Chapter 14: Sneaking Truth

Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa Minna-san~
Ohisashiburi desu~

Saya gak mau bicara banyak, cuma, maaf kalau chapter ini terlambat soalnya saya ada acara Try Out hari minggu kemarin.

Saya akan berusaha ngasih tahu buat kedepannya kalau mau delay update, kelas 12 emang rada susah juga sih, kadang ada beberapa acara mendadak. Saya sendiri kalau nggak hari minggu, pasti udah terlanjur males update fict, sebenarnya buat chapter ini bisa saya update senin kemarin, tapi nggak enak aja… Ya, kaya nggak pas gitu kalau nggak hari minggu. ^^

Sekian, gitu aja sih, enjoy~

~Phantasm~

Main Character: Kagamine Len, VY2 Yuuma, IA, Kagamine Rin

Main Pair:
Len X Rin
Yuuma X IA

Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Fanloid © Creator

Summary :

"'Tragedi berdarah dari kedua dunia tersembunyi dalam kutukan abadi keegoisan manusia'/"Harus ada orang yang memainkan peran jahat demi kedamaian dunia yang sebenarnya! Dan akulah orang yang akan melakukannya!"/'Dan… Mereka bahkan tidak tahu, tragedi yang sebenarnya baru akan dimulai sekarang…'"

Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje, pendeskripsian kurang, kesalahan eja 'EYD' dan teman-temannya.

'Abc' (italic): Flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc" : Percakapan normal
'Abc' (kutip satu) : Hayalan, angan, atau (monolog) pikiran karakter.
'Abc'/ 'ABC' (bold atau kapital) : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.

HAPPY READING!


XOXOX

-Normal POV-


"Ayolah Len, jangan marah begitu…"

"Mana ada orang yang tidak marah jika kau mengagetkan orang dengan cara yang tidak lucu seperti itu? Luka-nee hampir membuat jantungku copot."

"Yah… Aku hanya ingin membuat kau terkejut. Harusnya…"

"Saking terkejutnya, rasanya aku bisa mati saat itu juga."

Len dan Luka ada di dalam lab, dengan posisi, Len sedang dimintai maaf oleh Luka habis-habisan. Niatnya, waktu Len masuk, Luka akan pura-pura pingsan dan mengamati reaksi Len.

Luka kira, Len palingan hanya akan muring-muring sebentar dan menunggu Luka bangun, lalu Luka bisa mengagetkan Len saat itu juga. Tapi siapa sangka, Len malah keluar dari ruangan dan dengan cepat menarik seorang perawat di gedung tersebut dengan panik? Itu menjadi pengalaman tersendiri bagi Luka, yah… Pengalaman baru.

"Jadi, kenapa aku dipanggil kesini?" Len kembali bertanya dengan nada datarnya.

Luka sebenarnya sudah menyadari sesuatu dari Len semenjak Luka melihat wajah Len untuk yang pertama kalinya setelah sekian lama. Ada yang berbeda, matanya… Mata Len tidak lagi berbinar seperti bagaimana biasanya ia berbinar. Luka awalnya hanya diam saja, tapi setelah mengamati Len lagi dan lagi, ternyata benar… Perubahan yang ada di dalam diri Len terlalu besar untuk Luka sendiri pahami.

Sebagai pengasuh dan juga orang yang sudah bersama dengan Len sejak lama, Luka hanya ingin percaya kepada Len dan menunggu Len menjelaskan semuanya dengan sendirinya kepada Luka… Luka hanya bisa menunggu, ya… Dia hanya bisa menunggu.

Tapi, apa Luka akan bersabar menunggu?

Jawabannya, tidak.

Apa dia akan bertanya alasannya langsung kepada Len? Mungkin, tapi… Apa Len akan menjawab?

"Apa yang terjadi?"

Luka menghampiri Len dan memeluk Len dari depan. Luka mendekap Len dengan erat dengan tubuhnya, membiarkan kehangatan di antara mereka saling menutupi satu dengan yang lain. Tapi, tetap tidak ada tanda-tanda kalau mata kosong Len akan melunak dan luntur dari kekosongannya dengan pelukan hangat itu.

"Kau bisa mengatakan apapun padaku, bukankah aku adalah keluargamu?" Ucap Luka dengan lembut.

"Apa seorang anggota keluarga bisa selalu mengambil privasi anggota keluarga lainnya?"

