Main Cast: Chanyeol x Baekhyun

Other Cast : Sehun, Luhan, Kyungsoo, Kai, 2MIN, YunJae

Disclaimer: Fict ini pure milik Gloomy Rosemary

.

Previous Chapter

Jika saja tak membuat Chanyeol mengejarnya kemari, mungkin Chanyeol akan tetap baik-baik saja.

"CEPAT MASUK!" Gertak Kai, menyadarkan namja mungil itu untuk segera memasuki mobil hitam itu.

Baekhyun kembali menangis dalam diam, sesekali Ia melirik Sehun yang tampak gusar memacu mobilnya, tak peduli Ia merangsak rambu lalu lintas yang ada.

Ingin mengucap sepatah kata, namun tersedak begitu saja...rasanya tak patut membuka suara jika Chanyeol terbaring dengan luka separah itu.

Bahkan hingga saat ini, darah pekat itu tak pernah berhenti merembas dari perut dan punggungnya.

"Maafkan aku"

.

.


CHANBAEK

YAOI

FANFICTION

Gloomy Rosemary

Chapter 14

LOVE SICK

.

.

.

Detak jam terdengar kontras, mengiring hening yang tegang kala lampu merah yang tersemat di atas pintu ICU itu terus berpendar merah.

"Aku harus bagaimana?! mengapa harus Chanyeol?" Taemin tergugu, menyembunyikan wajah piasnya dalam dekapan Minho. "C-Chanyeol tak bisa seperti ini, mengapa harus putraku ... Minhoooo"

"Semua akan baik-baik saja" Bisik Minho kembali mencoba menenangkan, merasa tak bisa sedikitpun meninggalkan Taemin. Terus memeluknya erat... atau semua seperti sebelumnya. Taemin yang lepas kendali bahkan nyaris hilang sadar. Tapi sungguh... mengapa semua ini mendadak terjadi. Saat Ia tau... Chanyeol yang selalu diyakininya sebagai pemuda keras kepala dan kuat itu, harus meregang nyawa dengan cara seperti ini

.

.

Sementara, seorang bocah terlihat terduduk lemas di sudut dinding itu. Menyembunyikan kepala di balik lipatan lengan, bahkan susah dibujuk walau hanya sekedar untuk menyesap sedikit minum.

"Duduklah di tempat yang lebih hangat..." Bujuk Sehun, berusaha mengangkat tubuh bocah itu. tapi Baekhyun mengelak, bersi keras menyembunyikan wajahnya di balik lengan dan lututnya.

Sehun merasa tak bisa berbuat apapun jika seperti ini, bahkan sedari tadi Ia sama sekali tak melihat anak itu mengangkat wajahya. Sehun tau... Baekhyun tengah terisak saat ini, terlihat dari lantai yang penuh dengan tetes air matanya.

"Aku tak bisa melihatmu seperti ini, kau akan sakit jika bertahan di lantai sedingin ini"

"..." Tak ada jawaban dari anak itu. Baekhyun tetap pada posisinya, membatasi diri dan tak ingin bicara dengan siapapun.

"Tck!" Hingga seseorang yang lain datang mendekat karna tak tahan melihatnya .

"Semua ini sudah sangat sulit, dan kau jangan menambah rumit!" Ujar Kai sedikit keras

"..."

"Yya! Berdirilah... jangan seperti ini" tegasnya lagi, dibandingkan melihatnya menangis dalam diam seperti itu, akan lebih baik jika Baekhyun menjerit dan menangis keras.

"Hentikan, jangan berbicara seperti itu padanya" Sehun mencoba menahan emosi Pemuda tinggi itu

Tapi yang terlihat, tak ada yang berubah dari posisi Baekhyun

Tetap tertunduk, bahkan semakin erat memeluk lututnya sendiri. masih menyesali dirinya, bahkan merutuk diri, jika saja Ia tak keras kepala... mungkin Chanyeol akan tetap baik-baik saja.

"Aissshh Jinjja..." Kai menghela nafas berat, sejenak mengamati bocah itu, sebelum akhirnya memaksa menyusupkan tangan di antara punggung dan lipatan lutut Baekhyun. Lalu—

HUPP

"AH!" Baekhyun terlonjak terkejut, menyadari Kai memanggul tubuhnya paksa. Ia yang memang terisak kala itu semakin histeris, berulang kali memukul punggung pemuda itu. Tapi percuma , Kai tetap membawanya entah kemana.

"T—turunkan aku! TURUNKAN—

"Okay!" Sergah Kai seraya menurunkan Baekhyun di sebuah kursi panjang.

"Duduk di sini dan jangan biarkan dirimu mati kedinginan di bawah sana!" Sentak Kai lagi, tak peduli bocah mungil itu makin terisak dengan nafas tersendat-sendat.

Baik Kai atau bahkan Sehun hanya menghela nafas berat melihatnya, tak menduga bocah itu akan serapuh ini. Dan baru mereka sadari, jika Baekhyun akan sulit dibujuk jika sudah menutup diri seperti ini. entah itu dengan cara halus ataupun kasar semua akan tetap percuma.

"Cobalah untuk minum sedikit saja.." Kali ini Sehun mencoba membujuknya lagi, tapi anak itu tetap keras kepala. Menggeleng lemah... lalu terisak dalam diam.

Kai memang mencemaskan kondisi Chanyeol tapi Ia lebih merasa riskan dengan penampilan Baekhyun kali ini. Tak hanya wajah sembab penuh air mata, pakaian dan rambut anak itu benar-benar tak tertata dengan baik. Sekali lagi akan lebih baik jika Baekhyun menangis keras

"Kau ingin menghubungi orang tuamu?" Ujar Kai mencoba meluruh

"..." Lagi... hanya terdengar hela nafas yang tersendat, mungkin Baekhyun terlalu banyak menangis hingga hanya untuk mengambil nafas saja Ia sepayah ini.

Membuatnya tak tega, lalu menarik tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya. "Menangislah jika itu sakit" Bisik Kai seraya menepuk-nepuk punggung Baekhyun. "Kau bisa pingsan jika seperti ini" Bujuknya lagi berharap Baekhyun lebih lepas kali ini.

"Chanyeol akan baik-baik saja" Bisiknya, sembari mengelus punggung Baekhyun. Detik itu pula tangisan bocah itu pecah.

"AAAAHHHH!"

"Ssshh... benar menangislah. Jangan menahannya jika kau tak sekuat itu" Gumam Kai semakin mendekapnya erat, bahkan membiarkan bocah itu mencengkeram terlalu kuat kemeja belakangnya, hingga bahunya kebas karna air mata.

"C—chanyeol, baik-baik sa-saja .. Dia b-baik baik sajaaa?" Lirih Baekhyun di sela isakannya.

