.

.

"My Lovely, Fernandes"

By: Uchiha-Cla/Karura-Clarera

FAIRY TAIL FANFICTION

Disclaimer: Mashima Hiro-sama

Warnings: OOC, Abal, Tidak Menarik, Hasil seorang amatir.

.

A/N:

Waduh, baru update.. maaf ya untuk para reader yang sudah lama menunggu -.- Makasih loh untuk 2 review di chap sebelumnya *Karu sih berharap lbh ada banyak review #Author kebanyakan yang diinginkan -,-#* Nah, btw untuk Synstropezia-san maaf loh kalau kurang greget adegan brantemnya. Karu nulisnya buru-buru dan jujur saja sedikit tidak sabar mau menyelesaikannya, jadi gomen yaa.. hehe.

Dan inilah chap 13!

HAPPY READING, HAPPY REVIEW! ^O^


CHAPTER 13:

'Kepulangan sang Laxus'


Entah apa yang membuat semuanya menjadi separah ini. Jellal bersama Natsu dan Fairy Tail lain sedang duduk di depan ruang gawat darurat sambil diam serta berdoa dalam hati demi keselamatan sang asisten Jellal Fernandes, alias Erza.

Tak hanya Fairy Tail, tak disangka ketiga kembar dari Sabertooth itu juga duduk bersama yang lainnya. Wajah mereka semua pucat pasi. Mereka sungguh merasa simpati untuk Erza. Meski Erza terkadang dianggap sebagai musuh, tetapi Erza tetaplah orang dekat mereka. Erza sahabat sepupu mereka, Hibiki. Perasaan amat bersalah begitu merundungi Minerva.

Awalnya Minerva berniat untuk memukul Jellal dari belakang karena emosinya yang meluap-luap entah darimana. Tapi ia tidak berniat untuk membunuh Jellal, hanya ingin menikmati pertarungan dengan Jellal. Minerva ingin melihat Jellal yang terkapar dengan lebaman di sekujur tubuhnya. Tak disangka, Erza menyelamatkan Jellal.

Sesekali Jellal mendesis marah pada Minerva, namun Gray terus menahannya agar Jellal tidak menyerang Minerva begitu saja.

"Maafkan aku.. aku tidak bermaksud..." ujar Minerva dengan sungguh menyesal.

"Apa kata maaf bisa membuat Erza kembali pulih, hah?!" seru Jellal dengan nada tinggi yang menyeramkan. Semua Fairy Tail berakhir untuk menenangkan Jellal yang kalap itu.

Perlahan akhirnya Jellal pun menghela napas keras dan ia mulai mengalihkan pikirannya."Jika aku tidak ceroboh.. Erza tidak akan begini." Gumamnya lirih dalam hati. Jellal merasa sungguh hampa saat ini. Dalam benaknya hanya ada Erza, Erza seorang.

Setelah kurang lebih setengah jam, seorang dokter bernama Yuuka keluar dari ruang itu membuat semua murid SMA yang duduk di depannya refleks saja berdiri.

"Siapa anggota keluarga pasien Erza-san?" tanya Dokter Yuka dengan datar. Menambah degup jantung Jellal karena tegang.

"Saya, dok!" ujar Loke yang berlari kencang menuju ruang itu. Napasnya tak karuan, tapi wajahnya tidak menyorotkan kelelahan sama sekali. Di belakangnya ada sang nenek, Evergreen. Wajahnya saat ini malah sangat pucat. "Saya adiknya Erza!" Gray dan Natsu menghela napas karena akhirnya keluarga Erza datang juga setelah ditelpon 15 menit yang lalu.

"Bagaimana keadaan cucu saya , dok?" tanya Evergreen yang menyusul Loke mendekati sang dokter kemudian.

"Benturan keras dengan aspal di kepalanya menimbulkan luka yang harus dijahit. Selain itu Erza-san juga kehilangan banyak darah saat ini dan persediaan darah yang cocok untuk Erza-san sedang kosong. Jadi saya berharap ada salah satu kerabat Erza-san yang memiliki golongan darah Erza dan dapat mendonorkannya untuk Erza-san." Jelas sang dokter panjang lebar.

