Cast :
Denis / Park Jungsoo (King of Asterium)
Aiden / Lee Donghae (Prince of Asterium)
Victoria (Queen of Asterium)
Airen Delavina (Princess of Asterium)
Marcus / Cho Kyuhyun (Prince of Darkwarium)
Choi Siwon (King of Darkwarium)
Robert (Destiner 1)
Michael (Destiner 2)
Gabriel (Destiner 3)
Xi Luhan (Master Xi)

Cast of Rainbow Knights :
Yumi (Red)
Lee Hyukjae (Orange)
Son Naeun (Yellow)
Lee Taemin (Green)
Kim Seokjin (Blue)
Kim Jongwoon (Indigo)
Kim Myungsoo (Purple)

Cast-nya memang banyak, soalnya genre utama ff ini Kingdom life, fantasy, supernatural, dan mistery.
Mianhae, kalau ada yang protes! Cast kali ini sudah cukup, hanya ada beberapa cameo yang nyempil jadi usahakan fokus.
Saya menetapkan cast di sini berdasarkan lotre, kecuali untuk Pangeran & Raja + Indigo. Mereka terpilih karena hati saya yang ingin. ^_^

Yang berminat bisa mampir ke wp saya di :
krystalaster dot wordpress dot com Kamsahamnida!

Ada yang bosen nggak liat tulisan promo wp ini? Kkkkkk

Happy Reading...!

.

.

.

Pagi yang cerah, kicau burung terdengar riang di atas langit malam yang sebiru samudra. Seorang remaja bersiul-siul melewati koridor Rumah Sakit yang mulai menampakkan aktifitas, perawat dan dokter mulai hilir-mudik sambil merangkul beberapa map. Sibuk sekali...

Cklek

Remaja itu membuka pintu ruang rawat yang sudah tiga hari ini dikunjunginya, obsidiannya menangkap siluet tubuh kedua teman barunya yang dulu merupakan rival.

"Seokjin, panggil dokter!" Jongwoon berteriak pada Seokjin yang baru memunculkan tubuhnya dari balik pintu.

Mengerutkan kening, "Wae?" hal genting apa yang membuat Jongwoon nampak panik? Sehingga berteriak sekeras itu di samping Yumi yang masih terpejam.

"Yumi sadarkan diri." Oh, kabar ini sangat mengejutkan. Seokjin langsung berlari menuju ruang perawat di ujung koridor, berteriak di dalam sana sembari menyebut nomer kamar rawat VVIP yang dihuni oleh Yumi.

Helaan nafas terdengar, Jongwoon menggenggam jemari pucat Yumi yang bergerak-gerak, kelopak mata milik sahabatnya itu juga bergerak, siap untuk terbuka sebentar lagi.

Sreet

Jongwoon mengalihkan pandangannya, sepasang obsidian itu terbelalak saat fokus netranya berhenti di satu titik, jari telunjuk kirinya mengarah ke sebuah benda berbentuk persegi kecil.
"Aigoo... Bukankah disini ada bell? Ah biarlah, Seokjin juga sudah pergi." Mengendikkan bahu acuh dan kembali mengamati setiap gerakan kecil dari Yumi.

Penghargaan setinggi-tingginya diberikan untukmu Jongwoon, kepanikan tak wajar membuat dirimu lupa akan hal kecil semacam 'Bell yang melekat di dinding, tepat di atas dashboar ranjang'. Lebih praktis memanggil dokter dengan bell daripada menyuruh Seokjin berlari menyusuri koridor, anggaplah rivalnya sedang berolah raga pagi.

15 menit kemudian...

Dokter terbaik di Rumah Sakit mengerutkan keningnya saat mengecek keadaan pasien yang nyaris merenggang nyawa beberapa hari lalu. Membisikkan setiap detail perubahan hasil medis pada seorang perawat yang berdiri setia di sampingnya.

Ia menemukan sebuah keanehan atas keadaan pasiennya yang pulih lebih cepat dari umumnya. "Seperti prediksi saya, Yumi tidak bisa berbicara untuk sementara waktu. Kondisinya pulih sangat cepat, jahitan di kepalanya bahkan nyaris kering. Tinggal menunggu pengecekan ulang untuk melihat sejauh mana perkembangannya, saya permisi undur diri."

Lima pasang mata yang sedari tadi mengamati dari pojok ruangan, saling menatap, mengerjapkan mata untuk memproses perkataan dokter yang sekarang sudah meninggalkan tempat.

Satu

Dua

Tiga

Grep

Pelukan erat itu dilakukan oleh Taemin, "Hiks, hiks...Yumi-ya, aku sungguh merindukanmu. Hiks, hiks." otak cerdasnya sedang bergeser entah kemana. Siapapun, bisakah menolong Yumi yang sedang kesakitan dan semakin sakit karena pelukan ala Taemin.

Empat yang tersisa langsung meringsek maju, yang terdekat menarik kerah baju bagian belakang milik Taemin. "Yakk! Taemin-ah, kau membuat Yumi kesakitan! Jangan memeluknya sembarangan!" Hyukjae mendesis melihat Yumi yang mengernyit kesakitan. Matanya melirik ke arah Yumi yang terpejam dengan dahi yang mengernyit.

"Mi-mianhae Yumi-ya." Menunduk takut, Taemin sadar jika ia terlalu heboh.

Cklek

Pintu ruangan itu terbuka menampakkan sesosok remaja yang terengah, bulir-bulir keringat menetes ke lantai.

"Yumi..." Suara itu sangat lirih mengiringi langkah kakinya yang mendekat, menghampiri raga yang telah membuat dirinya merasa gundah.

Grep

Donghae memeluk raga itu sejenak, berusaha selembut mungkin agar tak menyakiti. Perasaannya sedikit lega ketika kilasan penglihatan masa depan yang kemarin terlihat kini menjadi kenyataan, Yumi (Red) telah sadarkan diri.

Ia langsung menuju ke Rumah Sakit saat Jongwoon menelfonnya dan memberitahu jika Yumi sudah sadarkan diri. Padahal ia tadi tengah berada di perusahaan milik orangtuanya, mengurusi beberapa file pengesahan saham atas nama Donghae yang asli.

Tes

Tes

Tes

Aliran sungai kecil membasahi pipi bersemu itu, gadis itu menangis dalam diam membuat Donghae mengusap lelehan air mata itu dengan ibu jarinya. Air mata murni dari sang kesatria cahaya yang seharusnya berpendar dengan kehangatannya, kini berubah bagai air biasa yang terasa dingin saat tersentuh. Aura Red sangat lemah dan ini bukanlah hal baik.

Kenyataan yang didapati Red saat membuka mata membuahkan kepedihan baru yang menyeruak. Ia terbangun dari mimpi indah lalu dihempaskan dengan kuat ketika memijak kesadaran.

'Pa-pangeran A-aiden... A-aku tak bisa bi-bicara.' Kalimat itu bahkan tersendat meskipun disampaikan melalui telepati, menyiratkan kepedihan yang terlalu dalam.