"Percayalah... semua akan baik-baik saja. Tenangkan dirimu dan perhatikan tubuhmu sendiri" Kai kembali mengusap pelan lengannya, sedikit melirik sebotol minuman di tangan Sehun, lalu mengambilnya

"Minumlah sedikit saja..." Tawarnya, begitu membuka tutup minuman itu untuk Baekhyun

Meski masih terisak.. anak itu berusaha membawa dirinya. Meminumnya dengan tergugu. tak peduli smua air itu hanya tumpah percuma.

"M—maaf ngh! Maafkan aku!" Lirih Baekhyun serak. lebih ingin... mengucapkan semua sesal itu pada Chanyeol.

"Maaf..Nghh!" Baekhyun kembali menyudutkan dirinya, tak sadarkah anak itu... dirinya semakin lemas karna menangis seperti itu.

"Hubungi keluarganya " Kalimat itu yang sempat di tangkapnya dari Sehun, membuat Kai mengangguk setuju lalu mengambil ponsel dari saku Baekhyun.

"Aku akan menghubungi keluargamu Baek.."

.

.

.


Sementara itu...

"YUNHO!"

Wanita itu berteriak panik, kala mencoba melihat ke dalam kamar Baekhyun dan tak mendapati putranya di sana. Kecuali tumpukan bantal dan boneka yang ditata di bawah selimut.

"YUNHOOOOO!" teriaknya lagi, semakin kacau menelisik kamar Baekhyun. Dan tak mendapati apapun... yakin Baekhyun sepertinya pergi diam-diam.

"Ada apa? mengapa berteriak seperti itu?"

"Baekhyun tidak ada di kamarnya!"

"Apa?" Yunho beralih mengeratkan bathrobe piyamanya, lalu melangkah ke dalam mendekati Jaejong "Mungkin anak itu pergi ke sekolah pagi-pagi sekali"

"Tidak mungkin! ini masih pukul 4 pagi!" Jaejong semakin tak tenang

"Hubungi ponselnya, aku akan mencoba menghubungi Chanyeol" Yunho beralih ingin mengambil ponselnya di dalam kamar.

Tapi mendadak keduanya dikejutkan dengan suara ponsel Jaejong yang berdering. cepat-cepat wanita itu meraihnya dan terbelalak lebar begitu nomor Putranya yang menelfon.

"i-ini Baekhyun yang menelfon" Ucapnya tergesa.. bermaksud memberitahu Yunho, sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut.

"Sayang?"

("E-eomma")

Jaejong terperanjat mendengar suara lemas Putranya. "Hallo Baekhyun?! Dimana sayang... Eomma dan Appa mencari—

("Hks!.. Chanyeol") Tapi yang terdengar hanya isakkan Baekhyun memanggil nama Chanyeol. Firasatnya semakin memburuk, pastilah terjadi sesuatu dengan Baekhyun kecilnya.

"W—wae? Apa yang terjadi? Mengapa menangis? "

"Baekhyun menangis? berikan ponsel itu padaku Jae" Tegas Yunho mencoba meraih ponsel istrinya, tapi Jaejong menolak dan tetap berusaha tersambung dengan Baekhyun.

"Baekhyun! bicaralah pada Eomma dimana Baekhyun saat ini?"

("Chanyeol... Eommaaa")

("Ah Bibi—)

Jaejong mengernyit mendengar suara bergemrisik lalu suara baekhyun berubah menjadi sosok yang lain

"Siapa ini?! Apa yang terjadi dengan Baekhyun?"

("Ini Sehun... Bibi Jae")

Jaejong kembali mengernyit heran "Sehun? Mengapa Baekhyun menangis? Apa yang terjadi sebenarnya?"

("Saat ini kami berada di rumah sakit, Chanyeol tengah menjalani operasi. Mohon maaf kami baru menghubungi Bibi")

("...")

Yunho masih mengamati lekat istrinya, mengekor kemanapun wanita itu melangkah dan sesekali mencuri dengar pembicaraan dalam telfon itu... meski nyatanya Ia sama sekali tak menangkap apapun selain raut terkejut Jaejong.

Hingga...

"B-Baiklah! Aku akan ke sana... kumohon jaga Baekhyun kami!"

Jaejong mengakhiri panggilan itu dan menutupnya dengan tergesa.

"Ada apa? Mengapa wajahmu seperti itu?" Tanya Yunho semakin cemas.

"Cepat ke rumah sakit Yunnie!"

"Apa?"

Jaejong beralih menarik tangan Yunho, agar kembali ke kamar dan bersiap. "Sesuatu yang buruk menimpa Chanyeol"

"Huh? Chanyeol? Bukan Baekhyun?"

"Chanyeol diserang sekelompok pemabuk. Dia terkena tusukan di perut dan punggungnya"

"APA?" Yunho terperanjat hebat. "Apa yang dilakukan anak itu hingga bertemu dengan berandal—

"Cepat Bergegas Yunnie!"

.

.

.


~ChanBaek~

.

"M-mengapa mereka membawa benda itu?"

Masih saja terdengar cicitan lirih bocah itu, Kai tak bisa melarang selain merengkuhnya dan membiarkan Baekhyun terus meracau tak jelas dalam pelukannya.

"A-aku melihat me-mereka uhn—hks!" Baekhyun tersedak isakannya sendiri. "M-menusuk Chanyeol... mengapa m-meraka membawa benda itu? ugh~"

"Kita hanya mengalami sial... semua baik-baik saja, peracayalah padaku" Bisik Kai, masih mencoba membuatnya tenang.

.

Hingga tiba-tiba—

Terdengar suara gaduh di seberangnya, terlihat Taemin kembali berontak lalu memaksa membuka pintu yang masih tertutup rapat itu.

"Y-ya! Taemin!" teriak Minho, panik mengejar sosok Dokter itu

BRAKKK

Tapi percuma, Taemin terlanjur menerobos masuk. Seakan memang mengenal betul tempatnya berpijak saat ini.

"Dokter Lee, anda tak bisa—

"DIA PUTRAKU! BIARKAN AKU MELIHAT PUTRAKU!" Seru Taemin, semakin kalap mendorong semua dokter dan suster itu.

"Tapi kami sedang berusaha menyelamatkannya, anda hanya akan me—

"AH! DOKTER! Jantung Tuan Park tidak stabil" terdengar teriakan Dokter yang lain. Membuat Taemin semakin terbelalak kala menatap padanya.

"A-apa?" Dokter Shin beralih mendekat untuk memastikan. tapi lagi dan lagi... kebenaran yang lain mulai membuat genting ruang operasi itu

"Luka itu mengenai hatinya Dok!"

