PRINCESS'S STORY
.
AQUARYOUNG21
.
FAMILY, ROMANCE, FRIENDSHIP, HURT/COMFORT
.
CAST
SM FAMILY, GS for UKE
.
.
.
PRINCESS'S STORY CHAPTER 14
.
.
Padang yang indah, ilalang menghampar dimana mana. Yang Joonmyeon tau, kini seseorang tengah berdiri memunggunginya dan Joonmyeon sangat mengenal sosok itu.
"Jongin.."lirihnya. sosok itu menoleh dan menampakkan wajah yang amat ia rindukan.
"kau datang Joon?"
"tentu, tak ada alasan bagiku untuk tidak datang" Joonmyeon memeluk erat tubuh Jongin. Dan Jongin balas memeluk Joonmyeon. Mengecup kepala gadis itu berulang kali.
"Joon, aku merindukanmu." Joonmyeon mengeratkan pelukannya dan membuat tubuhnya senyaman mungkin karena dia tau Jongin akan tetap menahannya seperti ini. Seperti yang Joonmyeon inginkan. Seperti yang Joonmyeon butuhkan. Jongin sellau menjadi orang itu, orang yang rindukan.
"sama, aku lebih merindukanmu.."
"kalau begitu, bisakah kau menungguku kembali? Aku mungkin akan pergi lama, tapi aku yakin.. suatu hari nanti aku akan kembali untukmu"
"berapa lama? Berapa lama aku harus menunggu?"
Jongin menghela nafas sebentar. Lalu beranjak pergi.
"kau mau kemana?"
"aku egois, menyuruhmu untuk menunggu.. pergilah Joon, cari kebahagiaanmu" ucap Jongin sebelum menghilang. Entah kenapa kaki Joonmyeon mendadak kaku dan tak bisa digerakkan. Niat hati mengejar Jongin apa daya tak mampu, jadilah dia menangis di padang itu seorang diri. Dunia kembali sunyi dan gambaran pada ilalang indah itu menghilang berasamaan sosok Jongin yang tak lagi terlihat. Joonmyeon menangis lagi dan semua berubah menjadi gelap gulita.
.
.
Joonmyeon terbangun dengan nafas yang masih memburu. Keringat bercucuran di keningnya. Sepertinya dia baru saja mendapat mimpi tak mengenakkan. Joonmyeon menumpu wajahnya dengan salah satu tangannya. Dia menangis lagi.
"kenapa.. kenapa seperti ini.." lirihnya. Dia mengacak rambutnya frustasi namun kemudian dia ingat dengan mimpi yang baru saja dialaminya.
"ya.. aku tak bisa diam saja, aku harus menemui Jongin, bagaimana pun caranya"ucap Joonmyeon memantapkan hatinya. Ia bergegas turun dari ranjangnya dan mengambil beberapa lembar uang. Dia berjalan keluar kamarnya dengan langkah pelan, tak ingin membuat siapa pun di rumah menyadari kepergiannya. Ia perlahan keluar dan sampai di depan gerbang rumahnya. Dia menatap rumahnya sebentar.
"aku harap aku bisa kembali ke sini dan ketika aku kembali, aku ingin rumah ini memberiku sesuatu yang seharusnya rumah berikan, aku akan merindukan kalian semua" ucapnya pelan. Ia mengusap air matanya sebelum keluar dan menyetop sebuah taksi.
.
.
Taemin sampai di sebuah daerah kecil yang letaknya cukup jauh dari pusat kota. Ia tak bergegas pergi ke apartemen yang sudah sengaja disewakan untukknya. Dia malah memilih berdiam di sebuah pantai sepi di dekat halte bis tempat dia turun. Taemin memejamkan matanya mencoba menetralkan perasaannya yang jujur saja masih bergemuruh sejak awal dia memutuskan pergi dari kediaman Choi. Ada bagian dari hatinya yang tak rela untuk angkat kaki tapi apa daya keadaan memaksanya.
"Minho-ya, apa kau sudah bangun? Ini sudah pagi.." ucap Taemin. Yeoja itu menatap sendu lautan yang terhampar di hadapannya.
"ini bodoh tapi aku merindukanmu.." ucap Taemin lagi seraya mengusap air matanya pelan.
Taemin menenggelamkan wajahnya di antara lututnya.