Pangeran Aiden tersenyum tipis, berusaha menguatkan meskipun dirinya sendiri tengah gundah. 'Tenanglah! Ini hanya sementara. Suaramu akan segera kembali seiring kondisimu yang membaik.'

Terkadang sebuah kalimat menenangkan terasa sangat berharga, meskipun yang mengucap juga membutuhkan ketenangan. Menghibur adalah cara terbaik untuk menguatkan hati yang sedih.

Sepasang onix itu bergerak gusar, Red kebingungan saat tak mendapati corak statusnya. 'Pangeran, kenapa simbol naga saya hilang?' Memutuskan untuk bertanya, takut jika simbol statusnya tak bisa kembali lagi.

Di masa lalu, tepatnya saat generasi ke tiga Rainbow Knights ribuan tahun sebelum ini, Blue pernah kehilangan simbol naganya sehingga saat pertempuran yang sebenarnya, kesatria Blue harus meninggal karena tidak mampu menjalankan tugasnya. Kecerobohan menjadikan simbol naga menghilang, Blue melakukan sumpah palsu dan memihak pada musuh.

Tatapan teduh itu beralih fokus menatap punggung tangan, mengikuti arah pandang yang dimaksud oleh sang pemimpin kesatria. Tanda itu memang tak nampak lagi seolah terhapus dengan sempurna. 'Kau nyaris mati kehabisan darah, simbolmu memudar dengan sendirinya. Kau membuatku cemas.' Jemari lembut sang Pangeran mengusap punggung tangan itu perlahan.

Sepasang netra Red mengerjap pelan, ia faham jika waktu makin terbuang karena keteledorannya. 'Maaf...' Menyesal karena tak bisa menjaga keselamatannya sendiri, untuk kedua kalinya ia mengalami kecelakaan di Bumi dalam kurun waktu kurang dari 3 bulan.

Ia memang tak seperti yang lainnya, terlalu berbeda dari segi fisik maupun kekuatan. Seharusnya ia bisa menggunakan sepasang kaki untuk berlari dan membawa Naeun menghindar, tapi yang dilakukannya adalah sebaliknya, ia justru tertabrak hingga nyaris mati.

Usapan lembut itu dirasakannya, jemari hangat sang Pangeran beralih membelai surai kecoklatannya.
'Istirahatlah! Pulihkan dirimu.' Kalimat sesingkat itu berhasil membuat kelopak matanya terasa berat, Red menggeleng kecil berusaha tetap terjaga. Tiga hari tak sadarkan diri bukankah sudah terlalu lama? Ia tak ingin tidur lagi.

'Tapi...' Telepatinya bahkan melirih, Red berfikir apakah usapan ini seperti sentuhan Ratu Victoria yang dikenal bisa menidurkan dalam sekejap. Ratu Asterium pemilik kekuatan pengendali hati, yang bisa mengikis kesedihan dan menebarkan kebahagiaan untuk krystalier lain.

Pangeran muda itu tersenyum tipis, menghantarkan ketenangan pada raga yang masih nampak sedikit pucat. 'Tak ada penolakan Red! Biar aku yang mengurus pengiriman mimpi untuk mereka.' Red hanya mengangguk, titah seorang Pangeran adalah hal yang tak terbantahkan.

'Baiklah...' Terpejam lagi, kali ini menyusuri alam peristirahatan yang lebih nyaman. Alam mimpi dimana Red bisa menenangkan jiwa beserta pikirannya.

.

.

.

Seorang remaja tampak berlari menyusuri selasar Rumah Sakit, obsidiannya bergerak panik seolah sedang mencari sesuatu.

Tuk

Langkahnya terhenti, mengambil handphone di dalam saku celana. Telunjuknya bergerak cepat menggeser layar touchscreen itu, mencari sebuah list phone number seseorang yang ingin di hubunginya.

Tut

Tut

Tut

Kakinya bergerak-gerak kecil, andai yang dihubunginya bukan manusia, ia lebih memilih melakukan telepati. Menunggu adalah hal yang paling dibencinya jika keadaan sedang mendesak seperti ini.

Telepati lebih praktis, hemat biaya karena menggunakan tenaga pikiran, tak perlu khawatir terputus sebab tanpa menggunakan sinyal, dan bisa paralel ke lebih dari seribu tujuan. Hebat kan!

"Kyuhyun..." Langsung memanggil nama tanpa salam khas terlebih dulu, to the point terasa lebih rasional saat ini.

"Wae?" Disebrang sana si lawan bicara membalas dengan suara sedikit serak. Oh, pasti siswa populer itu baru saja bangun tidur.

Kakinya berjalan cepat, melewati gerombolan perawat yang baru saja datang untuk berganti shift. "Besok saja kau gantikan aku menjaga Yumi. Kau temani Xi Yue saja di rumah, Myungsoo akan menginap." Tak ada cara selain mencegah Kyuhyun keluar rumah, hanya alasan itu yang paling tepat.

"Tapi-" Kyuhyun ingin menolak, namun perkataannya langsung di putus oleh Donghae.

Mengedarkan pandangannya sekali lagi, bibirnya masih serius untuk berbalas kata. "Ayolah Kyu! Di sini sudah ada Jongwoon dan Taemin yang menemaniku. Hyukjae sedang berada di rumah Naeun untuk menjemput gadis itu."

Terdengar helaan nafas, mungkin Kyuhyun tidak rela karena dipaksa tetap di rumah dan menjaga Xi Yue. "Baiklah..."

Senyum simpul itu terukir, akhirnya Kyuhyun menyetujui perintahnya. "Oke, aku titip Xi Yue. Awasi dia agar tidak kabur!"

"Ne..." Tak ada pilihan selain mengiyakan.

Flip

Telfon terputus. Donghae memasukkan handphonenya dengan cepat ke dalam saku celana, mempercepat langkah kakinya kembali berlari lalu melakukan teleportasi saat melewati tikungan koridor yang sepi. Ia harus memastikan sesuatu yang sudah mengganggu ketenangannya.

.

.

.

Kediaman Xi

Kyuhyun melempar ponselnya ke atas sofa, rahangnya mengeras dengan tatapan nyalang yang menusuk. Tangan kirinya mengepal erat di sisi tubuh, seolah bersiap meninju apapun untuk menyalurkan emosinya.
'Pangeran Aiden... Aku paling muak dengan perintah yang meluncur bebas darimu. Titah tak langsungmu membuatku tak bisa menyapa Red hari ini.'
Ya, dia bukan Kyuhyun yang asli melainkan sosok Raja Marcus yang sedang menyamar.

Semua keluarga kerajaan Asterium memiliki aura yang kuat untuk mempengaruhi makhluk lain, ketika mereka mengucapkan sebuah titah, maka tak ada yang bisa menyangkalnya. Hanya satu hal yang tak bisa mereka titahkan yakni memerintahkan kejahatan, kekuatan Golden Clan akan melemah jika mereka berpikiran jahat. Itu sebuah ketetapan dari Tuhan, karena itulah Destiny book di letakkan di Asterium.