Taemin menggila, gemetar...dibalik isak tangisnya. Ia memaksa menyeret kaki lemasnya untuk mendekati sosok yang masih terbaring tak jauh darinya

"TIDAK! TIDAK! CHANYEOL! AKU IBUMU! CHANYEOL KAU HARUS TAU AKU IBUMU!" Jeritnya sambil menangkup wajah Chanyeol, tak peduli jika apa yang dilakukannya kali ini. bisa saja mengancam keselamatan Chanyeol.

"DOKTER LEE!" Seorang Dokter menarik paksa lengan Taemin untuk menjauh.

Berkalipun Taemin meronta, tubuhnya yang kecil itu tak mampu melawan jika Minho pun turut menahan dan mendekapnya.

Hingga pria cantik itu hanya mampu menjerit frustasi dalam pelukan Minho. Terlalu takut... bahkan rasanya hari yang bagai mimpi buruk ini, tak pernah datang padanya. Bagaimana bisa Ia merelakan semua ini, sedang sampai saat inipun Ia tak bisa menggenggam jemari putranya, menyentuhnya sebagaimana mestinya penuh kasih, atau bahkan Chanyeol hingga detik ini tak mengetahui jati dirinya.

" AAAAAAAHH!"

"Taemin... ku mohon berhentila—

"D-DOKTER SHIN!" Taemin tiba-tiba merosot, lalu merangkak mendekati kaki Dokter Kim, hingga menyita perhatian seluruh tenaga medis itu.

"A—apapun!" Ia terjebak dalam sesaknya.

"Apapun akan kulakukan! Berikan hatiku untuknya! Selamatkan Putraku!"

Minho terbelalak, sepersekian detik Ia tertegun melihat Taemin... begitu putus asa bersimpuh di hadapan semua dokter itu. Mungkin Ia merasakan luka yang sama... Ya, Minho sadari itu.

Rasa takut akan kehilangan itu semakin tak berujung untuknya.

Seakan Jikapun harus memilih, dibandingkan melihat semua ini. Akan lebih baik jika luka itu bersarang pada tubuhnya. Bukan pada Chanyeol yang sebenarnya masih memilki jalan yang panjang untuk melihat dunia ini.

Hingga perlahan tanpa di sadarinya air mata lolos dari sudut mata tegasnya.

"Taemin..." Lirihnya turut merunduk demi memeluk tubuh gemetar Taemin.

Merasakan, betapa sesaknya hati seseorang yang memiliki Putra semata wayang.

"Dok! Kita tak memiliki waktu lebih!"

"Jika memang sesuai, segera lakukan Donor hati" Perintah Dokter Shin kemudian pada tim medis itu.

.

.

.

.


"T-tidak.."

Baekhyun yang memang sedari tadi mencuri dengar dari balik pintu ICU, terlihat gemetar sambil menggelengkan kepala. "H-hatinya?"

"Baek! Kau tak bisa di sini!" Seru Kai gusar, tak habis pikir Baekhyun yang mendadak berlari seperti itu. Beruntung anak itu tak merangsak masuk ke dalam.

"Hks!"

Tapi ada yang berbeda, Kai terbelalak lebar menyadari betapa hebat tubuh Baekhyun gemetar.

"Baek?" Panggilnya, mencoba merunduk untuk melihat wajah bocah itu.

"Y-ya! Baekhyun!" Semakin panik begitu bocah itu bernafas tersengal-sengal.

"Apa yang terjadi?" Sehun turut menghampiri.

Namun—

Terlanjur tubuh anak itu lunglai, bahkan tak lagi terdengar isakkan lirih darinya. Dan terakhir mereka sadari... Baekhyun benar-benar pingsan.

"Baekhyun! Yyack!"

.

.

.

.

.

"Sayang!"

"Jae! perhatikan langkahmu dan jangan berlari seperti itu!"

Seorang wanita terlihat berlari tergesa di sepanjang koridor rumah sakit. Tak sabar untuk melihat putra kecilnya. Mendengar penuturan Sehun... tentu bocah itu tengah ketakutan kali ini

Sedikit bernafas lega, kala melihat pemuda berada di ujung sana. Pastilah itu Sehun. dan mungkin Baekhyun pun bersamanya.

"Baekhyu—

Tapi mendadak, wanita itu membulatkan mata lebar. begitu melangkah semakin dekat... dan yang Ia lihat..

Tubuh putranya melunglai lemas dalam rengkuhan temannya.

"BAEKHYUN!" Panggilnya panik, sambil berlari kalut.

"SAYANG!" jaejong memaksa mengambil alih tubuh Baekhyun dari rengkuhan Kai. "Ini Eomma! Bangun... Sayang!"

Yunho mendekat, terlihat panik kala mengguncang tubuh putranya sendiri. tak perlu dilugaskanpun Ia tau, Baekhyun benar-benar tak sadarkan diri,

Pria itu putuskan untuk mengangkat tubuh kecil Baekhyun dan dibawanya berlari dari tempat itu secepat yang Ia bisa. Diikuti Jaejong dan Sehun di belakangnya

.

.

.

"Apa yang terjadi pada Baekhyun kami Dok?" Jaejong, beralih cepat mendekati Baekhyun lalu mengusap wajahnya berkali-kali begitu Dokter Kim usai, memasang selang infus di tangan Baekhyun.

Dokter itu terlihat memandang baekhyun teduh, sebelum akhirnya menatap Yunho dan Jaejong di seberangnya.

"Putra anda mengalami dehidrasi lalu shock yang dirasakannya semakin memperburuk kondisinya" Lugas Dokter Kim, sambil mengulas senyum.

"Tenanglah Tuan, Putra anda akan membaik setelah mendapat istirahat yang cukup" Lanjutnya lagi, begitu melihat wajah tegang Yunho. Lalu beranjak keluar, setelah sebelumnya memohon diri.

Yunho menghela nafas berat, Seharusnya anak itu berlarian rusuh dan menggelayut manja padanya bukan terbaring sepucat itu. Sejenak, mengusap kepalanya... lalu kehadiran seorang pemuda mulai menyita perhatiannya. Ia tau... Dia yang bernama Sehun

"Paman... Bibi"

Lekas, membuat Yunho beranjak mendekat, memandang pemuda itu dengan tatapan penuh selidik.

"Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Putraku" Tegasnya.

.

.

.

.


Waktu terus berdetak

tak banyak yang tau, apa yang tengah terjadi di dalam ruangan penuh dengan aroma basa yang menguar dan detak pemompa jantung di dalam sana.

