POLAR

.

.

a story by minseokmyass

www asianfanfics com/story/view/1016240/polar-mingyu-seventeen-meanie-wonwoo-meaniecouple

Disclaimer : I do not own this story. I got the permissions to translate and post the fic here.

Rate : T

Kim Mingyu

Jeon Wonwoo

and the others SVT members

Happy reading!


#19 Lee Seokmin


"Seokmin-ah?"

9 anak lainnya berpikir kalau mereka berdua kelihatannya sudah saling mengenal, tapi mereka semua pikir Mingyu tidak memiliki teman sebelumnya, atau tidak pernah -setidaknya- menyebutkan siapa temannya selain mereka.

"Ternyata benar kau!" Seokmin menyeru sambil bangkit dari sofa yang ditidurinya, dan memeluk Mingyu.

Mingyu terkejut mendapat pelukan tiba-tiba itu, masa lalunya membuatnya sedikit trauma pada kontak fisik, dan pelukan yang tiba-tiba itu sama sekali tidak membantu. Tapi, Seokmin masih tetap bersikeras memeluk Mingyu, dan teman-temannya di sekitar mereka tertawa melihat reaksi Mingyu yang sedang mendorong Seokmin menjauh, masih merasa asing dengannya,

"Yah, yah, kenapa kau bersikap seperti itu padaku?" Mingyu bertanya,

Seokmin masih tetap tersenyum di antara ringisan kesakitannya, meskipun hanya sedikit, dan ia melingkarkan tangannya di belakang kepalanya.

"Karena kita teman!", anak lelaki itu berkata sambil tersenyum.

Berbulan-bulan sudah terlewati, dan Seokmin jadi sedikit lebih tinggi, meskipun rambut hitamnya dan senyumannya masih tetap sama. Ia sudah hampir setinggi Mingyu. Untuk beberapa alasan, wajah Mingyu memerah mendengar kalimat itu dan Jihoon menyadarinya, lalu tertawa.

"J-jangan konyol. Kita baru bertemu sekali," Mingyu berkata.

"Ya, tapi kau menangis saat kita bertemu, jadi otomatis itu membuat kita dekat, kan?"

Mingyu memberikannya tatapan tajam karena menyebutkan kalau ia menangis. Bukan berarti ia memiliki harga diri yang tinggi, ia baru berusia 12, tapi ia tahu kalau teman-temannya mungkin akan bertanya alasannya, dan ia tidak yakin apakah ia sudah siap untuk memberitahu mereka. Tapi, Mingyu juga tidak bisa marah pada Seokmin, senyumannya membuatnya lemah dan ia lemah terhadap rajukannya, jadi ia hanya berkata,

"Tetap saja. Kita hanya bertemu satu kali pada hari itu,"

"Mingyu-ah, jangan bersikap sedingin itu~" Seokmin mengeluh,

"Ayo kita melihat bintang bersama lagi!" Ia menambahkan, dan Mingyu memejamkan matanya mendengar itu.

"Bintang? Pelajaran kesukaan Mingyu adalah sains," Jisoo berkata,

"Dia pernah menghabiskan waktu istirahat makan siang untuk mempelajari nama bintang-bintang, berkata kalau ada seseorang yang tidak-"

Mingyu memukul Jeonghan sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, pipinya memerah.

Seokmin menatap anak laki-laki yang lebih tinggi darinya itu lalu sebuah senyum puas menyebar di wajahnya,

"Apa kubilang, bintang itu punya nama! Kau padahal bisa memberitahuku kalau kau tidak tahu waktu itu,"

Mingyu memalingkan wajahnya, sedikit cemberut,

"Sekarang kau bisa memberitahuku nama-namanya!" Seokmin berkata dengan senyuman yang bersahabat,

"Tidak mau, kenapa aku harus-"

Soonyoung menampar tangannya,

"Jangan terlalu jahat,"

"Yah, bagaimana bisa orang sepertimu berteman dengannya, huh?"

Seungcheol berkata begitu mereka menyamankan diri mereka di sekitar ruangan itu. Bangunan yang sudah tidak terpakai itu pada dasarnya kosong, kecuali sofa yang masih ada di bawah sinar matahari yang masuk melalui jendela dan saat ini menyinari Seokmin, membuatnya lebih terlihat seperti malaikat dan manis. Anak-anak itu duduk di sekeliling ruangan, di sofa, di lantai, meninggalkan Seokmin dan Mingyu yang tetap berdiri.

"Dia tidak terlalu buruk." Seokmin menjawab, tertawa. Mingyu menyipitkan matanya ke arah Seokmin,

"Apa maksudmu tidak terlalu buruk? Aku luar biasa." Ia berkata, dan membuat anak-anak lainnya mendengus, tertawa, atau memutarkan mata mereka. Mingyu duduk di sofa, dan Seokmin mengikuti, duduk di sebelah anak lelaki tinggi itu.

"Jadi, Seokmin... kenapa kau bisa berada di gang tadi?" Jisoo bertanya hati-hati.

Seokmin memiringkan kepalanya dan berpikir beberapa saat sebelum menjawab,

"Oh! Aku sedang berjalan pulang dari sekolah, tapi aku tersesat. Jadi, aku bertemu dengan anak-anak tadi, dan... sepertinya kalian sudah tahu yang selanjutnya terjadi."