Jawaban yang dituturkan Len membuat Luka tersentak. Walau begitu, Luka tidak melemahkan pelukannya, jangankan melepas, dia bahkan mempererat rangkulannya terhadap tubuh Len.

"Kenapa, apa aku berkata sesuatu yang salah?" Tanya Luka dengan nada sedih sekaligus bingung.

"Tidak, Luka-nee. Kau tidak salah apapun."

"Lalu?"

Len kembali terdiam.

"Apa pubertas membuatmu tidak lagi bisa memberitahukan semuanya pada kakakmu yang satu ini?"

"Ini lebih terasa kalau aku mempunyai ibu ketimbang seorang kakak."

"Uh… Kasar…" Balas Luka, ternyata Len tidak mempan diberikan lelucon.

Luka melepas pelukannya dengan berat, bukan hanya itu, dia… Walau perlahan dia juga mengalihkan pandangannya, dengan mata yang terlihat sayu. Luka kembali ke mejanya, mengotak-ngatik gadget lepas yang ada di tangannya, sebuah layar transparan muncul di depan wajahnya. Luka menggeser layar itu tepat ke hadapan Len.

"Kau mengerti diagram ini? Entah kenapa, aku merasa janggal dengan yang satu ini." Ucap Luka kepada Len.

"Ini… Ini diagram milik siapa?"

"Milikmu, Len. Itu data terbaru yang berhasil aku rekam dan amati selama kau pingsan dari tubuhmu selama 2 minggu ini."

Mata Len terbelalak hebat, seluruh parameternya naik dengan drastis. Penguasaan, kerumitan penggunaan, jumlah cadangan, variabel pembentuk, keefisienan dan keefetifan penggunaan… Seluruh hal tentang Mana nya meningkat drastis!

"Kau pasti tahu, aku pernah memberitahukan hal yang sama… Lebih tepatnya, diagram yang mirip dengan hal itu beberapa kali…" Tutur Luka.

Len terdiam, lalu menjawab dengan terbata…

"Ya… Aku juga merasa tidak asing dengan yang satu ini… Status ini… Status ini…" Len tidak bisa melanjutkan lagi.

"Ini sebuah keganjilan yang luar biasa yang pernah terjadi pada dirimu. Kau pasti mengerti, hanya beberapa orang yang memiliki parameter setinggi ini… Hanya mereka yang terpilih dan mereka yang benar-benar pernah tercatat dalam sejarah yang bisa seperti ini… Beberapa diantaranya adalah Ratu kerajaan Axiom, True Braves, dan…"

"Maou Erda-Orthe…" Lanjut Len, melanjutkan perkataan Luka.

"Kau paham bukan? Apa yang terjadi pada tubuhmu benar-benar luar biasa! Mungkin, untuk bidang penelitian, ini bisa menjadi salah satu keajaiban dalam dunia sains dan sihir! Tapi…"

"Itu benar, Luka-nee… Aku bisa mati karena kekuatan ini…"

"Apa kau merasakan keganjilan tersebut pada tubuhmu sekarang?" Tanya Luka.

Len menggeleng.

"Tidak, tidak sedikitpun. Tidak ada gejolak ataupun gejala aneh yang kurasakan saat aku bangun… Ini seperti, kejadian pada pertempuran gila beberapa waktu lalu hanyalah omong kosong belaka…"

"Apa ada kemungkinan jika kau tidak bisa menguasainya?"

Len terdiam sebentar.

"Ada… Tapi, daripada tidak bisa menguasainya, mungkin lebih tepat disebut 'tidak bisa mengerti tentangnya'."

Itu adalah perkataan terakhir dari Len kepada Luka. Mata kosong itu menoleh ke arah pintu, Len menghampiri pintu dan membiarkan kakinya membawa keluar dirinya dari ruangan tersebut tanpa mengatakan apapun lagi.

Len keluar dari lab dengan diam, langkahnya berat dan Luka bisa merasakannya. Ingin rasanya tangan Luka menghentikan Len untuk pergi, tapi ketika pintu sudah tertutup, tangan itu baru saja tergerak, membuat Luka terlambat untuk menyadari keinginannya sendiri…


XOXOX


Ting…

Suara lift yang sampai pada tujuannya sudah bordering, Yuuma keluar dari lift dan berjalan keluar dari gedung besar tersebut, HQ B.L.A.D.E, menuju ke panti asuhan dimana mereka berempat tinggal bersama Luka.