"bodoh.. pabbo imnida, aku masih saja memikirkanmu, aku masih merindukanmu aku.. aku masih mencintaimu, bodoh"
Pagi itu, Taemin habiskan waktunya seorang diri menangis Minho. Hatinya terasa hancur berkeping keeping meratapi semuanya. Andai dia bukan Lee Taemin, atau andai saja Minho bukanlah Choi Minho. Andai, hanya sebuah pengandaian yang takkan pernah terjadi.
.
.
Joonmyeon kini berada di atap paling atas gedung sekolahnya. Tempat yang dulu sering dijadikannya lokasi bertemu dengan Jongin. Dan entah kenapa Joonmyeon merasa dia dekat dengan Jongin di sini. Joonmyeon menapaki atap sekolah itu sampai ia di tepi dari atap itu sendiri. Ia memandang sekitar dan rumah rumah masih gelap pertanda orang orang belum terbangun dari mimpi indah mereka. Sementara di sisi lain Joonmyeon yang menyedihkan yang baru saja ditinggal oleh orang yang paling dicintainya berdiri seorang diri dan menangis karena terlalu merindukan orang yang sudah meninggal itu.
"di sini, aku merasa kita sangat dekat"ucap Joonmyeon pelan merasakan angin pagi membelai wajahnya. "aku merasa, aku lah yang harusnya menemui mu Jongin, boleh kan?" ucap Joonmyeon kembali bermonolog. Dia menatap ke sekeliling dan perlahan tapak kaki nya benar benar berada di tepi atap. Bahkan sebagian kakinya sudang mengambang di atas angin. Bergerak sedikit saja Joonmyeon bisa di pastikan jatuh.
"dunia yang kejam, hidup yang sulit selamat tinggal, aku akan menjemput takdirku sekarang"
Perlahan Joonmyeon memejamkan matanya. Dia siap meninggalkan semuanya. Dia siap meninggalkan oppanya, eommanya, Baekhyun, semuanya. Dia terlalu lelah dengan semunya. Ia lelah melakoni sandiwara kehidupan ini sebagai seorang Choi. Mungkin kalau saja Joonmyeon terlahir dari keluarga berbeda, hidupnya akan sedikit lebih menyenangkan. Mungkin.
"jangan lakukan hal bodoh lagi!" seru seseorang. Joonmyeon membuka matanya dan perlahan melangkah mundur. Suara yang amat di kenalnya. Joonmyeon berbalik dan matanya membulat seketika ia melihat siapa yang baru saja mencegahnya.
"jangan lakukan, ku mohon turun" ucap nya lagi seraya mengulurkan tangannya. Joonmyeon menatapnya bingung.
"ka..kau? bagaimana bisa?"
"kau merindukanku? Aku datang, untuk menepati janjiku, jadi sekarang berikan tanganmu padaku dan kita bisa bicara" ucap nya lagi. Joonmyeon tak bisa mempercayai apa yang dilihatnya sekarang.
"benarkah ini kau? Aku merindukanmu.." Joonmyeon tak hanya menyambut uluran tangan itu, namun Joonmyeon juga langsung menjatuhkan tubuhnya ke pelukan dia. "Jongin, aku gila.. aku terlalu merindukanmu" dia, suara itu, Jongin. Jongin mengelus puncak kepala Joonmyeon dan mengecupinya beberapa kali.
"aku sama tersiksanya, aku merindukanmu.."
.
.
Pagi hari, kediaman Choi dilanda kepanikan. Pasalnya putri mereka tiba tiba saja hilang dan tak ada satu pun yang mengetahui dimana keberadaan Joonmyeon.
"tenanglah eomma, aku coba telpon Baekhyun, mungkin Joonmyeon bersamanya sekarang" ucap Minho mencoba menghubungi Baekhyun. Sementara Kyuhyun sedari tadi meremas jemarinya karena khawatir.
"Won, haruskah kita menelpon polisi?"ucap Kyuhyun pada Siwon yang sedari tadi duduk manis di kursinya. Wajahnya tak menunjukkan raut khawatir sedikit pun.
"dia bahkan baru pergi beberapa jam, kau hanya terlalu mengkhawatirkannya"
Kyuhyun menatap nanar mendengar jawaban enteng suaminya itu.
"bagaimana bisa kau seperti ini? Putrimu, putri kandung mu, dia pergi pagi pagi buta tanpa membawa apapun, tak ada satu orang yang mengetahuinya pergi kemana dan dia tak meninggalkan pesan apa apa, bagaimana bisa seperti ini?" ucap Kyuhyun dengan mata yang memanas, ia merasa akan segera menangis. "bisakah sedikit saja kau peduli padanya?" Kyuhyun menyapu wajahnya pelan.