"Tunggu, kau bersekolah di sekolah kami?" Hansol bertanya.

Pada saat mereka bertemu Seokmin, itu sudah hampir di akhir tahun pelajaran, saat itu bulan April dan ulang tahun Mingyu berada di bulan ini. Setelah berada di sekolah selama 7 bulan, mereka berpikir rasanya aneh kalau mereka tidak menyadari ada anak lelaki tinggi memakai kacamata, yang mungkin saja berada satu kelas dengan salah satu di antara mereka.

"Mulai hari ini," Seokmin berkata,

"Yah, kenapa kau selalu tersesat? Apa kau buta arah?"

"Mingyu-ya, tidak semua orang bisa menemukan jalan pulang darimana pun mereka memulai, oke?" Jeonghan membalas.

Mingyu menggerutu pelan dan menyilangkan tangannya di depan dada. Ia tidak berpikir kalau ia sangat hebat, tapi kemampuannya dalam menghafal jalan benar-benar luar biasa, jadi ia pikir rasanya aneh seseorang bisa sampai tersesat.

"Oh, terima kasih banyak kalian sudah menyelamatkanku." Seokmin berkata dengan sedikit nada meminta maaf dari suaranya, dan tersenyum.

"Tidak masalah! Cobalah untuk tidak terlibat dengan anak-anak seperti itu lagi... mereka adalah mimpi buruk," Soonyoung berkata.

"Apa maksudmu 'tidak masalah'?! Kalian meneriakiku untuk kembali! Secara teknis, aku yang menyelamatkanmu." Mingyu menjelaskan. Teman-temannya mulai tertawa, termasuk Seokmin.

"Tapi tetap saja rasanya senang karena tahu kita sudah menghentikan bullying."

"Yah. Kita harus tetap melakukan ini, kita akan seperti pahlawan!" Lee Chan berkata, sisi anak 12 tahun dalam dirinya muncul. Tetapi, teman-temannya juga berumur 12 tahun, jadi mereka semua setuju dan bersorak lalu berkata kalau mereka akan jadi lebih kuat. Cukup kuat untuk melindungi apa yang mereka sayangi, cukup kuat untuk saling menjaga satu sama lain.

"Jadi... Siapa namamu?" Jisoo bertanya, sudah tahu separuh namanya, tapi ia berpikir kalau lebih baik untuk saling berkenalan secara resmi.

"Oh!", Seokmin berdiri dari tempat duduknya, mengejutkan anak-anak di sekitarnya, dan ia membungkuk formal,

"Halo, namaku Lee Seokmin! Senang bertemu dan kenal dengan kalian semua.", ia berkata keras-keras, suara kerasnya menggema di bangunan kosong itu. Perkenalannya selesai dan diikuti oleh keheningan yang terasa canggung, dan Seokmin berdiri di tempatnya, dengan 10 pasang mata yang menatap ke arahnya. Ia menggaruk belakang kepalanya dan tersenyum canggung. Keheningan itu terus berlanjut sampai mereka semua tertawa keras. Suara tawa dan tepuk tangan mereka bersatu dalam sebuah ketertarikan, sedangkan Seokmin berdiri di tengah-tengah tawa itu, tidak tahu harus melakukan apa.

"Yah, tidak perlu seformal itu!"

"Kita bisa jadi teman, jadi tidak usah bicara seperti itu!"

"Memangnya kami ini gurumu?"

Kalimat-kalimat itu dikatakan di antara tawa mereka, dan Seokmin langsung merasa nyaman dan ikut tertawa. Benar-benar pertemuan yang aneh, tapi ia menyukai kesembilan teman barunya yang menunjukkan wajah bersahabat dan kelihatannya sudah menerimanya. Ia duduk kembali di sebelah Mingyu dan tersenyum,

"Sepertinya kita bisa jadi teman betulan, sekarang!", ia berkata dengan senang.

Mingyu juga tersenyum, untuk rasa bahagia yang rasanya masih asing untuknya.

"Okay, teman-teman!"

Yang paling tinggi di antara mereka berdiri dari sofa, dan mengulurkan tangannya,

"Ayo kita buat perjanjian."

"Yah, yah, siapa yang mengatakan kalau kau ketuanya?" Minghao protes,

"Lagipula kalian semua selalu mendengarkanku! Kalian ikut berlari menolongnya setelah aku berlari, jadi secara otomatis aku ketuanya." Mingyu berargumen.

"Tapi, kau tidak bisa memerintah kami seenaknya!" Lee Chan meminta.

Mingyu memutar matanya,

"Tentu saja aku tidak akan." Teman-temannya mengangguk setuju dan Mingyu tersenyum.

"Oke! Kemari," Mingyu berkata, tangannya masih terulur, menggunakan tangan yang satunya lagi untuk menyuruh teman-temannya mendekat, berkeliling di sekelilingnya. Satu persatu, anak-anak itu mendekat, termasuk Seokmin, dan mereka membuat sebuah lingkaran, tangan Mingyu berada di tengah lingkaran itu. Mingyu menggerakkan tangannya, bermaksud menyuruh teman-temannya untuk melakukan hal sama, lalu sebelas tangan saling bertumpukkan satu sama lain, tangan Mingyu berada di paling atas. Ia memberikan tatapan aneh, menggelengkan kepalanya, dan menarik tangannya,

"Tidak jadi, ini terlalu klise."