Loke menoleh pada Jellal dan beberapa teman Erza lainnya. Ia tidak memiliki golongan darah yang sama dengan Erza. Sial! Umpat Loke dalam hati. Begitupula Ever, hanya Laxus yang memiliki golongan darah yang sama dengan Erza.

"Apa golongan darah Erza, dok?" tanya Sheria dengan pelan.

"Golongan darah A." Balas sang doker.

Beberapa Fairy Tail langsung menurunkan bahu mereka karena tidak memiliki golongan yang sama. "Jellal, golongan darahmu apa?" bisik Natsu di telinga Jellal.

Jellal menghela napas keras dan menatap Natsu dengan tajam tanpa alasan. "B!" decis Jellal dengan singkat. Benar, golongan darah Erza memang terbilang tidak umum.

"Aku saja, dok!" semua mata menuju sumber suara yang baru saja datang entah darimana. Yang jelas sosok itu membuat Jellal membuka matanya lebar-lebar. "saya dan Erza memiliki golongan darah yang sama." Tambah orang itu.

Jellal merasa sedikit lega karena akhirnya ada yang ingin mendonorkan darahnya untuk Erza, namun rahangnya langsung mengeras begitu ia melihat siapa orang yang rasanya begitu dekat dan berjodoh dengan Erza, Hibiki Lates.

"Hm, kalau begitu masuk ke dalam dan kita akan mulai." Ujar sang dokter dengan datar. Lalu ia berjalan cepat menuju ruang gawat darurat. Hibiki mengikuti sang dokter dengan berlari kecil. Jellal hanya bisa melihatnya dengan perasaan serba bersalah. 'Andai aku memiliki golongan darah A. Mengapa aku tidak bisa menjadi seorang yang menyelamatkan Erza! Mengapa aku selalu membawa bencana untuk Erza?!'batin Jellal dengan tangan terkepal tanpa maksud yang jelas. Wendy dan Bisca yang mengetahui gelagat Jellal itu, sedikit merasa ngeri.

"Terima kasih, Hibi." Ucap Loke dan Evergreen pada Hibiki yang berlari kecil dengan wajah sungguh amat bersyukur dengan kehadiran Hibiki itu. mereka sudah mengenal Hibiki juga karena tetanggaan.

'Aku sungguh pembawa bencana untuk gadis itu... Apa aku harus mulai pergi darinya...' pikir Jellal lagi di dalam hatinya. Sementara ia berkecimpung dalam pikirannya sendiri, yang lain sedang mengucapkan salam pada Ever dan Loke. Mereka juga mengutarakan rasa penyesalan mereka karena telah memulai pertarungan hingga membuat Erza terluka.

.

.

BIP!

BIP!

Suara dentingan yang menggambarkan denyut jantung Erza saat ini. Erza sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, tapi ia masih belum sadar. Ever seringkali menangis menatap cucunya yang terbalut perban di kepalanya itu. Meski kata dokter kondisi Erza sudah tidak kritis, tapi tetap saja gadis itu terlihat menyedihkan.

Kurang lebih 5 jahitan telah dilakukan di kepala Erza. Pukulan dari Minerva yang bertegangan tinggi itu membuat Erza terbentur aspal kasar hingga kepalanya robek. Untunglah tidak ada kerusakan di otaknya. Tapi kita tidak tahu apakah Erza akan amnesia atau tidak karena Minerva memukul tepat di kepala bagian belakangnya.