Baru dini hari tadi ia kembali dalam keadaan letih setelah mengurusi segala kebutuhan Kyuhyun yang asli, memastikan seluruh ruangan apartment sudah diselubungi dengan mantra yang kuat. Tertidur di sofa ruang tamu hanya dua jam lalu terbangun dengan paksa oleh dering ponsel. Sungguh pagi yang sial untuk mengawali hari.

Tuk

Tuk

Tuk

Raja Marcus mendesis, suara ketukan high heels yang beradu dengan lantai marmer mulai mendekat. Tak perlu menengok untuk melihat siapa yang sedang berjalan ke arahnya, sudah bisa dipastikan jika itu adalah gadis manja paling berisik di kediaman Xi.

"Kyukyu, apa kau tau dimana sweety?" Suara manja itu mengalun dengar sedikit bergetar. Sepertinya gadis itu sebentar lagi akan menangis terisak-isak seperti anak kecil.

Ia berbalik dan mulai memerankan sosok Kyuhyun sebaik mungkin. "Aniya." Tak ingin berbasa-basi, lagipula yang harus diwaspadai adalah Pangeran Aiden dan Red.

Tatapan itu terlihat bingung juga sedikit berkaca-kaca, Xi Yue sesekali meremas tangannya. "Sweety hilang."

Mengendikkan bahu, berusaha untuk tidak menyemprot gadis manja di hadapannya dengan omelan pedas. "Cari saja dulu, siapa tau sweety sedang bersembunyi-" Tatapannya menajam, 'di surga' lanjutnya di dalam hati.

Gelengan kecil itu merespon, Xi Yue mengguncang lengan kanan Kyuhyun dengan panik. "Kyukyu, sweety sangat lengket dengamu. Aku sudah mencarinya di kamarmu, tapi tetap tidak ketemu." Sebulir air mata meluncur, mendarat di atas lantai marmer yang putih. Xi Yue membutuhkan Yumi, tetapi eonninya itu masih terbaring lemah di atas ranjang pesakitan.

'Dasar gadis cengeng! Kerjaannya hanya merengek dan menangis.' Oh, sekarang pundaknya bahkan terasa basah karena air mata Xi Yue, gadis itu memeluknya dengan erat. Ia tak mungkin mendorong gadis itu, bisa-bisa gadis cengeng ini mengadu pada si-Pangeran Asterium, yang paling berbahaya adalah misinya bisa gagal sebelum beraksi. Di depak dari galaxy Bima Sakti menuju galaxy entah berantah.

"Aaaaaa!" Teriakan keras dari arah halaman belakang menyedot perhatian Xi Yue. Secepatnya gadis itu mengusap air mata lalu berlari menuju sumber suara, itu adalah suara Kim ahjumah.

Seringai itu muncul, Marcus (Kyuhyun) berjalan santai mengikuti langkah Xi Yue. 'Waktunya pertunjukan.'

Tuk

Tuk

Tuk

Ketukan heels itu membuat satpam keluarga Xi berdiri mematung di ambang pintu penghubung dapur dengan halaman belakang. Netranya bergerak gelisah saat mendapati nona mudanya berlari kecil menghampiri.

"Ada apa ahjussi?" Xi Yue bertanya, keningnya sedikit berkerut melihat ekspresi kaku dari satpamnya.

Lee ahjussi (satpam keluarga Xi) mulai gugup, menelan ludah dengan susah payah ketika ia hendak memberitahukan perihal sesuatu yang sedang terjadi. "Ki-kim ahjumah menemukan sweety di taman belakang."

Senyuman manis terbit, Xi Yue menggeser tubuh satpamnya lalu bergegas menghampiri sosok Kim ahjumah yang terlihat berjongkok di bawah pohon. Akhirnya kucing persia kesayangannya ditemukan.

"Nona Xi..." Panggilan lirih dari Lee ahjussi tak dipedulikan oleh Xi Yue, ia tetap melangkah dengan ringan untuk melihat binatang kesayangannya.

'Sweety pasti tidak mau masuk.' Xi Yue tersenyum geli, terkadang kucing kesayangannya itu sering ngambek karena terabaikan olehnya.

Tunggu, sepertinya ada yang aneh, kenapa bahu Kim ahjumah yang tengah memunggunginya terlihat bergetar?

"Hiks, hiks..." Suara isakan terdengar membuat Xi Yue memelankan langkahnya. 'Apa sweety terluka hingga Kim ahjumah menangis?'

Langkahnya terasa berat hingga Xi Yue merasa takut untuk melihat lebih jelas apa yang terjadi pada kucingnya. Perasaannya tidak nyaman, ia paling percaya dengan firasat tapi mendapati firasat yang buruk bukanlah hal yang patut diyakini.

Deg

Sepasang mata itu terbelalak saat melihat jasad hewan berbulu putih yang tergeletak penuh luka, mata yang terpejam, dan ekor yang kaku. Itu peliharaannya...

Brug

Sepasang kaki mungil yang jenjang itu tetasa lemas hingga tak kuat lagi menopang tubuh, Xi Yue berlutut di atas rumput hijau itu."Swee-sweety, ba-bagaimana bisa?" Lidahnya terasa kelu, bagaimana mungkin kucing persia peliharaannya bisa mati? Dengan kondisi mengenaskan yang kaku penuh luka.

Liquid bening yang tadi sudah diusapnya mulai kembali dan memenuhi kelopak matanya. "Hiks, sweety mati. Hiks, siapa yang melukaimu sweety? Hiks. Kenapa tubuhmu penuh luka?" Xi Yue terisak, ia tak menyangka menemukan kejutan mengerikan di harinya yang sepi. Kedua kakaknya tidak ada, hanya Kyuhyun -anak dari sahabat karib ayahnya- yang ada di sini.

Marcus (Kyuhyun) hanya diam memperhatikan adegan itu, tak berniat mendekat untuk bergabung menangisi hewan berbulu yang sebentar lagi nyaris membusuk. Menurutnya hewan itu adalah lalat yang mengganggu pengintaiannya kemarin, terpaksa ia menukar posisinya dengan Kyuhyun yang asli.

Meskipun hanya seekor kucing, tapi Red bisa mengetahui kedatangannya jika kucing itu mengadu. Lalu ia takkan bisa bertukar posisi dengan Kyuhyun karena kucing itu sudah mengetahui wajahnya.

"Nona Xi, jangan disentuh!" Kim ahjumah menarik tangan nona mudanya yang hendak menyentuh jasad kucing itu.

Terkejut, "Wae?" Kenapa ia tak boleh menyentuh sweety? Ia ingin membelai bulu putih yang selembut kapas itu sebagai belaian terakhirnya. Sebelum kucing kesayangannya dikebumikan.

Kim ahjumah menggeleng, telunjuknya mengarah ke wajah kucing persia itu dengan ragu. "Mulut sweety berbusa, ia seperti keracunan."

Bahu itu semakin bergetar... Siapa yang gila di sini? Sweety adalah kucing yang terdidik, ia tak pernah menyerang siapapun terkecuali jika orang itu jahat padanya. "Sweety... Andwae, kau tidak boleh mati. Hiks, sweety... Hiks."