Ia lalu menggenggam jari kelingking Seokmin, yang berdiri di sebelah kanannya.

"Ini, ayo lakukan seperti ini. Pegang jempol orang di sebelah kananmu dengan jari kelingkingmu." Mingyu memberi instruksi.

Memang membutuhkan waktu lama, tapi akhirnya anak-anak itu berhasil menghubungkan mereka semua. Mereka membentuk sebuah lingkaran, dengan tangan mereka yang saling terkait di tengah lingkaran itu,

"Tunggu, kenapa harus jadi kelingking?" Jihoon bertanya.

"Seperti pinky promise," Mingyu menjawab,

"Apa yang kita janjikan?" Lee Chan bertanya.

"Hmmm..." Mingyu mulai berpikir.

"Bagaimana kalau kita berjanji untuk selalu bersama?" Seokmin menyarankan dan teman-temannya langsung tersenyum dan mengangguk setuju.

"Dan berjanji untuk jadi lebih kuat demi melindungi sesuatu yang penting bagi kita?" Hansol menambahkan.

"Oke!" Mingyu berseru, mengeratkan pegangannya pada dua anak laki-laki di sebelahnya.

"Kita, saudara," ia tersenyum pada teman-temannya, dan teman-temannya balas tersenyum.

"Berjanji untuk selalu bersama tidak peduli apapun yang terjadi. Dan akan berjanji untuk selalu kuat demi melindungi sesuatu yang penting bagi kita!"

Ke-10 anak lainnya membalas dengan teriakan, lalu saling melepaskan tangan satu sama lain setelah saling bersorak. Seokmin tersenyum, karena ia akhirnya menemukan kumpulan orang-orang yang membuatnya merasa seperti dimiliki. Bangunan yang terbengkalai ini tidak terlalu buruk, malah interior dalamnya masih bagus, dan hanya bagian luarnya yang terlihat kotor.

"Yah! Ayo kita jadikan tempat ini markas kita," Seokmin berkata.

"Markas untuk apa? Kita bukan sebuah geng" Minghao menjawab.

"Memang bukan~, ini hanya, jadi seperti tempat kita bersenang-senang?" Seokmin mengklarifikasi.

"Tapi apakah disini aman?"

"Kita akan membuatnya aman," Seokmin meyakinkan dengan senyumnya yang menenangkan.

Anak-anak itu memandang sekeliling mereka dan mulai mengangguk-angguk puas.

"Oke! Ini akan jadi markas rahasia kita." Mingyu berseru.

Dan hari itu adalah hari dimana grup mereka terbentuk. Secara spontan, tidak direncanakan, hanya sebuah kejadian yang jadi seperti efek domino dari kehidupan pertemanan dan kekeluargaan mereka.

.

Tiga tahun setelahnya, anak-anak itu sudah berusia 15 tahun, beberapa dari mereka bahkan sudah 16 tahun, dan Mingyu akan berulang tahun yang ke-16. Anak-anak itu terus bersama selama 3 tahun. Tidak ada drama atau perkelahian, karena mereka sudah seperti keluarga sekarang. Mereka benar-benar dekat, tidak ada seorangpun dari mereka yang merasa canggung satu sama lain, dan mereka bisa membagi segalanya dengan satu sama lain. Kembali ke rumah, Mingyu masih sering mendapat pukulan. Pria itu tidak pernah menyentuhnya seperti itu lagi, terimakasih Tuhan, tapi karena Mingyu sekarang sudah rajin masuk sekolah, pria itu akan memukul punggungnya atau di kakinya, atau dimanapun asalkan bekas pukulannya tidak terlihat dan tertutupi pakaian. Mingyu mencoba berada sejauh mungkin dari rumah, kebanyakan menghabiskan waktunya di markas sepulang sekolah, lalu pulang ketika matahari sudah terbenam dan sudah tidak ada siapa-siapa lagi di markas mereka.

Setelah 3 tahun bersama-sama dengan orang yang sama, membangun ikatan kuat yang tidak bisa diputuskan dan sebuah persahabatan yang bisa dengan mudah berubah menjadi sesuatu yang lebih, menjadikan perasaan sebagai faktor utama dalam setiap perbuatan, keputusan, dan kata-kata. Mingyu memilih untuk merahasiakan apapun yang menimpanya di rumah, memutuskan kalau setidaknya apa yang tidak teman-temannya ketahui tidak akan menyakiti mereka. Semua orang tahu, dan berpikir kalau semuanya terlihat jelas, tentang Mingyu dan Seokmin yang seperti berkencan. Mereka berdua adalah yang paling dekat, hampir sama dengan Jisoo dan Jeonghan. Kalaupun mereka memang berkencan, hampir tidak akan ada yang berubah. Mereka saling melingkarkan tangan sambil berjalan atau berlari secara natural, meskipun mereka selalu mengatakan mereka hanya sebatas 'saudara'. Tapi, mereka berdua memiliki perasaan untuk satu sama lain. Namun, karena mereka sangat dekat, mereka berdua menekan perasaan masing-masing karena takut persahabatan mereka yang luar biasa bisa rusak.