Di dunia modern seperti ini, sebenarnya Yuuma dan yang lainnya bisa mendapatkan fasilitas lebih, terutama tempat tinggal. Tapi, entah kenapa keempat dari mereka setuju untuk tetap tinggal di rumah tua yang terbuat dari kayu tersebut.

Jalanan begitu tenang, ada beberapa orang dewasa dengan pakaian rapi dan juga anak-anak yang berlarian. Tapi, lebih dari semua itu, sesosok orang yang sangat dikenal Yuuma berdiri di jalan di depan Yuuma.

"Yuuma, apa kau ada waktu?"

Itu Aria.

Yuuma tidak ingin ambil pusing, dia hanya terus melanjutkan jalannya dan menoleh ke arah Aria sebentar. Aria refleks langsung mengikuti Yuuma dengan berjalan di samping Yuuma.

Perjalanan terasa begitu panjang, rute mereka kini berbelok dan tidak lagi menuju panti asuhan tua tempat mereka tinggal. Yuuma dan Aria, keduanya sama-sama diam, tidak ada yang membuka pembicaraan. Memang, mereka berdua adalah orang yang jarang sekali bicara, kecuali jika yang dibicarakan hal penting. Tapi, Yuuma masih terus berpikir, kenapa Aria ingin meminta waktunya? Apa ada yang ingin dia bicarakan? Ataukah dia hanya ingin ditemani jalan-jalan?

Suara angin yang seakan bernyanyi di telinga mereka, membuat hembusan syahdu yang menemani perjalanan mereka, perlahan-lahan. Langit terasa jauh, mengisyaratkan pikiran mereka yang saling tidak bertemu disebuah topik untuk dibicarakan bersama.

Semua orang memakai syal, tidak terkecuali mereka berdua. Sekarang sudah akhir desember, waktu berjalan begitu cepat dari awal mereka harus mengadapi semua masalah ini. Semua dimulai pada akhir september lalu, dan kala itu pula, kala dimana tim yang mereka banggakan akan terpecah belah seperti saat ini.

"Saat itu, aku sendiri tidak sadar dengan apa yang aku lakukan…" Yuuma tanpa diduga berbicara duluan di tengah keheningan.

Aria mendengarkan dengan antusias.

"Aku tidak percaya, kalau semuanya akan berakhir buruk…"

Aria, menjawab pernyataan Yuuma.

"Itu tergantung dirimu, apakah ini akhir yang buruk atau akhir yang baik."

"Apa kau ingin mengatakan bahwa kaburnya Kiyoteru adalah akhir yang baik?" Yuuma langsung menunjukan nada geram dalam perkataannya.

Suasana kembali hening, mereka kembali berjalan dalam diam. Yuuma langsung menutup mulutnya dengan rapat, sadar kalau yang dia katakan hanya akan membawa masalah lain.

"Len, apa kau tahu keadaan Len sekarang?" Tanya Yuuma tiba-tiba.

Aria tidak langsung menjawab, dia menghela nafas terlebih dahulu.

"Jika kau segitu ingin tahunya tentang Len, kenapa tidak kau cari tahu saja sendiri?"

"Kau mengerti bukan? Selama dua minggu ini, aku tidak menjenguknya sama sekali, apa kau kira aku bisa menunjukan wajahku di hadapannya lagi setelah semua yang aku lakukan?" Tanya Yuuma.

"Tergantung bagaimana dirimu dalam memikirkannya."

Yuuma terlihat geram kembali.

'Wanita ini, aku memang tidak bisa bohong lagi, dari dulu dia sangat menyebalkan.' Pikir Yuuma.

"Saat pertama aku menemukan Len di sebuah reruntuhan, aku sudah berpikir, kalau dia akan membawa perubahan besar pada dunia. Dia menyelamatkan banyak orang, termasuk aku sendiri, tanpa dia sadari. Mungkin beda rasanya karena kau tidak merasa pernah diselamatkan oleh Len. Dari semua anggota, Len selalu mengeluhkan dirimu, bukan mengeluh dalam artian buruk, dia hanya ingin mengenalmu lebih jauh dan memahami perasaanmu. Dia selau meminta saran tentang bagaimana kau bisa lebih terbuka pada anggota yang lain, terutama pada dirinya sendiri." Ucap Yuuma.

Aria hanya diam mendengarkan.