Lee ahjussi memandang nanar nona mudanya yang menangis tersedu, ia juga menyayangi kucing manis itu. Sayang sekali sekarang kucing itu mati tanpa kejelasan siapa dan apa penyebab kematiannya. "Tuan muda, bisakah anda membawa nona Xi ke dalam? Biar saya yang menguburkan kucing nona Xi." Menatap Kyuhyun yang berdiri di sebelahnya.

Mengangguk, "Ne, ahjussi." Kyuhyun mulai berjalan mendekati Xi Yue, menarik paksa tubuh gadis itu agar masuk ke dalam rumah.

"Andwae! Kyukyu, aku tidak ingin pergi!" Xi Yue memberontak, mencoba melepaskan kedua tangannya dari cengkraman kuat Kyuhyun. Kaki kecinya tertatih, sedikit terseret mengimbangi langkah besar yang membawanya masuk ke dalam mansion.

Kyuhyun menghempaskan tangan itu dengan kasar hingga Xi Yue terduduk di atas sofa, gadis itu masih menangis tersedu-sedu. "Xi Yue, hentikan! Jangan merengek seperti ini! Kucing itu sudah mati, jangan buang-buang air mata hanya untuk menangisinya!" Pandangan tajam itu begitu menusuk, Kyuhyun berucap seolah Sweety tak berarti baginya.

Terbelalak, Xi Yue berdiri dengan cepat, "Mwo? A-apa kau bilang?" ia sakit hati. Bukankah kemarin Kyuhyun sangat dekat dengan Sweety? Lalu kenapa sekarang namja itu berkata demikian?.

Brukk

Kyuhyun terjatuh, Xi Yue mendorongnya dengan kuat, menyalurkan rasa sakit hatinya. "Brengsek kau Kyu! Bukankah sweety juga menyayangimu, tapi kau malah tak bersedih melihat kematiannya. Aku benci padamu!"

Tuk

Tuk

Tuk

Berlari kencang, Xi Yue memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya, meratapi kesedihan atas kematian Sweety seorang diri. Tak berniat sedikitpun mengabari, biarlah oppa dan eonninya tidak tau atas kejadian ini. Eonninya baru sadarkan diri, ia cukup waras untuk tidak menambah beban pikiran kedua kakaknya.

Orangtuanya? Well... itu tidak mungkin! Eommanya bisa melakukan hal gila dengan pulang secepatnya, menangis tersedu-sedu selama seharian penuh karena dirinyalah yang membeli kucing persia itu dari petshoop, membayar pelatih khusus, dan membelikan berbagai pernak-pernik lucu (baju, kalung, pita, dll).

Sementara itu Marcus (Kyuhyun) bangkit dari posisinya, "Cihh... Sweety? Nama yang buruk untuk binatang berbulu, dasar gadis manja. Menangis hanya karena kucing bodoh yang mencakar tanganku. Kucing itu pantas mati... ah, andai saja Kyuhyun tidak muncul kemarin. Aku pasti sudah mencincang tubuh kucing bodoh itu." pergi meninggalkan ruang tengah menuju kamar yang ditempati Kyuhyun.

Ia butuh menyegarkan diri, mengatur strategi baru untuk mengetahui letak krystal bintang itu serta memaksa Red memberikan kuncinya.

.

.

.

Di Asterium...

Robert memandang lurus ke atas langit malam yang tetap terlihat suram, pavilliun Destiner terasa sepi karena Gabriel di utus untuk merawat bayi burung Carnation yang kemarin terluka saat berlatih terbang, sedangkan Michael tengah mengobati Master Xi dan Master Im di Life House.

Obsidiannya terpejam ketika semilir angin menyapa kulitnya, menggerakkan jubahnya pelan. Dingin, udara malam ini lebih dingin dari kemarin seolah memahami kegundahan hati dari Raja Denis dan Ratu Victoria.

Hingga saat ini Destiny book tetap kosong, tak ada kepastian tentang kondisi Rainbow Knights maupun Pangeran.

Bibirnya bergerak ketika netranya melihat sebuah komet meluncur dengan cepat, itu adalah sebuah pertanda jika penggalan kalimat Destiny book sudah terjadi. "Sebelum itu, pengasingan (pengasingan ke Bumi), disertai perjuangan harus dilakukan setelah penghapusan masa lalu (latihan serta perang setelah penyegelan ingatan), untuk enam yang terbawah (keenam Raibow Knight), persaingan dalam satu keturunan sementara (keberadaan Raja Marcus dan Pangeran Aiden di dalam keluarga Xi), yang akan menentukan kepekaan kegelapan (menentukan seberapa peka Rainbow Knights merasakan keberadaan Raja Marcus)."

Menghela nafas, ia tau jika sang Pangeran sudah menerjemahkan sebagian kalimat itu dengan versi yang tak jauh berbeda.

"Robert..." suara panggilan pelan itu membuatnya menoleh, Michael sudah berdiri di belakangnya.

Robert menoleh, tersenyum tipis pada Destiner tingkat dua itu. "Bagaimana keadaan Master Xi dan Master Im?"

Membalas senyuman itu, Michael menghela nafas pelan lalu menceritakan kondisi kedua Master yang dimaksud Robert.

"Luka dalam yang diderita Master Xi cukup parah, kesembuhannya hanya mencapai 30% dari kondisi awal. Master Liu masih tetap menyalurkan auranya setiap minggu, obat-obatan dari tanaman penyembuh sangat lambat bereaksi tanpa seorang healer. Ia mengigaukan Red, sepertinya terjadi sesuatu pada Cahaya utama."

Berhenti sejenak, membiarkan keheningan menyalur untuk menetralkan suasana kalut yang ada.

"Master Im sudah membaik, prediksiku minggu depan ia sudah sadarkan diri." Kabar terakhir yang diberitahukan oleh Michael sudah cukup baik.

Robert mengangguk, "Baguslah... Sebentar lagi mereka akan kembali, hanya Red yang bisa menyadarkan Master Xi. Kita hanya perlu menjaga kestabilan kondisinya hingga hari itu tiba." Ya, hanya sang cahaya utama yang bisa membangunkan Master Xi dari ketidak sadarannya.

Michael mendekat, menepuk bahu temannya dengan pelan. "Tidurlah Robert! Biar aku yang menjaga ruang penyimpanan untuk malam ini. Kau butuh istirahat, besok kita ada jadwal melatih pasukan."

Meskipun sedikit enggan, Robert akhirnya mengangguk. "Baiklah." Ia memang merasa sangat lelah hingga nyaris tak sanggup lagi berkonsentrasi.

Wussh

Memandang kosong ke depan, Michael bersedekap sambil menggosok telapak tangannya yang dingin. Robert sudah masuk ke dalam kamarnya dan sebentar lagi Destiner tingkat satu itu pasti terlelap di atas pembaringan nyaman miliknya.

'Gabriel, pulanglah!' Mengirim sebuah telepati, ia memang harus mengabari Destiner termuda yang sekarang pasti masih ada di hutan Selatan.