Lucy tiba-tiba saja masuk ke ruang rawat Erza dan langsung berlari ke sebelah tempat tidur Erza tanpa mempedulikan teman-teman lainnya. "ERZA!" pekik Lucy dengan mata berkaca-kaca. Ia terlihat tidak percaya bahwa yang terbaring itu adalah sahabatnya, Erza. "Erza tidak mungkin mau dipasang selang-selang infus seperti ini. Apalagi dipasang benda aneh di kepalanya begini! Ini bukan Erza!" pekiknya sambil meneteskan air mata. Ever dan Loke ikut bersedih lagi begitu mendengar Lucy. Terpaksa Natsu menarik Lucy agar menjauhi Erza.

Di dalam ruangan ini hanya Gray dan Natsu yang menemani Ever dan Loke. Jellal masih merenung dalam diam di depan ruangan Erza sambil berdoa terus agar Erza cepat sadar bersama Hibiki. Sedangkan teman yang lain sudah pulang ke rumah masing-masing karena waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.

"Terima kasih karena telah menyelamatkan Erza." Ucap Jellal pada Hibiki yang duduk di kursi seberangnya.

Hibiki yang juga duduk dalam diam itu mengangkat kepalanya. Menatap Jellal yang terlihat pucat lemah karena lelah atau khawatir itu. "Tidak perlu berterimakasih layaknya kau adalah orang terdekatnya.." balas Hibiki datar.

"Maaf, aku hanya ingin..."

"Aku lah yang mengerti Erza. Karena aku adalah sahabatnya sejak masih kecil." Potong Hibiki yang membuat Jellal menelan ludah karenanya.

Jellal menghela napas. Ia memang terlihat kelelahan sangat saat ini. Rambutnya amat berantakan dan bajunya ada noda darah Erza. Tapi ia tidak peduli, ia hanya ingin menunggu sampai gadis itu sadar. "Hn." Dengus Jellal kemudian dengan datar.

"Ketiga kembar itu akan selalu mengejarmu sampai kau mati." Ujar Hibiki tiba-tiba membuat Jellal mengerutkan keningnya.

"A-apa?"

"Hm, kuharap kau jangan dekati Erza lagi." Tambah Hibiki yang langsung membuat Jellal naik darah.

Dengan cepat Jellal langsung mencekik kerah baju Hibiki dan mendorong pria itu ke dinding. "Apa katamu? Jangan katakan yang tidak jelas!" cetus Jellal dengan wajah memerah karena marah.

"Tidak jelas? Aku yakin pasti di dalam lubuk hatimu kau merasa sangat merasa bersalah. Karena dirimulah yang menyebabkan Erza dalam keadaan sekarang ini." Cetus Hibiki lagi yang sukses membuat Jellal tersentak.

Mata Jellal jadi redup dan ia tidak berani memandang Hibiki yang tepat menebaknya. "Memang bukan salahmu. Kembar Sabertooth itu membenci keluargamu, Fernandes." Ujar Hibiki dengan datar.

"Apa maksudmu, baka?" Jellal yang tidak mengerti hanya mengangkat sebelah alis. "jangan membawa-bawa nama keluargaku." Desisnya.

"Tidak. Aku tahu. Kakakmu Mystogan Fernandes meninggal beberapa tahun lalu, kan? Aku bukannya hanya mengatakan hal yang tidak benar." Tambah Hibiki.

Pria berambut biru dihadapan Hibiki itu menghela napas, mencoba untuk mengatur emosinya. "Jadi, apa maksudmu?" tanyanya datar.

"Itu memang pantas untuk kakakmu. Mati dengan mengenaskan." Sambung Hibiki dengan datarnya. Ia tidak peduli jika harus dimakan oleh pria rambut biru dihadapannya itu.

"APA YANG KAU KATAKAN, TEME!" amarah Jellal yang berapi-api mencuat keluar dengan cekikan keras untuk Hibiki. "PANTAS KATAMU? KAU TIDAK PUNYA HATI, HAH?!"

Mendengar suara Jellal itu, Gray dan Natsu langsung keluar. "Jellal! kau kenapa berisik seka-..." perkataan Gray terhenti begitu ia menyadari pertengkaran Jellal dan Hibiki. Kedua mata mereka sempat tidak percaya.