Dua sosok tengah terbaring tanpa sadar...

salah seorang menyimpan angan besar, kala pisau tajam itu masih bergerak menembus tubuhnya. Berharap... satu nyawa yang berharga untuknya itu, mampu bertahan setelah Taemin melakukan semua ini.

'Chanyeol...

Chanyeol...

dan Chanyeol...'

Satu nama yang terus Taemin rapalkan, meski pengaruh bius itu membuatnya mati rasa. apalagi yang ia harapakan selain Tuhan masih berbaik hati memberinya kesempatan untuk melihat tawa Putranya kelak, ataupun jika itu mustahil.

Ia hanya berharap... takdirnya yang ditukar.
.

.

.

.


Hingga lebih dari lima jam berselang.

Tak jauh dari ruang ICU itu, seorang bocah terlihat mengerjap lemas dalam dekapan sang Ibu.

Tak ada yang lain dalam ruang rawat itu, selain Ayah dan Ibunya

"Makanlah sedikit saja... "

Bocah itu-Baekhyun- menggeleng, lalu kembali membenamkan wajahnya dalam dekapan Jaejong. Menambah kebas yang lain pada baju Ibunya.

"B-Baekhyun, m-membuat Chan—Yeol sakit Eommaa" Lirih Baekhyun, meremas kuat-kuat belakang cardigan Jaejong.

Membuat wanita itu hanya bisa menghela nafas sambil mengelus kepala Baekhyun. Tak hanya sekali ini Ia mendengarnya, bahkan sejak anak itu membuka mata... Ia selalu meracau tentang Chanyeol dan menyudutkan dirinya seperti ini.

"Semua bukan salah Baekhyun... berhenti menangis okay?" Bisik jaejong sambil mengecup pelipis Putra kecilnya.

Sementara, Yunho hanya memandangnya. Meski sebenarnya Ia masih dikejutkan dengan kenyataan dari putra kecilnya.

Bagaimana mungkin ini terjadi... Putra semata wayang yang semestinya Ia didik menjadi seorang Pria tangguh seperti dirinya, tapi mengapa semua ini bertolak jauh.

Bahkan jerih untuk menyekolahkannya ke dalam Sekolah Khusus laki-laki, tampaknya hanya menjadi bumerang untuk tujuannya.

Bukannya merubah pribadi anak itu, tapi semakin parah... begitu Ia tau, Baekhyun rupannya menjalin hubungan asmara dengan Chanyeol

"Aisshh..." Decaknya seraya mengacak surai hitam spike miliknya.

"Yunho.." Tegur Jaejong, menyadari suaminya masih menarik ulur penjelasan Sehun beberapa saat yang lalu.

"Kau mengetahuinya sejak awal Jae?" Ujar Yunho sambil beranjak dari sofa itu, demi mendekati Jaejong dan bocah yang masih bersembunyi dalam dekapan Ibunya.

"Mengetahui apa? Bersikaplah cemas sedikit saja... kau lihat , Baekhyun masih ketakutan di sini"

Pria itu kembali berdecak,meski bersikap tegas sekalipun wanita itu akan tetap melindungi buah hatinya. tapi semua ini salah...

"Baekhyun... dengarkan Appa kali ini" Lugas Yunho kemudian, seraya menatap Baekhyun.

Namja kecil itu hanya mencuri pandang dari celah dekapan sang Ibu, tak berharap banyak Ayahnya terlalu banyak bicara kali ini, sementara dirinya benar-benar merasa ciut.

"Apa maksud temanmu itu mengatakan pada Appa, jika kau dan Chanyeol—

Yunho menjeda ucapannya untuk mencari kalimat lain yang dirasa nyaman untuk Ia ucapkan.

"Kau dan Chanyeol tidak seperti yang temanmu maksud bukan? kalian hanya sekedar teman bermain dan semua yang Appa dengar, tidak bena—

"B-Baekhyun suka Chanyeol!" Sergah Baekhyun cepat. Lalu kembali membenamkan wajah dalam dekapan Jaejong.

"APA?!"

"..."

Pria itu beralih menarik kedua bahu Baekhyun hingga lepas dari dekapan Ibunya, sedikit berhati-hati ... sadar, selang infus itu masih menancap di tangan kecilnya.

"Kau tau maksud Appa menyekolahkanmu di sana?"

"..." Baekhyun hanya diam, menatap pias sang Ayah.

"Aku tak ingin melihat Putraku bersikap seperti anak perempuan... manja dan—

"Hks.."

Yunho terhenyak melihat bulir bening kembali lolos dari mata sembabnya, bahkan semakin parah begitu bocah itu tergugu.

"Lihat... kau bahkan menangis seperti ini"

"Yunho hentikan!" Jaejong beralih menangkup wajah Baekhyun lalu menyeka air matanya.

"Menyukai Chanyeol?" Pria itu kembali menatap lekat Baekhyun. "Hal semacam itu tak bisa dilakukan oleh—

SRATTT

"ASTAGA BAEKHYUN!" Jerit Jaejong histeris, melihat bocah itu tiba-tiba mencabut paksa selang infusnya. Hingga darah merembas deras dari tangannya.

Tak pelak, sikap itupun membuat Yunho terbelalak panik melihatnya. "Baekhyun... apa yang—

"MENGAPA APPPA MELARANG BAEKHYUN?!" Seru bocah itu sambil melompat turun dari ranjangnya, tak peduli tubuhnya yang lemah kala itu membuat langkahnya tersendat bahkan nyaris tersungkur.

"Nak.. kemarilah, perhatikan luka di tanganmu itu" Ujar Yunho panik, melihat darah semakin menetes dari tangan anak itu.

"Hks!" Baekhyun kembali terisak, mengusap kasar air matanya dengan sebelah tangan. Lalu menunduk... membiarkan air mata itu kembali lolos dari pelupuknya.

Bahkan saat Ibunya menghampiri untuk memeluknya pun, anak itu menyentak dan kembali menghindar.

"B-baekhyun menyukainya... Baekhyun menyukai Chan—yeol... Apphaaaa" Anak itu semakin terisak, tak peduli seberapa kacau dirinya kali ini.

Sang Ayah benar-benar membuat sesuatu dalam hatinya remuk.

"Dengarkan... Appa tak bermaksud untuk—

Bocah itu memilih berlari keluar, sebelum Yunho benar-benar mengusaikan kalimatnya. tak pelak membuat pasangan suami istri itu kalut bukan main. Tak berharap Putranya berlari dengan kondisi selemah itu, bahkan dengan tangan yang terluka

"BAEKHYUN!"

,

,

Derap langkah kecil itu menggema...

memantul memenuhi setiap dinding koridor di sekelilingnya.

Tak cukup dengan wajah yang kebas itu... tubuh kecilnya terlihat limbung tiap kali mencoba berlari lebih cepat, demi mencapai ruangan... dimana Chanyeol bertahan di dalamnya.