'Ada apa?' Balasan telepati itu terdengar kaget.

'Robert membututuhkanmu ia baru saja melihat pertanda dari komet tentang kondisi para kesatria dan Pangeran Aiden.' Sebenarnya Michael juga sedikit kesal, Robert selalu merahasiakan sesuatu yang menurutnya tak perlu disebarkan.

'Oke, aku pulang. Sepuluh menit lagi karena aku harus memperbaiki sarang burung Carnation.' Mendengar respon itu, Michael mulai berjalan memasuki pavilliun untuk mengganti jubahnya. Malam ini ia harus berjaga di ruang penyimpanan hingga Meylen terbit esok hari.

.

.

Tap

Tap

Tap

Tap

Tap

BRAKK

'Kalian datang...' Wajah gadis cantik yang sudah bersandar di dashboar itu menatap malas pada 6 sosok yang barusan masuki ruang rawatnya.

Sosok dengan mata sipit mendekat, memeluk raga yang bersandar itu dengan pelan. "Red, astaga! Aku menyesal! Maaf karena terlalu lama melupakanmu." Ia adalah Indigo, sang kesatria yang memiliki kemampuan membaca pikiran.

Pletak

Jitakan keras itu berhasil membuat Indigo mengaduh, Red sedang kesal. 'Dasar lamban! Haruskah aku nyaris mati karena kecelakaan baru kalian bisa mengingatku.'

Lihat apa yang terjadi, jika Pangeran Aiden bisa menyadarkan mereka dalam empat kali pengiriman mimpi, lalu bagaimana dengannya? Ia sudah mengirimkan mimpi itu sebanyak puluhan kali, belum lagi pembubuhan mantra di buku Asterium yang nyaris lapuk.

Purple memandang sendu, ia merasa bersalah membiarkan pemimpin Rainbow Knight berjuang seorang diri, bodohnya ia pernah menertawai perkataan Red waktu itu."Red..."

Oh, ia pantas dihukum setelah ini. Mengingkari keberadaan Asterium sama saja dengan menyangkal berita dari sang Pencipta, ia pantas di asingkan ke planet yang mungkin tak berpenghuni.

Tatapan malas gadis itu berubah nyalang, ini waktunya menyampaikan protes kilat. 'Blue, Yellow, dan Purple, kalian bertiga yang paling menolak mimpi kiriman dariku. Ckck, kekuatanku selalu terkuras banyak hanya untuk menerobos alam bawah sadar kalian.'

Memutar bola mata, mengomel dengan telepati ternyata sangat tidak seru. Padahal ia berniat membuat telinga keenam Rainbow Knights berdengung karena suaranya.

"Red." Yellow menundukkan kepala, ia memang sering mendapati mimpi aneh saat ingatannya masih tersegel. Kadar benciannya pada Yumi membuatnya menolak mimpi itu.

Beralih menatap sosok yang tadik memeluknya. 'Indigo, kau yang paling peka tapi kau selalu menepis pikiran tentang Asterium.'

Bergerak panik, sungguh saat itu ia sedang bingung antara mempercayai atau mengabaikan. Bukankah Purple mengatakan jika Asterium itu tidak nyata, Indigo takut dikatai gila jika mempercayai itu. "Red. Aku-"

Red beralih lagi menatap sosok yang tengah menundukkan kepala, bersembunyi di balik tubuh Orange sambil meremas kedua tangannya. 'Green, haruskah aku membentakmu? Kau bahkan pernah meyakini jika Asterium itu nyata.'

"Red... Ma-maaf." Ia takut, dari dulu Green selalu merasa takut jika sedang disalahkan, bisa dipastikan kalau malam ini ia takkan bisa tidur pulas.

Menghela nafas panjang, ia menangkap pikiran Green yang ketakutan. Sungguh, Red hanya ingin mengomeli saja karena pada kenyataannya ia takkan sanggup melukai hati keenam temannya. 'Aku ingin tidur, jangan ada satupun yang pergi hingga aku bangun. Blue, kau awasi mereka!'

"Ne..." Anggukan kecil di berikan oleh Blue, ia mendekat untuk membantu Red membenahi posisi tubuhnya agar nyaman.

Detik waktu terasa sangat lama, Indigo terus mengetukkan jarinya untuk menepis rasa bosan. Menunggu Red benar-benar terlelap karena ada yang ingin di bahasnya.

"Kenapa Red tidak memarahimu?" Indigo mulai membuka percakapan, netranya memandang Blue dengan penuh selidik. Anehkan jika hanya mereka berlima yang dimarahi, sedangkan si Ksatria pengendali air yang katanya akan menjadi penakhluk Draice sama sekali tidak disalahkan.

Dari dulu ia memang selalu seperti ini, menjunjung tinggi keadilan saat ada yang mendiskriminasi. Oh, haruskah ia membeberkan kalau kejadian teror yang sempat menimpa para Master adalah ulahnya, mereka membuat kesalahan dengan menyebut Red 'Asternist bodoh dan Aneh'.

Sisi keadilannya tak terima, lalu ia menguntit beberapa master yang mengejek Red, mengfokuskan pikiran untuk membongkar masa lampau mereka dan menuliskannya pada selembar kertas. Kertas itu ia tempel di balik pintu kamar para Master dengan mendramatisir keadaan. Itu hanya sebagian kecil dari aksi menjunjung tinggi keadilan yang pernah dilakukannya, masih banyak fakta lain yang lebih gila dari itu.

Blue menyandarkan punggungnya, bersedekap sambil menguap kecil disebabkan rasa kantuk yang mulai menyergapnya. "Karena aku sudah tersadar lebih dulu."

Terbelalak, "Mwo? Tapi kenapa kau baru-" Indigo merasa kaget, bukankah tadi ia melihat Blue berlari tunggang langgang bersama-sama.

Dengan santainya Blue menselonjorkan kaki, merebahkan tubuhnya sepanjang sofa bersiap untuk terlelap. "Aku mendapatkan ingatanku kemarin malam, aku memutuskan untuk mengirim telepati langsung pada Red. Dia menyuruhku tetap di rumah menunggu kalian menghubungi lebih dulu." Kelopak mata itu sukses terpejam, menyisakan rasa syok pada empat Rainbow Knight yang masih berdiri mematung.

Sedangkan Indigo mencibir sikap Blue yang dari dulu memang paling mudah fokus, pasti kesatria itu menganggap serius mimpi fantasy kiriman yang didapatinya, lalu dengan otomatis mimpi itu menarik ingatannya.

Terlalu serius mengadili Blue, ia bahkan melupakan fakta jika Pangeran Aiden tadi malam mengirimkan mimpi yang paling mengerikan. Mimpi itu berisi kilasan masa lalu saat Raja Marcus mendatangi Asterium dan menjadikan Red sebagai sandra, memang mereka berenam tak ada yang mengetahui kejadiannya karena Master Hwang menyuruh mereka langsung mendatangi Destiner Michael.