Ulang tahun Mingyu jatuh pada hari Sabtu tahun ini, jadi teman-temannya memutuskan untuk membuat sebuah kejutan dan datang kerumahnya untuk memberikan hadiah mereka. Mereka sudah berusia 16 tahun, beberapa masih 15, tapi mayoritas dari mereka adalah anak remaja dan berpikir kalau rasanya keren bisa membuat pesta kejutan untuk saudara mereka. Jadi, saat itu pukul 6 sore dan Mingyu duduk di kamarnya, membaca buku astrologi sambil memakan kue. Lalu ia mendengar suara bel, dan membuka pintu kamarnya. Ia melihat ayahnya berjalan menuju pintu saat ia baru turun dari tangga, dan matanya langsung melebar ketika pintu itu terbuka dan memperlihatkan 10 teman-temannya. Lalu tiba-tiba ia merasakan perasaan takut dan khawatir luar biasa tentang apa yang akan dilakukan ayahnya. Teman-temannya seusia dengannya, dan mereka ada banyak, jadi ia dengan cepat berlari menuruni tangga dan menghampiri mereka.

"Mingyu-ya!" Seokmin yang berada paling depan tersenyum sampai matanya menghilang.

Mingyu dengan cepat menatap ayahnya lalu kembali menatap teman-temannya.

"Apa yang kalian lakukan di luar, anak-anak. Masuklah!" Pria di belakang Mingyu mempersilahkan teman-temannya masuk.

Kesepuluh anak itu memasuki rumah, dan Mingyu menghela napas lega. Ia sedikit berterima kasih pada kebiasaan ayahnya yang selalu bertingkah seperti ayah dan suami yang sempurna di hadapan orang-orang. Jadi, setidaknya untuk sekarang, ia bisa tenang dan tidak khawatir tentang ayahnya yang akan menyakiti teman-temannya. Yang memang tidak dilakukannya. Malah, teman-temannya di hibur oleh pria itu, yang memberikan mereka makanan dan membiarkan mereka menghabiskan waktu di ruang bawah tanah, dimana tempat kesukaan Mingyu berada. Pria itu tertawa dan berbincang dengan teman-temannya, dan untuk sepersekian milidetik Mingyu bisa dibodohi dan berpikir kalau mungkin, mungkin, begitulah ia akan diperlakukan mulai sekarang. Sekitar pukul 8, teman-temannya berpamitan, dan tiba-tiba Seokmin menarik pergelangan tangan Mingyu.

"Tn. Kim! Kami akan menculik Mingyu malam ini! Terima kasih untuk hari ini!"

Dan mereka pergi.

"Yah! Yah! Kita akan kemana?!" Mingyu berkata, sedikit panik saat ia membalikkan badannya untuk menatap ayahnya yang sedang melambaikan tangannya, dan memaksakan sebuah senyuman yang langsung menghilang ketika teman-temannya dan ia sudah tidak terlihat lagi.

"Ayolah! Bersenang-senanglah sedikit, ini hari ulang tahunmu!" Soonyoung berkata.

Sebelas anak laki-laki itu berlari, dan setelah setengah perjalanan, Mingyu tahu kemana mereka akan pergi; ke markas.

Ketika mereka sampai, mereka semua menyebar di dalam ruangan itu. Mingyu sedang mencoba menarik napas sedalam-dalamnya setelah berlari di atas sofa, ketika tiba-tiba Seokmin muncul, duduk di lantai di hadapannya. Ia membawa kotak kecil, yang lalu ia berikan pada Mingyu. Mingyu menerimanya, penasaran dan membalik kotak di tangannya.

"Selamat ulang tahun, Mingyu-ah.", anak laki-laki itu berkata dengan manis.

"Ini dari kami, Leader!" Lee Chan berkata, tertawa.

"Selamat ulang tahun, Mingyu!" Mereka semua bersorak dan Mingyu tidak bisa tidak tersenyum.

Mingyu membuka kotak itu, di dalamnya berisi cincin perak. Ia menatap cincin itu, dan menyadari kalau teman-temannya juga mengangkat jari manis di tangan kanan mereka masing-masing.

"Ini adalah janji kita." Seokmin menjelaskan, menatap Mingyu yang sedang menatap cincin itu. Ia memakai cincin itu di jari manisnya. Mingyu tersenyum dan bangkit dari sofa, memeluk Seokmin, lalu melambaikan tangannya, menyuruh teman-temannya untuk bergabung dalam pelukan mereka.

"Terima kasih... I love you."

"Oh! Aku juga punya hadiah lain untukmu," Seokmin mengumumkan ketika pelukan mereka terlepas. Mingyu memiringkan kepalanya dan Seokmin berjalan ke ujung ruangan yang biasanya tidak terlihat dari tempat mereka biasa menghabiskan waktu di bangunan itu. Seokmin membawa sebuah teleskop berwarna putih dengan pita di atasnya.

"Selamat ulang tahun!" Ia berkata, dan Mingyu sekali lagi tersenyum, matanya hampir meneteskan air mata.

"Sekarang, kau harus memberitahuku semua nama bintang-bintang itu, oke?", anak itu berkata dengan senyum di wajahnya, dan Mingyu memeluknya sekali lagi.

"Terima kasih." Ia berbisik di telinga Seokmin.