Hingga Baekhyun sadari pandangannya sedikit berbayang... bahkan mulai terasa pening.

"Baekhyun!"

Samar terdengar suara Ayah dan Ibunya memanggil di belakang, tapi anak itu tetap bersi keras berlari... hingga Ia benar-benar puas untuk dapat melihat Chanyeol di dalam sana.

Meski saat ini, Baekhyun masih merasa tak cukup pantas untuk bertemu dengannya selepas semua peristiwa itu.

Namun..

BRUGH

Tubuh kecilnya nyaris terjengkang ke belakang, beruntung Pria yang di tabraknya itu menarik cepat lengannya.

"Kau baik-baik saja Nak?" Ujar Pria berpenampilan Dokter.

Baekhyun membulatkan mata lebar, sepersekian detik mengamati... ia yakin benar, Pria itu yang sebelumnya berada di dalam ruangan ICU.

"D-Dokter?"

Pria itu mengernyit heran melihat bocah itu mencengkeram erat jas medisnya, tak sepenuhnya menerka... tapi melihat mata pias dan raut ketakutan itu... pastilah menyiratkan suatu hal di sini.

"Apa kau merasa tak—

"C-Chanyeol! Dia baik-baik saja? Di mana Chanyeol? Kau seorang D-Dokter! Kau tau Chan—yeol!" Racau Baekhyun, masih mencengkeram kuat jas medis Pria dewasa itu.

"Nak tenanglah, bicaralah dengan benar" Tenang sang Dokter sambil menepuk pelan bahu sempit itu, sejenak mengamati penampilan Baekhyun. Dari piyama yang dikenakan... sudah pasti bocah di hadapannya kali ini pasien rumah sakit ini. Tapi mendadak Ia mengernyit melihat... lengan baju anak itu penuh dengan rembasan darah.

"Tanganmu—

"Ngh.."

Namun terlambat, belum usai Ia melugaskan kondisi Baekhyun. Anak itu lebih dulu jatuh terjerembab tepat di hadapannya.

Membuat Dokter itu, panik bersimpuh demi merengkuhnya.

"Demam?" Gumamnya sambil menyentuh leher Baekhyun.

Tapi Ia kembali dikejutkan dengan pasangan yang berlari tergopoh mendekatinya.

"Mengapa kau harus membentaknya?! Tak bisakah kau memahami perasaan Putramu sendiri?!" Sang wanita terlihat menuntut keras, pada Pria yang masih panik berusaha mengambil alih bocah itu dari rengkuhannya.

"A-aku tak tau Jae.."

"Lihat! Baekhyun tak sekuat apa yang kau kira! bagaimana mungkin kau menyakitinya seperti ini!"

"Maaf... maafkan Appa.. Baekhyun" Gumam Yunho mengabaikan, amarah Jaejong. dan lebih memilih mendekap Baekhyun sambil menciumi puncak kepalanya. Terlalu takut melihat Putra kecilnya kembali collapse seperti ini.

"Tuan... Nyonya, ada baiknya jika segera membawa anak ini ke dalam. Demamnya cukup tinggi"

Tak perlu menunggu kalimat yang lain, keduanya bergegas mengikuti Dokter itu. dan mendengar setiap hal demi kebaikan Putranya, termasuk menghindari apapun yang membuat anak itu histeris.

.

.

.

.

.


Sementara itu di tempat lain

.

"Arghhh!" Teriaknya gusar... sambil menendang kaleng kosong itu.

Lama Ia memandangi danau di depannya, sebelum akhirnya kembali terduduk di sebuah kursi panjang... sadari sesuatu yang memang membuatnya menahan geram di sini.

Berjam-jam berselang, lepas dari rumah sakit itu. Tapi entahlah... mengapa Ia merasa frustasi dengan hanya mengingat Baekhyun yang demikian kacaunya.

Sebesar itukah Dia menyukai Chanyeol?

Dan lagi, saat anak itu serapuh itu...

Mengapa dirinya tak mampu berbuat apapun untuk membuatnya tenang.

Hingga—

"Kau di sini..."

Seseorang mendadak, membuatnya tersentak.

"Ku dengar... semalam kau hampir celaka" Sosok itu berujar dingin, namun tetap membawa diri untuk duduk di sisi Sehun.

"Apa yang kau lakukan di sini... kembalilah ke sekolah. Jika—

"Karena aku mencemaskanmu" sergah Luhan, menatap tajam. Tak peduli seberapa muak Sehun menolaknya, ia merasa memang seharusnya di sini bersamanya.

"..." Sehun hanya memandangnya, berapa kalipun sosok itu mengucapkannya. Perasaannya tetaplah sama. Ia hanya memikirkan Baekhyun.

"Kau masih menyukainya? Bahkan hingga anak itu membuatmu hampir celaka... kau masih menyukainya?" Racau Luhan tiba-tiba.

Tak banyak yang ia tau dari cara bicara Luhan, tapi raut tertekan itu... membuatnya sadar, Luhan sedang tak bermain dengan ucapannya.

"Berhentilah bicara seolah Baekhyun yang bersalah di sini"

"Semua itu memang karenanya!" nada bicara itu semakin meninggi. "Kai dan dirimu beruntung masih selamat. Tapi Chanyeol—

Luhan terkekeh miris.

"Dia terlalu bodoh, hanya demi menyelamatkan anak itu"

"LUHAN!" Teriak Sehun keras. "Lihat dirimu saat kau mengucapkan semua kata itu!"

Tapi rasanya, semua itu tak berpengaruh banyak pada emosi Luhan. Terlihat namja cantik itu semakin mengepalkan tangan muak, mendengar Sehun kembali membela Baekhyun di hadapannya.

"Mengapa kau selalu melindunginya! Tak sadarkah dirimu! sikapmu membuatku semakin membenci BAEKHYUN!" Teriaknya sambil berdiri dari duduknya, bahkan memandang Sehun kecewa.

Sehun kembali terdiam...

Ia sepenuhnya tau, situasi macam apa saat ini.

Satu hati sama persis seperti miliknya...

Menahan perasaan, namun tak pernah terbalas..

Mungkin rasa sakitnya sama

.

.

"Pakailah ini! jangan biarkan dirimu beku di tempat seperti ini"

Sehun membulatkan mata lebar, begitu tiba-tiba saja Luhan berjinjit lalu mengenakan syal untuk lehernya. "Kau—

"Diamlah!" Sergah Luhan, menahan semburat merah di kedua pipinya. Kala wajah keduanya nyaris tak bersekat, lalu—

"Jangan bodoh seperti Chanyeol!" Sungutnya, begitu usai mengenakan syal untuk pemuda tinggi itu. Masih dengan wajah bersemu merah, Luhan mencoba mendelik kesal pada Sehun.