Yellow berjalan ke sisi ruangan di dekat sofa, merebahkan dirinya di atas karpet yang memang sudah digelar. Ia mengantuk dan ingin melanjutkan tidurnya mengabaikan empat pasang mata yang memperhatikan dirinya.

"Aku juga ingin tidur." Green melangkah menuju tempat yang sama, merebahkan dirinya di samping Yellow.

Orange, Indigo, dan Purple juga menyusul kemudian. Tak ada salahnya tidur sekarang, toh Red sangat lelap dan mungkin baru akan bangun 2 atau 3 jam lagi. Waktu yang sangat cukup untuk melepas penat, mengungsikan diri dalam alam mimpi yang belakangan ini selalu disabotase.

.

.

.

PYARRR

"Huahh!" Orange terlonjak dari tidur cantiknya, menatap horor pada pecahan gelas yang sedikit lagi menghantam kakinya.

'Cepat bangun!' Lima Rainbow Knight lain langsung gelagapan saat mendapati telepati dari Red yang menyusup di otak mereka.

"Red, kau sudah bangun." Pertanyaan bodoh itu meluncur dari Green yang masih mengucek matanya. Rupanya kesatria terimut itu belum tersadar sepenuhnya meski teriakan Red lewat telepati berhasil membangunkannya.

'Aku sudah terjaga sejak lima menit lalu, tapi kalian malah tidur lebih pulas.' Red mencibir, ia tadi cukup bingung saat mendapati Blue berbaring di atas sofa sendirian.
Ia berusaha melongokkan kepalanya, kemudian terkejut saat melihat lima temannya yang lain tidur temiring berdesakan di atas karpet, melihatnya membuat Red teringat dengan ikan sarden kalengan yang saling berhimpit di dalam kaleng persegi.

"Hehehe... maaf!" Cengiran polos diberikan oleh Yellow, ia membenahi rambutnya yang tergerai lalu menyanggulnya asal dengan bulpoin.

Wusshh

Red terbelalak, rahangnya mengeras saat merasakan aura gelap yang membuat tubuhnya gemetar. Aura dari sosok yang paling dihindarinya saat dalam keadaan lemah, ia bisa kalah jika tertangkap sekarang.

'Dia datang!' Tangan kanannya bergerak gelisah meraih botol infus, mematikan saluran dan menggenggam botol itu. Red sadar ia masih membutuhkan cairan aneh itu hingga kondisinya stabil.

"Siapa yang datang?" Purple mendekat pertama kali, sedikit susah untuk melangkahi pecahan gelas yang terserak.

Grep

Cengkraman kuat itu membuat Purple bingung, walaupun Red sedang sakit tapi kekuatan tangannya bisa mencekik domba hingga mati. 'Bodoh, cepat bawa aku pergi!'

"Mwo?" Blue bingung, apa Red gila? Kondisinya belum pulih tapi ia meminta di bawa pergi.

Red semakin menguatkan cengkramannya hingga Purple meringis kecil. 'Bawa aku pergi!'

"Red, kondisimu masih lemah." Yellow menggeleng, ia tak mungkin tega membiarkan Red yang sudah menyelamatkannya harus kabur dari Rumah Sakit.

Jangan sebut dia Red jika tak bisa berkilah, 'Green bisa menyembuhkanku, sekarang bawa aku pergi.' Nafasnya terasa sesak saat menyadari aura itu menguat tanda jika sosok yang dihindari semakin mendekat.

Orange menggusap kepala sang cahaya utama itu dengan lembut, ia harus mengetahui penyebab Red sepanik ini hingga minta dibawa pergi. "Jelaskan dulu Red! Kenapa kau sepanik ini?"

Tak mengindahkan ucapan Orange, ia beralih menatap Indigo dengan sorot sendu serta raut memohon. 'Indigo, bawa aku pergi dengan teleportasimu!'

Bingung, haruskah ia menuruti ide tak logis dari Red? Lima lawan dua, ia bisa di serbu oleh yang lain jika menyetujui permintaan Red.
"Tapi-"

Gelengan keras itu membuat Indigo urung melanjutkan ucapannya, ia terkesiap saat mendengar teriakan Red di dalam pikirannya. 'Cepat!'

Tak ada pilihan, Indigo melepaskan cengkraman pada lengan Purple lalu menggendong tubuh Red. "Ayo kita berteleportasi ke rumah Yumi." Mereka mengangguk, mengambil beberapa barang dengan cepat memastikan tak ada yang tertinggal, Yellow menyingkirkan pecahan gelas dengan kekuatannya ke dalam tong sampah.

Beres, mereka saling menatap lalu berteleportasi bersamaan.

Wussh

Brug

Suara gedebum itu terdengar keras, rupanya keenam kesatria mengalami *PENDARATAN GAGAL* yang membuat mereka terjerembab tidak elit. Ini memalukan, hal ini lebih buruk daripada percobaan pertama mereka saat belajar berteleportasi di usia tiga tahun.

"Yakk, Green kau menindihku!" Pekikan protes itu berasal dari Blue, dengan seenaknya Green menduduki perutnya.

"Yellow, menyingkirlah! Tubuhmu berat." Kali ini Orange yang melayangkan protes, Yellow lebih parah karena gadis itu menduduki punggungnya, ia jatuh tengkurap dan sialnya Yellow malah mendudukinya seperti anak kecil yang menunggang kuda-kudaan.

"Ups, maaf..." Yellow beringsut bangkit, berdiri pertama sambil mengibaskan rambutnya yang menjadi berantakan.

Purple memegangi kepalanya yang terasa berputar. "Hah... Aku merasa sedikit pusing, sudah lama tidak berteleportasi."

Green mengangguk, ia juga merasakan hal yang serupa. "Rasanya seperti sedang menaiki roler coaster."

"Perutku mual." Ekspresi ingin muntah ditunjukkan oleh Indigo.

'Sudah bicaranya? Kalian lupa jika aku masih terduduk di sini.' Red memandang malas terhadap reaksi keenam temannya. Ia masih terduduk di atas pangkuan Indigo, meratapi nasibnya yang sebenarnya masih lemas.

"Aigooo... Maaf Red!" Purple berdiri, mengambil alih tubuh Red dari Indigo.

'Aku ingin berbaring.' Suara itu melirih, sepertinya Red juga mengalami pusing karena dibawa berteleportasi dengan keadaan lemah.

Purple membaringkan tubuh Red ke atas ranjang, menyelimuti tubuh itu lalu menggantung botol infus di sebuah paku, melepas figura yang tadi menempel disana.

Meskipun Green menguasai healing, tapi ia masih butuh melatih kekuatannya setelah peristiwa penyegelan ingatan. Healing memang menyembuhkan lebih cepat daripada mantra, tapi jika penguasaan terhadap healing kurang, kekuatan itu akan membunuh pasien yang diobati.

Kondisi Red sangat lemah, ia bisa koma jika Green melakukan kesalahan. Mungkin 2 hingga 4 hari lagi Green bisa mengendalikan healingnya dengan sempurna.

.

.

.