"eomma, Baekhyun bilang Joonmyeon tak bersamanya..."ucap Minho sekembalinya dari menelpon Baekhyun. Ia sedikit bingung melihat eommanya kini menangis.
"apa yang terjadi?" Tanya Minho, namun tak seorang pun menjawab.
"appa melakukan apalagi?" Tanya Minho jengah.
"kau pikir aku melakukan apa?" ucap tuan Choi datar. Minho mengusap wajahnya frustasi.
"eomma, kembalilah ke kamar, ku rasa kau butuh istirahat, biar aku yang cari Joonmyeon" ucap Minho lalu pergi. Begitu Minho pergi, Kyuhyun bangun dari duduknya.
"kau tega Won, dia itu biar bagaimana pun, tak peduli seberapa besar kau tak menginginkannya, tak peduli bagaimana kau sangat membencinya, aku mencintainya, berikan sedikit perhatianmu, kau tidak tahu, berapa banyak dan berapa dalam luka yang kau torehkan di hatinya.." ucap Kyuhyun pelan menatap manic mata suaminya lekat sebelum ia kembali ke kamar.
.
.
"Kris , maaf menganggumu pagi pagi, tapi ini gawat, Joonmyeon menghilang.. tak ada yang tahu dia dimana"
Kris tengah mengendarai motornya di pagi buta ini. Dia tersentak begitu Baekhyun menelponnya dan mengatakan kalau Joonmyeon menghilang. Entah, firasatnya mengatakan Joonmyeon ada di sekolah, makanya sekarang dia sedang dalam perjalanan menuju sekolah. Sesampainya di sekolah, semua tampak sepi tak berpenghuni. Yang Kris pikirkan hanya satu tempat. Tempat biasanya Joonmyeon berada. Kris sangat yakin Joonmyeon ada di sana.
Kris berlari menaiki tangga menuju atap sekolah gedung A. dulu dia sering melihat Joonmyeon ke atap dan bertemu dengan Jongin di sana. Yang Kris pikirkan, mungkin Joonmyeon berada di atap mengenang memorinya bersama Jongin di sana. Begitu sampai dia atap Kris kaget melihat Joonmyeon tergeletak di atap, sepertinya Joonmyeon pingsan. Hal pertama yang dilakukannya adalah mengecek apakah Joonmyeon masih bernafas atau tidak. Joonmyeon masih bernafas, tapi Kris merasa nafas Joonmyeon lemah, sangat lemah. Ia memegang kening Joonmyeon dan keningnya sedikit panas. Kris tak memikirkan hal apapun selain membawa Joonmyeon secepatnya ke rumah sakit.
"kau selalu seperti ini.." lirih Kris .
.
.
Minho pergi ke rumah Taemin, dia berharap Taemin ada di sana. Biar bagaimana pun, Taemin termasuk dekat dengan Joonmyeon dan mungkin saja Taemin bisa tahu dimana kemungkinan Joonmyeon berada saat ini. Belum sempat Minho mengetuk pintu sudah terbuka.
"oh? Tuan muda Minho?" ucap Lee ahjussi kaget.
"umm.. ahjussi, bisa aku bertemu dengan Taemin?" ucap Minho. Lee ahjussi terdiam.
"jadi Taemin tak cerita padamu? Tuan, Taemin sudah pergi beberapa hari yang lalu.."
"pe..pergi? kemana?"Tanya Minho kaget.
"andai saja saya bisa menceritakannya kepada anda, tapi saya tak punya hak untuk bicara, mungkin Taemin sengaja tak mengatakannya kepada anda tuan" ucap Lee ahjussi. Minho mencelos ketika Lee ahjussi mengatakan mungkin Taemin sengaja tak mengatakannya. Memang pertengkaran mereka malam itu cukup hebat dan Minho tak dapat membayangkan akhirnya akan seperti ini.
"arraseo, gamsha" Minho kembali dengan tangan kosong. Otaknya sedari tadi berpikir kemana perginya Taemin. Ia bahkan sedikit melupakan kalau sekarang adik yang paling dicintainya juga menghilang. Minho merasa hidup bertambah tak adil padanya. Minho secara reflek mengambil kunci mobilnya. Dia pergi entah kemana. Kini pikirannya bercabang dua, bagaimana caranya menemukan Joonmyeon dan Taemin bersamaan? tak mungkin. Minho membanting stir mobilnya kasar dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Memijat pelipis nya yang terasa sangat pening dan air mata itu mengalir begitu saja.