"J-jika kau menyukainya, sebakinya temui anak itu. Jangan mati kedinginan di sini!" Gusarnya sambil memutar tubuh membelakangi Sehun.

"Kau ingin pergi?" Tanya Sehun tiba-tiba, begitu Ia mencoba mengambil langkah.

Sejenak Luhan terdiam, sadari jantungnya berdebar. "T—tentu saja! untuk apa aku menemani Pemuda yang memikirkan Baekhyun!" Decih Luhan, meski nyatanya kesal itu nyaris membuat matanya berair.

Tapi, Sehun hanya menahan senyumnya. Entahlah... melihat Luhan yang mencoba bersikap tegar di sini. Terlalu menarik untuknya.

"Tunggulah sebentar saja.." Ujarnya kemudian, membuat Luhan mengernyit heran.

"Apa?!"

"Kau tau pasti apa maksudku ini..." Kekeh Sehun memandang lekat, foxy eyes yang kini benar-benar menatap dalam padanya.

.

.

.

.

.


Pagi mulai menjelang...

sebagian berkas mentari itu perlahan menyusup masuk dari celah jendela rumah sakit yang terbuka,

Bahkan semakin terbias terang, kala seorang wanita membuka tirai... hingga membuat Putra kecilnya yang masih terlelap itu, mulai mengernyit tak nyaman.

"Ugh!"

"Baekhyun... bangun nak" Samar terdengar suara sang ayah memanggil. Membuat Baekhyun benar-benar membuka mata, bahkan mengerjap beberapa kali untuk melihat Ayahnya.

"App—pa" Gumam anak itu, sedikit serak

"Syukurlah..." Yunho menggenggam erat jemari mungil itu, lalu Ia letakkan di keningnya. Merasa berterima kasih, Baekhyun kecilnya masih membuka mata untuknya.

"Appa mencemaskanmu" Lirih Pria itu, masih terlarut dalam nuraninya pagi ini.

"Ha—us"

"Haus?" Yunho menatap Baekhyun cemas. "Jae... ambilkan minum untuk Baekhyun, cepat... cepat" paniknya, tak berharap Putra kecilnya kembali merintih.

"Hmm... aku tau, tenanglah" Ujar Jaejong seraya menyerahkan segelas air mineral untuk Yunho.

.

.

.

"Pelan-pelan saja..."

"Benar seperti itu" Gumam Yunho, kala membimbing Baekhyun menyesap minumannya.

.

"Merasa lebih baik sekarang?" Tanyanya tak sabaran begitu Baekhyun, menyandarkan tubuhnya senyaman mungkin di kepala ranjangnya.

Sementara Jaejong yang melihat, hanya berdehem menahan senyum melihat raut panik suaminya kali ini. Rasanya... Yunho yang sebenarnya terlalu memanjakan Putranya di sini.

.

.

.

"Eomma..."

Jaejong mendekat, begitu bocah itu memanggil lirih.

"Chan—yeol?" Eja Baekhyun sedikit ragu saat melirik Yunho, takut... kalau-kalau Yunho kembali membentaknya.

"Eomma hanya mendengar operasi itu telah selesai..."

"Baekhyun bisa bertemu Chanyeol?" Baekhyun mendadak menegakkan tubuh, bahkan berniat membuka selimutnya.

"Tidak saat ini sayang" Tahan Jaejong, sedikit menahan bahu Baekhyun agar kembali bersandar di ranjangnya.

Tapi sikap itu, membuat Baekhyun terbelalak nanar. "W—wae?" gagapnya

"Chanyeol baik-baik saja?" Lagi, Baekhyun kembali mengguncang tangan Ibunya.

"..." Tapi wanita itu hanya diam memandangnya, merasa iba dengan Putranya kali ini.

"Eommaa~" Baekhyun nyaris menangis, tapi tetap mengguncang lengan wanita itu. Berharap... ada kabar baik yang membuatnya tenang.

Tapi jangankan membuka suara, Baekhyun hanya melihat Ibunya menunduk. sama sekali tak memberinya jawaban pasti.

"A—appaa" Kali ini Baekhyun menatap penuh harap pada Ayahnya. Barangkali... Yunho tau sesuatu mengenai Chanyeol

"Mengapa diam saja? Katakan pada Baekhyun.." rengek namja kecil itu nyaris tergugu.

Merasa tak mendapat jawaban, Baekhyun berlaku nekat dengan menyibak paksa selimutnya ... mencoba melompat dari ranjangnya. Lalu Ia pastikan sendiri kondisi Chanyeol sebenarnya

"Ti—dak" Jaejong menangkap tubuh Baekhyun, mendekapnya erat... hingga tak mungkin lagi Baekhyun melawan dengan tubuh seringkih itu.

"Eomma!"

"Ssh... Dengarkan Eomma"

Baekhyun meluruh, terduduk pasrah lalu membiarkan wanita itu meraih kedua tangannya.

"Eomma akan mengatakannya, jadi berhentilah bersikap keras kepala seperti ini... Sayang"

Jaejong menatap Yunho... sebelum akhirnya membawa kepala Baekhyun agar bersandar dalam dekapannya.

"Chanyeol koma..."

DEG

Baekhyun terbelalak lebar, hingga tak sadar air mata lolos dari sudut matanya. Tapi meski demikian ia tetap mendengar setiap kalimat yang terucap dari Ibunya.

"Siapapun belum diizinkan untuk melihatnya" Jaejong memejamkan mata, mengantisipasi... sikap tak terduga dari Putranya.

Jaejong sadari... tubuh kecil itu mulai gemetar dalam dekapannya.

"Tapi... Eomma yakin, semua akan baik-baik saja. Chanyeol tentu—

"U—uhh"

Jaejong terhenyak, mendengar nafas tersengal berbaur dengan isakann itu. Dan begitu Ia merunduk, Ia hanya bisa menghela nafas berat... melihat Baekhyun kembali menangis

"Chan—yeol" Isaknya lagi, mencengkeram erat... belakang baju Ibunya. "Mian—hae"

"Semua bukan salah Baekhyun... ssshh" Bisik Jaejong lirih

.

.

.

.


Tiga hari berlalu, selama itu pula...

Baekhyun mencoba bertahan membatasi diri... di dalam kamar yang sebenarnya terlalu Baekhyun sukai. Tapi tidak dengan beberapa hari terakhir...

Baekhyun hanya merasa... semua terlalu cekam bahkan sesak untuknya.

Menyudutkan dirinya sendiri, menunggu kabar... yang tak kunjung Ia dengar akan kondisi Chanyeol di sana.