"Hubungan kalian selama ini, hanya sebatas atasan dan bawahan, tidak lebih. Apa kau mengerti rasanya jika orang yang ingin kau kenal tidak menganggapmu sama sekali? Len selalu berusaha agar tim ini menjadi sebuah keluarga, dan akan banyak kendala yang menghalangi dia dalam mewujudkan itu. Jika aku, bisa mengurangi bebannya walau hanya sedikit, itu akan lebih baik daripada tidak melakukan apapun. Apa kau tidak merasakan niat tulusnya untuk bisa lebih mengenalmu?" Tanya Yuuma diakhir.

Tanpa diduga, Aria malah menghela nafas lagi, membuat Yuuma semakin geram. Yuuma beranggapan kalau Aria tidak menganggap serius semua perkataan Yuuma tentang Len.

Tapi, berbeda dengan pikiran Yuuma, Aria menjawab dengan sebuah pernyataan.

"Aku, aku bukannya tidak ingin dekat dengannya. Tapi, jika ada satu orang yang ingin sekali dia selamatkan, aku sangat ingin menjadi orang itu lebih dari siapapun… Ini adalah perasaan ku yang sebenarnya..." Ucap Aria, yang membuat Yuuma cukup terkejut sampai dia menghentikan langkahnya.

"Karena aku orang yang tidak mungkin bisa dia selamatkan…" Ucap Aria pelan.

"Apa kau mengatakan sesuatu barusan?" Tanya Yuuma karena merasa ada bisikan keluar dari bibir Aria.

"Tidak, tidak ada." Jawab Aria.

"Len itu—"

Belum selesai Yuuma berbicara, Aria memotong pembicaraan Yuuma.

"Pada dasarnya, Len terlalu menyama-ratakan setiap orang. Dia hanya seseorang yang tidak bisa melihat orang lain terluka. Aku tidak tahu kenapa, tapi dia terlihat seperti mesin penyalamat orang lain di mataku. Aku kasihan dengan orang-orang yang menaruh harapan kepadanya, kepada orang-orang yang merasa diselamatkan olehnya karena merasa dianggap istimewa. Tapi nyatanya, mereka diselamatkan oleh Len karena Len hanya melihat mereka sebagai 'sesuatu' yang harus diselamatkan." Ucap Aria, agak kasar.

Yuuma langsung menghampiri Aria, tangannya mencengkram syal Aria di tengah salju yang mulai turun. Nafas mereka tersembul keluar, sangat dekat… Hidung mereka hampir bersentuhan, Mata tajam Yuuma melihat lurus ke mata Aria yang masih terlihat kalem.

"Kalau saja dia bisa lebih menganggap kalau tidak semua orang sama, jika dia punya segelintir orang yang dia anggap istimewa, Kiyoteru tidak akan meninggalkan kita seperti ini… Kiyoteru pergi karena Len hanya menyelamatkan dia, tapi tidak memberikannya tujuan untuk dilakukan. Len membawa kita semua ke Epsilon dengan tujuan agar kita bekerja sama dan bisa mencapai perdamaian dunia sebagai tujuan akhir kita… Tapi pada akhirnya, dia terlihat seperti 'Berdirilah di belakangku! Akan aku lindungi kalian!' atau sesuatu seperti itu… Dia tidak memberikan arahan apapun yang cukup berarti, dia hanya merasa kalau orang-orang yang ada di sampingnya hanya harus dia lindungi… Dia tidak memberikan orang-orang tersebut kesempatan untuk bergerak maju." Ucap Aria yang dengan tepat menusuk relung hati Yuuma.

Yuuma melepasan tubuh Aria perlahan, kemudian dia hanya berdiri diam di depan Aria.

"Lalu, apa yang harus aku lakukan agar dia bisa seperti itu?" Ucap Yuuma, pelan.

"Biarkan saja, dia harus menyadari itu semua sendiri. Disamping itu, bisakah kita membicarakan hal lain? Aku meminta waktumu karena aku ingin lebih tahu tentang dirimu, jarang sekali kau menceritakan dirimu kepada orang lain, dan itu membuatku penasaran."

Seakan tidak ada hal apapun yang terjadi, Aria berkata demikian dengan tenang. Yuuma, langsung saja tertawa dengan keras.

"Hahahaha! Kau memang sangat cuek dan menyebalkan!" Ucap Yuuma.

"Begitu juga dirimu. Jadi, apa kau ingin mengatakan sesuatu tentang dirimu sendiri, tuan penyendiri?"

