru kelar uas (alasan) ^^v ini, mereka bersatu *nunjukatas. Sip, this is the next chapter. Thank you ^^
Amour: Changmin emang gemesin gomawo reviewnya^^
Fera950224: so pastii.. yunho gak pernah berhenti usaha XD siip. Gomawo ne reviewnya^^
kim. wiwin. 9: emang tuh su-ie ganggu aja, muehehe. Itu udah mesra beloom? Hehe. Gomawo reviewnya^^
Ega EXOkpopers: siip, ini lanjuuut. Gomawo reviewnya^^
Tsunade: makasih udah dibilang seru dan makasih reviewnya^^
Florist: waah, makasih authornya dibilang lucu(?) hehe. Gomawo ne reviewnya^^
MyBabyWonKyu: Jaemma emang selalu sok malu-malu padahal minta dirape #plakk gomawo reviewnya :)
kimRyan2124: haha, kau benar sekali :) gomawo ne reviewnyaa^^
Mounty: yunjae kalo udah mesra serasa dunia milik mereka berdua, kkk. Gomawo reviewnya^^
Guest: terima kasih udah dibilang menarik dan ini update yang kamu tunggu-tunggu *ngarep gomawo revoewnya^^
JonginDO: akhirnyaaaa.. yes, this is the next chapter :) gomawo ne reviewnya^^
Dewi15: ini dilanjuuut :) gomawo reviewnya^^
Orange lab: eomma-nya Yunho sepertinya chap depan :) gomawo reviewnya^^
nabratz: yunjae moment by your request :) gomawo ne reviewnya^^
Belang: makasih udah dibilang seru. Hmm, itu udah banyakkah moment romantisnya? Gomawo reviewnya^^
Blueberry: pasti doong.. minnie kan anaknya :) gomawo reviewnya^^
Loop: gapapa, yang penting kan gak benjol, hehe.. biarlah eomma dan appanya seneng-seneng dulu XD gomawo ne reviewnya^^
Anik0405: berlebihan gimana, anik-ssi? - . –a
musriaya: wooow, istilah baru 'malu-malu gajah'.. biasanya malu-malu jiji, hehe. Gomawo ne reviewnya^^
Terima kasih banyak~ :)
Regards,
Ai CassiEast