Penggalan memori yang terus berulang di malam itu.

kembali membuatnya terjaga... tak sedikitpun memberinya sekat untuk terpejam. Hingga ... mata itu terlihat semakin lelah dan sayu.

Jika saja, Ia tak datang kala itu

Jika saja, Ia tak keras kepala..

Dan Jika saja dirinya mendengar Chanyeol...

Mungkin, Chanyeol tak akan mendapat luka separah itu

Mungkin.. Pemuda itu masih menggodanya di pagi ini.

Ya... jika saja, Ia bisa mengulang waktu

Sekali saja, Ia memegang sumpahnya... untuk merubah diri

Hingga malam itu, tak pernah datang padanya.

Baekhyun kembali memejamkan mata... membiarkan weaker itu kembali berdentang nyaring, mengacaukan paginya kali ini.

"Bawa Chanyeol kembali" Lirihnya, mengambil weaker itu... untuk dipeluknya.

.

.

.

"Sayang.."

Samar terdengar jaejong memanggil di luar.

"Sudah bangun eum?"

"..." Baekhyun tak menjawab, selain bertahan pada posisinya.

"Eomma masuk neee" Ujar Jaejong lagi.

Pintu terbuka... dan bisa ia rasakan aroma masakan yang hangat dari Ibunya.

.

.

"Astaga... mengapa kau biarkan jam weaker ini berdering sekeras ini. dan kau sama sekali tak bangun hmmm?" Heran Jaejong, seraya mengambil weaker itu, lalu mematikan tombolnya.

.

.

"Cha... Bangunlah, Eomma membuat sup hangat untukmu"

Anak itu beralih membuka mata, menatap sendu Ibunya... lalu memutar tubuh membelakangi wanita itu.

"Baekhyun tak ingin makan.."

Jaejong tertegun. Bahkan hari ini pun nafsu makan anak itu... belum juga pulih. Bagaimana jika Baekhyun kembali jatuh sakit?

"Makanlah sedikit saja... Eomma mohon" Bujuk Jaejong, sambil mengusap kepala Baekhyun.

"..." Tapi, anak itu hanya diam.

"Baekhyun?" Membuatnya kembali menelan getir. Menyadari Baekhyun kembali menutup diri.

.

.

.


Tepat seminggu lamanya... Ia menyematkan kata absen untuk sekolahnya.

Tepat seminggu pula... Ia biarkan wajahnya berangsur semakin tirus.

Namun pagi ini, anak itu sepertinya berubah pikiran...

Terlalu membuat Yunho dan Jaejong terkejut melihat Baekhyun berpakaian rapih dengan seragamnya. Meski sebenarnya, keduanya telah meminta kebijakan dari pihak sekolah akan kondisi Putranya.

"Baekhyun yakin, ingin ke sekolah hari ini?" Tanya Jaejong sedikit cemas, melihat wajah sayu itu.

"Uhm..." Baekhyun mengangguk pelan, meraih segelas susu di depannya lalu menegaknya tergesa.

Yunho mentapnya lekat. "Pihak sekolah telah memberimu izin untuk beristirahat di rumah. Sebaiknya—

"Baekhyun ingin ke sekolah" Sergah Baekhyun memaksa.

Tak ada pilihan lain, selain memberi apa yang Baekhyun inginkan. Tentunya... mereka tak ingin semua ini berpengaruh pada kondisi Putra kecilnya.

.

.

.

.


"Telfon Appa... jika kau merasa kurang baik" Ujar Yunho begitu mengantar Putra kecilnya hingga di pintu gerbang

Baekhyun mengulas senyum tipis

"Jangan memaksakan diri, Appa benar-benar mencemaskanmu" Pesan Yunho lagi, sedikit merapikan lengan seragam Baekhyun.

Bocah itu kembali mengangguk pelan, lalu melambaikan tangan... mencoba meyakinkan Pria itu untuk lekas kembali ke dalam mobilnya.

Sejenak menunggu hingga Yunho membawa mobilnya pergi, Baekhyun putuskan untuk melanjutkan langkahnya.

Bukan...

Bukan pada jalan yang semestinya ia lalui menuju kelasnya

Melainkan, Baekhyun membawa langkahnya menuju tempat yang sebenarnya bertolak jauh dari sekolahnya saat ini.

"Taxi!" Serunya, lalu masuk dengan segera.

.

.

terpaksa Ia lakukan semua ini, karna Baekhyun tau... kedua orang tuanya tak akan pernah memberinya izin untuk pergi ke rumah sakit itu.

Apa yang salah?

Ia hanya ingin melihat Chanyeol... seburuk apapun kondisi Chanyeol, Baekhyun hanya ingin menatap wajahnya.

Sebentar saja...

Hanya sebentar saja untuk menatap wajah yang sebenarnya terlalu Baekhyun rindukan itu.

.

.

.

"A-ahjjussi di sini saja" Pesan Baekhyun tiba-tiba, meminta Pria paruh baya itu untuk menepikan Taxi nya tepat di sebuah tempat penuh dengan display bunga.

"Tapi ini bukan rumah saki—

"Tak apa Ahjjussi, ada yang ingin kubeli"

Pria itu tersenyum ramah. "Baiklah... berhati-hatilah di jalan"

Bocah itu balas tersenyum, menatap Taxi itu pergi sebelum akhirnya berlari kecil ke dalam Toko bunga itu.

.

.

"Ada yang bisa kubantu untukmu Adik kecil?" Seorang Pria tinggi, terlihat datang menghampirinya.

Baekhyun mengerjap, memandang bingung pada semua bunga yang tertata cantik di dalam ruangan itu.

"B-bunga—

"Untuk pacarmu?" Sergah Pria itu, menyungging senyum melihat wajah polos Baekhyun.

Namja kecil itu sempat tersentak, tapi setelahnya mengangguk malu-malu.

"D-dia sedang sakit" Lirih Baekhyun lagi, meremas jemari kecilnya di belakang punggungnya. Sambil sesekali menunjukkan wajah tersipu kala membayangkan wajah Chanyeol saat melihat dirinya membawa bunga untuknya.

Penjaga toko bunga itu tertawa pelan, tanpa berucap apapun Ia bergerak sigap mengambil beberapa komponen bunga.

"Baiklah... tunggu sebentar"

.

Baekhyun tercengang, mengerjap takjub pada bagaimana Pria itu mahir menyusun semua bunga itu hingga terlihat manis dan cantik dalam waktu bersamaan.