Yuuma hanya berjalan lagi, menghiraukan perkataan terakhir Aria. Tapi, Aria tidak menyerah, dia tetap berjalan mengikuti Yuuma.

"Yah, diam juga memiliki esensi tersendiri dalam sebuah hubungan."

.

.

.

Di lain sisi, Len dan Rin sedang terdiam di dalam panti asuhan. Mereka duduk di sofa di ruang tamu.

Mata Len masih saja dingin, dingin seperti hawa udara yang sedang menyelimuti atmosfer saat ini. Rin sangat ingin membicarakan sesuatu, tapi dia tidak bisa karena Len kelihatan seperti orang yang tidak ingin membicarakan apapun…

"Kau, kau melihat ledakan di Rusia saat itu kan?" Ucap Len tiba-tiba.

Rin tergagap, dia terkejut karena tiba-tiba Len mengatakan sesuatu. Karena terlalu kaget, Rin hanya menganggukkan kepalanya dengan cepat.

"Apa kau berpikir kalau aku bisa menepati janjiku sekarang?" Tanya Len.

"Janji? Dengan siapa?" Rin langsung saja menjawab kali ini.

"Beberapa orang, seperti... Apa kau ingat apa yang aku ceritakan saat aku merekrut Neru dulu? Aku bilang kalau aku harus memberinya tujuan hidup, apapun itu bukan? Dia sudah lama memintanya kepadaku, tujuan hidupnya dan tujuan kenapa dia mau mengikutiku." Ucap Len.

"Lalu, apa yang kau janjikan?" Tanya Rin.

"Kau tahu kan kalau vampire tidak bisa mati?" Tanya Len.

"Iya. Walau kau membakarnya sampai menjadi abu, walau mayatnya dilumat hingga habis, dia akan terus beregenerasi dan hidup kembali walau butuh waktu berabad-abad sampai tubuhnya utuh… Jangan bilang…"

"Sudah terlambat Rin, aku sudah berjanji, kalau aku adalah orang yang akan mengakhiri hidupnya…"

BRAK!

Rin menggebrak meja di depannya, wajahnya terlihat sangat emosi, dia marah bukan kepalang karena keputusan sepihak dari Len. Rin langsung saja berdiri di depan Len dan mengangkat wajah Len yang tertunduk, lalu ia menamparnya dengan keras.

PLAK!

"KENAPA KAU BISA MENJANJIKAN HAL SEPERTI ITU KEPADANYA?! APA KAU TEGA MEMBUNUH SAHABAT BAIKMU SENDIRI?!"

"Tapi, dengan kekuatan ini… Aku yakin kalau aku bisa mengabulkan harapannya…"

"BUKAN ITU YANG AKU TANYAKAN KEPADAMU!"

BRAK! Rin kembali menggebrak meja.

"KENAPA KAU INGIN MEMBUNUH NERU?!"

"Aku… Aku tidak ingin…"

"LANTAS—"

"Aku tidak tahu lagi apa yang harus ku lakukan! Aku… Aku tidak kuat lagi mendengar ceritanya… Neru pernah bercerita kepadaku, dia sudah berkali-kali mencoba bunuh diri, tapi apapun yang dia lakukan... Bahkan walau kepalanya terputus dari lehernya, dia akan bangun lagi berapa kalipun ia mencoba! Itu mengerikan! Sangat mengerikan! Aku membayangkannya, saat kita mati… Dia akan terus sendiri di dunia yang sudah rusak ini, selamanya hingga Hari Penghakiman tiba! Apa kau mengerti tekanan mental apa yang dia rasakan?!"

Walau tidak keras, Len membentak Rin.

"10 tahun, 100 tahun, 1000 tahun… Saat membayangkannya saja, aku sudah ingin muntah… Dia akan terus begitu selamanya, dia tidak akan bisa mati, walau menua, dia bisa mengganti wujudnya lagi dan terus muda segalanya… Percobaan yang dilakukan pada tubuhnya adalah hal terburuk yang pernah aku bayangkan… Seorang gadis muda yang seharusnya memiliki masa depan, harus menjalani sisa hidupnya dengan masa depan mengerikan yang tidak bisa lagi dia ubah dengan tangannya! Apa kau mengerti itu?!" Bentak Len.