Sisa malam itu mereka habiskan tentang berbicara tentang pesta kejutan untuk Mingyu yang berjalan sukses. Tapi lalu, teman-temannya mulai membicarakan tentang ayah Mingyu. Mereka semua memuji ayahnya, membicarakannya dalam konteks yang positif. Mengatakan tentang betapa keren ayahnya yang bisa bermain video games, dan memberikan mereka makanan ringan. Beberapa dari mereka bahkan berani mengatakan, "Aku harap dia adalah ayahku," atau "Mingyu-ya! Adopsi aku, aku menginginkan ayahmu". Tentu saja, teman-temannya tidak tahu tentang sifat asli ayahnya, dan selagi mereka terus membicarakan tentang sifat baik ayahnya, ingatan-ingatan yang menyeramkan dan buruk bermunculan di kepala Mingyu. Tapi, teman-temannya terus melanjutkan, dan Mingyu akhirnya memotong pembicaraan itu,

"Jangan katakan apapun tentangnya, please!" ia berkata, memejamkan matanya erat. Teman-temannya menatapnya dengan pandangan khawatir,

"Kalian tidak menginginkan dia ada di dalam hidup kalian, kumohon jangan katakan itu. Tolong jangan berharap kalau dia jadi ayah kalian, kalian tidak tahu dia yang sebenarnya..." Mata Mingyu berkaca-kaca, sambil memohon pada teman-temannya.

"Mingyu-ah..." Jeonghan berkata, hati-hati.

Dan malam itu adalah malam dimana Mingyu menceritakan masa lalunya pada teman-temannya. Masa lalu yang menyeramkan, mengerikan yang sejujurnya ia harap bisa ia kubur dalam-dalam, tapi selalu muncul setiap hari, setiap kali ia dipukuli. Teman-temannya tidak pernah melihat Mingyu menangis sebelumnya, ketua mereka adalah orang yang kuat, dan selalu tersenyum. Tidak ada seorangpun yang tahu apa yang sudah ia lalui, dan mereka semua terkejut, tidak tahu harus melakukan apa saat melihat air mata Mingyu jatuh menuruni pipinya selagi ia menceritakan tentang perasaan dan apa yang ia alami di masa lalu.

Malam itu terus berlalu dan Mingyu sudah sedikit tenang, berterimakasih pada teman-temannya yang sudah membuatnya merasa nyaman dan memberikannya pelukan. Ia mengatakan pada mereka kalau ia baik-baik saja, dan kalau suatu hari nanti, ia akan keluar dari rumah itu, atau membuat ayahnya keluar dari rumah itu. Itu hanya masalah waktu.

Saat ini, anak-anak itu tengah berkumpul di sekeliling teleskop putih dan Mingyu sedang mencari bintang menggunakan alat itu. Lalu, untuk mendapatkan pemandangan yang lebih baik, mereka berakhir dengan pergi ke atap gedung itu. Mereka membawa beberapa selimut dan bantal, semuanya berbaring di atap, menatap bintang-bintang. Mingyu menunjuk beberapa bintang dan mengatakan nama-nama bintang yang ia tahu.

"Bukankah kalian seharusnya pulang?" Mingyu bertanya, khawatir pada teman-temannya.

"Nah, ayo kita tidur saja disini malam ini." Jihoon berkata,

"Rasanya akan sama seperti saat kita berkemah!" Minghao berkata, dan teman-temannya tertawa mendengar pernyataan yang sedikit bodoh itu.

Teman-temannya yang lain sudah tertidur, Mingyu dan Seokmin tidur bersebelahan. Semuanya sudah tertidur, dan hanya tersisa Mingyu dan Seokmin yang masih terbangun.

"Mingyu-ah, apa kau masih bangun?"

Mingyu hanya menjawab dengan sebuah gumaman.

"Bintangnya sangat indah." Seokmin berkata, dan Mingyu hanya tersenyum setuju.

"Apa kau pernah dengar lagu tentang bulan dan bintang?"

"Wow, spesifik sekali."

Mereka berdua tertawa pelan, mencoba tidak membuat yang lainnya terbangun,

"Nyanyikan sedikit untukku."

Dan malam itu adalah malam dimana Mingyu mengetahui bakat menyanyi Seokmin, yang membuatnya semakin jatuh hati padanya.

Short step, deep breath

Everything is alright

Chin up, I can't step into the spotlight

Mingyu jatuh tertidur mendengarkan suara lembut sahabatnya.

"Ini adalah hari ulang tahun terbaik yang pernah kudapatkan," Mingyu berpikir dalam tidurnya.

.

Pada saat mereka berusia 16 tahunlah segalanya jadi memburuk. Semuanya dimulai dengan kejadian sederhana, tidak terlalu berbahaya. Pada awalnya, anak-anak itu terlibat perkelahian, bukan perkelahian serius, hanya beberapa pukulan yang dilayangkan disana dan disini. Tidak seperti Mingyu, Seokmin tidak terlalu kuat, jadi ia tidak terlalu banyak berpartisipasi, hanya mendukung saudara-saudaranya dari sisi. Anak-anak itu berkelahi, mendapatkan pengakuan dari setiap orang yang mereka "kalahkan", tapi sebenarnya mereka hanya menyentuh orang-orang yang mengacau lebih dulu dengan mereka. Jika kau menyentuh salah satu dari 11 orang itu, maka kau harus berhadapan dengan semuanya. Jadi, mereka mendapatkan pengakuan dari sana sini. Namun, mereka tidak tahu kalau satu perkelahian itu bisa mengubah seluruh hidup mereka.