"Paduan Pansy.. Daisy dan mawar ini.. kurasa sesuai untukmu"

Bocah itu kembali mengerjap, kala Pria itu meletakkan rangkaian bunga di dalam rengkuhannya. "Seperti dirimu yang ceria... lembut dan mempesona. Kekasihmu seakan melihatmu, dengan hanya melihat rangkaian bunga ini"

Baekhyun merona...

Bahkan sepertinya tak mampu menahan senyum manis di sudut bibir itu. Mengapa mendadak, Chanyeol muncul dalam benaknya dan mengatakan semua kata itu untuknya.

.

.

.

"Bersemangatlah untuk hari ini. Kurasa Dia akan cepat sembuh dengan melihat senyummu itu" Seru Pria itu seraya melambaikan tangan, pada anak yang telah berlari menuju rumah sakit tak jauh dari tempatnya bekerja.

.

.

.


Nafasnya mungkin tersengal berat.. berbaur dengan peluh yang perlahan menetes dari keningnya. Tapi sepertinya tak cukup membuat anak itu untuk jera... membawa langkahnya lebih cepat, menuju sebuah ruangan.

Baekhyun mengingatnya...

Selepas dari ruang Operasi itu, Chanyeol berada di ruangan VVIP di ujung koridor itu.

.

.

Senyumnya makin terkembang manis... mendekap erat rangkaian bunga cantik dalam pelukannya.

Semakin Baekhyun tak sabar untuk melihat wajah Chanyeol di dalam sana.

.

.

.

.

.

"Chanyeol—

Tapi...

Baekhyun hanya merasakan nafasnya serasa terhenti. Begitu sampai di depan ruang VVIP itu... tapi pintu terbuka dan tak ada siapapun di dalam nya.

"Chanyeol~ah" Entah... mata itu terasa memanas. Tak tersadar olehnya, jika pelupuk mata itu penuh dengan bulir bening.

Tapi Baekhyun tetap memaksa melangkah masuk, meyakini... Chanyeol berada di ruangan ini sebelumnya.

.

.

"Ah... siapa kau?"

seseorang menengurnya dari belakang.

Sontak membuat Baekhyun memutar tubuh dan memandang suster itu dengan tatapan pias.

"Chan—yeol. Di mana Chanyeol?" Gagapnya, sedikit menyeret kaki lemasnya mendekati wanita muda itu.

Suster itu mengernyit. "Chanyeol?" Ucapnya sambil mengingat sesuatu.

"Ah! pasien yang mendapat luka tikam itu?" Terka Suster itu, begitu mengingat sosok yang dimaksud Baekhyun. Pasien itu bernama Chanyeol bukan?

Baekhyun gemetar menunggu kalimat lain dari wanita itu, hingga Baekhyun sadari tatapan teduh Suster itu mengisyaratkan hal lain di sini.

"Kau temannya? Tapi Maaf adik kecil... pasien yang kau cari itu. Tidak di sini lagi. Dokter menyatakan jika—

'BUGH'

Buket bunga itu mendadak terjatuh dari tangannya, seiring dengan gemetarnya tangan kecil itu... tangisnya pecah.

Terbekap dalam rasa takut, yang sebenarnya tak ingin Baekhyun temui kali ini. Apa yang terjadi padanya?

Mengapa wanita itu bicara seolah semua ini mimpi buruk untuknya.

"Y-yya... kau baik-baik saja?" Suster itu menangkap cepat, tubuh Baekhyun yang limbung.

"C—Chanyeol! B-bawa Chanyeol padaku Noonnaa" Isak Baekhyun tergagap. ia tak mengharapkan angannya berujung seperti ini. Mengapa bukan wajah Chanyeol yang di lihatnya.. mengapa hanya ruangan kosong ini yang tersisa untuknya.

"Ku mo—hon ... aku ingin melihatnya Noonna"

.

.

.

.

.

.

.

.

"Chanyeol..."

Te. Be .Ce...

.

.

.

.

.

Next Chap..

Perlahan Baekhyun sadari...

Ia memang terlalu merindukan Pemuda tinggi itu

Bagaimana Chanyeol menyeringai bahkan betapa menyebalkan saat Dia menggodanya, di ruang kelas ini.

"Tapi kau tak di sini..."

"Bagaimana jika semua namja itu mengangguku... siapa yang akan memukulnya untukku?"

.

BRUGH

"Baekhyun!"

"Yack! menyingkir! beri dia ruang!"

.

.

.

.

"Aku-

"Merindukanmu Baek"

.

.

.

.


Gua kelar juga bikin Chapter ini.

Jadi intinya Chanyeol? ada yang tau?

.

Ok, ada yang mau update cepet? buat next Chapt?

Atau... lanjutannya lama lagi nih :) :)

Yaps... Jangan lupa tinggalkan Review, jika sayang Gloomy lanjut di lapak inni

Karna Gloomy update sesuai banyak atau tidaknya review dari teman semua.

.

.

.

IG : gloomy_rosemary

Untuk:

ambar istrinya suho , tkxcxmrhmh, kickykeklikler, kimi2266 , kaisooxoxo , restikadena90 , dewi hutasoit61 , veraparkhyun , Aisyah1, park chan2, realoey614 , yehet98 , rismaaa45 , rubykaisoo, engga , AdisKMH, merryistanti , BananaOhbanana, Cynta533, kykykykykyk, buny puppy , Byunsilb , derpwhiteboy, SHINeexo , cassiewol, byankai , chanchan , shabrinaZ14 , yousee, realbyuneexo , Yana Sehunn, mutianafsulm, joy614 , sehunluhan0905, winter park chanchan, yodabacon614, chanbaeklmn , Ayuiva1 , nanamiCB , Ohselu188, ChanBaekaegya , sonysone , baek55 c, inchan88 , Tiffanyoktavia9, ChanBaekGAY , phikhachu, Hipperdipper94, Retyass , xoo'49 , selepy , PinkuBlue614, park chan2 , lee da rii , Byunsex , AlexandraLexa, LavenderCB , Eun810, LightPhoenix614 , Rosehyun, chanbaek1597, exobbabe , byunbaekra , Dodio347 , YeolloBaek614 , Kiran Karuma , YvkariKim, MadeDyahD , MeAsCBHS, neniFanadicky, myliveyou , baek55, hulas99 , bbhunyue , SuperSupreme61, riszkaf , syrfh0461 , Izahina98, lhyejin403 , CY PARK, park ceye , Anhwa , ByunDita , Bee , Stnoona , hyexxxsan, hananachan , fansanakayam, Loey761 , Marshamallow614 , shbrn chanbaek, astia631 , byunlovely, ParkBaeko , Riinnchan , Jung HaRa , xiluhan74, dan All Guest (sorry ga semua ditulis)

Thanks untuk review sebelumnya.

Butuh semangat dan support untuk lanjut...

Love u all