"andwae.. kenapa kau melakukan ini Minnie?"lirih Minho.
.
.
Kris mendudukkan dirinya tepat di samping Joonmyeon yang terbaring lemah. Entah penyakit apa yang di derita Joonmyeon yang jelas banyak alat yang terpasang di tubuhnya. Tak lama orang tua Joonmyeon tiba. Sang ibu langsung menatap putrinya cemas. Sementara sang ayah hanya melemparkan ekspresi datar persis seperti yang Joonmyeon sering lakukan.
"gamshahamnida, kau telah membawa Joonmyeon ke rumah sakit. Jeongmal.. gamshahamnida" ucap si ibu.
"eum.. cheonmaneyo.."
"siapa namamu? Apa kau mengenal Joonmyeon?"
"ah ya, aku teman sekolahnya, namaku Kris " ucap Kris pelan.
"oh, terima kasih Kris , terima kasih"
"ah, jangan berlebihan.."
"kau Kris wu bukan? Putra presdir Wu?" ucap sang ayah memotong pembicaraan. Kris sontak kaget menatap tuan Choi.
"nde.."
"terima kasih, pasti putriku menyusahkan sekali" ucap tuan Choi pelan namun terkesan sangat dingin.
"tidak begitu, aku, aku sama sekali tak merasa direpotkan dengan Joonmyeon" bantah Kris . Kemudian hening sampai seorang dokter datang dan memanggil orang tua Joonmyeon. Sang ayahlah yang pergi mengikuti langkah dokter itu sementara sang ibu duduk di samping putrinya yang tergolek lemah itu. Kris menatap sendu Joonmyeon.
"eum, ahjumma.. aku permisi pulang, sekarang aku tenang Joonmyeon sudah ada yang menjaga"
"ah, ne, sekali lagi aku berterima kasih padamu"
Kris mengangguk lalu bergegas meninggalkan ruangan itu. sebelumnya dia menatap lamat Joonmyeon lalu menutup pintu itu. ia mnghela nafas pelan. Selama di koridor dia memikirkan tentang semuanya. Tentang Joonmyeon dan perasaanya. Kris mulau berpikir untuk menyerah. Joonmyeon tak sepengertian itu.
"Jongin..Jongin.."
Kris masih ingat betul saat tadi dia mengantarkan Joonmyeon ke rumah sakit. Bahkan dalam ketidaksadarannya Joonmyeon tetap mencari Jongin. Joonmyeon akan selalu seperti itu. selalu sama. Joonmyeon akan selalu jatuh cinta pada Jongin dan rasanya sangat sulit untuk merebut hatinya meskipun kenyataannya Jongin sudah meninggal. Tak ada pilihan lain selain menyerah.
Even if you tease me by saying this is foolish, I can't turn this heart around
I shout out loud (shout out loud and call you), I get angry but it's no use
I'm just one out of the many people that pass by you (pass by you)
I'm not special to you
Though I extend my hand, though I extend it with all my strength, (I can't reach you baby) I can't reach you
It seemed like I got closer (so I shout out loud and call you) so I called you with a fluttering heart (I call out to you more)
But there's no answer, I guess I can never reach you
I guess I can never reach you [selene 6.23 – SHINee]
.
.
Dokter kembali membuka catatan medisnya tentang Joonmyeon yang baru saja diberikan. Sementara tuan Choi duduk di depannya dengan wajah santai. Walau kalau boleh dia jujur, dia gelisah dan sedikit ah.. dia sangat khawatir dengan keadaan Joonmyeon sekarang. Dia tahu, Joonmyeon dari sejak lahir memang gampang sakit namun dia baru melihat sendiri Joonmyeon terbaring lemah seperti sekarang. Terlebih dengan banyak alat terpasang di tubuhnya dan Siwon sudah sangat ngeri melihatnya.
"begini tuan mengenai nona Joonmyeon.." ucap sang dokter menghela nafanya pelan sebelum melanjutkan kalimatnya. "nafasnya melemah, denyut jantungnya juga demikian, dia juga terkena demam tinggi dan sampai saat ini kami belum menemukan penyebabnya, apakah selama ini nona Joonmyeon pernah mengeluhkan sesuatu?" Tanya sang dokter. Tuan Choi, Siwon, Nampak berpikir. Apa yang harus dia katakan. Jelas dia tak mengetahui hal itu. peduli saja tidak. Sekarang Siwon baru menyadari, dia sudah menciptakan jarak yang sangat jauh dengan putrinya itu.