Suatu hari, anak-anak itu berjalan menuju markas mereka, pada sore hari. Hanya 10 orang dari mereka karena Seokmin berkata ia akan menemui mereka di markas dan mengambil jalan yang berbeda, jadi mereka hanya berkata oke dan berjalan terpisah. Saat itu hari sudah gelap, tapi sebagai anak remaja pada umumnya, mereka senang bermain saat malam, dan tidak ada masalah dengan itu. Orang tua mereka selalu tahu anak-anak seperti apa mereka.

Mereka sedang berjalan ketika mereka mendengar suara ribut-ribut dari sebuah gang dalam perjalanan mereka. Mereka berjalan lebih percaya diri dibandingkan dengan apa yang pernah mereka lakukan dulu, jadi tanpa ragu, Mingyu menginjakkan kakinya di jalan sempit itu untuk melihat apa yang terjadi. Di atas tanah terbaring Seokmin, sesekali terbatuk mengeluarkan darah, dan tubuhnya luka di sana-sini. Ada sekelompok laki-laki yang memukuli Seokmin tanpa henti, mengerahkan seluruh tenaga mereka. Mata Mingyu melebar sambil berlari menghampiri mereka, teman-temannya mengikutinya di belakang. Rasa marah menutupi seluruh perasaannya, kau tidak akan membiarkan anggota keluargamu sendiri dilukai seperti itu. Dan dengan itulah, perkelahian hebat terjadi diantara kedua kelompok itu. Meskipun mereka mendapat pengakuan dari banyak orang, mereka tetaplah remaja yang masih muda, tidak tahu betapa jahatnya bagian terburuk dari kehidupan jalanan. Ini adalah salah satu perkelahian paling serius yang pernah mereka lakukan, dan pada saat mereka berusia 16 dan 17 tahun, bahkan belum cukup untuk disebut dewasa. Berbagai pukulan dan tinjuan dilayangkan, suara teriakan dan erangan kesakitan bisa terdengar dari keributan itu. Seokmin ditahan oleh 2 orang di kanan dan kirinya, Mingyu merasa putus asa dan mencoba menghampirinya. Semua teman-temannya tahu kalau Seokmin itu lemah, jadi diantara perkelahian mereka, tujuan utama mereka adalah untuk melindungi Seokmin, bersama dengan menghabisi musuh-musuh mereka. Lawan mereka terus-terusan menghalangi jalan Mingyu dan Mingyu akan dengan cepat menjatuhkan mereka atau melayangkan pukulannya, dan Seokmin terus mengerang, air mata menetes dari matanya, mungkin karena takut. Dan lalu, itu terjadi. Sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Sebuah pisau dapur dalam perkelahian tanpa senjata.

Mata Mingyu melebar saat permukaan tipis yang tajam dan memantulkan sinar bulan itu dengan cepat dan kasar menembus tubuh Seokmin, yang sekarang mencengkeram lukanya kesakitan. Teman-temannya yang lain juga melihat itu, dan langsung memukul sekuat yang mereka bisa, mengerahkan seluruh tenaga mereka, dan mengalahkan musuh mereka secepat mungkin. Mingyu dengan cepat berjalan menghampiri Seokmin, setelah berhasil mengalahkan musuh. Ia berhasil melihat sekilas lelaki yang menusukkan pisau itu di tubuh sahabatnya, dan ia berjanji tidak akan pernah melupakan wajah itu -teman-temannya juga melakukan hal yang sama-. Tubuh Seokmin berlumuran darah, memenuhi jalan sempit itu dengan cairan berwarna merah pekat. Mingyu panik, tapi ia tahu kalau ia harus secepatnya membawa sahabatnya ke rumah sakit. Ia dengan cepat menarik Seokmin, yang hampir tidak sadarkan diri, setelah dipukuli dan ditusuk. Mingyu menempatkannya di punggungnya, lalu mulai berlari menuju rumah sakit terdekat yang jaraknya hanya 20 menit dari tempatnya saat ini, 15 menit jika Mingyu berlari dengan cepat. Mingyu berlari, tidak terlihat seperti orang yang baru selesai berkelahi. Teman-temannya baru akan ikut berlari dengannya, tapi lalu mereka berpikir kalau 10 orang terlalu banyak untuk datang ke rumah sakit. Jadi mereka membiarkan ketua mereka mengatasi situasi ini, dan berharap yang terbaik.

Sayangnya, yang terbaik tidak terjadi.

Seokmin terbaring lemah di punggung Mingyu,

"Yah, yah Seokmin-ah. Kau masih sadar, kan? Jangan khawatir, kita hampir sampai, hampir sampai." Mingyu berkata untuk menenangkan Seokmin dan berusaha untuk membuatnya tetap sadar.

"Mingyu-ah...", suara orang di belakangnya terdengar lirih.

"Maaf... Aku sangat lemah, tidak seperti kalian, aku tidak bisa melindungi diriku sendiri," ia mendengus, "sangat menyedihkan, kan?"

"Diamlah, jangan buang-buang tenagamu dan tetaplah berusaha untuk sadar, kita hampir sampai di rumah sakit."

"Kau juga mengatakan itu 7 menit yang lalu..."

Mingyu menggigit bibir bawahnya, tahu kalau setidaknya ia membutuhkan waktu sekitar 8 menit lagi untuk benar-benar berada dalam posisi 'hampir sampai'.