"Siapa yang tidak punya hati, Jellal? Kau atau diriku, hah?" balas Hibiki masih dengan tenangnya.

Jellal hanya meninju pipi Hibiki hingga pria itu terantuk ke tanah. Di saat itulah Gray dan Natsu baru sadar dari ketidakpercayaannya dan langsung menahan Jellal yang hendak meninju Hibiki lagi. "Kau keterlaluan, Hibiki! Aku tidak akan bisa melepaskanmu! Apa hubungannya kecelakaan ini dengan kakakku, hah?!"

Hibiki bangkit berdiri dan menatap Jellal dengan sebuah seringaian. "Ketiga sepupuku itulah yang telah membunuh kakakmu." Tambahnya datar. Sontak Jellal langsung tersentak. Kedua matanya membulat dan kakinya lemas tanpa sebab tiba-tiba. Rasa tidak percaya menyelimuti matanya.

"Apa kau bilang..." gumamnya namun dapat didengar Hibiki. Gray dan Natsu menoleh pada Jellal dengan heran. Mereka sama sekali tidak tahu ada masalah apa.

"Tapi tidak seharusnya kau balas dendam pada ketiga orang itu, Jellal. kau tahu, kakakmu memang pantas mendapatkannya." Tambah Hibiki lagi sambil mengusap darah yang menetes dari ujung bibirnya.

"Hibiki hentikan!" seru Gray dengan tegas. Ia tidak ingin Jellal mengamuk lagi. Tidak ada yang dapat menghentikan amukan Jellal, ia tahu itu. jangan sampai ada banyak korban berjatuhan berkat amukan Jellal.

Hibiki mendengus dan langsung membalik badannya hendak meninggalkan semuanya setelah berkata, "Mereka juga lahir di Fase Eight dan memiliki kutukan gelap yang sama seperti Erza. Seharusnya kau tahu bagaimana menderitanya mereka, Jellal." ujarnya sebelum akhirnya ia melangkah kakinya perlahan.

Gray dan Natsu saling bertatapan dan mengangkat bahu karena tidak mengerti. Kemudian keduanya memandang Jellal yang kini berlutut di tanah itu. Kedua kakinya bergetar dan lemas. Matanya menatap lantai putih dengan redupnya. Ia tidak pernah bisa melupakan kematian kakak tercintanya. Terlebih, misteri tentang Fase Eight rasanya begitu aneh dan dekat dengan kakaknya.

Jellal hanya terdiam dengan mata berkaca-kaca. "Apa yang sebenarnya terjadi, aniki..." tanya Jellal di dalam hati.

Ia tidak pernah bisa menjawab misteri ini hingga sekarang...

.

.

Mendapat email mengejutkan dari Loke, Laxus langsung menyerbu Fiore. Ia kembali ke Fiore. Pesawatnya melandas tepat pukul 6 pagi dan ia langsung menaiki taksi untuk ke rumah sakit Erza, tidak peduli rasa kantuk dan lelahnya saat ini.

"Rumah sakit Fiore." Ujarnya pada supir taksi.

Sesampainya di Fiore, Laxus berlari kencang ke ruang rawat inap Erza. 502. Tanpa mengetuk ia pun menyembur masuk dengan napas terengah. Membuat Loke yang menjaga Erza itu langsung terbangun.

"Erza..." sapa Laxus sambil menatap Erza yang masih belum dasar dengan iba. Kedua matanya sungguh tidak percaya. Adiknya yang bergitu kuatnya bisa separah ini.

"LAXUS-NII!" pekik Loke setelah mengucek-ucek matanya. Dilihatnya pria besar berambut pirang, Laxus, memeluk Erza dan baru menatapnya.

"Loke. Bagaimana Erza? Belum sadar sejak kemarin?" tanya Laxus. Terbesit nada cemas di pertanyaan kakaknya itu.

Loke mengangguk pelan lalu ia menghela napas. "Belum, aniki." Gumamnya pelan.