"eum..uisa-nim, saya kurang tahu karena terlalu sibuk dengan pekerjaan saya"ucap Siwon.
"hemm begitu, ini hanya usulku..sebaiknya perhatikan dia lebih karena dalam catatan medis yang ku miliki, nona Joonmyeon memang sering sakit, daya tahan tubuhnya sedikit lemah. Jangan membebani pikirannya, mungkin hanya itu"
"eum.. terima kasih uisa –nim"
Siwon keluar dari ruangan itu dengan raut wajah cemas yang tercetak jelas di wajahnya. Dia masuk ke ruangan Joonmyeon dan Kyuhyun segera mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.
"apa kata dokter? Bagaimana keadaan putriku?" Tanya Kyuhyun. Siwon sempat tersentak mendengar kata putriku yang terlontar dari bibir Kyuhyun.
"dia baik baik saja hanya demam" ucap Siwon. Kyuhyun menatap Siwon lamat lamat.
"hanya demam? Kenapa kalau hanya demam dia harus memakai tabung oksigen? Kenapa alat pemantau denyut jantung itu harus terpasang di tubuhnya? Kau menipuku? Ini soal putriku dan aku berhak tau!" ucap Kyuhyun sengit. Kyuhyun tampak menyeramkan sekarang.
"tenanglah, dia tak kenapa kenapa" ucap Siwon mencoba tenang. Kyuhyun mendekatkan dirinya dan merenggut kemeja Siwon.
"katakan Siwon, katakan apa yang terjadi pada putriku!"
"bisakah kau tenang? Kau pikir hanya kau saja yang cemas? Aku juga! Aku cemas memikirkannya, aku hanya tak ingin menambah beban pemikiranmu, apa kau mengerti sekarang?!" seru Siwon. Kyuhyun tak dapat menutupi keterkejutannya atas apa yang sudah Siwon katakan. Siwon cemas? Ini menyangkut Joonmyeon dan Siwon cemas?
"apa yang kau katakan itu benar?" Tanya Kyuhyun. Siwon terduduk lemas.
"sebesar apapun aku berusaha membenciya, aku tetap menyayanginya. Aku mungkin selama ini terlalu kejam padanya karena aku takut ada orang lain yang menyakitinya. Aku tak tahu kalau aku sangat menyayanginya sampai aku melukainya. Aku melakukan banyak dosa padanya Kyu, aku.." Siwon menunduk menatap tangannya yang mengepal sampai kuku –kukunya memutih. "bagaimana caranya agar aku dapat menebus dosaku padanya Kyu? Aku ingin meminta maaf" ucap Siwon menatap Joonmyeon sendu. Kyuhyun memeluk Siwon.
"kau kembali, aku bahagia.."
Niiiiiiiiiiiiiiiittt...
Mereka berdua menoleh. Alat pendeteksi jantung Joonmyeon. Garis lurus.
"pagilkan dokter sekarang!"
.
.
Semua keluar dari ruangan itu sementara Joonmyeon masih ditangani dokter. Tiba –tiba saja alat eletrokardiogram yang dipasangkan ke tubuh Joonmyeon membentuk garis lurus. Bukankah itu artinya jantung Joonmyeon berhenti berdetak. Jika jantung itu berhenti maka.. Siwon mengusap wajahnya kasar.
"ku beri kau tanggung jawab sebagai pemimpin Hyundai. Kau adalah putra kebanggaanku jadi jangan kecewakan aku" Siwon tersenyum dan mengangguk patuh mendengar penuturan ayahnya. Esok, ia akan resmi menjadi CEO Hyundai yang baru. Perusahaan keluarganya, tempat dimana ayahnya menghabiskan usia mudanya untuk membangun sebuah bisnis yang dapat menghidupi keluarga.
"kamsahamnida abeoji.." ucap Siwon pelan sebelum keluar dari ruangan kerja ayahnya. Begitu keluar dia disambut oleh direksi yang lain. Memberinya ucapan selamat.