"Mingyu-ah... Maafkan aku karena menjadi beban untukmu. Katakan juga pada yang lainnya, oke?"

"Kau bisa memberitahu mereka sendiri setelah kau keluar dari rumah sakit, oke?"

Seokmin tertawa pelan,

"Mingyu-ah... Kau tahu kalau aku mencintaimu, kan?"

Mingyu terkejut pendengar pengakuan tiba-tiba itu, dan hampir berhenti berlari, tapi ia tetap melanjutkan larinya, mengingat prioritas utamanya saat ini.

"Bukan dalam konteks seorang saudara yang terdengar bodoh itu. Tapi dalam konteks yang membuatku ingin menggenggam tanganmu, menyebutmu milikku, aku bahkan ingin menikah denganmu."

Mingyu tetap diam mendengar pengakuan Seokmin, dan terus berlari, merasa sedikit lega setiap ia berhasil melewati satu gedung karena itu tandanya mereka semakin dekat.

"I love you, Kim Mingyu." Seokmin berkata, dan Mingyu rasanya ingin berteriak padanya, mengatakan kalau ia juga mencintainya, tapi lalu anak itu mulai bernyanyi, lagu yang sama dengan yang malam itu ia nyanyikan di atap markas mereka.

When this world is no more,

The moon is all we'll see,

I'll ask you to fly away with me

Until the stars all fall down,

They empty from the sky

But I don't mind, if you're with me

Then everything's alright

Anak laki-laki di punggungnya berhenti bernyanyi, dan Mingyu menganggap itu sebagai tanda untuk berlari lebih cepat lagi. Ia berhasil, ia berhasil memperpendek jaraknya dan berhasil sampai di rumah sakit dalam 4 menit, putus asa mencari seseorang yang bisa membantu temannya yang berlumuran darah di punggungnya. Dokter yang berpapasan dengannya langsung membawa Seokmin menuju brankar, dan membiarkan Mingyu berdiri di sana, darah temannya berlumuran di tangannya, dan membasahi punggungnya.

Seokmin tidak berhasil selamat.

Mingyu mengetahuinya dan memberitahu teman-temannya kalau luka tusuk di perut Seokmin menembus ususnya, menyebabkannya mengalami pendarahan dalam. Dokter mengatakan padanya kalau Seokmin pasti memiliki keinginan untuk hidup yang kuat dan ia juga berkata mengejutkan sekali Seokmin bisa bertahan selagi dalam perjalanan menuju rumah sakit. Orang bilang, terkadang kau bisa merasa sangat sedih sampai-sampai air matamu tidak bisa menetes. Itu adalah yang Mingyu rasakan saat ini. Mingyu tetap memasang wajah datarnya, air mata tidak mengalir dari matanya yang kini terlihat kosong. Bahkan di pemakaman anak itu, duduk di barisan paling depan, satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah menatap sahabatnya yang berada dalam peti mati.

Kejadian ini menyebabkan masing-masing anak itu pindah sekolah. Beberapa tahun setelahnya, Minghao ternyata masuk ke sekolah yang sama dengan bajingan yang menusuk dan membunuh Seokmin. Jadi, Mingyu memutuskan untuk membalas dendam, membuat luka di wajah Sungwon, lalu dikeluarkan dari sekolahnya karena itu, meskipun ia sama sekali tidak menyesal.

Perkelahian yang membuat mereka kehilangan sahabat ini membuat mereka sadar kejamnya kehidupan di jalanan. Tapi mereka memilih untuk tetap tinggal. Mendapatkan reputasi, dan kekuatan yang lebih besar, semuanya untuk mencegah agar tidak terjadi kehilangan yang lainnya. Mereka merasa terguncang karena salah satu dari keluarga mereka sudah tidak ada bersama mereka lagi, jadi masing-masing dari mereka mengambil waktu selama 2 minggu untuk bersedih, dan memahami situasinya. Ketika mereka berkumpul kembali di markas, sebagai ketua, Mingyu memutuskan untuk memimpin doa. Mereka membentuk sebuah lingkaran, menghubungkan jari kelingking dan jempol mereka, Mingyu berpikir rasanya berbeda tanpa kehadiran sesosok anak laki-laki yang selalu tersenyum di sebelah kanannya. Cincin mereka terlihat saat mereka bersorak, dan saat ini, kebanyakan dari mereka sudah menangis, termasuk Mingyu yang air matanya menetes terjatuh di pipinya.

"Untuk Seokmin!", ia berteriak, diikuti oleh teman-temannya. Penyesalan, rasa bersalah, dan rasa sedih bisa terdengar dari suara teriakan mereka.

.

Kejadian itu sudah 2 tahun yang lalu. 2 tahun yang lalu mereka kehilangan seorang teman. Cincin milik Seokmin diberikan pada Mingyu, yang sekarang ia gunakan sebagai bandul kalungnya. Ikatan persaudaraan mereka semakin kuat. 2 tahun yang lalu juga, Mingyu akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu tentang ayahnya. Semuanya datang seperti ombak, pertama adalah saat ia akhirnya berani untuk melawan, kemampuannya sudah tinggi karena pengalamannya di jalanan, dan rasa bencinya pada pria itu sudah menguasai hatinya. Lalu, ia memutuskan untuk mendatangi Komisi Perlindungan Anak, diam-diam, dan mengajukan keluhan, bertanya pada orang-orang itu apakah jika ia memiliki bukti mereka bisa memenjarakan monster yang ia sebut 'ayah'. Mereka menyetujui tuntutannya, jadi Mingyu memasang kamera di kamarnya, tahu karena ayahnya akan segera memukulinya lagi cepat atau lambat, dan ketika itu terjadi, ia merekam semuanya dalam video. Begitulah kejadiannya sampai akhirnya orang-orang tahu bagaimana perilaku ayahnya yang sesungguhnya. Ibunya meminta maaf berkali-kali karena merasa bukan ibu yang baik, tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan anak satu-satunya itu.