At Hospital

Cklek

Pintu kamar rawat itu terbuka, menampakkan sosok tegap yang nampak segar dengan setelan kasualnya. Sosok itu masuk lebih dalam, mengedarkan pandangan dengan cepat menyapu setiap lekuk ruangan.

"Kalian sudah pergi eo..." seringai itu terukir saat sepasang obsidiannya tak melihat satupun makhluk hidup di sana, ruang rawat yang didominasi warna putih itu sudah bersih seperti tak pernah ditinggali.

"Red, kau pulih lebih cepat dari prediksiku. Sampai jumpa di rumah." Senyuman tipis menggantikan seringai tadi, ia mengusap seprai putih yang masih hangat. Tanda jika sosok yang tadinya berbaring di sana baru saja pergi, mungkin beberapa detik sebelum kedatangannya.

"Kyu, apa yang kau lakukan?" Sebuah suara terdengar dari balik tubuh, membuat sosok itu berbalik setelah melepaskan sentuhannya pada seprai putih ranjang.

Kyuhyun (Marcus) mengubah raut wajahnya sesantai mungkin. "Oh, Donghae hyung. Aku mencari Yumi, dia ada di mana? Kamar ini kosong sejak tadi."

Donghae mengerutkan kening, ia juga tidak tau keberadaan Yumi. Tapi ruangan ini memang terlihat sangat rapi, juga kosong. "Tunggu, aku akan menelfon Seokjin, tadi dia yang menjaga Yumi."

Tangan kanannya meraih handphone di dalam saku kemeja, walaupun Seokjin adalah Blue yang notabenenya bisa dihubungi dengan telepati. Tapi berhubung ada Kyuhyun, bukankah ia harus tetap menggunakan alat modern tanpa kabel yang menguras tabungannya itu.

"Seojin-ah, kau ada di mana?"

"..."

"Kenapa dia nekat kabur?"

"..."

"Aku juga sempat merasakannya, tapi jejaknya menghilang mendadak."

"..."

"Aku akan mengurus administrasi dulu. Tetaplah menjaganya di kamar hingga aku datang."

"..."

Flip

Rasanya Donghae ingin sekali melempar ponsel di tangannya, Red sangat ceroboh dengan membahayakan kesehatannya. Harusnya gadis itu mengirim telepati padanya dan memberitahukan perihal aura Raja Marcus yang muncul di Rumah Sakit, tapi Red memilih melakukan kebodohan dengan memaksa keenam Rainbow Knights membawanya pulang. Terlalu panik mengamankan posisinya hingga lupa mengabari.

"Yumi ada di rumah. Ia kabur karena tidak tahan dengan aroma obat." Terpaksa membual, Donghae sudah cukup pusing untuk sekedar mencari alasan lain yang lebih masuk akal.

"Dasar..." Kyuhyun mencibir, ia merasa sia-sia berteleportasi jika akhirnya ditinggalkan. Rupanya kepekaan Red sangat baik hingga bisa mendeteksi keberadaannya, padahal kondisinya seperti bayi yang tak bisa melakukan apapun.

"Kyu, bisakah kau pulang lebih dulu? Aku ingin mengurusi administrasi dan meminta maaf pada dokter." Ia harus membereskan kekacauan yang ditimbulkan Red, menggunakan nama XY corp untuk menghindari amukan dokter.

Well, siapapun tau jika -seorang pasien melakukan pulang paksa, maka saat cek up, dokter akan memberikan ceramah panjangnya-. Donghae sudah cukup bosan mendengarkan ocehan manusia yang tanpa titik koma, dulu ia memberikan gelar cerewet pada Destiner Gabriel. Ternyata manusia bumi jauh lebih buruk dari Destiner termuda itu.

"Ne..." Anggukan setuju itu membuat Donghae tersenyum, ia melangkah lebih dulu meninggalkan Kyuhyun.

.

.

.

Red masih merasa lemas, barusan Indigo menelfon dokter pribadi keluarga Kim untuk memeriksa kondisinya. Dokter itu cukup baik dengan tidak mempertanyakan perihal keanehan yang dilihatnya. Red masih mengenakan pakaian pasien Rumah Sakit, tangan kirinya masih tertancap infus, dan tidak adanya tiang penyangga infus yang semestinya.

Green yang merupakan healer, menyuruh dokter untuk mengajarkan cara injeksi juga mengganti botol infus. Beruntungnya karena kedua orangtua Taemin (posisi manusia yang digantikan) adalah seorang profesor dokter yang tersohor. Jadi dengan sabar dokter itu mengajari Green, menuliskan beberapa jenis obat agar ditebus di apotik farmasi terdekat. Mana berani dokter itu tidak mengajari anak dari dosennya sendiri.

Yang sakit terkikik geli dalam hati saat dokter itu sudah pergi, rupanya dokter berpikir jika Red adalah pasien VVIP yang memutuskan untuk rawat inap dirumah. Padahal kenyataannya ia adalah pasien yang kabur dari Rumah Sakit. Oh, kepolosan dokter itu berhasil membuat ia terhibur.

'Malam ini kalian harus berlatih.' Sepasang onix gelap itu mengerjap saat kefokusannya berkurang. Rasa kantuk mulai menyergap, mungkin obat yang tadi diinjeksi mulai bereaksi.

"Haruskah kita berlatih hari ini juga?" Green merasa ia butuh penyesuaian setelah mengetahui jati diri.

"Green jangan berulah!" Teguran setengah jengkel itu diucapkan oleh Purple.

"Aniya, aku hanya merasa lelah."
Baiklah ia memang terlalu banyak mengeluh selama ini.

Berdecak, Indigo merebahkan dirinya disamping Red. "Ckck, jangan perdulikan dia." Punggungnya juga terasa kaku, tapi ia cukup sadar untuk tidak menawar latihan. Ini hampir bulan ketiga mereka berada di Bumi tapi belum melakukan aksi yang berarti.

Menggelengkan kepala, Blue menyandarkan punggungnya pada dinding. "Ngomong-ngomong soal berlatih, aku tidak tau nasib baju zirah milikku."

Wussh

"Baju zirah kalian ada di bawah tumpukan baju Yumi." Suara itu mengejutkan semuanya.

Brakk

"Siapa sebenarnya dirimu?" Orange dengan cepat mengunci pergerakan sosok itu di dinding.

Mendengus, ini sungguh keterlaluan. "Sudah kuduga kalian takkan mengenaliku."

Sepasang mata berwarna hitam itu berkilat, perlahan berubah menjadi jingga. "Jawab aku! Siapa kau?"

"Pa-pangeran?" Tubuhnya Orange menegang, terlalu syok melihat keberadaan pewaris tahta Planet Asterium.

Pangeran Aiden hanya menatap datar keenam Rainbow Knights yang terkejut. "Haruskah aku mengubah warna mata lebih dulu agar kalian mengenaliku. Lepaskan cengkramanmu Orange!"

Secepatnya Orange melepaskan cengkramannya, melangkah mundur lalu berlutut. "Oh, Ma-maafkan saya." Ia sudah berlaku tidak sopan, sudah selayaknya jika ia mendapatkan sanksi.