"setelah ini, Minho kan yang meneruskanmu? Ah bahagianya memiliki anak laki –laki yang dapat dijadikan penerus perusahaan, kau beruntung terlahir sebagai laki –laki, lihat adikmu Sooyoung, dia tersingkir karena dia perempuan. Memang seorang penerus itu harusnya laki –laki" ucapan salah satu direksi itu membekas dalam pikiran Siwon.
Hari hari menjadi CEO baru dilewati Siwon dengan cukup mudah berkat skill nya dalam bidang bisnis. Bahkan ia berhasil mengepakkan sayap bisnis Hyundai sampai ke benua amerika yaitu kanada. Siwon yang seorang workaholic terlalu asik dengan kerjaannya sampai melupakan hal terpenting dalam hidupnya. Keluarga kecilnya, istri dan anaknya, Choi Minho.
Malam itu Siwon pulang larut malam dan semuanya sudah tidur, bahkan Kyuhyun tertidur di sofa. Wanita itu pasti menunggunya.
"Kyu, ireona" ucap Siwon pelan. Kyuhyun terbangun, mengambil tas kerja Siwon dan mengikuti pria itu melangkah ke kamar mereka. "bagaimana hasilnya?" Tanya Siwon. Saat ini Kyuhyun, istrinya, sedang mengandung anak kedua mereka dan Siwon ingin mengetahui hasil pemeriksaanya, terutama mengenai jenis kelamin sang bayi.
"kau tahu Won, aku bahagia sekali.. uisa bilang, anak yang ku kandung seorang perempuan"
DEG
Siwon menatap Kyuhyun datar dan ada sedikit ketidaksukaan di matanya. Perempuan? Yang benar saja. Ucap batin Siwon tak terima.
"kau senang memliki anak perempuan? Aku tidak." Ucap Siwon cepat tanpa basa basi. Dia melonggarkan dasinya dan tetap menatap Kyuhyun tak suka.
"Won? Kau bercanda kan? Kenapa? Bukankah, ini bagus, kita memiliki seorang anak perempuan" ucap Kyuhyun pelan. Matanya sedikit berkaca mungkin terlalu terkejut dengan apa yang terlontar dari bibir Siwon. Terkesan kejam dan pedas. Sejujurnya bukan Siwon yang biasanya, namun Siwon juga tak mengerti bagaimana dia bisa menjadi sosok yang seperti ini. Selama ini di ruang kerjanya, saat tengah malam ketika Kyuhyun dan semua orang tertidur, Siwon memikirkan semuanya. Memikirkan hidupnya yang sudah jauh berubah semenjak Hyundai masuk sebagi prioritas utamanya. Siwon sadar dia telah mengabaikan banyak hal terutama keluarga, bahkan tak seperti dulu, Siwon sangat jarang bahkan hampir tak pernah memantau lagi kesehatan Kyuhyun. Siwon merasa kejam namun Siwon juga tak dapat melakukan apa pun. Ini semacam sudah menjadi resiko yang harus di tanggungnya sebagai seorang CEO.
"anak perempuan tak menguntungkan, dia tak bisa dipakai untuk merebut sebuah perusahaan"ucap Siwon. Kyuhyun membulatkan matanya. Siwon sendiri kaget dengan apa yang sudah dikatakannya. Hatinya melarang untuk melakukan hal sejahat ini tapi otaknya memerintahkan diirnya untuk bersikap demikian.
"apa maksudmu?!" pekik Kyuhyun geram. Yeoja itu segera pergi keluar dan menangis. Dan Siwon merasa amat bersalah.
Bertahun –tahun setelah itu. ini tahun ke delapan sejak putrinya lahir. Namanya Choi Joonmyeon, Kyuhyun yang memberikan nama itu. Siwon sebenarnya sangat bahagia karena dikaruniai anak secantik dan sesempurna Joonmyeon. Namun lagi lagi logikanya mengalahkan hati kecilnya. Mengingat kenyataan buruk yang nantinya akan dialami putrinya, Siwon jadi membenci putir kecilnya itu.
"appa dengar kau mendapat nilai jelek di sekolah? Kau harus dihukum" ucap Siwon dingin sedangkan Joonmyeon, gadis kecil itu mengangguk lalu pergi dari ruangan itu. Siwon menatap miris.
"appa hanya ingin membuatmu lebih kuat"
Kyuhyun menangis di depan Siwon, memohon agar Siwon menghentikan semuanya. Semua siksaan pada Joonmyeon kecil. Namun Siwon kembali mengeraskan hatinya.