Mata Len memang masih kosong, tapi Rin tetap memaksa melihat mata itu. Hingga sebuah sensasi aneh muncul, sebuah perasaan kalau Rin akan terjebak di kegelapan yang dalam jika terus memandang mata Len.

"Lalu, apa ada orang lain yang kau janjikan sesuatu lagi?" Tanya Rin.

"Ada… Tapi aku tidak bisa memberitahukan lebih dari ini kepadamu…" Ucap Len.

"Apa masih sebegitu lemahnya diriku di hadapanmu sehingga kau tidak bisa mempercayaiku sepenuhnya?!" Tegas Rin.

"Tapi, aku yakin, hanya hal ini yang bisa aku lakukan sekarang…"

"Maksudmu?! Membunuh adalah yang terbaik untukmu?! Apa kau paham dengan apa yang kau katakan?! Kau bisa menjadi orang yang tidak waras jika terus begini! Buka matamu Len! Masa lalu sudahlah berakhir! Kita diberikan masa depan dan saat ini untuk memperbaiki masa lalu kita! Kita hanya harus meninggalkannya dan menapaki—"

"TAPI ITU TIDAK MENGUBAH KENYATAAN KALAU AKU SUDAH MEMBUNUH 2 JUTA ORANG YANG TIDAK ADA SANGKUT PAUTNYA DENGAN INI SEMUA!"

Len berteriak dengan sangat kencang di dalam ruangan itu.

"Aku tidak bisa berhenti bermimpi, dimana aku akan membunuh kalian semua jika terus begini… Aku akan berdiri sebagai satu-satunya orang yang menyesali semuanya di akhir, dan pikiran itu tidak bisa lepas dari otakku, baik disaat aku sadar maupun disaat aku tertidur! Aku terus berpikir, andai kalian terus bersamaku, aku akan membawa takdir yang lebih buruk untuk kalian! Andai aku melakukannya, apa yang bisa tersisa dariku selain penyesalan?! Mungkin membubarkan tim ini adalah jawaban terbaik! Walau tim ini akan bubar, tapi aku akan tetap melunasi janjiku pada semua orang, aku… Aku…"

Rin tidak mengatakan apapun lagi, dia hanya menarik tangan Len dan menariknya keluar dari rumah itu.

Mereka berlari dengan berat, salju sudah agak tebal di atas kaki mereka. Tanah yang mereka pijak tidak lagi sepadat biasanya. Kaki mereka terus-terusan terpendam di dalam salju tersebut.

Mereka sampai di HQ, Rin tidak melepaskan tangan Len, dia terus menggenggamnya erat. Mereka terus berlari dan menghiraukan segalanya hingga Rin sampai ruangan tempat mereka semua biasanya terkumpul. Rin terdiam saat sudah di dalam, nafas mereka berdua tersengal-sengal. Wajah, Leher dan tangan mereka membeku karena mereka tidak memakai perlengkapan apapun saat keluar.

"Kenapa kau membawaku ke sini?" Mata Len berubah tajam, tanpa jiwa dan terisi kekosongan, mata itu menatap Rin dengan amarah.

Rin tidak menghiraukan Len, dia hanya berjalan menuju mejanya dan membuka laci. Dia mengambil sebuah surat, surat itu sudah agak lecek dan acak-acakan. Dia memberikan surat itu kepada Len.

"Baca ini, ini aku dapatkan kemarin."

"Mengirimkan surat di zaman seperti ini? Apa mereka bodoh? Selain itu—"

"Baca saja!"

Len tidak lagi melanjutkan perkataannya, dia hanya membuka surat tersebut dan tulisan yang cukup jelek bersamaan gambar-gambar aneh menghiasi kertas di dalamnya.

Len langsung sadar, kalau yang menulis suratnya adalah anak kecil.

'Cukup sulit mendapatkan alamat kakak, tapi ada seorang kakak baik yang menawarkan bantuan untuk menyampaikan surat ini kepada kakak.'

'Kakak adalah orang yang sering muncul di tv kan? Aku sering melihat wajah kakak! Sebenarnya aku sudah lama ingin mengucapakan terima kasih pada kakak! Mungkin kakak tidak tahu, tapi papaku ada di tempat yang dibicarakan orang-orang itu! Papa dan tv bilang kalau kakak adalah orang yang berhasil menghentikan kekacauan di tempat itu!'

'Jadi, papa berkata kalau kita sebaiknya mengirim surat untuk menyampaikan rasa terima kasih papa dan aku kepada kakak karena sudah menyelamatkan ayah!'