Pangeran Aiden menepuk pelan bahu Orange, berjalan mendekati Red yang berbaring dengan tubuh lemasnya. "Tak masalah, ini bukan di Asterium. Jadi tak ada hukum apapun yang membatasi interaksi kita."

Indigo beringsut turun, ia mempersilakan Pangeran Aiden menempati sisi ranjang yang tadi ditempatinya.

"Bagaimana Pangeran Aiden bisa berada di sini?" Pertanyaan itu dilontarkan oleh Yellow, setahunya saat kedatangan Raja Marcus ke Asterium, Pangeran Aiden hanya ditugaskan untuk mengawasi dari kejauhan.

"Lalu, kenapa kita berenam tidak mengingat apapun?" Belum sempat menjawab, Green sudah menanyakan topik lain.

"Apakah Raja Marcus sudah diketahui keberadaannya?" Kali ini Blue yang bertanya.

"Bertanya, satu-persatu!" Baiklah, kesabarannya tengah diuji oleh keenam kesatria yang terkenal absurd dan pernah membuat Master Xi sakit kepala.

Sementara itu Red sudah mulai memejamkan mata, tak ada lagi yang perlu ia khawatirkan tentang siapa yang akan mengawasi keenam temannya. Pangeran Aiden sudah berbaik hati datang, jadi tak masalahkan jika ia menitipkan keenam temannya sebentar. 'Selamat mengurus mereka berenam Pangeran Aiden. Aku mengantuk, bawa mereka pergi dari kamar ini.'

Itu adalah kalimat pengusiran paling gamblang yang dilontarkan Red, kondisinya memang masih lemah jadi untuk mengirim sebuah telepati juga terasa sedikit sulit.

.

.

.

At Kamar Donghae

Pangeran Aiden memilih ruangan pribadinya untuk mengungsikan keenam kesatria yang masih butuh pengarahan. "Kita butuh tempat latihan baru, di rumah ini ada Kyuhyun dan Xi Yue, tidak mungkin jika kita berlatih bersama di halaman belakang. Meskipun menggunakan perisai, itu takkan menjamin kerahasiaan identitas kita."

"Di rumahku saja. Tidak ada maid maupun satpam, orangtuaku juga ada di Canada." Mengusulkan sebuah pilihan, Blue bahkan mengacungkan tangannya berkali kali. Sepertinya ia takut didahului oleh kesatria yang lain.

Yellow memutar bola mata, "Ralat ucapanmu Blue! Yang benar adalah orangtua Seokjin." Ia merasa identitas sebagai manusia harus dibedakan dengan lebih jeli mulai sekarang.

"Aku menganggap mereka juga seperti orangtuaku, wajah mereka mirip dengan daddy dan mommy, jadi tak ada salahnya." Mengendikkan bahu acuh.

Mengerjapkan mata, Orange menunjuk Yellow dengan terkejut. "Eh, orangtua Naeun dan aku juga mirip."

Green memekik, "Kyaa... Kebetulan apalagi ini? Orangtua Taemin juga mirip dengan daddy dan mommyku!" Ia mengusap wajah dengan gaya dramatis andalannya.

"Aku juga." Indigo dan Purple mengangguk bersamaan.

Green memekik sekali lagi, "Astaga! Bukankah tuan Xi dan nyonya Liu juga mirip dengan Master Xi dan Master Liu. Bahkan nama mereka sama." Oh, ingatan sebagai Taemin masih tetap ada sehingga meskipun selama ini ia belum bertatap muka, ia bisa mengenali tuan Xi dan nyonya Liu dari ingatan lamanya.

"Kebetulan apa ini?" Suara ketidak percayaan itu terdengar lirih dari Pangeran Aiden.

'Tuhan! Rencana apa yang kau siapkan untuk kami?' Menoleh dengan cepat, Indigo menangkap suara pikiran Pangeran Aiden yang tak sengaja didengarnya.

Ia tau jika ada hal tersembunyi yang disembunyikan oleh Pangeran tampan itu, tapi ia tak ingin menelisik pikiran maupun masa lalu untuk mengetahui hal rahasia itu. Sudah kapok ia dipergoki oleh Red saat mencoba membaca pikiran Master Xi. Meskipun Pangeran Aiden mengatakan jika tak ada hukum yang interaksi, tetap saja ia harus mengetahui batasan-batasan yang boleh dan tidak.

To be continue

Fiuhh... lap keringet! Saya sebenarnya cukup bingung mengisi narasi di bagian para kesatria. Tapi setelah melakukan ritual malam (gosok gigi, cuci kaki, cuci tangan). Saya bisa melanjutkan chapter ini dengan lancarrr ...

Ini chapter terakhir Asterium sebelum cuti 1,5 / 2 bulan kedepan. Tau sendirikan, puasa itu bikin aktifitas di tuker-tuker sedemikian rupa. Saya yang kebiasaan insomnia malah ngoper jam tidur jadi siang, malemnya begadang sambil gambar-gambar sketsa. Karena siangnya emang nggak ada kerjaan. Kkkkkk

Yang loncat-loncat review. Tolong kalau bisa dilengkapi yg bolong reviewnya ya! Q pngen liat, adegan mana yang bikin readers terkesan, adegan yang kurang, juga adegan mana yang terlalu datar atau pasaran. ^_^

Habis Hari Raya, q bakalan publish juga update banyak. Ada 4 project yg q tanganin sekarang... Judulnya Asterium (yg ini), MSOI, AURORA & My Blood of Twins.

For : emon el... Thanks atas desakan plus sarannya buat publish d ffn. Memang caranya lebih ribet 5 kali lipat dibanding wp, tapi review d ffn sangat mudah. Nahh... itulah nilai plusnya. Kkkkk

Untuk readers sekalian yang baru berkunjung. Thanks banget udah mau baca meskipun karyaku masih sangat acak dengan kalimat DESTINY BOOK yg ribetnya minta ampun.

Liat kan... Kyuhyun nggak dirasuki / mati. Kyuhyun tetep jadi anak baik hanya saja digantiin posisinya, nggak seperti 8 manusia lain yg d amankan k Califoryst karena posisi mereka digantiin Rainbow Knights dan Pangeran Aiden. Marcus musti usaha buat menyamar. Kkkkk
Eonnideul salah besar! Terutama adlia dan dewi yg ngirain Kyu kerasukan.

Buat readers euisafishy #benernggaktulisannya?
Thanks udah mampir dan nyicil baca ff q yg masih acak banget bahasanya.

Chapter menjelang end, bakalan ada yang mati. Tapi namanya q rahasiain. Alurnya aku aduk sedemikian rupa agar tiap scene ke depannya sulit ditebak. Hihihihi

Q 96 line! ^_^

Eonnideul, dongsaengdeul, oppadeul?
Bisakah saling kenal dan bergabung di status fbook q untuk semakin gila bahas ASTERIUM. Di wall, q nebar cuplikan ff tiap minggu loh. Kkkkk #abaikanparagrafterakhir.