"Won, berhenti menghukumnya, dia tak seperti yang kau pikirkan. Jangan mengharapkan dia akan seperti Minho yang selalu kau banggakan, Minho dan Joonmyeon berbeda!" seru Kyuhyun. Setelah pertengkaran itu setahu Siwon, Kyuhyun melarikan Joonmyeon ke rumah sakit karena gadis itu terserang demam tinggin dan hampir kejang. Dan sekali lagi Siwon merasa bersalah. Siwon sangat menyayangi Joonmyeon sampai dia tak mengerti kenapa dia malah menyiksa gadis itu.
"semoga kau cepat sembuh, appa mendoakanmu"
Siwon menangisi semuanya. Mungkin dia sudah sangat keterlaluan.
"Kyu, mianhae" ucap Siwon pelan. Kyuhyun menatap suaminya bingung.
"ada apa?" Tanya Kyuhyun bingung.
"aku sadar.. aku terlalu menginginkan Hyundai sampai sampai aku membuang permata yang paling berharga dalam hidupku, aku menyiksa putriku sendiri.. aku.."
"aku belajar banyak selama ini, aku awalnya sulit mengerti. Kau mencintai Hyundai melebihi segalanya, aku cemburu tapi aku sadar, kau melakukan ini untuk kami kan? Kau sangat ingin mempertahankan Hyundai untuk kami kan? Aku mengerti sekarang"
Kata kata menyejukkan yang keluar dari bibir Kyuhyun sedikit meringankan hati Siwon. Kalau hari ini menjadi hari terakhir dari kisah Joonmyeon, Siwon akan membenci dirinya sendiri selamanya.
Joonmyeon, appa tahu kau anak yang kuat. Berjuanglah. Appa masih ingin menebus semuanya yang sudah appa lakukan padamu.
.
.
Joonmyeon masih menatap Jongin tak percaya. Sementara itu Jongin sudah duduk bersandar di sebuah pohon.
"duduklah myeon, jangan menatapku seperti itu.." ucap Jongin. Jongin menepuk nepuk tempat di sampingnya menyuruh Joonmyeon untuk duduk di sana. Joonmyeon duduk di samping Jongin dan menyandarkan kepalanya di bahu Jongin.
"apa kau kembali untuk menemui ku?" Tanya Joonmyeon. Jongin mengangguk pelan.
"langkahku sangat berat saat aku tahu kau kacau sekali. Makanya aku datang untuk memastikan kalau kau akan baik baik saja"ucap Jongin. Joonmyeon menatap Jongin lamat lamat.
"apa itu artinya kau akan pergi lagi?" Tanya Joonmyeon pelan. Dia menundukkan kepalanya namun Jongin menangkupkan kedua tangannya di wajah Joonmyeo. Mengecup hidung yeoja manis itu lembut.
"kau tahu, kau beruntung masih dapat hidup.. kau bisa melakukan apapun yang ingin kau lakukan. Berbahagialah Joonmyeon, jangan jadikan aku alasan bagimu untuk mengacaukan hidupmu sendiri. Di luar sana, banyak orang yang mencintaimu, tidakkah kau melihat mereka?"
"tapi.. tapi aku, rasanya sangat sulit saat aku tahu kau pergi, kau.."
"awalnya memang selalu sulit kan? Lama kelamaan kau akan terbiasa.. kau kuat dan aku tahu itu, jangan buat aku kecewa"
"tapi aku ingin kita bersama!" seru Joonmyeon. Jongin tersenyum. Menatap yeoja itu sendu.
"mungkin sekarang bukan waktu yang tepat. Kau percaya ada kehidupan lain setelah ini? Aku akan terlahir kembali sebagai diriku yang lain begitu juga dengan kau, dan di saat itu, aku akan pergi mencarimu dan mencintaimu sekali lagi.. aku akan menjagamu dan aku pastikan kita akan bersama selamanya. Bisakah kau menunggu untuk waktu itu?"
Air mata Joonmyeon sudah mengalir sejak tadi saat Jongin mengatakan butuh kehidupan lain untuk mereka agar dapat bersama sama.
"dan sekarang, ada satu keinginanku yang belum sempat ku lakukan saat aku masih hidup, dan mau kah kau melakukannya untukku Joon?" Tanya Jongin. Joonmyeon metapanya ragi sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya.