Laxus ikut menghela napas. "Apa yang terjadi, hah? Siapa yang membuat Erza si Kepala Besi ini terluka kepalanya seperti ini, hah?!" tanya Laxus dengan nada menggema. Sama seperti Erza. Membuat Loke bingung bagaimana menjawabnya.

"Ia bertarung bersama Fairy Tail melawan Sabertooth."

"Apa itu Fairy Tail? Apa pula Sabertooth?" tanya Laxus beruntun.

"Fairy Tail itu organisasi keamanan di sekolah Erza. Sedangkan Sabertooth itu sekolah berandalan di Fiore ini."

Laxus mendecih kesal. "Anak zaman sekarang tidak ada yang benar. Tetapi Erza tidak mungkin ceroboh dan terluka seperti ini." Katanya dengan datar. Lalu ia menghempaskan tubuhnya ke sebuah kursi yang ada di pinggir tempat tidur Erza.

"Erza mencoba untuk melindungi Jellal." sahut Loke sambil mengambil segelas air putih dan menyerahkan pada anikinya yang terlihat amat lelah itu. Terlebih mata panda menghiasi wajah anikinya itu. Pasti aniki tidak tidur selama di pesawat, tebak Loke dalam hati.

"Jellal Fernandes?" tebak Laxus tepat sasaran. Membuat Loke sedikit terkejut.

"Aniki tahu darimana?!"

"Ia adiknya temanku dulu."

"Teman aniki siapa?" tanya Loke penasaran.

Laxus yang meneguk air pemberian Loke dengan rakus itu menghela napas, "Namanya Mystogan. Dia sudah meninggal."

'Pasti Mystogan ini adalah penyebab kemarahan Jellal kemarin. Karena Hibiki menyebut nama orang itu.' kata Loke di dalam hati. Ia kemarin sempat diceritakan Gray dan Natsu. Jellal kalap karena Hibiki mengungkit tentang kematian kakaknya Jellal, Mystogan.

"Aku tidak tahu penyebab kematiannya, keluarganya juga begitu. Pasti Jellal sangat menderita." Sambung Laxus dengan datar. Lalu ia memandang Erza yang masih memejamkan mata itu. "tidak kusangka Erza perhatian padanya."

Loke terdiam. Ia memang sama sekali tidak tahu bagaimana Jellal sebenarnya itu. "Erza dijadikan asisten Jellal, aniki." Ucap Loke dengan mengusap-usap dagunya. "herannya kenapa Erza mau, ya? Aku rasa ada sesuatu di antara mereka berdua." Tambahnya.

"Maksudmu Erza menyukai Jellal, begitu?" tanya Laxus memastikan.

"Bukan, maksudku, pasti mereka sudah pacaran." Koreksi Loke dengan asal.

"Baka, jangan menebak yang tidak-tidak." Balas Laxus sambil mendecakkan lidah.

"Tapi mereka sering pergi bersama, aniki!"

"Hibiki juga dekat dengan Erza tapi mereka tidak berpacaran, baka!" sahut Laxus lagi tidak mau kalah.

Loke langsung mendecih. Ia memang tidak pernah menang jika berargumen dengan kakaknya itu. "Terserah apa kata aniki."

"Erza masih kecil tidak boleh berpacaran." Tambah Laxus lagi. "lagipula Jellal harus melewati setiap test dariku untuk menjadi pacarnya. Enak saja adikku diambil dengan mudah begitu saja." Ucapnya lagi dengan mata berapi-api. Seolah tahu apa yang akan ia lakukan untuk mengetes kecocokan Jellal menjadi kekasih adiknya itu.

"Aniki menyeramkan kalau berlagak seperti itu." gumam Loke menatap anikinya yang tengah mengangguk-angguk karena telah mendapatkan ide untuk mengetes Jellal.

Beberapa saat kemudian, jemari Erza bergerak pelan. Perlahan kedua bola mata gadis itu terbuka. Awalnya matanya terbuka sempit dan menatap langit-langit yang berwarna putih itu. Telinganya menangkap bunyi asing.