.

Sekarang, saat usianya menginjak 18 tahun, Mingyu memiliki kekasih bernama Jeon Wonwoo, dan ia dan ibunya hidup di rumah kecil mereka, dengan bahagia. Masa lalunya memang kacau, dan masa depannya masih tidak terlihat, tapi seperti itulah kehidupan Kim Mingyu sejauh ini. Matanya mungkin terlihat dingin dan tajam, tapi jika kau melihat caranya menatap Wonwoo, atau bintang-bintang, atau pusara sahabat sekaligus cinta pertamanya, kau akan melihat kalau ia, juga manusia, bukan hanya anak berandalan di jalanan yang berkelahi hanya untuk bersenang-senang.

Ia berkelahi untuk sahabatnya yang kehilangan nyawanya di jalanan, meskipun ia sama sekali tidak terlibat. Ia berkelahi untuk saudara yang masih ia punya saat ini, dan untuk orang-orang tidak bersalah yang terluka di jalanan, seperti Lee Seokmin.

Lee Seokmin.

Sebuah nama yang masih terasa sensitif dan menyimpan banyak kenangan buruk, dan ingatan yang anak-anak itu harap bisa mereka lupakan. Tapi tidak mereka lakukan. Karena Lee Seokmin juga memiliki jutaan kenangan manis yang membuat mereka tertawa dan tersenyum sampai saat ini, 2 tahun setelah kejadian itu. Mereka masih tertawa mengingat perdebatan tidak berarti yang biasanya Seokmin dan Mingyu lakukan jika mereka berbeda pendapat. Mereka tertawa mengingat suatu waktu, Seokmin terjatuh saat akan menuju ke atap, dan berakhir dengan bergulingan di tangga. Kesepuluh dari mereka tahu kalau Seokmin pasti ingin melihat mereka bahagia, dan terus tersenyum meskipun ia sudah tidak ada, karena memang orang seperti itulah Lee Seokmin.

Mingyu mencoba menyimpulkan kejadian 2 tahun lalu sebaik yang ia bisa, menjelaskannya pada kekasihnya saat ini sambil berjalan pulang. Saat ia menyelesaikan ceritanya, mereka sudah sampai di beranda rumah Wonwoo. Mereka berdiri berhadapan, dan Wonwoo sudah menangis keras. Mingyu tertawa sambil mengusap air mata kekasihnya dan memeluknya, meredam suara tangisan Wonwoo yang masih terus berlanjut,

"Maafkan aku, maafkan aku..." Wonwoo mengatakan itu berulang-ulang dibalik tangisannya dan di balik jaket Mingyu.

"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja." Mingyu meyakinkan Wonwoo dan mencium keningnya, menunggunya sedikit lebih tenang, lalu akhirnya mengantar Wonwoo pulang.

Mata Wonwoo merah dan ia langsung di serbu oleh pertanyaan dari ibunya, yang membuatnya akhirnya menceritakan semuanya, sambil menangis, begitu juga dengan ibunya.

Malam Natal itu, Wonwoo dan Mingyu pergi tidur dengan pikiran yang sama. Wonwoo karena penasaran, dan Mingyu mengenang tentang seorang anak laki-laki nerd, yang bernama Lee Seokmin.

.

.

.

To Be Continued


Oke jadi aku tahu ini ngaret bangettttttt dari seventeen masih release teaser sampe mereka udah 2 minggu promosi:(:( wkwk

Katanya mau seminggu dua kali tapi jadinya dua minggu sekali:'') tapi kerjaan aku lagi banyak-banyaknya dan hampir dua minggu ini ff ini ngga ada progressnya sama sekali...

Ini aja ngebut aku selesain hari ini karena aku pikir emang udah kelamaan... dan chapter ini tuh banyak dan aku selesain hampir setengahnya hari ini:'')

dan ini un-beta dan pasti banyak typo dan kata-kata yang anehnya jadi mohon di maklum:') atau bisa kasih tau di review bagian mana-mananya aja yg typo okeeee?:))

dan beberapa paragrafnya ada yang kebanyakan itu karena aku gatau harus motong dimananya wkwk jadi maaf kalo ngga nyaman dibaca;)

Chapter setelah ini balik fluff lagi tapi aku belum bisa janjiin kapan... kalo lagi ngga ada kerjaan semoga sebelum lebaran juga udah up chapter selanjutnya, tapi kalo kerjaan aku masih banyak kayaknya next chapternya abis lebaran:(

Ya udah itu aja curhatannya, intinya aku seneng DWC era ini moment meanienya banyak bgt HAHAHAHAHAHAHAHAHA gila foto-foto mereka yg fansign sebelahan itu gila banget. bikin lemes WKWK. yaudah itu aja. bye.

Read n Review?

Love,

seulgibear