'Terima kasih untuk semuanya!'

Beberapa gambar aneh menghiasi surat tersebut dalam berbagai warna, lalu, Len sadar kalau itu adalah gambar seorang anak beserta kedua orang tuanya yang sedang berpegangan tangan.

"Surat apa ini?" Tanya Len.

"Sepertinya, itu surat dari seseorang anak yang ayahnya berhasil selamat dari medan pertempuran. Ayahnya ada di Mongol saat itu, dan Mongol sudah menjadi medan keributan mesar saat pertempuran terjadi. Mungkin dia dan ayahnya menganggap kalau kau adalah orang yang berkontribusi paling besar dalam pertempuran karena seluruh berita mengatakan demikian." Jawab Rin.

"Apa kau yang mengambil surat ini dari mereka?"

"Iya, aku bertemu dengan seorang ayah beserta anaknya yang bersusah payah ingin melewati gerbang depan gedung ini demi bertemu denganmu. Mereka adalah keluarga yang tidak terlalu mapan, ayahnya adalah buruh lepas dan sering dikirim keluar negeri sebagai tenaga kerja serabutan dalam proyek-proyek besar Jepang di berbagai belahan dunia. Sang ayah sangat bersyukur karena bisa selamat dari kekacauan tersebut dengan utuh. Dan aku yakin, masih banyak orang di luar sana yang berterimakasih padamu karena sudah menghentikan pertempuran konyol tersebut." Ucap Rin tenang.

"Itu adalah berita bohong, itu semua tidak menghilangkan kenyataan kalau aku telah membunuh 2 juta orang. Tidak ada gunanya kau menunjukan ini…" Tegas Len.

"Apa kau masih tidak mengerti?! Yang aku maksudkan adalah, masih banyak hal lain yang bisa kau lakukan dengan kekuatanmu! Kau bisa menyelamatkan orang-orang seperti mereka kelak di masa depan jika kau mau menerima dirimu sendiri dan tidak menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang terjadi!"

Rin kembali geram, usahanya terkesan gagal dalam meyakinkan Len kembali ke kenyataan.

Tapi, Len tersenyum, senyuman itu sangat lembut. Sekilas, Rin melihat cahaya kembali menghiasi mata Len yang suram, Rin langsung merekahkan senyumannya melihat hal itu…

Tapi, apa yang keluar dari bibir Len adalah hal yang berbeda 180 derajat.

"Apa kau ingin aku mengira kalau 2 juta orang yang mati tersebut hanyalah pengorbanan untuk dunia yang lebih baik?"

"Eh?"

"Apa kau ingin aku berpikir kalau itu adalah hal yang wajar?"

"Bukan! Bukan begitu Len!

Len melempar kertas di tangannya dengan kasar ke atas meja.

"Jika kau sudah puas mempermainkanku, aku akan pergi sekarang."

"Len, tunggu!"

Rin memegang tangan Len, tapi Len menghempaskannya dengan kasar.

Len keluar dari ruangan itu, meninggalkan Rin yang jatuh terduduk dengan lemas.

Saat Len keluar, langkah kakinya diiringi suara lain.

Tes… Tes…

Tangisan Len mengiringi gema di lorong sepi tersebut.

"Rin… Maafkan aku, tapi sudah tidak ada lagi harapan dalam situasi ini…"

Lalu Len menghilang ke ujung lorong yang ditutupi kegelapan.

.

.

.

Di sebuah celah bangunan besar, dua orang sedang berdiri dalam ketegangan. Seperti membicarakan sesuatu yang tabu, keduanya tidak mengeluarkan suara yang keras, tapi jelas kalau keduanya sedang mendiskusikan sesuatu.

"Apa kau sudah mengerti kenyataan yang sebenarnya?"

Seseorang mengatakan sesuatu kepada orang yang lainnya.

"Apa itu benar?"

"Kenapa aku harus berbohong?"

Mata si pendengar berubah binarannya, seperti dicuci otaknya, aura jahat keluar dari orang itu.

"Kagamine Len, harus benar-benar dimusnahkan… Ketua kami harus mati kalau memang apa yang kau katakan benar... Apa kau akan menepati janjimu?" Setelah mengatakan hal tersebut, orang tersebut pergi dalam diam.

"Tentu."

Sedangkan si pemberi informasi, berdiri dengan tenang sambil bersandar di tembok bangunan di celah-celah pertokoan tersebut.