Begitu ia memiringkan kepalanya, ia sedikit heran karena ia tidak tahu sedang ada dimana. Yang jelas kenapa ada Loke yang duduk di sofa dekat tempat tidurnya itu. sejak kapan ada sofa di dekat tempat tidurnya. Erza bingung. "Aku dimana?" tanya Erza pelan. Membuat Loke yang tadinya menatap Laxus di seberangnya langsung meluncur ke arah Erza yang telah membuka mata itu.

"ERZA!" pekik dua suara dari dua orang. Membuat Erza tambah bingung dan melihat ke arah lain.

Bedanya kali ini mata Erza langsung membulat sempurna karena terkejut. "ANIKI!" teriaknya tetapi dengan lemah.

"Halo, Erza." Ucap Laxus sambil mengelus rambut adiknya itu.

"Aniki sejak kapan datang? Baka, kenapa baru datang ke sini, aniki?!" cetus Erza bertubi.

"Maaf, Erza.. aku baru bisa mengunjungimu." Sahut Laxus masih mengelus-elus kepala adiknya.

Erza hanya tersenyum lemah sampai akhirnya ia menyadari ada benda aneh melilit kepalanya. "Eh, apa ini?" tanyanya menyentuh perban di kepalanya, "kenapa kepalaku diperban seperti ini?"

"Kau tidak ingat kejadian kemarin, Erza?" tanya Loke dengan mengangkat sebelah alis dan Erza hanya menggeleng pelan. "Jangan bilang kau amnesia, Erza?!"

"Bukan begitu, baka! Aku hanya ingat aku mendorong Jellal dan aku terjatuh ke aspal. Itu saja." Sahut Erza membenarkan. Membuat Laxus dan Loke menghela napas lega.

"Kau terbentur aspal hingga kepalamu robek, Erza." Terang Laxus dengan suara beratnya.

Erza menatap anikinya itu dengan wajah berseri-seri, "Sungguh? Tidak mungkin. Jadi aku di rumah sakit?" tanyanya lagi masih tidak percaya.

"Hmm." Angguk Laxus dan Loke.

"Heh, benarkah aku di rumah sakit?" Erza masih tidak percaya. Ia baru percaya begitu menyadari infus yang dipasang di tangan kanannya. "sudah berapa lama aku di sini?" tanyanya lagi dengan raut wajah tidak percaya.

"Tiga hari. Dan kau baru sadar." Sahut Loke dengan datar.

"Tidak mungkin!"

"Jangan mengatakan tidak mungkin terus, baka! Sekarang katakan apa hubunganmu dengan Jellal Fernandes?" tanya Laxus dengan paksa. Seolah harus dijawab segera.

Erza tertegun. "Aniki kenal Jellal? Wah, pantas saja Jellal pernah bertanya juga apa hubunganku dengan aniki. Pasti karena kalian saling mengenal. Jadi bagaimana kalian bisa saling mengenal?"

"Ck, jawab pertanyaan aniki, Erza. Jangan malah balik bertanya!" ucap Loke yang penasaran itu.

Erza mengedipkan matanya dua kali. "Dia teman SMA-ku." Sahut Erza dengan pelan.

"Benar hanya sebagai teman?" tanya Laxus lagi menyelidik.

"Sungguh!"

Laxus malah berkacak pinggang dan memutar matanya. Ia masih belum sepenuhnya percaya.

.

.

Siangnya Erza tidak betah dan terus merengek minta pulang. Akhirnya ia diperbolehkan pulang sorenya. Laxus dan Loke terus menemani Erza, di siangnya Laxus sempat pulang ke rumah Ever untuk mandi dan menaruh kopernya. Loke sempat menelepon Gray untuk memberitahukan Erza sudah sadar dan sudah diperbolehkan untuk pulang. "Tidak perlu menjenguk Erza lagi, sekarang Erza sudah di rumah. Terima kasih, ya, Gray." Ucap Loke di ponselnya.