"kau tahu, di dekatmu saat ini ada seseorang yang selalu mencintaimu. Kau mengetahuinya tapi kau selalu mengabaikannya. Aku tahu, kau juga menyayanginya. Bisakah kau temukan orang itu dan hidup bahagia bersamanya? Langkahku akan terasa ringan saat aku melihat kau bersamanya. Kau bisa kan Joon?"
"bisakah kau beri tahu aku siapa orang itu?" Tanya Joonmyeon bingung.
Niiiiiiiiiiiiiiiittt...
Terdengar suara yang amat bising.
"waktu kita habis.." ucap Jongin. Wajah Joonmyeon berubah panic.
"Jongin. Orang nya, nuguya?" Tanya Joonmyeon sedikit keras.
"ppalli Joon, kau harus kembali"
Tak jauh dari mereka ada sebuah cahaya putih yang perlahan menghisap benda benda di sekitar mereka. Joonmyeon sangat panic melihatnya.
"Jongin bisa kah kita bertemu lagi?"
CUP
Jongin mengecup pelan bibir Joonmyeon.
"selalu, aku selalu berada di dekatmu.. waktunya mengucapkan selamat tinggal"
"sampai jumpa... Jongin."
My love, good bye now – you're the only one (you're the only one)
Even at the moment we break up, you're the only one
It hurts and hurts and it's foolish but good bye
Though I may never see you again, you're the only one
Only One
You're the only one, Only One [Only One – BoA]
TBC
Akhirnya kelar ini chap.14 mendekati akhir ni gengs~~ wkwkk XD maafya kalo sampai chapter 14 ini pun aku masih banyak melakukan typo gaeleit abisnya gimana yaa udah bakat dari alam buat ngelakuin typo wkwk XD
Makasih juga buat yang udah nge ripiuu aku seneng bacain ripiuu dari kalian kocak XD
joonmily karena amnesia itu lebih menyakitkan ketimbang meninggal? Karena memori adalah hal terpenting dalam kehidupan seorang manusia/? Lagian kalo amnesia butuh perpanjangan cerita untuk bikin si jongin inget lagi kesian krisnya entar/? Wkwkk makasih yaa udah baca + ripiuu^^
DragonAqua maaf numpang nanya, muka lempeng gagal yang kayak gimana tuh beb? Absurd kagak? Wkwk XD mianhae yaa~~ wkwkk ini masih sedih sedihan dulu beb gaenak tiba tiba ada lovey-doveynya si krisho kan, ditunggguin aja yaakk ! makasih yaa udah baca + ripiuu^^
kimjoon ini udah lanjuutt~~ hehe selamat menikmati/? Makasih yaa udah baca + ripiuu^^
Mr. Jongin albino aku mau nanya deh, kamu ada dendam tersendiri yak sama jongtem? Wkwk seneng amat kayaknya, yaudha lah yuk lanjut tumpengan ama galaxy/? Makasih yaa udah baca +ripiuu^^
littleXbetweenEO iya kasian mereka semoga dikehidupan lainnya mereka bisa bersatu amin. Iya cewek tangguh tapi jangan kebayangin kayak agung herkules yaa entar jadinya salah gaul wkwk makasih yaa udah baca + ripiuu^^
sendal jepit dia meninggal soalnya supaya bisa bareng bareng sama aku/? Emang tuh si siwon lagi gila gilanya sama harta keluarga diabaikan biarin biar tobat dia sekarang/? Wkwk makasih yaa udah baca + ripiuu^^
Emmasuho ciye kamu sedih jadi enak/? Gatau aku nulisnya eh ngetiknya deh pas lagi galau kelabu alay gitu makanya jadi absurd deh yang kemaren wkwkk makasih yaa udah baca + ripiuu^^
KrisHo WonKyu tenang sekarang gabakal ada lagi yang ngomongin junmen soalnya ada power baekhyun yang melindungi/? Makasih yaa udah baca + ripiuu^^
aif #tendangaif wkwk iya ya kenapa pada merindu semua ya? Saking gabut kali mereka gada kerjaan lain jadi pada merindu wkwk XD ini udah lanjuut~~~ makasih yaa udah baca + ripiuu^^
jimae407203 maap yak udah bikin kamu nyesek XD ini emang aku lagi demen aja ngebikin orang galau jadi aku bikin jongin meninggal deh XD makasih yaa ini emang aku juga ngerasa kurang rapih sih wkwkk makasih yaa udah baca + ripiuu^^
nah done chingu, see you next chapt yaa *dadah bareng umin*