"Sudah saatnya menghancurkanmu dari dalam, Kagamine Len."

Itu adalah sosok yang dikenal sebagai Namine Ritsu, wanita itu tetap berdiri disana, dengan senyuman jahat dan juga perban di matanya yang masih belum hilang.


XOXOX

-? POV-


"Siapapun…"

Aku masih berjalan di dataran bersalju ini.

Kaki kecilku sudah kedinginan, tubuhku bersimbah darah yang sudah lama mengering.

Saat itulah, ada sesuatu yang menghampiriku.

Siiiinnnnnnnngggggg…

Suara yang asing sampai di telingaku. Ketika aku melihat di udara, ada sebuah benda aneh yang terbang di atas kepalaku.

"Naga… Naga besi?!"

Ucapku terkejut.

Benda tersebut merendahkan dirinya, hingga mendarat tepat di hadapanku. Dari dalamnya, keluar seseorang… Anak kecil dengan rambut pirang.

Dia menghampiriku dengan senyuman.

"Ternyata sumber Mana yang luar biasa itu datang dari dirimu, apa kau seorang Elf?" Tanya orang itu.

Aku mengangguk.

"A—apa kau menaiki seekor naga besi?!" Tanyaku penasaran.

"Tidak, ini namanya Helikopter."

"Heli—Heli—Hei..."

Orang itu menghela nafas mendengar suaraku yang tergagap karena sulit mengatakan sesuatu.

"Apa kau ingin ikut bersamaku, berjuanglah denganku, dan kau akan mendapatkan fasilitas apapun yang kau mau. Kau lapar bukan?"

Aku mengangguk lagi.

"Baguslah!"

Anak itu menarik tanganku, tapi aku tidak langsung bergerak dari tempatku.

"Siapa kau? Apa kau akan melukaiku?"

"Aku Kagamine Len! Aku tidak akan melukaimu! Kita akan bersama-sama menyelamatkan dunia!"

Menyelamatkan dunia, itu terdengar keren.

"Menyelamatkan dunia?"

"Yap!"

Dia menarik lenganku lagi, tapi aku masih belum juga mau bergerak.

"Ada apa?" Tanya anak itu.

"Apa… Apa aku akan dicintai?" Tanyaku spontan.

Aku tidak akan mengeluh walau harus bekerja keras untuk menyelamatkan dunia, tapi… Apakah aku bisa dicintai jika melakukannya?

"Tentu saja! Mulai sekarang, akan ada banyak orang yang mencintaimu dan bisa kau panggil sebagai teman!"

Setelah mendengarnya, mataku berbinar.

Aku langsung mengikuti langkahnya dari belakang. Tangannya menarik tanganku, tanpa sadar, aku tersenyum…

Aku… Aku ingin dicintai olehnya…

Oleh Kagamine Len.

"Aku Teuka Toppo! Salam kenal!" Ucapku lantang sambil tersenyum.


XOXOX


"Love isn't hard to be reached."

"But it's hard to be accepted."


XOXOX


Chapter 14 selesai~

Baru kali ini saya buat fict yang perlu banyak observasi sampai ngebuat folder sendiri buat info-infonya!

Yang paling susah dalam buat fict yang satu ini itu, anagram sama etimologi nama karakternya, saya dipaksa buat nama-nama dari karakter vocaloid cocok dengan nama-nama orang dari berbagai macam negara dan ras. Seperti yang di atas, di kata yang terakhir, Teuka Toppo adalah penjabaran nama panggilan 'Teto', saya ngerasa nggak 'sreg' ngebuat nama seorang Elf linear aja dengan nama Teto? ^^

Ke depannya, bakal banyak nama orang-orang dari vocaloid yang sudah dicocokan, saya bakal ngasih bocoran dikit, akan ada orang penting bernama 'Mainyuu' dan dia sudah muncul dari awal fict ini, coba tebak ya! XD

Balas anon review


-To reviewer named Hanicchi:


Maaf ya kalau sayanya juga gak sadar~ XD

Maaf juga kalau chapter ini telat banget...

Makasih udah review!


Akhir kata, maaf jika ada kata yang kurang berkenan, saya mau tahu komentar kalian soal chapter kali ini, apapun itu, karena bentuk apresiasi dari kalian adalah kebahagiaan untuk saya.

Jaa~~ Matta ne~~ ^^

Best Regards,

Aprian