"Loke, kenapa kau menelepon Gray?" tanya Erza yang sempat menguping pembicaraan Loke di ponselnya itu. saat ini mereka berdua sedang duduk di sofa ruang tamu di rumah Evergreen. Baachannya itu belum kembali dari kantor, katanya hari ini ada rapat penting dengan perusahaan di Ishgar. Sedangkan Laxus kini sedang di dapur dan memasak untuk kedua adiknya meski ia telah menguap berkali-kali.

"Terus aku harus menelepon siapa? Jellal, begitu?"

Mendadak wajah Erza malah memerah tanpa sebab. Erza terdiam karena entah kenapa ia sedang ingin bertemu Jellal. ia berharap Jellal mendatangi rumahnya.

"Aku tidak ingin Jellal mendengar kau pulang dan langsung meluncur kemari. Kau tahu? Sepanjang sore hingga malam ia di rumah sakit menemanimu. Sampai baachan menyuruhnya untuk pulang dan jangan khawatir. Tapi pria itu masih saja keras kepala hingga akhirnya ia diseret paksa olehku agar pulang ke rumah." Jelas Loke dengan panjang lebar membuat Erza tercengang. "Sekarang jelaskan, Jellal itu pacarmu atau bukan, hah?!"

"Bu-bukan, Loke! Kau sudah gila, mana mungkin aku mau pacaran dengan serigala!" tukas Erza dengan terbata.

"Jadi kenapa kau begitu memperhatikan Jellal, hah?!" tanya Loke meminta penjelasan dan Erza hanya terdiam dengan semburat merah di kedua pipinya.

Dengan berat Erza menghela napas dan menghempaskan punggungnya ke punggung sofa. "Karena ia telah berhutang padaku, tahu." Balas Erza menutupi.

"Haha, jadi maksudmu sekarang Jellal yang berhutang budi dan pantas dijadikan asisten, begitu? Jadi ceritanya ingin balas dendam, ya?!" tebak Loke sambil tertawa keras. Membuat Erza kesal dan menjambak rambut Loke.

"Apa? Erza, kau berhutangbudi apa pada Jellal?!" tanya Laxus cepat sambil membawa nampan berisi makanan untuk kedua adiknya.

"Ya, dia menolongku saat tenggelam dan memberi napas buatan, eh!" Erza menutup mulutnya karena keceplosan, membuat Laxus menggeleng dan Loke terkejut hebat.

"Jellal memberi napas buatan padamu?! Hwaaa.." ucap Loke dengan tawaan. Sebuah pukulan mendarat di perut Loke. Padahal sedang sakit tetapi Erza masih kuat, ya. Batinnya.

"Kenapa kau sungguh ceroboh, hah?! Erza!" ucap Laxus tidak percaya.

Erza yang memberengut itu menatap anikinya dengan ngeri. "Maaf, aniki. Saat itu aku tidak sarapan jadi jatuh ke sungai di sekolah." Terangnya.

"Huff, ada-ada saja.." Laxus menghela napas. "tapi tidak apa, yang terpenting adalah kau selamat dan masih hidup, Erza.." tambahnya dengan tersenyum kecil pada Erza. "sekarang makanlah. Aku buatkan sandwich untuk kalian. Aku ingin mandi dan tidur." Utus Laxus kemudian sambil menaruh nampan makanan itu di meja depan sofa.

"Terima kasih, aniki!" ucap Loke dan Erza serempak. Seperti anak kecil...

.

CHAPTER 13 END!

TBC...

Jujur saja, di chap banyak loh petunjuk tentang Fase Eight blablabla. Ayooo, boleh loh mulai menebak2 bagaimana jadinya rahasia dibalik kematian Mystogan. Bagi yang tepat menebak akan diberi hadiah oleh Karu! *ah masa sih* Okey deh, kuharap kalian enjoy dengan chap ini. Sekali lagi, mohon reviewnya yaa.. Terima kasih. :D

SEE YA ;D